Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH TENTANG SYARIAT ISLAM

MATA KULIAH : AGAMA ISLAM


Muchsin nugrahanto 201445500160
Gusnia santi 201445500129
KELAS : R4B

A. PENGERTIAN SYARIAT ISLAM

Pengertian Syariat Islam - Syariat artinya jalan yang sesuai dengan undangundang (peraturan) Allah SWT. Allah menurunkan agama Islam kepada Nabi
Muhammad saw. secara lengkap dan sempurna, jelas dan mudah dimengerti,
praktis untuk diamalkan, selaras dengan kepentingan dan hajat manusia di
manapun, sepanjang masa dan dalam keadaan bagaimanapun.Syariat Islam ini
berlaku bagi hamba-Nya yang berakal, sehat, dan telah menginjak usia baligh
atau dewasa. (dimana sudah mengerti/memahami segala masalah yang
dihadapinya). Tanda baligh atau dewasa bagi anak laki-laki, yaitu apabila telah
bermimpi bersetubuh dengan lawan jenisnya, sedangkan bagi anak wanita adalah
jika sudah mengalami datang bulan (menstruasi).
Bagi orang yang mengaku Islam, keharusan mematuhi peraturan ini diterangkan
dalam firman Allah SWT. "kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) mengikuti
syariat (peraturan) dari agama itu, maka ikutilah syariat itu, dan janganlah engkau
ikuti keinginan orang-orang yang tidak mengetahui." (QS. 45/211-Jatsiyah: 18).
Syariat Islam ini, secara garis besar, mencakup tiga hal:
1.
Petunjuk dan bimbingan untuk mengenal Allah SWT dan alam gaib yang tak
terjangkau oleh indera manusia (Ahkam syar'iyyah I'tiqodiyyah) yang menjadi pokok
bahasan ilmu tauhid.
2.
Petunjuk untuk mengembangkan potensi kebaikan yang ada dalam diri manusia
agar menjadi makhluk terhormat yang sesungguhnya (Ahkam syar'iyyah
khuluqiyyah) yang menjadi bidang bahasan ilmu tasawuf (ahlak).
3.
Ketentuan-ketentuan yang mengatur tata cara beribadah kepada Allah SWT atau
hubungan manusia dengan Allah (vetikal), serta ketentuan yang mengatur
pergaulan/hubungan antara manusia dengan sesamanya dan dengan
lingkungannya.
Dewasa ini, umat Islam selalu mengidentikkan syariat dengan fiqih, oleh karena
sedemikian erat hubungan keduanya. Akan tetapi antara syariat dan fiqih,
sesungguhnya ada perbedaan yang mendasar. Syariat Islam merupakan
ketetapan Allah SWT tentang ketentuan-ketentuan hukum dasar yang bersifat
global dan kekal, sehingga tidak mungkin diganti/dirombak oleh siapa pun
sampai kapan pun. Sedangkan fiqih adalah penjabaran syariat dari hasil ijtihad
para mujtahid, sehingga dalam perkara-perkara tertentu bersifat lokal dan
temporal. Itulah sebabnya ada sebutan fiqih Irak dan lain-lainnya. Selain itu,
karena fiqih hasil dari pemikiran mujtahid, maka ada fiqih Syafi'ie, fiqih Maliki,
fiqih Hambali, fiqih Hanafi.

Bukti-bukti bahwa syariat ini mudah dan tidak memberatkan, bisa kita dapati antara
lain bagi:
A. orang yang bepergian (Musafir) mendapat keringanan boleh mengqoshor
(memendekkan sholat yang empat rokaat menjadi dua rokaat), dan boleh tidak
berpuasa dengan catatan harus menggantinya pada hari yang lain.
B. orang yang sedang sakit tidak diharuskan bersuci dengan wudhu, melainkan
dengan tayammum yakni menggunakan debu. Dalam menunaikan sholat pun
jika tidak sanggup berdiri, boleh dengan duduk, atau bahkan boleh sambil
merebahkan diri.
C. percikan najis dari genangan air di jalanan, apabila mengena pakaian, dimaafkan
karena itu sulit di hindarkan.
D. dalam keadaan terpaksa, tidak ada secuil pun makanan untuk mengganjal perut,
makanan yang telah diharamkan seperti bangkai, boleh dimakan asalkan tidak
berlebihan.

B. PERBEDAAN SYARIAT DAN FIQIH


Syariat menurut bahasa Arab adalah sumber atau aliran air yang digunakan
untuk minum. Dalam perkembangannya kata tersebut oleh orang Arab
digunakan untuk mengacu pada jalan agama yang lurus, jadi dari akar kata
tersebut syariat diartikan sebagai agama yang lurus yang diturunkan Allah Swt
kepada manusia. Dalam bahasa Inggris, syariah diartikan sebagai Canon Law of
Islam, yaitu keseluruhan perintah Allah, dan perintah itu dalambahasa fiqih
adalah hukm (jamaknya, ahkm).
Secara istilah, menurut Manna al-Qattan, syariat adalah segala ketentuan Allah
bagi hambanya yang meliputi masalah aqidah, ibadah, akhlak, dan tata
kehidupan umat manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Menurut Fathi al-Daraini, syariat adalah segala yang diturunkan Allah kepada
Nabi Muhammad Saw berupa wahyu, baik yang terdapat dalam al-Quran
maupun dalam sunnah Nabi yang diyakini kesahihannya.
Berdasarkan definisi tersebut maka syariat merupakan sumber dari fiqih, karena
fiqih merupakan pemahaman yang mendalam terhadap teks-teks suci, dan
merupakan upaya mujtahid dalam menangkap makna dan illat yang dikandung
dalam teks tersebut.
Jadi, syariat bukan fiqih, karena syariat bersumber dari Allah dan Rasul-Nya, yang
menjadi sumber dalam pembentukan dan pengembangan hukum Islam dalam
berbagai dimensi, dan menjadi rujukan dalam mengarahkan dan memberi makna
terhadap berbagai pranata sosial yang bersifat universal dan abadi. Sedangkan fiqih
hanya merupakan hasil ijtihad para mujtahid terhadapayat suci al-Quran dan
sunnah Nabi Saw. Oleh karenanya, fiqih tidak bisa dipisahkan dari syariat, karena
keduanya mempunyai keterkaitan yang sangat erat.
Sedangkan Abd al-Ati, seperti yang dikutip Hasan Bisri, menyatakan bahwa hukum
Islam mempunyai fungsi ganda, yaitu fungsi syariah dan fungsi fiqih.

Fungsi syariah merupakan fungsi kelembagaan yang diperintahkan Allah untuk


dipatuhi sepenuhnya, atau saripati petunjuk Allah untuk setiap mukallaf dalam
mengatur hubungannya dengan Allah, sesama muslim, sesama manusia dan semua
makhluk di dunia.
Sedangkan fiqih merupakan produk daya pikir manusia yang dengan daya
intelektualnya mencoba menafsirkan penerapan prinsip-prinsip syariah secara
sistematis. Selanjutnya dijadikan pedoman hidup yang dikembangkan secara
berkelanjutan dalam rentang waktu yang sangat panjang. Kemudian fiqih tersebut
disosialisasikan dan memberikan makna Islami terhadap pranata sosial yang ada,
dan bahkan bisa menciptakan pranata sosial yang baru.

C.MACAM-MACAM KETENTUAN HUKUM


Syariat Islam adalah hukum dan aturan Islam yang mengatur seluruh sendi
kehidupan umat Muslim. Selain berisi hukum dan aturan, syariat Islam juga
berisi penyelesaian masalah seluruh kehidupan ini. Maka oleh sebagian
penganut Islam, syariat Islam merupakan panduan menyeluruh dan sempurna
seluruh permasalahan hidup manusia dan kehidupan dunia ini.
Terkait dengan susunan tertib syariat, Al Qur'an dalam surat Al Ahzab ayat 36
mengajarkan bahwa sekiranya Allah dan Rasul-Nya sudah memutuskan suatu
perkara, maka umat Islam tidak diperkenankan mengambil ketentuan lain. Oleh
sebab itu, secara implisit dapat dipahami bahwa jika terdapat suatu perkara yang
Allah dan Rasul-Nya belum menetapkan ketentuannya, maka umat Islam dapat
menentukan sendiri ketetapannya itu. Pemahaman makna ini didukung oleh ayat Al
Qur'an dalam Surat Al Maidah (QS 5:101) yang menyatakan bahwa hal-hal yang
tidak dijelaskan ketentuannya sudah dimaafkan Allah.
Dengan demikian, perkara yang dihadapi umat Islam dalam menjalani hidup
beribadahnya kepada Allah SWT itu dapat disederhanakan dalam dua kategori, yaitu
apa yang disebut sebagai perkara yang termasuk dalam kategori Asas Syara' dan
perkara yang masuk dalam kategori Furu' Syara'.
Asas Syara'
Yaitu perkara yang sudah ada dan jelas ketentuannya dalam Al Qur'an atau Al
Hadits. Kedudukannya sebagai Pokok Syari'at Islam dimana Al Qur'an itu asas
pertama Syara' dan Al Hadits itu asas kedua Syara'. Sifatnya, pada dasarnya
mengikat umat Islam seluruh dunia dimanapun berada, sejak kerasulan Nabi
Muhammad SAW hingga akhir zaman, kecuali dalam keadaan darurat.
Keadaan darurat dalam istilah agama Islam diartikan sebagai suatu keadaan yang
memungkinkan umat Islam tidak mentaati Syariat Islam, ialah keadaan yang
terpaksa atau dalam keadaan yang membahayakan diri secara lahir dan batin, dan

keadaan tersebut tidak diduga sebelumnya atau tidak diinginkan sebelumnya,


demikian pula dalam memanfaatkan keadaan tersebut tidak berlebihan. Jika
keadaan darurat itu berakhir maka segera kembali kepada ketentuan syariat yang
berlaku.
Furu' Syara'
Yaitu perkara yang tidak ada atau tidak jelas ketentuannya dalam Al'quran dan Al
Hadist. Kedudukannya sebagai cabang Syariat Islam. Sifatnya pada dasarnya tidak
mengikat seluruh umat Islam di dunia kecuali diterima Ulil Amri setempat menerima
sebagai peraturan / perundangan yang berlaku dalam wilayah kekuasaanya.
Perkara atau masalah yang masuk dalam furu' syara' ini juga disebut sebagai
perkara ijtihadiyah

D. TUJUAN SYARIAT ISLAM


Diturunkannya Syariat Islam kepada manusia tentu memiliki tujuan yang sangat
mulia. Paling tidak, ada delapan tujuan.

PERTAMA, memelihara atau melindungi agama (Hifzh al-din) dan


sekaligus memberikan hak kepada setiap orang untuk memilih antara
beriman atau tidak, karena, Tidak ada paksaan dalam memeluk agama
Islam
(QS. Al Baqaarah, 2:256). Manusia diberi kebebasan mutlak untuk memilih,
Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan
barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir (QS. Al Kahfi, 18:29).

Pada hakikatnya, Islam sangat menghormati dan menghargai hak setiap manusia,
bahkan kepada kita sebagai mumin tidak dibenarkan memaksa orang-orang kafir
untuk masuk Islam. Berdakwah untuk menyampaikan kebenaran-Nya adalah
kewajiban. Namun demikian jika memaksa maka akan terkesan seolah-olah kita
butuh dengan keislaman mereka, padahal bagaimana mungkin kita butuh keislaman
orang lain, sedangkan Allah SWT saja tidak butuh dengan keislaman seseorang.
Tetapi bila seseorang dengan kesadarannya sendiri akhirnya masuk Islam, maka
wajib dipaksa oleh Ulul Amri untuk melaksanakan Syariat Islam.
Dengan memilih muslim, maka tidak ada alasan bagi seseorang untuk tidak
melaksanakan kewajibannya. Seandainya ada seorang muslim tidak shalat, hal ini
bukan hanya urusan pribadi tapi menjadi urusan semua muslim terutama
Ulul Amri. Jika ada seorang muslim tidak melaksanakan kewajiban shalat karena
dia tidak yakin akan kewajiban shalat, maka Empat Mahzab dan jumhur (mayoritas)
ulama sepakat menyatakan yang bersangkutan kafir. Yang karenanya harus
dihukumkan kafir, artinya bila dalam tiga hari dia tidak segera sadar, maka
dihukumkan sebagai murtad yang halal darahnya sehingga Ulul Amri bisa
menjatuhkan hukuman mati. Tapi, seandainya tidak shalatnya yang bersangkutan

bukan karena tidak yakin, tapi karena alasan malas misalnya, maka dalam hal ini
tiga mazhab (Syafii, Hanafi, Maliki) menyatakan yang bersangkutan berdosa
besar, sementra Mazhab Hambali tetap mengkafirkannya.
Lalu bagaimana Ulul Amri menerapkan hukum bagi muslim yang tidak shalat karena
malas? Pertama, Ulul Amri tentu saja berkewajiban mengingatkannya.
Andaikata yang bersangkutan tetap tidak mau shalat padahal sudah diingatkan oleh
Ulul Amri, menurut Mahzab Syafei dan Maliki, yang bersangkutan wajib dihukum
mati. Tetapi Imam Hanafi tidak sependapat dengan hukuman mati, bahwasanya
yang bersangkutan tidak bisa dihukumkan kafir, karena memang alasannya malas
bukan mengingkari hukum Allah. karena selama tidak kafir berarti haram
darahnya. Pandangan beliau, Ulul Amri harus memberikan hukuman kepada
yang bersangkutan dengan dipenjara sampai yang bersangkutan sadar dan
mau shalat. Sedangkan Mahzab Hambali, berpendapat dan berkeyakinan, bahwa
seorang yang mengaku muslim lalu tidak shalat apa pun alasannya apakah
karena tidak yakin atau malas, maka yang bersangkutan harus dihukumkan
kafir. Beliau berpegang teguh kepada hadits Rasulullah Saw yang menyatakan,
Perbedaan antara muslim dan kafir adalah meninggalkan shalat.

YANG KEDUA, melindungi jiwa. (Hifzh al-nafsi) Syariat Islam sangat


melindungi keselamatan jiwa seseorang dengan menetapkan sanksi hukum
yang sangat berat, contohnya hukum qishash (hukum mati). Di dalam
Islam dikenal ada tiga macam pembunuhan, yakni pembunuhan yang
disengaja, pembunuhan yang tidak disengaja, dan pembunuhan
seperti disengaja. Hal ini tentunya dilihat dari sisi kasusnya, masingmasing tuntutan hukumnya berbeda. Jika terbukti suatu pembunuhan
tergolong yang disengaja, maka pihak keluarga yang terbunuh berhak
menuntut kepada hakim untuk ditetapkan hukum qishash/mati atau
membayar Diyat (denda). Dan, hakim tidak punya pilihan lain kecuali
menetapkan apa yang dituntut oleh pihak keluarga yang terbunuh. Berbeda
dengan kasus pembunuhan yang tidak disengaja atau yang seperti
disengaja, di mana Hakim harus mendahulukan tuntutan hukum membayar
Diyat (denda) sebelum qishash.

Kalau seorang pencuri terbukti benar bahwa dia mencuri, maka hukuman yang
dijatuhkannya adalah potong tangan, maka seumur hidup orang akan mengetahui
kalau dia mantan pencuri. Demikian pula, kalau seorang perampok dijatuhi hukuman
potong tangan kanan dan kaki kiri secara bersilang, maka dia seumur hidupnya tidak
akan dapat membersihkan dirinya bahwa dia mantan perampok. Dampak dari
hukuman ini akan dapat membawa ketenangan dan kenyamanan hidup
bermasyarakat dan bernegara.

YANG KETIGA, perlindungan terhadap keturunan dan kehormatan


(Hifzh al-nashli). Islam sangat melindungi keturunan di antaranya dengan
menetapkan hukum Dera seratus kali bagi pezina ghoiru muhshon (perjaka

atau gadis) dan rajam (lempar batu) bagi pezina muhshon (suami/istri,
duda/jand) (Al Hadits). Firman Allah SWT : Perempuan yang berzina dan
laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus
kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu
untuk menjalankan agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari
akhirat dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh
sekumpulan dari orang-orang yang beriman (An Nuur, 24:2). Ditetapkannya
hukuman yang berat bagi pezina tidak lain untuk melindungi keturunan.
Bayangkan bila dalam 1 tahun saja semua manusia dibebaskan berzina
dengan siapa saja termasuk dengan orangtua, saudara kandung dan
seterusnya, betapa akan semrawutnya kehidupan ini.

YANG KEEMPAT, melindungi akal (Hifzh al-aqli). Permasalahan


perlindungan akal ini sangat menjadi perhatian Islam. Bahkan dalam sebuah
hadits Rasulullah Saw menyatakan, Agama adalah akal, siapa yang tiada
berakal (menggunakan akal), maka tiadalah agama baginya. Oleh
karenanya, seseorang harus bisa dengan benar mempergunakan akalnya.
Seseorang yang tidak bisa atau belum bisa menggunakan akalnya atau
bahkan tidak berakal, maka yang bersangkutan bebas dari segala macam
kewajiban-kewajiban dalam Islam. Misalnya dalam kondisi lupa, sedang tidur
atau dalam kondisi terpaksa. Kesimpulannya, bahwa hukum Allah hanya
berlaku bagi bagi orang yang berakal atau yang bisa menggunakan akalnya.
Betapa sangat luar biasa fungsi akal bagi manusia, oleh karena itu kehadiran risalah
Islam di antaranya untuk menjaga dan memelihara agar akal tersebut tetap
berfungsi, sehingga manusia bisa menjalankan syariat Allah dengan baik dan benar
dalam kehidupan ini. Demikian pula, agar manusia dapat mempertahankan
eksistensi kemanusiaannya, karena memang akallah yang membedakan manusia
dengan makhluk-makhluk Allah yang lain.
Untuk memelihara dan menjaga agar akal tetap berfungsi, maka Islam
mengharamkan segala macam bentuk konsumsi baik makanan, minuman atau apa
pun yang dihisap misalnya, yang dapat merusak atau mengganggu fungsi akal.
Yang diharamkan oleh Islam adalah khamar. Yang disebut khamar bukanlah hanya
sebatas minuman air anggur yang dibasikan seperti di zaman dahulu, tapi yang
dimaksud khamar adalah, setiap segala sesuatu yang membawa akibat
memabukkan (Al Hadits).
Keharaman Khamar sudah sangat jelas, di dalam QS. Al Maidah ayat 90 Allah SWT
menyatakan, Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum)
khamar, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah,
adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatanperbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan (QS. Al Maa-idah,5:90) Ayat
ini mengisyaratkan, bahwa seseorang yang dalam kondisi mabuk, berjudi, berkorban
untuk berhala dan mengundi nasib maka tergolong syaitan, karena sifat syaitani
sedang mengusai diri yang bersangkutan.
Kalau khamar sudah dinyatakan haram, maka keberadaannya baik sedikit
maupun banyak tetap haram. Suatu saat salah seorang sahabat mau mencoba
mencampur khamar dengan obat, namun karena kehati-hatiannya maka
ditanyakanlah tentang hal ini kepada Nabi Saw sebagaimana dalam sebuah hadits
yang diriwayatkan Imam Ahmad, Nabi Saw bersabda: Thariq bin Suwaid Ra

bertanya kepada Nabi Saw tentang khamar dan beliau melarangnya. Lalu Thariq
berkata, Aku hanya menjadkannya campuran untuk obat. Lalu Nabi Saw berkata
lagi, Itu bukan obat tetapi penyakit. Bahkan lebih tegas lagi Nabi Saw
menyatakan, Allah tidak menjadikan penyembuhanmu dengan apa yang
diharamkan (HR Al Baihaqi).
Dalam hadits lain yang diriwayatkan Abu Daud, Nabi Saw menyatakan,
Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit sekaligus dengan obatnya, oleh
karena itu carilah obatnya, kecuali satu penyakit yaitu penyakit ketuaan.
Sedangkan, dalam hadits Riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi saw menyatakan,
Allah menurunkan penyakit dan menurunkan obatnya, diketahui oleh yang
mengetahui dan tidak akan diketahui oleh orang yang tidak mengetahui.
Allah SWT sangat menghargai orang-orang yang berhasil mengembangkan
fungsi akalnya dengan benar sesuai dengan syariat-Nya. Allah SWT berfirman:
Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima
pelajaran (QS.Az Zumar,39:9). Juga dalam firman-Nya: Sesungguhnya yang
takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah Ulama (QS. Faathir,
35:9).

YANG KELIMA, melindungi harta benda (Hifzh al-mal). Yakni dengan


membuat aturan yang jelas untuk bisa menjadi hak setiap orang agar
terlindungi hartanya di antaranya dengan menetapkan hukum potong
tangan bagi pencuri. Laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri,
potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang
mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana (Qs. Al Maa-idah, 5:38). Juga peringatan
keras sekaligus ancaman dari Allah SWT bagi mereka yang memakan harta
milik orang lain dengan zalim, Sesungguhnya orang-orang yang
memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu
menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api
yang menyala-nyala (neraka Jahannam) (QS. An Nisaa, 4:10).

YANG KEENAM, melindungi kehormatan seseorang. Termasuk


melindungi nama baik seseorang dan lain sebagainya, sehingga setiap
orang berhak dilindungi kehormatannya di mata orang lain dari upaya
pihak-pihak lain melemparkan fitnah, misalnya. Kecuali kalau mereka
sendiri melakukan kejahatan. Karena itu betapa luar biasa Islam menetapkan
hukuman yang keras dalam bentuk cambuk atau Dera delapan puluh kali
bagi seorang yang tidak mampu membuktikan kebenaran tuduhan
zinanya kepada orang lain. Allah SWT berfirman: Dan orang-orang yang
menuduh wanita-wanita yang baik-baik berbuat zina dan mereka tidak
mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh
itu) dengan delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima
kesaksian mereka untuk selama-lamanya. Dan mereka itulah orangorang yang fasik(QS. An Nuur, 24:4). Juga dalam firman-Nya:
Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baikbaik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena laknat di
dunia dan akhirat. Dan bagi mereka azab yang besar (QS. An
Nuur,24:23). Dan larangan keras pula untuk kita berprasangka buruk,

mencari-cari kesalahan dan menggunjing terhadap sesama mumin (QS.


Al Hujurat, 49:12).

YANG KETUJUH, melindungi rasa aman seseorang. Dalam kehidupan


bermasyarakat, seseorang harus aman dari rasa lapar dan takut. Sehingga
seorang pemimpin dalam Islam harus bisa menciptakan lingkungan yang
kondusif agar masyarakat yang di bawah kepemimpinannya itu tidak
mengalami kelaparan dan ketakutan. Allah SWT berfirman: Yang telah
memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan
mengamankan mereka dari ketakutan (QS. Al Quraisy, 106:4).

YANG KEDELAPAN, melindugi kehidupan bermasyarakat dan


bernegara. Islam menetapkan hukuman yang keras bagi mereka yang
mencoba melakukan kudeta terhadap pemerintahan yang sah yang dipilih
oleh ummat Islam dengan cara yang Islami. Bagi mereka yang tergolong
Bughot ini, dihukum mati, disalib atau dipotong secara bersilang supaya
keamanan negara terjamin (QS. Al Maa-idah, 5:33). Juga peringatan keras
dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Nabi Saw menyatakan,
Apabila datang seorang yang mengkudeta khalifah yang sah maka
penggallah lehernya.

Maksud dan tujuan diturunkannya syariah islam kepada manusia adalah untuk
memberikan manfaat ataupun kemaslahatan kepada manusia bukan untuk
Allah Taala. Sebab, Allah tidak butuh kepada ibadah dan syariah itu.
Maksudnya, manusia beribadah atau tidak beribadah, tidak memberikan efek
kepada Allah Taala. Lalu efeknya buat siapa? Untuk manusia itu sendiri, karena
kekuasan Allah Subhanahu Wa Taala sudah mutlak. Sekiranya seluruh penduduk
bumi ini kafir, juga tidak akan mengurangi kekuasaan-Nya. Jadi, semua ajaran islam
itu kembali untuk kemanfaatan manusia. Cuma terkadang manusia bisa mengerti
dan tidak.

E. Ruang Lingkup Hukum Islam


Ruang Lingkup Hukum Islam menurut Zainuddin Ali, sebagai berikut :
1. Ibadah sebagai Ruang Lingkup Hukum Islam
Ibadah adalah peraturan-peraturan yang mengatur hubungan langsung
dengan Allah SWT (ritual) yang terdiri atas :
(a) Rukun Islam Yaitu mengucapkan syahadatin, mengerjakan shalat,
mengeluarkan zakat, melaksanakan puasa di bulan Ramadhan dan menunaikan haji
bila mempunyai kemampuan (mampu fisik dan nonfisik).
(b) Ibadah yang berhubungan dengan rukun islam dan ibadah lainnya, yaitu badani
dan mali. Badani (bersifat fisik), yaitu bersuci, azan, iqamat, itikad, doa,
shalawat, umrah dan lain-lain. Mali (bersifat harta) yaitu zakat, infak, sedekah,
kurban dan lain-lain.
2. Muamalah sebagai Ruang Lingkup Hukum Islam
Muamalah adalah peraturan yang mengatur hubungan seseorang dengan
orang lainnya dalam hal tukar-menukar harta (termasuk jual beli), di antaranya :
dagang, pinjam-meminjam, sewa-menyewa, kerja sama dagang, simpanan barang
atau uang, penemuan, pengupahan, warisan, wasiat dan lain-lain.

3. Jinayah sebagai Ruang Lingkup Hukum Islam


Jinayah ialah peraturan yang menyangkup pidana islam, di antaranya : qishash,
diyat, kifarat, pembunuhan, zina, minuman memabukkan, murtad dan lain-lain.
4. Siyasah sebagai Ruang Lingkup Hukum Islam
Siyasah yaitu menyangkut masalah-masalah kemasyarakatan, di antaranya :
persaudaraan, tanggung jawab sosial, kepemimpinan, pemerintahan dan lain-lain.
5. Akhlak sebagai Ruang Lingkup Hukum Islam
Akhlak yaitu sebagai pengatur sikap hidup pribadi, di antaranya : syukur, sabar,
rendah hati, pemaaf, tawakal, berbuat baik kepada ayah dan ibu dan lain-lain.
6. Peraturan lainnya di antaranya : makanan, minuman, sembelihan, berbutu,
nazar, pemeliharaan anak yatim, mesjid, dakwah, perang dan lain-lain.
Jika ruang lingkup hukum islam di atas dianalisis objek pembahasannya, maka akan
mencerminkan seperangkat norma ilahi yang mengatur tata hubungan manusia
dengan Allah, hubungan yang terjadi antara manusia yang satu dengan manusia
lain dalam kehidupan sosial,
hubungan manusia dan benda serta alam lingkungan hidupnya. Norma ilahi
sebagai pengatur tata hubungan yang dimaksud adalah
(1) kaidah ibadah dalam arti khusus atau yang disebut kaidah ibadah murni,
mengatur cara dan upacara dalam hubungan langsung antara manusia dengan
Tuhannya, dan
(2) kaidah muamalah yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya
dan makhluk lain di lingkungannya.
WASALAMUALAIKUM WARAHMATULLAHIWABARAKATU.

Anda mungkin juga menyukai