Anda di halaman 1dari 12

Bab I Pendahuluan

I.

1. Latar Belakang
Dalam beberapa tahun terakhir sering terdapat

pemberitaan mengenai banyakanya kasus mengenai


pelecehan seksual terhadap anak atau pedofilia. Hal ini
kemudian menjadi tugas pemerintah dalam menangani kasus
tersebut, mulai dari cara penanganan terhadap para
tersangka hingga memberikan penyuluhan menyeluruh
terhadap para warga agar mewaspadai para pelaku yang bisa
saja berada di sekitar mereka dengan memberikan ciri-ciri
mengenai pelaku pedofilia.
Hingga tulisan ini dibuat terdapat beberapa ulasan
mengenai hukuman yang tepat untuk para pelaku kejahatan
seksual atau pedofilia seperti dengan melakukan kebiri baik
fisik ataupun kimia. Hal tersebut dapat kita ketahui karena
pemerintah saat ini sudah mulai geram dengan para pelaku
tersebut yang dirasa tidak cukup untuk hanya dipenjarakan
saja, maka dari itu pemerintah mengambil sikap tegas untuk
memberikan hukuman yang berefek jera agar para pelaku
tidak mengulangi lagi, atau bahkan membuat para pelaku
yang ingin melakukan kejahatan tersebut berpikir kembali
untuk melakukan kejahatan seksual terhadap anak.

I.

2. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan pedofilia?
2. Apa yang dimaksud dengan kebiri fisik atau kimia?

3. Apakah dengan mengebiri dapat menimbulkan


efek jera?
II.

Tujuan Masalah
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan pedofilia
atau kejahatan seksual terhadap anak
2. Mengetahui perbedaan antara kebiri fisik dengan
kebiri kimia
3. Mengetahui efek dari pelaksaan hukum kebiri
tersebut

Bab II Isi
I.

Pengertian Pedofilia
a. Pedofilia didefinisikan sebagai gangguan kejiwaan pada orang
dewasa atau remaja yang telah mulai dewasa (pribadi dengan
usia 16 atau lebih tua) biasanya ditandai dengan suatu
2

kepentingan seksual primer atau eksklusif pada anak


prapuber (umumnya usia 13 tahun atau lebih muda, walaupun
pubertas dapat bervariasi). Anak harus minimal lima tahun
lebih muda dalam kasus pedofilia remaja (16 tahun ataau
lebih tua) baru daoat diklasifikasikan sebagai pedofilia. Kata
pedofilia berasal dari bahasa Yunani : paidophilia ()
pais (, "anak-anak") dan philia (, "cinta yang
bersahabat" atau "persahabatan", meskipun ini arti harifah
telah diubah terhadap daya tarik seksual pada zaman modern,
berdasarkan gelar cinta anak atau kekasih anak, oleh
pedofil yang menggunakan simbol dan kode untuk
mengidentifikasi preferensi mereka.

Menurut Klasifikiasi Penyakit Internasional (ICD)


mendefinisikan pdeofilia sebagai gangguan kepribadian
dewasa dan perilaku dimana ada pilihan seksual untuk anakanak pada usia pubertas atau pada masa prapubertas awal.

Istilah ini memiliki berbagai definisi seperti yang ditemukan


dalam psikiatri, psikologi, bahasa setempat, dan penegakan
hukum.
b.
i.

Penyebab Pedofilia
Pengalaman anak usia dini

1 https://id.m.wikipedia.org/wiki/pedofilia
2 World Health Organization, International Statistical Classification of

Diseases and Related Health Problems: ICD-10 Section F65.4: Paedophilia


(online access via ICD-10 site map table of contents)
3

Psikolog Vernon Quinsey menolak hipotesis


bahwa pelecehan seksual sewaktu kecil dapat
mengubah seseorang menjadi pedofil. Dia
menyebutkan contoh dalam masyarakat di mana
seks antara remaja laki-laki dan laki-laki dewasa
"sangat umum terjadi." Meskipun anak-anak tidak
termasuk sebagai praremaja, Quinsey merasa bahwa
fakta bahwa anak-anak ini tumbuh menyukai wanita
dewasa dan menghasilkan anak-anak mereka sendiri
melemahkan hipotesis "pengalaman anak usia
dini". Dia menganggap bukti "sangat lemah," karena
berasal dari "laporan retrospektif" pelaku dengan
kelompok pembanding yang tidak memadai. 3
Penyebab pedofilia ini tidak diketahui secara
pasti namun ada beberapa bukti bahwa pedofilia ada
hubungannya dengan kondisi lingkungan keluarga.
Dan meskipun hal ini juga belum jelas apakah hal ini
berasal dari genetika atau perilaku yang dipelajari.
Faktor-faktor lain seperti kelainan pada hormon
seksual pria atau serotonin kimia otak , belum
terbukti sebagai faktor dalam pengembangan
parafilia atau pedofilia. Riwayat pelecehan seksual
pada masa kanak-kanak mereka juga merupakan

3 Quinsey, VL. (Jun 2003). "The etiology of anomalous sexual preferences

in men.". Ann N Y Acad Sci 989: 10517; discussion 144


53. PMID 12839890
4

faktor potensial dalam pengembangan pedophilias


c.

tapi ini juga belum terbukti.4


Pengobatan Pedofilia
Obat-obatan dapat digunakan dalam hubungannya

dengan psikoterapi . Obat tersebut termasuk antiandrogen


(untuk menurunkan gairah seks), medroxyprogesterone
acetate (Provera) dan leuprolide asetat ( Lupron ).
Pada penderita Pedofilia dengan depresi yang sangat
berat dapat diberikan obat sertraline (Zoloft), fluoxetine
(Prozac), fluvoxamine (Luvox), citalopram (Celexa) dan
paroxetine (Paxil) dengan dosis yanh lebih tinggi.

II.

Kebiri kimia dan kebiri fisik


a.
Kebiri Kimia dan fisik
Secara teknis, kebiri kimia yaitu dilakukan dengan
memasukkan bahan kimia antiandrogen, baik melalui pil atau
suntikan ke tubuh seseorang untuk memperlemah
hormon testosteron. Secara sederhana, zat kimia yang
dimasukkan ke dalam tubuh itu akan mengurangi bahkan
menghilangkan libido atau hasrat seksual.

Kebiri kimia juga

dapat dilakukan dengan cara menyuntikkan (injeksi) hormone


kepada orang yang dikebiri. Ada dua metode injeksi. Pertama,
diinjeksikan obat yang menekan produksi hormon testosteron.
4 http://www.konsultasikedokteran.com/post/read/1284/defenisi-dan-

penyebab-dan-pengobatan-pedofilia.html
5 http://www.dw.com/id/kebiri-kimia-kemanusiaan-vs-perlindungan-

korban/a-16494556
5

Injeksi dilakukan berulang-ulang sehingga hormon testosteron


seolah-olah hilang. Kedua, diinjeksikan hormon estrogen
kepada orang yang dikebiri, sehingga ia memiliki ciri-ciri fisik
seperti perempuan. Hormon testosteron akan menurun dan
gairah seksual juga akan ikut menurun. Bila suntik hormon
testosteron ini dihentikan, keadaan orang yang dikebiri akan
pulih seperti semula.
Sedangkan kebiri fisik dilakukan dengan cara memotong
organ yang memproduksi testosteron, yaitu testis. Setelah
testis dipotong dan dibuang melalui operasi, sisanya diikat
dan kemudian dijahit. Dengan pemotongan testis tersebut,
berarti sudah dihilangkan testosteron sebagai hormon
pembangkit gairah seks. Akibatnya laki-laki akan kehilangan
gairah seks dan sekaligus menjadi mandul permanen.
Kebiri kimia sering dianggap sebagai alternatif bagi
hukuman seumur hidup atau bahkan hukuman mati, karena
pelaku kejahatan seksual bisa dibebaskan dengan mengurangi
atau bahkan menghilangkan kesempatan bagi mereka untuk
melakukan kejahatan yang sama.

b.

Penggunaan kebiri kimia di dunia


Kebiri kimia digunakan dalam banyak bentuk: sejumlah

negara memberlakukan itu sebagai hukuman paksa


sebagaimana hukuman penjara.
Sementara di negara lain, kebiri kimia ditawarkan
sebagai alternatif untuk mendapat pengurangan masa
6

hukuman. Artinya, para terpidana ditawari untuk mendapat


pengurangan masa hukuman asal bersedia menjalani kebiri
kimia.
Tahun 2013, Turki kemungkinan akan mulai menerapkan
hukum kebiri kimia bagi para pedofil. Mereka berharap
metode hukuman ini bisa menciptakan efek jera dan membuat
pemerkosaan anak di bawah umur berkurang.
Tahun 2012, Moldova dan Estonia meloloskan aturan
mengenai hukuman kebiri kimia. Aturan serupa juga berlaku di
banyak negara termasuk Argentina, Australia, Israel, Selandia
Baru, dan Rusia.
Setidaknya sembilan negara bagian Amerika: California,
Florida, Georgia, Iowa, Louisiana, Montana, Oregon, Texas dan
Wisconsin juga memberlakukan beragam versi mengenai
hukuman kebiri kimia dalam sistem hukum mereka.
Jerman termasuk negara yang mempunyai aturan
mengenai hukuman kebiri. Awal tahun 2012, Komite Anti
Penyiksaan Uni Eropa mendesak Jerman agar mengakhiri
pelaksanaan hukuman itu. Dalam jawaban tertulis,
pemerintah Jerman mengatakan bahwa praktek itu "sedang
ditinjau ulang."
Jerman memberlakukan hukuman ini dengan prosedur
yang ketat: terpidana sebelumnya diberitahu mengenai
dampak dan kemungkinan efek sampingan. Dan yang paling
7

penting: terpidana bersedia menjalani kebiri kimia. Terakhir,


hukuman ini dilaksanakan tahun 1960-an.
III.

Pro kontra hukuman kebiri


Mengenai usulan pemerintah yang akan melakukan
hukuman kebiri bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak
atau pedofilia menuai pro kontra dari kalangan petinggi
Negara, menurut beberapa orang yang mengatakan tidak
setuju dengan usulan pemerintah ini dikarenakan
kekhawatiran akan gangguan psikologis bagi pelaku dan
mereka juga menganggap bahwa melakukan kebiri tidak akan
menimbulkan efek jera dikarenakan pedofilia tersebut lahir
atau tumbuh karena gangguan psikis yang dialami oleh
pelaku. Sedangkan bagi pihak yang menyatakan setuju akan
hukuman ini mereka menilai hukuman kebiri sangat pantas
dikarenakan sudah terlalu banyaknya korban yang berjatuhan
dan menilai hukuman terhadap pelaku pedofilia tidaklah tegas
sehingga tidak menimbulkan efek jera kepada para pelaku.

Berikut tanggapan mengenai hukuman kebiri bagi


pelaku pedofilia :
i.
1.

Pihak yang pro (setuju) :


Ahok, gubernur DKI Jakarta : Kalau ada undang-

undangnya, sih, oke-oke saja. Cocok dong, dipotong saja (kemaluan


pelaku kejahatan seksual)

2.

HM. Prasetyo, Jaksa Agung : Saya sendiri katakan

bahwa kekerasan seksual itu sudah jadi kejahatan luar biasa dan
harus ditangani dengan luar biasa juga", menurutnya kejahatan
seksual terhadap anak harusnya menjadi kejahatan luar biasa atau
extraordinary crime, sehingga harus ada pula penanganan proses
penegakkan hukum yang luar biasa.
3.
Badrodin Haiti, KAPOLRI : Diharapkan ada sanksi
tambahan. Dalam rapat kemarin didiskusikan kemungkinan kebiri
untuk paedofil karena kejahatan yang berulang harus diberikan efek
jera, menurutnya hukuman tersebut dapat memberikan efek jera
kepada pelaku.
4.
Arist Merdeka Sirait, Ketua Komnas Perlindungan Anak :
Ini kami harapkan memberikan efek jera. Dikebiri ini bukan diputus
hasrat seksual tetapi dikontrol sehingga tidak melakukan tindakan
seksual, menurutnya hukuman tersebut dapat mengurangi kasus
kejahatan seksual terhadap anak.
ii.
Pihak yang kontra (tidak setuju) :
1.
Masruchah, anggota Komnas Perempuan : Kalau soal
sanksi atau pidana dikebiri, ya pasti kita enggak setuju, karena
sebagian dari pelanggaran HAM, menurutnya jika efek jera yang
dicari maka harus memaksimalkan hukuman yang telah berlaku
saat ini yaitu Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak
2.
dr. Boyke Dian Nugraha : Yang sakit itu kan jiwanya.
Kastrasi atau kebiri tidak akan menyelesaikan jiwanya. Makanya
saya kurang setuju dengan diberlakukannya itu, menurutnya
pelaku kejahatan seksual yang sakit adalah jiwanya, maka hukuman

kebiri tidak akan mengurangi atau menyelesaikan kasus kekerasan


seksual terhadap anak.

Bab III Penutup


Simpulan
Kejahatan seksual terhadap anak saat ini memang sangat
marak terjadi yang membuat masyarakat semakin resah,
masyarakat menganggap bahwa hukum yang diterapkan terhadap
para pelaku kejahatan seksual tersebut tidaklah sesuai atau tidak
setara dengan akibat yang ditimbulkan kepada korban yaitu
terganggunya mental dan psikis mereka. Beberapa latar belakang
terjadinya kejahatan seksual tersebut diantara lain pengalaman
pribadi pelaku di masa lalu yang membuat mereka seperti ingin
melakukan hal serupa dengan apa yang telah mereka alami di masa
lalu, latar belakang lainnya adalah kurangnya pengawasan dan
kesadaran mengenai ciri-ciri pelaku kejahatan seksual sehingga
anak-anak mereka kerap kali menjadi korban yang belakangan
justru diketahui merupakan orang terdekat korban (tetangga).
Oleh karena itu, pemerintah kali ini ingin mengambil sebuah
keputusan untuk memberikan hukuman yang diharapkan dapat
6 http://www.rappler.com/indonesia/110227-pro-kontra-hukuman-kebiri
10

menimbulkan efek jera kepada para pelaku tersebut, namun dalam


mengambil keputusan tentu banyak pihak yang pro maupun kontra
dengan keputusan tersebut. Pihak pro mengatakan bahwa
keputusan tersebut dianggap tepat karena dapat menimbulkan efek
jera sehingga dapat mengurangi kasus kejahatan seksual,
sedangkan pihak yang kontra menganggap bahwa keputusan
tersebut tidaklah akan menyelesaikan masalah mengenai kejahatan
seksual, mereka menggap bahwa pelaku tersebut tidak akan jera
meskipun dilakukan hukuman kebiri, karena mereka mengaggap
bahwa yang sakit adalah jiwanya bukan fisiknya, oleh karena itu
hukuman kebiri tidak akan menimbulkan efek jera kepada para
pelaku.

Saran
Demikian makalah yang penulis buat semoga dapat
bermanfaat bagi pembaca. Penulis mengetahui bahwa masih
banyak kekurangan dalam pembuatan makalah ini, oleh karena itu
penulis sangat berharap mendapat kritik dan saran yang
bermanfaat oleh pembaca agar dapat membantu penulis dalam
mengembangkan makalah ini agar lebih baik lagi.

11

Daftar Pustaka
https://id.m.wikipedia.org/wiki/pedofilia
http://www.konsultasikedokteran.com/post/read/1284/defenisi-dan
penyebab-dan-pengobatan-pedofilia.html
http://www.dw.com/id/kebiri-kimia-kemanusiaan-vs-perlindungankorban/a-16494556
http://www.rappler.com/indonesia/110227-pro-kontra-hukumankebiri
Loqman, Loebby. 2001. Pidana dan Pemidanaan
Lamintang, Theo. 2002. Hukum Penitensier (Edisi Kedua)
Setiady, Tolib. Pokok-pokok Hukum Penitensier Indonesia
Marlina, 2011. Hukum Penitensier

12