Anda di halaman 1dari 4

ANALISIS PENGGUNAAN LAHAN IDEAL BERDASARKAN KEMAMPUAN LAHAN

STUDI KASUS SUB DAS KRASAK

Daerah aliran sungai (DAS) di Indonesia telah mengalami degradasi sejak tahun 1970-an.
Proses degradasi tersebut terus berlanjut dan cenderung meningkat karena tidak adanya
keterpaduan tindak dan upaya pengelolaan DAS. Sebagai contoh di Pulau Jawa, sedikitnya
terdapat 16 DAS dengan kondisi sangat kritis. Kondisi ini dilihat berdasarkan status penggunaan
lahan bervegetasi yang tidak mencapai 30%, sebagaimana dipersyaratkan dalam UU No. 26
Tahun 2009 tentang Penataan Ruang. Data tahun 2007 bersumber dari Badan Planologi
Kehutanan menjelaskan bahwa luas tutupan hutan di Pulau Jawa hanya sebesar 4% dengan
tutupan vegetasi sebesar 18,7%. DAS memiliki 3 fungsi utama, yaitu sebagai unit bentanglahan,
kesatuan ekosistem, dan sistem hidrologis. DAS sebagai unit bentanglahan dibatasi oleh pemisah
topografi, yaitu igir-igir pegunungan memiliki fungsi keruangan, produksi, dan habitat. DAS
sebagai kesatuan ekosistem merupakan tempat berlangsungnya interaksi, interdependensi, dan
interrelasi komponen-komponen lingkungan. DAS sebagai sistem hidrologis merupakan suatu
sistem masukan (hujan), proses, dan keluaran (runoff, sedimen, unsure hara). Ketiga fungsi DAS
tersebut sangatlah berperan dalam menunjang kehidupan ekosistem lain, sehingga sangat penting
untuk dilakukan pengelolaan dan pemulihan DAS sedini mungkin. Pengelolaan DAS dapat
dilakukan berdasarkan analisis kemampuan lahannya. Dengan mengetahui kemapuan lahan suatu
DAS, dapat digunakan sebagai acuan untuk menentukan penggunaan lahan yang sesuai dengan
kemampuan lahannya, sehingga dapat terjadi kelestarian dan keserasian ekosistem serta
meningkatkan kemanfaatan sumberdaya alam bagi manusia secara berkelanjutan.
Sub DAS Krasak terletak di Kabupaten Sleman, DIY dan Kabupaten Magelang, Jawa
Tengah dengan luas area 34,24 km2. Terdapat 7 desa yang berada dalam wilayah Sub DAS
Krasak, yaitu desa pakem, Turi, Tempel, Srumbung, Ngluwar, Salam, dan Dukun. Sub DAS
Krasak berhulu di Gunungapi Merapi sehingga memiliki unit bentuklahan lereng atas gununapi,
lereng tengah gunungapi, lereng bawah gunungapi, lereng kaki gunungapi, dataran alluvial, teras
sungai, dan tanggul alam. Sub DAS Krasak tersusun atas formasi endapan vulkanik Merapi
muda yang berupa endapan lahar dengan komposisi bolder, kerikil, pasir, debu, dan material
lainnya.

Kemampuan lahan merupakan sifat lahan untuk memberikan hasil yang maksimal untuk
penggunaan pertanian. Kemampuan lahan dianggap sebgai klasifikasi lahan dalam hubungannya
dengan tingkat resiko kerusakan akibat penggunaan tertentu (FAO, 1976). Evaluasi kemampuan
lahan memiliki tujuan memperkirakan potensi sumberdaya lahan untuk berbagai penggunaan
lahan. Klasifikasi kemampuan lahan dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa faktor
penghambat. Faktor penghambat yang digunakan dalam menganalisis kemampuan lahan Sub
DAS Krasak adalah lereng, kepekaan erosi, tingkat erosi, kedalaman tanah, tekstur tanah,
permeabilitas, drainase, bahan kasar, ancaman banjir, dan salinitas. Analisis kemampuan lahan
berdasakan parameter-parameter tersebut dilakukan dengan menggunakan metode scoring.
Metode klasifikasi kemampuan lahan dengan scoring dilakukan dengan memberikan bobot untuk
masing-masing parameter pembatas. Hasil klasifikasi kemampuan lahan dengan metode scoring,
diperoleh kelas kemampuan lahan I,II,III,VI,VII, dan VIII. Sebagaimana ditunjukkan pada Tabel
1, lereng atas gunungapi SubDAS Krasak memiliki kelas kemampuan lahan VIII, yang berfungsi
sebagai hutan lindung. Kelas kemampuan lahan VII-VIII SubDAS Krasak terdapat pada unit
bentuklahan lembah barranco. Lereng tengah gunungapi SubDAS Krasak memiliki kelas
kemampuan lahan VI, yang berfungsi sebagai padang rumput/ hutan. Sementara lereng bawah
gunungapi memiliki kelas kemampuan lahan III, yang berfungsi sebagai pertanaman sedang.
Kelas kemampuan lahan II di SubDAS Krasak terdapat pada unit bentuklahan teras sungai dan
tanggul alam. Sedangkan kelas kemampuan lahan I di SubDAS Krasak terpadat pada unit
bentuklahan dataran alluvial dan lereng kaki gunungapi.
Tabel 1. Kelas kemampuan lahan SubDAS Krasak berdasarkan unit bentuklahan
Unit Bentuklahan
Lereng atas gunungapi
Lereng tengah gunungapi
Lereng bawah gunungapi
Lereng kaki gunungapi
Lembah barranco
Dataran aluvial
Teras sungai
Tanggul alam

Kelas Kemampuan
Lahan
VIII
VI
III
I
VII-VIII
I
II
II

Peruntukan Penggunaan Lahan


Cagar alam
Penggembalaan sedang
Pertanaman sedang
Pertanaman sangat intensif
Hutan
Pertanaman sangat intensif
Pertanaman intensif
Pertanaman intensif

Berdasarkan peta kemampuan lahan dan peta penggunaan lahan saat ini, terdapat
ketidaksesuaian penggunaan lahan dengan kemampuan lahan. Hal ini ditemui pada kelas
kemampuan VIII di SubDAS Krasak yang dipergunakan sebagai semak belukar dan kelas
kemampuan lahan VI yang digunakan sebagai pemukiman. Penggunaan lahan SubDAS Krasak
yang ideal ditunjukkan pada Gambar 3. Sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 2, penggunaan
lahan ideal untuk kelas I,II,III,VI,VII,dan VIII di SubDAS Krasak adalah pemukiman/pertanian,
pertanian intensif/pertanian strip cropping, pertanian dengan teknik konservasi, padang rumput,
hutan, dan cagar alam. Pada kelas kemampuan III dengan penggunaan lahan ideal adalah
pertanian dengan teknik konservasi, berarti bahwa lahan pada kelas ini membutuhkan tindakan
pengawetan khusus seperti perbaikan drainase, sistem penanaman dalam jalur, pembuatan teras.
Tabel 2. Penggunaan lahan ideal SubDAS Krasak
Unit Bentuklahan
Lereng atas gunungapi
Lereng tengah gunungapi
Lereng bawah gunungapi
Lereng kaki gunungapi
Lembah barranco
Dataran aluvial
Teras sungai
Tanggul alam

Kelas Kemampuan
Lahan
VIII
VI
III
I
VII-VIII
I
II
II

Penggunaan Lahan Ideal


Cagar alam
Padang rumput
Pertanian dengan teknik konservasi
Pertanian
Hutan
Pemukiman
Pertanian intensif
Pertanian strip cropping

Tekanan terhadap konflik penggunaan lahan di SubDAS Krasak ditunjukkan dengan pola
pemukiman yang semakin mendekati lereng tengah gunungapi. Hal ini tentunya tidak sesuai
dengan kemampuan lahannya, karena pada daerah ini memiliki lereng yang curam, erosi tinggi,
solum tanahh yang dangkal. Apabila pemukiman semakin marambah ke daerah recharge area,
akan berdampak pada pengurangan lahan bervegetasi, erosi semakin meningkat, ketersediaan
airtanah menurun, meningkatkan aliran permukaan. Untuk itu diperlukan suatu tindakan yang
real untuk meminimalisir laju peningkatan lahan terbangun di suatu DAS. Salah satu upaya yang
dapat dilakukan adalah dengan membentuk forum koordinasi pengelolaan DAS, yang bertugas
menyusun/ merumuskan pedoman, dan kebijakan, malakukan fungsi pengawasan dan
pengendalian, dan melakukan pembinaan dan pengembangan. Selain itu dapat pula dilakukan
teknik-teknik hidrologi untuk mengevaluasi suatu DAS. Evaluasi DAS secara hidrologi tersebut,

dapat dilakukan dengan prakiraan debit aliran, prakiraan muatan sedimen, dan prakiraan erosi
dan sedimentasi yang terjadi. Dengan cara-cara tersebut dapat digunakan sebagai pedoman
langkah-langkah apa yang harus diambil untuk meminimalisir erosi, aliran permukaan, dan
sedimentasi, serta upaya menjaga keseimbangan antar ekosistem.

Daftar Pustaka
Asdak, Chay. 2007. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
FAO. 1976. A Framework for Land Evaluation. FAO Soils Bulletin No. 32. Rome
Hardjowigeno, Sarwono dan Widiatmaka. 2007. Evaluasi Kesesuaian Lahan dan Perencanaan
Tataguna Lahan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press
Sitanala, Arsyad. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Bogor: IPB Kampus Dermaga
Sitorus, Santun R,P. Dr. Ir.1985. Evaluasi Sumberdaya Lahan. Bandung:Tarsito