Anda di halaman 1dari 3

Ringkasan Case Jetblue Airways IPO Valuation

Pada tanggal 11 april 2002, Jetblue Airways berencana menambah modal perusahaan
melalui IPO (Initial Public Offering), hal ini dilakukan untuk mendukung penambahan
landasan penerbangan dengan membeli unit pesawat baru dan mengimbangi kerugian
portofolio dari investor ventura perusahaan. Setelah 2 minggu menjalani roadshow ke
investment banking, didapat hasil bahwa untuk investor yang potensial harga dari IPO
berkisar antara $22 - $24. Dan jika terjadi kelebihan permintaan dari penawaran yang
berjumlah 5,5 juta lembar saham, maka harga dari saham IPO akan naik menjadi $25 - $26.
Namun pada harga ini masih diperkirakan akan terjadi kelebihan permintaan.
Jetblue Airways merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa penerbangan
pesawat komersial yang berpusat di Newyork City, Amerika Serikat. Pada July 1999, David
Neelemen mengungumkan bahwa ia akan mendirikan perusahaan jasa penerbangan yang
akan membawa Humanity back to air tavel. Meskipun selama 20 tahun terakhir,
perusahaan penerbangan di Amerika Serikat mengalami kemunduran bahkan bangkut, namun
Neelemen tetap yakin dengan visi yang ia bawa. Komitmen ini dibuktikan dengan
keberhasilan Neelemen mendapatkan dana sebesar $130 juta dengan sangat cepat dari
investor ventura. Dan terbukti sukses dalam bisnisnya dengan perkembangan dari awal tahun
2000 hanya memiliki 1 unit pesawat terbang yang melayani 4 rute penerbangan, pada awal
tahun 2002 sudah melayani 108 penerbangan dengan 17 tujuan penerbangan serta 24 unit
pesawat terbang. Jetbule Airways datang dengan strategi low-fare dengan mengutamakan
kepuasan konsumen dengan menyediakan penerbangan tarif rendah, kursi yang nyaman serta
dilengkapi layar TV, serta Jetblue Airways juga mengadopsi penggunaan teknologi seperti
komputer dan laptop dalam kokpit dan menjadi perusahaan pertama yang memiliki peralatan
baju anti peluru dan pintu anti peluru bagi pilot pesawat.
Perusahaan lain yang juga berhasil dalam startegy low-fare adalah Southwest Airlines
yang merupakan pelopor dari low-fare strategi. Keberhasilan perusahaan ini dibuktikan
dengan peningkatan jumlah penumpang yang mencapai 64 juta orang ke 58 kota serta market
capitalization yang lebih besar dari kombinasi seluruh perusahaan penerbangan Amerika
Serikat lainnya. Akibat keberhasilan Southwest Airlines banyak perusahaan yang mengikuti
penerapan low-fare strategi baik perusahaan yang baru muncul maupun perusahaan yang
telah ada sebelumnya. Namun, banyak juga perusahaan low-fare mengalami resilient setelah
serangan teroris pada 11 September. Perusahaan penerbangan low-fare juga bermunculan di

luar Amerika Seperti Ryanair dan easyJet di Eropa dan WestJet di Kanada yang baru go
public dengan trailing EBIT multiple 8,5; 11,6; dan 13,4 berturut turut. Dan fisrt-day
return 62%, 25% dan 11% respectively.
Dalam merealisasikan IPO biasanya membutuhkan waktu sampai 3 bulan. Pada tahap
pertama perusahaan perlu melengkapi persyaratan seperti membuat business plan, kualifikasi
manajemen perusahaan, menentukan outside board of director, mempersiapkan laporan
keuangan yang telah di audit, pengacara, akuntan, membangun hubungan dengan bank
investasi, dll. Selanjutnya, dilakukan pertemuan dengan manajemen perusahaan, penjamin
emisi, akuntan dan legal counsel untuk mendesain perencanaan proses dan pencapaian
persetujuan dalam waktu tertentu. Setelah itu, penjamin emisi menyiapkan letter of intent
yang berisikan tentang persetujuan penjamin emisi dengan perusahaan namun belum di
tandatangani sampai harga saham IPO ditentukan. Selanjutnya SEC (Security and Exchane
Commission) memproses kelayakan dari perencanaan IPO perusahaan yang melibatkan ahli
dalam bidangnya. Selama proses ini berlangsung, penjamin emisi diperbolehkan untuk
melakukan penawaran kepada para calon investor. Setelah proses analisis kelayakan dari SEC
selesai maka berlakulah hari efektif. Perusahaan dan penjamin emisi telah bisa menetapkan
harga saham dan compensasi dari penjamin emisi yang melibatkan kondisi pasar. Setelah itu,
penjamin emisi menghubungi kembali calon investor untuk melakukan agreement dan
transaki penjualan saham pun berlangsung. Penutupan underwriter agreement dilakukan 7
hari setelah hari efektif berlangsung. Dalam berlangsungnya proses IPO ini, SEC melarang
perusahaan untuk melakukan sesuatu yang memungkinkan akan menaikkan harga sahamnya
di pasar modal.
Dalam memutuskan kebijakan harga saham IPO ini, terdapat perdebatan di antara
manjemen Jetblue Airways. Para investor dilaporkan sangat tertarik dengan saham IPO
perusahaan yang artinya permintaan akan melebihi dari penawaran. Selain itu, juga
dilaporkan bahwa analis dan reporter menunjukkan antusias yang besar dari perencanaa go
public dari perusahaan. Manajemen khawatir dengan harga yang ditetapkan saat ini akan
membuang kesempatan perusahaan untuk mendapatkan modal yang lebih banyak. Di
samping itu, kenaikan harga saham IPO diperkirakan akan menambah keyakinan investor
terhadap perusahaan. Selain dari harga, perdebatan juga membahas masalah keberhasilan
tujuan dari kebijakan IPO. Beberapa manajemen lebih mengutamakan ketersedian modal
dalam jangka pendek dan manajemen lain ada juga menambahkan pentingnya akses terhadap
modal jangka panjang dan tingkat pengembalian yang diterima oleh investor. Karena akses ke

pasar modal di anggap lebih penting, maka kebijakan diskon harga mejadi alternatif yang
baik untuk menghasilkan kesepakatan dengan invetor dan menghasilkan tingkat
pengembalian yang lebih besar. Menjadi konservatif dalam menetapkan kebijkan harga IPO
juga menjadi pilihan bagi Jetblue Airways mengingat keadaan perusahaan penerbangan
Amerika Serikat yang stagnant dan kemungkinan risiko yang akan dihadapi sejak serangan
11 September. Di tambah lagi dengan keadaan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang
terhenti selam 2 tahun belakangan juga menjadi pertimbangan bagi Jetblue Airways dalam
menetapkan kebijakan harga IPO. Tingkat bunga di Amerika Serikat yang berlaku saat ini
yaitu, untuk jangka panjang 5%, jangka pendek 2%, dan market risk premium di estmasi
sebesar 5%.
Rumusan Masalah
1. Mengapa ekspektasi terhadap JetBlue Airways berlebihan terhadap ekspektasi harga
IPO saham ?
2. Apa risiko dari penerbitan saham yang terlalu tinggi dalam suatu perusahaan?
3. Bagaimana trade-off antara menerbitkan saham dengan harga tinggi dibandingkan
harga yang lebih rendah terhadap JetBlue Airways dalam kasus, dengan
mempertimbangkan perusahaan dalam kondisi baik untuk melakukan ekspansi
4. Berapa discount rate yang harus digunakan dalam proses IPO ?
5. Bagaimana kondisi JetBlue Airways setelah IPO?