Anda di halaman 1dari 16

STUDY HARD

Sabtu, 02 Juni 2012


ASKEP TETRALOGI OF FALLOT (TOF)
I.

KONSEP PENYAKIT
I.1. PENGERTIAN
Tetralogi Fallot (TOF) adalah penyakit jantung bawaan tipe sianotik. Kelainan yang terjadi
adalah kelainan pertumbuhan dimana terjadi defek atau lubang dari bagian infundibulum septum
intraventrikular (sekat antara rongga ventrikel) dengan syarat defek tersebut paling sedikit sama
besar dengan lubang aorta (Harianto, 1994). Sebagai konsekuensinya didapatkan adanya empat
kelainan anatomi sebagai berikut :

Defek Septum Ventrikel (VSD) yaitu lubang pada sekat antara kedua rongga ventrikel

Stenosis pulmonal terjadi karena penyempitan klep pembuluh darah yang keluar dari bilik kanan
menuju paru, bagian otot dibawah klep juga menebal dan menimbulkan penyempitan

Aorta overriding dimana pembuluh darah utama yang keluar dari ventrikel kiri mengangkang
sekat bilik, sehingga seolah-olah sebagian aorta keluar dari bilik kanan

Hipertrofi ventrikel kanan atau penebalan otot di ventrikel kanan karena peningkatan tekanan di
ventrikel kanan akibat dari stenosis pulmonal
Komponen yang paling penting dalam menentukan derajat beratnya penyakit adalah
stenosis pulmonal dari sangat ringan sampai berat. Stenosis pulmonal bersifat progresif , makin
lama makin berat.
Jadi tetralogi of fallot adalah kombinasi dari obstruksi aliran ke luar dari bilik kanan
(stenosis pulmonal), Defek Septum Ventrikel (VSD), aorta overriding, dan hipertrofi ventrikel
kanan.

I.2. ETIOLOGI
Pada sebagian besar kasus, penyebab penyakit jantung bawaan tidak diketahui secara
pasti. diduga karena adanya faktor endogen dan eksogen. Faktor faktor tersebut antara lain :

1. Faktor endogen
-

Berbagai jenis penyakit genetik : kelainan kromosom

Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan

Adanya penyakit tertentu dalam keluarga seperti diabetes melitus, hipertensi, penyakit
jantung atau kelainan bawaan

2. Faktor eksogen
-

Riwayat kehamilan ibu : sebelumnya ikut program KB oral atau suntik,minum obat-obatan
tanpa resep dokter, (thalidmide, dextroamphetamine, aminopterin, amethopterin, jamu)

Ibu menderita penyakit infeksi : rubella

Pajanan terhadap sinar -X


Para ahli berpendapat bahwa penyebab endogen dan eksogentersebut jarang terpisah
menyebabkan penyakit jantung bawaan. Diperkirakan lebih dari 90% kasus penyebab
adaah multifaktor. Apapun sebabnya, pajanan terhadap faktor penyebab harus ada sebelum akhir
bulan kedua kehamilan, oleh karena pada minggu ke delapan kehamilan pembentukan jantung
janin sudah selesai.

I.3. MANIFESTASI KLINIK (Nelson, 1992; 726)

Sianosis, satu dari manifestasi-manifestasi tetralogi yang paling nyata, mungkin tidak
ditemukan pada waktu lahir. Obstruksi aliran keluar ventrikel kanan mungkin tidak berat dan
bayi tersebut mungkin mempunyai pintasan dari kiri ke kanan yang besar, bahkan mungkin
terdapat suatu gagal jantung kongesif.

Dispneu terjadi bila penderita melakukan aktifitas fisik. Bayi-bayi dan anak-anak yang mulai
belajar bejalan akan bermain aktif untuk waktu singkat kemudian akan duduk atau berbaring.
Anak- anak yang lebih besar mungkin mampu berjalan sejauh kurang lebih satu blok, sebelum
berhenti untuk beristirahat. Derajat kerusakan yang dialami jantung penderita tercermin oleh
intensitas sianosis yang terjadi. Secara khas anak-anak akan mengambil sikap berjongkok untuk
meringankan dan menghilangkan dispneu yang terjadi akibat dari aktifitas fisik, biasanya anak
tersebut dapat melanjutkan aktifitasnya kembali dalam beberapa menit.

Serangan-serangan dispneu paroksimal (serangan-serangan anoksia biru) terutama


merupakan masalah selama 2 tahun pertama kehidupan penderita. Bayi tersebut menjadi dispneis
dan gelisah, sianosis yang terjadi bertambah hebat, pendertita mulai sulit bernapas. Seranganserangan demikian paling sering terjadi pada pagi hari.

Pertumbuhan dan perkembangan yang tidak tumbuh dan berkembang secara tidak
normaldapat mengalami keterlambatan pada tetralogi Fallot berat yang tidak diobati. Tinggi
badan dan keadaan gizi biasanya berada di bawah rata-rataserta otot-otot dari jaringan subkutan
terlihat kendur dan lunak dan masa pubertas juga terlambat.

Biasanya denyut pembuluh darah normal, seperti halnya tekanan darah arteri dan vena.
Hemitoraks kiri depan dapat menonjol ke depan. Jantung biasanya mempunyai ukuran normal
dan impuls apeks tampak jelas. Suatu gerakan sistolis dapat dirasakan pada 50% kasus sepanjang
tepi kiri tulang dada, pada celah parasternal ke-3 dan ke-4.

Bising sistolik yang ditemukan seringkali terdengar keras dan kasar, bising tersebut dapat
menyebar luas, tetapi paling besar intensitasnya pada tepi kiri tulang dada. Bising sistolik terjadi
di atas lintasan aliran keluar ventrikel kanan serta cenderung kurang menonjol pada obstruksi
berat dan pintasan dari kanan ke kiri. Bunyi jantung ke-2 terdengar tunggal dan ditimbulkan oleh
penutupan katup aorta. Bising sistolik tersebut jarang diikuti oleh bising diastolis, bising yang
terus menerus ini dapat terdengar pada setiap bagian dada, baik di anterior maupun posterior,
bising tersebut dihasilkan oleh pembuluh- pembuluh darah koleteral bronkus yang melebar atau
terkadang oleh suatu duktus arteriosus menetap.

I.4. KOMPLIKASI (Nelson, 1992; 731)

Trombosis serebri
Biasanya terjadi dalam vene serebrum atau sinus duralis, dan terkadang dalam arteri serebrum,
lebih sering ditemukan pada polisitemia hebat. juga dapat dibangkitkan oleh dehidrasi. trombosis
lebih sering ditemukan pada usia di bawah 2 tahun. pada penderita ini paling sering mengalami
anemia defisiensi besi dengan kadar hemoglobin dan hematokrit dalam batas-batas normal.

Asbes otak
Biasanya penderita penyakit ini telah mencapai usia di atas 2 tahun. Awitan penyakit sering
berlangsung tersembunyi disertai demam berderajat rendah. mungkin ditemukan nyeri tekan

setempat pada kranium, dan laju endap darah merah serta hitung jenis leukosit dapat meningkat.
dapat terjadi serangan-serangan seperti epilepsi, tanda-tanda neurologis yang terlokalisasi
tergantung dari tempat dan ukuran abses tersebut.

Endokarditis bakterialis
terjadi pada penderita yang tidak mengalami pembedahan, tetapi lebih sering ditemukan pada
anak dengan prosedur pembuatan pintasan selama masa bayi.

Gagal jantung kongestif


dapat terjadi pada bayi dengan atresia paru dan aliran darah kolateral yang besar. keadaan ini,
hampir tanpa pengecualian, akan mengalami penurunan selama bulan pertama kehidupan dan
penderita menjadi sianotis akibat sirkulasi paru yang menurun.

hipoksia
keadaan kekurangan oksigen dalam jaringan akibat dari stenosis pulmonal sehingga
menyebabkan aliran darah dalam paru menurun.
I.5. PEMERIKSAAN PENUNJANG

a.

Pemeriksaan Laboratorium

1. Darah
Ditemukan adanya peningkatan hemoglobin dan hematokrit (Ht) akibat saturasi oksigen yang
rendah. Pada umumnya hemoglobin dipertahankan 16-18 gr/dl dan hematokrit antara 50-65 %.
2. BGA
Nilai BGAmenunjukkan peningkatan tekanan partial karbondioksida (PCO2), penurunan tekanan
parsial oksigen (PO2) dan penurunan PH.pasien dengan Hn dan Ht normal atau rendah mungkin
menderita defisiensi besi
3. Analisa Gas Darah
PCV meningkat. PCV lebih besar 65%, dapat menimbulkan kelainan koagulasi : waktu
perdarahan memanjang, fragilitas kapiler meningkat, umur trombosit yang abnormal.
4. Desaturasi darah arterial.
5. Anemia hipokrom mikrositer (karena defisiensi besi).
b. X foto dada (radiologi)
-

Jantung tidak membesar

Arkus aorta disebelah kanan (25%)

Aorta asendens melebar

Konus pulmonalis cekung

Apeks terangkat

Vaskularitas paru berkurang

Jantung berbentuk sepatu

c.

EKG
Defisiasi sumbu QRS ke kanan (RAD) hipertrofi ventrikel kanan (RVH): gelombang P diantara
II sering tinggi.

d. Ekokardiogram
-

Overiding aorta

Defect septum ventrikel

Jalan keluar ventrikel kanan menyempit.

e.

Kateterisasi
Diperlukan sebelum tindakan pembedahan untuk mengetahui defek septum ventrikel multiple,
mendeteksi kelainan arteri koronari dan mendeteksi stenosis pulmonal perifer. Mendeteksi
adanya penurunan saturasi oksigen, peningkatan tekanan ventrikel kanan, dengan tekanan
pulmonalis normal atau rendah.

I.6. PENATALAKSANAAN
Kebanyakan anak dengan tetralogi fallot direncanakan untuk menjalani bedah jantung, namun
indikasi untuk koreksi total versus penanganan paliatif bergantung pada kebijakan ahli bedah.
a.

Penatalaksanaan medis

Pada anemia relatif dapat diberi preparat besi

Jaga hygiene gigi geligi

Pada tindakan pembedahan ringan atau pencabutan gigi perlu diberi propilaksis terhadap
endokarditis infektif

Hindari keadaan dehidrasi, misalnya pada gastroenteritis

Pada perdarahan beri transfusi darah

Pada serangan hipoksia :


Posisi Knee-chest
Beri zat oksigen (5-8 l/mn)
Propanolol 0,1 mg/kg BB sebagai suntikan bonus, diteruskan dengan dosis 1 mg/kg BB
peroral tiap 6 jam
Bila terdapat asidosis beri Nabik. 1 mEq/kg IV
Bila terdapat hipoglikemia beri dekstrosa
Bila Hb <15 gm/100 ml : transfusi darah (5 ml/kg)

b. Penatalaksanaan pembedahan

Pembedahan paliatif
Dengan suatau shunt procedure diharapkan paru akan mendapat darah lebih banyak dan sianosis
akan menghilang.
Cara :

Prosedur Blalock Taussig : Anastomosis antara arteri sistemik (A. subklavia, A. karotis) dengan
arteri pulmonalis proksimal yang ipsilateral.
Arteri subklavia yang berhadapan dengan sisi lengkung aorta diikat, dibelah dan
dianastomosiskan ke arteri pulmonal kotralateral. Keuntungan pirau ini adalah membuat pirau
yang sangat kecil, yang tumbuh bersama anak, dan mudah mengangkatnya selama perbaikan
definitive. Prosedur ini memakai bahan prostetik, umumnya politetrafluoroetilen. Dengan pirau
ini , ukurannya dapat lebih dikendalikan, dan lebih mudah pada saat anak masih muda.
Konsekuensi hemodinamik dari pirau Blalock-Taussig adalah untuk memungkinkan darah
sistemik memasuki sirkulasi pulmonal melalui arteri subklavia, yang meningkatkan aliran darah
pulmonal dengan tekanan rendah dan menghindari kongesti paru. Aliran darah ini
memungkinkan stabilisasi, meningkatkan status jantung dan paru sampai anak tersebut cukup
besar untuk menghadapi pembedahan korektif dengan aman.

Prosedur Waterson : Anastomosis antara aorta asendens dengan arteri pulmonalis kanan.
Indikasi :
Tindakan ini dilakukan apabila koreksi total tidak atau belum dimungkinkan (misalnya pada
hipoplasia arteri pulmonalis atau pada bayi). dengan prosedur ini diharapkan arteri pulmonalis
dapat berkembang.

Bedah kolektif.
Tindakan ini terdiri dari :

Penutupan defek septum ventrikel


Reteksi infundibulum
Valvulotomi untuk stenosis pulmonal

III.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


III.1 PENGKAJIAN
1. Biodata
-

Anak

Nama

Umur
Menjelang usia 2-3 bulan pembentukan jari-jari tabuh pada tangan dan kaki akan tampak. Pada
usia tahun pertama, sianosis akan terjadi dan nampak paling menonjol. biasanya muncul pada
umur 5 tahun ke atas.

Jenis kelamin

Orangtua

Nama ibu

Umur

Pendidikan
Pendidikan yang rendah pada orangtua mengakibatkan kurangnya pengetahuan terhadap
penyakit anak.

Pekerjaan
Biasanya ibu hamil yang bekerja di pabrik-pabrik kimia cernderung mempengaruhi kesehatan
anak dalam kandungan.

2. Keluhan
Menanyakan dan melihat keluhan apa saja yang diungkapkan pasien atau orangtua pasien, baik
secara verbal maupun nonverbal.
Keluhan utama tidak selalu merupakan keluhan yang pertama disampaikan. Tetapi keluhan atau
gejala yang menyebabkan pasien dibawa berobat.
3. Riwayat kehamilan ibu
Ditanyakan keadaan kesehatan ibu selama hamil, ada atau tidaknya penyakit, serta apa upaya
yang dilakukan untuk mengatasi penyakit tersebut. Melakukan pemeriksaan kehamilan atau
tidak, bila ya berapa kali seminggu dan kepada siapa (dukun, bidan atau dokter), obat-obat yang
diminum pada trisemester pertama. Infeksi beberapa jenis virus, misalnya virus Toksoplasma,
Rubela, Cytomegalovirus dan HerpeS simpleks, maupun HIV (TORCH). (Abdul, 2000; 13).
4. Riwayat penyakit sekarang
Mengumpulkan data kronologi/ awal terjadinya penyakit. Pada penderita TF, biasanya diawali
dengan gejala sianosis, dispneu, pertumbuhan dan perkembangan abnormal, bising sistolik, dan
murmur.
5. Riwayat penyakit dahulu

Penyakit TF diderita oleh anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan,
adanya penyakit tertentu dalam keluarga seperti ; DM, hipertensi,kelainan bawaan jantung, ibu
menderita penyakit infeksi rubella, atau pajanan terhadap sinar X.
6. Riwayat tumbuh kembang
Biasanya anak cendrung mengalami keterlambatan pertumbuhan karena fatiq selama makan dan
peningkatan kebutuhan kalori sebagai akibat dari kondisi penyakit. Tinggi badan dan keadaan
gizi biasanya berada di bawah rata-rataserta otot-otot dari jaringan subkutan terlihat kendur dan
lunak dan masa pubertas juga terlambat.
7. Data psikososial
Mekanisme koping anak/ keluarga, Pengalaman hospitalisasi sebelumnya.
8. Pemenuhan kebutuhan dasar (di rumah dan di Rumah Sakit)
-

Nutrisi, cairan dan elektrolit


Pada bayi perlu diketahui susu apa yang diberikan : air susu ibu (ASI) atau pengganti air susu ibu
(PASI), ataukah keduanya. Bila ASI apakah diberikan secara eksklusif atau tidak. (Abdul, 2000;
13).

Hygene perseorangan
bagaimana cara perawatan diri pada anak khususnya pada gigi geligi.

Eliminasi
Biasanya pada penderita tetralogi fallot terjadi penurunan haluaran urine.

Aktivitas dan istirahat tidur


Anak akan sering Squatting (jongkok) setelah anak dapat berjalan, setelah berjalan beberapa
lama anak akan berjongkok dalam beberapa waktu sebelum ia berjalan kembali.

9. Pemeriksaan fisik
-

Keadaan umum

TTV :

Nadi : laju nadi pada TF biasanya bradikardia, iramanya disritmia pada keadaan ini denyut nadi
teraba lebih cepat pada waktu inspirasi dan lebih lambat pada waktu ekspirasi. (abdul, 2007; 27)

Tekanan darah : tekanan darah biasanya menurun karena akibat dari sirkulasi udara yang
mengalami hambatan oleh hipertrofi ventrikel kanan.

Pernapasan : pada penderita TF anak akan mengalami dispneu bila melakukan aktivitas fisik,
yang dapat disertai juga sianosis dan takipneu. perlu diperhatikan apakah distres terjadi terutama
pada inspirasi atau ekspirasi. (abdul, 2007; 31)

Suhu : pada TF normal (36oC-37,5oC)

Berat badan : pada bayi TF usia 9 bulan berat badan tidak mengalami pertumbuhan.

Pemeriksaan persistem :

1. B1 (breathing)
Karena terjadinya percampuran darah kaya O2 dan CO2, terjadi penurunan curah jantung yang
menyebabkan perfusi jaringan keseluruh tubuh berkurang sehingga mengakibatkan anak
mengalami gangguan pertukaran gas.
2. B2 (blood)
-

karakteristik bunyi dan bising jantung pada TF mirip dengan bunyi dan bising jantung pada
stenosis pulmonal tetapi makin berat stenosisnya makin lemah bising yang terdengar karena

lebih banyak dialihkan ke ventrikel kiri dan aorta daripada ke arteri pulmonalis. Pada TF dapat
terdengar klik sistolik akibat dilatasi aorta. (abdul, 2007; 89)
-

Bunyi jantung I normal. Sedang bunyi jantung II tunggal dan keras.

Terdengar bunyi murmur pada batas kiri sternum tengah sampai bawah.

3. B3 (brain)
-

Periksa GCS pasien (noormal 4-5-6). Hal tersebut dilakukan untuk menentukan tingkat
kesadaran pasien karena pada TF O2 ke otak berkurang dan akan terjadi penurunan kesadaran
sehingga mengakibatkan resiko cedera.

4. B4 (bladder)
-

Periksa haluaran urine pasien, haluaran urin biasanya berkurang karena perfusi O2 ke jaringan
berkurang termasuk ke arteri renalis.

5. B5 (bowel)
-

Kaji kebutuhan nutrisi pasien. Biasanya pada penderita TF, kebutuhan nutrisi berkurang
dikarenakan O2 yang ke sistem jaringan berkuang sehingga saat anak melakukan aktivitas
(menetek, berjalan) akan mudah lelah sehingga nutrisi yang masuk ke dalam tubuh tidak
seimbang.

6. B6 (bone)
-

Pada penderita TF anak- anak yang lebih besar mungkin mampu berjalan sejauh kurang lebih
satu blok, sebelum berhenti untuk beristirahat. Derajat kerusakan yang dialami jantung penderita
tercermin oleh intensitas sianosis yang terjadi. Secara khas anak-anak akan mengambil sikap
berjongkok untuk meringankan dan menghilangkan dispneu yang terjadi akibat dari aktifitas
fisik, biasanya anak tersebut dapat melanjutkan aktifitasnya kembali dalam beberapa menit.

III.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN


NO
1.
2.
3.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Gangguan pola napas berhubungan dengan kelemahan dan keletihan sekunder akibat
kondisi yang melemah.
Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kelemahan.
Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen.

IIII.3 INTERVENSI
1.

Gangguan pola napas berhubungan dengan kelemahan dan keletihan sekunder akibat kondisi
yang melemah.
Tujuan : Pasien mampu berpola nafas kembali secara efektif setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama ...x24 jam dengan kriteria hasil :

Tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan

Ekspansi dada maksimal

Bunyi napas tambahan tidak ada

Napas pendek tidak ada


Intervensi :

Pantau adanya pucat dan sianosis


R/ memungkinkan untuk mencegah terjadinya sianosis lebih awal.

Informasikan kepada pasien dan keluarga tentang teknik relaksasi untuk meningkatkan pola
pernapasan.
R/ memudahkan ekspansi paru.
Kolaborasi :

Pertahankan O2 selalu adekuat dengan kanul atau masker.

R/ terpenuhinya kebutuhan O2 pada jaringan.


Observasi :

Kaji pernafasan setiap 2 sampai 4 jam (kedalaman, irama, frekuensi, penggunaan otot
pernafasan).
R/ mengetahui adanya ketidak efektifan jalan nafas.
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kelemahan.
tujuan : Pasien menunjukan peningkatan berat badan setelah dilakukan perawatan selama
...x24jam dengan kriteria hasil :

peningkatan berat badan

nafsu makan bertambah (ASI/PASI)

dispneu (-)
Intervensi :

menjelaskan kepada orangtua mengenai tindakan yang akan dilakukan


R/ agar adanya kerjasama antara perawat dengan orangtua pasien dalam proses penyembuhan.
auskultasi bunyi usus
R/ penurunan/hipoaktif bising usus menunjukkan penurunan motilitas gaster dan konstipasi yang
berhubungan dengan pembatasan pemasukan cairan, penurunan aktifitas, dan hipoksemia
Kolaborasi :
kaji pemeriksaan laboratorium.
R/ mengevaluasi/ mengatasi kekurangan dan mengawasi keefektifan terapi nutrisi
Observasi :
pertahankan jadwal penimbangan berat badan teratur
R/ memberikan catatn lanjut penurunan/ peningkatan berat badan yang akurat
3. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan
oksigen.
tujuan : Pasien menunjukan peningkatan toleransi terhadap aktifitas dalam waktu....x24 jam
dengan kriteria hasil :
-

dispnea(-)

kelemahan (-)
- TTV:
TD : 90/70 mmHg
Nadi 120-140x/menit
RR: 35 x/mnt
Intervensi :

Jelaskan kepada keluarga tentang aktifitas maksimal anak dengan gangguan kelainan jantung
R/ keluarga mengerti pentingnya pemenuhan kebutuhan aktifitas
kolaborasi dengan dokter dalam pemberian oksigen nasal 2liter/jam
R/ memaksimalkan sediaan oksigen untuk pertukaran gas
Observasi ada tidaknya sianosis pada jaringan hangat.
R/ menunjukkan hipoksemia siskemik.

DAFTAR PUSTAKA

Lynn Betz Cecily dan A. Sowden Linda. Buku saku keperawatan pediatri, Edisi 5; Jakarta,
2004. Penerbit Buku Kedokteran ECG.

Wong Donna L, dkk. Buku Ajar Keperawatan Pediatri, Edisi 6 vol 2; Jakarta, 2009. Penerbit
Buku Kedokteran ECG.

Harianto, Agus, dkk. Pedoman Diagnosis dan Terapi; Surabaya, 1994. Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga.

Doenges E Marilynn. Rencana Asuhan Keperawatan; Jakarta, 1993. Penerbit Buku Kedokteran
ECG.

Nelson. Ilmu Kesehatan Anak; Jakarta, 1992. Penerbit Buku Kedokteran ECG.

Diposkan oleh Arin Ariany di 11.25


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)

DARI ARIN

2012 (7)
o Juni (7)

PEMBERIAN OBAT SECARA TOPIKAL

ASKEP TONSILITIS PADA ANAK

ASKEP TETRALOGI OF FALLOT (TOF)

PENELITIAN TTV

LEUKEMIA LIMFOBLASTIK AKUT (ALL)

THALASEMIA

CVA ISKEMIK DAN HEMORAGIK

about ARIN

Arin Ariany
Lihat profil lengkapku

Template Picture Window. Diberdayakan oleh Blogger.

Beri Nilai