Anda di halaman 1dari 13

CHAPTER I

PENGANTAR PENELITIAN
Penelitian Bisnis
Penelitian Bisnis dapat diartikan sebagai sebuah sistematika dan upaya pengorganisasian
untuk menginvestigasi sebuah masalah yang ditemukan sehari-hari yang membutuhkan solusi.
Hal itu terdiri dari serangkaian langkah yang dirancang dan dilaksanakan dengan tujuan
menemukan jawaban atas isu-isu yang muncul di lingkungan kerja yang berarti langkah pertama
adalah mengetahui dimana masalah tersebut terjadi dalam organisasi dan untuk mengidentifikasi
dengan jelas dan spesifik masalah yang perlu untuk diteliti dan dipecahkan.
Seluruh proses untuk mencoba memecahkan masalah itulah yang dinamakan penelitian
(research). Dengan demikian, sebuah penelitian melibatkan suatu rangkaian yang cukup
beralasan dan dieksekusi secara hati-hati segala aktivitas yang membuat manajer mengetahui
bagaimana masalah organisasi tersebut dapat diselesaikan atau paling tidak diminimalisasikan.
Proses tersebut dilakukan dengan sistematikal, rajin, kritis, berpikir objektif, dan penuh logika.
Ekspetasi dan hasil yang ditemukan dapat membantu manajer dalam menyelesaikan masalahnya.
Definisi dari Penelitian Bisnis
Sekarang, kita dapat mendefinisikan penelitian bisnis sebagai organized, systematic,
data-based, critical, objective, inquiry atau mengidentifikasi masalah, yang dilakukan dengan
tujuan untuk menemukan jawaban atau solusi. Disisi lain, penelitian menyediakan informasi
umum yang menuntun manajer untuk membuat keputusan informasi untuk mensukseskan
menyelesaikan masalah. Informasi yang tersedia dapat menjadi hasil dari analisis data yang telah
ada (misalnya dari perusahaan). Data tersebut bisa kuantitatif maupun kualitatif. Data kuantitatif
adalah data yang berupa angka. Sedangkan data kualitatif berasal dari respon kuesioner yang
dibagikan kepada responden.

Research and the Manager


Sebuah pengalaman yang umum bagi sebuah organisasi bahwa seorang manajer bertemu
dengan masalah, kecil maupun besar dimana mereka harus menyelesaikan dengan membuat
keputusan dengan benar.
Dalam sebuah bisnis, penelitian biasanya yang terutama untuk dilakukan untuk
menyelesaikan isu problematic atau yang saling berkaitan, area akunting, keuangan, manajemen
dan marketing. Dalam akuntansi, budget control system, praktik, dan prosedur yang sering
diteliti.
Tipe Penelitian Bisnis
Penelitian dapat dilakukan dengan dua tujuan. Yaitu :
-

Applied Research
Penelitian ini dilakukan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi manajer lingkungan
kerja dan menuntut solusi dengan tepat waktu. Contohnya, suatu produk mungkin tidak
terjual dengan baik dan manajer ingin menemukan alasan untuk menemukan tindakan

korektif
Basic Research
Penelitian yang dilakukan untuk menghasilkan pengetahuan baru dengan mencoba untuk
memahami masalah tertentu, tentang bagaimana masalah itu bisa terjadi dan dapat
dipecahkan.
Dapat dimungkinkan bahwa beberapa organisasi mendapat pengetahuan dari penemuan

nya dari Basic Research dan memecahkan masalahnya sendiri. Untuk sebuah instansi, Profesor
dari sebuah universitas mungkin tertarik untuk meneliti kontribusi mahasiswa terhadap
ketidakhadiran sebagai masalah kepentingan akademik semata. Setelah mengumpulkan
informasi sesuai topic dari beberapa institusi dan menganalisis data, professor kemudian
mengidentifikasi faktor seperti jam kerja yang tidak fleksibel, pelatihan kerja yang tidak
memadai, dan modal yang rendah terutama yang mempengaruhi absensi.
Sebagai kesimpulan, penelitian selesai dengan intense dalam penyerahan hasil dengan
menemukan penyelesaian yang spesifik dengan pengalaman dalam organisasi disebut penelitian.

Manager and Research


Manajer dengan pengetahuannya dalam penelitian memiliki keuntungan daripada mereka
yang tidak. Alasan lain mengapa seorang manajer professional perlu memahami metode
penelitian aadalah bahwa mereka akan menjadi lebih dapat membedakan sementara dalam
memilah-milah informasi yang disebarkan di jurnal bisnis. Beberapa artikel dalam jurnal lebih
lengkap dan objektif daripada yang lain. Bahkan di antara artikel ilmiah, beberapa lebih sesuai
untuk diaplikasikan dan diadaptasi terhadap organisasi tertentu dan situasi daripada lain.
Pada kesimpulannya, menjadi berilmu tentang penelitian dan metode penelitian
membantu manajer professional untuk :
1. Mengidentifikasi dan menyelesaikan secara efektif masalah dalam lingkungan kerja.
2. Mengetahui bagaimana untuk membedakan baik buruknya penelitian.
3. Mengapresiasi dan terus-menerus sadar akan berbagai pengaruh dan efek berganda
dari faktor yang menimpa pada situasi.
4. Dapat mengkalkulasi resiko dalam membuat keputusan, mengetahui penuh
probabilitas dengan kemungkinan manfaat yang berbeda.
5. Mencegah kemungkinan kepentingan dari menggunakan pengaruh mereka dalam
situasi tertentu.
6. Mengkombinasikan pengalaman dengan pengetahuan ilmiah dalam membuat
keputusan.
Internal VS External Consultant
1. Internal Consultant
Beberapa organisasi memiliki konsutan nya sendiri yang dapat disebut sebagai Managing
Service Department, Research and Development (R&D) atau nama lainnya. Departemen
ini melayani sebagai internal consultant untuk sub unit dalam organisasi untuk
menghadapi macam masalah dan membantunya. Jika ini ada, maka akan membantu dan
menuliskan solusi yang mungkin menguntungkan di bawah beberapa keadaan. Manajer
sering untuk memutuskan menggunakan internal consultan atau external consultan.
Untuk membuat keputusan tersebut maka manajer harus mengetahui kelemahan dan
keuntungan dari keduanya.
Keuntungan dari Internal Consultant :

o Tim internal akan lebih mungkin diterima oleh karyawan dalam submit organisasi
di mana penelitian perlu dilakukan.
o Tim memerlukan waktu yang lebih singkat untuk memahami struktur, filosofi,
iklim dan fungsi dan sistem kerja organisasi
o Mereka akan dapat melaksanakan rekomendasi setelah temuan penelitian
diterima. Hal ini sangat penting karena setiap gangguan dalam implementasi
rekomendasi dapat disingkirkan dengan bantuan mereka. Mereka juga dapat
mengevaluasi efektivitas perubahan, dan mempertimbangkan perubahan lebih
lanjut, jika, dan ketika diperlukan..
o Tim Internal mungkin memerlukan biaya yang lebih rendah dari external team.
Kerugian dari Internal Consultant :
o Dalam konteks masa kerja mereka yang panjang sebagai konsultan internal, tim
internal sangat mungkin jatuh ke dalam cara pandang stereotip dalam melihat
organisasi dan masalahnya. Hal tersebut akan menghalangi ide dan perspektif
segar yang mungkin diperlukan untuk mengatasi masalah. Hal tersebut jelas
sekali akan menjadi rintangan bagi situasi ketika isu-isu berat dan masalah
kompleks harus diinvestigasi.
o Ada keleluasaan bagi koalisi kekuasaan tertentu dalam organisasi untuk
mempengaruhi tim internal menyembunyikan, menyimpangkan, atau dapat
mengubah fakta tertentu. Dengan kata lain, kepentingan pribadi tertentu dapat
mendominasi, terutama untuk mendapatkan porsi yang cukup besar dari sedikit
sumber daya yang tersedia.
o Terdapat kemungkinan bahwa, bahkan tim penelitian internal yang paling
berkualifikasi tinggi tidak dianggap sebagai pakar oleh staff dan manajemen, dan
oleh karena itu rekomendasi mereka tidak memperoleh cukup pertimbangan dan
perhatian yang layak.
o Bias organisasi tertentu terhadap tim penelitian internal dalam beberapa hal dapat
membuat temuan menjadi kurang objektif dan sebagai konsekuensinya kurang
ilmiah.
2. External Consultant
Kerugian dari tim internal sebaliknya merupakan keuntungan tim eksternal, dan
keuntungan yang pertama menjadi kerugian yang terakhir. Tetapi, keuntungan dan
kerugian tim eksternal dapat disoroti.
Keuntungan dari External Consultant :

o Tim eksternal dapat menerapkan kekayaan pengalaman yang diperoleh dari


bekerja dengan berbagai tipe organisasi yang mempunyai jenis masalah yang
sama atau mirip. Keluasan pengalaman akan membuat mereka mampu untuk
berfikir, baik secara divergen atau konvergen, dan menghindari ketergesaan
menuju solusi instan berdasarkan fakta yang tampak dalam situasi. Mereka akan
mampu mempertimbangkan beberapa cara alternative untuk melihat masalah
karena pengalaman pemecahan masalah yang luas dalam berbagai konteks
organisasi lain.
o Tim eksternal, terutama dari perusahaan penelitian dan konsultan terkemuka,
mungkin mempunyai lebih banyak pengetahuan mengenai model-model
pemecahan masalah yang terkini dan tercanggih yang diperoleh melalui program
pelatihan periodic mereka, yang mungkin tidak dimiliki oleh tim internal
organisasi.
Kerugian dari External Consultant :
o Biaya sewa tim penelitian ekternal biasanya mahal dan cenderung dihindari,
kecuali jika masalah sangat kritis.
o Selain banyak waktu yang diperlukan oleh tim ekternal untuk memahami
organisasi yang akan diteliti, mereka jarang memperoleh sambutan hangat, pun
tidak dengan serta-merta diterima oleh karyawan. Karena itu, meminta dukungan
karyawan dan memperoleh kerjasama mereka dalam studi adalah sedikit lebih
sulit dan memakan waktu bagi peneliti eksternal dibandingkan tim internal.
o Tim eksternal juga membebankan biaya tambahan untuk bantuan mereka dalam
fase implementasi dan evaluasi.

Etika dan Penelitian Bisnis


Etika dalam penelitian bisnis mengacu pada kode etik atau norma

perilaku

social

yang diharapkan ketika melakukan penelitian. Kode etik berlaku bagi organisasi dan anggota
yang mensponsori penelitian, peneliti yang melakukan penelitian, dan responden yang
memberikan data yang diperlukan.

Kode etik juga harus dicerminkan dalam perilaku peneliti yang melakukan
investigasi, partisipan yang memberikan data, analis yang memberikan hasil, dan seluruh tim
penelitian yang menyajikan interpretasi hasil dan menyarankan solusi alternatif. Dengan
demikian, perilaku etis meliputi setiap langkah dalam proses penelitian yaitu pengumpulan
data, analisis data, pelaporan, dan penyebaran informasi di Intemet, jika kegiatan tersebut
dilakukan.

CRITICAL REVIEW Chapter I


Pada chapter 1 Buku Research Methods for Business karya Uma Sekaran
membicarakan tentang pengantar penelitian. Chapter ini mengajarkan kita pengertian
penelitian secara umum dan bagaimana perusahaan melakukan penelitian dari sebuah
masalah untuk mendapat solusi agar permasalahan tersebut bisa terselesaikan.
Permasalahan memang sering dihadapi oleh manajer dalam lingkungan kerja. Baik
masalah besar atau kecil. Namun dari masalah itulah yang memicu manajer untuk segera
menemukan solusi agar masalah tersebut tidak menjadi besar.
Dalam bab ini, penulis menjelaskan tentang definisi penelitian, jenis-jenis penelitian,
hubungan manajer dengan penelitian, keunggulan penelitian ilmiah, langkah dalam melakukan
hipotesis deduktif, kendala yang di dapat, dan perspektif alternative mengenai hal yang
menghasilkan penelitian yang baik.
Manajer memang harus dibekali pengetahuan tentang penelitian bisnis. Untuk manajer
yang kurang memeiliki kemampuan penelitian, dapat dengan cara mnyewa peneliti/konsultan.
Namun dalam hal itu, penulis telah memberikan langkah yang harus dilakukan manajer dalam
memilih peneliti/konsultan yang akan disewa. Tentu saja memiliki konsultan internal maupun
eksternal akan memiliki keuntungan dan kelemahannya sendiri seperti yang telah dijelaskan oleh
penulis. Tergantung pilihan perusahaan seperti apa yang pasti harus dipikirkan secara matang
agar secara persoalan yang ada didalam perusahaan dapat terselesaikan.

CHAPTER II
PENELITIAN ILMIAH
Penelitian Saintifik
Penelitian ilmiah lebih difokuskan pada pemecahan masalah dan mengikuti metode langkah
demi langkah yang logis, terorganisasi, dan ketat untuk mengidentifikasi masalah, megumpulkan
data, menganalisisnya, dan menarik kesimpulan yang valid dari hasil tersebut
Ciri-ciri Penelitian Ilmiah (Saintifik)
1. Tujuan jelas
Manager memulai penelitian dengan sebuah sasaran atau tujuan yang jelas.
Fokusnya adalah meningkatkan komitmen karyawan terhadap organisasi, di
samping manfaat lain penelitian tersebut dalam banyak bidang. Peningkatan
komitmen karyawan akan terwujud dalam berkurangnya pergantian, absensi, dan
mungkin menaikkan level kinerja, yang kesemuanya tentu akan menguntungkan
organisasi.
2. Ketepatan
Dasar teori yang baik dan desain metodologi yang tepat akan menambah
ketepatan pada sebuah studi.dengan tujuan yang jelas. Ketepatan mengandung
arti tingat kehatian-hatian dalam investigasi penelitian.
3. Dapat Diuji
Bila setelah mewawancarai sekelompok acak karyawan organisasi dan
mempelajari penelitian sebelumnya yang dilakukan dalam bidang komitmen
organisasi, manajer atau peneliti membuat hipotesis tertentu mengenai bagaimana
meningkatkan komitmen karyawan, maka hal tersebut dapat diuji dengan
menerapkan uji statistik tertentu pada data yang dikumpulkan untuk tujuan
tersebut. Misalnya, peneliti mungkin menghipotesiskan bahwa karyawan yang
merasakan kesempatan lebih besar untuk terlibat dalam pengambilan keputusan
akan mempunyai level komitmen yang lebih tinggi. Ini adalah hipotesis yang
dapat diuji setelah data dikumpulkan.
4. Dapat Ditiru
Hasil uji hipotesis tersebut harus didukung lagi dan lagi ketika jenis penelitian
serupa diulangi dalam keadaan lain yang mirip. Bila hal tersebut terjadi
(misalnya, hasil ditiru atau terulang), kita akan memperoleh keyakinan dalam

sifat ilmiah penelitian kita. Dengan kata lain, hipotesis kita tidak hanya bersifat
kebetulan, tetapi merupakan refleksi dari keadaan populasi yang sebenamya.
5. Ketelitian dan Keyakinan
Ketelitian (precision) mengacu pada kedekatan temuan dengan "realitas"
berdasarkan sebuah sampel. Dengan kata lain, ketelitian mencerminkan tingkat
keakuratan atau keyakinan hasil berdasarkan sampel, terkait apa yang benar-benar
eksis dalam keseluruhan.
Keyakinan (confidende) mengacu pada probabilitas ketepatan estimasi kita.
Karena itu, tidaklah cukup hanya teliti, tetapi juga penting bahwa kita dapat
dengan yakin menegaskan bahwa 95% waktu hasil kita benar dan hanya 5%
kemungkinan salah. Hal ini, juga disebut sebagai tingkat keyakinan.
6. Objektivitas
Kesimpulan yang ditarik dari interpretasi hasil analisis data harus obfektif; yaitu,
harus berdasarkan fakta-fakta dari temuan yang berasal dari data aktual, dan
bukan nilai-nilai subjektif atau emosional kita. Misalnya, jika kita mempunyai
hipotesis bahwa partisipasi yang lebih besar dalam pengambilan keputusan akan
meningkatkan komitmen organisasi, dan hal tersebut tidak didukung oleh .hasil
penelitian, adalah percuma jika peneliti terus memperdebatkan bahwa
peningkatan kesempatan bagi partisipasi karyawan akan tetap bermanfaat.
Argumen semacam itu akan didasarkan pada opini subjektif peneliti, bukan pada
temuan penelitian berdasar data yang faktual. Bila hal tersebut merupakan
pendirian peneliti, maka tidak ada gunanya sama sekali untuk melakukan
penelitian.
7. Dapat Digeneralisasi
Dapat digeneralisasi mengacu pada cakupan penerapan temuan penelitian dalam
satu konteks organisasi ke konteks organisasi lainnya.Tidak dapat dipungkiri lagi,
semakin luas jangkauan penerapan solusi yang dihasilkan oleh penelitian,
semakin berguna penelitian tersebut bagi para pengguna. Misalnya, jika seorang
peneliti menemukan bahwa partisipasi dalam pengambilan keputusan adalah
benar terkait dengan peningkatan komitmen organisasi dalam berbagai organisasi
manufaktur, industri, dan jasa, dan tidak hanya dalam organisasi tertentu yang
diselidiki oleh peneliti tersebut, maka generalisasi temuan tersebut pada konteks
organisasi lain pun meningkat. Semakin penelitian dapat digeneralisasi, semakin

besar kegunaan dan nilainya.Tetapi, tidak banyak temuan penelitian yang dapat
digeneralisasi pada semua konteks, situasi, atau organisasi lainnya.
8. Hemat
Kesederhanaan dalam menjelaskan fenomena atau persoalan yang muncul, dan
dalam menghasilkan solusi masalah, selalu Iebih disukai untuk kerangka
penelitian yang kompleks yang meliputi jumlah faktor yang tidak dapat
dikendalikan. Sifat ekonomis dalam model penelitian dicapai jika kita
memasukkan ke dalam kerangka penelitian lebih sedikit jumlah variabel yang
akan menjelaskan varians (variance) secara jauh lebih efisien dibanding
seperangkat variabel kompleks yang hanya akan sedikit menambah varians yang
dijelaskan. Sifat hemat ini dapat dicapai dengan pemahaman yang baik terhadap
masalah dan faktor penting lainnya yang memengaruhi hal tersebut.Model
teoretis konseptual yang baik semacam itu dapat diperoleh melalui wawancara
terstruktur dan tidak terstruktur dengan pihak terkait, dan tinjauan literatur yang
menyeluruh terhadap hasil penelitian sebelumnya dalam bidang masalah tertentu.
Tujuh Langkah Metode Hipotesis-Deduktif
1. Pengamatan
Pengamatan adalah tahap pertama, di mana seseorang merasakan bahwa perubahan
tertentu sedang terjadi, atau bahwa beberapa perilaku, sikap, dan perasaan baru
sedang mengemuka dalam lingkungan seseorang (dalam hal ini, tempat kerja).
2. Pengumpulan informasi awal
Pengumpulan informasi awal meliputi mencari informasi secara mendalam
mengenai hal yang diamati. Hal ini dapat dilakukan dengan berbicara secara
informal dengan beberapa orang dalam konteks kerja atau klien, atau kepada
sumber relevan lainnya, dengan demikian dapat mengumpulkan informasi mengenai
apa dan mengapa sesuatu hal terjadi.
3. Perumusan teori
Yaitu usaha untuk menggabungkan semua informasi dalam cara yang logis,
sehingga faktor-faktor yang berkaitan dengan masalah dapat dikonseptualisasi
dan diuji. Kerangka teoretis yang dirumuskan sering dituntun oleh pengalaman
dan intuisi.Pada langkah ini, variabel kritis diuji kontribusi dan pengaruhnya
dalam menjelaskan mengapa masalah terjadi dan bagaimana hal tersebut dapat
diselesaikan.

4. Penyusunan hipotesis
Penyusunan hipotesis adalah langkah logis selanjutnya setelah perumusan teori.
Dari jaringan asosiasi teori di antara variabel, hipotesis atau perkiraan tertentu
yang dapat diuji pun bisa dihasilkan. Misalnya, pada poin ini, seseorang mungkin
menyusun hipotesis bahwa jika sejumlah item ditaruh di rak-rak, ketidakpuasan
konsumen akan sangat berkurang. Hal tersebut merupakan sebuah hipotesis yang
dapat diuji untuk menentukan apakah pemyataan tersebut akan terbukti.
Pengujian hipotesis disebut penelitian deduktif (deductive).Terkadang, hipotesis
yang tidak dirumuskan secara orisinil dihasilkan melalui prossts induksi
(induction).Yaitu, setelah data diperoleh, beberapa gagasan kreatif muncul dan
berdasarkan hal tersebut, hipotesis baru pun bisa dihasilkan untuk diuji
kemudian.Biasanya, dalam penelitian, pengujian hipotesis melalui penelitian
deduktif dan hipotesis yang dihasilkan dengan induksi keduanya adalah lazim.
5. Pengumpulan data ilmiah lebih lanjut
Setelah menyusun hipotesis, data yang terkait dengan setiap variabel dalam
hipotesis perlu dikumpulkan. Dengan kata lain, pengumpulan data ilmiah lebih
lanjut adalah diperlukan unfuk menguji hipotesis yang dihasilkan dalam studi.
Misalnya, untuk menguji hipotesis bahwa menyediakan item yang memadai
akanmengurangi ketidakpuasan konsumen, seseorang perlu mengukur tingkat
kepuasan konsumen saat ini dan mengumpulkan data lebih lanjut mengenai tingkat
kepuasan konsumen kapan pun sejumlah item yang memadai disimpan dan
tersedia bagi konsumen. Data pada setiap variabel dalam kerangka teoretis di
mana hipotesis dihasilkan juga harus dikumpulkan.Data tersebut kemudian menjadi
dasar untuk analisis data lebih lanjut.
6. Analisis data
Dalam langkah analisis data, data yang dikumpulkan dianalisis secara statistik
untuk melihat apakah hipotesis terbukti. Misalnya, untuk melihat jika level
persediaan memengaruhi kepuasan konsumen, seseorang dapat menggunakan
analisis korelasi dan menentukan hubungan antara dua faktor. Hampir serupa,
hipotesis lain dapat diuji dengan analisis statistik yang tepat.
7. Deduksi
Deduksi adalah proses tiba pada kesimpulan dengan menginterpretasikan arti dari
hasil analisis data.

Perspektif Alternatif Untuk Menghasilkan Penelitian yang Baik


Melalui pendekatan ilmiah, peneliti dapat dengan mudah untuk memperoleh kebenaran
dari subjek penelitian. Atau kebenaran subjektif yang hanya bisa kita ciptakan dalam pikiran
kita? Semua penelitian berdasarkan pada segala sesuatu yang ada di sekitar kita (dalam ilmu
filosofi bisa disebut ontology) dan yang mungkin bisa kita temukan dalam penelitian. Namun,
perbedaan perspektif penelitian akan menghasilkan ide-ide yang berbeda pula. Perspektifperspektif tersebut ialah:
-

Positivism, adalah percaya bahwa ada kebenaran obyektif di luar sana untuk memahami

dunia cukup baik sehingga kita mampu memprediksi dan mengontrolnya.


Constructionism , adalah pendekatan yang sama sekali berbeda untuk penelitian dan
bagaimana penelitian harus dilakukan dengan konstruktivisme. Konstruksionisme

mengkritik positivis percaya bahwa ada kebenaran obyektif.


Critical realism adalaht kedua pandangan penelitian yang saling bertentangan dan tentang

bagaimana penelitian harus dilakukan, ada banyak sudut pandang perantara.


Pragmatism, dalam penelitian yang baik tidak memandang salah satu pandangan saja.
Mereka percaya bahwa penelitian pada kedua pandangan tersebut membawa gejala yang
tampak dan akan memberikan makna subjektif dapat menghasilkan ilmu yang
bermanfaat.

CRITICAL REVIEW Chapter II


Dalam Chapter II yang berjudul Penelitian Ilmiah, dijelaskan 8 hal ciri-ciri yang
terdapat pada penelitian ilmiah, diantaranya; tujuannya jelas, ketepatan, dapat diuji, dapat
ditiru, presisi dan keyakinan, bersifat objektif, umum, serta hemat. Penelitian ini dapat
dilakukan dengan menggunakan metode hipotesis deduktif. Dimana deduktif adalah proses
dimana kita sampai pada suatu kesimpulan beralasan melalui generalisasi logis dari sebuah
fakta yang kita temui.
Chapter ini juga dijelaskan bahwa ada beberapa kendala yang dihadapi dalam melakukan
penelitian ilmiah, misalnya dalam bidang manajemen dan sosial yang memungkinkan peneliti
untuk tidak selalu melakukan investigasi 100% secara ilmiah.

Penulis telah menjelaskan dengan baik tentang penelitian ilmiah dan sudah dibagi-bagi
dalam sub bagian agar terlihat lebih mudah dipahami. Penulis juga memberikan suatu introduksi
pada bagian awal untuk memberitahukan kepada para pembaca tentang apa yang sebenarnya
akan dibahas di dalam tulisan tersebut. Dengan begitu pembaca yang membaca bagian introduksi
dan kemudian bagian simpulan yang memiliki koherensi, akan mampu menggambarkan secara
umum maksud dari penulis.