Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pelecypoda termasuk kedalam hewan invertebrate yaitu moluska,
dalam penelitian ini praktikan ingin mengetahui mengenai Pelecypoda
atau biasa disebut Bivalve secara rinci, mengetahui tentang cara hidup,
berkembangbiak, struktur tubuh, dll. Makalah ini juga sebagai salah satu
syarat lulus mata kuliah Paleonntologi.
1.2 Tujuan
1. Mengetahui apa itu Moluska
2. Mengetahui apa itu Pelecypoda
3. Sebagai tugas Paleontologi
1.3 Rumusan Masalah
1. Apa itu moluska?
2. Apa itu Pelecypoda?

BAB II
DASAR TEORI
1

2.1 Pengertian moluska


Mollusca adalah hewan lunak dan tidak memiliki ruas. Tubuh
hewan ini tripoblastik, bilateral simetri, umumnya memiliki mantel yang
dapat menghasilkan bahan cangkok berupa kalsium karbonat. Cangkok
tersebut berfungsi sebagai rumah (rangka luar) yang terbuat dari zat kapur
misalnya kerang, tiram, siput sawah dan bekicot. Namun ada pula
Mollusca yang tidak memiliki cangkok, seperti cumi-cumi, sotong, gurita
atau siput telanjang. Mollusca memiliki struktur berotot yang disebut kaki
yang bentuk dan fungsinya berbeda untuk setiap kelasnya.
Mollusca merupakan filum terbesar dari kingdom animalia.
Mollusca dibedakan menurut tipe kaki, posisi kaki, dan tipe cangkang,
yaitu Gastropoda, Pelecypoda, dan Cephalopoda.
2.2 Pengertian Pelecypoda
Bivalvia adalah kelas dalam moluska yang

mencakup

semua

kerang-kerangan: memiliki sepasang cangkang (nama "bivalvia" berarti


dua cangkang). Hewan kelas ini selalu mempunyai cangkang katup
sepasang maka disebut sebagai Bivalvia. Hewan ini disebut juga
Pelecypoda yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu pelecys yang artinya
kapak kecil dan podos yang artinya kaki. Jadi Pelecypoda berarti hewan
berkaki pipih seperti mata kapak. Hewan kelas ini pun berinsang berlapislapis maka sering disebut Lamellibranchiata.
Pelecypoda diidentefikasikan sebagai kerang (Anadara sp.), tiram
mutiara (Pinctada margaritifera dan Pinctada mertinsis), kerang raksasa
(Tridacna sp.), dan kerang hijau (Mytilus viridis). Pelecypoda memiliki
ciri khas, yaitu kaki berbentuk pipih seperti kapak.Kaki Pelecypoda dapat
dijulurkan dan digunakan untuk melekat atau menggali pasir dan
lumpur.Pelecypoda ada yang hidup menetap dan membenamkan diri di
dasar perairan.Pelecypoda mampu melekat pada bebatuan, cangkang
hewan lain, atau perahu karena mensekresikan

zat

perekat.

Pelecypoda memiliki dua buah cangkang pipih yang setangkup sehingga


disebut juga Bivalvia.Kedua cangkang pada bagian tengah dorsal

dihubungkan oleh jaringan ikat (ligamen) yang berfungsi seperti engsel


untuk membuka dan menutup cangkang dengan cara mengencangkan dan
mengendurkan

otot.Cangkang

tersusun

dari

lapisan

periostrakum,

prismatik, dan nakreas.Pada tiram mutiara, jika di antara mantel dan


cangkangnya masuk benda asing seperti pasir, lama-kelamaan akan
terbentuk mutiara.Mutiara terbentuk karena benda asing tersebut
terbungkus oleh hasil sekresi palisan cangkang nakreas.Pelecypoda tidak
memiliki kepala.Mulutnya terdapat pada rongga mantel, dilengkapi
dengan labial palpus. Pelecypoda tidak memiliki rahang atau radula.Maka
makanannya berupa hewan kecil seperti protozoa, diatom, dan sejenis
lainnya.
Kerang-kerangan banyak bermanfaat dalam kehidupan manusia
sejak

masa

purba. Dagingnya dimakan

sebagai

sumber protein.

Cangkangnya dimanfaatkan sebagai perhiasan, bahan kerajinan tangan,


bekal kubur, serta alat pembayaran pada masa lampau. Mutiara dihasilkan
oleh beberapa jenis tiram. Pemanfaatan modern juga menjadikan kerangkerangan sebagai biofilter terhadap polutan.
Klasifikasi :
Klasifikasi Pelecypoda didasarkan pada bagian tubuh tertentu,yaitu
insang,susunan gigi dan otot penutup kelopaknya.Bentuk gigi yang
sederhana telah dijumpai pada Zaman Ordovisium,dan terjadi evolusi gigi
hingga dua susun.
Berikut ini adalah Klasifikasi PELECYPODA secara Paleontologi;
Ordo TAKSODONTA : Mempunyai gigi yang hampir sama
besar,berjumlah 35 buah (Ordovisium-Resen).
Ordo ANISOMYARIA : Mempunyai dua otot adductor ,dimana
otot adductor bagian belakang (posterior) lebih besar dari bagian
depan

(anterior),mempunyai

gigi

dan socket dua

buah

(Ordovisium-Resen).

Ordo EULAMELLIBRACHIATA : Mempunyai Anterior

muscle

scar yang

lebih

kecilketimbangPosterior

muscle

scar ,tetapi umumnya sama besar,dimana gigi dan susunan giginya


tidak sama besar.
Klasifikasi berikut adalah berdasarkan klasifikasi Newel (1965)
yang didasarkan pada morfologi. Hingga sekarang belum tersedia filogeni
yang dapat sepenuhnya dipercaya. Beberapa kelompok diketahui
parafiletik, terutama Anomalodesmata. Terdapat pula sistematika alternatif
berdasarkan morfologi insang dari Franc (1960) dan disebutkan bila perlu
pada daftar di bawah. Franc memisahkan Septibranchia dalam kelompok
tersendiri, meskipun secara molekular malah membuat Eulamellibranchia
menjadi parafiletik.
Subkelas Palaeotaxodonta (Protobranchia menurut Franc)
o Ordo Nuculoida
Subkelas Cryptodonta (Protobranchia menurut Franc)
o Praecardioida
o Solemyoida
Subkelas Pteriomorphia (tiram, kupang, dll., Filibranchia menurut

Franc)
o Arcoida
o Cyrtodontoida
o Mytiloida
o Ostreoida semula termasuk Pterioida
o Praecardioida
o Pterioida
Subkelas Paleoheterodonta (Eulamellibranchia menurut Franc)
o Trigonioida
o Unionoida (jenis-jenis kupang air tawar)
o Modiomorpha
Subkelas Heterodonta (mencakup remis, lokan, dan kerang-kerang
yang biasa dikenal,Eulamellibranchia menurut Franc)
o Cycloconchidae
o Hippuritoida
o Lyrodesmatidae
o Myoida
o Redoniidae
o Veneroida
Subkelas Anomalodesmata ((Eulamellibranchia menurut Franc)
o Pholadomyoida

2.3 Cara hidup dan morfologi tubuh


Cara Hidup
Menurut Kastoro (1988) ditinjau dari cara hidupnya, jenis-jenis
pelecypoda mempunyai habitat yang berlainan walaupun mereka termasuk
dalam satu suku dan hidup dalam satu ekosistem. Pelecypoda pada
umumnya hidup membenamkan dirinya dalam pasir atau pasir berlumpur
dan beberapa jenis diantaranya ada yang menempel pada benda-benda
keras dengan semacam serabut yang dinamakan byssus. Nontji (1993),
menyatakan bahwa pelecypoda hidup menetap di dasar laut dengan cara
membenamkan diri di dalam pasir atau lumpur adapula yang menempel di
pohon bahkan pada karang-karang batu. Pada beberapa spesies
pelecypoda seperti Mytillus edulis dapat hidup di daerah intertidal karena
mampu menutup rapat cangkangnya untuk mencegah kehilangan air
(Nybakken, 1992).
Habitat merupakan suatu tempat terjadinya interaksi antara
organisme dengan lingkungannya, dan membuat organisme tertentu
merasa sesuai untuk melaksanakan hidup dan kehidupannya. Sebagai
contoh, faktor-faktor fisika yang sering menentukan habitat suatu spesies
tertentu adalah faktor fisika dan terdiri atas :temperatur, cahaya, arus,
substrat dasar, kedalaman, dsb. Sedangkan untuk faktor biologis, antara
lain : predator, kompetitor, parasit, ketersediaan makanan, aktivitas

reproduksi, respirasi, serta tekanan osmotik. Untuk faktor kimia, antara


lain : kadar oksigen, salinitas, pH, keberadaan polusi bahan kimia, dsb.
Organisme selanjutnya memberikan respon terhadap faktor-faktor tersebut
sehingga mendapatkan tempat yang sesuai dengan kebutuhan biologisnya,
baik untuk aktivitas fisik maupun fisiologisnya.
Untuk habitat bivalvia, faktor fisika yang disebutkan diatas, yang
utama, penelitian Vernberg adalah temperatur, dan bahkan faktor inilah
yang mempengaruhi distribusi global. Apabila temperatur naik, secara
bertahap bivalvia mempunyai waktu yang cukup dan mampu untuk
menyesuaikan diri, yang akhirnya memodifikasi tingkat aktivitas
fisiologisnya. Sebagai contoh aktivitas respirasi, aktivitas filtrasi, serta
aktivitas reproduksi dsb. Pada waktu terjadinya kenaikan temperatur,
sebagian protein dari bivalvia biasanya mengalami apa yang disebut heatstress protein (hsp).Padahal fungsi utama dari protein, yaitu bsangat
berperan dalam proses aklimasi terhadap temperatur. Peranannya adalah
mencegah terjadinya kerusakan protein akibat panas yang dapat terkumpul
didalam sel selama penyesuaian terhadap perubahan temperatur. Untuk
memperoleh gambaran tentang habitat dari berbagai bivalvia.
Pada Pelecypoda memilih habitat dalam lumpur dan pasir dalam
laut serta danau, tersebar pada kedalaman 0,01 sampai 5000 meter dan
termasuk kelompok organisme dominan yang menyusun makrofauna di
dasar lunak (Nybakken, 1992). Anggota kelas Pelecypoda mempunyai cara
hidup yang beragam ada yang membenamkan diri, menempel pada
substrat dengan benang bisus (byssus) atau zat perekat lain, bahkan ada
yang berenang aktif. Biasanya hidup dengan menguburkan diri di dalam
habitatnya dan berpindah dari satu tempat ketempat yang lain dengan satu
kaki yang dapat dijulurkan di sebelah anterior cangkangnya Menurut
kebiasaan hidupnya, Pelecypoda digolongkan ke dalam kelompok
makrobentos dengan cara pengambilan makanan melalui penyaringan zatzat tersuspensi yang ada dalam perairan atau filter feeder.
Pada kerang jenis Pinctada maxima yang merupakan spesies tiram
penghasil mutiara South Sea Pearl yang mempunyai nilai ekonomis tinggi

dan ukurannya paling besar. Daerah penyebarannya mulai dari perairan


laut dangkal dengan dasar ditumbuhi tanaman lamun sampai perairan
dalam berkarang atau dengan substrat bersedimen di daerah yang
berdekatan dengan landas kontinen dan pulau.
Makanan berupa organisme atau zat-zat terlarut yang berada dalam
air. Makanan diperoleh melalui tabung sifon dengan cara memasukkan air
ke dalam sifon dan menyaring zat-zat terlarut. Air dikeluarkan kembali
melalui saluran lainnya. Makin dalam kerang membenamkan diri makin
panjang tabung sifonnya. Nybakken (1992) mengklasifikasikan bivalvia ke
dalam kelompok pemakan suspensi, penggali dan pemakan deposit.
Karena itu jumlahnya cenderung melimpah pada sedimen lumpur dan
sedimen lunak. Di daerah intertidal, kehidupan Pelecypoda dipengaruhi
pasang surut. Adanya pasang surut menyebabkan daerah ini kering dan
fauna ini terkena udara terbuka
Morfologi Tubuh
Kelas ini mencangkup bangsa kerang. Tubuhnya bilateral simetris,
terlindung oleh cangkang kapur yang keras.
Bagian cangkang terdiri atas bagian torsal dan bagian ventral.
Pada bagian torsal terdapat:
a. gigi sendi, sebagai poros ketika katup membuka dan menutup
serta meluruska kedua katup;
b. ligament sendi, berfungsi menyatukan katup bagian dorsaldan
memisahkan katup sebelah vertal;
c. umbo, tonjolan cangkang di bagian dorsal.

Kalau dibuat sayatan memanjang dan melintang, tubuh kerang


akan tampak bagian-bagian sebagai berikut.
1 Paling luar adalah cangkang yang berjumlah sepasang, fungsinya
2

untuk melindungi seluruh tubuh kerang.


mantel, jaringan khusus, tipis dan kuat sebagai pembungkus seluruh
tubuh yang lunak. Pada bagian belakang mantel terdapat dua lubang
yang disebut sifon. Sifon atas berfungsi untuk keluarnya air, sedangkan

sifon bawah sebagai tempat masuknya air.


insang, berlapis-lapis dan berjumlah dua pasang. Dalam insang ini

4
5

banyak mengandung pembuluh darah.


kaki pipih. Bila akan berjalan kaki dijulurkan ke anterior.
Di dalam rongga tubuhnya terdapat berbagai alat dalam seperti saluran
pencernaan yang menembus jantung, alat peredarn, dan alat ekskresi
(ginjal).

Cangkang kerang terdiri atas tiga lapis, yaitu urut dair luar ke
dalam sebagai berikut.
1 Periostrakum, merupakan lapisan tipis dan gelap yang tersusun atas zat
tanduk yang dihasilkan oleh tepi mantel; sehingga sering disebut
lapisan tanduk, fungsinya untuk melindungi lapisan yang ada di
sebelah dalamnya dan lapisan ini berguna untuk melindungi cangkang
2

dari asam karbonat dalam air serta memberi warna cangkang..


Prismatic, lapisan tengah yang tebal dan terdiri atas kristal-kristal
kalsium karbonat yang berbentuk prisma yang berasal dari materi

organik yag dihasilkan oleh tepi mantal


Nakreas, merupakan lapisan terdalam yang tersusun atas kristal-kristal
halus kalsium karbonat. merupakan lapisan mutiara yang dihasilkan
oleh seluruh permukaan mantel. Di lapisan ini, materi organik yang
ada lebih banyak daripada di lapisan prismatic. Lapisan ini tampak
berkilauan dan banyak terdapat pada tiram/kerang mutiara. Jika
terkena sinar, mampu mamancarkan keragaman warna. Lapisan ini
sering disebut sebagai lapisan mutiara.
Lapisan mutiara ini terbentuk dari getah-getah yang dihasilkan
oleh kelenjar-kelenjar pada sel-sel mantel. Pembentukan mutiara oleh
bivalvia adalah proses yang terjadi kerena aktifitas cangkang, yaitu
sebagai berikut. Jika ada benda asing yang ada di luar tubh, seperti
butiran pasir atau suatu parasit, yang secara tidak sengaja masuk ke
dalam cangkang maka akan disimpan dalam suatu kantong kecil dalam
mantel.
Di mentel banyak disekresikan nekreas oleh lapisan epitelium
kantong tersebut. Sedikit demi sedikit nakreas melapisi partikel atau
benda asing tersebut. Dalam waktu 4 tahun partikel dan lapisan
nakreas itu telah menjadi mutiara. Didasarkan pada kenyataan ini maka
manusia membuat mutiara. Cara yang biasa ditempuh adalah denagn
memasukkan benda asing seperti arang, pasir, dan benda lain di sela
antara mantel dan cangkang untuk mengeluarkan getahnya. Getah ini
menyelimuti

benda

asing

tersebut

selanjutnya

mengkristalkan

membentuk butiran mutiara. Di jepang telah dilakukan penyelidikan


yang mengarah pada produksi mutiara untuk kepentingan komersial,
yakni

dengan

kultur

mutiara.

Di

Indonesia

terdapat

pusat

pengembangan mutiara, antara lain di lombok,NTB, dan kepulauan


banggai sulawesi tegah.
Makanan kerang berupa hewan kecil yang terdapat dalam
perairan yang masuk bersama air melalui sifon.
Alat pernapasan kerang berupa insang dan bagian mantel.
Insang kerang berbentuk W dengan banyak lamella yang mengandung
banyak batang insang. Pertukaran O2 dan CO2 terjadi pada insang dan
sebagian mantel. Mantel terdapat di bagian dorsal meliputi seluruh
permukaan dari cangkang dan bagian tepi. Antara mantel dan
cangkang terdapat rongga yang di dalamnya terdapat dua pasang
keping insang, alat dalam dan kaki. Alat peredaran darah sudah agak
lengkap denagn pembuluh darah terbuka. System pencernaan dari
mulut sampai anus.
System sarafnya terdiri dari 3 pasang ganglionyang saling
berhubungan yaitu:
i.
ii.
iii.

ganglion anterior terdapat di sebelah ventral lambung


ganglion pedal terdapat pada kaki
ganglion posterior terdapat di sebelah ventral otot aduktor
posterior,
Kerang berkembang biak secara kawin. Umumnya berumah

dua dan pembuahannya internal. Telur yang dibuahi sperma akan


berkembang manjadi larva glosidium yang terlintang oleh dua buah
katup. Ada beberapa jenis yang dari katupnya keluar larva panjang dan
hidup sebagai parasit pada hewan lain, misalnya pada ikan. Setelah

10

beberapa lama larva akan keluar dan hidup sebagaimana nenek


moyangnya.
Contoh Bivalvia, antara lain :

Asaphis detlorata/remis,

Teredo navalis/kerang pengebor kayu,

Mytilus edulis/kerang hijau,


11

Meleagrina margaretifera/kerang mutiara.

Anadara granosa /kerang darah

12

Tridagna gigas /kima

Banyak spesies Bivalvia yang dapat dimanfaatkan oleh


manusia, misalnya tiram (Ostrea), kerang bulu, dan remis (Corbicula)
digunakan sebagai bahan makanan. Cangkang Bivalvia dapat
digunakan sebagai hiasan dinding, perhiasan ataupun kancing. Bahkan
karena adanya lapisan nacre pada cangkangnya, beberapa jenis
Bivalvia dapat menghasilkan mutiara, contohnya kerang mutiara
Pinctada margaritifera dan P. maxima. Mutiara merupakan bahan
perhiasan wanita yang sangat mahal harganya.
Ada juga jenis-jenis Bivalvia yang merugikan, seperti cacing
kapal (Teredo navalis) yang menimbulkan kerusakan besar pada
dermaga dan kapal kayu. Organisme tersebut bukanlah cacing,
melainkan suatu jenis Bivalvia yang menggunakan cangkangnya
untuk membuar terowongan pada kayu yang terendam di laut. Selain

13

itu, kerang jenis tertentu (Anadara) merepakan pembawa bakteri


Salmonella typhi pembawa tifus.
2.4 Perkembangbiakan
Hewan ini ada yang bersifat hermaprodit dan kebanyakan hewan
ini mempunyai alat kelamin yang terpisah. Pada saat terjadi perkawinan,
alat kelamin jantan akan mengeluarkan sperma ke air dan akan masuk
dalam tubuh hewan betina. Melalui sifon air masuk, sehingga terjadilah
pembuahan. Ovum akan tumbuh dan berkembang yang melekat pada
insang dalam ruang mantel, kemudian akan menetas dan keluarlah larva
yang disebut glokidium. Larva ini akan keluar dari dalam tubuh hewan
betina melalui sifon air keluar, kemudian larva tersebut menempel pada
insang atau sirip ikan dan larva tersebut akan dibungkus oleh lendir dari
kulit ikan. Larva ini bersifat sebagai parasit kurang lebih selama 3 minggu.
Setelah tumbuh dewasa, larva akan melepaskan diri dari insang atau sirip
ikan dan akan hidup bebas.

2.5 Aplikasi untuk Paleontologi


Secara ekologis, jenis Pelecypoda penghuni kawasan hutan
mangrove memiliki peranan yang besar dalam kaitannya dengan rantai
makanan di kawasan hutan mangrove, karena disamping sebagai
pemangsa detritus, pelecypoda berperan dalam proses dekomposisi serasah
dan mineralisasi materi organik yang bersifat herbivor dan detrivor.

14

Daun mangrove yang jatuh dan masuk ke dalam air. Setelah


mencapai dasar teruraikan oleh mikroorganisme (bakteri dan jamur). Hasil
penguraian ini merupakan makanan bagi larva dan hewan kecil air yang
pada gilirannya menjadi mangsa pelecypoda di samping sebagai pemangsa
detritus. Akar pohon mangrove memberi zat makanan dan menjadi daerah
nursery bagi ikan dan invertebrata yang hidup di sekitarnya. Ikan dan
udang yang ditangkap di laut dan di daerah terumbu karang sebelum
dewasa memerlukan perlindungan dari predator dan suplai nutrisi yang
cukup di daerah mangrove. Berbagai jenis hewan darat berlindung atau
singgah bertengger dan mencari makan di habitat mangrove (Irwanto,
2006).
Selain berperan sebagai rantai makanan terhadap ekosistem
mangrove pelecypoda di jadikan makanan, cangkok pelecypoda bisa
dimanfaatkan untuk membuat hiasan dinding, perhiasan wanita, atau
dibuat kancing. Ada pula yang suka mengumpulkan berbagai macam
cangkang pelecypoda untuk koleksi atau perhiasan.
Pelecypoda juga mempunyai kemampuan untuk mengontrol
jumlah racun dalam tubuh mereka melalui proses pengeluaran, sementara
organisme lain tidak dapat melakukan hal ini. Organisme yang tidak dapat
mengontrol jumlah kandungan racun akan mengakumulasi polutan dan
jaringan mereka menunjukkan adanya polutan. Pelecypoda sangat baik
mengakumulasi polutan sehingga digunakkan sebagai biomonitor polusi
(Philips dalam Sitorus, 2008).
Pelecypoda juga dapat dijadikan indeks fosil untuk menentukan
berbagai indikator yang terdapat dalam kegunaan-kegunaan fosil.

BAB III

HASIL PENELITIAN
3.1 Morfologi Tubuh
1. Lokan

KLEP

UMB
O

15

PERISTRAKU
M

KAK
I

MANTE
L

OTO
T
INSAN
G

KAK
I

ANU
S
JANTUNG

2. Kerang

16

KLEP

UMB
O

JANTUN
G

ANU
S

OTO
T
USU
S
INSAN
G

KAK
I

3. Remis

17

KLE
P

KAK
I

UMB
O

INSAN
G

MANT
EL

ANU
S

KAKI
INSAN
G

3.2 Klasifikasi
1. Lokan

18

Subkelas Pteriomorphia, subkelas hetederonta menurut


Franc.

2. Kerang Darah
Kerang
sejenis kerang yang

darah (Anadara
biasa

dimakan

granosa)
oleh

adalah
warga Asia

Timur dan Asia Tenggara. Anggota suku Arcidae ini disebut kerang
darah karena ia menghasilkan hemoglobin dalam cairan merah
yang dihasilkannya.
Kerang ini menghuni kawasan Indo-Pasifik dan tersebar
dari pantai Afrika timur sampai ke Polinesia. Hewan ini gemar
memendam dirinya ke dalam pasir atau lumpur dan tinggal di
mintakat pasang surut. Dewasanya berukuran 5 sampai 6 cm
panjang dan 4 sampai 5 cm lebar.
Budidaya kerang darah sudah dilakukan dan ia memiliki
nilai ekonomi yang baik. Meskipun biasanya direbus atau dikukus,
kerang ini dapat pula digoreng atau dijadikan satai dan makanan
kering ringan. Ada pula yang memakannya mentah.
Seperti kerang pada umumnya, kerang darah merupakan
jenis bivalvia yang hidup pada dasar perairan dan mempunyai ciri
khas yaitu ditutupi oleh dua keping cangkang (valve) yang dapat
dibuka dan ditutup karena terdapat sebuah persendian berupa
engsel elastis yang merupakan penghubung kedua valve tersebut.
Kerang darah mempunyai dua buah cangkang yang dapat
membuka dan menutup dengan menggunakan otot aduktor dalam
tubuhnya. Cangkang pada bagian dorsal tebal dan bagian ventral
tipis. Cangkang ini terdiri atas 3 lapisan, yaitu (1) periostrakum
adalah lapisan terluar dari kitin yang berfungsi sebagai pelindung
(2) lapisan prismatic tersusun dari kristal-kristal kapur yang
berbentuk prisma, (3) lapisan nakreas atau sering disebut lapisan
induk mutiara, tersusun dari lapisan kalsit (karbonat) yang tipis dan
paralel.

19

Puncak cangkang disebut umbo dan merupakan bagian


cangkang yang paling tua. Garis-garis melingkar sekitar umbo
menunjukan pertumbuhan cangkang. Mantel pada pelecypoda
berbentuk jaringan yang tipis dan lebar, menutup seluruh tubuh dan
terletak di bawah cangkang. Beberapa kerang ada yang memiliki
banyak mata pada tepi mantelnya. Banyak diantaranya mempunyai
banyak insang. Umumnya memilikikelamin yang terpisah, tetapi
diantaranya ada yang hermaprodit dan dapat berubah kelamin
Kakinya berbentuk seperti kapak pipih yang dapat
dijulurkan keluar. Kaki kerang berfungsi untuk merayap dan
menggali lumpur atau pasir. Kerang bernapas dengan dua buah
insang dan bagian mantel. Insang ini berbentuk lembaran-lembaran
(lamela) yang banyak mengandung batang insang. Antara tubuh
dan mantel terdapat rongga mantel yang merupakan jalan keluar
masuknya air.
Kerajaan:

Animalia

Filum:

Mollusca

Kelas:

Bivalvia

Subkelas:

Pteriomorphia

Ordo:

Arcoida

Famili:

Arcidae

Genus:

Anadara

Spesies:

A. granosa

3. Kerang Remis
Remis adalah
sekelompok kerang-kerangan kecil
yang

hidup

di

dasar

perairan,

20

khususnya

dari

genusMeretrix,

famili Veneridae.

Subkelas

Palaeoheterodonta

Remis mempunyai cangkang yang kuat dan simetris,


bentuk

cangkang

agak

bundar

atau

memanjang.

Permukaan periostrakum agak licin, bagian dalam bewarna putih


dan

bagian

luar

bewarna

abu-abu

kecoklatan.

Hidup

membenamkan diri dalam substrat. Lebar cangkang dapat


mencapai 34 cm
3.3 Pembahasan
Pada lokan jantung ditembus oleh saluran pencernaan, mantel
terdapat pada bagian dalam, tepat menutupi organ-organ. Kaki pada
lokan berguna untuk menggali ataupun bergerak pada lumpur ataupun
pasir,

lokan

termasuk

kedalam

pelecypoda

yang

dimana

mengkonsumsi sejenis protozoa dan protozoa itu sendiri, terdapat


warna

kehitaman

pada

cangkang

yang

menandakan

adanya

peristrakum. Pada lokan terlihat jelas siphon tempat keluar dan


masuknya air.
Pada kerang darah kaki berguna untuk menempel dan bergerak,
terdapat rongga antara mantel dan cangkang dimana tempat itu ialah
tempat masuk dan keluarnya air, memakan sejenis protozoa, jantung
ditembus oleh saluran pencernaan.
Remis tidak beda jauh dengan kerang darah, serupa dengan
kerang tapi tidak sama.

21

BAB IV
PENUTUP
4.1 Simpulan
Hewan ini disebut sebagai bivalvia karena tubuhnya dilindungi
oleh cangkangnya yang setangkup, memiliki tubuh simetri bilateral.
Hewan golongan ini bernapas dengan insang yang berlapis-lapis yang
berbentuk

seperti

lembaran

sehingga

disebut

juga

sebagai

Lamelibranchiata (lamela = lembaran, branchia = insang).


Pelecypoda adalah biota yang hidup menetap di dasar perairan
dan

memakan partikel-pertikel yang tersuspensi( suspension feeder)

maupun yang mengendap di dasar perairan(deposit feeder) sehingga sering


disebut filter feeder
Cangkang Pelecypoda terdiri atas tiga lapis, yaitu urut dair luar ke
dalam sebagai berikut.
1. Periostrakum, merupakan lapisan tipis dan gelap yang tersusun atas
zat tanduk yang dihasilkan oleh tepi mantel; sehingga sering
disebut lapisan tanduk, fungsinya untuk melindungi lapisan yang
ada di sebelah dalamnya dan lapisan ini berguna untuk melindungi
cangkang dari asam karbonat dalam air serta memberi warna
cangkang..
2. Prismatic, lapisan tengah yang tebal dan terdiri atas kristal-kristal
kalsium karbonat yang berbentuk prisma yang berasal dari materi
organik yag dihasilkan oleh tepi mantal
3. Nakreas, merupakan lapisan terdalam yang tersusun atas kristalkristal halus kalsium karbonat. merupakan lapisan mutiara yang
dihasilkan oleh seluruh permukaan mantel. Di lapisan ini, materi
organik yang ada lebih banyak daripada di lapisan prismatic.
Lapisan ini tampak berkilauan dan banyak terdapat pada
tiram/kerang mutiara. Jika terkena sinar, mampu mamancarkan

22

keragaman warna. Lapisan ini sering disebut sebagai lapisan


mutiara.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ali, Rfqi. 2012. http://kumpulanartikel91.blogspot.co.id/2012/07/makalahbivalvia-atau-pelecypoda.html . Diakses pada 2 : 40 WIB tanggal 6 Mei


2016 di Pekanbaru.
2. Dahuri, R. 2006. Kumpulan Koleksi Bivalvia. Pusat Penelitian Kelautan.
Jakarta
3. Gonzaga,

Isharmanto.

2010.

http://biologigonz.blogspot.co.id/2010/11/pelecypoda-mollusca.html

Diakses pada jam 1 : 51 WIB tanggal 6 Mei 2016 di Pekanbaru.


4. Jasin Maskuri, 1984. Zoologi invertebrata.Surabaya. CV.Sinar Wijaya
23