Anda di halaman 1dari 2

Produksi makanan yang dijual kepada masyarakat tidak hanya dilakukan oleh industry

skala rumah tangga saja, tetapi dilakukan oleh industry menengah dan industry besar.
Usaha seperti ini memerlukan izin usaha untuk legalitasnya. Tanpa adanya izin, walaupun
produk kita sudh biasa dijual dipasarn, sebenarnya melanggar aturan yang berlaku. Untuk
industry kecil atau home industry, setelah mendapatkan izin biasanya dalam kemasan makanan
akan dicantum nomor registrasi dari badan POM( pengawasan obat dan makanan) dan / atau
dinas kesehatan dari masing-masing daerah. Industrya makanan, sekala industry menengah dan
bespun demikian, memerlukan perizinan dinas terkait.
Persyaratan yang dibutuhkan untuk mengurus izin produksi makanan di dinas kesehatan
sebagai berikut: surat permohonan izin produksi makanan kepada dinas kesehatan, data produk
makanan yang diproduksi, sampel hasil produksi makanan yang diproduksi, label yang kana di
pakai pada produk makanan yang diproduksi, peta lokasi produksi, salinan KTP pemilik atau
penanggung jawab.
Tidak semua permohonan izin produk makanan diterima dan dikabulkan oleh dinas
kesehatan. Untuk beberapa produk makanan, izin yang dikeluarkan harus dari departemen
kesehatan dan badan POM diantaranya susu dan hasil olehannya, unggas dan hasil olahannya
yang memerlukan proses dan atau penyimpanan beku, pangan kalengan, dan makanan bayi.
Dalam pelaksanaan pelayanan izin industry makanan, pelaksanan pelayanan perizinan
dan pemohon harus mengikuti alur tata cara perizinan sebagai berikut:
1. Permohonan persetujuan prinsip diajukan kepada direktur jenderal dengan
tembusan kepada kepala badan dan kepala dinas kesehatan provinsi dengan
menggunakan sebagaimana tercantum dalam pormulir 1 terlampir.
2. Sebelum pengajuan persetujuan prinsip sebagimana dimaksud pada ayat(1)

Sanksi hukum bagi pihak yang tidak memiliki izin produksi makanan adalah penutupan
industry. Sanksi lain adalah penarikan semua bahan hasil industry yang beredar di pasaran,
pelarangan izin edar dan beberapa peraturan daerah yang menyebutkan sanksi pidana berupa
sanksi kurungan paling lama 3 bulan dan / atau denda yang besarnya pariatif.