Anda di halaman 1dari 28

KELOMPOK 3

Dosen Pembimbing : Siti Nadroh ,


M.Ag

Kelompok 3

ASPEK TASAWUF ISLAM


DISUSUN OLEH :
AZIZA NURUL AMANAH
NADIYAH HILMI
MAYANG AYI
MUHAMMAD ATHFAL

PETA KONSEP
PENGERTIAN
TASAWUF DAN
TASAWUF ISLAM
TASAWUF DALAM
PANDANGAN ALQURAN DAN
ASSUNNAH

CIRI UMUM
TASAWUF
ALUR AJARAN
TASAWUF
TUJUAN
TASAWUF
MAQAMAT
DALAM
TASAWUF

PERSAMAAN DAN
PERBEDAAN
THARIQAT

TOKOH-TOKOH
SUFI

IMAM
GHAZALI
RABIYATUL
ADAWIYAH
HASAN AL
BASHRI

A. PENGERTIAN TASAWUF DAN


TASAWUF ISLAM
Secara Lughowi
Tasawuf berasal dari istilah yang dikonotasikan dengan ahlu suffah, yang
berarti sekelompok orang pada masa Rasulullah yang hidupnya diisi
dengan banyak berdiam diri di Masjid dengan tujuan mengabdikan
hidupnya untuk beribadah kepada Allah.

Secara Istilah
Tasawuf secara istilah telah banyak diformulasikan para ahli satu dan
lainnya berbeda, sesuai dengan pemahaman mereka masing-masing.
Menurut Al-Juhairi, ketika di tanya tasawuf, ia menjawab: Masuk ke dalam
segala budi (Akhlak) yang mulia dan keluar dari budi pekerti yang rendah.
Menurut Al-Junaidi. Ia mendefinisikan:
Tasawuf adalah membersihkan hati dari apa saja yang mengganggu
perasaan makhluk, berjuang menanggalkan pengaruh budi yang asal (Instink)
kita, memadamkan sifat-sifat kelemahan kita sebagai manusia, menjauhi
segala seruan hawa nafsu, mendekati sifat-sifat suci kerohanian, bergantung
pada ilmu-ilmu hakikat, sifat suci kerohanian, bergantung pada ilmu-ilmu
hakikat, memakai barang yang penting dan terlebih kekal, menaburkan
nasihat kepada semua orang, memegang teguh janji dengan Allah dalam hal
hakikat, dan mengikuti contoh Rasulullah dalam hal syariat.

Tasawuf dalam Pandangan Al-Quran dan


As-Sunnah
Dalam ajaran Tasawuf, banyak disebutkan dengan istilah attaubah, khauf, raja, az-zuhud, at-tawakkal, asy-syukur, ashshabar, ar-ridho, az-zikir, shalatul lail dan sebagainya. Semua ini
bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. (taqarrub
illallah).
1. Dalil-dalil Al-Quran
Berkenaan dengan anjuran shalat malam (Shalatul lail) terdapat
dalam QS Al-Isra 17:79.


Artinya : Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang
tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu
mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang
terpuji.

2. Dalil-dalil As-Sunnah
Sama halnya dengan Al-Quran, As-sunnah banyak mengungkapkan
berkenaan dengan perilaku dan pengalaman tsawuf. Diantaranya
adalah sebagai berikut:
Aisyah berkata:
Artinya: Adalah Nabi Saw bangun sholat malamm (qiyamu al-lail),
sehingga bengkak kakiknya. Aku berkata kepadanya,Gerangan
apakah sebabnya, wahai utusan Allah, engkau sekuat tenaga
melakukan ini, padahal Allah telah berjanji akan mengampuni
kesalahanmu, baik yang terdahulu maupun yang akan datang?
Beliau menjawab, Apakah aku tidak akan suka menjadi seorang
hamba Allah yang bersyukur? (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Rasulullah Saw bersabda:
Artinya: Demi Allah, aku memohon ampun kepada Allah dalam
sehari semalam tak kuranng dari tujuh puluh kali.(HR. Al-Bukhari)
Rasulullah Saw bersabda:
Artinya: Zuhudlah terhadap dunia maka Allah akan mencintaimu.
Zuhudlah pada apa yang ada di tangan orang lain maka mereka
akan mencintaimu.(HR. Ibnu Majah)

Uraian dasar-dasar tasawuf diatas, baik Al-Quran, Al-Hadist,


maupun suri tauladan dari para sahabat, ternyata merupakan
benih-benih tasawuf dalam kedudukannya sebagai ilmu tentang
tingkatan (maqamat) dan keadaan (ahwal). Dengan kata lain,
ilmu tentang moral dan tingkah laku manusia terhadap
rujukannya dalam Al-Quran.

Ciri umum tasawuf


Menurut Abu Al-WafaAl-Ghanimi At-Taftazani
(Peneliti Tasawuf), secara umum tasawuf
mempunyai lima ciri umum, yaitu:
Peningkatan Moral.
Pemenuhan Fana (Sinar) dalam realitas mutlak.
Pengetahuan intinuitif langsung.
Timbul rasa kebahagiaan sebagai karunia Allah
dalam diri seorang sufi.
Penggunaan simbol-simbol pengungkapan yang
biasanya mengandung harfiah dan tersirat.

Alur ajaran tasawuf


1. Ajaran tasawuf dibentuk oleh tiga alur pemikiran.
Yang pertama memberikan gagasan berikut kepada tasawuf:
Asketisisme gurun Arab
Pengabdian total
Kecintaan yang kuat kepada Tuhan
Ungkapan puitis
Tokoh utama gerakan pertama ini adalah:
Abu Dzar AL-Ghifari, Madinah [32 H/625 M]
Umar bin Abdul Aziz, Damaskus [101 H/720 M]
Al-Hasan Al-Bashri, Basrah [110 H/728 M]
Rabiah Al-Adawiyah, Basrah [185 H/801 M]
2. Alur kedua pemikiran yang memberikan sumbangan kepada tasawuf dicirikan
oleh:
Genosis sebagai pengetahuan pasti
Tamsil cahaya/kegelapan
Memuji roh dan mengutuk materi
Mendukung kehidupan pertapaan daripada kehidupan aktif yang terikat
Tokoh Utama pemikiran ini adalah:
Al-Harits bin Asad Al-Muhasibi, Bagdad [234 H/837 M]
Dzun Nun Al-Mishri, Iskandaria [245 H/ 859 M]
Abu Hasyim Al-Kufi, Basrah [160 H/776 M]

3. Alur atau gerakan ketiga menjelaskan gagasan berikut:

Menafikan (Fana) jasad

Meninggikan ruh

Anti-dunia

Anti-masyarakat
Pendukung utama gerakan ini adalah:

Ibrahim bin Al-Adham [Amir dari Balkhi, Khurasan][161H/ 777M]

Abdullah bin Mubarak,Marw [181 H/797 M]

Syaqiq Al-Bakhi, Balkh [194 H/810 M]

Haytam Al-Ashamm, Balkh [237 H/852 M]

Abu Yazid Al-Bisthami, Bistham [261 H/875 M]

Tujuan Tasawuf
Menurut A. Rivay Siregar secara umum tujuan terpenting dari sufi adalah
berada sedekat mungkin dengan Allah. Selain itu tasawuf juga bertujuan untuk
mencapai marifat dengan cara Fana.
Terjadinya marifatullah sebenarnya didahului oleh proses terbukanya hijab
yang membatasi hati mutasawwif dengan Allah. Jika penutup itu hilang atau
terbuka maka terjadilah ruyatullah (melihat Allah) dan alam gaib lainnya dengan
mata bathin.
Untuk mencapai marifatullah ada beberapa upaya dalam bertasawuf :
1. Takhalli
adalah upaya keras untuk mengosongkan hatinya dari sifat-sifat yang rendah dan
tercela. Menjauhkan diri dari perbuatan dosa besar dan kecil.

2. Tahalli
Adalah upaya keras menghiasi bathin dengan sifat-sifat terpuji dan
mulia.
3. Tajalli
Sebagai buah dan upaya dari tahalli maka muncullah karunia Tuhan
berupa Tajalli. Yaitu menjadi tampak atau muncul penampakan Tuhan
dalam pandangan batin mereka yang melakukan takhalli dan tahalli.

Maqamat dalam Tasawuf


Maqam sering dipahami oleh para sufi sebagai tingkatan,
yaitu tingkatan seorang hamba di hadapan Tuhan nya dalam hal
ibadah dan latihan-latihan jiwa yang dilakukannya.
Tahapan maqam yang dijalani kaum sufi umumnya terdiri atas
taubat, wara, zuhud, fakir, sabar, tawakkal dan ridha
1. Taubat
Bagi golongan khowas atau orang yang telah sufi, yang di
pandang dosa adalah ghoflah (lalai mengingat tuhan). Ghoflah
itulah dosa yang mematikan. Ghoflah adalah sumber munculnya
segala dosa. Dengan demikian taubat adalah merupakan
pangkal tolak peralihan dari hidup lama (ghoflah) ke kehidupan
baru secara sufi. Yakni hidup selalu ingat tuhan sepanjang
masa.
2. Wara
Wara adalah meninggalkan hal yang syubhat:tarku
syubhatyakni menjauhi atau meninggalkan segala hal yang
belum jelas haram dan halalnya.

3. Zuhud
Berbeda dengan wara yang pada dasarnya merupakan laku
menjahui yang syubhat dan setiap yang haram,
makazuhudpada dasarnya adalah tidak tamak atau tidak ingin
dan tidak mengutamakan kesenangan duniawi.
4. Fakir
Al-Ghazali menganjurkan atau mengajarkan untuk membuang
dunia itu sama sekali. Maka fakir di rumuskan dengan tidak
punya apa-apa dan juga tidak menginginkan apa-apa.
5. Sabar
Dalam tasawuf sabar dijadikan satu maqam sesudah maqam
fakir. Karena persyaratan untuk bisa konsentrasi dalam zikir orang
harus mencapai maqam fakir, Tentu hidupnya akan dilanda
berbagai macam penderitaan dan kepincangan. Oleh karena itu
harus melangkah ke maqam sabar.

6. Tawakal
Tasawuf menjadikan maqam tawakkal sebagai wasilah atau sebagai
tangga untuk memalingkan dan menyucikan hati manusia agar tidak
terikat dan tidak ingin dan memikirkan keduniaan serta apa saja
selain Allah.
7. Ridho
Setelah mencapai maqam tawakkal, nasib hidup mereka bulat-bulat
diserahkan pada pemeliharaan dan rahmat Alloh.

B. Persamaan dan Perbedaan dengan


Thariqat
Pengertian Thariqat
Asal kata Tarekat dalam bahasa Arab ialah thariqah yang
berarti jalan, keadaan, aliran, atau garis pada sesuatu.
Tarekat adalah Jalan yang ditempuh para sufi dan dapat
digambarkan sebagai jalan yang berpangkal dari syariat, sebab jalan
utama disebut syar, sedangkan anak jalan disebut thoriq. Kata turunan
ini menunjukkan bahwa menurut anggapan para sufi, pendidikn mistik
merupakan cabang dari jalan utama yang terdiri dari hukum Ilahi,
tempat berpijak bagi setiap muslim.

Thariqat
Antara tarekat dan tasawuf sebenarnya sama, tarekat
merupakan kelanjutan dari tasawuf. Secara praktis, tasawuf
dilakukan secara perorangan , terutama oleh orang-orang sufi,
termasuk para wali. Sedangkan tarekat dilakukan secara kolektif,
membentuk suatu organisasi yang melestarikan ajaran-ajaran
kaum sufi yang menjadi syekh (guru)nya.
Sebagaimana telah diketahui bahwa tasawuf itu secara
umum adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah dengan
sedekat mungkin, melalui penyesuaian rohani dan
memperbanyak ibadah. Dengan demikian, dapat dikatakan
bahwa tasawuf adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah,
sedangkan tarekat adalah cara dan jalan yang ditempuh
seseorang dalam usahanya mendekatkan diri kepada Allah.

Tujuan dan Pokok Thariqat


1. Tazkiyatun Nafs ( Penyucian Jiwa )
Tazkiyatun Nafs ini dianggap sebagai tujuan pokok. Dengan
bersihnya jiwa dari berbagai macam penyakit, akan secara
langsung menjadikan seseorang dekat kepada Allah Swt.
2. Taqarrub (Mendekatkan Diri Kepada Allah swt)
Taqarrub atau mendekatkan diri kepada Allah swt merupakan
antara tujuan utama para sufi dan ahli tariqah. Ini diupayakan
dengan beberapa cara yang tersendiri. Antara cara yang
biasanya dilakukan oleh para pengikut tariqah untuk
mendekatkan diri kepada Allah dengan lebih berkesan ialah:
. Tawassul & Wasilah
. Muraqabah (Pengawasan)

Tujuan- tujuan lainnya


Sufi atau Salik yang berperingkat Mubtadiin (permulaan), maka dalam tariqah
terdapat amalan-amalan yang menyesuaikan kepada keadaan masyarakat awam yang
bertujuan mengharapkan sesuatu imbalan ataupun pertolongan dalam melaksanakan
tujuan pengamalan tersebut. Kadang kalanya amalan-amalan inilah yang biasanya
memenuhi masa ruang para Salik. Di antara amalan-amalan tersebut ialah :
Wirid
Wirid adalah suatu amalan yang harus dilaksanakan secara istiqamah (berterusan),
pada waktu-waktu yang khusus seperti setiap selesai mengerjakan sembahyang atau
pada waktu-waktu tertentu yang lain.
Ratib
Ratib adalah amalan yang harus diwiridkan oleh para pengamalnya. Ratib ini
merupakan kumpulan dari beberapa potongan ayat atau surah-surah pendek yang
digabungkan dengan bacaan-bacaan lain seperti Istighfar, Tasbih, Selawat, Asmaul
Husna, Kalimah Thayyibah dalam suatu jumlah yang telah ditentukan dalam
pengamalan yang khusus.
Hizib
Hizib adalah suatu doa yang panjang, dengan susunan perkataan dan bahasa yang
indah disusun oleh seorang sufi besar.
Manaqib
Manaqib sebenarnya adalah biografi seorang sufi besar atau wali Allah seperti AsSyeikh Abdul Qadir Jailani dan Syeikh Bahauddin An-Naqsyabandi. Diyakini oleh para
pengamal tariqah sebagai mempunyai suatu kekuatan rohani dan barakah.

Aliran- aliran dalam thariqat


1.
2.
3.
4.
5.

Tarekat
Tarekat
Tarekat
Tarekat
Tarekat

Qadiriyah
Syadziliyah
Naqsabandiyah
Tijaniyah
Sammaniyah

C. TOKOH-TOKOH SUFI
1. Imam Ghazali
Imam Al-Ghazali nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad Ibnu
Muhammad bin Muhammad bin Taus Ath-Thusi Asy-Syafii Al-Ghazali,
secara singkat dipanggil Al-Ghazali, karena dilahirkan di kampung
Ghazlah, suatu kota di Khurasan, Iran, pada tahun 450 H/1058 M, tiga
tahun setelah kaum saljuk mengambil alih kekuasaan di Bagdad.
Imam Al Ghozali termasuk penulis yang tidak terbandingkan lagi, kalau
karya imam Al Ghazali diperkirakan mencapai 300 kitab, diantaranya
adalah :

Maqhasid al falasifah
Tahaful al falasifah
Miyar al ilmi/miyar almi
Al munqiz min al dhalal
Al-maarif al-aqliyah
Miskyat al anwar
Minhaj al abidin
Al iqtishad fi al itiqod

Ajaran tasawuf Al-Ghazali, tasawuf sunni yang berdasarkan


Al-Quran dan Sunnah Nabi ditambah dengan doktrin
Ahlussunnah wal Jamaah.
Paham tasawufnya itu, ia menjauhkan semua kecendrungan
yang mempengaruhi para filosof Islam, sekte Ismailiyyah,
aliran Syiah, Ikhwan Ash-Shafa dan lain-lainnya. Al-Ghazali
menjadikan tasawuf sebagai sarana untuk berolah rasa dan
berolah jiwa, sehingga sampai kepada makrifat yang
membantu menciptakan (Saadah).

2. Rabiyatul Adawiyah
Rabiah adalah anak keempat dari empat saudara. Semuanya
perempuan. Ayahnya menamakan Rabiah, yang artinya empat, tak
lain karena ia merupakan anak keempat dari keempat saudaranya itu.
Rabiah memang tidak mewarisi karya-karya sufistik, termasuk syairsyair Cinta Ilahinya yang kerap ia senandungkan.
Syair-syair sufistiknya justru banyak dikutip oleh para penulis
biografi Rabiah, antara lain J. Shibt Ibnul Jauzi (w. 1257 M) dengan
karyanya Mirat az-Zaman (Cermin Abad Ini), Ibnu Khallikan (w. 1282
M) dengan karyanya Wafayatul Ayan (Obituari Para Orang Besar),
YafiI asy-Syafii (w. 1367 M) dengan karyanya Raudl ar-Riyahin fi
Hikayat ash-Shalihin (Kebun Semerbak dalam Kehidupan Para Orang
Saleh), dan Fariduddin Aththar (w. 1230 M) dengan karyanya Tadzkirat
al-Auliya (Memoar Para Wali).
Ajaran tasawuf Rabiah berdasarkan Mahabbah (Cinta kepada Allah).
Cinta Rabiah kepada Allah begitu mendalam dan memenuhi seluruh
lebung hatinya, sehingga membuatnya hadir bersama Tuhan.

Hasan Al-Bashri
Nama lengkapnya Hasan Bin Abil Hasan Al Basri, lahir di madinah
pada tahun terakhir dari kekhalifaan umar bin khattab pada
tahun 21 H. asal keluarganya berasal dari misan, suatu desa yang
terletak antara basrah dan wasith. Kemudian mereka pindah ke
Madinah.
Abu Nain Al-Ashbahani menyimpulkan : Pandangan tasawuf Hasan
Al-Bashri sebagai berikut, takut (khauf) dan pengharapan(raja)
tidak akan dirundung kemuraman dan keluhan , tidak pernah tidur
senang karena selalu mengingat Allah. Syarani pernah berkata,
demikian takutnya, sehingga seakan-akan ia merasa bahwa
neraka itu hanya dijadikan untuk ia (Hasan Al-Bashri).
Lebih jauh lagi, Hamka mengemukakan sebagian ajaran tasawuf
Hasan Al-Bashri seperti ini:
Perasaan takut yang menyebabkan hatimu tentram lebih baik dari
pada rasa tentran yang menimbulkan perasaan takut.

Dunia adalah negeri tempat beramal. Barang siapa


bertemu dunia dengan perasaanbenci dan zuhud, ia akan
berbahagia dan memperoleh faedah darinya.
Namun,barang siapa yang bertemu dunia dengan
perasaan rindu dan hatinya bertambal dengan dunia, ia
akan sengsara dan akan berhadapan dengan penderitaan
yang tidak akan ditanggungnya.
Tafakur membawa kita pada kebaikan dan selalu
berusaha untuk mengerjakannya. Menyesal ataas
perbuatan jahat menyebabkan kita bermaksud untuk
tidak mengulanginya lagi. Sesuatu yang fana betapapun
banyakya tidak akan menyamai sesuatu yang baqa
betapapun sedikitnya. Waspadalah terhadap negeri yang
cepat ating dan pergi serta penuh tipuan.
Dunia ini adalah seorang janda tua yang telah bungkuk
dan beberapa kali ditinggalkan mati suaminya.

Orang yang beriman akan senantiasa berduka cita


pada pagi dan sore hari karena berada diantara dua
perasaan takut ; takut mengenang dosa yang telah
lampau dan takut memikirkan ajal yang masih tinggal
serta bahaya yang akan mengancam.

Hendaklah setiap orang sadar akan kematian yang


senantiasa mengancamnya, dan juga takut akan
kiamat yang hendak menagih janjinya.Banyak duka
cita didunia memperteguh semangat amal saleh.

D. PENUTUP
Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwasannya Tasawuf adalah
kesadaran murni yang mengarahkan jiwa secara benar kepada mal Shalih
dan kegiatan yang sungguh-sungguh, menjauhkan diri dari keduniaan
dalam rangka pendekatan diri kepada Allah untuk mendapatkan perasaan
berhubungan erat denganNya. Sementara Thariqat adalah jalan yang
ditempuh para sufi untuk dapat dekat dengan Allah.
Hubungan antara tasawuf dengan thariqat yakni usaha seorang hamba
untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan sedekat mungkin, melalui
jalan atau perintah yang telah ditetapkan (Beribadah). Telah banyak
tokoh-tokoh sufi yang ada, misalnya Al-Ghazali, Hasan Al-Bashri, Rabiatul
Al-Adawiyah dan tokoh lainnya, dapat jadikan contoh untuk senantiasa
berupaya mendekatkan diri kepadaNya, dengan mengharapkan
keridhoanNya.
Dengan begitu kita sebagai hambaNya senantiasa merasakan
kehadiranNya bersama dalam diri kita. Sehingga kita dapat menyadari
sesungguhnya dunia dan alam semesta ini hanya tempat persinggahan
sementara, nanti setelah tiba waktu yang dikehendakiNya dunia beserta
alam semesta akan kembali kepadaNya.