Anda di halaman 1dari 16

PENTINGNYA PENDIDIKAN MORAL

Dewasa ini sering kita temukan baik melalui media elektronik maupun dari dunia maya
banyak sekali orang-orang baik dari kalangan politikus, para artis, anggota DPR(D), para
pejabat, para pengamat dan lain sebagainya dengan mudahnya untuk mengeluarkan kata-kata
yang sebenarnya tidak pantas untuk mereka ucapkan. Dulu kita punya P4 yang dapat
mengerem orang-orang untuk bertindak anarkis atau saling menjelekkan satu sama lain tapi
hal ini malah dianggab sebagai pengekangan untuk kebebasan mengeluarkan pendapat. Tapi,
sekarang apa yang terjadi, orang-orang mudah sekali untuk melakukan hujatan terhadap
orang lain. Satu pertanyaan yang sangat mendasar adalah Apakah yang telah terjadi pada
bangsa kita, apakah pendidikan kita telah gagal di dalam membentuk manusia yang cerdas
dan berakhlak mulia?
Jika kita cermati lebih mendalam, pendidikan di Indonesia pada saat ini cenderung lebih
mementingkan aspek intelektual dari pada aspek moral. Hal ini bisa kita lihat di sekolahsekolah dan di universitas-universitas. Sebagai contoh, bahwa kelulusan siswa dari suatu
jenjang pendidikan hanya dilihat dari kemamupuan akademisnya saja dan tanpa melihat
aspek prilaku dan sikapnya. Apakah suatu lembaga pendidikan berani untuk tidak meluluskan
mereka jika dari sisi moral dan etika si anak buruk? Apakah sekolah tidak akan menerima
protes dari masyarakat atau dari para orang tua jika berani tidak meluluskan si anak? Inilah
yang perlu menjadi renungan bagi kita. Coba kita bayangkan apa yang akan terjadi apabila
Negara Indonesia ini dipimpin oleh orang-orang yang dari sisi akademisnya baik tetapi dari
sisi moralnya rendah?

Pendidikan Moral Manusia

Mengingat pentingnya perkembangan moral, maka tentu akan ada sebuah proses yang
tak lepas dari perkembangan moral itu sendiri. Proses yang dimaksud adalah yang disebut
dengan pendidikan. Pendidikan moral sangatlah perlu bagi manusia, karena melalui
pendidikan perkembangan moral diharapkan mampu berjalan dengan baik, serasi dan sesuai
dengan norma demi harkat dan martabat manusia itu sendiri.
Di Indonesia pendidikan moral telah ada dalam setiap jenjang pendidikan. Di Sekolah Dasar
perkembangan pendidikan moral tak pernah beranjak dari nilai-nilai luhur yang ada dalam
tatanan moral bangsa Indonesia yang termaktub jelas dalam Pancasila sebagai dasar Negara.
Pendidikan Moral Pancasila, yang sejak dari pendidikan dasar telah diajarkan tentu memiliki
tujuan yang sangat mulia, tiada lain untuk membentuk anak negeri sebagai individu yang
beragama, memiliki rasa kemanusiaan, tenggang rasa demi persatuan, menjunjung tinggi
nilai-nilai
musyawarah
untuk
kerakyatan
serta
berkeadilan
hakiki.
Berangkat dari tujuan tersebut diatas maka dalam pelaksanaannya terdapat tiga faktor penting

dalam pendidikan moral di Indonesia yang perlu diperhatikan yaitu :


1. Peserta didik yang sejatinya memiliki tingkat kesadaran dan dan perbedaan perkembangan
kesadaran moral yang tidak merata maka perlu dilakukan identifikasi yang berujung pada
sebuah pengertian mengenai kondisi perkembangan moral dari peserta didik itu sendiri.
2. Nilai-nilai (moral) Pancasila, berdasarkan tahapan kesadaran dan perkembangan moral
manusia maka perlu di ketahui pula tingkat tahapan kemampuan peserta didik. Hal ini
penting mengingat dengan tahapan dan tingkatan yang berbeda itu pula maka semua nilainilai moral yang terkandung dalam penididkan moral tersebut memiliki batasan-batasan
tertentu untuk dapat terpatri pada kesadaran moral peserta didik. Dengan kata lain, kalaulah
pancasila memiliki 36 butir nilai moral, maka harus difahami pula proses pemahaman peserta
didik berdasar pada tingkat kesadaran dan tingkat kekuatan nilai kesadaran itu sendiri.
3. Guru Sebagai fasilitator, apabila kita kembali mengingat teori perkembangan moral
manusia dari Kohlberg dengan 4 dalilnya maka guru seyogyanya adalah fasilitator yang
memberikan kemungkinan bagi siswa untuk memahami dan menghayati nilai-nilai
pendidikan
moral
itu.
Dengan memperhatikan tiga hal diatas maka proses perkembangan moral manusia yang
berjalan dalam jalur pendidikan tentu akan berjalan sesuai dengan tahapan perkembangan
moral pada tiap diri manusia. IP 2015

Berita bahwa beberapa gadis SMU telah menjadi dimana guru menjadi mucikarinya di
sebuah SMU di Cirebon telah membuat heboh masyarakat Indonesia belakangan ini. Bahkan
mereka melakukan tindakan yang amoral lagi. Dan, menurut banyak berita, banyak siswi
SMU di berbagai kota besar, ternyata berprofesi ganda, bukan hanya sebagai siswi, tetapi
juga pelacur kelas atas. Aspek kesucian hidup dan pergaulan sudah disisihkan ke tong
sampah, sepertinya.
Berbagai macam psikotropika dan narkotika juga begitu banyak beredar di kalangan anak
sekolah. Lebih mengerikan, penjual dan pembeli juga adalah orang-orang yang masih
berstatus siswa. Mereka menjadi pengedar dan sekaligus juga pengguna. Kehidupan yang
rusak seperti ini kerapkali disertai dengan berbagai pesta yang berujung pada tindakan amoral
di kalangan remaja. Anak-anak remaja ini tidak lagi mempertimbangkan rasa takut untuk
hidup rusak, merusak nama baik keluarga dan masyarakatnya.
Berbagai tawuran anak sekolah juga telah membuat resah masyarakat di berbagai tempat di
beberapa kota besar di Indonesia. Bahkan, kejadian-kejadian sejenis seringkali sulit diatasi
oleh pihak sekolah sendiri, sampai-sampai melibatkan aparat kepolisian dan berujung dengan
pemenjaraan, karena merupakan tindakan kriminal yang bisa merenggut nyawa. Sepertinya
nyawa manusia tidak ada harganya, hidup itu begitu murah dan rendah nilainya.
Daftar di atas masih bisa terus diperpanjang dengan berbagai kasus lainnya, seperti
pemerasan siswa terhadap siswa lain, kecurangan dalam ujian, dan berbagai tindakan yang
tidak mencerminkan moral siswa yang baik.

Pertanyaan yang muncul adalah: Apakah hal seperti demikian lepas dari tanggung jawab
sekolah sebagai institusi pendidikan?
Menyekolahkan anak ternyata bukan merupakan tindakan yang tidak perlu dipikirkan.
Memasukkan anak kita di sekolah dengan pergaulan yang rusak, guru yang tidak bermoral,
sekolah yang tidak ketat terhadap kualitas moral dan teladan guru, akan beresiko besar
terhadap anak kita. Pendidikan bukan memberikan informasi dan pengetahuan kognitif
sebanyak-banyaknya kepada anak, tetapi paideia (gerika) berarti bagaimana membesarkan
seorang anak dengan benar. Di dalamnya terkandung aspek kognitif, tetapi juga aspek mental,
moral, dan spiritual. Sekalipun para pakar, bahkan sampai banyak orang pada umumnya,
sadar bahwa pendidikan bukan hanya pengetahuan, tetapi pembentukan manusia seutuhnya,
tetapi di dalam prakteknya, banyak sekolah saat ini yang lebih banyak memperhatikan aspek
kognitif saja, dan mengabaikan semua aspek lainnya.
Gejala pengabaian aspek moral dalam sekolah terlihat semakin lama semakin marak. Jarang
sekolah (baca: tidak ada) mengeluarkan ungkapan tentang pertanggung-jawaban moral guru
di dalam pendidikan. Banyak sekolah tidak peduli bagaimana sikap moral guru di luar
sekolah, ada yang merokok (tetapi sekolah melarang siswa merokok), sampai yang memiliki
simpanan wanita lain. Ada yang memberikan nilai buruk, kecuali jika siswa itu les privat
dengan gurunya, sampai yang mengancam akan tidak meluluskan jika tidak menyetor
sejumlah dana tertentu. Terkadang perilaku sedemikian memang sulit ditindak langsung
secara hukum karena memang sulit mendapatkan bukti autentik yang sah secara hukum.
Tidak mungkin menangkap guru yang merokok, tetapi kita bisa menghukum siswa yang
merokok. Berarti disini terjadi suatu perbedaan standard moral yang diberlakukan di sekolah.
Mengapa pendidikan moral begitu penting di dalam sekolah?
Pertama, pendidikan moral yang buruk dalam sekolah, menjadikan pendidikan menghasilkan
penjahat-penjahat canggih di masa depan. Seorang siswa yang pandai, dengan berbagai
pengetahuan yang banyak, tetapi bermoral rusak, akan menjadi alat perusak masyarakat yang
berbahaya sekali. Dr. Kartini Kartono, pakar pendidikan kita mengatakan, salah langkah
dalam kegiatan mendidik-membentuk ini, pasti membuahkan tipe manusia salah jadi
yang mengerikan dan berbahaya bagi kehidupan bersama di masa-masa mendatang.
(Kartini Kartono, Quo Vadis Pendidikan Indonesia, 1991)
Kedua, manusia adalah makhluk yang bernilai moral. Pendidikan adalah mendidik hidup.
Hidup bukan sekedar sebuah kebetulan, melainkan ada makna dan tujuan di dalamnya. Disitu
seorang siswa belajar bukan untuk sekedar belajar pengetahuan kognitif, tetapi bagaimana
implementasi ilmunya menjadikan hidupnya bermakna, baik secara individu maupun dalam
masyarakat. (Slamet Iman Santoso, Pembinaan Watak: Tugas Utama Pendidikan, 1979,
hal.176ff.). Maka, tanpa kehidupan moral yang baik seluruh hidup menjadi tidak bermakna,
ataupun bahkan menjadi sangat negatif. Untuk apa dia hidup dan eksis di dunia jika hanya
menjadi perusak dan penghancur masyarakat, mendatangkan aib bagi keluarga, lingkungan
dan negara. Terkadang kita kasihan menghukum mati penjahat, tetapi langkah preventif dari
sejak kecil tidak diperhatikan dengan baik.

Ketiga, salah sekali jika beranggapan manusia itu pada dasarnya baik. Manusia justru
bertendensi jahat dan berdosa. Untuk itulah perlu ada pendidikan. Sangat sulit membentuk
manusia menjadi orang baik, tetapi begitu mudahnya seseorang untuk menjadi rusak. Jika
seseorang anak dibiarkan begitu saja, ia akan berkencenderungan berbuat jahat ketimbang
berbuat baik. Disini kegagalan J.J. Rousseau di dalam filsafat pendidikannya yang liberal.
(J.J. Rousseau, Emile, 1762). Ketika manusia dibiarkan tanpa pendidikan baik, ia akan
dengan cepat mengadopsi perilaku-perilaku jahat, malah memperkembangkan daya kreatif
negatifnya, ketimbang dia berusaha mengadopsi perilaku-perilaku baik. Perlu perjuangan
berat seseorang bisa mengadopsi perilaku baik dan mengembangkan daya kreatif yang positif
dan bermoral tinggi. Unsur moral cenderung diabaikan, sejauh itu tidak mengganggu diri
(dan boleh mengganggu orang lain). Perlu upaya serius untuk seseorang anak dididik menjadi
anak yang bermoral tinggi, yang hidupnya jujur, adil, mulia, suci dan berintegritas.
Ada banyak hal yang bisa dan perlu Sekolah lakukan dalam pendidikan moral. Di antaranya,
pertama, setiap institusi pendidikan perlu memperhatikan bukan hanya hebatnya pengetahuan
atau gelar guru atau dosennya, tetapi juga perilaku moralnya. Perlu ada mekanisme pengujian
kehidupan keseharian insan pendidikan, bukan hanya kekuatan intelektualnya saja. Kedua,
perlu adanya penilaian kelakuan di sekolah. Seorang siswa lulus atau naik kelas, bukan hanya
diukur oleh kemampuan intelektualnya, tetapi juga kemampuan sosial, moral, mental dan
spiritualnya. Dengan demikian, sekolah betul-betul menjalankan fungsi pedagogis yang
benar. Ketiga, sekolah juga perlu secara berkala melibatkan orang tua di dalam pembinaan
moral dan pengawasan moral bagi anak-anak mereka. Sekolah harusnya bergandengan tangan
dengan orang tua di dalam mendidik anak, sehingga pendidikan anak berjalan secara
integratif.
Hal-hal ini sangat banyak diabaikan, karena dianggap terlalu menyulitkan bagi pihak sekolah.
Sekolah hanya sibuk mengukur kemampuan intelektual anak didiknya, dan berbangga diri
jika anak-anak didiknya berhasil dengan nilai intelektual yang tinggi dan mempunyai
pengetahuan yang banyak. Kini, paradigma ini perlu dipertanyakan dan dikembalikan kepada
panggilan pendidikan yang mendasar, yaitu membentuk seorang anak menjadi orang yang
betul-betul dewasa secara moral, mental, spiritual dan intelektual.
Catatan: Penulis adalah seorang pengamat pendidikan, dosen, dan pendiri sekolah Kristen
Logos.

Abstrak
Moral adalah serangkaian nilai yang dapat diterima dalam konteks kebudayaan
yang berlaku.
Nilai-nilai individual dan standar moral itulah yang akan mendorong komitmen
seseorang untuk melakukan tindakan, sehingga terjadinya perubahan
perilaku. Pendidikan akan dapat membantu siswa untuk memiliki moral yang
baik, sehingga mereka bertindak dengan cara-cara yang lebih diterima dan lebih

produktif baik secara personal maupun sosial. Perubahan yang terjadi pada
perilaku individu ini karena diperkenalkannya informasi baru yang menyebabkan
perubahan dalam dasar-dasar kepercayaan, nilai dan sikapnya. Kepercayaan
adalah sekumpulan fakta atau opini mengenai kebenaran, keindaan, dan
kebaikan. Sedangkan sikap adalah serangkaian kepercayaan yang menentukan
pilihan terhadap objek atau situasi tertentu.
Definisi Moral
Kata moral berasal dari bahasa Latin mos (jamak: mores) yang berarti kebiasaan atau
adat. Dalam bahasa Inggris dan banyak bahasa lain, termasuk bahasa Indonesia,
kata mores masih dipakai dalam arti yang sama. Moral dapat dimaknai sebagai nilai-nilai dan
norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur
tingkah lakunya. Misalnya, perbuatan seseorang tidak bermoral. Hal itu dimaksudkan bahwa
perbuatan orang tersebut melanggar nilai-nilai dan norma-norma etis yang berlaku dalam
masyarakat.
Menurut Kohlberg dalam Djahiri moral diartikan sebagai segala hal yang
mengikat,membatasi, dan menentukan serta harus dianut, diyakini, dilaksanakan atau
diharapkan dalam kehidupan dinamika kita berada.[1]Moral ada dalam kehidupan serta
menuntut dianut, diyakini akan menjadi moralitas sendiri. Djahiri mengatakan lebih lanjut,
bahwa moral itu mengikat seseorang karena: (1) dianut orang atau kelompok atau
masyarakat di mana kita berada, (2) diyakini orang atau kelompok atau masyarakat di mana
kita berada, (3) dilaksanakan orang atau kelompok atau masyarakat di mana kita berada, dan
(4) merupakan nilai yang diinginkan atau diharapkan atau dicita-citakan kelompok atau
masyarakat di dalam kehidupan kita[2].
Selanjutnya, Kama Abdul Hakam mengatakan bahwa berbicara soal moral berarti
berbicara soal perbuatan manusia dan juga pemikiran dan pendirian mereka mengenai apa
yang baik dan apa yang tidak baik, mengenai apa yang patut dan tidak patut dilakukan[3].
Dari beberapa pendapat di atas, dipahami bahwa moral adalah keseluruhan aturan,
kaidah atau hukum yang berbentuk perintah dan larangan yang mengatur perilaku manusia
dan masyarakat di mana manusia itu berada. Dalam perkembangannya kemudian, kata mos,
mores dan moral ini menjadi moralis-moralitas. Moralitas dipergunakan untuk menyebut
sebuah perbuatan yang memiliki makna lebih abstrak. Apabila ditanyakan, apakah moralitas
tersebut? Moralitas adalah segi moral baik maupun buruknya suatu perbuatan. Moralitas
menunjuk pada suatu konsep yang keseluruhannya memaknai suatu perbuatan itu berkenaan
dengan hakekat nilai, terkait dengan kualitas perbuatan manusiawi. Dengan demikian pada
dasarnya perbuatan moralitas manusia hanyalah dirasakan relevan apabila dikaitkan dengan
eksistensi manusia seutuhnya.[4]
Kata moralitas, yang berasal dari kata sifat Latin moralis. Ini mempunyai arti yang
mirip sama dengan moral, hanya lebih abstrak. Kita berbicara tentang moralitas suatu
perbuatan, artinya memandang baik buruknya perbuatan dari segi moral. Moralitas adalah sifat
moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk.

Menurut Sumantri, istilah moral dan moralitas itu tidak sekedar menunjukkan tingkah
laku atau sikap semata, akan tetapi lebih kepada kompleks komponen yang menyangkut
keduanya.[5] Dari asumsi ini, pernyataan moral dan moralitas tidak saja meliputi komponen
sikap, akan tetapi sekaligus tingkah lakunya. Ini berarti bahwa moral sangat erat kaitannya
dengan performasi dari tingkah laku tertentu. Lebih dari itu, ruang lingkup moral juga meliputi
tipe-tipe motivasi, disposisi, dan intensi tertentu yang merupakan pra kondisi mutlak bagi
tingkah laku moral. Konsep Sumantri mengenai moral dan moralitas tidak semata menyangkut
tingkah laku dan sikap semata yang dapat diartikan secara terpisah, tetapi keduanya
merupakan satu kesatuan yang dapat terewujud melalui performasi dan komponen
kompleksitas antara tingkah laku dan sikap dalam bentuk motivasi, disposisi, dan intensi
tertentu.
Norma-norma Moral
Norma-norma moral adalah tolok ukur yang dipakai sebagai dasar oleh masyarakat
untuk mengukur sejauh mana kebaikan seseorang itu dalam rangka interaksi sosialnya.
Dengan norma-norma moral itulah kita sebagai manusia akan betul-betul dinilai. Dengan
kerangka berpikir demikian, maka tidaklah berlebihan apabila dinyatakan bahwa penilaian
moral selalu mempunyai bobot lebih bila dibandingkan dengan berbagai model penilaian
lainnya. Manusia dilihat sebagau sesuatu wujud yang utuh, bukan sebatas, misalnya dia
sebagai wajib pajak telah menyetorkan nominal pajak sebagai wajib pajak yang tinggi
sekaligus karena harta kekayaan melimpah. Sama sekali bukan, sebab mungkin saja
perilakunya tidak terpuji karena ia menetapkan keuntungan tinggi dengan jual pada produk
barang dan jasa. Orang seperti ini pantas dan layak disebut munafik.
Sebuah tindakan yang baik dari segi moral ialah tindakan bebas manusia yang
mengafirmasi nilai moral objektif dan mengafirmasi hukum moral, buruk secara moral ialah
sesuatu yang bertentangan dengan nilai moral dan hukum moral. Sumber dari kepatutan dan
ketidakpatutan moral terletak pada keputusn bebas kehendak, sikap bijak yang timbul dari
keputusan bebas tersebut dan pribadi atau subjek moral.
Walaupun moralitas dihubungkan dengan sikap dan perilaku individu, namun
individu-individu hanya bisa bersikap dalam konteks masyarakat yang memiliki budaya,
struktur sosial, politik dan ekonomi tertentu. Moralitas juga akan berkaitan dengan struktur
tersebut. itu berarti moralitas individu mendapat ruang gerak dalam wilayah moralitas
masyarakat (publik), yang terwujud dan didukung oleh wilayah publik juga. Moralitas publik
yang dilatarbelakangi oleh moralitas individu akan menghasilkan suatu kepatuhan untuk
kepentingan bersama jika kebijakan moralitas mengutamakan kepentingan publik dan bukan
semata-mata kepentingan pribadi tertentu maupun golongan. Dalam konsekuensinya
kehidupan serba multi, baik etnis, pola pemikiran, sosial budaya dan latar belakang yang
berbeda tidak jarang kita kesulitan untuk mencapai kesatuan pendapat moral.
Manusia memang makhluk yang dihadapkan pada suatu dilema moral. Makin
kompleks kehidupan yang dimilikinya, maka makin besar kemungkinannya menghadapi
dilema yang demikian. Magnis Suseno, menyebutkan ada tiga alasan mengapa hal itu terjadi,

adalah sebagai berikut: (1) masalah moral yang dihadapi oleh berbagai bidang yang
seringkali sangat kompleks, (2) kita sering menghadapi masalah tersebut secara tidak rasional
dan objektif, tetapi secara emosional dan hanya dari segi kepentingan pribadi, (3) kita sering
tidak bersedia untuk bertindak dengan baik, adil, dan jujur.[6]
Dari tiga alasan tersebut di atas, tampak bahwa hanya orang yang memiliki
kepribadian kuat dan matang serta mapan yang dapat mengambil suatu keputusan yang dapat
dipertanggungjawabkan. Keputusan demikian itu baru akan lahir apabila ada kebebasan.
Kesatuan pendapat moral hanya mungkin dicapai apabila kita memutuskannya berdasarkan
suara hati nurani. Memang suara hati nurani ada peluang untuk salah dalam pengambilan
keputusan. Kesalahan atau kekeliruan itu terjadi karena tidak ada dukungan oleh pandanganpandangan moral yang baik dan benar. Oleh karena itu, suatu hati perlu untuk dididik dan
ditumbuhkembangkan dengan cara terbuka dan mau belajar untuk memahami seluk beluk
permasalahan yang sedang dihadapi.
Berkaitan dengan pengenalan suara hati sebagai dasar dari moral, maka perlu
dicermati beberapa hal sebagai berikut:
1.
Unsur rasional suara hati; suara hati adalah kesadaran akan kewajiban
manusia dalam situasi konkrit atau faktual. Hati nurani adalah penilai yang tidak
pernah bohong dalam mengungkap situasi meskipun tidak pernah dapat dibuktikan
secara konkrit. Seharusnya suara hati muncul apa adanya di dalam sebuah penilaian,
tetapi ketika melewati pemikiran dan ucapan yang terkuat dalam perilaku, ditambah
pengaruh lingkungan dan modifikasi lainnya, muncul bisikan-bisikan lain. Dengan
demikian tidak jarang kebenaran sebagai suara hati termodifikasi menjadi jahat.
2.
Tanggung jawab Penilaian; ketika berbicara persoalan moral, yang
dikedepankan adalah unsur baik buruk dan benar salah. Tidak ada pertimbangan
setengah baik dan setengah buruk. Tidak pula persoalan perasaan semata, jadi,
berbicara moral semua unsur subjektif harus dilepaskan dan jangan dijadikan salah
satu alasan pembenarnya. Moral menuntut adanya unsur objektif.
3.
Sifatnya Universal; ciri khas kesadaran hukum moral adalah adanya sifat
dasar yang universal. Baik buruk serta benar salah penilaian moral dalam berbagai
masyarakat suku bangsa merupakan unsur yang bersifat dan bernilai universe. Jadi
kebenaran dan kebaikan diakui tidak hanya pada suatu kelompok manusia, tetapi
pada berbagai suku bangsa.
Etika dan Moral
Makna etika secara etimologis berasal dari kata ethos, yang berarti watak,
kesusilaan, atau adat. Sebagaimana yang dikemukakan olehBertens perkataan etika berasal
dari bahasa Yunani, ethos yang berarti adat kebiasaan[7]. Secara terminologis dari
perspektif filosofis dan teoritis, Endang Sumantri mengatakan bahwa:
Etika adalah suatu ilmu yang mengadakan ukuran yang dapat dipakai untuk menanggapi
atau menilai perbuatan manusia yang berhubungan dengan perbuatan kesusilaan yang
normatif --, secara filosofis, etika adalah analisis tentang apa yang orang maksudkan

bilamana mempergunakan predikat kesusilaan. Secara praktis, etika (Frans Magnis Suseno)
adalah suatu keputusan yang tepat manusiawi dan layak diambil dari suatu dilema yang
dihadapi seseorang setelah berjuang mengatasi kesulitan. Jadi secara ringkas etika adalah hal
yanag menunjukkan sifat manusia, sebagai ilmu akhlak, sebagai pengkajian sistem nilai
yang ada pada diri manusia/masyarakat[8].
Pendapat-pendapat lain dari beberapa ahli tentang etika, menyebutkan bahwa:
1. Etika ialah ilmu tentang tingkah laku manusia, prinsip-prinsip yang disistematisasi
tentang tindakan moral yang betul.
2. Etika ialah bagian filsafat yang memperkembangkan teori tentang
tindakan, hujjah-hujjah, dan tujuan yang diarahkan kepada makna tindakan.
3. Etika adalah ilmu tentang filsafat moral, tidak mengenai fakta, tetapi tentang
idenya, bukan yang positif tetapi ilmu yang normatif.
4. Etika ialah ilmu tentang moral, dan prinsip-prinsip/kaidah-kaidah moral tentang
tindakan dan kelakukan[9].
Sedangkan menurut Ki Hajar Dewantara dalam Achmad Charris Zubair mengatakan,
bahwa etika adalah ilmu yang mempelajari segala soal kebaikan dan keburukan di dalam
hidup manusia semuanya, teristimewa yang mengenai gerak-gerik fikiran dan rasa yang dapat
merupakan pertimbangan dan perasaan, sampai mengenai tujuannya yang dapat merupakan
perbuatan.[10] Jadi bisa dikatakan bahwa etika ibarat suatu pelampung yang dapat membantu
nakhoda kapal dalam pelayarannya sehingga tahu kemana harus berlayar.
Menurut Magnis Suseno dalam Zubair bahwa objek etika adalah pernyataan moral,
yaitu pernyataan tentang tindakan manusia dan pernyataan tentang manusia sendiri atau
tentang unsur-unsur kepribadian manusia, seperti motif-motif, maksud dan watak[11].
Bila dihubungkan dengan moral, maka etika menempati ruang yang lebih sempit atau
menempati suatu komponen dari berbagai macam komponen atau sistem kehidupan yang
banyak. Karena moral merupakan gagasan yang disepakati umum dan diterima oleh manusia,
mana yang baik dan wajar, dan mana yang tidak. Perbedaannya etika bersifat teoritis
sedangkan moral bersifat praktis, maksudnya moral dan moralitas dipakai untuk perbuatan
yang sedang dinilai, sedangkan etika dipakai untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang ada.
Dengan kata lain, susila, kesusilaan, tata susila, budi pekerti, kesopanan, sopan santun, tata
krama, adab, perangai, tingkah laku, perilaku, dan kelakuan.
Akhlak dan Moral
Secara etimologi kata akhlak dimaknai sebagai perangai, budi pekerti, tingkah laku
atau tabiat seseorang. Kata akhlak berasal dari bahasa Arab dari kata al-akhlaaqu, dalam
bentuk jamak kata akhlak berasal dari kata khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah
laku atau tabiat[12]. Menurut Sofyan Sauri kata al-khalqu bisa pula berati kejadian, ciptaan,
atau kejadian yang indah dan baik. Apabila dirujuk kepada kejadian manusia, ia berarti
struktur tubuh yang badannya indah dan seimbang[13]. Jika dirujuk kepada kejadian alam
semesta, ia juga membawa arti kejadian atau ciptaan yang indah, tersusun rapi, menurut
undang-undang yang tepat.

Secara istilah, kata akhlak menurut Ramayulis (2001: 87) merupakan fondasi (dasar)
yang utama dalam pembentukan pribadi manusia yang seutuhnya. Pendidikan yang
mengarah pada terbentuknya pribadi yang berakhlak, merupakan hal pertama yang harus
dilakukan, sebab akan melandasi kestabilan kepribadian manusia secara keseluruhan,
sebagaimana sabda Rasulullah Saw, yang artinya: Sesungguhnya orang yang disebut kaya
itu bukan karena banyaknya harta semata-mata, tetapi yang kaya adalah karena hatinya.
Sedangkan menurut Ibn Miskawaih dalam Sofyan Sauri secara istilah akhlak ialah
sifat yang tertanam di dalam diri yang dapat mengeluarkan sesuatu perbuatan dengan senang
dan mudah tanpa pemikiran, penelitian, dan paksaan.[14] Pengertian di atas sejalan dengan
definisi yang diberikan oleh Imam Al-Ghazali yang menyatakan bahwa akhlak ialah suatu
keadaan yang tertanam di dalam jiwa yang menampilkan perbuatan-perbuatan dengan
senang tanpa memerlukan pemikiran dan penelitian[15]. Apabila perbuatan yang keluar itu
baik dan terpuji menurut syara dan akal, maka perbuatan itu dinamakan akhlak yang mulia.
Sebaliknya apabila keluar perbuatan yang buruk, ia dinamakan akhlak yang buruk.
Jadi, akhlak itu sebenarnya adalah bentuk batin seseorang, ada yang baik dan ada
yang jahat, ada yang terpuji dan ada pula yang tercela. Bila tingkah laku yang ditimbulkan
oleh akhlak itu sesuai dengan ajaran agama, maka itu dianggap baik; tetapi bila tidak sesuai
atau bertentangan dengan ajaran agama, maka itu dianggap jahat atau tercela.
Aspek akhlak bagi anak usia dini meliputi pembiasaan bertingkah laku yang baik,
baik di sekolah maupun di luar sekolah, seperti berbicara sopan santun, berpakaian rapi dan
bersih. Menurut Burhanuddin aspek pendidikan akhlak berupa contoh-contoh, latihan-latihan,
dan pembiasaan-pembiasaan yang mempunyai peranan sangat penting dalam pembinaan
pribadi anak[16].
Secara umum tujuan pendidikan akhlak adalah membentuk manusia yang bermoral
baik, keras kemauan, sopan dalam berbicara dan perbuatan, mulia dalam tingkah laku,
perangai, bersifat bijaksana, sempurna, sopan dan beradab, ikhlas, jujur dan suci. Dengan
kata lain, pendidikan akhlak bertujuan untuk melahirkan manusia yang memiliki keutamaan
(fadhilah). Pendidikan akhlak dalam Islam telah dimulai sejak anak dilahirkan, bahkan sejak
dalam kandungan. Pendidikan akhlak ini terjadi melalui semua segi pengalaman hidup, baik
melalui penglihatan, pendengaran, dan pengalaman atau perlakuan yang diterima.
Pembentukan akhlak dilakukan setahap demi setahap sesuai dengan irama pertumbuhan dan
perkembangan, dengan mengikuti proses yang alami.
Model Pendidikan Moral
Moral pun merupakan pengetahuan yang menyangkut budi pekerti manusia yang
beradab. Demikian pula, bisa dipakai sebagai ajaran tentang baik dan buruk perbuatan serta
kelakuan (akhlak). Moralisasi berarti uraian (pandangan, ajaran) tentang perbuatan dan
kelakuan yang baik, sedangkan demoralisasi berarti kerusakan moral. Jadi moral adalah
aturan kesusilaan yang meliputi semua norma kelakuan dan perbuatan untuk bertingkah laku
yang baik. Adapun kata susila berasal dari bahasa Sansekerta, su artinya lebih

baik, sila berarti dasar-dasar, prinsip-prinsip atau peraturan-peraturan hidup. Jadi, susila
berarti peraturan-peraturan untuk mengatur hidup agar lebih baik.
Dalam pandangan para ahli istilah moral mendapat sorotan yang cukup menarik dan
panjang. Piaget misalnya, merumuskan moral sebagai:
...view about good and bad, right or wrong, what ought to not to do.... A set of belief
current in society abaout character or conduct and what people should try to be or try
to do.... A ort of belief about people and their actions.... A system of conduct assesment
which is objectives in that and it reflect the condition of social existence.... Rule of
conduct actually accepted in society....[17]
Demikian halnya Here yang menyatakan bahwa moral pada dasarnya
bersifat prescriptive, directive, imperative and commanding (derived from some rule or
principle of action) serta obligue[18]. Begitu juga HigginsdalamHoward mengemukakan
tentang ciri-ciri orang yang bermoral ialah selalu merasakan adalah moral based (tuntutan
dan keharusan moral) untuk selalu bertanggung jawab terhadap adanya 1) needs and welfare
of the individual and other; 2) the involement and implication of the self and consequences of
authers, dan 3) instrinsic value or sosial relationships[19].
Berdasarkan hal tersebut, nilai moral baru mencapai tahap kognitif apabila berhasil
dipahami dan tersimpan dalam sistem nilai (value system). Menurut Kohlberg nilai moral
tersebut baru mempribadi dan bersatu raga menjadi sistem organik dan personal apabila
sudah mencapai tahap sebagai keyakinan diri atau prinsip serta tersusun sebagai sistem
keyakinan (belief system) yang benar-benar diyakini serta akan menjadi kiblet pola berpikir
meupun perilakunya dan bahkan dirinya bukan mustahil akan terus dibina, diyakini dan
menjadi jati dirinya sendiri yang dipertahankan sepanjang hayatnya sebelum ada keyakinan
lain yang mampu menggoyahkan atau menggantikannya[20]. Dan apabila ini terjadi, maka
sebagaimana diungkapkan Fraenkel akan menjadi sistem keyakinan dan menjadi tenaga yang
maha dahsyat melebihi kekuatan bom nuklir[21].
Untuk mencapai tahap tersebut memerlukan rekayasa dan upaya pendidikan yang
khusus, yakni melalui proses pembiasaan (habituasi) nilai moral tersebut. Dengan demikian
segala nilai moral dan norma normatif yang semula hanya bersifat is to... (keharusan) berubah
menjadi ought to...(kelayakan) dan mantap mempribadi menjadi belief/keyakinan
(Kohlberg).
Setiap orang mempunyai suatu atau seperangkat nilai objektif-ideal yang kemudian
disesuaikan dengan keadaan nyata atau waktu atau kepentingan atau kemampuan dirinya.
Tetapi tidak selalu orang yang menganut atau meyakini atau melaksanakan suatu/sejumlah
nilai subjektif/khusus memahami dan meyakini nilai objektif-idealnya atau nilai instrinsik
yang termuat di dalamnya. Dalam kehidupan nilai moral agama, budaya dan hukum masalah
ini sangat banyak terjadi. Sebagai contoh, banyak orang sembahyang setiap waktu, membaca
bacaan wajibnya namun tidak pernah tahu makna-isinya. Demikian pula banyak orang yang
memasang bendera pada hari nasional tertentu, dan tidak pernah tahu makna dan pesannya.

Pendidikan nilai moral yang baik tidak berharap seperti itu, namun melalui pendidikan nilai
moral orang akan berbuat sesuatu secara nalar dan penuh keyakinan.
Dalam upaya pendidikan atau membina nilai moral hendaknya menggunakan asas
atau pendekatan manusiawi atau humanistik serta meliputi keseluruhan aspek/potensi anak
didik secara utuh dan bulat (aspek fisik-non fisik, emosi-intelektual, kognitif-apektif, dan
psikomotorik). Menurut Abdul Aziz pendidikan yang memanusiakan manusia, yaitu
pendidikan yang menyentuh unsur dalam manusia, yaitu ruhani[22]. Ruhani seseorang juga
memerlukan nutrisi dan gizi. Kalau kebutuhan ruhani ini terpenuhi dalam diri seseorang
dengan sangat baik, maka orang itu bisa disebut sebagai orang beriman dan bertakwa. Dan
orang-orang yang kebutuhan otak serta ruhaninya terpenuhi secara melimpah ruah, maka
mereka bisa disebut sebagai orang-orang yang mempunyai kecerdasan paripurna, yaitu
kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual.
Adapun pendekatan humanistik adalah pendekatan dimana anak didik dihargai
sebagai insan manusia yang potensial (mempunyai kemampuan, kelebihan dan
kekurangannya) diperlakukan dengan penuh kasih sayang, hangat, kekeluargaan, terbuka,
objektif, dan penuh kejujuran serta dalam suasana kebebasan tanpa ada tekanan atau paksaan
apapun juga.
Melalui penerapan pendekatan humanistik maka pendidikan ini benar-benar akan
merupakan upaya bantuan bagi anak untuk menggali dan mengembangkan potensi diri serta
dunia kehidupan dari segala aspeknya. Menurut Tilaar ada tiga hal yang perlu dikaji kembali
dalam pendidikan[23].Pertama, pendidikan tidak dapat dibatasi hanya sebagai schooling
belaka. Dengan membatasi pendidikan sebagai schooling maka pendidikan akan terasing dari
kehidupan yang nyata dan masyarakat terlempar dari tanggung jawabnya dalam pendidikan.
Oleh sebab itu, rumusan mengenai pendidikan dan kurikulumnya yang hanya membedakan
antara pendidikan formal dan non formal perlu disempurnakan lagi dengan menempatkan
pendidikan informal yang justeru akan semakin memegang peranan penting di dalam
pembentukan tingkah laku manusia dalam kehidupan global yang terbuka. Kedua, pendidikan
bukan hanya untuk mengembangkan intelegensi akademik peserta didik. Pengembangan
seluruh spektrum intelegensi manusia, baik jasmani maupun rohaninya perlu diberikan
kesempatan di dalam program kurikulum yang luas dan fleksibel, baik di dalam pendidikan
formal, non formal, dan informal. Ketiga, pendidikan ternyata bukan hanya membuat
manusia pintar tetapi lebih penting ialah manusia yang berbudaya dan menyadari hakikat
tujuan penciptaannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Sindhunata bahwa tujuan pendidikan
bukan hanya menjadikan manusia yang terpelajar, tetapi menjadi manusia yang berbudaya
(educated and civized human being)[24].
Dengan demikian, proses pendidikan hendaknya dijadikan sebagai proses humanisasi
yang berakar pada nilai-nilai moral, agama, yang berlangsung baik di dalam lingkungan
hidup pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, baik pada masa kini dan masa yang akan datang.
Untuk itu, hendaknya pula pendidikan bersendikan agama, kebutuhan dunia, dan tradisi
bangsa. Sehingga, pendidikan sebagai proses humanisasi, pendidikan berkepentingan untuk

memposisikan manusia sebagai makhluk yang memiliki keserasian dengan habitat


ekologinya. Manusia diarahkan untuk mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan biologis
seperti makan, minum, pekerjaan, sandang, tempat tinggal, berkeluarga, dan kebutuhan
biologis lainnya dengan cara-cara yang baik dan benar. Dalam proses humanisasi seperti itu,
maka pendidikan dituntut untuk mampu mengarahkan manusia pada cara-cara pemilihan dan
pemilahan nilai sesuai dengan kodrat biologis manusia.
Demikian pula, pendidikan sebagai proses humanisasi mengarahkan manusia untuk
hidup sesuai dengan kaidah moral, karena manusia hakikatnya adalah makhluk yang
bermoral. Moral manusia berkaitan dengan tuhan, sesama manusia, dan lingkungan. Dalam
hal ini pendidikan seyogyanya tidak mereduksi proses pembelajaran hanya semata-mata
untuk kepentingan salah satu segi kemampuan saja, melainkan harus mampu
menyeimbangkan kebutuhan moral danintelektual.
Dengan demikian, nilai dan pendidikan merupakan dua hal yang satu sama lainnya
tidak dapat dipisahkan. Bahkan ketika pendidikan cenderung diperlakukan sebagai wahana
transfer ilmu pengetahuan seperti yang diyakini oleh sebagian besar penganut aliran
kognitivisme, di sana telah terjadi perambatan nilai yang setidaknya bermuara pada nilai-nilai
kebenaran intelektual. Demikian pula, ketika peristiwa pendidikan sangat syarat dengan
pembelajaran keterampilan baik formal maupun non-formal, di dalamnya terdapat proses
pembelajaran nilai yang mengandung bobot benar-salah, baik-buruk, atau indah-tidak indah.
Dalam kaitan tersebut, Sumantri (2006: 7) mengemukakan bahwa cita rasa dan
karsa yang tumbuh dalam masyarakat akan mewarnai dinamika kehidupan yang mempunyai
makna kondusif bila perilaku yang lahir dari suasana lingkungan masyarakat tersebut
dilandasi nilai-nilai keteladanan[25]. Yang dimaksud dengan suasana lingkungan di sini
adalah orang (manusia) sebagai makhluk individu dan sebagai anggota masyarakat, segala
benda, budaya, adat istiadat, perangai, dan bahasa masyarakat, sekolah, manusia muda-tua,
rumah tangga, keluarga, lingkungan, pemerintah, dan segala bentuk kebutuhan hidup manusia
yang melekat dengan makna kehidupan tersebut. Tentang manusianya yang paling penting
dihiasi oleh pancaran cahaya lahir batin, intelekm spirit, dan emosi yang tumbuh dalam
pergaulan yang harmonis, dinamis, dan produktif.
Selanjutnya, menurut Sumantri, hal-hal yang dapat mengangkat suasana lahir batin
tersebut dapat bersumber dari 14 butir nilai budi pekerti bagi perekat dan penguat suasana
batin seluruh aspek lingkungan dan keteladanan masyarakat. Adapun ke-14 butir aspek
tersebut ialah:
1)
Ketaqwaan; perilaku yang terwujud dari iman, 2) keimanan; berbudi
pekerti luhur, 3) kejujuran; tidak bohong dan berkorban demi kebenaran, 4)
keteladanan; memberi contoh dengan perbuatannya, 5) suasana demokratis; sikap
saling menghargai orang lain, 6) kepedulian; sikap empati dan saling menasehati, 7)
keterbukaan; sikap transparansi untuk tidak buruk sangka, 8) kebersamaan;
persaudaraan dengan tata hubungan yang harmonis, 9) keamanan; kenyamanan yang
lepas dari gangguan, 10) ketertiban; kondisi yang mencerminkan ketertiban dan

keharmonisan, 11) kebersihan; suasana sehat dan rapi, 12) keindahan; suasana sehat
dan rapi, 13) keindahan; suasana yang terkesan rapi dan bersih, dan 14) sopan santun;
suasana dalam cara tindak dan tutur kata yang baik.
Jadi, jelaslah bahwa moral sangat penting bagi manusia. Banyak perbuatan manusia
berkaitan dengan baik dan buruk, hal tersebut bukan hanya terjadi saat ini saja, tetapi sudah
sejak masa lampau. Sejarah telah membuktikan bahwa dalam segala zaman ditemukan
keinsyafan manusia tentang baik dan buruk, tentang yang harus dilakukan dan yang tidak
boleh dilakukan, tetapi tidak semua bangsa dan tidak semua zaman mempunyai pengertian
baik dan buruk merupakan sesuatu yang umum pada kehidupan manusia. Dengan kata lain,
moralitas merupakan fenomena kemanusiaan yang universal.
Banyak orang berpendapat (termasuk para filosof) bahwa perbedaan khas antara
manusia dengan binatang adalah karena manusia memiliki rasio, atau bakat untuk
menggunakan bahasa atau lebih luas menggunakan simbol. Akan tetapi, ada lagi perbedaan
manusia dengan binatang adalah bahwa manusia memiliki kesadaran moral. Oleh karena itu
Magnis-Suseno mengatakan bahwa:
Kata moral selalu mengacu pada baik buruknya manusia sebagai manusia.... Bidang
moral adalah bidang kehidupan manusia dilihat dari segi kebaikannya sebagai manusia.
Norma moral adalah tolok ukur untuk menentukan betul salahnya sikap dan tindakan
manusia dilihat dari segi baik buruknya sebagai manusia dan bukan sebagai pelaku peran
tertentu dan terbatas.[26]
Bahkan Bartens mengatakan bahwa moralitas merupakan ciri khas manusia yang
tidak dapat ditemukan pada makhluk lain di bawah tingkat manusiawi.[27] Pada binatang
tidak ada kesadaran tentang baik dan buruk, tentang yang boleh dan yang dilarang, tentang
yang harus dilakukan dan tidak pantas dilakukan.
Keberadaan moralitas pada manusia bisa ditelusuri sejak dalam kandungan, bayi
telah bereaksi terhadap kejadian-kejadian yang ada di sekitarnya, khususnya yang telah
berusia 7 bulan dalam kandungan bila diperdengarkan bunyi terjadilah gerakan seperti pindah
dari sebelah kiri ke kanan, bahkan setelah bayi lahir yang normal akan menangis. Ketika
mulai usia 17 sampai 20 bulan bayi telah mampu memberikan perhatian terhadap gerakan
objek dan perilaku seseorang. Ketika telah bisa berjalan mulai bisa mengeksplor lingkungan
sekitar, seperti merambat di sekitar dinding kamar, dan bahkan mampu memperlihatkan
reaksi kegelisahan dengan ungkapan uh, ah. Dan bagi anak yang berusia 2 tahun, bahasa
dipergunakan sebagai referensi standar atau perbuatan, seperti kotor, basah, dan selanjutnya
muncul kemampuan mengevaluasi seseorang atau kegiatan orang lain, seperti baik,
buruk, jahat, dan sebagainya.
Sementara anak yang lebih besar mulai menghubungkan persoalan moralitas dengan
persoalan-persoalan praktis yang menyangkut dirinya, bahkan mulai muncul keinginan unutk
berhubungan dengan orang lain yang benar-benar esensial untuk melanjutkan kelompok
manusia. Kesadaran dan kemampuan baru seperti ini, menunjukkan adanya kapasitas untuk

menjadi manusia yang bermoral. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Poespoprojo (1999:
13), dalam kehidupan manusia, moral itu adalah sesuatu yang benar-benar ada dan tidak
dapat dipungkiri.
Selanjutnya, Kohlber mengatakan bahwa orientasi moral seseorang yang dijadikan
dasar pertimbangan nuraninya berbeda-beda bagi setiap orang. Ada empat orientasi moral
yang dikemukakan Kohlberg, yaitu[28]:
1. Orientasi normatif, yaitu mempertahankan hak dan kewajiban dan taat pada aturan
yang berlaku.
2. Orientasi kejujuran, yaitu menekankan pada keadilan dengan fokus pada kebebasan,
kesamaan, pertukaran hak, dan kesepakatan.
3. Orientasi utilitarisme, yaitu menekankan konsekwensi kesejahteraan dan
kebahagiaan tindakan moral seseorang pada orang lain.
4. Orientasi perpeksionis, yaitu menekankan pencapaian a) martabat dan otonomi, b)
kesadaran dan motif yang baik, c) keharmonisan dengan orang lain.
Orientasi moral ini dipandang penting karena akan menentukan arah keputusan dan
tindakan seseorang. Sehingga Magnis mengatakan bahwa salah satu kebutuhan manusia yang
paling fundamental adalah orientasi; tujuannya agar kita tidak ikut-ikutan terhadap pihak
yang mau menetapkan bagaimana kita harus hidup, melainkan agar kita dapat mengerti
sendiri mengapa kita harus bersikap dan berbuat[29]. Oleh karena itu, orientasi moral akan
sangat berpengaruh terhadap moralitas dan pertimbangan moral seseorang, karena
pertimbangan moral merupakan hasil proses penalaran yang dalam proses penalaran tersebut
ada upaya memprioritaskan nilai-nilai tertentu berdasarkan orientasi moral serta
pertimbangan konsekuensinya.
Agar dapat menyadarkan peran moral dan orientasi moral ini pada setiap orang
diperlukan adanya pendidikan nilai, baik secara formal, informal, dan non formal. Secara
formal diberikan pada lembaga-lembaga pendidikan formal di sekolah, mulai dari TK sampai
Perguruan Tinggi (PT). Secara non formal dilakukan pada institusi keluarga, di mana
keluarga secara terus menerus mewariskan nilai-nilai yang diyakini kepada anggota
keluarganya. Secara in-formal pendidikan nilai diberikan pada tempat-tempat pendidikan
seperti majelis taklim, tempat pengajian, pesantren, dan tempat-tempat lain yang memberikan
perhatian pada pendidikan nilai ini. Namun upaya sungguh-sungguh untuk mempertegas
kehadiran pendidikan nilai dalam setiap pendidikan formal baru terlihat secara jelas pada
abad ke-20, dimana pendidikan nilai telah dipelajari sebagai suatu disiplin[30]. Sejak itulah
banyak literatur dan penelitian yang mengkaji secara serius bidang pendidikan nilai ini.
Dalam sejumlah literatur, istilah pendidikan nilai dan pendidikan moral sering
digunakan untuk kepentingan yang sama, hal ini didasarkan karena eratnya hubungan kedua
bidang tersebut. Akan tetapi, menurut Winecoff, bahwa pendidikan nilai adalah pendidikan
yang mempertimbangkan objek dari sudut pandang moral dan non-moral, yang meliputi
estetika yang menilai objek dari sudut pandang keindahan dan selera pribadi, serta etika yang
menilai benar atau salah dalam hubungan antar pribadi[31]. Sedangkan pendidikan moral

merupakan pendidikan yang mempertanyakan benar dan salah dalam hubungan antar pribadi,
yang melibatkan konsep-konsep seperti hak manusia, kehormatan manusia, kegunaan
manusia, keadilan, pertimbangan, kesamaan, dan hubungan timbal balik. Dengan demikian
pendidikan nilai lebih luas dari pada pendidikan moral, dan pendidikan moral merupakan
bagian dari pendidikan nilai yang membahas kawasan etika.
Pendidikan nilai dalam pemikiran konstruktivisme digunakan sebagai proses
membantu siswa dalam mengeksplorasi nilai-nilai yang ada melalui pengujian kritis sehingga
siswa dimungkinkan untuk meningkatkan atau memperbaiki kualitas berpikir dan
perasaannya. Oleh karena itu Winescoff menyatakan bahwa proses pendidikan nilai
sedikitnya akan melibatkan proses sebagai berikut:[32]
1. Identifikasi (bisa juga sebagai akulturasi) inti nilai personal dan nilai sosial.
2. Inquiry rasional dan filosofis terhadap inti nilai tersebut.
3. Respon afektif dan respon emotif terhadap inti nilai tersebut;
4. Pengambilan keputusan dihubungkan dengan inti nilai berdasarkan penyelidikan dan
respon-respon tersebut.
Penutup
Etika, akhlak, dan moral merupakan sesuatu yang sangat urgent dalam dunia
pendidikan. Sehingga pendidikan atau sekolah perlu memperhatikan aspek moral
tersebut. Dengan adanya pendidikan moral akan dapat membantu siswa agar berubah sikap
dan perilakunya yang mengarah kepada sikap dan perilaku yang baik.Dengan pendidikan
moral ini,merekaakan bertindak dengan cara-cara yang lebih diterima dan lebih produktif
baik secara personal maupun sosial. Perubahan yang terjadi pada perilaku individu ini karena
diperkenalkannya pada informasi baru yang menyebabkan perubahan dalam dasar-dasar
kepercayaan, nilai dan sikapnya. Kepercayaan adalah sekumpulan fakta atau opini mengenai
kebenaran, keindaan, dan kebaikan. Sedangkan sikap adalah serangkaian kepercayaan yang
menentukan pilihan terhadap objek atau situasi tertentu.
Nilai adalah serangkaian sikap yang menyebabkan atau membangkitkan suatu
pertimbangan yang harus dibuat sehingga menghasilkan suatu standar atau serangkaian
prinsip yang bisa dijadikan alat ukur suatu aksi. Sedangkan moral adalah serangkaian nilai
(standar atau prinsip) yang dapat diterima dalam konteks kebudayaan yang berlaku.Nilai-nilai
individual dan standar moral itulah yang akan mendorong komitmen seseorang untuk
melakukan tindakan, sehingga terjadinya perubahan perilaku.
Referensi
Asyafa, Abbas, dkk. (2010), Menjelajah Perkembangan dan Esesnsi Nilai Moral di Era
Global, Bandung: CV. Maulana
Aziz, Hamka Abdul, (2011), Pendidikan Karakter Berpusat pada Hati; Akhlak Mulia
Pondasi Membangun Karakter Bangsa, Jakarta: Al-Mawardi Prima
Bartens, K. (2000). Etika, Cet. Kelima. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Fraenkel, Jack R. (1981), How to Teach About Value; An Analytic Approach, New Jersey:
Prentice Hill-Book Inc.

Hakam, Kama Abdul (2010), Pengembangan Model Pembudayaan Nilai Moral di Sekolah
Dasar, Disertasi SPS-UPI Bandung, tidak diterbitkan,
Here (1963). Developing A Moral Science, Yale University Experts Opinion, Familiy Matters,
Howard, Craig C. (1994). Theories of General Education; A Critical Approach. London: McMillan Academic and Profesional Ltd.,
Kosasih A. Djahiri, 2004, Hand Out; Dimensi Nilai Moral dan Norma, Bandung: PPs-UPI
Kohlberg, Lawrence (1972). Cognitive Development Theory The Practice of Collective
Moral Education, New York: Gordon & Breach,
Piaget, Jean (1979), The Moral Judgement of The Child, London: Kegan Paul, Trebner &
Co., Ltd.
Salam, Burhanuddin (1997), Etika Sosial Asas Moral dalam Kehidupan Manusia, Jakarta:
Rineka Cipta,

Daftar Pustaka
http://disdik.jambikota.go.id/index.php/15-artikel/78-pendidikan-moral
http://www.logos.sch.id/en/artikel/pentingnya-pendidikan-moral-dalam-sekolah/
http://fipumj.ac.id/artikelc9f0f895fb98ab9159f51fd0297e236d-ESENSIPENDIDIKAN-MORAL-DALAM-PENDIDIKAN.html