Anda di halaman 1dari 24

PENDAHULUAN

Latar belakang
Manusia memiliki
2 proses
pernafasan
Eksterna &
interna
Ventilasi paru
Difusi O2 dan CO2
Transportasi O2 dan CO2
Pengaturan ventilasi oleh
saraf

Tujuan
Membahas mengenai
kegawatdaruratan
paru
Diagnosis dan
tatalaksana secara
cepat dan tepat

Kegawatdaruratan
paru

Suatu keadaan pertukaran gas


dalam paru terganggu, atau suatu
kegagalan paru dalam sirkulasi CO2
dan O2

hiperkarbia

hipoksemia

Gangguan asam basa


& Stress oksidatif

Kerusakan Sel &


nekrosis
jaringan

Hemoptisis
masif

Edema
paru

Kegawat
daruratan
paru

Status
asmatikus

Pneumotorak
ventil

Hemoptisis

Hemoptisis ringan

Hemoptisis sedang

Hemoptisis masif

Hemoptisis atau batuk darah adalah


ekspektorasi darah atau dahak yang
mengandung darah, akibat perdarahan
dari saluran nafas dibawah laring atau
perdarahan yang keluar ke saluran
nafas dibawah laring.
+ : batuk dengan perdarahan yang
hanya dalam bentuk garis-garis dalam
sputum
++ : batuk dengan perdarahan 1 30
ml
+++ : batuk dengan perdarahan 30
150 ml

++++ : batuk dengan perdarahan >


150 ml

Kongesti
aliran darah
vena
pulmonalis
Bronkiektasis
kapiler
pecah

Infeksi
jaringan
parenkim
Infeksi (TB,
pembuluh
jamur)
darah pecah
(aneurisma
rassmussen)

Pembentukan
jaringan dan
pembuluh darah
Keganasan
baru
yg rapuh
mudah
ruptur n pecah

Etiologi
Kelainan
Gangguan
pada
faktor
Vascular
&
pembekuan
pembekuan
darah
darah

Membran
basalis
Gangguan
terganggu
Imun/Autoimun
Good
pastures
syndrome

Adanya
kompresi yg
menyebabkan
kerusakan
Trauma
parenkim paru
dan pembuluh
darah

Keadaan

Hemoptisis

Hematemesis

Keluhan yg muncul

Rasa tidak enak


ditenggorokan, ingin batuk

Mual, Stomach distress

Onset

Darah dibatukkan, dapat


disertai dengan muntah

Darah dimuntahkan dapat


disertai dengan batuk

Bentuk darah

Berbuih

Tidak Berbuih

Warna darah

Merah segar

Merah tua

Isi

Leukosit, mikroorganisme,
makrofag, hemosiderin

Sisa makanan

Reaksi

Alkalis (pH tinggi)

Asam (pH rendah)

Riwayat penyakit
dahulu

Menderita kelainan paru

Gangguan lambung,
kelainan hepar

Anemi

Kadang-kadang

Selalu

Tinja

Warna tinja normal

Warna tinja bisa berwarna


hitam

Batuk dan ekspektorasi dahak bersifat mukopurulen


atau purulen (adanya infeksi seperti bronkitis,
pneumoni atau abses paru serta bronkiektasis)
Adanya riwayat kelainan katup jantung, adanya
stenosis katup mitral. Perdarahan dari anastomosis
vena bronkopulmonal di dinding bronkus
Adanya batuk darah disertai hematuri akan
menimbulkan kecurigaan kita adanya kelainan yang
disebabkan oleh Goodpastures syndrome atau
Lupus erythematosus.
Adanya batuk darah pada penderita yang merokok
dan telah berlangsung lama serta berumur lebih
dari 40 tahun, akan mengarahkan perhatian kita
terhadap proses keganasan di paru

Penatalaksanaan
Terapi konservatif
Pasien harus dalam keadaan posisi
istirahat, yakni posisi miring (lateral
decubitus). Kepala lebih rendah dan
miring ke sisi yang sakit untuk
mencegah aspirasi darah ke paru
yang
sehat
atau
posisi
trendelenburg
Pemberian obat obat penghenti
perdarahan (obat obat
hemostasis), misalnya vit. K, ion
kalsium, trombin, Carbazochrome
Na sulfonate (Adona), asam
traneksamat
Pemberian cairan atau darah sesuai
dengan banyaknya perdarahan
yang terjadi & pemberian oksigen

Terapi definitif
Reseksi bedah segera pada tempat
perdarahan, dengan pertimbangan
1. Terjadinya hemoptisis masif yang
mengancam kehidupan pasien
2. Kematian pada perdarahan yang
masif menurun dari 70% menjadi
18% dengan tindakan operasi
Pertimbangan lain:
1. batuk darah >600 cc / 24 jam
dan perdarahan tidak berhenti
2. batuk darah <600 cc / 24 jam
dan tetapi >250 cc / 24 jam jam
dgn kadar Hb <10 g%, batuk
darah tetap berlangsung
3. batuk darah <600 cc / 24 jam
dan tetapi >250 cc / 24 jam, Hb
<10 g%, 48 jam dengan
perawatan konservatif batuk
darah tersebut tidak berhenti

Pneumothorax
Suatu keadaan
terdapatnya udara
atau gas di dalam
pleura yang
menyebabkan
kolapsnya paru yang
terkena

Pneumotoraks spontan
Penyebab

Pneumotoraks
traumatik

Pneumotoraks Tertutup
Fistula

Pneumotoraks Terbuka
Pneumotoraks Ventil

Pneumotoraks parsialis
Luas Paru

Pneumotoraks totalis

Pneumotoraks spontan
primer
Pneumotoraks spontan
sekunder
Pneumotoraks traumatik
non-iatrogenik

Pneumotoraks
traumatik iatrogenik

Pneumotoraks traumatik
iatrogenik aksidental
Pneumotoraks traumatik
iatrogenik artifisial

Pneumotoraks Ventil

Pneumotoraks dengan tekanan intrapleura yang positif dan makin


lama makin bertambah besar karena ada fistel di pleura viseralis
yang bersifat ventil.
Pada waktu inspirasi udara
masuk melalui trakea, bronkus
serta
percabangannya
dan
selanjutnya terus menuju pleura
melalui fistel yang terbuka.
Waktu ekspirasi udara di dalam
rongga pleura tidak dapat keluar
Akibatnya tekanan di dalam
rongga pleura makin lama makin
tinggi dan melebihi tekanan
atmosfer. Udara yang terkumpul
dalam rongga pleura ini dapat
menekan paru sehingga sering
menimbulkan gagal napas

Tanda Klinis

Sesak napas, didapatkan pada hampir


80-100%
pasien.
Mendadak
dan
memberat.
Penderita
bernapas
tersengal,
pendek-pendek,
dengan
mulut terbuka
Nyeri dada, yang didapatkan pada 7590% pasien. Nyeri dirasakan tajam
pada sisi yang sakit, terasa berat,
tertekan dan terasa lebih nyeri pada
gerak pernapasan
Batuk-batuk, yang didapatkan pada 2535% pasien, kulit mungkin tampak
sianosis karena kadar oksigen darah
yang
kurang,
denyut
jantung
meningkat, adanya defiasi trakhea

Penatalaksanaan

Tindakan
dekompresi

Menusukkan jarum melalui


dinding dada

Membuat hubungan dengan


udara luar melalui kontra ventil

Observasi
dan
Pemberian O2

Jarum abbocath
Pipa water sealed drainase
(WSD)
Tindakan bedah, torakoskopi

Status asmatikus
Asma adalah radang kronis pada
jalan
nafas
yang
berkaitan
dengan obstruksi reversible dari
spasme, edema, dan produksi
mucus
dan
respon
yang
berlebihan terhadap stimuli.

Status asmaikus adalah serangan


asma akut yang sangat parah,
berkepanjangan, dan tidak merespon
terapi biasa secara memadai.

Patofisiologi

Asma akut yang berat/status asmatikus merupakan tingkat penyakit yang


berat yang memerlukan penanganan segera.
Kriteria
Sesak napas

Berat

Gawat

saat istirahat

membungkuk kedepan

Kemampuan berbicara

Sepatah kata

Kesadaran

Agitasi

Mengantuk/bingung

Respirasi

> 30/menit

Otot respirasi tambahan

Retraksi M.inter costalis

Gerakan
paradoksal

Mengi

Keras

Tidak ada

Nadi/menit

> 120

Bradikardi

Pulsus paradoksus

(+), > 25 mmHg

(-), kelelahan otot

PaO2

< 60 mmHg

PaCO2

> 45 mmHg

Sat. O2 (Udara)

< 90%

torakoabdominal

Penatalaksanaan

Terapi awal :
O2 4-6 L/menit
Inhalasi/nebuliser B2 agonist tiap jam
Dexamethason 3x2 amp.iv
Aminofihin bolus/infus
B2 agonis SC/IMIIV kalau perlu
Bila hasil evaluasi setelah 1 jam tak
terlihat perbaikan:
Fisik: gejala berat, mengantuk, bingung
Arus Puncak Ekspirasi (APE) < 30%
PCO2 >45 mmHg
PO2 < 60 mmHg
Segera masukkan ke ICU untuk perawatan
intensif dan kemungkin intubasi serta
ventilasi mekanik

Edema Paru
Edema paru terjadi oleh karena adanya aliran cairan dari darah ke ruang
intersisial paru yang selanjutnya ke alveoli paru, melebihi aliran cairan kembali
ke darah atau melalui saluran limfatik.

Edema paru dibedakan oleh karena


sebab
Kardiogenik
dan
Non
Kardiogenik

Etiologi

Ketidak-seimbangan Starling Forces

Perubahan permeabilitas membran


alveolar-kapiler

Insufisiensi Limfatik

Tak diketahui/tak jelas (Idiopatik)

Diagnosis

Pemeriksaan Fisik

Sianosis sentral
Sesak napas dengan bunyi napas
seperti mukus berbuih
Ronchi basah nyaring, Takikardia
dengan S3 gallop

Elektrokardiografi
Bisa sinus takikardia dengan hipertrofi atrium kiri atau fibrilasi
atrium, tergantung penyebab gagal jantung. Gambaran infark,
hipertrofi ventrikel kiri atau aritmia bisa ditemukan

Posisi duduk.

Penatalaksanaan

Oksigen (40 50%) sampai 8


liter/menit bila perlu dengan
masker.
Jika
memburuk
(pasien
makin
sesak,
takipneu, ronchi bertambah,
PaO2
tidak
bisa
dipertahankan 60 mmHg
dengan O2 konsentrasi dan
aliran tinggi, retensi CO2,
hipoventilasi,
atau
tidak
mampu mengurangi cairan
edema secara adekuat), maka
dilakukan
intubasi
endotrakeal,
suction,
dan
ventilator.
Infus
emergensi.
Monitor
tekanan darah, monitor EKG,
oksimetri bila ada.

Nitrogliserin sublingual atau intravena


Aminophylline
Diuretik Furosemid 40 80 mg IV
bolus dapat diulangi atau dosis
ditingkatkan
tiap
4
jam
atau
dilanjutkan drip continue sampai
dicapai produksi urine 1 ml/kgBB/jam
Bila (tekanan darah turun / tanda
hipoperfusi) : Dopamin 2 5
ug/kgBB/menit atau Dobutamin 2
10
ug/kgBB/menit
untuk
menstabilkan hemodinamik

Terima Kasih...