Anda di halaman 1dari 12

TUGAS

FITOFARMASI
AKTIVITAS
KOMBINASI
EKSTRAK
KELOMPOK
3ANTIDIABETES
TERPURIFIKASI
HERBA
SAMBILOTO
(Andrographis
paniculata (Burn.F.) NESS.) DAN METFORMIN PADA TIKUS

Ariffatul
S. INSULIN
( 10112026 )
DM TIPELailatul
2 RESISTEN
Elisa Galuh Setyorini ( 10112087 )

Feni
Ariyani KOMBINASI
( 10112015
)
PENGARUH
EKSTRAK TERPURIFIKASI

HERBA
SAMBILOTO (Andrographis paniculata (Burm.f.) Nees)
Kharisma
Jayak
P.( 10112095
DAN HERBA
PEGAGAN
(Centella )asiatica (L.) Urban)
TERHADAP TRANSLOKASI PROTEIN GLUT-4 PADA TIKUS
Rizki
Aprilia
10112072
) INSULIN
DIABETES
MELLITUS(TIPE
2 RESISTEN

EVALUASI

EFEK

ANTI-DIABETES

MELITUS

EKSTRAK

Deskripsi Penyakit Diabetes Melitus


Diabetes Mellitus (DM) merupakan suatu penyakit metabolik yang
prevalensinya semakin meningkat dari tahun ke tahun dan diderita
oleh 382 juta penduduk di seluruh dunia
Penyakit DM ditandai dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi
karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya.
Secara klinis DM terdiri dari dua tipe utama yaitu DM tipe 1 dan DM
tipe 2.
DM diawali dengan resistensi insulin (hilangnya sensitivitas jaringan
yang

secara

normal

hiperinsulinemia

sensitif

kompensatori

terhadap

insulin)

(peningkatan

disertai

kadar

dengan

insulin

yang

disekresikan sel beta pankreas sebagai kompensasi terhadap resistensi


insulin)
Diabetes mellitus tipe 2 resisten insulin merupakan suatu penyakit
yang ditandai dengan kondisi obesitas (hiperlipidemia) mengakibatkan
gangguan sinyal translokasi protein GLUT-4 pada membran sel otot
menyebabkan desentisisasi jaringan otot dan lemak terhadap insulin.
Kondisi ini dapat memicu hiperglikemia dan hiperinsulinemia. Kondisi
resisten insulin memberikan dampak besar terhadap regulasi glukosa
dalam kaitannya dengan ekspresi GLUT-4
Resistensi insulin disebabkan oleh asupan diet tinggi lemak dan
fruktosa (DTLF). Lemak dan fruktosa di dalam tubuh akan dimetabolisir
dan menghasilkan banyak senyawa antara, misalnya diasilgliserol,
fatty acyl CoA dan seramid. Ketiga senyawa antara tersebut akan
mengaktifkan protein kinase C (PKC).
PKC akan memfosforilasi insulin receptor substrate (IRS) pada asam
amino serin, sehingga IRS tidak dapat menempel PI-3 kinase (PI3K).
PI3K berperan dalam translokasi GLUT-4 dari cadangan intraseluler ke
membran plasma, sehingga jika PI3K tidak aktif maka GLUT-4 tidak
dapat dipindahkan ke membran plasma. Transpor glukosa dari darah ke
jaringan akan terganggu. Keseluruhan proses tadi menggambarkan
patogenesis resistensi insulin.

Klasifikasi Tanaman

Divisi

: Spermatophyta

Sub Divisi

: Angiospermae

Classis

: Dicotyledoneae

Ordo

: Solanaceae

Familia

: Acanthaceae

Genus

: Andrographis

Spesies

: Andrographis paniculata (Burm.f.) Nees

Nama umum

: Sambiloto

Nama daerah : Sambilata (Melayu); Sambiloto (Jawa Tengah); Ki Oray


(Sunda); Pepaitan (Maluku)
Deskripsi Tanaman

Habitus berupa herba semusim dengan tinggai 30 - 100 cm.

Batang berkayu, pangkalnya bulat. Bila masih muda bentuk batang segi
empat dan setelah tua bentuknya bulat, percabangan monopodial, berwarna
hijau. Daun tunggal, bentuknya bulat telur, berseling berhadapan, pangkal
dan ujungnya meruncing dengan tepi rata, panjang daun 5-10 cm dan
lebarnya 1,2-2,5 cm, pertulangan daun menyirip dengan panjang tangkai 30
mm, berwarna hijau keputih-putihan.

Bunga majemuk, bentuknya tandan, terdapat di ketiak daun dan ujung


batang, kelopak bunga lanset, terbagi lima dengan pangkal berlekatan,
berwarna hijau, jumlah benang sari dua, bentuknya bulat panjang, kepala
sarinya bulat berwarna ungu, putiknya pendek, kepala putiknya berwarna
ungu kecoklatan, mahkota bunga lonjong dengan pangkal berlekatan dan
ujungnya pecah menjadi empat, bagian dalamnya warnanya putih bernoda
ungu sedangkan bagian luarnya berambut dan berwarna merah.

Buah kotak bulat panjang berbentuk kapsul dengan ujungnya yang runcing
dan bagian tengahnya beralur. Biji bulat kecil dan apabila masih muda
berwarna putih kotor sedangkan bila sudah tua banyak biji berwarna coklat.
Akar tunggang berwarna putih kecoklatan.

Senyawa Aktif dan Cara Identifikasinya


Herba dan percabangannya mengandung diterpen lakton yang terdiri dari
andrografolid

(zat

pahit),

didehidroandrografolid,

neoandrografolid,

14-deoksi-

14-

deoksi-11-12-

11-oksoandrografolid,

14

deoksi

andrografolid, dan homoandrografolid selain itu juga terdapat juga flavonoid


antara

lain:

5-hidroksi-

trimetoksiflavon,

2,3,7,8-tetrametoksiflavon,

5-hidroksi-7,2,3-trimetoksiflavon,

5-hidroksi-27,82,5-dihidroksi-7,8-

dimetoksiflavon, apigenin, onisilin, mono-0-metilwithin, 3,4-dicaffeoylquinic,


dan apigenin-7,4-dimetileter. Terdapat juga andrografin, panikulida A, B, dan
C, dan panikulin.
Kandungan zat aktif utama dalam herba sambiloto yang bertanggung jawab
terhadap aktivitas farmakologi dan berkhasiat sebagai antidiabetes adalah
Andrografolid
Kandungan andrografolid dalam herba sambiloto dapat meningkatkan
penggunaan glukosa otot pada tikus diabetes melalui stimulasi transporter
GLUT-4 sehingga dapat menurunkan kadar glukosa dalam plasma pada tikus.
Ekstrak

metanolik

A.

paniculata

mengandung

alkaloid,

asam

amino,

flavonoid, glikosida, saponin, steroid, terpenoid, dan tannin


Ekstrak terpurifikasi herba sambiloto dalam dosis 1303 mg/kg BB mampu
menurunkan kadar glukosa darah preprandial tikus diabetes melitus tipe 2
resisten insulin.
Ekstrak

sambiloto

juga

dapat

merangsang

pelepasan

insulin

dan

menghambat absorbsi glukosa melalui penghambatan enzim alfaglukosidase


dan alfa-amilase. Dosis 2,0 g/ kg BB ekstrak etanol herba sambiloto
merupakan kadar optimal yang dapat menurunkan kadar glukosa tikus.

Kandungan dari Hasil Isolasi

Proses Pembuatan Ekstrak dan Identifikasi Senyawa

Serbuk Sambiloto sebanyak 2 kg dimaserasi dengan etanol 90% selama 24


jam, lalu sari etanol disaring dengan kain flanel kemudian disimpan
(maserat pertama).

Residu yang ada diremaserasi dengan etanol 90% hingga didapatkan


maserat kedua. Maserat pertama dan kedua digabungkan, lalu dienapkan
selama 2 hari dan disimpan untuk selanjutnya dipekatkan di atas penangas
air untuk mendapatkan ekstrak kental.

Ekstrak kental ini selanjutnya dimurnikan lagi dengan ditambahkan pelarut


n-heksana dan divortex, pencucian ini akan mengubah warna pelarut
menjadi hijau (pelarut ini dibuang), dilakukan berulang-ulang sampai
warna hijau pada pelarut hilang.

Fraksi tak larut heksana dipurifikasi kembali dengan ditambahkan pelarut


etil asetat dan divorteks kembali sampai warna coklat hilang. Fraksi tak
larut etil asetat diduga membawa zat-zat seperti flavonoid dan diterpenoid
lakton (termasuk andrografolid) yang merupakan fraksi terpilih yang
dgunakan untuk pengujian.

Fraksi tak larut etil asetat tersebut dicuci dengan air panas, kemudian
diuapkan hingga kering dan larutkan dengan alkohol secukupnya serta
dipekatkan dan dinamakan ekstrak terpurifikasi.

Uji kualitatif andrografolid

Pengujian secara kualitatif dengan KLT dilakukan dengan menyiapkan


larutan uji 10 mg/ml dalam etanol untuk tiap ekstrak dari masing-masing
pelarut. Sedangkan pembanding androgafolid 0,1 mg/ml dalam etanol.
Sebagai

fase

gerak

adalah

kloroform:methanol

(9:1).

Fase

diam

menggunakan plat KLT silika gel 60 F254. Volume penotolan larutan uji

dan pembanding sebanyak 5 L. Pengamatan noda pada UV254.


Uji kuantitatif andrografolid
Tujuan dari uji kuantitatif adalah memberikan data kadar kandungan kimia
tertentu sebagai identitas. Menurut Saifudin et al. (2011), informasi data
kadar kandungan senyawa aktif dapat berkaitan pada efek farmakologinya.
Dalam hal ini penetapan kadar andrografolid dilakukan dengan metode
densitometri. Tahap yang dilakukan adalah menimbang ekstrak 20,0 mg
kemudian dilarutkan dengan 2 ml etanol sehingga diperoleh konsentrasi 10
mg/mL. Buat variasi konsentrasi standar andrografolid yaitu 1 mg/mL; 0,5
mg/mL;

0,25

mg/mL;

0,125

mg/mL.

Tujuan

dilakukannya

variasi

konsentrasi untuk andrografolid standar adalah untuk membuat kurva


baku. Kemudian totolkan pada plat KLT silika gel 60 F254 dan lakukan elusi
dengan fase gerak (kloroform:metanol = 9:1). Volume penotolan untuk
larutan uji ekstrak dan sudah dielusi dianalisis dengan KLT densitometer.
Dihitung perolehan kembali andrografolid dalam ekstrak.

Uji Aktivitas
Sambiloto dan Metformin

Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap pola searah dengan


hewan uji yang berjumlah tiga puluh enam ekor dibagi menjadi enam
kelompok, terdiri dari: 1 kelompok normal dan 5 kelompok lainnya adalah
tikus DM (tikus DM RI) sebagaimana disajikan berikut :

kelompok I : kontrol normal, tikus normal diberi aquades peroral;

kelompok II : kontrol negatif, tikus DM RI diberi larutan CMC-Na 0,5% dua


kali sehari peroral;

kelompok III : kontrol positif, tikus DM RI, diberi metformin 45 mg/kg BB


dua kali sehari peroral;

kelompok IV : tikus DM RI, diberi ekstrak terpurifikasi herba sambiloto dosis


434,6 mg/kg BB dua kali sehari peroral;

kelompok V : tikus DM RI, diberi kombinasi metformin (45 mg/kgBB) +


ekstrak terpurifikasi herba sambiloto 434,6 mg/kg BB (kombinasi 1), dua
kali sehari peroral;

kelompok VI : tikus DM RI, diberi kombinasi dosis metformin (22,5


mg/kgBB) + ekstrak terpurifikasi herba sambiloto 434,6 mg/kg BB
(kombinasi 2), dua kali sehari peroral.

Pemberian perlakuan senyawa uji pada tiap tiap kelompok dimulai pada
saat tikus sudah resisten insulin (pada penelitian ini dimulai pada hari ke-50)
selama lima hari, pengukuran kadar glukosa darahnya dengan reagen
Glucose Oxidase- Phenol Aminoanti-pyrine (GOD-PAP) dan diukur dengan
microlab 3000 pada hari ke-0, ke-20, ke-30, ke-50, dan ke-55.

Sambiloto dan Pegagan

Hewan uji dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu kelompok tikus


normal dan kelompok tikus yang dikondisikan resisten insulin dengan diberi
fruktosa sebanyak 1,8 g/kg tikus dan pakan kaya lemak yang terdiri dari
campuran pakan pelet 95% dan kuning telur bebek 5% serta lemak babi 5
ml/ 200 g BB, yang diberikan selama 70 hari (tikus diit lemak-fruktosa)

Penetapan kondisi DM tipe 2 resisten insulin dengan melihat beberapa


parameter, yaitu: uji kadar glukosa darah preprandial dan postprandial (2
jam setelah pemberian glukosa 1,75 g/kg BB), uji kadar trigliserida, LDL,
HDL, dan kolesterol pada hari ke-0, 20, 50, dan 70 dari serum yang diambil
dari darah tikus (dipuasakan selama 8-10 jam) melalui vena mata
kemudian disentrifus selama 10 menit dengan kecepatan 4000 rpm, serta
uji aktivitas hipoglikemik dari glibenklamid (10 mg/kg BB) menggunakan
metode kolorimetri.

Tikus diit lemak-fruktosa (resisten insulin) dan tikus normal (non resisten
insulin) dikelompokkan menjadi 8 kelompok:
-

kelompok I : kombinasi ekstrak terpurifikasi herba sambiloto dan herba


pegagan (912,1mg/kg BB : 300mg/kg BB) p.o.,

kelompok II: kombinasi ekstrak terpurifikasi herba sambiloto dan herba


pegagan (651,5mg/kg BB : 500 mg/kg BB) p.o.,

kelompok III : kombinasi ekstrak terpurifikasi herba sambiloto dan


herba pegagan (390,9mg/kg BB: 700mg/kg BB) p.o.,

kelompok IV: ekstrak terpurifikasi herba sambiloto tunggal dengan


dosis 1303mg/kg BB, p.o.,

kelompok V: ekstrak terpurifikasi herba pegagan tunggal dengan dosis


1000 mg/kg BB, p.o.,

kelompok VI : kontrol positif (diberi metformin dosis 45 mg/kg BB, p.o),


kelompok VII : kontrol negatif, (diberi CMC-Na 0,5%, p.o),

kelompok VIII: kontrol normal (tikus non resisten insulin)

Perlakuan sesuai dengan pembagian kelompok sebanyak satu kali sehari


selama 7 hari selanjutnya diukur kadar glukosa darah untuk melihat
persentase daya hipoglikemik yang paling optimal dan analisa translokasi
protein GLUT-4

Hewan uji dapat dinyatakan dalam kondisi DM tipe 2-resisten insulin


dengan melihat beberapa parameter yaitu kadar glukosa darah, kadar
lemak total (kolesterol, trigliserida, LDL, dan HDL) dan uji hipoglikemik

dengan glibenklamid. Hasil analisis pada parameter tersebut antara


kelompok

tikus

diit

lemak-fruktosa

dan

menunjukkan perbedaan bermakna (p<0,05)

kelompok

tikus

normal

Mekanisme Kerja Senyawa Aktif dalam Mengobati Diabetes


Melitus
Ekstrak sambiloto dapat merangsang pelepasan insulin dan menghambat
absorpsi glukosa melalui penghambatan enzim - amilase dan -glukosidase.
Enzim glukosidase (maltase, isomerase, glukomerase dan sukrase) berfungsi
untuk menghidrolisis oligosakarida pada dinding usus halus sehingga inhibisi
pada enzim ini dapat mengurangi pencernaan karbohidrat kompleks dan
absorpsinya
Ekstrak terpurifikasi positif mengandung flavonoid yang ditandai dengan
bercak

yang

berpendar.

Tanaman

sambiloto

mengandung

flavonoid

polimetoksiflavon (Niranjan dkk, 2010; Sudarsono dkk, 2006; Chao dan Lin,
2010). Flavonoid polimetoksi flavon dilaporkan berkhasiat sebagai diuretik
(Sriningsih dkk, 2002; Thama dkk, 2008).
Mekanisme flavonoid polimetoksi flavon dilaporkan bekerja sebagai diuretik
dengan jalan menghambat ko-transpor dan menurunkan reabsorpsi ion
natrium dan kalium ke dalam urin dan mekanisme peningkatan natriuresis
dan kaliuresis (Geurin dan Reveillere, 1989).
Kaliuresis menyebabkan terjadinya hipokalemia, yaitu kondisi ion kalium
dalam darah kurang dari 3,8 mEq/ L, padahal ion kalium diperlukan oleh
pankreas untuk merangsang sekresi insulin, akibatnya produksi insulin
semakin menurun sehingga kadar gula darah meningkat.
Flavonoid yang ditemukan pada ekstrak diperkirakan

adalah

7-

Ometilwogonin, apigenin, onisilin dan 3,4 dicaffeoylquinic yang berkhasiat


sebagai antiaterosklerosis
Andrografolid dapat meningkatkan penggunaan glukosa otot pada tikus yang
dibuat diabetes dengan STZ melalui stimulasi transporter GLUT-4 yang berarti
bahwa andrografolid dapat meningkatkan penggunaan glukosa pada otot
untuk menurunkan kadar glukosa dalam plasma pada tikus. Dilaporkan
senyawa

andrografolid

peningkatan

ekspresi

meningkatkan

penggunaan

glukosa

mRNA maupun level protein GLUT-4,

melalui
pembawa

transport glukosa menembus sel


Andrografolid

dalam

ekstrak

etanol

herba

sambiloto

berperan

dalam

perbaikan sel-sel -insulai Langerhans dan meningkatkan sekresi insulin


Ekstrak etanol herba sambiloto menurunkan kadar glukosa dan menurunkan
kadar kolesterol, trigliserida, dan asam lemak bebas dengan mekanisme
meningkatkan kadar glutation S hidroksilase (GSH), glutation S transferase
(GST), dan glutation reduktase (GR) hati sehingga dapat berfungsi sebagai
10

antioksidatif; menekan glukoneogenesis dan glikogenesis; meningkatkan


glikolisis dan glikogenesis serta meningkatkan sensitivitas insulin pada tikus
resisten insulin yang diinduksi dengan diet lemak dan streptozotosin
(Subramanian, 2009).
Ekstrak air herba sambiloto menunjukkan efek hipoglikemik pada kelinci
dengan mekanisme mencegah absorpsi glukosa dari usus (Widyawati, 2007)
Ekstrak

A.

paniculata

meningkatkan

cadangan

menurunkan
glikogen

aktivitas
pada

glukosa-6-fosfatase

hepar.

Selain

itu,

dan

terdapat

peningkatan glukokinase, heksokinase dan laktat dehidrogenase pada


pemberian ekstrak etanol A. paniculata dan andrografolid (Subramanian et
al., 2008). Heksokinase dan glukokinase berperan dalam pengubahan glukosa
menjadi glukosa-6-fosfat, yang menjaga kadar glukosa intraseluler tetap
rendah sehingga ambilan glukosa darah tetap berjalan.
Peningkatan sensitivitas terhadap insulin, yang dibuktikan dengan penurunan
indeks HOMA-IR, mengkonfirmasi mekanisme efek antihiperglikemik A.
paniculata sebagai insulin sensitiser. Penelitian pendahuluan oleh Nugroho et
al. (2012) mengungkapkan bahwa ekspresi GLUT-4 pada otot soleus tikus
mengalami peningkatan dengan pemberian A. paniculata. Seperti telah kita
ketahui, peningkatan ekspresi GLUT-4 pada sel otot skelet menyebabkan
ambilan glukosa dari darah ke dalam sel meningkat, sehingga kadar glukosa
darah menurun.
Selain meningkatkan sensitivitas insulin, A. paniculata diketahui bekerja pada
pankreas. Penelitian oleh Wibudi et al. (2006) secara in vitro dengan
menggunakan sel lestari penghasil insulin BRIN-BD11 mengungkapkan bahwa
A. paniculata berperan sebagai pemicu sekresi insulin. Kandungan zat yang
ada pada A. paniculata menginhibisi kanal kalium sehingga kalium tertumpuk
di dalam sel dan terjadilah depolarisasi. Depolarisasi membran plasma akan
memicu pelepasan insulin oleh sel beta pankreas.
A.

paniculata

juga

memiliki

potensi

untuk

bekerja

pada

traktus

gastrointestinal, yaitu dengan menghambat enzim alfa-glukosidase dan alfaamilase yang berada pada brush border usus. Dengan menghambat enzimenzim ini, yang berfungsi memecah karbohidrat kompleks, maka peningkatan
kadar glukosa postprandial dapat ditahan.

11