Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KASUS

SEORANG ANAK LAKI - LAKI USIA 1 TAHUN DENGAN


KEJANG DEMAM SIMPLEKS

Disusun Oleh :
Evelyn Patricia
406148144

Pembimbing :
dr. Abdul Hakam, Msi. Med., Sp. A

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR. LOEKMONO HADI KUDUS
PERIODE 18 JANUARI 2016 26 MARET 2016
BAB 1

1.1

1.2

Identitas Pasien
Nama
Umur
Jenis kelamin
Alamat
Agama
Suku bangsa
Dirawat di
Tanggal masuk
Tanggal kasus diberikan
Tanggal anamnesis dan pemeriksaan
Tanggal pulang

: An. MFA
: 1 Tahun
: Laki-Laki
: Undaan Tengah 03/02, Undaan - Kudus
: Islam
: Jawa
: Bougenville 2
: 13 Februari 2016
: 13 Februari 2016
: 14 Februari 2016 17 Februari 2016
: 17 Februari 2016

Anamnesis
Alloanamnesis dilakukan kepada orangtua pasien pada tanggal 14 Februari 2016
pukul 13.00.

1.2.1

Keluhan Utama
Kejang.

1.2.2

Keluhan Tambahan
Demam, batuk, dan muntah.

1.2.3

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien mengalami demam sejak 1 hari SMRS. Demam tinggi dialami pasien
mendadak disertai batuk dan muntah makanan. Setelah itu kejang muncul tiba tiba,
mengakibatkan keempat alat gerak pasien kaku, mata memejam dan mulutnya
mengatup kuat. Hal ini berlangsung selama 1 menit. Setelah itu, pasien kembali
sadar dan menangis. Keluarga akhirnya memutuskan untuk membawa pasien ke
rumah sakit. Hingga sampai ke IGD, pasien tidak mengalami kejang lagi. Sebelumnya
riwayat diare dan penurunan kesadaran disangkal. Nafsu makan dan minum baik
sebelum mengalami keluhan.

1.2.4

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien tidak pernah mengalami keluhan serupa

1.2.5

Riwayat Penyakit Keluarga


Di keluarga tidak ada yang pernah mengalami keluhan serupa.

1.2.6

Riwayat Pengobatan
3

Pasien baru diberikan obat penurun panas yang dijual bebas, namun tidak mengalami
perbaikan.
1.2.7

Riwayat Prenatal
Ibu pasien memeriksakan diri setiap bulan ke Posyandu dan tidak pernah mengalami
sakit serius selama masa kehamilan.

1.2.8

Riwayat Kelahiran
Lahir secara spontan per vaginam dengan :
Berat badan : 2900 gram
Panjang badan : 48 cm
Lingkar kepala : tidak diketahui
Lingkar dada : tidak diketahui
Tanpa cacat bawaan

1.2.9

Riwayat Pertumbuhan Dan Perkembangan Anak


Berat badan sekarang 12,5 kilogram, dengan panjang badan 78 cm. Pasien sudah bisa
bermain dengan benda benda disekitarnya dan sudah mampu mengucapkan
beberapa kata. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan pasien
sesuai dengan anak seusianya.

Interpretasi :
BB/U : di atas 2
PB/U : di atas 1
BB/TB : di atas 2
IMT/U : di atas 2
KESAN : Normal

1.2.10 Riwayat Makan dan Minum


Pasien sehari hari mengkonsumsi ASI ditambahkan dengan bubur bayi. Selama
dirawat di rumah sakit, pasien nafsu makan berkurang, hanya mau minum ASI.
1.2.11 Riwayat Imunisasi
Pasien diimunisasi lengkap sesuai dengan jadwal di posyandu.
1.2.12 Riwayat Sosial dan Ekonomi
Pasien merupakan anak pertama. Ibunya bekerja sebagai ibu rumah tangga, dan
ayahnya bekerja sebagai buruh di salah satu pabrik di Kabupaten Kudus. Pasien
berasal dari keluarga dengan kesan ekonomi kurang, dengan biaya perawatan
ditanggung oleh BPJS.
1.3

Pemeriksaan Fisik
Dilakukan pada tanggal 14 Februari 2016 pukul 13.00, didampingi oleh ibu pasien.
Keadaan umum : Tampak sakit ringan
Kesadaran
: Compos Mentis, GCS 15
Tanda vital
:
Nadi
: 124 x/menit, regular, isi cukup
Pernafasan
: 27 x /menit
SpO2
: 98%
Suhu
: 39,5 C (aksila)
Antopometri
Berat Badan
: 12,5 kg
Tinggi Badan
: 78 cm
Indeks Massa Tubuh
: 12,5/(0,78)2 = 20,5
Pemeriksaan Sistematis
Kepala
Bentuk dan ukuran
Rambut
Leher
Mata

Hasil Pemeriksaan
Normosefali, fontanel anterior menonjol (-)
Warna hitam, distribusi merata, tidak mudah
dicabut
Kaku kuduk (-)
Konjungtiva tidak pucat, sclera tidak ikterik,
mata tidak cekung, pupil isokor dengan
diameter 2 mm/2 mm, reflex cahaya langsung

Telinga
Hidung

dan tidak langsung +/+, papiledema -/Serumen +/+, Sekret -/Sekret mukoserosa dari kedua liang hidung,
napas cuping hidung (-), mukosa hidung
berwarna merah muda

Mulut
Bibir

Bibir tidak kering, sianosis (-)


7

Lidah
Tonsil
Faring
Leher
Thorax
Inspeksi

Tidak kotor
T1/T1, tidak hiperemis
Tidak hiperemis
Tidak teraba pembesaran KGB
Bentuk normal, simetris saat inspirasi dan
ekspirasi, retraksi suprasternal (-), retraksi
interkostal (-), retraksi epigastrium (-) ictus

Palpasi

cordis tidak terlihat


Gerakan napas teraba simetris saat inspirasi
dan ekspirasi, ictus cordis teraba di sela iga

Perkusi

IV linea midklavikularis sinistra


Sonor pada lapangan paru
Batas-batas jantung :
Batas atas : ICS III linea parastrenalis sinistra
Batas kanan : ICS IV linea sternalis dextra
Batas kiri : ICS V linea midklavikula sinistra

Auskultasi
o Bunyi napas
o Bunyi jantung

Bunyi nafas vesikuler, ronki -/-, wheezing -/Bunyi jantung I dan II regular, murmur (-),
gallop (-)

Abdomen
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Anggota gerak

Tampak datar
Supel, hepar dan lien tidak teraba
Timpani pada semua kuadran
Bising usus (+) Frekuensi 6x/ menit
Akral hangat, capillary refill time < 2 detik,

Kulit

edema(-), sianosis(-)
Turgor baik, kulit tidak kering, sianosis (-),
warna kulit kuning langsat

1.4

Pemeriksaan Penunjang

1.4.1

Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 13 Februari 2016
Tanggal
Hemoglobin
Eritrosit
Hematokrit
Trombosit
Leukosit
Netrofil
Limfosit
Monosit
Eosinofil
Basofil
MCH
MCHC
MCV

Hasil
10,7 g/dL
4,23 jt/ul
30,9%
281 103/ul
22,4 103 /ul
71,7
18,5
8,7
0,0
0,1
25,3pg
34,6 g/dL
73 fL

Nilai Rujukan
11,5-13,5 g/dL
3,9-5,9 jt/ul
34-40 %
150-400 103/ul
6,0-17,03/ul
50-70
25-40
2-8
2-4
0-1
27,0-31,0pg
33,0-37,0 g/dL
79,0-99,0fL

1.5

Diagnosis

1.5.1

Diagnosis Kerja
Kejang demam sederhana

1.5.2

Diagnosis Banding
Kejang demam kompleks, Gangguan keseimbangan elektrolit, Meningitis.

1.6

Penatalaksanaan

1.6.1

Penatalaksanaan Farmakologis
Infus cairan RL 16 tpm
Inj. Ceftriaxon 2x250 mg
Inj. Noralges 2x120mg
Pamol syr 3x1 cth

1.6.2

Penatalaksanaan non Farmakologis


Mengedukasi keluarga pasien mengenai tanda-tanda kejang demam dan
tatalaksana awalnya :
Keluarga harus waspada bila anak sedang demam terutama bila sedang

demam tinggi (dapat diberikan obat penurun panas).


Bila anak kembali kejang, keluarga tidak perlu panik sebaiknya
melonggarkan pakaian anak, anak diposisikan miring agar lendir /

1.7

cairan dapat keluar, dan pastikan jalan napas tidak terhalang .


Jika kejang terjadi > 5 menit sebaiknya bawa ke RS.
Sediakan obat kejang dalam sediaan suppositoria di rumah.

Prognosis
ad Vitam
ad Fungtionam
ad Sanationam

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam
: dubia ad bonam

10

1.8

Follow Up

Tanggal
S:

14/2/2016
Demam(+),

16/2/2016
Demam(-),
kejang (-), batuk
(-), pilek (-),
muntah (-), diare
(-)

17/2/2016
Demam(-), kejang
(-), batuk (-), pilek
(-), muntah (-),
diare (-)

muntah (+), diare

15/2/2016
Demam(+),
kejang (-), batuk
(+), pilek (-),
muntah (-), diare
(-)

KU

(-)
Tampak sakit

Baik

Baik

Baik

Kesadaran
GCS
Nadi
Suhu
RR
Mata
Cor

sedang
Compos mentis
15
122
38
27
CA -/- , SI -/Bunyi jantung

Compos mentis
15
120
36,5
23
CA -/- , SI -/Bunyi jantung

Compos mentis
15
120
37
27
CA -/- , SI -/Bunyi jantung

Compos mentis
15
120
36,6
22
CA -/- , SI -/Bunyi jantung S1-

S1-S2 tunggal,

S1-S2 tunggal,

S1-S2 tunggal,

S2 tunggal,

reguler, murmur

reguler, murmur

reguler, murmur

reguler, murmur

(-), gallop (-)


Suara vesikuler

(-), gallop (-)


Suara vesikuler

(-), gallop (-)


Suara vesikuler

(-), gallop (-)


Suara vesikuler di

di seluruh lapang

di seluruh lapang

di seluruh lapang

seluruh lapang

paru, ronkhi -/-,

paru, ronkhi -/-,

paru, ronkhi -/-,

paru, ronkhi -/-,

Abdomen

wheezing -/Flat, supel, BU

wheezing -/Flat, supel, BU

wheezing -/Flat, supel, BU

wheezing -/Flat, supel, BU

Kulit
Ekstremita

(+), NT (-)
Turgor baik.
Akral hangat,

(+), NT (-)
Turgor baik.
Akral hangat,

(+), NT (-)
Turgor baik.
Akral hangat,

(+), NT (-)
Turgor baik.
Akral hangat,

Oedema -/KDS
Infus cairan RL

Oedema -/KDS
Infus cairan RL

Oedema -/KDS
Infus cairan RL

Oedema -/KDS
Infus cairan RL 16

16 tpm, Inj.

16 tpm, Inj.

16 tpm, Inj.

tpm, Inj.

Ceftriaxon 2x250

Ceftriaxon 2x250

Ceftriaxon 2x250 Ceftriaxon 2x250

mg, Inj. Noralges

mg, Inj. Noralges

mg, Inj. Noralges mg, Inj. Noralges

2x120mg, Pamol

2x120mg, Pamol

2x120mg, Pamol

2x120mg, Pamol

syr 3x1 cth

syr 3x1 cth,

syr 3x1 cth,

syr 3x1 cth,

Ambroxol 3x1

Ambroxol 3x1

Ambroxol 3x1

kejang (-), batuk


(+), pilek (-),

O
:

Pulmonal

s
A:
P:

11

BAB 2
Tinjauan Pustaka
2.1

Definisi Kejang Demam


Definisi Kejang demam berdasarkan definisi dari The International League
Againts Epilepsy (Commision on Epidemiology and Prognosis, 1993) adalah kejang
yang disebabkan kenaikan suhu tubuh lebih dari 38,4o C tanpa adanya infeksi
susunan saraf pusat atau gangguan elektrolit akut pada anak berusia di atas 1 bulan
tanpa riwayat kejang sebelumnya (IDAI, 2009).

2.2

Faktor Resiko
Faktor risiko berulangnya kejang demam adalah (1) riwayat kejang demam
dalam keluarga; (2) usia kurang dari 18 bulan; (3) temperatur tubuh saat kejang.
Makin rendah temperatur saat kejang makin sering berulang; dan (4) lamanya demam.
Adapun faktor risiko terjadinya epilepsi di kemudian hari adalah (1) adanya gangguan
perkembangan neurologis; (2) kejang demam kompleks; (3) riwayat epilepsi dalam
keluarga; dan (4) lamanya demam (IDAI,2009)

2.3

Etiologi
Semua jenis infeksi yang bersumber di luar susunan saraf pusat yang
menimbulkan demam dapat menyebabkan kejang demam. Penyakit yang paling
sering menimbulkan kejang demam adalah infeksi saluran pernafasan atas, otitis
media akut, pneumonia, gastroenteritis akut, bronchitis, dan infeksi saluran kemih
( Soetomenggolo,2000).

12

2.4

Klasifikasi

Kejang Demam Simpleks


(Simple Febrile Seizure)

Kejang Demam Kompleks


(Complex Febrile Seizure)

Berlangsung singkat (< 15 menit ) & berhenti sendiri

Kejang umum tonik , klonik atau tonik-klonik

Tidak berulang dalam waktu 24 jam.

Tanpa kelainan neurologis sebelum dan sesudah kejang

Kejang lama (> 15 menit )

Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum


didahului kejang parsial

2.5

Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam

Ada kelainan neurologis sebelum atau sesudah kejang

Patofisiologi
Pada keadaan demam kenaikan suhu 1C akan mengakibatkan kenaikan
metabolisme basal 10%-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada
seorang anak berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh,
dibandingkan

dengan

orang

dewasa yang hanya 15%. Jadi


pada kenaikan suhu tubuh tertentu
dapat

terjadi

perubahan

keseimbangan dari membran sel


neuron dan dalam waktu yang
singkat terjadi difusi dari ion
Kalium

maupun

ion

Natrium

melalui membran tadi, dengan


akibat terjadinya lepas muatan
listrik.

13

Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh
sel maupun ke membran sel tetangganya dengan bantuan bahan yang disebut
neurotransmitter dan terjadilah kejang. Tiap anak mempunyai ambang kejang yang
berbeda dan tergantung tinggi rendahnya ambang kejang seeorang anak menderita
kejang pada kenaikan suhu tertentu. Pada anak dengan ambang kejang yang rendah,
kejang telah terjadi pada suhu 38C sedangkan pada anak dengan ambang kejang
yang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu 40C atau lebih. Dari kenyataan inilah
dapatlah disimpulkan bahwa terulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada
ambang kejang yang rendah sehingga dalam penanggulangannya perlu diperhatikan
pada tingkat suhu berapa penderita kejang.
Kejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya dan
tidak menimbulkan gejala sisa. Tetapi pada kejang yang berlangsung lama (lebih dari
15 menit) biasanya disertai terjadinya apnea, meningkatnya kebutuhan oksigen dan
energi untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia,
asidosis laktat disebabkan oleh metabolisme anaerobik, hipotensi arterial disertai
denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh makin meningkatnya aktifitas otot
dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otak meningkat. Rangkaian kejadian di
atas adalah faktor penyebab hingga terjadinya kerusakan neuron otak selama
berlangsungnya kejang lama.
Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan
hipoksia sehingga meninggikan permeabilitas kapiler dan timbul edema otak yang
mengakibatkan kerusakan sel neuron otak. Kerusakan pada daerah mesial lobus
temporalis setelah mendapat serangan kejang yang berlangsung lama dapat menjadi
matang di kemudian hari, sehingga terjadi serangan epilepsi yang spontan. Jadi
kejang demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan anatomis di otak
hingga terjadi epilepsi (Ilmu Kesehatan Anak FK UI, 2002).

14

2.6

Manifestasi klinis
Umumnya kejang demam berlangsung singkat, berupa serangan kejang klonik
atau tonik klonik bilateral. Seringkali kejang berhenti sendiri. Setelah kejang berhenti
anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak, tetapi setelah beberapa detik atau
menit anak terbangun dan sadar kembali tanpa defisit neurologis. Kejang demam
diikuti hemiparesis sementara (Hemeparesis Tood) yang berlangsung beberapa jam
sampai hari. Kejang unilateral yang lama dapat diikuti oleh hemiparesis yang
menetap. Bangkitan kejang yang berlangsung lama lebih sering terjadi pada kejang
demam yang pertama. Kejang berulang dalam 24 jam ditemukan pada 16% paisen
(Soetomenggolo, 2000).

2.7

Diagnosis
Beberapa hal dapat mengarahkan untuk dapat menentukan diagnosis kejang
demam antara lain :

Anamnesis, dibutuhkan beberapa informasi yang dapat mendukung diagnosis


ke arah kejang demam, seperti:
o Menentukan adanya kejang, jenis kejang, kesadaran, lama kejang, suhu
sebelum dan saat kejang, frekuensi, interval pasca kejang, penyebab
demam diluar susunan saraf pusat.
o Beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko kejang demam, seperti
genetik, menderita penyakit tertentu yang disertai demam tinggi,
serangan kejang pertama disertai suhu dibawah 39 C.
o Beberapa faktor yang memengaruhi terjadinya kejang demam berulang
adalah usia < 15 bulan saat kejang demam pertama, riwayat kejang
demam dalam keluarga, kejang segera setelah demam atau saat suhu
sudah relatif normal, riwayat demam yang sering, kejang demam

pertama berupa kejang demam komlpeks (Dewanto dkk,2009).


Gambaran Klinis, yang dapat dijumpai pada pasien kejang demam adalah:
o Suhu tubuh mencapai 39C.
o Anak sering kehilangan kesadaran saat kejang.
o Kepala anak sering terlempar keatas, mata mendelik, tungkai dan
lengan mulai kaku, bagian tubuh anak menjadi berguncang. Gejala
kejang tergantung pada jenis kejang.
15

o Kulit pucat dan mungkin menjadi biru.


o Serangan terjadi beberapa menit setelah anak itu sadar (Dewanto

dkk,2009)
Pemeriksaan fisik dan laboratorium
o Pada kejang demam sederhana, tidak dijumpai kelainan fisik neurologi
maupun laboratorium. Pada kejang demam kompleks, dijumpai
kelainan fisik neurologi berupa hemiplegi. Pada pemeriksaan EEG
didapatkan gelombang abnormal berupa gelombang-gelombang lambat
fokal bervoltase tinggi, kenaikan aktivitas delta, relatif dengan
gelombang tajam. Perlambatan aktivitas EEG kurang mempunyai nilai
prognostik, walaupun penderita kejang demam kompleks lebih sering
menunjukkan gambaran EEG abnormal. EEG juga tidak dapat
digunakan untuk menduga kemungkinan terjadinya epilepsi di
kemudian hari (Soetomenggolo, 2000).

2.8

Diagnosis Banding
Infeksi susunan saraf pusat dapat disingkirkan dengan pemeriksaan klinis dan
cairan serebrospinal. Kejang demam yang berlangsung lama kadang-kadang diikuti
hemiperesis sehingga sukar dibedakan dengan kejang karena proses intrakranial.
Sinkop juga dapat diprovokasi oleh demam, dan sukar dibedakan dengan kejang
demam. Anak dengan kejang demam tinggi dapat mengalami delirium, menggigil,
pucat, dan sianosis sehingga menyerupai kejang demam (Soetomenggolo, 2000).

2.9

Penatalaksanaan
Pada tatalaksana kejang demam ada 3 hal yang perlu dikerjakan, yaitu:
Pengobatan fase akut
Seringkali kejang berhenti sendiri. Pada waktu pasien sedang kejang semua
pakaian yang ketat dibuka, dan pasien dimiringkan kepalanya apabila muntah
untuk mencegah aspirasi. Jalan napas harus bebas agar oksigenasi terjamin.
Pengisapan lendir dilakukan secra teratur, diberikan oksiegen, kalau perlu
dilakukan intubasi. Awasi keadaan vital sperti kesadaran, suhu, tekanan
darah, pernapasan, dan fungsi jantung. Suhu tubuh yang tinggi diturunkan
dengan kompres air dingin dan pemberian antipiretik. Diazepam adalah
16

pilihan utama dengan pemberian secara intravena atau intrarektal


(Soetomenggolo, 2000).

Mencari dan mengobati penyebab


Pemeriksaan cairan serebrospinal

dilakukan

untuk

menyingkirkan

kemungkinan meningitis, terutama pada pasien kejang demam yang pertama.


Walaupun demikian kebanyakan dokter melakukan pungsi lumbal hanya
pada kasus yang dicurigai meningitis atau apabila kejang demam
berlangsung lama. Pada bayi kecil sering mengalami meningitis tidak jelas,
sehingga pungsi lumbal harus dilakukan pada bayi berumur kurang dari 6
bulan, dan dianjurkan pada pasien berumur kurang dari 18 bulan.
Pemeriksaan laboratorium lain perlu dilakukan utuk mencari penyebab
(Soetomenggolo, 2000).

Pengobatan profilaksis
Kambuhnya kejang demam perlu dicegah, kerena serangan kejang
merupakan pengalaman yang menakutkan dan mencemaskan bagi keluarga.
Bila kejang demam berlangsung lama dapat mengakibatkan kerusakan otak
yang menetap (cacat). Ada 3 upaya yang dapat dilakukan:
Profilaksis intermitten, pada waktu demam.
Diazepam intermittent memberikan hasil lebih baik kerena
penyerapannya lebih cepat. Dapat digunakan diazepam intrarektal
tiap 8 jam sebanyak 5 mg untuk pasien dengan berat badan kurang
dari 10 kg dan 10 mg untuk pasien dengan berat badan lebih dari
10 kg, setiap pasien menunjukkan suhu 38,5C atau lebih.
Diazepam dapat pula diberikan sacara oral dengan dosis 0,5 mg/kg
BB/ hari dibagi dalam 3 dosis pada waktu pasien demam. Efek
samping diazepam adalah ataksia, mengantuk, dan hipotonia

(Soetomenggolo, 2000).
Profilaksis terus-menerus, dengan obat antikonvulsan tiap hari
Pemberian fenobarbital 4-5 mg/kg BB/hari dengan kadar darah
sebesar 16 mgug/ml dalam darh menunjukkan hasil yang bermakna
untuk mencegah berulanggnya kejang demam. Obat lain yang
dapat digunakan untuk profilaksis kejang demam adalah asam
valproat yang sama atau bahkan lebih baik dibandingkan efek
fenobarbital tetapi kadang-kadang menunjukkan efek samping

17

hepatotoksik. Dosis asam valproat adalah 15-40 mg/kg BB/hari.


Profilaksis terus menerus berguna untuk mencegah berulangnya
kejang demam berat yang dapat menyebabkan kerusakan otak
tetapi tidak dapat mencegah terjadinya epilepsi di kemudian hari

(Soetomenggolo, 2000).
Consensus Statement di Amerika Serikat mengemukakan kriteria
yang dapat dipakai untuk pemberian terapi rumat. Profilaksis tiap
hari dapat diberi pada keadaan berikut:
Bila terdapat kelainan perkembangan neurologi (misalnya

cerebral palsy, retardasi mental, mikrosefali).


Bila kejang demam berlangsung lama dari 15 menit,
bersifat fokal, atau diikuti kelainan neurologis sepintas atau

menetap.
Terdapat riwayat kejang-tanpa-demam yang bersifat genetik

pada orang tua atau saudara kandung.


Mengatasi segera bila terjadi kejang.
Keluarga harus waspada bila anak sedang demam terutama bila

sedang demam tinggi (dapat diberikan obat penurun panas).


Bila anak kembali kejang, keluarga tidak perlu panik sebaiknya
melonggarkan pakaian anak, anak diposisikan miring agar lendir /

cairan dapat keluar, dan pastikan jalan napas tidak terhalang .


Jika kejang terjadi > 5 menit sebaiknya bawa ke RS.
Sediakan obat kejang dalam sediaan suppositoria di rumah.

DAFTAR PUSTAKA

1. Pusponegoro Hardiono D, Widodo Dwi Putro, Ismael Sofyan. Konsensus


Penatalaksanaan Kejang Demam. Unit Kerja Koordinasi Neurologi Ikatan
Dokter Anak Indonesia, Jakarta. 2006.
2. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Ilmu Kesehatan Anak. Bagian Ilmu
KesehatanAnak FKUI Jakarta. 1985
3. Haslam Robert H. A. Sistem Saraf, dalam Ilmu Kesehatan Anak Nelson, Vol.
3, Edisi 15. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. 2000;
18

4. Hendarto S. K. Kejang Demam. Subbagian Saraf Anak, Bagian Ilmu


Kesehatan Anak,Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, RSCM, Jakarta.
Cermin Dunia Kedokteran No. 27.1982
5. Saharso Darto. Kejang Demam, dalam Pedoman Diagnosis dan Terapi
Bag./SMF Ilmu Kesehatan Anak RSU dr. Soetomo, Surabaya. 2006

19

Anda mungkin juga menyukai