Anda di halaman 1dari 3

Terjadi Krisis

Kepemimpinan
Reformasi Birokrasi di Ditjen Pajak Belum Matang

Selasa, 18 Mei 2010 | 03:35 WIB

Jakarta, Kompas - Krisis kepemimpinan melanda


Direktorat Jenderal Pajak di semua level, mulai dari
tingkat direktur jenderal hingga pimpinan unit.
Padahal, kepemimpinan yang kuat dan berani
dibutuhkan untuk menghadapi wajib pajak yang sulit
ditagih, terutama wajib pajak kaya.

Menurut Ketua Komite Pengawas Perpajakan (KPP)


Anwar Suprijadi di Jakarta, tidak ada jalan lain untuk
mengatasi krisis kepemimpinan itu kecuali mengganti
figur yang ada.

”Atau ditingkatkan kapasitasnya dengan training,” ujar


Anwar di Jakarta, Senin (17/5).

Anwar menegaskan, Ditjen Pajak membutuhkan


pimpinan yang dapat memberi keteladanan dan
keberanian memutuskan. ”Risikonya hanya dua,
diberhentikan atau dicibir masyarakat. Sikap itu belum
ada,” kata mantan Dirjen Bea dan Cukai ini.

Dari pengalamannya di Bea dan Cukai, keberanian


mutlak diperlukan. ”Pengalaman di Bea dan Cukai,
banyak orang besar yang saya tabrak, enggak apa-apa
juga. Saya proses saja, kok tidak ada yang intervensi.
Waktu itu, hanya Tuhan yang menjadi back up
(pelindung) saya. Yang penting jangan menjadikan
jabatan sebagai comfort zone (zona nyaman),” tutur
dia.

Saat menjadi Dirjen Bea dan Cukai, Anwar melakukan


penertiban terhadap jajaran Bea dan Cukai. Ia
membiarkan petugas Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK) melakukan inspeksi mendadak di Kantor
Pelayanan Utama Ditjen Bea dan Cukai Tanjung Priok,
Jakarta, 30 Mei 2008.

Dari inspeksi itu, KPK mendapatkan uang tunai Rp 500


juta beredar di Kantor Pelayanan Utama Ditjen Bea dan
Cukai Tanjung Priok. Padahal, kantor pelayanan utama
tidak mengharuskan adanya setoran tunai dalam
prosedur pelayanannya.

Reformasi birokrasi di Ditjen Pajak serta Ditjen Bea dan


Cukai berlanjut atau tidak, menurut Anwar, sangat
tergantung pada Menteri Keuangan yang akan
menggantikan Sri Mulyani Indrawati. ”Di luar itu, tidak
ada hambatan yang bisa menghalangi rencana besar
reformasi birokrasi di Kementerian Keuangan karena
semuanya adalah masalah yang kasatmata,” ujar dia.

Belum matang

KPP menilai, Ditjen Bea dan Cukai lebih matang dalam


menjalankan reformasi birokrasi dibandingkan dengan
Ditjen Pajak. ”Ditjen Bea dan Cukai lebih siap
melanjutkan reformasinya karena sudah dilakukan
hingga ke level pelaksana,” kata Anwar.

Adapun Ditjen Pajak, selain masih sulit mereformasi


jajarannya, juga menghadapi masalah dalam
implementasi aturan baru, yang dibuat selama
reformasi birokrasi. ”Masalah ewuh pakewuh masih
ada. Ada aturan, tetapi tidak ditegakkan,” kata Anwar
terhadap situasi di Ditjen Pajak.

Oleh karena itu, KPP merekomendasikan agar ada


mekanisme eksaminasi atau penelitian ulang terhadap
hasil pemeriksaan pajak. Hal ini untuk meningkatkan
kinerja Ditjen Pajak.

Eksaminasi bisa dilakukan dengan dua cara. ”Oleh tim


internal Ditjen Pajak atau tim eksternal dari luar Ditjen
Pajak, tetapi masih lingkungan Kementerian
Keuangan,” kata Ketua KPP.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui,


kinerja Ditjen Pajak dalam menghimpun penerimaan
pajak masih harus diperhatikan. Alasannya, ada
sebagian penerimaan pajak yang hasilnya kurang
memuaskan, antara lain sektor primer.

”Sektor primer akan dilihat kinerjanya. Sektor


manufaktur, PPN (Pajak Pertambahan Nilai) dan PPh
(Pajak Penghasilan)-nya cukup baik. Namun, secara
keseluruhan, penerimaan pajak harus diperhatikan
dengan serius,” ujar Menkeu. (OIN)

Sumber, Kompas 18 Mei 2010


http://www.warsidi.com