Anda di halaman 1dari 60

ILMU UKUR TANAH

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Ilmu Ukur Tanah adalah bagian dari ilmu geodesi yang mempelajari
cara-cara pengukuran di permukaan bumi dan di bawah tanah untuk keperluan
seperti pemetaan dan penentuan posisi relatif sempit sehingga unsur
kelengkungan bumi dapat diabaikan. (Slamet Basuki, hal 1, 2006).Ilmu ukur
tanah praktisnya menghasilkan gambaran dari sebagian maupun seluruh unsur
permukaan bumi yang disebut peta. Peta adalah gambaran dari permukaan
bumi, dilihat secara vertikal dari atas bidang datar.
Hal yang menunjang pembuatan peta terdiri atas dua bagian:
Posisi Vertikal
Kedudukan dari suatu titik yang dinyatakan dengan relatif terhadap
titik lain dalam suatu bidang vertikal.
Posisi Horizontal
Kedudukan suatu titik yang dinyatakan dengan relatif terhadaptitik
lain dalam suatu bidang horizontal.
Adapun proses untuk penggambaran suatu peta adalah:

Pengukuran di lapangan (Pengambilan Data)


Pengolahan hasil ukuran (Proses Hitungan)
Proses penggambaran.
Pada saat sekarang ini telah ditemukan berbagaimacam alat ukur mulai

dari alat ukur untuk mengukur jarak, tinggi, kecepatan, dan sudut. Biasanya
kita menggunakan alat ukur yang berupa mistar atau meteran untukmengukur
panjang pendeknya atau tinggi rendahnya suatu benda. Jika benda mempunyai
permukaan yang tidak rata, kita juga dapat menggunakan suatu alat dalam
pengukuran.Tidak seperti pengukuran lainnya, pengukuran tanah ini betujuan
agar kita dapat mengetahui keadaan permukaan tanah yang berada disekitar
1 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

daerah yang diukur. Karena biasanya dalam pembuatan perencanaan jalanraya


baik itu polygon terbuka maupun tertutup terlebih dahulu harus melakukan
pengukuran tanah, hal ini bertujuan untuk mengetahui berapa banyak
timbunan atau galian yang dibutuhkan agar permukaan tanah itu menjadi ideal
untuk pembuatan jalan. Ataupun pembuatan perencanaan bangunan dan juga
khususnya jalan raya, akan berapa kemiringan yang dibutuhkan antara jalan
dengan bahujalan.
1.2.

Maksud dan Tujuan


Maksud
Secara umum laporan ini bermaksud :
Pembaca akan mempunyai wawasan yang luas dan pengertian yang
mendalam mengenai pemakaian teknik pemetaan dan pengukuran
tanah dalam pekerjaan konstruksi.
Secara khusus laporan ini bermaksud :
1.
Pembaca mampu mengidentifikasi pekerjaan dan perhitungan
luas dan
2.

isi dalam kaitannya dengan pekerjaan sipat

datar/lengkap dengan perhitungannya.


Agar memiliki kemampuan membedakan jenis lingkungan dan
pelaksanaan perencanaan lingkungan dalam kaitannya dengan

3.

belokan dan tanjakan serta turunan.


Agar mampu mengidentifikasikan pekerjaan pemasokan yang
berkaitan dengan pekerjaan yang bersifat linear ataupun
lingkungan.

Tujuan
Tujuan dari pengukuran tanah adalah :
1.
Untuk memperoleh gambaran bagian permukaan bumi melalui
pengukuran yang relevan sehingga dari hasil pengukuran ini
2.

dapat kita transformasikan dalam bentuk peta.


Untuk mengetahui bentuk permukaan bumi dan apa yang kita

buat dari

bentuk permukaan bumi seperti yang kita dapat atau

telah diketahui.

2 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

1.3.

Ruang Lingkup Praktikum


Dalam penyusunan laporan ini, secara garis besar memuat tentang
pokok-pokok yang akan dibahas selanjutnnya, yaitu:

1.4.

1.

Praktek penggunaan waterpass

2.

Pengukuran beda tinggi

3.

Perhitungan penampang melintang dan penampang memanjang

4.

Perhitungan volume

5.

Praktek penggunaan theodolite

6.

Pembacaan sudut horizontal dan vertikal pada theodolite

7.

Perhitungan polygon

8.

Penggambaran (plotting, kontur dan editting)

Metode Penelitian
1. Studi Lapangan
Studi Lapangan ( Field Research ) adalah pengumpulan data secara
langsung ke lapangan dengan metode tertentu. Metode-metode yang
digunakan dalam studi lapangan adalah:

Observasi - mengadakan pengamatan terhadap obyek yang


diteliti.

Wawancara - mengadakan aktivitas tanya jawab secara


langsung kepada responden (hanya digunakan bila obyek studi adalah
manusia).

3 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

Studi Dokumentasi - pencatatan atau perekaman

suatu

peristiwa/obyek yang dilanjutkan dengan kegiatan penelusuran lebih


lanjut

serta

pengolahan

atasnya

sehingga

menjadi

sekumpulan/seberkas bahan bukti yang perlu dibuat dan ditampilkan


kembali bila diperlukan pada waktunya, ataupun sebagai pelengkap
atas laporan yang sedang disusunnya.
Dikutip dari teori-ilmupemerintahan.blogspot.co.id

Studi Literatur
Studi literatur adalah cara yang dipakai untuk menghimpun data-data
atau sumber-sumber yang berhubungan dengan topik yang diangkat
dalam suatu penelitian. Studi literatur bisa didapat dari berbagai
sumber, beberapa contoh sumber adalah:

Jurnal

Buku Dokumentasi

Internet

Pustaka
Dikutip dari prabhagib.blogspot.co.id/

1.5.

Lokasi Penelitian
Jalan Raya Depan Gedung FEB, Kampus Undip

Gambar google map

4 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

BAB II
ILMU UKUR TANAH

5 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

2.1

Ilmu Ukur Tanah


Ilmu ukur tanah adalah suatu cabang dari ilmu Geodesi yang
mempelajari sebagian kecil dari permukaan bumi.dengan cara melakukan
pengukuran-pengukuran guna mendapatkan gambar peta. Pengukuran yang di
lakukan terhadap titik-titik detail alam maupun buatan manusia meliputi posisi
horizontal (x,y) maupun posisi vertikal nya (z) yang diferensikan terhadap
permukaan air laut rata-rata. Agar titik-titik di permukaan bumi yang tidak
teratur bentuknya dapat di pindahkan ke atas bidang datar maka di perlukan
bidang perantara antara lain : bidang Ellipsoid, bidang bultan dan bidang datar
(untuk luas wilayah 55 km).Dalam pengertian yang lebih umum pengukuruan
tanah dapat dianggap sebagai disiplin yang meliputi semua metoda untuk
menghimpun dan melalukan proses informasi dan data tentang bumi dan
lingkungan fisik. Dengan perkembangan teknologi saat ini metoda terestris
konvensional telah dilengkapi dengan metoda pemetaan udara dan satelit yang
berkembang melalui program-program pertanahan dan ruang angkasa.
Hasil Dari Pengukuran Tanah adalah :
1. Memetakan bumi (daratan dan perairan),
2. Menyiapakna peta navigasi perhubungan darat, laut dan udara;
3. Memetakan batas-batas pemilikan tanah baik perorangan maupun
perusahaan dan tanah negara
4. Memrupkan bank data yang meliputi informasi tata guna lahan dan
sumber daya alam untuk pengelolaan lingkungan hidup,
5. Menentukan fakta tentang ukuran, bentuk, gaya berat dan medan magnit
bumi serta
6. Mempersiapkan peta bulan , planet dan benda angkasa lainnya.

6 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

Metode surveying Dalam sejarahnya, jarak diukur dengan berbagai cara


seperti menggunakan tali atau rantai yang direntangkan, contoh rantai
Gunther. Cara kuno seperti ini mengharuskan surveyor harus memutuskan alat
ukurnya ketika berhadapan dengan tanah miring. Pengukuran sudut umumnya
menggunakan kompas yang menghasilkan sudut antara satu titik dengan titik
lainnya relatif terhadap kutub utara kompas sehingga nilainya dapat berupa 0
hingga 359. Pengukuran yang lebih teliti akan mendapatkan detik sudut.
Dikutip Dari Wikipedia.org.

Sistem Satuan
Melaksanakan pengukuran dan kemudian mengerjakan hitungan
dari hasil ukuran adalah tugas juru ukur. Sistem satuan yang biasa
digunakan dalam ilmu ukur tanah, terdiri atas 3 (tiga) macam sistem
ukuran, yakni : Satuan Panjang, Satuan Luas dan Satuan Sudut

Terdapat lima macam pengukuran dlm pengukuran tanah yaitu :


1. Sudut Horizontal (AOB)
2. Jarak Horizontal (OA dan OB)
3. Sudut Vertikal (AOC)
4. Jarak Vertikal (AC dan BD)
5. Jarak Miring (OC)

Satuan Panjang
Terdapat dua satuan panjang yang lazim digunakan dalam ilmu
ukur tanah, yakni satuan metrik dan satuan britis. Yang digunakan disini
adalah satuan metrik yang didasarkan pada satuan meter Internasional

7 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

(meter standar) disimpan di Bereau Internationale des Poids et Mesures


Bretevil dekat Paris.

Satuan Luas
Satuan luas yang biasa dipakai adalahmeter persegi (m2), untuk
daerah yang relatif besar digunakan hektar (ha) atausering juga kilometer
persegi (km2)
1 ha = 10000 m2
1 Tumbak = 14 m2

1 km2 = 106 m2
1 are = 100 m2
Satuan Sudut
Terdapat tiga satuan untuk menyatakanSudut, yaitu :
Cara Seksagesimal, yaitu satu lingkaran dibagi menjadi 360

bagian, satu bagiannya disebut derajat.


Cara Sentisimal, yaitu satu lingkaran dibagi menjadi 400
bagian, satu bagiannya disebut grade.

8 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

Cara Radian, Satu radian adalah sudut pusat yang berhadapan


dengan bagian busur yang panjangnya sama dengan jari-jari
lingkaran. Karena panjang busur sama dengan keliling
lingkaran sebuah lingkaran yang berhadapan dengan sudut
360o dan keliling lingkaran 2 p kali jari-jari, maka : 1
lingkaran = 2 p rad

BAB III
WATERPASS
3.1

Dasar Teori:

9 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

Pengukuran waterpass adalah pengukuran untuk menentukan beda tinggi


antara dua titik atau lebih dan elevasi titik-titik kontrol vertikal dengan alat
waterpass.Tujuannya untuk memperbanyak titik kontrol vertikal pada suatu lokasi
proyek yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan antara lain; untuk
pemetaan , perencanaan jalan, jalan kereta api, saluran air, penentuan letak
bangunan gedung yang didasarkan pada elevasi tanah yang ada, perhitungan
ruang dan galian tanah, penelitian terhadap saluran-saluran yang sudah ada dan
pengukuran penampang memanjang dan melintang dalam berbagai pekerjaan
teknik sipil lainnya.
3.2

Prinsip Kerja Waterpass:


Prinsip kerja alat ukur waterpass adalah dengan membuat garis sumbu
teropong horizontal. Bagian yang membuat kedudukan horizontal adalah nivo,
yang berbentuk tabung yang didalamnya terdapat air dan gelembung udara.
Selain itu kelebihan dari alat ukur waterpass adalah alat ukur ini dilengkapi
dengan lensa optic yang berfungsi untuk memperbesar bayangan sehingga dapat
membaca rambu ukur sampai 25-60 meter.
Sebelumnya perlu dipahami terlebihdahulu prosedur pengukuran waterpass,
antara lain:
1) Pengukuran sebaiknya dilakukan pada malam hari (pukul 0.6.00-11.00)
2)
3)
4)
5)

atau pada sore hari(pukul 14.30-17.30).


Alat ukur diletakan pada permukaan tanah yang stabil.
Rambu ukur didirikan di atas patok.
Selama pengukuran, alat ukur dilindungi payung.
Jarak alatukur ke rambu ukur maksimum 60 m.

Selain prosedur pengukuran, dalam penggunaan alat waterpass harus


memenuhi persyaratan sebagaiberikut:

10 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

`Garis sumbu teropong harus sejajar dengan garis mivo. Untuk memeriksa

alat tersebut, diperlukan penyelidikan terhadap selisih tinggi antara dua


titik.

Gambar 1 Pengukuran Beda Tinggi


Pertama peralatan ditempatkan di tengah-tengahantara A dan B. Jika
syarat tersebut tidak terpenuhi, maka akan terbentuk sudut antara garis
visir (garisarahnivo) dengan garis horizontal, walaupun nivo sudah
seimbang.
Pa : Pembacaan bak ukur A

2L : Jarak A B

Pb :Pembacaan bak ukur B

h : Beda tinggi (Pa-Pb)

Kemudian peralatan dipinda kan ke BQ = X, karena adanya kesalahan


sudut tadi, maka pada pembacaan bak ukur A dibaca Qa, dan pada bak
ukur B dibaca Qb, maka besarnya penyimpangan ( C ) adalah :
C = 2L + (Qa-Qb-h)
Pada teropong tanpa sekrup helling, maka koreksi dilakukan dengan
koreksi benang silang vertical, sedangkan nivo tetap seimbang pada
teropong dengan sekrup helling ada kemungkinan yaitu korreksi pada
garis visir atau koreksi pada nivo. Bila dikerjakan koreksi pada garis
visir, maka pekerjaan dilakukan seperti teropong tanpa sekrup helling
sampai pembacaan selanjutnya, dilanjutkan dengan koreksi pada nivo.

Garis arah nivo harus tegak lurus sumbu I.


Pada alat tanpa sekrup helling, pengaturannya sepertimengatur sumbu I

11 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

pada theodolite, yaitu dengan tigasekruppengatur.Setelah penyimpangan


nivo diperbaiki dengansekrup koreksi, maka syarat dapatdipenuhi. Bila

tidak ada sekrup helling, masyarakat di atas tidak perlu.


Benang silang horizontal harus tegak lurus I.
Diperiksa dengan mengarahkan kesuatu titik padatembok, ujung kiri
benang silang dibuat berhimpitan dengan titik ini. Jika benang datar ini
tegak lurus sumbu I, maka benang akan selalu berhimpitan dengan titik
tersebut, jikateropong diputar dengan sumbu I sebagai sumbu putar. Jika
tidak demikian, maka diafragma dengan benang silang diputarsedikit
dengan tangan, sesudah itu sekrup kecil yang terletak pada sisi diafragma
dilepas sedikit.

3.3

Pengukuran Beda Tinggi:

12 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

Gambar3.1 Pengukuran waterpass beda tinggi dan jarak


Keterangan gambar:
A dan B

: titik diatas permukaan bumi yang akan diukur beda

tingginya
a dan b

: bacaan atau tinggi garis mendatar di titik A dan B

Ha dan Hb : ketinggian titik A dan B di atas bidang referensi


hAB : beda tinggi antara titik A dan B
Seperti halnya pengukuran jarak dan sudut, pengukuran beda tinggi juga
tidak cukup dilakukan dengan sekali jalan, tetapi dibuat pengukuran pergi
pulang, yang pelaksanaannya dapat dilakukan dalam satu hari, serta
dimulai dan diakhiri pada titik tetap. Gabungan beberapa seksi dinamakan
trayek. Persamaan yang berlaku dalam sifat datar :

3.4

a.

Waterpass terbuka

b.

Waterpass tertutup :

Peralatan Yang Digunakan:

Waterpass

13 Kelompok 7

h akhir h awal
0

ILMU UKUR TANAH

Fungsi : Mengukur beda tinggi antar titik maupun object existing.

Bak ukur

Fungsi : Target bacaan dari alat Theodolit manual atau Waterpass yang
dibaca Benang Atas, Benang Tengah, dan Benang Bawah.

Statif

Fungsi : Sebagai kaki dari alat Waterpass.

Rol Meter

Fungsi : Sebagai alat pengukur objek.


Payung
Fungsi : Sebagai pelindung dari panas matahari bagi pengukur dan
menghalangi cahaya matahari sampai ke optik Waterpass.
Buku dan Form Praktikum
Fungsi : Untuk mencatat semua hasil pengukuran.

Alat Tulis

Fungsi : Alat untuk menulis semua hasil praktikum.

3.5

Metode Pelaksanaan
3.5.1

Profil Memanjang

14 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

Dalam pengukuran beda tinggi menggunakan alat waterpass dengan


metode Waterpass memanjang, pelaksanaannya dalah sebagai berikut:
1) Memasang patok dengan jarak antar patok sebesar 25 meter.
2) Memasang alat Waterpass diantara dua patok secara berurutan.
memasangan Waterpass harus berjarak antara 1-2 meter dari patok
utama.
3) Mengatur nivo pada Waterpass agar gelembung pada nivo
tepat berada di tengah, sehingga Waterpass benar-benar sejajar
dengan bidang horizontal.
4) Memulai pengukuran Waterpass ke arah pergi (dari titik awal

ke

akhir) dan arah pulang (dari titik akhir kembali ke awal).


5) Bidik Waterpass ke arah bak ukur belakang dan baca ukuran BA,
BT dan BB. Lalu cek ketiga data tersebut dengan rumus:
2BT = BA + BB
(Batas toleransi = 2mm, jika nilai tidak sama)
6) Bidik bak ukur muka dan lakukan sesuai dengan langkah 5.
7) Lakukan pengukuran hingga titik terakhir (arah pergi) dan kembali
lagi ke titik awal (arah pulang).
8) Olah data dengan mengkoreksi data dan menghitung jarak dari
Waterpass ke bak ukur dengan menggunakan rumus:
D = 100 x ( BA - BB )
Keterangan: D Jarak
BA Benang Atas
BB Benang Bawah

15 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

16 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

Gambar 3.5.1.1 Diagram Alir Metode Pelaksanaan Waterpass Memanjang

3.5.2

Profil Melintang
Langkah pengukuran sebagai berikut:

17 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

1) Untuk pelaksanaan praktikum, setiap kelompok harus mengukur


penampang melintang sebanyak 6 patok.
2) Pengukuran penampang melintang dilakukan dengan cara mendirikan
alat di atas patok atau di luar patok.
3) Langkah selanjutnya perhitungan alat di atas titik atau alat di luar titik.
4) Setelah data diolah, penggambaran penampang memanjang dibuat
dengan skala horizontal 1 : 300 dan skala vertikal 1 : 100.
5) Kemudian penggambaran penampang melintang dibuat dengan skala 1
: 100(vertikal dan horizontal)

18 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

19 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

Gambar 3.5.2.1

Diagram Alir
Metode Pelaksanaan Profil Melintang

20 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

3.6

Tabel Perhitungan Waterpass


3.6.1 Tabel Excel Waterpass Memanjang
Arah Pergi

21 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

Arah Pulang

22 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

Keterangan:

(1) = No. Titik


(2) = Benang Tengah (BT) Belakang
(3) = Benang Tengah (BT) Muka
(4) = Nilai Benang Bawah (BB), Benang Atas (BA) dan (BB+BA)
Belakang
(5) = Nilai Benang Bawah (BB), Benang Atas (BA) dan (BB+BA)
Muka
(6) = Nilai D.Belakang, D.Muka, dan Jumlah D
D = 100 x (BB BA)
(7) = Perbedaan Tinggi
Perbedaan Tinggi = BT Belakang BT Muka

Contoh Perhitungan: Titik P11-P12 (1) Arah Pergi


Diketahui:

23 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

o
o
o

o
o
o

Benang Belakang:
BT (2) = 1.845 m
BB (4) = 1.785 m
BA (4) = 1.905 m
Benang Muka:
BT (3) = 1.370 m
BB (5) = 1.310 m
BA (5) = 1.430 m

Perhitungan:

Benang Belakang (BB+BA)

(4) = 1.785 + 1.905


(4) = 3.690 m

Benang Muka (BB+BA)

(5) = 1.310 + 1.430


(5) = 2.740 m

Nilai D (6):
o D. Belakang (6) = 100 x (1.785 - 1.905)
(6) = -12.0 cm
o D. Muka

(6) = 100 x (1.310 - 1.430)

(6) = -12.0 cm

(6) = -12.0 12.0


(6) = -24.0 cm

Beda Tinggi

(7) = 1.845 1.370 = 0.475 m

Contoh Perhitungan: Titik P11-P12 (1) Arah Pulang


Diketahui:
Benang Belakang:
o BT (2) = 1.380 m
o BB (4) = 1.330 m
24 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

o
o
o

BA (4) = 1.430 m
Benang Muka:
BT (3) = 1.850 m
BB (5) = 1.780 m
BA (5) = 1.920 m

Perhitungan:

Benang Belakang (BB+BA)

(4) = 1.330 + 1.430


(4) = 2.760 m

Benang Muka (BB+BA)

(5) = 1.780 + 1.920


(5) = 3.700 m

Nilai D (6):
o D. Belakang (6) = 100 x (1.330 - 1.430)
(6) = -10.0 cm
o D. Muka

(6) = 100 x (1.780 - 1.920)

(6) = -14.0 cm

(6) = -10.0 14.0


(6) = -24.0 cm

Beda Tinggi

(7) = 1.380 - 1.850 = -0.470 m

3.6.2 Tabel Excel Hitungan Waterpass Memanjang

25 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

Keterangan:

(1) = No. Titik


(2) = Beda Tinggi Pergi
(3) = Beda Tinggi Pulang
(4) = Beda Tinggi Rata-rata
Beda Tinggi Rata-rata = + (((2)+(3))/2)
Nilai + Beda Tinggi Rata-rata disamakan dengan + Beda Tinggi Pergi

(5) = Koreksi Beda Tinggi


Koreksi Beda Tinggi = -( (4))/n

(6) = Beda Tinggi Definitif


Beda Tinggi Definitif = (4) + (5)

(7) = Tinggi Titik


Tinggi Titik 2 = Tinggi Titik 1 + (6)

Contoh Perhitungan: Antara P11 P12 (1)


Diketahui:
26 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

Beda Tinggi Pergi


Beda Tinggi Pulang
Tinggi Titik 11

(2) = 0.4750 m
(3) = -0.4700 m
(7) = 225.6327 m

Perhitungan:

Beda Tinggi Rata-rata

(4) = (0.4750+-0.4700)/2
= 0.4725 m

Beda Tinggi Rata-rata (4) = 0.6160 m


Koreksi Beda Tinggi
(5) = -(0.6160)/12
= -0.0513 m

Beda Tinggi Definitif

(6) = 0.4725 0.0513


= 0.4212 m

Tinggi Titik 12

(7) = 225.6327 + 0.4212


= 226.0538 m

3.6.3 Tabel Excel Waterpass Melintang

27 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

Keterangan:
28 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

(1) = Tempat Alat


(2) = No. Titik
(3) = Benang Tengah Bacaan
(4) = Benang Tengah Hitungan
(5) = Benang Bawah (BB) + Benang Atas (BA)
(6) = Jarak
Jarak = 100 x (BA BB)
(7) = Tinggi Garis Visir Terhadap Titik Nol
Tinggi Garis Visir = Tinggi Titik + (3)
(8) = Tinggi Titik Terhadap Titik Nol
Tinggi Titik = Tinggi Garis Visir (3)

Contoh Perhitungan: Tempat Alat 1 (1), Titik P12 dan No. 4 (2)
Diketahui:

Titik P12
o BT
(3) = 1.515 m
o BA
(6) = 1.475 m
o BB
(6) = 1.555 m
o Tinggi Titik (8) = 226.054 m
Titik 4
o BT
(3) = 1.840 m
o BA
(6) = 1.885 m
o BB
(6) = 1.795 m

Perhitungan:

Benang Tengah Hitungan (4):


o Titik P12
(4) = (1.475 + 1.555)/2
(4) = 1.515 m
o Titik 4
29 Kelompok 7

(4) = (1.795 + 1.885)/2

ILMU UKUR TANAH

(4) = 1.840 m

Nilai (BB + BA):


o Titik P12

(5) = 1.475 + 1.555


= 3.030 m

o Titik 4

(5) = 1.795 + 1.885


= 3.680 m

Jarak:
o Titik P12

(6) = 100 x (1.555 1.475)


(6) = 8.0 m

o Titik 4

(6) = 100 x (1.885 - 1.795)


(6) = 9.0 m

Garis Visir Titik P12

(7) = 226.054 + 1.515


(7) = 227.569 m

Tinggi Titik 4

(8) = 227.569 1.840


(8) = 225.729 m

Garis Vizir Titik 4

(7) = 225.729 + 1.840


(7) = 227.569 m

BAB IV
THEODOLITE
4.1

Dasar Teori
Theodolite merupakan suatu alat ukur yang mempunyai banyak
kegunaan, diantaranya :

30 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

Sebagai alat untuk mengukur sudut


Sebagai alat untuk mengukur arah
Sebagai alat pengukur untuk mengukur jarak antara dua titik
Sebagai alat untuk mengukur beda tinggi, dan data data yang
dapat digunakan untuk menggambar peta situasi

Sudut yang diukur adalah sudut vertikal dan sudut horizontal,


theodolite juga digunakan untuk mengukur jarak secara optis maupun
secara langsung dengan alat tertentu. Pada awal penggunaannya, alat
ini memang terlihat agak rumit, namun sebenarnya cara kerja alat ini
mudah dipelajari secara cepat jika alat ini dipisahkan dalam bentuk
diagram ke dalam bagian bagiannya secara terpisah dan masing
masing dijelaskan secara terpisah.
Pada umumnya theodolite digolongkan menurut cara pemakaiannya,
kegunaan dan ketelitiannya. Macam macam theodolite berdasarkan
cara pemakaiannya antara lain :
1.
2.
3.
4.

Theodolite Vermer
Theodolite Skala Optis
Theodolite EDM
Theodolite Total Station

Adapun peralatan lain sebagai pendukung kegiatan pengukuran dilapangan


adalah :

Statif
Berfungsi sebagai penopang / meja theodolite

Landasan Theodolite
Digunakan sebagai dasar yang datar yang disekrupkan pada statif
dengan menunjang kaki kaki skrup penegak

31 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

Tribach
Alat ukur yang berfungsi sebagai penunjang seluruh bagian yang lain,
terutama

bagian

yang

berlekuk,

kedudukan

yang

berbentuk

sebagaimana bagian alat ukur yang lain yang ditumpangkan di


atasnya. Jika alat ini digunakan posisinya harus benar benar
mendatar.

Pengaturan penegak
Untuk memungkinkan tribach dapat berdiri tegak maka skrup penegak
dipasangkan di antara tribach dengan landasan theodolith. Skrup ini
berfungsi untuk mengatur gelembung nivo yang terletak pada piringan
penutup, kepekaan nivo tabung ini 2 mm 40 sudut.

Lingkaran Mendatar / Piringan Bawah


Piringan bawah terletak di atas tribach yang dapat diputar dan
dihentikan dalam posisi yang diatur oleh sebuah pengunci piringan
bawah yang dibantu dengan skrup posisi penggerak halus / skrup
tangensial.

Piringan Penutup pada Lingkaran Mendatar / Piringan Atas


Prinsip kerja piringan atas sama dengan prinsip kerja piringan bawah.
Hanya mempunyai ciri tertentu, yaitu pada piringan atas terdapat skrup
pengunci beserta skrup penggerak halus.

Sekrup Pengunci Piringan Atas dan Bawah


Skrup pengukuran sudut horizontal dan skrup pengunci piringan
merupakan inti dalam melakukan pengukuran sudut sehingga seorang
surveyer harus benar benar paham mengenai cara pemakaian alat.

32 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

Kerangka atau Standart


Terpasang secara langsung pada piringan tertutup yang merupakan
kerangka memanjang. Dalam kedudukan teropong miring ke atas,
kerangka mempunyai bentuk khusus dalam huruf A atau segitiga sama
sisi.

Sumbu Penglihatan atau Sumbu Trunion


Sumbu penglihatan harus tertumpu pada badan kedudukan dan
dikokohkan kedudukannya pada sumbu penglihatan. Ketiganya bebas
berputar dalam bidang tegak dan dapat dikunci dalam kedudukan
apapun dalam bidang tersebut oleh suatu pengunci yang dikenal
dengan nama pengunci teropong.

Nivo Tabung Tinggi


Sudut yang diukur dalam suatu bidang tegak harus diukur nisbi
(relatif) terhadap suatu garis yang benar benar mendatar. Nivo
tabung dari nivo piringan mempunyai kepekaan 2 mm sampai dengan
25 detik.

Gerakan Pengguntingan
Thedolite harus diletakkan tepat di atas titik, sehingga theodolite
dilengkapi dengan suatu gerakan pengguntingan yang umumnya
diletakkan di atas tribach. Kerana keseluruhan gerakannya hanya 20
mm dan alat ukur ini harus ditempatkan dengan sangat teliti di atas
titik sebelum gerakan pengguntingan dipakai.
(ft-untirta.ac.id/id/profil-laboratorium.html)

33 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

4.2

Prinsip Kerja Theodolite


Sebelum digunakan terlebih dahulu alat yang akan digunakan
yaitu theodolite diperiksa kelengkapan dan kesiapannya untuk
digunakan. Beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum penggunaan
Theodolite :
1) Pengaturan Sumbu Vertikal
Dalam pengukuran harus diperhatikan bahwa sumbu I (vertical) harus
benar-benar tegak, jika sumbu I miring maka semua hasil pengukuran
salah, baik pengukuran terhadap sumbu vertikal maupun sudut
horizontal.
2) Pengaturan Nivo
a) Mengatur nivo kontak
b) Mengatur nivo tabung
3) Pengaturan Sudut Horisontal
Pengukuran sudut antara dua titik tolak dapat dilakukan dengan cara
langsung dengan menggunakan teropong pada titik. Tetapi dengan
mencari selisih pembacaan sudut horizontal antara dua titik akan
didapat sudut secara kasar, agar lebih teliti hal ini dilakukan berulangulang dengan posisi teropong biasa dan luar biasa.
(cwienn.wordpress.com/2009/06/01/pengenalan-theodolite/)

4.3

Pengukuran Sudut
Pengukuran sudut melalui Theodolite untuk mengukur sudut
sebuah poligon dilakukan dengan mendirikan pesawat tersebutdi titik
T, diarahkan ke A, kemudian dibaca piringan horizontalnya.
Selanjutnya, alat diputar pada sumbu horizontalnya dan diarahkan ke
titik B.
Misal bacaan piringan horizontal pada titik A adalah fan pada titik B
adalah , maka Sudut ATB = , dan bila nilau sudut yang didapat
adalah negatif, maka nilaisudut ditambah 360o. Jika poligon yang

34 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

terbentuk oleh pengukuran sudut theodolite tidak berhimpit dengan


pangkal polygon, maka harus diadakan koreksi secara grafis.

4.4

Peralatan Yang Digunakan

Theodolite

Fungsi : Mengukur beda tinggi dan sudut antar titik maupun object
existing.

Bak ukur

Fungsi : Target bacaan dari alat Theodolit manual atau Waterpass yang
dibaca Benang Atas, Benang Tengah, dan Benang Bawah.

Statif

Fungsi : Sebagai kaki dari alat Theodolite.

Rol Meter

Fungsi : Sebagai alat pengukur objek.


Payung
Fungsi : Sebagai pelindung dari panas matahari bagi pengukur dan
menghalangi cahaya matahari sampai ke optik Theodolite.

Buku dan Form Praktikum

Fungsi : Untuk mencatat semua hasil pengukuran.

Alat Tulis

Fungsi : Alat untuk menulis semua hasil praktikum.

4.5

Metode Pelaksanaan
4.5.1

Poligon

Tahap pengukuran polygon adalah sebagai berikut:

35 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

1) Menentukan titik polygon dengan cara menancapkan patok pada


tempat yang akan dilakukan pengukuran.
2) Mengukur jarak secara langsung dengan pita ukur pada sisi
poligon.
3) Menentukan

titik

awal

dari

suatu

polygon,

kemudian

menentukan besarnya azimuth.


4) Mendirikan alat theodolite pada titik poligon tersebut, tegak
lurus dengan patok dengan bantuan unting-unting. Pastikan
gelembung nivo terletak pada bundaran tengah nivo tersebut.
5) Membidik titik poligon tersebut dalam dua posisi teropong yang
berbeda, sudut biasa dan luar biasa.
6) Membaca pembacaan pada piringan horizontal dan vertikal.
7) Mengulangi langkah-langkah pada no.4 dan seterusnya pada
patok

berikutnya,

sampai

pada

patok

terakhir.

memindahkan alat, nivo perlu di atur ulang.

Menentukan titik polygon.

Mengukur jarak secara langsung dengan meteran.

Menentukan titik awal polygon dan besarnya azimuth.

Mendirikan theodolite pada titik polygon diatas patok dan mengatur nivo
vertikal dan horizontal.

36 Kelompok 7

Membaca pembacaan sudut horizontal, vertikal, dan bacaan


BA, BT, dan BB
Membidik titik polygon dengan sudut biasa dan luar biasa.

Setiap

ILMU UKUR TANAH

Gambar 4.5.1.1 Diagram Alir Pelaksanaan Polygon

4.5.2

Situasi

Tahap pengukuran situasi secara umum dapat dijelaskan sebagai


berikut:
1) Memasang dan mengatur alat di atas titik kontrol yang
mempunyai data koordinat dan elevasi (X, Y, Z).
2) Membuat skets lokasi yang meliputi :
Skets kontur
Skets titik detail
3) Setelah selesai membuat skets lokasi, maka dapat dilakukan
pengukuran

situasi

cara

Tachimetri.

Apabila

pengukuran

dilakukan dengan alat theodolit TO, maka sebelum mengukur

37 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

kunci bousole dibuka terlebih dahulu kemudian ditutup kembali,


sudut 0 dari theodolit menunjukkan arah utara magnetis.
4) Tahap selanjutnya dilakukan pengukuran detail ke semua titik
detail yang ada dalam skets lokasi dengan cara pengukuran radial.
5) Pada pembuatan skets situasi biasakan dalam pembuatan nomor
urut keterangan searah dengan jarum jam.
6) Kemudian untuk setiap titik detail yang diukur harus dibaca :
Tinggi alat
Nomor titik sesuai dengan skets lokasi
Benang atas
Benang tengah
Benang bawah
Sudut miring atau sudut zenith ke titik detail
Sudut horizontal ke titik detail
7) Dalam setiap pengukuran usahakan agar bacaan benang tengah
sama dengan tinggi alat.
8) Apabila semua titik detail telah selesai diukur, maka pada akhir
pengukuran harus diukur titik kontrol yang akan digunakan untuk
tempat pengukuran berikutnya.
Setelah selesai pengukuran, maka dapat dilanjutkan pengukuran
ke titik berikutnya dengan prosedur yang sama.
(soutlearning-unnes.page.tl/Pemetaan-Situasi-dan-Detail.htm)
Mendirikan theodolite di atas patok.

Menentukan titik-titik disekitar patok untuk


dihitung situasinya.

Mengukur jarak alat ke titik-titik yang akan ditembak.

38 Kelompok 7

Menembakkan alat ke titik-titik tersebut.


Membaca bacaan BA, BT, dan BB, sudut
vertikal, dan sudut horizontal.

ILMU UKUR TANAH

Gambar 4.5.2.1 Diagram Alir Metode Pengukuran Situasi

4.6

Tabel Perhitungan Theodolite


4.6.1 Tabel Excel Pengukuran Polygon Sudut Rata-rata Setiap Patok

39 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

Keterangan:

40 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)

(6)

(7)
(8)
(9)
(10)

= Tempat Berdiri Alat


= Titik Bidik
= Bacaan Biasa/Luar Biasa
= Bacaan Lingkaran Horizontal (Muka/Belakang)
= Sudut (Biasa/Luar Biasa)
Sudut = (4)Belakang (4)Muka
= Sudut Rata-rata
Sudut Rata-rata = ((5)Biasa + (5)Luar Biasa)/2
= Bacaan Azimuth
= Sudut Miring/Zenith
= Bacaan Benang Tengah, Atas, dan Bawah
= Jarak Optis dan Datar
Jarak Optis = 100 x ((9)Atas (9)Bawah)
Jarak Datar = (10)Optis x Sin2[(8)]

Contoh Perhitungan Sudut P2 (1)


Pada Titik Bidik (P1[Belakang] & P3[Muka] ) (2)
Diketahui:

Bacaan Lingkaran Horizontal (4):


o Bacaan Biasa:
P3
= 103o3000
P1
= 283o1000
o Bacaan Luar Biasa:
P3
= 103o3000
P1
= 283o1000

Perhitungan:

41 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

Sudut = (4)Belakang (4)Muka


o Biasa:
Sudut = 283o1000 103o3000
= 179o400
o Luar Biasa:
Sudut = 283o1000 103o3000
= 179o400

Sudut Rata-rata = (179o400 + 179o400)/2


= 179o400

Contoh Perhitungan Jarak P1-P2


Diketahui:

Alat Berdiri Pada Titik P1 (1)


o Bacaan Benang P2 (9)
Biasa:
Tengah
= 1.615 m
Atas
= 1.739 m
Bawah
= 1.492 m
Luar Biasa:
Tengah
= 0.770 m
Atas
= 0.895 m
Bawah
= 0.645 m
o Bacaan Sudut Miring (8):
Biasa
= 91o1800
Luar Biasa
= 86o4500
Alat Berdiri Pada Titik P2 (1)
o Bacaan Benang P1 (9)
Biasa:
Tengah
= 1.225 m
Atas
= 1.342 m

42 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

Bawah
= 1.108 m
Luar Biasa:
Tengah
= 1.605 m
Atas
= 1.730 m
Bawah
= 1.480 m
o Bacaan Sudut Miring (8):
Biasa
= 87o5200
Luar Biasa
= 91o5500
Perhitungan:

Alat Berdiri Pada Titik P1 (1)


o Jarak P1-P2 Pada Bacaan Biasa (10)
Jarak Optis
= 100 x ((9)Atas (9)Bawah)
= 100 x (1.739 1.492)
= 24.700 m
Jarak Datar
= (10)Optis x Sin2[(8)]
= 24.700 x Sin2 (91o1800)
= 24.691 m
o Jarak P1-P2 Pada Bacaan Luar Biasa (10)
Jarak Optis
= 100 x ((9)Atas (9)Bawah)
= 100 x (0.895 0.645)
= 25.000 m
Jarak Datar
= (10)Optis x Sin2[(8)]
= 25.000 x Sin2 (86o4500)
= 24.920 m

Alat Berdiri Pada Titik P2 (1)


o Jarak P2-P1 Pada Bacaan Biasa (10)
Jarak Optis
= 100 x ((9)Atas (9)Bawah)

43 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

= 100 x (1.342 1.108)


= 23.400 m
Jarak Datar
= (10)Optis x Sin2[(8)]
= 23.400 x Sin2 (87o5200)
= 23.391 m
o Jarak P2-P1 Pada Bacaan Luar Biasa (10)
Jarak Optis
= 100 x ((9)Atas (9)Bawah)
= 100 x (1.730 1.480)
= 25.000 m
Jarak Datar
= (10)Optis x Sin2[(8)]
= 25.000 x Sin2 (87o5200)
= 24.972 m
Jarak Rata-rata = ( Jarak Datar (10))/n
= (24.691 + 24.920 + 23.391 + 24.972)/4
= 24.494 m

4.6.2

44 Kelompok 7

Tabel Excel Pengukuran Polygon Koordinat X & Y

ILMU UKUR TANAH

Keterangan:

(1)
(2)
(3)

45 Kelompok 7

= No.
= Sudut ()
= Kor. (Koreksi Sudut)
Total Koreksi Sudut (Dalam) = (2) (n-2) x 180o

ILMU UKUR TANAH

(4)

Koreksi Sudut Titik


= -(Total Koreksi Sudut)/n
= Azimuth ()
Azimuth 2 = Azimuth 1 + (2) + (3) + 180o
Bila nilai Azimuth 2 lebih dari 360o, maka nilai Azimuth
o

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

dikurangi 360 .
= Jarak
Jarak = ( Jarak(B/LB) (P1-P2))/n
= Jarak Sin()
Jarak Sin() = (5) x Sin(4)
= Kor. (Koreksi Jarak Sin())
Koreksi = ((5)/(Total Jarak)) x (Jumlah Jarak Sin())
= Jarak Cos()
Jarak Cos() = (5) x Cos(4)
= Kor. (Koreksi Jarak Cos())
Koreksi = ((5)/(Total Jarak)) x (Jumlah Jarak Cos())
= Koordinat X
X 2 = X 1 + (6) + (7)
= Koordinat Y
Y 2 = Y 1 + (8) + (9)

Contoh Perhitungan Koordinat P2 (1)


Diketahui:

Azimuth Awal (P1-P2) (4) = 103o4030


Jarak P1-P2 (D)
(5) = 24.494 m
Jarak Total
(5) = 263.7805 m
X1
(10) = 45.300
Y1
(11) = 90.000

Perhitungan:

Koordinat X P2:
o D.Sin() (6) = 24.494 x Sin(103o4030)
(6) = 23.799 m

46 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

o Jumlah D.Sin() (6) = -1.404 m


o Koreksi D.Sin() (7) = (24.494/263.7805) x 1.404
(7) = 0.130 m
Koordinat X (10) = 45.300 + 23.799 + 0.130
(10) = 69.230
Koordinat Y P2:
o D.Cos() (6) = 24.494 x Cos(103o4030)
(6) = -5.791 m
o Jumlah D.Cos() (6) = -4.666 m
o Koreksi D.Cos() (7) = (24.494/263.7805) x 4.666
(7) = 0.433 m
Koordinat Y (11) = 90.000 5.791 + 0.433
(11) = 84.643

Contoh Perhitungan Azimuth P2


Diketahui:

Sudut P2
Total Sudut
Azimuth 1

(2)
(2)
(4)
(4)

= 179o4000
= 1787o5245
= Azimuth Awal (P1-P2)
= 103o4030

Perhitungan:

Koreksi Sudut/Titik (3) = -( Sudut (2) (n-2) x 180o)/n


(3) = -(1787o5245 (122) x 180o)/12
(3) = 1o036.25
Azimuth 2 (P2-P3)
= Azimuth 1 + Sudut P2 + Koreksi Sudut +180o
= 103o4030 + 179o4000 + 1o036.25 + 180o
= 464o216.25
Bila nilai Azimuth 2 lebih dari 360o, maka nilai Azimuth 2
dikurangi 360o.
Azimuth 2 (P2-P3)
= 104o216.25

47 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

4.6.3
Patok 1

Patok 2

Patok 3

48 Kelompok 7

Tabel Excel Pengukuran Situasi Theodolite

ILMU UKUR TANAH

Patok 4

Patok 5

Patok 6

Patok 7

49 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

Patok 8

Patok 9

Patok 10

50 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

Patok 11

Patok 12

Keterangan:

(1)
(2)
(3)
(4)

= No. (Titik Tembak)


= Tinggi Alat (cm)
= Bacaan Benang Tengah (m)
= Bacaan Benang Atas (m)

51 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

(5)
(6)
(7)
(8)

= Bacaan Benang Bawah (m)


= Bacaan Sudut Horizontal
= Bacaan Sudut Vertikal
= Tinggi Samping Patok (m)
Didapat melalui perhitungan tinggi titik pada pengukuran

waterpass.
(9) = Sudut
Sudut = 90o (7)
(10) = Y (Panjang Optis) (m)
Y = 100 x ((4) (5))
(11) = D (Panjang Datar) (m)
D = (10) x Cos2[(9)]
(12) = t (Beda Tinggi) (cm)
t = 100 x (11) x Sin[(9)] + (2) (100 x (3))
(13) = PEIL (Tinggi Titik Tembak) (m)
PEIL = (8) + ((12)/100)

Contoh Perhitungan: Patok 12 Patok 1 (1)


Diketahui:

Tinggi Alat
Benang Tengah
Benang Atas
Benang Bawah
Sudut Horizontal
Sudut Vertikal
Tinggi Samping Patok

(2) = 159 cm
(3) = 1.644 m
(4) = 1.680 m
(5) = 1.608 m
(6) = 305o4950
(7) = 89o5000
(8) = 226.054 m

Perhitungan:

Sudut ()

52 Kelompok 7

(9) = 90o Sudut Vertikal = 90o 89o5000


(9) = 0o1000

ILMU UKUR TANAH

(10) = 100 x (B.Atas (4) B.Bawah (5)) = 100 x (1.680

1.608)

PEIL

(10) = 7.2 m
(11) = Y x Cos2() = 7.2 x Cos2(0o1000)
(11) = 7.1999 m
(12) = 100 x D x Sin() + Tinggi Alat (100 x Benang Tengah)
(12) = 100 x 7.1999 x Sin(0o1000) + 159 (100 x 1.644)
(12) = -3.3056 cm = -0.033056 m
(13) = Tinggi Samping Patok + t
(13) = 226.054 0.033056
(13) = 226.0209 m

BAB V
PERHITUNGAN VOLUME

5.1

Dasar Teori
Aplikasi data penampang melintang antara lain adalah untuk
perhitungan volume galian dan timbunan. Untuk memberikan gambaran
umum dari aplikasi data penampang melintang, maka dibuat desain jalan
diatas gambar penampang melintang dan perhitungan volume galian dan
timbunan.
Untuk menghitung volume galian atau urugan tanah, diperlukan ukuran
luas yang dapat dihitung pada tampang melintang dan jarak antara tampang
melintang yang satu dengan yang lainya. Ada berbagai macam cara yang
dapat dilakukan untuk menghitung volume tersebut, ialah:

53 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

1)
2)
3)
4)

5.2

Dengan Luas Penampang Rata-rata


Cara Prismoida
Dengan Borrow Pit Method (Excavation)
Dengan Garis Kontur

Perhitungan Volume
Dalam perhitungan volume ini, cara yang digunakan adalah dengan
Luas Penampang Rata-rata. Hal-hal yang dilakukan dalam perhitungan
ialah:
1. Perhitungan Luas
a) Hitungan luas penampang dilakukan dengan menggunakan rumusrumus segi tiga, segi empat, dan trapezium.
b) Hitung luas galian timbunan dicantumkan di pojok kanan atas
setiap gambar penampang melintang yang dihitung luas
penampangnya.
2. Perhitungan Volume

54 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

Gambar 5.2.1 Volume Dengan Luas Rata-rata


Pada gambar 5.2.1, volume tanah dibatasi oleh penampang melintang
dengan luas A1 dan A2, dimana jarak kedua penampang tersebut adalah d.
Volume = (d/2) x (A1 + A2)

55 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

Gambar 5.2.2 Diagram Alir Perhitungan Volume Dengan Luas Rata-rata

5.3

Tabel Perhitungan Volume


56 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

Keterangan:

(1) = Patok
(2) = Jarak Patok (m)
Jarak Rata-rata = (Jarak 1 + Jarak 2)/2

(3) = Luas Area Galian/Timbunan (m2)


(4) = Luas Rata-rata Galian/Timbunan (m2)
Luas Rata-rata = (Area 1 + Area 2)/2

(5) = Volume Galian/Timbunan (m3)


Volume = (4) x (2)

Contoh Perhitungan : Patok P1-P12 dan P2-P11


Diketahui :
57 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

Jarak Patok :
o P1-P2 (2) = 24.494 m
o P12-P11
(2) = 25.247 m
Luas Galian:
o P1-P12(3) = 34.2952 m2
o P2-P11(3) = 30.1249 m2
Luas Timbunan:
o P1-P12(3) = 0
o P2-P11(3) = 0

Perhitungan :

Rata-rata Jarak

(2) = (24.494+25.247)/2
(2) = 24.8705 m

Rata-rata Luas Galian

(4) = (34.2952+30.1249)/2
(4) = 32.2101 m2

Rata-rata Luas Timbunan (4) = 0


Volume Galian
(5) = 32.2101 x 24.8705
(5) = 801.0800 m3

Volume Timbunan (5) = 0

Lampiran

58 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

1.1 Gambar Theodolite


.

59 Kelompok 7

ILMU UKUR TANAH

1.2 Gambar Waterpass

60 Kelompok 7