Anda di halaman 1dari 6

Background

Infeksi saluran kemih (ISK) adalah penyakit yang sering terjadi pada
anak- anak. Deteksi dini dan terapi yang adekuat diperlukan untuk ISK dengan
demam karena dapat mencegah perkembangan ke urosepsis dan meningitis. Oleh
karena itu, penggunaan antibiotik yang adekuat diperlukan untuk pengobatan ISK.
Namun antibiotik yang dipilih dan diperlukan untuk pengobatan ISK itu beragam
karena perbedaan tingkat keparahan gejala. Disisi lain rekomendasi sefalosporin
generasi ketiga (carbapenems) menjadi pertimbangan untuk terapi empiris dari
ISK yang disebabkan oleh patogen extendedspectrum -laktamase (ESBL) dari E.
coli karena kebanyakan dari generasi sefalosporin lainnya resistensi terhadap
ESBL. Untuk mempertimbangkan antara pencegahan perkembangan resistensi
terhadap antibiotik dan batas efektifitas antibiotik pada demam ISK anak pilihan
antibiotik seperti sefalosporin generasi pertama harus dipertimbangan lagi dan
kami gunakan cefazolin (CEZ). Kebijakan di Departemen Pediatik kami adalah
penatalaksanaan lini pertama pada penyakit ISK dengan demam menggunakan
CEZ. Untuk kepentingan validasi penelitian kami, maka akan selalu dievaluasi
resistensi dan efektivitas obat dalam hal manifestasi klinis dan hasil.

Methods
Dari anak- anak yang dirawat di RS Showa Univesity karena demam ISK
selama periode Mei 2005 sampai Desember 2013, episoode pertama pada
penelitian ini awalnya 75 yang mendapatkan CEZ karna hanya 75 yang terdaftar
sebagai pasien dengan demam ISK. Demam ISK definisikan karna memiliki suhu
(37.5 C), dan hasil kultur urin (>104 unit koloni/ mL), rekam medis pasien
dengan riwayat enorektal malformasi, kelainan ginjal pada antenatal dan kelainan
kromosom akan dikeluarkan pada penelitian ini. Penelitian ini telah mendapat
persetujuan dari Komite Etika University School of Medicine Showa (No. 1696),
dan penelitian ini dilakukan sesuai standar yang ditetapkan oleh Deklarasi
Helsinki 1964. CEZ (50mg/kgBB/hari) yang terbagi dalam 3 dosis intravena (IV).
Penggantian antibiotik jika terjadi pada pemberian CEZ tetep saja demam di hari
keempat setelah dokter memeriksa pasien. Karena pemberian CEZ pada hari
pertama demam dan demam sebaiknya turun pada hari ketiga. Ultrasonografi
ginjal dilakukan setelah diagnosis klinis ISK ditegakan karena untuk memeriksa
morfologi ginjal atau untuk mengetahui grade of dilatation dari Pelvic renal,
calyces dan distal ureter. Sesuai dengan rekomendasi dari American Academy of
Pediatric, VCUG (Void Cystourography) dilakukan untuk melihat vesicoureteral
refluks (VUR) tingkat keparahan dilihat dari refluks gradasis sitem renal. Pada

saat yang sama kultur urin diulang untuk mengkonfirmasi tidak adanya patogen.
Karena sebelumnya dilakukan kateterisasi untuk pemeriksaan VCUG.
Pemeriksaan scanning radionuklida dengan technetinum-99-m-DMSA (99Tc
DMSA) dilakukan setelah diagnosis ISK ditegakan. Gambaran fokal dari
penyerapan radionuklida menunjukan adanya akut lesi abnormal. Dan untuk
mengetahui adanya jaringan parut di ginjal, 1 tahun setelah ISK, scanning dengan
menggunakan 99tc DMSA dilakukan lagi. Untuk mengetahui efektifitas CEZ
diperlukan evaluasi antara sebelum masuk CEZ dengan sesudah masuk.
Diantaranya dengan melihat hasil WBC, CRP, durasi demamnya, durasi rawat
inapnya, kekambuhan ISK, Deteksi Ada tidaknya VUR, indikasi oprasi, hasil
scanning DMSA mengenai jaringan parut setelah 1 tahun ISK.
Uji fisher's exact probably dan uji Mann-Whitney U untuk analisis statistik
menggunakan GraphPad, San Diego, CA) dengan nilai P kurang dari 0,05
dianggap signifikan.

Result
Usia rata- rata 3 bulan. 74 (98,7%) dengan usia 24 bulan dari 75 anak,
52(69,3%) adalah laki- laki. Hasil laboratorium, AL : 15.926,7 5.862,5 / ul, CRP
: 4,5 3,9 mg / dL, Ureum : 7,5 2,3 mg / dL, kreatinin : 0,2 0,1 mg /dL,
transaminase aspartat : 38,8 17,8 IU / L; dan alanine transaminase = 27,1 16,2
IU / L, durasi rawat inap :11,7 2,9 hari (7-25 hari).
CEZ efektif secara klinis pada 64 pasien, dan efektif dalam menurunkan
suhu demam, namun ada yang digantikan dengan FOM (fosfomycin) karena
adanya temuan dari ESBL E.coli.
Mengenai efektifitas demam pada pasien, CEZ efektif terhadap 41 dari 52
pasien (78,8%), dengan durasi demam 1-2 hari dan pada 11 pasien lainnya CEZ
tidak efektif maka dengan demikian diganti dengan antibiotik lain. Salah satu dari
pasien ini, beralih dari CEZ ke ABPC (ampihicilin) karena disfungsi hati. dan 63
pasien lainya tidak memerlukan penggantian CEZ untuk perawatan lebih lanjut.

Patogen yang terdapat pada urin E.Coli (72 paseien, 96%), Enterococcus faecalis
(2pasien, 2,7%) dan KlasibellaPneumoniae (1pasien,1,3%). Dari semua pasien, 3
(4,0%) memiliki bakteremia karena E.coli (ESBL). Sensitivitas antibiotik
ditunjukan pada tabel 1.

Dari hasil kultur urin 61 pasien sensitiv terhadap CEZ, dari 72 pasien
terdapat bakteri E.Coli dan 7 pasien di temukan ESBL.
CMZ, FMOX dan IPM/CS sensitif terhadap semua temuan bakteri dalam
kultur urin, pemberian CTX juga menegaskan bahwa hasil dari kultur urin negatif
pada 71 dari 75 pasien.
Pada 70 pasien mendapatkan pemeriksaan USG ulang, 74 pasien
mendapatkan VCUG ulang. Dari semua karakteristik (durasi demam, prevalensi
bakterimia, ESBL dan durasi rawat inap) secara signifikan lebih tinggi pada
kelompok CEZ.

Discussion
Dalam penelitian ini patogen yang paling sering ditemukan dalam kultur
urin adalah E.Coli dengan memberikan CEZ sebagai lini pertama hasil yang
didapat efektif untuk ISK dengan demam pada anak. Beberapa pasien yang
beralih antibiotik namun sebelumnya mendapatkan CEZ tidak ditemukan jaringan
parut pada ginjal. Hasil dari penelitian ini konsisten dengan hasil dari penelitian
sebelumnya yang menunjukan E.Coli merupakan bakteri patogen yang sering

terdapat pada kultur urin. Untuk menentukan sensitivitas antibiotik pada ISK anak
dengan MIC yang sudah banyak digunakan pada penelitian in vitro sebelumnya.
Chen et al meneliti mengenai sensitivitas antibiotik dan mengevaluasi respon
klinis penyakit ISK pada anak, sebagai lini pertama pada penelitian Chen et al
CEZ dan GM diberikan pada pasien ISK. Namun pada penelitian ini
disederhanakan pemberian CEZ tunggal sebagai terapi empiris. Didukung dengan
data yang diperoleh CEZ efektif 80% untuk pasien demam dengan ISK sebagai
lini pertama. Dan untuk menggunakan terapi kombinasi pada antibiotik
Sefalosphorin generasi ketiga/ carbapenems dapat diberikan pada kasus yang lebih
serius. Sebenarnya pemberian sefalosphorin generasi pertama seperti CEZ sudah
cukup. Pengecualian untuk demam ISK dengan sepsis atau meningtis.

Conclusion
Pada penggunaan CEZ sekitar 80% dari pasien anak dengan ISK demam
pertama mereka dan mereka tidak ada klinis serius atau kritis hasilnya baik .
Risiko VUR, indikasi operasi, dan jaringan parut ginjal tidak meningkat, bahkan
ketika CEZ tidak lagi efektif sebagai antibiotik lini pertama, maka CEZ harus
beralih ke antibiotik yang tepat mengingat sepsis atau munculnya strain ESBL
dari E.Coli, dan ketika demam tidak turun dalam waktu 72 jam.

JOURNAL READING
Validation of Cefazolin as Initial
Antibiotic for First Upper Urinary Tract
Infection in Children
DisusunUntukMemenuhiSebagianSyaratDalam Mengikuti
Ujian Profesi Kedokteran BagianIlmuKesehatan Anak
RSUD dr. R. GoetengTaroenadibrata Purbalingga

DisusunOleh:
Thomas Adi Kamara H
09711132

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK
RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga
2016