Anda di halaman 1dari 8

JOURNAL READING

Diagnosis dan Tatalaksana dari Akne

Disusun Oleh :
Nama : Apresia Kirana Sari
NIM : 1161050001
Pembimbing : dr. Syahfori Widiyani, M.Sc., Sp.KK
Kepaniteraan Kulit dan Kelamin
Periode 5 Oktober - 7 November 2015

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA


JAKARTA 2015

Diagnosis dan Tatalaksana dari Akne


STEPHEN TITUS, MD, and JOSHUA HODGE, MD, Fort Belvoir Community Hospital
Family Medicine Residency, Fort Belvoir, Virginia
Akne adalah penyakit inflamasi kulit kronis yang merupkan kelainan kulit yang paling
sering terjadi di United States. Ada empat target pengobatan yang berhubungan dalam
pembentukan lesi yaitu : peningkatan produksi sebum, hiperkertainisasi, kolonisasi
dari Propionibacterium acnes, dan reaksi inflamasi. Tujuan dari terapi adalah mencegah
timbulnya bekas luka, mengurangi kemungkinan terjadinya jerawat berulang dan
resolusi dari lesi. Penggolongan akne berdasarkan dari tipe lesi dan tingkat
keparahandapat membantu dalam menentukan terapi. Retinoid topical efketif dalam
menangangi les yang inflamasi maupun yang noninflamasi dengan cara mencegah
komedo dan mencegah inflamasi. Benzoil peroksida adalah agen bakterial lain yang
tidak menimbulkan resistensi bakteri. Antibiotik topikal dan oral efektif sebagai
monoterapi tapi akan lebih efektif jika
dikombinasikan dengan retinoid topical.
Penambahan benzoil peroksida dalam
terapi antibiotik dapat mengurangi
resistensi bakteri. Isotretinoin oral telah di
setujui untuk tatalaksana akne yang berat
dan lebih aman karena telah mendapatkan
persetujuan dari iPLEDGE. Setelah tujuan
terapi terpenuhi, perlu dilakukan terapi
perwatan
lanjutan.
Beberapa
menganjurkan penggunaan laser dan
terapi cahaya. Konsultasi ke dokter
spesialis lain diperlukan jika tujuan terapi
tidak tercapai. (Am Fam Physician.
2012;86(8):734-740. Copyright 2012
American Academy of Family Physicians.

kne adalah penyakit kulit yang


paling sering terjadi di United
States, mengenai 40 sampai 50
juta orang di semua usia dan
ras. Hal yang paling terjadi termasuk bekas
luka, hiperpigmentasi dan sequele.
Patogenesis
Akne adalah penyakit inflamasi kulit
kronis yang melibatkan pilosebaseus. Hal
itu ditandai dengan adanya erupsi komedo
didalam folikel, yang diawali dengan
pembentukan mikrokomedo. Ada empat
target pengobatan yang berhubungan
dalam pembentukan lesi yaitu :
peningkatan
produksi
sebum,
hiperkertainisasi,
kolonisasi
dari

Propionibacterium
inflamasi.

acnes,

dan

reaksi

Evaluasi
akne didiagnosa dengan mengidetifikasi
dari lesi. Pembagiannya terbagi dari
komedo noninflamasi terbuka dan tertutup
(Gambar 1), hingga lesi yang inflamasi
yang terdapat papul, pustul dan nodul
(Gambar 2 hingga 4). Lesi paling sering
muncul pada wajah, leher, dada dan
punggung dimana terdapat banyak kelenjar
sebasea. Kondisi lain yang menyerupai
akne terdapat pada Tabel 1, diagnosa
banding dari akne. Penggolongan akne
tergantung pada lesi dan tingkat keparahan
dapat membantu pemilihan terapi yang
tepat (Gambar 5).

Pengobatan
Terapi topikal
Retinoid topikal merupakan agen serba
guna dalam pengobatak akne (Tabel 2). Ia
dapat mencegah pembentukan dan dapat
mengurangi komedo, sehingga sangaet
berguna
dalam
mengobati
lesi
noninflamasi. Retinoid topikal juga
dindikasikan sebagai monoterapi untuk lesi
noninflamasi
dan
sebagai
terapai
kombinasi dengan antibiotik dalam
mengobati akne inflamasi. Terlebih lagi ia
berguna sebagai terapi perawatan setelah
tujuan terapi tercapai dan obat sistemik
dihentikan. Adapalene (Differin) adalah
retinoid topikal yang paling baik. Akan
tetapi beberapa bukti menunjukkan bahwa
Tazarotene (Tazorac) lebih efektif daripada
adapalene dan tretinoin (Retin-A). belum
ada bukti yang kuat dalam kedua
penjelasan tersebut. Antibiotik topikal
biasa digunakan dalam tatalaksana akne
ringan hingga sedang atau akne campuran.
Klindamisin dan eritromisin yang paling
sering di pelajari (Tabel 3). Mereka kadang
digunakan sebagai monoterapi, tapi akan
lebih efektik jika dikombinasi dengan
retinoid topikal. Karena kemungkinan
terjadinya resistensi dalam penggunaan
antibiotik topikal maka direkomendasikan
benzoil peroksida dalam tatalaksana akne.
Asam azelaik dapat diperimbangkan
penggunaannya bagi wanita hamil.
Formulasi krim (Azelex) telah disetujui
oleh U.S Food and Drug Administration
(FDA) untuk terapi akne vulgaris, akan
tetapi sediaan gel (Finacea) memiliki
bioavaibilitas yang lebih baik. Ia memiliki
campuran
antara
antimikroba
dan
antikomedo yang efektif dalam terapi akne
ringan hingga sedang.

Dapson adalah agen jenis baru pertama


dalam terapi topikal akne yang diterima
oelh FDA dalam 10 tahun terakhir.
Walaupun dapson adalah antibiotik, ia juga
dapat menghambat proses inflamasi.

Dalam penelitian, dapson dikatakan lebih


efektif dibandingkan dengan plasebho
dalam mengurangi lesi inflamasi dan
noninflamasi, tapi ia belum pernah
dibandingkan dengan agen topikal lain.
Tidak seperti dapson oral, belum ada bukti
bahwa dapson topikal menyebabkan
anemia hemolitik dan reaksi kulit yang
parah.
Benzoil peroksida merupakan agen
bakterisidal yang terbentuk dari bermacam
konsentrasi
dan
formula.
Benzoil
peroksida adalah agen yang unik sebagai
anti mikroba karena tidak diketahui dapat
menyebabkan resistensi bakteri. Akan
lebih efektif untuk terapi akne ringan
hingga sedang jika dikombinasikan dengan
retinoid topikal.
Asam salisilat hadir sebagai produk
pembersih. Ia juga menjadi antikomedonal
akan tetapi kurang potensial dibandingkan
retinoid topikal.

Terapi oral
Antibiotik oral efektif dalam
pengelolaan akne sedang hingga
berat. (Tabel 5). Berdasarkan
American
Academy
of
Dermatology merekomendasikan
doksisiklin
dan
minosiklin
(Minosin) dibandingkan tetrasiklin.
Trimethroprim/sulfametixazol
(Bactrim, septra). Trimethoprim
dapat digunakan jika tetrasiklin
atau eritrimisin tidak dapat di
toleransi.
Tetrasiklin
lebih
disarankan
dibandingkan
eritromisin
karena
tingkat
resistensi yang lebih rendah.
Setelah tujuan terapi terpenuhi,
antibiotik oral dapat dihentikan
dan diganti dengan retinoid
topikal untuk terapi lanjutan.
Retinoid topikal berguna untuk
mencegah
kembalinya
terjadi
akne vulgaris, terutama jika
dalam
kelas
ringan
hingga
sedang. Jika lesi awal pasien
adalah
kelas
berat,
benzoil
peroksida dengan atau tanpa
antibiotik
dapat
ditambahkan
dalam terapi perawatan.

Isotretinoin oral telah disetujui


oleh FDA dalam tatalaksana akne
yang berat. Dosis yang digunakan
dalam terapi akne berat adalah

0.5 hingga 1 mg per kilogram per


hari selama 20 minggu. Atau jika
di akumulasi menjadi 120 mg per
kg.

Isotretinoin berpotensi menjadi teratogen


yang dapat memyebabkan kelainan di
wajah, mata, telinga, tulang tengkorak,

saraf pusat dan lain lain. Ia juga bisa


menyebabkan menstruasi tidak teratur dan
hiperkalemia.

Terapi laser dan cahaya


Laser dan terapi cahaya dapat digunakan untuk terapi akne. Contohnya visible light pulseddye laser, and photodynamic therapies. Belum ada penelitian yang merekomendasikan
kerutinan dalam terapi akne tersebut. Penelitian rata rata kurang pengawasan, jumlah sampel
sedikit, waktu yang pendek dan tidak di bandingkan dengan terapi farmakologi valid lain.
Tidak ada uraian yang tepat mengenai dosis, onset dan frekuensi yang optimal untuk terapi
ini

Terapi lain

Penilaian dan rujukan


Tujuan terapi pada pasien dengan akne meliputi pencegahan terjadinya bekas luka dan
resolusi dari lesi noninflamasi dan inflamasi. Terapi seharusnya dilanjutkan dalam waktu
minimal 8 minggu sebelum terapi memberikan hasil yang akurat. Rujukan ke dermatologis
lain dapat dilakukan jika tujuan terapi tidak tercapai atau jika
bekas luka tidak kunjung hilang