Anda di halaman 1dari 10

PRIMARY SURVEY

Survei ABCDE (Airway, Breathing, Circulation, Disability, Exposure) ini


disebut survei primer yang harus selesai dilakukan dalam 2 - 5 menit. Terapi
dikerjakan serentak jika korban mengalami ancaman jiwa akibat banyak sistim
yang cedera :
Airway
Menilai jalan nafas bebas. Apakah pasien dapat bicara dan bernafas dengan
bebas?
A. Look : gerakan pengembangan dada, ada tidakya retraksi, penggunaan
otot napas tambahan, dll
B. Listen : suara napas yang normal dan adanya suara napas tambahan
C. Feel

: apakah terasa hembusan napas

Jika ada obstruksi maka lakukan :


Chin lift / jaw thrust (lidah itu bertaut pada rahang bawah)
Suction / hisap (jika alat tersedia)
Guedel airway / nasopharyngeal airway
Intubasi trakhea dengan leher di tahan (imobilisasi) pada posisi netral
Mekanisme terjadinya sumbatan jalan nafas
Pada keadaan dimana kesadaran menurun atau hilang maka :

Secara refleks posisi kepala tertekuk sehingga jalan nafas ikut tertekuk

Otot otot kendor termasuk otot lidah dan sphincter cardia mengalami
relaksasi

Refleks perlindungan menurun atau hilang, sehingga bila di jalan nafas


ada benda asing penderita tidak mampu membatukkannya.

Hal hal tersebut mengakibatkan jalan nafas mudah mengalami sumbatan baik
oleh karena pangkal lidah yang jatuh kebelakang ataupun benda asing.

Macam macam sumbatan jalan nafas:

Sumbatan dapat berupa cair atau padat yang dapat mengakibatkan


gangguan pada jalan nafas berupa sumbatan partial ringan, sedang, berat
ataupun total.

Sumbatan partial ditandai dengan kebolehan mangsa batuk dan berbicara


karena batuk adalah cara yang efektif untuk mengeluarkan benda asing
daripada jalan napas dan kebolehan berbicara menandakan masih ada
ventilasi yang adekuat.

Antara tanda-tanda sumbatan total adalah bunyi high-pitched dan stridor


sewaktu inhalasi ; batuk yang lemah dan tidak efektif ; distress respiratorik
; tidak bisa bicara ; dan sianosis.

Resusitasi :
Lakukan manuver jaw thrust atau chin lift ( tidak dianjurkan melakukan
manuver head tilt pada pasien yang mempunyai ini kecurigaan fraktur cervical).
Selama melakukan tindakan ini harus disertai immobilisasi segaris untuk
melindungi servikal. Setelah itu, lakukan penilaian ulang terhadap jalan napas
dengan look, listen, dan feel. Bila didapatkan pengembangan dada, suara napas
normal atau hilangnya suara mendengkur menunjukkan jalan napas pasien sudah
bebas.

Manuver Jaw Thrust

Selanjutnya untuk mempertahankan jalan napas dapat dilakukan


pemasangan oropharyngeal atau nasopharyngeal airway untuk sementara
(oropharyngeal airway lebih dianjurkan pada pasien yang tidak sadar). Bila
tersedia fasilitas yang memadai dapat dipertimbangkan pemasangan airway
definitif berupa endotracheal tube sehingga dapat menjamin jalan napas bebas
dan memungkinkan pemberian ventilasi yang memadai bila diperlukan. Pasien
dengan skor GCS kurang atau sama dengan 8 diindikasikan untuk pemasangan
airway definitif.

Oropharyngeal airway

Nasopharyngeal airway

Setelah jalan napas terjamin maka dilakukan immobilisasi servikal


dengan pemasangan collar neck oleh karena adanya kecurigaan fraktur
servikal pada pasien ini.
Anggaplah selalu ada cervical spine fracture pada penderita dengan:
a. gangguan kesadaran
b. multi trauma
c. nyeri leher
d. cedera di atas klavikula
e. kelemahan/defisit neurologis
f. riwayat jatuh > 6 meter

B - Breathing and ventilation (Pernafasan dan ventilasi)


Diagnosa Gangguan nafas :

Look

Listen

Feel

Pemberian bantuan nafas :

Tanpa alat : mouth to mouth, mouth to nose

Dengan alat : penggunaan face mask, bag


valve, ventilator mekanik .

Pemberian terapi oksigen :

Penggunaan sungkup sederhana

Penggunaan sungkup rebreathing

Penggunaan sungkup non breathing

Penggunaan bag valve mask : reservoir, non reservoir

Patofisiologi :

Jalan nafas yang tersumbat akan mengakibatkan gangguan ventilasi maka


usahakan dan pertahankan agar jalan nafas tetap terbuka.

Penyebab gangguan ventilasi yang lain utamanya gangguan pada mekanik


ventilasi dan depresi susunan saraf pusat.

Gangguan mekanik menyebabkan Hipoventilasi dan berakibat timbulnya


Hipoksemia dan Hiperkarbia.

Hiperkarbia menyebabkan tekanan intra kranial meningkat sehingga kesadaran


dan pusat nafas terganggu dan Hipoksemia semakin parah.

Seandainya fasilitas ada, maka :

Parameter ventilasi

Pa CO2 ( N 35 65 mmHg )
ET CO2 ( N 25 35 mmHg )

Parameter oksigenasi

Pa O2 ( N 80 100 mmHg )
Sa O2 ( N 95 100 % )

Cara memeriksa tanda tanda gangguan pernafasan :


Look :
Ada tidak pernafasan, status mental, warna, distensi vena leher,
jejas thorak.
Bila ada nafas, hitung frekwensi pernafasan & keteraturannya.
Besar kecil volume / pengembangan dada / Simetris?
Adakah gerak cuping hidung, tegangnya otot-otot bantu nafas serta
tarikan / cekungan antar iga?
Listen : Keluhan dan suara pernafasan, adakah Stridor, Wheezing, Ronchi
Feel : Adakah hawa ekshalasi dari lubang hidung/mulut/trakheostomi
atau pipa

endotrakheal.
Adakah empisema subkutis.
Adakah krepitasi / nyeri tekan pada thorak.
Adakah deviasi trakhea.

Pengelolaan fungsi pernafasan :


Kesimpulan fungsi pernafasan :

Pernafasan ada adekuat

Pernafasan ada tidak adekuat, tersengal sengal dengan frekwensi


rendah / tinggi

Pernafasan tidak ada henti nafas

Pada fungsi pernafasan yang adekuat lakukan monitoring ketat, jaga


jangan sampai mengalami gangguan.
Pada fungsi pernafasan yang tidak adekuat, penderita masih bernafas
maka pengelolaan dapat berupa bantuan oksigenasi menggunakan alat
alat bantu untuk terapi oksigen.
Setiap pasien gawat, kadar oksigen yang diberikan harus lebih dari 40-50
%:

Sungkup sederhana : Fraksi oksigen :35 60 %. Flow rate :6-8 L/menit.

Sungkup reservoir rebreathing : Fraksi oksigen : 35-80 %. Flow rate : 6-10


L/menit.

Sungkup reservoir non breathing : Fraksi oksigen : 50-95 %. Flow rate : 812

L/menit.

Bag Valve Mask :

a. Tanpa reservoir dengan oksigen. Fraksi oksign : 40%. Flow rate : 8-10
L/menit
b. Dengan reservoir dan oksigen : Fraksi oksigen : 100%,flow rate : 8-10 L/
menit
C Circulation (Sirkulasi)

Sirkulasi, raba nadi, adakah denyut nadi radialis brachialis femoralis


maupun karotis.
Bila nadi teraba berarti jantung masih berdenyut nilai segera frekwensi
keteraturan. Nilai segera perfusi perifer, hangat dingin, kering basah,
merah pucat. Nilai pula waktu pengisian ulang kapiler ( N < 2 detik )

Pedoman kasar, radialis teraba - tekanan sistole paling tidak 80 mmHg


Femoralis teraba, radialis tidak teraba - tekanan sistole paling tidak 70
mmHg
Hanya karotis yang teraba - tekanan sistole paling tidak 60 mmHg.
Bila karotis dalam 10 detik tidak teraba denyut maka dikatakan jantung
berhenti.
D Disability

Tingkat kesadaran penderita dapat diketahui dengan cara memberikan


rangsangan suara atau nyeri.

Dengan menggunakan metode A (Alert), V (Voice Responsive), P (Pain


Responsive), U (Unresponsive) atau penilaian dengan menggunakan
Glasgow Coma Scale (GCS).

Cara menilai tingkat kesadaran dengan cara AVPU :


A

: Alert

: Responds to Vocal stimuli

: Responds only to painful stimuli

: Unresponsive to all stimuli

Glasgow Coma Scale (GCS) pada kasus kasus trauma kepala


Eye opening (E) spontaneously

To speech

To pain

Nil

Motor response (M) obeys

Localized

With draw flexion

Abnormal flexion

Extention

Nil

Verbal response (V) Oriented

Confused conversation

In appropriate word

In comprehensivable sound

Nil

Penderita dikatakan Coma - mata tidak pernah terbuka, tidak bisa


diperintah, dan tidak pernah berucap kata / suara dari mulutnya.

Tanda tanda neurology :

Mata : pupil lebar, simetris,refleks terhadap cahaya ?

Gerak bola mata :gerakan spontan, gerak occulocephalik, gerak acculo


vestibular dolls eye phenomen ?

Papil : adakah papil edema

Anggota gerak adakah hemiplegia? Untuk memperkenankan letak lesi

Sistem autonomi, pernafasan, nadi & tensi, suhu ?

Bila ada fasilitas dapat dilengkapi pemeriksaan CT Scan, arteriografi, EEG


dll

Exposure :

Nilai riwayat trauma dan penyakit sebelumnya. Lepaskan baju dan


penutup tubuh pasien agar dapat dicari semua cedera yang mungkin ada.

Jika ada kecurigaan cedera leher atau tulang belakang, maka imobilisasi
in-line harus dikerjakan.

Referensi :

a. PDSPDI. 2006. Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Pusat Penerbitan


FKUI: Jakarta.

b. Davey, Patrick. 2006. At a Glance Medicine. Airlangga: Jakarta.


c. Modul Departemen Kesehatan RI (DIT YANMED GIGI DASAR
PUSDIKLAT KESEHATAN)