Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

Gangguan kepribadian sudah menjadi suatu masalah sosial, masalah medis, dan
ilmiah. Tidak ada kelompok secara demografis kebal terhadap gangguan kepribadian.
Diperkirakan di populasi umum terdapat 11 sampai 23 persen individu dengan gangguan
kepribadian. Ini berarti dalam suatu 1 di tiap-tiap 4 sampai 10 individu di sekitar kita
mengalami gangguan kepribadian, dengan mengabaikan penempatan atau status yang
ekonomi-sosial. Individu ini memiliki gangguan atau kesulitan dalam kemampuan mereka
bekerja dan berhubungan antar individu, serta cenderung kurang terdidik, penyendiri, mudah
menjadi pecandu obat-obatan, pelecehan seksual, kesulitan dalam pernikahan dan menjadi
pengangguran. Sebagai tambahan, banyak pelaku kejahatan dengan atau tanpa kekerasan
serta narapidana mempunyai gangguan kepribadian.1

Gangguan Kepribadian Dissosial (Antisosial) ditandai oleh tindakan anti social atau
criminal yang terus-menerus tetapi tidak sinonim dengan kriminalitas. Terdapat pola perilaku
bersifat pervasive berupa sifat pengabaian dan pelanggaran hak orang lain, berawal sejak usia
dewasa muda dan nyata dalam berbagai konteks. Biasanya timbul karena perbedaan yang
besar antara perilaku dan norma sosial yang berlaku.

Prevalensi gangguan kepribadian antisocial adalah 3 persen pada laki-laki dan 1


persen pada wanita. Paling sering ditemukan pada daerah perkotaan yang miskin dan di
antara penduduk yang berpindah-pindah dalam daerah tersebut. Onset gangguan adalah
sebelum usia 15 tahun. Anak perempuan biasanya memiliki gejala sebelum pubertas, dan

Gangguan Kepribadian Disosial | 1

anak laki-laki bahkan lebih awal. Prevalensi dalam populasi penjara mungkin setinggi 75
persen. Suatu pola familial ditemukan di mana gangguan lima kali lebih sering pada sanak
saudara derajat pertama dari laki-laki dengan gangguan dibandingkan kontrol.

Survey di Amerika Serikat lebih dari 3,5% populasi memenuhi kriteria Gangguan
Kepribadian Antisosial, dengan perbandingan pria 4 kali lebih banyak daripada wanita dan
orang kulit putih lebih banyak dibandingkan dengan orang kulit hitam.

Gangguan Kepribadian Disosial | 2

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Kepribadian
Hingga sekarang sudah banyak teori tentang kepribadian dikemukakan. Perbedaan
yang ada lebih banyak ditekankan pada tekanan yang diberikan pada salah satu aspek struktur
atau fungsi kepribadian atau pada faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Kepribadian meliputi segala corak perilaku manusia yang terhimpun ke dalam dirinya baik
yang datang dari lingkunganya (dunia luarnya), maupun yang berasal dari dirinya sendiri (dunia
dalamnya), sehingga corak perilakunya itu merupakan suatu kesatuan fungsional yang khas bagi
manusia itu1.

Jadi kepribadian meliputi segala corak perilaku manusia yang terhimpun di dalam
dirinya dan yang digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan dirinya terhadap segala
rangsang, baik yang datang dari lingkungannya (dunia luarnya), maupun yang berasal dari
dirinya sendiri (dunia dalamnya) sehingga corak perilakunya itu merupakan suatu kesatuan
fungsional yang khas bagi manusia itu. Hingga sekarang sudah banyak teori tentang
kepribadian dikemukakan. Perbedaan yang ada lebih banyak ditekankan pada tekanan yang
diberikan pada salah satu aspek struktur atau fungsi kepribadian atau pada faktor-faktor yang
mempengaruhinya.
Dengan mempelajari perilaku dan sifat-sifat kepribadian seseorang, maka kita dapat
mengalami kepribadian yang sebenarnya. Kepribadian sangat berbeda dengan watak dan
temperamen. Watak ialah kepribadian yang dipengaruhi oleh motivasi yang menggerakkan
kemauan sehingga orang bertindak. Tabiat atau temparamen ialah kepribadian yang lebih
tergantung kepada keadaan badaniah.

Gangguan Kepribadian Disosial | 3

Perkembangan kepribadian dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor badaniah atau
organobiologi, emosional, sosial dan faktor intelektual.

2.2. Gangguan Kepribadian


Gangguan kepribadian adalah kondisi patologik dari ciri-ciri kepribadian seseorang
yang menjadi tidak fleksibel dan sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan hidup, sehingga
menimbulkan hendaya di dalam fungsi sosial atau pekerjaan atau penderitaan subjektif bagi
dirinya.
Gangguan kepribadian harus dibedakan dari ciri kepribadian (personality traits). Ciri
kepribadian adalah pola yang menetap dari persepsi, cara mengadakan hubungan, dan cara
pikir tentang lingkungan dan diri sendiri, dan yang dinyatakan secara luas didalam konteks
kehidupan sosial dan hubungan pribadi dari seseorang.
Gangguan kepribadian meliputi berbagai keadaan dan pola perilaku yang

klinis

bermakna yang cenderung menetap dan merupakan ekspresi dari gaya hidup yang khas dari
individu serta cara berhubungan dengan diri sendiri dan orang lain. Beberapa dari keadaan
dan pola perilaku ini timbul secara dini dalam masa pertumbuhan atau perkembangan
individu, sebagai hasil dari baik faktor konstitusional maupun pengalaman sosial, sementara
lainnya didapat pada masa kehidupan selanjutnya.
Orang yang menderita gangguan kepribadian mempunyai sifat-sifat kepribadian yang
sangat kaku dan sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. akibatnya, dia akan
mengalami kerusakan berat dalam hubungan sosialnya atau dalam bidang pekerjaanya atau
dirinya terasa sangat menderita. Biasanya gejala gangguan kepribadian akan menetap seumur
hidup. Tetapi, sebagian kecil orang dengan gangguan kepribadian mengalami pengurangan
gejala dengan bertambahnya usia. Manifestasi Gangguan Kepribadian pada umumnya sudah

Gangguan Kepribadian Disosial | 4

tampak sejak remaja atau usia lebih dini, serta berkelanjutan selama hampir seluruh usia
dewasa, meskipun sering kali menjadi kurang nyata pada usia pertengahan atau usia lanjut.
Gangguan kepribadian berbeda dari perubahan kepribadian dalam waktu dan cara
terjadinya dan gangguan kepribadian adalah suatu proses perkembangan, yang timbul pada
masa kanak atau remaja dan berlanjut pada masa dewasa. Gangguan kepribadian bukan
keadaan sekunder dari gangguan jiwa lain atau penyakit otak, meskipun dapat mendahului
dan timbul bersamaan dengan gangguan lain. Sebaliknya, perubahan kepribadian adalah
suatu proses yang didapat, biasanya pada usia dewasa, setelah stress berat atau
berkepanjangan, depresi lingkungan yang ekstrem, gangguan jiwa yang parah atau
penyakit/cedera otak.
Orang yang berkelainan kepribadiaan, menurut DSM IV 1:
1. Menunjukkan struktur pribadi yang maladaptif (aneh). Dalam mempertahankan EGO,
ia tidak dapat lagi menyesuaikan diri terhadap norma-norma masyarakat yang berlaku
sehingga berdampak negatif. Hal ini tampak dari dua atau lebih dari area di bawah ini:

Fungsi kognitif (cara mempersepsikan dan menginterpretasikan) yang aneh baik


mengenai dirinya, orang lain, maupun kejadian lainnya.

Kemampuan di bidang afektif yang kurang serasi (skala, labilitas, maupun respons
emosional)

Relasi antar personal yang sering tidak adekuat.

Cara pengendalian impuls.

2. Pola yang inflexible dan pervasive ini berlangsung baik dalam hubungan antar
personal maupun dalam menghadapi masalah sosial lainnya.
3. Ia merasakan dirinya kurang tenang dan kurang diterima oleh orang lain disekitarnya.
4. Pola semacam ini berlangsung lama dan dapat dideteksi sejak masa muda yang dini
bahkan sejak masa adolescent.

Gangguan Kepribadian Disosial | 5

5. Kelainan pola kepribadian ini bukan diakibatkan oleh gangguan mental lainnya, juga
bukan diakibatkan oleh gangguan faali akibat pemakaian zat/obat atau akibat
gangguan medik lainnya.
Dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa 5 sampai 10% penduduk dewasa
menderita gangguan kepribadian. Jadi prevalensi gangguan kepribadian ternyata 5 sampai 10
kali lebih tinggi dari prevalensi skizofrenia dan gangguan afektif berat, serta hampir sama
dengan prevalensi gangguan neurotik. Prevalensi gangguan kepribadian lebih tinggi pada
kelompok masyarakat yang dipenjarakan dan penduduk dengan sosial ekonomi rendah.
Gangguan kepribadian dikodekan dalam Aksis II DSM IV. Daftar variasi tipe-tipe
kepribadian dibagi menjadi 11 dan gangguan kepribadian dikelompokkan ke dalam tiga
kelompok dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi keempat (DSM
IV), yaitu1 :
Cluster A :

Paranoid

Skizoid

Skizotipal

Cluster B :

Antisosial

Borderline/kepribadian ambang

Histerionik

Narsistik

Cluster C :

Avoidant/menghindar

Dependent/tergantung

Gangguan Kepribadian Disosial | 6

Kepribadian anankastik (obsesif-kompulsif)

Kelainan kepribadian yang tidak spesifik (personality disorder NOS)

Pembagian gangguan kepribadian berdasarkan PPDGJ III2


F60

Gangguan kepribadian khas

F60.0 Gangguan kepribadian paranoid


F60.1 Gangguan kepribadian schizoid
F60.2 Gangguan kepribadian dissosial
F60.3 Gangguan kepribadian emosional tak stabil
.30 Tipe impulsive
.31 Tipe ambang
F60.4 Gangguan kepribadian histrionic
F60.5 Gangguan kepribadian anankastik
F60.6 Gangguan kepribadian cemas (menghindar)
F60.7 Gangguan kepribadian dependen
F60.8 Gangguan kepribadian khas lainnya
F60.9 Gangguan kepribadian YTT
F61

Gangguan kepribadian campuran dan lainnya

F61.0 Gangguan kepribadian campuran


F61.1 Perubahan kepribadian yang bermasalah
F62

Perubahan kepribadian yang berlangsung lama yang tidak diakibatkan oleh


kerusakan atau penyakit otak

F62.0 Perubahan kepribadian yang berlangsung lama setelah mengalami katastrofi


F62.1 Perubahan kepribadian yang berlangsung lama akibat penyakit psikiatrik
F62.8 Perubahan kepribadian yang berlangsung lama lainnya
F62.9 Perubahan kepribadian yang berlangsung lama YTT

Gangguan Kepribadian Disosial | 7

BAB III
GANGGUAN KEPRIBADIAN DISOSIAL
3.1. Definisi
Gangguan kepribadian disosial ditandai oleh tindakan antisosial atau kriminal yang
terus menerus, tetapi tidak sinonim dengan kriminalitas. Gangguan ini adalah
ketidakmampuan

untuk

mematuhi

norma

sosial

yang

melibatkan

banyak

aspek

yang

masih

perkembangan remaja dan dewasa pasien1.

3.2. Etiologi
Etiologi

dari

gangguan

kepribadian

merupakan

kontroversi

dipertimbangkan. Pemikiran tradisional memegang pada pola gangguan adaptasi yang


disebabkan disfungsi lingkungan usia awal yang menghalangi evolusi pola adaptif tentang
persepsi, tanggapan, dan pertahanan diri. Data yang ada memberikan kontribusi yang cukup
bahwa kelainan ini mengarah pada pengaruh genetik dan psikobiologi atas gangguan
kepribadian. Namun, inkonsistensi data mencegah para ahli untuk menarik suatu kesimpulan
yang pasti.3 Beberapa faktor diduga mempunyai hubungan yang erat dengan gangguan
kepribadian. Faktor-faktor tersebut adalah : 1
1. Faktor Genetik
Ternyata saudara kembar satu telur dari penderita gangguan kepribadian juah lebih
banyak yang menderita gangguan kepribadian dibandingkan dengan saudara kembar
dua telur.

Gangguan Kepribadian Disosial | 8

2. Faktor biologik
Penderita gangguan kepribadian memiliki tingkat respon system noradrenegik yang
tinggi, mekanisme ini melingkupi pelepasan dari suatu neurotransmitter disebut
norepinephrine. Neurotransmitter adalah zat kimia yang mengkomunikasikan impuls
dari satu sel saraf ke sel saraf lainnya di otak, dan impuls ini yang memerintahkan
tingkah laku. Tendensi untuk bereaksi secara emosional berlebihan pada pasien
dengan gangguan kepribadian histrionik mungkin disebabkan oleh kelainan fungsi
pada neurotransmitter tersebut.
3. Faktor Psikologik
Sigmund Freud menduga ciri kepribadian berhubungan erat dengan fiksasi pada salah
satu fase perkembangan sebelumnya. Misalnya, orang yang pasif dan dependen
mempunyai fiksasi pada fase oral. Selanjutnya, Freud juga mengemukakan bahwa
gejala gangguan kepribadian sangat ditentukan oleh jenis mekanisme pertahanan yang
dipergunakannya.

Misalnya,

orang

dengan

gangguan

kepribadian

paranoid

menggunakan mekanisme pertahanan proyeksi, orang dengan gangguan kepribadian


kompulsif menggunakan mekanisme pertahanan isolasi, dan orang dengan gangguan
kepribadian histrionik menggunakan defen mekanisme dissosiasi.
Dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa 5 sampai 10% penduduk dewasa
menderita gangguan kepribadian. Jadi prevalensi gangguan kepribadian ternyata 5
sampai 10 kali lebih tinggi dari prevalensi skizofrenia dan gangguan afektif berat,
serta hampir sama dengan prevalensi gangguan neurotik.4
Prevalensi gangguan kepribadian lebih tinggi pada kelompok masyarakat yang dipenjarakan
dan penduduk dengan sosial ekonomi rendah.

Gangguan Kepribadian Disosial | 9

3.3. Faktor Resiko4


1. Kelainan Perkembangan System Saraf
Kelainan dalam perkembangan sistem saraf dapat menyebabkan gangguan kepribadian
disosial. Kelainan yang menyarankan pengembangan sistem saraf yang abnormal
termasuk gangguan belajar, mengompol gigih dan hiperaktivitas.
2. Ibu Merokok Selama Kehamilan,
Keturunan mereka pada risiko mengembangkan perilaku antisosial. Hal ini menunjukkan
bahwa merokok membawa menurunkan tingkat oksigen dengan mungkin dihasilkan
dalam cedera otak halus untuk janin.
3. Fungsi Otak Abnormal
Pencitraan otak telah juga menyatakan bahwa fungsi otak abnormal merupakan
penyebab perilaku antisosial. Demikian pula, neurotransmiter serotonin telah dikaitkan
dengan perilaku impulsif dan agresif. Kedua lobus temporal dan korteks prefrontal
membantu mengatur suasana hati dan perilaku. Bisa jadi perilaku impulsif atau kurang
terkontrol berasal dari kelainan fungsional dalam kadar serotonin atau di wilayah otak.
4. Lingkungan
Sosial dan lingkungan rumah juga berperan dalam menunjang perkembangan perilaku
antisosial. Orang tua dari anak-anak bermasalah sering menunjukkan tingkat tinggi
perilaku antisosial sendiri. Dalam satu penelitian besar, orang tua anak laki-laki lebih
sering bermasalah alkohol atau pidana, dan rumah mereka sering terganggu oleh
perceraian, perpisahan atau tidak adanya orangtua
5. Anak Adopsi
Dalam kasus anak asuh dan adopsi, merampas seorang anak muda dari ikatan emosional
yang signifikan dapat merusak kemampuannya untuk membentuk hubungan intim dan
percaya, yang mungkin menjelaskan mengapa beberapa anak yang diadopsi cenderung
untuk mengembangkan kepribadian antisosial. Sebagai anak-anak muda, mereka mungkin
lebih cenderung bergerak dari satu pengasuh ke yang lain sebelum adopsi akhir, sehingga
gagal untuk mengembangkan lampiran emosi yang tepat atau mempertahankan angka
dewasa.

Gangguan Kepribadian Disosial | 10

6. Kurangnya Pengawasan Orang Tua


Disiplin tidak menentu atau tidak patut dan pengawasan yang tidak memadai telah
dikaitkan dengan perilaku antisosial pada anak-anak. Melibatkan orang tua cenderung
untuk memonitor perilaku anak, menetapkan aturan dan melihat bahwa mereka
mematuhi, memeriksa keberadaan anak, dan mengarahkan mereka dari teman-teman
bermain bermasalah. pengawasan yang baik adalah kurang cenderung di rumah-rumah
yang rusak karena orang tua mungkin tidak tersedia, dan orang tua sering antisosial
kurangnya motivasi untuk mengawasi anak-anak mereka. Pentingnya pengawasan
orangtua juga ditekankan ketika antisosials tumbuh dalam keluarga besar dimana setiap
anak kurang mendapat perhatia nsecara proporsional.Seorang anak yang tumbuh di
sebuah rumah terganggu dapat memasukkan orang dewasa di dunia terluka secara
emosional. Tanpa memiliki ikatan yang kuat dikembangkan, dia egois dan tidak peduli
kepada orang lain. Kurangnya disiplin hasil konsisten dalam hal kecil untuk aturan dan
menunda kepuasan. Dia tidak memiliki model peran yang tepat dan belajar untuk
menggunakan agresi untuk memecahkan perselisihan. Dia gagal untuk mengembangkan
empati dan kepedulian bagi orang-orang di sekitarnya.
7. Penyalahgunaan Anak Juga Telah Dikaitkan Dengan Perilaku Antisosial.
Orang dengan kepribadian anti sosial lebih mungkin daripada yang lain telah
disalahgunakan sebagai anak-anak. Hal ini tidak mengherankan karena banyak dari
mereka tumbuh dengan orang tua anti sosial lalai dan kadang-kadang kekerasan. Dalam
banyak kasus, pelecehan perilaku belajar menjadi orang dewasa yang sebelumnya disiksa
mengabadikan dengan anak-anak mereka sendiri.
Telah dikemukakan bahwa pelecehan awal (seperti gemetar penuh semangat anak)
adalah sangat berbahaya, karena dapat mengakibatkan cedera otak. Trauma kejadian

Gangguan Kepribadian Disosial | 11

dapat mengganggu perkembangan normal sistem saraf pusat, sebuah proses yang
berlanjut selama bertahun-tahun remaja. Dengan memicu pelepasan hormon dan bahan
kimia otak lainnya, peristiwa stress dapat mengubah pola perkembangan normal.

3.4. Gejala Klinis


Gambaran penderita biasanya sangat hangat dan mengambil muka. Membohong,
membolos, berkelahi, penyalahgunaan zat-zat adiktif dan aktivitas illegal adalah riwayat
penderita pada masa anak-anak. Pasien tidak menunjukkan adanya gangguan depresi atau pun
kecemasan. Isi mental pasien mengungkapkan sama sekali tidak ada waham dan tanda lain
pikiran irasional. Terdapat peningkatan rasa tes realitas. Dan sering kali mengesankan
pengamat sebagai memiliki intelegensia yang tinggi.
Kata penipu merupakan istilah lain yang digunakan untuk mewakili penderita dengan
gangguan kepribadian antisosial. Mereka cocok menggunakan skema sebagai seorang penjaja
mudahnya mendapatkan uang atau ketenaran. Dan biasanya mereaka tidak dapat dipercaya
bila diberikan sebuah tugas. Suatu temuan yang jelas adalah tidak adanya penyesalan akan
tindakan tersebut; yaitu, pasien tampak tidak menyadarinya dan ditandai oleh :
a. Bersikap tidak peduli dengan persaan orang lain.
b. Sikap yang amat tidak bertanggung jawab dan menetap dan tidak peduli terhadap
norma, peraturan dan kewajiban sosial.
c. Tidak mampu mempertahankan hubungan agar tetap berlansung lama, meskipun tidak
ada kesulitan untuk mengembangkannya.
d. Mudah menjadi frustasi dan bertindak agresif, termasuk tindak kekerasan.
e. Tidak mampu untuk menerima kesalahan dan belajar dari pengalaman, terutama dari
hukuman.
f. Sangat cenderung menyalahkan orang lain, atau menawarkan rasionalisasi yang dapat
diterima, untuk perilaku yang telah membawa pasien dalam konflik sosial.

Gangguan Kepribadian Disosial | 12

Orang dengan gangguan kepribadian mempunyai kemungkinan lebih besar akan mengalami
kesulitan berupa hal, seperti :
1. Pekerjaan
Orang dengan gangguan kepribadian lebih sering mengalami kesulitan dalam
pekerjaan dibandingkan populasi umum, mereka mungkin akan sering ganti-ganti
pekerjaan.
2. Penyesuaian Diri Dalam Perkawinan
Orang dengan gangguan kepribadian lebih banyak yang mengalami kesulitan dalam
penyesuaian diri dalam perkawinannya.
3. Hubungan Sosial
Orang dengan gangguan kepribadian sering mengalami kesulitan berhubungan sosial
dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin sering bertengkar dengan tetangga, atau teman
sekantor.
4. Kecenderungan Penyalahgunaan Zat
Orang dengan gangguan kepribadian lebih banyak yang menyalahgunakan zat,
terutama alkohol dan narkoba

5. Sering Berurusan Dengan Petugas Hukum


Orang dengan gangguan kepribadian lebih sering berurusan dengan petugas hukum,
seperti polisi.

3.5. Kriteria Diagnostik


Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi keempat (DSM
IV), kriteria diagnosis gangguan kepribadian disosial sebagai berikut:1

Gangguan Kepribadian Disosial | 13

A. Terdapat pola pervasif tidak menghargai dan melanggar hak orang lain yang
terjadi sejak usia 15 tahun, seperti yang ditunjukan oleh tiga (atau lebih)berikut :
1. Gagal untuk mematuhi norma sosial dengan menghormati perilaku sesuai
hokum seperti yang ditunjukan dengan berulang kali melakukan tindakan yang
menjadi dasar penahanan
2. Ketidakjujuran, seperti yang ditunjukan oleh berulang kali berbohong,
menggunakan nama samaran, atau menipu orang lain untuk mendapatakan
keuntungan atau kesenangan pribadi.
3. Impulsivitas atau tidak dapat merencanakan masa depan.
4. Iritabilitas dan agresivitas, seperti yang ditunjukan oleh perkelahian fisik atau
penyerangan yang berulang.
5. Secara sembrono mengabaikan keselamatan diri sendiri atau orang lain.
6. Terus menerus tidak bertanggung jawab, seperti ditunjukan oleh kegagalan
berulang kali untuk mempertahankan perilaku kerja atau

menghormati

kewajiban financial
7. Tidak adanya pnyesalan, seperti yang ditunjukan oleh acuh tak acuh terhadap
atau mencari cari alasan telah disakiti, dianiaya, atau dicuri oleh orang lain.
B. Individu sekurangnya berusia 18 tahun.
C. Terdapat tanda tanda gangguan konduksi dengan onset sebelum usia 15 tahun
D. Terjadinya perilaku antisosial tidak semata mata selama perjalanan skizofrenia
atau suatu episode manic

Berdasarkan PPDGJ III criteria gangguan kepribadian disosial adalah2 :


1. Bersikap tidak peduli dengan perasaan orang lain
2. Sikap yang amat tidak bertanggung jawab dan berlangsung terus menerus, serta tidak
peduli terhadap norma , peraturan, dan kewajiban sosial
3. Tidak mampu memelihara suatu hubungan agar berlangsung lama, meskipun tidak
ada kesulitan untuk mengembangkannya
4. Toleransi terhadap frustasi yang sangat rendah dan ambang yang rendah untuk
melampiaskan agresi, termasuk tindakan kekerasan
5. Tidak mampu mengalami rasa salah dan menarik manfaat dari pengalaman,
khususnya dari hukuman

Gangguan Kepribadian Disosial | 14

6. Sangat cenderung menyalahkan orang lain, atau menawarkan rasionalisasi yang


masuk akal, untuk perilaku yang membuat pasien konflik dengan masyarakat.
Untuk diagnosis dibutuhkan paling sedikit tiga dari diatas.

3.6. Diagnosis Banding1


1. Perilaku illegal
Gangguan kepribadian disosial dapat dibedakan dari perilaku illegal dimana gangguan
kepribadian disosial melibatkan banyak bidang dalam kehidupan seseorang.
2. Penyalahgunaan zat
Sulit

untuk

membedakan

antara

gangguan

kepribadian

anti

sosial

dengan

penyalahgunaan zat . Jika perilaku anti sosial dan penyalahgunaan zat dimulai pada
masa anak-anak dan terus memasuki kehidupan dewasa, kedua gangguan harus
didiagnosis. Tetapi jika perilaku antisosial jelas sekunder terhadap penyalahgunaan zat
lain pramorbid, diagnosis gangguan kepribadian anti sosial tidak diperlukan.

Dalam

mendiagnosis

gangguan

kepribadian

antisosial,

klinisi

harus

mempertimbangkan efek yang mengganggu dari status sosioekonomi, latar belakang kultural,
dan jenis kelamin pada manifestasinya, selain itu diagnosis gangguan kepribadian antisosial
tidak diperlukan jika retardasi mental, skizofrenia, atau mania dapat menjelaskan gejala.

3.7. Penatalaksanaan
1. Terapi Psikoanalitik :
Gangguan kepribadian antisosial membutuhkan terapi tahunan dan mungkin dapat
menjadi masalah seumur hidup. Pasien dengan kepribadian antisosial harus dibantu

Gangguan Kepribadian Disosial | 15

dalam mengenali dan mengendalikan perasaan mereka sendiri. Psikodinamik terapi


jangka panjang harus mentargetkan konflik yang mendasari pasien dengan
kepribadian antisosial untuk mengurangi reaktifitas emosi mereka.
2. Terapi pola pikir :
Terapi yang diarahkan untuk mengurangi gangguan pola pikir pasien kepribadian anti
sosial . Pikiran-pikiran tersebut berupa ketidakmampuan mengendalikan diri untuk
melanggar norma demi kesenangan pribadi. Terapi pola pikir memfokuskan pada
perubahan dari pemikiran global dan sugestif ke pemikiran yang metodik, sistematik
dan terstruktur atas suatu masalah. Terapi ini meningkatkan kemampuan individu
dengan gangguan kepribadian anti sosial agar dapat menyelesaikan masalah sendiri
dengan lebih baik.
3. Terapi kelompok :
Terapi kelompok ditujukan untuk membantu individu dengan gangguan kepribadian
anti sosial agar dapat memperbaiki hubungan interpersonal, yaitu belajar untuk dapat
mengatasi rasa takut pasien terhadap keintiman.
4. Terapi keluarga :
Terapi ini mengarahkan agar individu dengan kepribadian anti sosial untuk dapat
lebih terbuka pada anggota keluarga dibanding menghindari mereka. Dukungan dari
keluarga yang memberikan individu dengan kepribadian antisosial dapat menjadi
dorongan yang kuat bagi individu tersebut untuk menghadapi perilaku merusak diri
sendiri.
5. Farmakoterapi :
Tidak ada farmakoterapi untuk mengobati gangguan kepribadian, namun, medikasi
dapat mengurangi gejala-gejala yang dialami seperti penggunaan antidepresan untuk

Gangguan Kepribadian Disosial | 16

depresi dan keluhan somatik, obat antiansietas untuk kecemasan dan antipsikotik
untuk derealisasi dan ilusi .Jika muncul gangguan hiperaktivitas pasien diberi
psikostimulan seperti methylphenidate (Ritalin)

3.8. Prognosis
Perjalanan penyakitnya tidak mengalami remisi dan puncak perilaku antisosial
biasanya terjadi pada masa remaja akhir. Prognosisnya adalah bervariasi. Laporan
menyatakan bahwa gejala menurun saat pasien menjadi semakin bertambah umur. Banyak
pasien memiliki gangguan somatisasi dan keluhan fisik multiple. Gangguan depresif,
gangguan penyalahgunaan zat dan alcohol adalah sering pada kepribadian anti sosial.

Gangguan Kepribadian Disosial | 17

BAB IV
KESIMPULAN

Kepribadian ialah ekspresi keluar mengenai pengetahuan serta perasaan yang dialami
secara subjektif oleh seseorang dan ekspresi keluar yang dapat diamati ini, menunjuk pada
keseluruhan pola pikiran, perasaan dan perilaku yang sering digunakan oleh orang itu dalam
usaha penyesuaian diri yang terus menerus dalam hidupnya sehingga ia dapat dikenal dari
polanya itu. Pematangan kepribadian dipengaruhi oleh faktor keturunan, faktor badaniah,
psikologik dan sosial, terutama pada masa kanak-kanak.
Gangguan kepribadian anti sosial adalah perilaku maladaptive yang ditandai oleh
tindakan antisosial atau kriminal yang terus menerus, tetapi tidak sinonim dengan
kriminalitas. Gangguan ini adalah ketidakmampuan untuk mematuhi norma sosial yang
melibatkan banyak aspek perkembangan remaja dan dewasa pasien. Ciri pokok kelainan anti
sosial adalah riwayat tingkah laku anti sosial terus menerus yang merupakan pelanggaran

Gangguan Kepribadian Disosial | 18

hak-hak orang lain. Penderita tidak bertanggung jawab, tabiat misantropik atau kurang
manusiawi, sering kehilangan pekerjaan dan mempunyai kebiasaan menipu.
Gangguan kepribadian antisosial harus dibedakan dari perilaku ilegal dimana
gangguan kepribadian antisosial melibatkan banyak bidang dalam kehidupan seseorang.
Untuk mendiagnosis gangguan kepribadian antisosial harus mempertimbangkan efek yang
mengganggu dari status sosioekonomi, latar belakang kultural, dan jenis kelamin pada
manifestasinya, selain itu diagnosis gangguan kepribadian antisosial tidak diperlukan jika
retardasi mental, skizofrenia, atau mania dapat menjelaskan gejala.
Prognosis gangguan kepribadian anti sosial adalah bervariasi.Gejala dapat menurun
saat pasien menjadi semakin bertambah umur. Banyak pasien memiliki gangguan somatisasi
dan keluhan fisik multiple. Gangguan depresif, gangguan penyalahgunaan zat dan alcohol
adalah sering pada kepribadian anti sosial.
Penatalaksanaan dapat berupa psikoterapi dan farmakoterapi untuk menghadapi gejala
seperti kecemasan, penyerangan dan depresi.

Gangguan Kepribadian Disosial | 19

Daftar Pustaka

1.

C. Robert Cloninger, M.D., Dragan M. Svrakic, M.D., PH.D.; Personality Disoreders,


Kaplan & Sadock's Comprehensive Textbook of Psychiatry 7th Edition, Chapter 24;
William and Wilkins; Baltimore USA ; 1991.

2.

Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa. Edisi III. Direktorat Jenderal
Pelayanan Medik Departemen Kesehatan R.I.: 1993. P51&103

3.

Maslim, Rusdi. Diagnosis Gangguan Jiwa. Buku Saku Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III.

4.

http://www.indonesiaindonesia.com/f/90221-penyebab-gangguan-kepribadian-antisosial/

5.

David Bienenfeld, MD; Personality Disorders,


http://www.emedicine.com/med/topic3472.htm

Gangguan Kepribadian Disosial | 20