Anda di halaman 1dari 5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kesetimbangan Cair-Cair
Data eksperimen LLE biner dan terner dapat dikorelasikan dengan persamaan
kelebihan energi standar Gibbs. Namun, kemampuan prediksi dari persamaan ini
belum dipelajari secara luas. Dalam tulisan ini, kita mempelajari efektivitas di mana
persamaan Gibbs ini dapat digunakan untuk memprediksi LLE terner dari LLE biner.
Kesetimbangan

cair-cair

(Liquid

Liquid

Equilibrium)

dalam

sistem

yang

mengandung cairan ionik (Ionic Liquid) adalah penting dalam mengevaluasi IL


sebagai calon menggantikan ekstraksi tradisional dan pelarut pemisah. Meski
peningkatan jumlah data percobaan kesetimbangan cair-cair tersedia, cakupan yang
luas dari fase cair terner melalui pengamatan eksperimen adalah mustahil. Oleh
karena itu, penting untuk memodelkan LLE yang mengandung IL (Carry, 2008).
2.2 Ekstraksi Cair-Cair
Ekstraksi cair-cair atau yang dikenal dengan ekstraksi solvent merupakan proses
pemisahan dasa cair yang memanfaatkan perbedaan kelarutan zat terlarut yang akan
dipisahkan antara larutan asal dan pelarut pengekstrak (solvent). Aplikasi ekstraksi
cair-cair terbagai menjadi dua kategori yaitu aplikasi yang bersaing langsung dengan
operasi pemisahan lain dan aplikasi yang tidak mungkin dilakukan oleh operasi
pemisahan lain. Apabila ekstraksi cair-cair menjadi operasi pemisahan lain, maka
biaya akan menjadi tolak ukur yang sangat penting. Distilisai dan evaoprasi
merupakan operasi pemisahan yang produknya berupa senyawa-senyawa murni
sedangkan operasi ekstraksi cair-cair menghasilkan campuran senyawa-senyawa
sebagai produk. Hal inilah yang menyebabkan ekstraksi relatif lebih mahal
dibandingkan dengan operasi pemisahan lain. Akan tetapi ekstraksi cair-cair menjadi
operasi pemisahan yang unggul ketika larutan-larutan yang akan dipisahkan
mempunyai kemiripan sifat-sifat fisikanya yaitu titik didih yang perbedaanya relatif
kecil. Keungggulan lain dari ekstraksi cai-cair ini adalah dapat memisahkan sistem
yang memiliki sensitifitas terhadap temperatur dan kebutuhan energinya relatif kecil.
Prinsip dasar ekstaksi cair-cair ini melibatkan pengontakan suatu larutan dengan
pelarut (solvent) lain yang tidak saling melarut (immisible) dengan pelarut asal yang
mempunyai densitas yang berbeda sehingga akan membentuk dua fasa beberapa saat
setelah penambahan solvent. hal ini menyebabkan terjadinya perpindahan massa dari

pelarut asal ke pelarut pengekstrak (solvent). perpindahan zat terlarut ke dala pelarut
baru yang diberikan, disebabkan oleh adanya daya dorong (diring force) yang
meuncul akibat adanya beda potensial kimia antara kedua pelarut. Sehingga proses
ekstraksi cair-cair merupakan perpindahan massa yang berlangsung secara difusional
(Mirwan, 2013).
2.3 Hubungan Densitas dan Fraksi Massa
Massa mi dari semua molekul spesies i berkaitan dengan jumlah mol dengan:
mi= Wi ni ,
i=1,2,...,k
(Peters, 2010)
dimana Wi adalah berat molekul dari spesies i. Massa total semua molekul dalam
campuran adalah
k

m= m i
i=1

(Peters, 2010)

Fraksi massa dari spesies i sekarang di definisikan


m
Y i= i , i=1,2, , k
m

(Peters, 2010)

Densitas dan densitas parsial di definisikan


m
m
= , i = i = Yi , i=1,2,,k
v
V

(Peters, 2010)

Densitas Molar parsial berkaitan dengan densitas parsial dan fraksi massa
dengan:

[ X i ] = Wi

=
i

Y i
, i=1,2,,k
Wi

(Peters, 2010)
=

1
n

xii
1

merupakan densitas campuran dari beberapa larutan, xi adalah fraki


massa larutan i dan i, adalah densitas dari i
Dimana

Rumus lain untuk mencari densitas yaitu :


n

= xi i
o

(Martin, 2012).

2.4 Teori Sampel


2.4.1 Benzena

Benzena ditemukan oleh Faraday kemudian rumus molekulnya ditetapkan oleh


Mitscherlich sebagai C6H6. Rumus bangun benzena berupa segi enam datar dengan
ikatan rangkap selang-seling, dimana jarak antar atom C sama besar yaitu 1,39 A o
dan dengan sudut ikatan 120o. Pembuatan benzena biasanya dibuat dengan
polimerisasi asetilena, distilasi bertingkat batubara dan hidroealkilasi toluena.
Benzena memiliki titik didih 80,1o dengan densitas 0,905 gr/cm3 dan dapat larut
dalam aseton tetapi tidak dapat larut dalam pelarut air (Hasibuan, 2011).
2.4.2 Asam Asetat
Asam asetat atau lebih dikenal sebagai asam cuka (CH 3COOH ) adalah suatu
senyawa berbentuk cairan, tak berwarna, berbau menyengat, memiliki rasa asam
yang tajam dan larut didalam air, alkohol, gliserol, eter. Pada tekanan atmosferik,
titik didihnya 118,1oC. Asam asetat mempunyai aplikasi yang sangat luas di bidang
industri dan pangan. Di Indonesia kebutuhan asam asetat masih harus diimport,
sehingga perlu diusahakan kemandirian dalam penyediaan bahan tersebut.
Proses produksi asam asetat dapat dilakukan secara kimiawi dan biologis.
Proses kimiawi produksi asam asetat yang banyak dilakukan adalah oksidasi butana.
Untuk kebutuhan pangan, produksi asam asetat harus dilakukan melalui proses
biologis, salah satunya adalah fermentasi dari bahan baku alkohol. Fermentasi
dilakukan dengan menggunakan bakteri dari genus Acetobacter dalam kondisi
aerobik. Salah satu spesies yang banyak digunakan untuk fermentasi asam asetat
adalah Acetobacter aceti (Hardoyo, dkk., 2007).
2.4.3 Natrium Hidroksida
Natrium hidroksida merupakan suatu basa kuat yang sangat mudah larut dalam
air. Senyawa ini biasa disebut sebagai soda kaustik, atau soda api karena sifatnya
yang terasa panas dan licin jika terkena kulit. NaOH merupakan senyawa ionic yang
memiliki titil lebur 3180C dan titik didih 13900C. NaOH sangat mudah larut dalam
air dan kelarutannya bersifat eksotermis. NaOH dapat dibuat dengan elektrolisis
brine (larutan NaCl, garam dapur). NaOH banyak digunakan didalam laboratorium

kimia adalah untuk reagen sumber ion hidroksida, OH-. Hal ini berdasarkan
pertimbangan bahwa basa NaOH sangat mudah larut. Selain itu, NaOH juga banyak
digunakan sebagai standar sekunder pada eksperimen titrasi asam basa. Akan tetapi,
penyimpanan larutan NaOH yang telah distandarisasi harus dalam ruang tertutup
karena sifat NaOH yang bersifat higroskopis membuta larutannya juga mudah untuk
menyerap gas CO2 dalam atmosfer. Hal ini akan mempengaruhi konsentrasi larutan
NaOH sendiri. Dalam laboratorium kimia organic, nNaOH juga sering digunakan
sebagai reagen basa disamping KOH.
Dalam dunia industri, NaOH banyak digunakan dalam industri pembuatan
sabun, detergen, industri tekstil, pemurnian minyak bumi, dan pembuatan senyawa
natrium lainnya. Berdasarkan sifatnya yang merupakan basa, NaOH banyak
digunakan sebagai bahan pembuat sabun. NaOH dapat menyabunkan kotorankotoran yang menempel di suatu bahan, missal piring. Kotoran yang kebanyakan
berupa lemak akan disabunkan oleh NaOH sehingga sabun hasil reaksi penyabunan
ini akan larut dalam air membentuk misel. Tetapi sekarang ini sabun yang
menggunakan bahan aktif basa NaOH sudah tidak banyak lagi digunakan, karena
sabun ini akan menjadi tidak aktif jika air yang digunakan bersifat sadah (Hanna,
2010).
2.4.4 Aquadest
Air adalah zat cair yang tidak mempunyai rasa, warna dan bau, yang terdiri dari
hidrogen dan oksigen dengan rumus kimiawi H2O. Karena air merupakan suatu
larutan yang hampir-hampir bersifat universal, maka zat-zat yang paling alamiah
maupun buatan manusia hingga tingkat tertentu terlarut di dalamnya. Sifat fisis dari
air yaitu didapatkan dalam ketiga wujudnya, yakni, bentuk padat sebagai es, bentuk
cair sebagai air, dan bentuk gas sebagai uap air. Bentuk mana yang akan didapatkan,
tergantung keadaan cuaca yang ada setempat. Sifat kimia dari air yaitu mempunyai
pH=7 dan oksigen terlarut (=DO) jenuh pada 9 mg/L. Air merupakan pelarut yang
universal, hampir semua jenis zat dapat larut di dalam air. Air juga merupakan cairan
biologis, yakni didapat di dalam tubuh semua organisme (Nuri, 2010).