Anda di halaman 1dari 13

KANDUNGAN KIMIA PUPUK ORGANIK CAIR DARI URINE SAPI

MENGGUNAKAN BIANG PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria)


BATANG PISANG SEBAGAI PENGGANTI EM4

NASKAH PUBLIKASI

Disusun Oleh :
ARINI PRAMESTHI DAMAYANTI
A 420 090 027

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2013

SURAT PERNYATAAN
PUBLIKASI KARYA ILMIAH

Bismillahirrahmanirrohim
Yang bertanda tangan dibawah ini, saya:
Nama
: ARINI PRAMESTHI DAMAYANTI
NIM
: A 420 090 027
Fak/ Prodi
: FKIP / BIOLOGI
Jenis
: Skripsi
Judul
: KANDUNGAN KIMIA PUPUK ORGANIK CAIR DARI
URINE SAPI MENGGUNAKAN BIANG PGPR (Plant Growth
Promoting Rhizobacteria) BATANG PISANG SEBAGAI
PENGGANTI EM4
Dengan ini menyatakan bahwa saya menyetujui untuk :
1. Memberikan hak bebas royalti kepada perpustakaan UMS atas penulisan karya
ilmiah saya, demi pengembangan ilmu pengetahuan.
2. Memberikan hak menyimpan, mengalih mediakan/ mengalih formatkan, mengelola
dalam bentuk pangkalan data (database), mendistribusikan serta menampilkannya
dalam bentuk softcopy untuk kepentingan akademis kepada Perpustakaan UMS,
tanpa perlu meminta ijin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya
sebagai penulis/ pencipta.
3. Bersedia dan menjamin untuk menanggung secara pribadi tanpa melibatkan pihak
Perpustakaan UMS, dari semua bentuk tuntutan hukum yang timbul atas
pelanggaran hak cipta dalam karya ilmiah ini.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan semoga dapat
digunakan sebagaimana mestinya.

Surakarta, 3 Juni 2013


Yang Menyatakan

Arini Pramesthi Damayanti


A 420 090 027

ABSTRAK
KANDUNGAN KIMIA PUPUK ORGANIK CAIR DARI URINE SAPI
MENGGUNAKAN BIANG PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria)
BATANG PISANG SEBAGAI PENGGANTI EM4
Arini Pramesthi Damayanti, A420090027, Program Studi Pendidikan Biologi,
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta,
2013, 35 halaman.
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kandungan kimia pupuk organik cair dari
urine sapi menggunakan biang PGPR batang pisang sebagai pengganti EM4. Penelitian
ini dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor yaitu
dengan perlakuan B1: 0,12%; B2:1,23%; B3:5% dan 3 kali ulangan dalam setiap
perlakuan. Pembuatan pupuk organik cair dari urin sapi perah dengan menambahkan
biang PGPR batang pisang dengan konsentrasi yang berbeda untuk membantu proses
fermentasi selama 14 hari. Parameter dalam penelitian ini yaitu uji kandungan kimia N,
P dan K pada pupuk organik cair setelah difermentasi selama 14 hari. Teknik
pengumpulan data dengan menggunakan metode eksperimen dan dokumentasi. Teknik
analisis data menggunakan uji Anova satu jalur, namun dikarenakan data atau sampel
uji kandungan kimia tidak berdistribusi nornal maka menggunakan uji Kruskal-Wallis.
Berdasarkan analisis kandungan kimia yang diperoleh menghasilkan rata-rata
kandungan N pada B1: 0,22%; B2: 0,25% dan B3: 0,30%. Untuk rata-rata kandungan P
pada B1: 29,9 ppm; B2: 29,9 ppm dan B3: 25,9 ppm. Sedangkan rata-rata kandungan K
pada B1 : 384,5 ppm; B2: 274,1 ppm dan B3 : 347,7 ppm. Hasil perhitungan dengan uji
Kruskal-Wallis didapatkan perbedaan bermakna antara B1, B2 dan B3 dengan mean rank
B1: 14.50, B2 : 13.72 dan B3 :13.78. Akan tetapi, tidak didapatkan perbedaan bermakna
antar masing masing kelompok eksperimental. Berdasarkan hasil uji Kruskal-Wallis,
maka H0 diterima dan Ha ditolak yang berarti tidak ada pengaruh signifikan biang PGPR
batang pisang terhadap kandungan kimia (N,P dan K) pupuk organik cair. Hal tersebut
dapat diindikasikan dari Asym Sig yang lebih besar dari kriteria 0,05 (0,973 > 0,05)
dan nilai Chi-Square hitung < Chi-Square tabel (0,054 < 5,591). Dari hasil penelitian
dapat disimpulkan tidak ada kandungan kimia N, P dan K pada pupuk organik cair dari
urin sapi sebagai pengganti EM4 dalam proses fermentasi selama 14 hari.

Kata Kunci : Kandungan Kimia, Pupuk Organik Cair, Urine Sapi, PGPR Batang Pisang.

A. PENDAHULUAN
Peternakan sapi perah sudah banyak tersebar di seluruh Indonesia, dan
di Jawa Tengah, Kabupaten Boyolali merupakan daerah terkenal dengan usaha
pengembangan sapi perah. Dari peternakan sapi perah tersebut banyak
mendatangkan keuntungan, antara lain susunya sebagai sumber protein dan
kalsium yang menyehatkan untuk diminum dan dapat diolah menjadi berbagai
macam makanan. Selain susu, peternakan sapi juga menghasilkan limbah yang
berupa kotoran sapi (feses) dan air seni sapi (urine) yang mengganggu
lingkungan sekitar peternakan.
Urin sapi dapat diolah menjadi pupuk organik cair. Sebelum digunakan
sebagai pupuk pertanian, urin sapi ini sebaiknya di fermentasi terlebih dahulu.
Pada proses fermentasi urin sapi, menggunakan bantuan bakteri dekomposer
atau bioaktivator seperti EM4 (Effective Microorganism) yang dapat dibeli di
toko pertanian kurang lebih dengan harga Rp 20.000/ liter. Menurut Setiawan
(2012),

kandungan EM4

(Effective

Microorganism)

tersebut

adalah

mikroorganisme Lactobacillus sp., bakteri penghasil asam laktat, serta dalam


jumlah sedikit bakteri fotosintetik Streptomyces sp. dan ragi. Kultur campuran
dari mikroorganisme yang mampu mempercepat proses pengomposan. Jumlah
dan jenis mikroorganime

juga mempengaruhi proses pengomposan. Pada

penelitian Kurniadinata (2008), dalam pembuatan pupuk urin sapi (pupuk cair)
pada proses fermentasi menggunakan EM4 (Effective Microorganism) 1 liter
ke dalam 100 liter urin sapi. Setelah kurang dari 7 hari pupuk urin sapi telah
dapat digunakan dengan indikator pupuk urin terlihat kehitaman.
Untuk membantu proses fermentasi selain menggunakan EM4
(Effective Microorganism) dapat menggunakan biang PGPR (Plant Growth
Promoting Rhizobacteria) yang merupakan dekomposer fungsinya sebagai
starter alami, seperti yang dilakukan kelompok warung tani mandiri (2011),
membuat pupuk organik cair berbasis urin. Mereka memanfaatkan urine sapi,
kelinci dan kambing yang difermentasikan selama 2 minggu dengan bantuan
biang PGPR bonggol pisang dan sabut kelapa. Sabut kelapa berfungsi untuk

meningkatkan kandungan Kalium, sedangkan bonggol pisang untuk


meningkatkan unsur Phospat, Si dan mikro elemen lainnya.
Plant Growth Promoting Rhizobakteri adalah sejenis bakteri yang
hidup di sekitar perakaran tanaman. Bakteri ini memberi keuntungan dalam
proses fisiologi tanaman dan pertumbuhannya. Fungsi PGPR bagi tanaman
yaitu mampu memacu pertumbuhan dan fisiologi akar serta mampu
mengurangi penyakit atau kerusakan oleh serangga. PGPR juga dapat
memproduksi hormon tanaman, menambah bakteri dan cendawan yang
menguntungkan serta mengontrol hama dan penyakit tumbuhan (Wiwana,
2012). Menurut Setiawan (2012), macam-macam bahan yang terdapat
mikroorganisme lokal meliputi rebung, nanas, akar bambu, bonggol pisang,
sabut kelapa, akar jagung, akar rumput gajah, akar putri malu dan lain
sebagainya. Salah satu bahan yang akan digunakan penelitian yaitu batang
pisang atau bonggol pisang.
Secara global terdapat beberapa golongan mikroorganisme pokok
dalam bioaktivator, yaitu bakteri fotosintetik, Lactobacillus sp., Steptomycetes
sp., ragi (yeast), dan Actinomycetes (Setiawan, 2012). Dalam bonggol pisang
mengandung tujuh mikroorganisme yang sangat berguna bagi tanaman
yaitu Azospirillium, Azotobacter, Bacillus, Aeromonas, Aspergillus, mikroba
pelarut phospat dan mikroba selulotik. Tidak hanya itu, mikroorganisme
bonggol pisang juga tetap bisa digunakan untuk bioaktivator atau
mempercepat proses pengomposan (Anonim, 2012). Bedasarkan penelitian
Wahyusi (2008), limbah pohon pisang dapat dijadikan bahan baku pembuatan
pupuk sintetis TSP dan NPK. Dilihat dari komposisi kimianya, bonggol pisang
mengandung phosphor cukup banyak sehingga dapat dimanfaatkan bahan
baku pupuk.
Pada penelitian ini dapat dilakukan pembuatan pupuk organik cair dari
urin sapi menggunakan batang pisang sebagai starter dalam proses fermentasi
urin sapi. Kemudian pupuk organik tersebut dilihat kandungan kimianya yaitu
meliputi N, P dan K. Karena kandungan kimia N, P dan K tersebut merupakan

unsur hara makro penting untuk tanaman. Menurut Hadisuwito (2012), unsur
N (nitrogen) merupakan unsur hara di dalam tanah yang sangat berperan bagi
pertumbuhan tanaman. Selain unsur N, bahan organik juga membantu
menyediakan unsur P (fosfor), unsur P sangat penting sebagai sumber energi.
Unsur K (kalium) berperan penting dalam pembentukan antibodi tanaman
untuk melawan penyakit.
B. METODE PENELITIAN
Penelitian pembuatan pupuk organik cair

dari urin sapi

dilaksanakan di Green House FKIP Biologi, Universitas Muhammadiyah


Surakarta. Tempat uji kandungan kimia pupuk organik cair dari urin sapi di
Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Universitas Sebelas Maret.
Penelitian ini terdiri dari 2 variabel yaitu variabel bebas: konsentrasi biang
PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) batang pisang.Variabel
terikat: kandungan kimia pupuk organik cair dari urin sapi (N,P dan K).
Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap
(RAL) dengan satu faktor, yaitu konsentrasi PGPR batang pisang dengan 3
taraf perlakuan dan 3x ulangan. B1= 0,12% PGPR batang pisang, B2= 1,23%
PGPR batang pisang, B3 = 5% PGPR batang pisang.
Dalam penelitian untuk mendapatkan data, peneliti menggunakan
teknik pengumpulan data menggunakan metode yaitu :
1. Eksperimen yaitu uji kandungan N menggunakan metode kjeldhal, uji
kandungan P dan K menggunakan menggunakan metode spectrofotometri.
2. Metode Dekumentasi, yaitu mendokumentasi ketika penelitian berlangsung
menggunakan kamera.

C. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


1. Hasil
Hasil penelitian kandungan kimia (N,P dan K) pupuk organik cair dari
urin sapi menggunakan biang PGPR batang pisang sebagai pengganti EM 4.

Tabel 4.1 Hasil Rata-rata Analisis Pupuk Organik Cair


Perlakuan

Rata-rata Kandungan Kimia Pupuk Organik Cair


N (%)

P (ppm)

K (ppm)

B1

0,2

29,9

384,5

B2

0,3

29,9

274,1

B3

0,3

25,9

347,7

Keterangan :
B1 : 0,12% Biang PGPR batang pisang
B2 : 1,23% Biang PGPR batang pisang
B3 : 5% Biang PGPR batang pisang

Pupuk organik cair dari urine sapi perah difermentasikan selama 14


hari, hasil rata-ratanya dapat dilihat pada tabel 4.1 dan dari rata-rata data
penelitian yang diperoleh, kandungan N paling tinggi rata-ratanya yaitu pada
perlakuan B2 dan B3. Pada kandungan P menghasilkan rata-rata paling tinggi
yaitu pada perlakuan B1 dan B2, sedangkan kandungan K rata-rata paling
tinggi yaitu pada perlakuan B1. Untuk mengetahui lebih jelas hasil rata-rata
dari kandungan N, P dan K pupuk organik cair dari urine sapi dapat dilihat
pada grafik 4.2 dan hasil pupuk organik cair dari urin sapi menggunakan
biang PGPR batang pisang sebagai pengganti EM4 dapat dilihat pada gambar
4.3.

kandungan
rata-rata
N,P dan K
pupuk
organik cair

450
400
350
300
250
200
150
100
50
0
B1

B2
Perlakuan

B3

N (%)
P (ppm)
K (ppm)

Gambar 4.2 Grafik Kandungan rata-rata N, P dan K pupuk organik cair dari urin sapi
menggunakan biang PGPR batang pisang sebagai pengganti EM4.

Gambar 4.3 Hasil fermentasi urin sapi menggunakan biang PGPR batang pisang selama
14 hari.

Untuk uji hipotesis menggunakan Anova satu jalur dengan program


komputer SPSS 17.0. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel 4.4.
Tabel 4.4 Hasil uji normalitas
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova
konsentrasi
hasil

Statistic

df

Sig.

Shapiro-Wilk
Statistic

df

Sig.

B1

.370

.001

.703

.002

B2

.333

.005

.733

.003

B3

.357

.002

.708

.002

a. Lilliefors Significance Correction

Bedasarkan uji normalitas kolmogorov-smirnov dengan keterangan adalah


sama dengan uji lilliefors dilihat tanda a di bawah tabel. Didapatkan untuk
hasil kandungan N, P dan K dengan konsentrasi biang PGPR batang pisang
B1, B2 dan B3 nilai probabilitas di bawah 0.05 (0.001, 0.005 dan 0.002) maka
dapat dikatakan data hasil tidak berdistribusi normal pada tingkat
kepercayaan 95%. Untuk shapiro-wilk didapatkan hasil kandungan N, P dan
K dengan konsentrasi biang PGPR batang pisang B1, B2 dan B3 nilai

probabilitas di bawah 0.05 (0.002, 0.003 dan 0.002) maka dapat dikatakan
data tidak berdistribusi normal pada tingkat kepercayaan 95%. Untuk uji
homogenitas dapat dilihat pada tabel 4.5.
Tabel 4.5 Hasil uji homogenitas
Test of Homogeneity of Variances
hasil
Levene Statistic

df1

.684

df2

Sig.

24

.514

Untuk uji homogenitas diketahui nilai probabilitas > 0.05 yaitu 0.514, maka
dapat disimpulkan bahwa hasil uji homogenitas mempunyai varian yang
sama. Menurut Sugiyono (2001), dari data yang dihasilkan pada uji
normalitas tidak berdistribusi normal, sehingga analisis data menggunakan
statistik non-parametrik yaitu Kruskall-Wallis atau Uji H. Adapun hasil
analisis menggunakan Kruskall-Wallis yang dilakukan dengan program
komputer SPSS 17.0.
Tabel 4.6 Hasil uji Kruskal- Wallis
konsentrasi
PGPR batang
pisang
hasil

Mean Rank

B1

14.50

B2

13.72

B3

13.78

Total

27

Bedasarkan Tabel 4.6. Menunjukkan bahwa Hasil uji Kruskal-Wallis


didapatkan perbedaan bermakna antara B1, B2 dan B3 dengan mean rank B1:
14.50, B2 : 13.72 dan B3 :13.78. Akan tetapi, tidak didapatkan perbedaan
bermakna antar masing masing kelompok eksperimental.

Tabel 4.7. Test Statisticsa,b


Hasil
Chi-Square
.054
Df
2
Asymp. Sig.
.973
a. Kruskal Wallis Test
b. Grouping Variable:
konsentrasi PGPR batang
pisang

Berdasarkan hasil uji Kruskal Wallis, maka H0 diterima dan Ha ditolak yang
berarti tidak ada pengaruh signifikan biang PGPR batang pisang terhadap
kandungan kimia (N,P dan K) pupuk organik cair. Hal tersebut dapat
diindikasikan dari Asym Sig yang lebih besar dari kriteria 0,05 (0,973 >
0,05) dan nilai Chi-Square hitung < Chi-Square tabel (0,054 < 5,591).
2. Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa biang PGPR batang pisang
dapat membantu proses fermentasi urin sapi sebagai pupuk organik cair,
sesuai dengan pendapat Anonim (2012), bonggol pisang mengandung Zat
Pengatur Tumbuh Giberellin dan Sitokinin. Selain itu dalam bonggol pisang
tersebut juga mengandung 7 mikroorganisme yang berguna bagi tanaman
yaitu

: Azospirillium, Azotobacter, Bacillus, Aeromonas, Aspergillus,

mikroba pelarut phospat dan mikroba selulotik. Tidak hanya itu MOL (Mikro
Organisme Lokal) bonggol pisang juga tetap bisa digunakan untuk
dekomposer atau mempercepat proses pengomposan. Hal tersebut terlihat
pada hasil akhir penelitian, pupuk organik cair tidak berbau menyengat urin
sapi dan berwarna coklat pekat/ kehitaman seperti dalam penelitian
Kuniadinata (2008). Setelah 7 hari pupuk urin sapi telah dapat digunakan
dengan indikator pupuk urin terlihat coklat kehitaman.
Hasil penelitian kandungan kimia N, P dan K menggunakan biang
PGPR batang pisang sebagai pengganti EM4 menunjukkan tidak ada
kandungan N, P dan K pada pupuk organik cair dari urin sapi. Pada
kandungan P dan K memiliki rata-rata yang tidak koefisien antara ulangan I,
II, dan III. Hal yang mempengaruhi tersebut ketika proses pembuatan pupuk
8

cair yaitu inokulan unsur P dan K yang ada kurang mampu melarutkan unsur
P dan K, selain itu pengambilan sampel ketika akan diuji di laboratorium juga
dapat

mempengaruhi.

Karena

berdasarkan

pada

penelitian

dan

pengembangan pertanian Warta (2008), memasukkan fermenter 0,12% dari


urin ternak menghasilkan kandungan N 0,89%, P 89 ppm, K 1.770 ppm.
Meningkatnya kandungan N disebabkan mikroba Azotobacter pada batang
pisang yang digunakan untuk fermentasi mampu mengikat N dari udara,
sedangkan Bacillus yang terdapat pada batang pisang lebih berperan dalam
peningkatan kadar K dan C-organik. Kandungan P yang rendah disebabkan
inokulan yang ada kurang mampu melarutkan P.
Faktor yang menimbulkan tidak adanya pengaruh PGPR batang pisang
terhadap kandungan N, P dan K pada pupuk organik cair dari urin sapi yaitu
tidak dilakukan segera uji kimia setelah proses 14 hari fermentasi selesai.
Seperti pada penelitian Rahayu & Nurhayati (2005) penggunaan dekomposer
dapat mempengaruhi pengomposan. Proses pengomposan selama 15 hari
dapat menghasilkan kualitas tidak berbeda nyata dengan lama pengomposan
selama 20 hari. Namun, dalam penelitian ini setelah 14 hari proses
fermentasi, hari ke-28 baru dilakukan uji kimia hal ini dikarenakan faktor
pergantian penggunaan laboratorium.
D. SIMPULAN
Berdasarkan analisis data dan pembahasan di atas, maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut :
Berdasarkan analisis data dan pembahasan di atas, maka dapat diambil
kesimpulan bahwa tidak ada kandungan kimia (N, K dan P) pupuk organik
cair dari urine sapi menggunakan biang PGPR batang pisang sebagai
pengganti EM4 dalam proses fermentasi selama 14 hari.
E. DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Apa Kehebatan MOL Bonggol Pisang. http://www.apakehebatan-mol-bonggol-pisang.html. Diakses tanggal 30 Nopember
2012.

Hadisuwito, Sukamto. 2012. Membuat Pupuk Organik Cair. Jakarta : Agro


Media Pustaka.
Kurniadinata, Ferry. 2008. Pemanfaatan Feses dan Urin Sapi Sebagai Pupuk
Organik Dalam Perkebunan Kelapa Sawit ( Elaeis guineensis Jacg.).
Samarinda : Universitas Mulawarman Kalimantan Timur.
Rahayu, Murni .S & Nurhayati. 2005. Penggunaan EM4 Dalam Pengomposan
Limbah Teh Padat. Medan : Fakultas Pertanian Universitas Islam
Sumatra Utara.
Setiawan. 2000. Memamfaatkan Kotoran Ternak. Jakarta : Penebar Swadaya.
Sugiyono. 2001. Statistik Nonparametris. Bandung : Alfabeta.
Wahyusi, Kindriari .N. 2008. Pemanfaatan Bonggol Pisang Untuk Pembuatan
Asam Phospat. Surabaya : Fakultas Teknik Kimia FTIUPN Veteran
Jawa Timur.
Warta Penelitian dan Pengembangan. Vol. 30 No.6. 2008. Membuat Pupuk
Cair Bermutu dari Limbah Ternak, hal. 5.
Warung Tani Mandiri. 2011. Membuat Pupuk Organik Cair Berbasis
Urine.http://www.Membuat-Pupuk-Organik-Cair-Berbasis-Urine.html.
Diakses tanggal 18 Januari 2013.
Wiwana. 2012. PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria).
http://www.PGPR (Plant Growt Promoting Rhizobacteria)
keloposongo.html. Diakses tanggal 19 Oktober 2012.
Yuliarti, Nurheti. 2009. 1001 Cara Menghasilkan Pupuk Organik. Yogyakarta
: Andi Offset.

10