Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN KASUS

TOTAL ANESTESI INTRAVENA PADA


KURETASE

Disusun Oleh :
Nama : Apresia Kirana Sari
NIM : 1161050001
Pembimbing : dr. Robert Sirait. Sp. An.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Anestesi


Periode 29 Februari - 2 April 2016

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN


INDONESIA

BAB I
LAPORAN KASUS
TEKNIK ANESTESI PADA KURETASE

1.1 RESUME
Pasien datang ke IGD RS Pelabuhan pada tanggal 14 Maret 2016 dengan
keluhan keluar darah banyak dari kemaluan sejak 3 jam sebelum masuk rumah
sakit, pasien mengaku sedang hamil 10 minggu dan 3 jam yang lalu terjatuh saat
sedang bekerja di sebuah restoran. Darah tidak berhenti dan pasien merasa lemas.
Lalu dokter IGD mengkonsulnya ke bagian Obsgyn. OS tidak merasakan demam,
tidak merasakan mual ataupun muntah. OS mengaku bahwa BAK dan BAB
normal. Hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pada bagian obsgyn
menunjukkan bahwa pasien mengalami abortus inkomplit dan direncanakan untuk
dilakukan kuretase. kuretase dilakukan pada tanggal 14 Maret 2016 dengan teknik
anestesi TIVA, dengan lama kuretase dan lama anestesi selama 30 menit.

A. SUBJEKTIF
Identitas pasien

Nomor MR
Tanggal masuk
Tanggal operasi
Nama pasien
Alamat
Umur

: 487180
: 14 Maret 2016
: 14 Maret 2016
: Ny. R
: Kayu Tinggi RT 001/004
: 22 tahun

Jenis Kelamin
: Perempuan
Berat badan
: 47 kg
Tinggi Badan
: 150 cm
Diagnosis pra bedah : Abortus Inkomplit dengan Anemia
Jenis pembedahan
: Kuretase
Diagnosis pasca bedah : Post kuretase atas indikasi abortus inkomplit

dengan anemia
Jenis anestesi
: TIVA
Lama operasi
: 20 menit
Lama anestesi
: 30 menit
Keadaan Pra Bedah :
Suhu

: 36,8 C

Nadi

: 72 x/menit

Tensi

: 110/70 mmHg

Berat Badan : 47 kg
Tinggi Badan : 150 cm
Pemeriksaan Darah rutin
Tanggal 14 Maret 2016
Hb

: 7.7 g/dL

Ht

: 26.4 %

Eritrosit

: 4.24 x 106 / L

Leukosit : 9200 /L
Trombosit : 255000 /L

MCV

: 76 fL

MCH

: 25 pg

MCHC

: 33 g/dL

Airway/Respiratory :
Clear; snoring (-), gurgling (-), crowing (-), BND vesikuler, Rhonki
-/-, Wheezing -/-, gigi bolong (-), gigi palsu (-), riwayat asma (-),
riwayat alergi (-), mallampati 1.
Sirkulasi :
Akral hangat, CRT < 2, sianosis (-), BJ I & II reguler, murmur (-),
gallop (-), riwayat penyakit jantung (-), riwayat hipertensi (-).
Saraf :
Kesadaran compos mentis, GCS E4V5M6, riwayat kejang (-), riwayat
stroke (-), riwayat penyakit saraf (-).
Gastro Intestinal :
Nyeri tekan kanan bawah (+), mual-muntah (-), riwayat maag (-).
Renal : Kateter (-), CVA -/Metabolik : Riwayat DM (-), GDS 92 mg/dl
Hati : Riwayat hepatitis (-)

Status fisik : ASA II


Medikasi pra bedah :

Intraoperatif
Anestesi dengan
: Propofol 100 mg dan fentanyl 100 mcg
Relaksasi dengan
: Teknik Anestesi
: TIVA
Respirasi
: Spontan, SpO2 : 100%
Posisi
: Supine
Infus
: Asering
Komplikasi selama pembedahan : Keadaan akhir pembedahan: Kesadaran kompos mentis, TD:

110/70 mmHg, N: 72 x/menit, SpO2 100%.


Hipersensivitas/ alergi : (-)
Penggunaan obat-obatan selama operasi :

Medikasi
1. Propofol 100 mg
2. Fentanyl 50 mcg

Jumlah Medikasi
Propofol 100 mg
Fentanyl 50 mcg

Jumlah Cairan Transfusi

Pendarahan
100 cc

Cairan durante op : 500 cc

Tindakan Post Operatif

Bila kesakitan : inj. Ketorolac 20 mg (IV)

Bila mual atau muntah : inj. Ondansentron 4 mg

Antibiotik dan obat-obatan lain : sesuai instruksi dokter obsgyn

Minum : makan dan minum boleh jika sudah sadar penuh

Monitor : tekanan darah, nadi, frekuensi nafas setiap 30 menit selama di


recovery room.

Infus : RL II dalam 24 jam

Monitor : tekanan darah, nadi, frekuensi nafas setiap 30 menit selama di


bangsal.

BAB II
TOTAL INTRAVENA ANESTESI (TIVA)

DEFINISI
TIVA adalah teknik anestesi umum dengan hanya menggunakan obat-obat
anestesi yang dimasukkan lewat jalur intravena tanpa penggunaan anestesi
inhalasi termasuk N2O. TIVA digunakan untuk mencapai 4 komponen penting
dalam anestesi yang menurut Woodbridge (1957) yaitu blok mental, refleks,
sensoris dan motorik. Atau trias A (3 A) dalam anestesi yaitu
1.

Amnesia

2.

Arefleksia otonomik

3.

Analgesik

4.

+/- relaksasi otot

Kelebihan TIVA:
1. Tidak menganggu jalan nafas dan pernafasan pasien terutama pada operasi sekitar
jalan nafas atau paru-paru.
2. Anestesi yang mudah dan tidak memerlukan alat-alat atau mesin yang khusus.

INDIKASI ANESTESI INTRAVENA


1.

Obat induksi untuk anesthesia umum

2.

Obat tunggal untuk anestesi pembedahan singkat

3.

Tambahan untuk obat inhalasi yang kurang kuat

4.

Obat tambahan anestesi regional

5.

Menghilangkan keadaan patologis akibat rangsangan SSP (SSP sedasi)

CARA PEMBERIAN
1.

Sebagai obat tunggal :

2.

Induksi anestesi

Operasi singkat: cabut gigi


Suntikan berulang :

3.

Sesuai kebutuhan : kuretase


Diteteskan lewat infus :

Menambah kekuatan anestesi

JENIS-JENIS OBAT ANESTESI INTRAVENA

1. PROPOFOL ( 2,6 DIISOPROPYLPHENOL )


Merupakan derivat fenol yang banyak digunakan sebagai anestesia
intravena dan lebih dikenal dengan nama dagang Diprivan. Pertama kali
digunakan dalam praktek anestesi pada tahun 1977 sebagai obat induksi.
Propofol digunakan untuk induksi dan pemeliharaan dalam anestesia
umum, pada pasien dewasa dan pasien anak anak usia lebih dari 3 tahun.
Mengandung lecitin, glycerol dan minyak soybean, sedangkan pertumbuhan
kuman dihambat oleh adanya asam etilendiamintetraasetat atau sulfat, hal tersebut
sangat tergantung pada pabrik pembuat obatnya. Obat ini dikemas dalam cairan
emulsi lemak berwarna putih susu bersifat isotonik dengan kepekatan 1 % (1 ml =
10 mg) dan pH 7-8.

a. Mekanisme kerja
Mekanisme kerjanya sampai saat ini masih kurang diketahui ,tapi diperkirakan
efek primernya berlangsung di reseptor GABA A (Gamma Amino Butired Acid).

b. Farmakokinetik
Digunakan secara intravena dan bersifat lipofilik dimana 98% terikat
protein plasma, eliminasi dari obat ini terjadi di hepar menjadi suatu metabolit
tidak aktif, waktu paruh propofol diperkirakan berkisar antara 2 24 jam. Namun
dalam kenyataanya di klinis jauh lebih pendek karena propofol didistribusikan
secara cepat ke jaringan tepi. Dosis induksi cepat menyebabkan sedasi ( rata rata
30 45 detik ) dan kecepatan untuk pulih juga relatif singkat. Satu ampul 20ml

mengandung propofol 10mg/ml. Popofol bersifat hipnotik murni tanpa disertai


efek analgetik ataupun relaksasi otot.

c. Farmakodinamik
-

Pada sistem saraf pusat

Dosis induksi menyebabkan pasien tidak sadar, dimana dalam dosis yang kecil
dapat menimbulkan efek sedasi, tanpa disetai efek analgetik, pada pemberian
dosis induksi (2mg/kgBB) pemulihan kesadaran berlangsung cepat. Dapat
menyebabkan perubahan mood tapi tidak sehebat thiopental. Dapat menurunkan
tekanan intrakranial dan tekanan intraokular sebanyak 35%.
-

Pada sistem kardiovaskuler

Induksi bolus 2-2,5 mg/kg dapat menyebabkan depresi pada jantung dan
pembuluh darah dimana tekanan dapat turun sekali disertai dengan peningkatan
denyut nadi. Ini diakibatkan Propofol mempunyai efek mengurangi pembebasan
katekolamin dan menurunkan resistensi vaskularisasi sistemik sebanyak 30%.
Pengaruh pada jantung tergantung dari :

Pernafasan spontan mengurangi depresi jantung berbanding nafas

kendali

Pemberian drip lewat infus mengurangi depresi jantung berbanding

pemberian secara bolus

Umur makin tua usia pasien makin meningkat efek depresi jantung
-

Pada sistem pernafasan

Dapat menurunkan frekuensi pernafasan dan volume tidal, dalam beberapa


kasus dapat menyebabkan henti nafas kebanyakan muncul pada pemberian
diprivan.

d. Dosis dan penggunaan


a) Induksi : 2,0 sampai 2.5 mg/kg IV.
b) Sedasi : 25 to 75 g/kg/min dengan I.V infus
c) Dosis pemeliharaan pada anastesi umum : 100 - 150 g/kg/min IV
d) Turunkan dosis pada orang tua atau gangguan hemodinamik atau apabila
digabung penggunaanya dengan obat anastesi yang lain.
e) Dapat dilarutkan dengan Dextrosa 5 % untuk mendapatkan konsentrasi yang
minimal 0,2%
f) Propofol mendukung perkembangan bakteri, sehingga harus berada dalam
lingkungan yang steril dan hindari profofol dalam kondisi sudah terbuka lebih dari
6 jam untuk mencegah kontaminasi dari bakteri.

e. Efek Samping
Dapat menyebabkan nyeri selama pemberian pada 50% sampai 75%.
Nyeri ini bisa muncul akibat iritasi pembuluh darah vena, nyeri pada pemberian
propofol dapat dihilangkan dengan menggunakan lidokain (0,5 mg/kg) dan jika
mungkin dapat diberikan 1 sampai 2 menit dengan pemasangan torniquet pada
bagian proksimal tempat suntikan, berikan secara I.V melaui vena yang besar.
Gejala mual dan muntah juga sering sekali ditemui pada pasien setelah operasi

10

menggunakan

propofol.

Propofol

merupakan

emulsi

lemak

sehingga

pemberiannya harus hati hati pada pasien dengan gangguan metabolisme lemak
seperti hiperlipidemia dan pancreatitis.

f. PRIS (Propofol Infusion Syndrome)


Dapat terjadi karena penggunaan propofol dalam jangka waktu yang lama
dan dalam dosis yang banyak. Ditandai dengan terjadinya, hipotensi, gagal
jantung, bradikardi akut, asistol, pembesaran hati, asidosis metabolik, dan dapat
juga terjadi rhabdomiolisis.

2. TIOPENTON (barbiturate)
Pertama kali diperkenalkan tahun 1963. Tiopental sekarang lebih dikenal
dengan nama sodium Penthotal, Thiopenal, Thiopenton Sodium atau Trapanal
yang merupakan obat anestesi umum barbiturat short acting, tiopentol dapat
mencapai otak dengan cepat dan memiliki onset yang cepat (30-45 detik). Dalam
waktu 1 menit tiopenton sudah mencapai puncak konsentrasi dan setelah 5 10
menit konsentrasi mulai menurun di otak dan kesadaran kembali seperti semula.9
Dosis yang banyak atau dengan menggunakan infus akan menghasilkan efek
sedasi dan hilangnya kesadaran.
Onset barbiturat dibagi menjadi tiga, yaitu :
a. Ultra short acting : menimbulkan anestesi kurang dari 1 menit setelah
dimasukkan. Contoh : penthotal.
b. short acting : memiliki efek anestesiselama 15-40 menit hingga 6 jam.
Contoh : pentobarbital.

11

c. Long acting : dapat menimbulkan efek anestesi selama 1 jam hingga 12


jam. Biasa digunakan untuk pengobatan kejang. Contoh : Phenobarbital.
a. Mekanisme kerja
Barbiturat terutama bekerja pada reseptor GABA dimana barbiturat akan
menyebabkan hambatan pada reseptor GABA pada sistem saraf pusat, barbiturat
menekan sistem aktivasi retikuler, suatu jaringan polisinap komplek dari saraf dan
pusat regulasi, yang beberapa terletak dibatang otak yang mampu mengontrol
beberapa fungsi vital termasuk kesadaran. Pada konsentrasi klinis, barbiturat
secara khusus lebih berpengaruh pada sinaps saraf dari pada akson. Barbiturat
menekan transmisi neurotransmitter inhibitor seperti asam gamma aminobutirik
(GABA). Mekanisme spesifik diantaranya dengan pelepasan transmitter
(presinap) dan interaksi selektif dengan reseptor (postsinap).

b. Farmakokinetik
- Absorbsi
Pada anestesiologi klinis, barbiturat paling banyak diberikan secara
intravena untuk induksi anestesi umum pada orang dewasa dan anak anak.
Perkecualian pada tiopental rektal atau sekobarbital atau metoheksital untuk
induksi pada anak anak. Sedangkan phenobarbital atau sekobarbital
intramuskular untuk premedikasi pada semua kelompok umur.
-

Distribusi
Pada pemberian intravena, segera didistribusikan ke seluruh jaringan

tubuh selanjutnya akan diikat oleh jaringan saraf dan jaringan lain yang kaya akan

12

vaskularisasi, secara perlahan akan mengalami difusi kedalam jaringan lain seperti
hati, otot, dan jaringan lemak. Setelah terjadi penurunan konsentrasi obat dalam
plasma ini terutama oleh karena redistribusi obat dari otak ke dalam jaringan
lemak.
-

Metabolisme

Metabolisme terjadi di hepar.


-

Ekskresi
Sebagian besar akan diekskresikan lewat urine, dimana eliminasi terjadi 3

ml/kg/menit dan pada anak anak terjadi 6 ml/kg/menit.

c. Farmakodinamik
- Pada Sistem saraf pusat
Dapat menyebabkan hilangnya kesadaran tetapi menimbulkan hiperalgesia
pada dosis subhipnotik, menghasilkan penurunan metabolisme serebral dan aliran
darah sedangkan pada dosis yang tinggi akan menghasilkan isoelektrik
elektroensepalogram.Thiopental turut menurunkan tekanan intrakranial. Manakala
methohexital dapat menyebabkan kejang setelah pemberian dosis tinggi.

Mata
Tekanan intraokluar menurun 40% setelah pemberian induksi thiopental

atau methohexital. Biasanya diberikan suksinilkolin setelah pemberian induksi


thiopental supaya tekanan intraokular kembali ke nilai sebelum induksi.
-

Sistem kardiovaskuler

13

Menurunkan tekanan darah dan cardiac output ,dan dapat meningkatkan


frekuensi jantung, penurunan tekanan darah sangat tergantung dari konsentrasi
obat dalam plasma. Hal ini disebabkan karena efek depresinya pada otot jantung,
sehingga curah jantung turun, dan dilatasi pembuluh darah. Iritabilitas otot
jantung tidak terpengaruh, tetapi bisa menimbulkan disritmia bila terjadi resistensi
CO2 atau hipoksia. Penurunan tekanan darah yang bersifat ringan akan pulih
normal dalam beberapa menit tetapi bila obat disuntik secara cepat atau dosisnya
tinggi dapat terjadi hipotensi yang berat. Hal ini terutama akibat dilatasi pembuluh
darah karena depresi pusat vasomotor. Dilain pihak turunnya tekanan darah juga
dapat terjadi oleh karena efek depresi langsung obat pada miokard.
-

Sistem pernafasan
Menyebabkan depresi pusat pernafasan dan sensitifitas terhadap CO2

menurun terjadi penurunan frekuensi nafas dan volume tidal bahkan dapat sampai
menyebabkan terjadinya asidosis respiratorik. Dapat juga menyebabkan refleks
laringeal yang lebih aktif berbanding propofol sehingga menyebabkan
laringospasme. Jarang menyebabkan bronkospasme.

d. Dosis
Dosis yang biasanya diberikan berkisar antara 3-5 mg/kg. Untuk
menghindarkan efek negatif dari tiopental tadi sering diberikan dosis kecil dulu
50-75 mg sambil menunggu reaksi pasien.
e. Efek samping

14

Efek samping yang dapat ditimbulkan seperti alergi, sehingga jangan


memberikan obat ini kepada pasien yang memiliki riwayat alergi terhadap
barbiturat, sebab hal ini dapat menyebabkan terjadinya reaksi anafilaksis yang
jarang terjadi. Iritasi vena dan kerusakan jaringan akan menyebakan nyeri pada
saat pemberian melalui I.V.

3. KETAMIN
Ketamine (Ketalar or Ketaject) merupakan arylcyclohexylamine yang
memiliki struktur mirip dengan phencyclidine. Ketamin pertama kali disintesis
tahun 1962, dimana awalnya obat ini disintesis untuk menggantikan obat anestetik
yang lama (phencyclidine) yang lebih sering menyebabkan halusinasi dan kejang.
Obat ini pertama kali diberikan pada tentara amerika selama perang Vietnam.
Ketamin hidroklorida adalah golongan fenil sikloheksilamin, merupakan rapid
acting non barbiturate general anesthesia. Ketalar sebagai nama dagang yang
pertama kali diperkenalkan oleh Domino dan Carson tahun 1965 yang digunakan
sebagai anestesi umum.
Ketamin kurang digemari untuk induksi anastesia, karena sering
menimbulkan takikardi, hipertensi , hipersalivasi , nyeri kepala, pasca anasthesi
dapat menimbulkan muntah muntah , pandangan kabur dan mimpi buruk.
Ketamin juga sering menebabkan terjadinya disorientasi, ilusi sensoris dan
persepsi dan mimpi gembira yang mengikuti anesthesia, dan sering disebut
dengan emergence phenomena.

15

a. Mekanisme kerja
Beberapa kepustakaan menyebutkan bahwa blok terhadap reseptor opiat
dalam otak dan medulla spinalis yang memberikan efek analgesik, sedangkan
interaksi terhadap reseptor metilaspartat dapat menyebakan anastesi umum dan
juga efek analgesik.

b. Farmakokinetik
- Absorbsi
Pemberian ketamin dapat dilakukan secara intravena atau intramuscular
-

Distribusi
Ketamin lebih larut dalam lemak sehingga dengan cepat akan

didistribusikan ke seluruh organ. Efek muncul dalam 30 60 detik setelah


pemberian secara I.V dengan dosis induksi, dan akan kembali sadar setelah 15
20 menit. Jika diberikan secara I.M maka efek baru akan muncul setelah 15 menit.
-

Metabolisme
Ketamin mengalami biotransformasi oleh enzim mikrosomal hati menjadi

beberapa metabolit yang masih aktif.


-

Ekskresi

Produk akhir dari biotransformasi ketamin diekskresikan melalui ginjal.


c. Farmakodinamik
-

Susunan saraf pusat


Apabila diberikan intravena maka dalam waktu 30 detik pasien akan

mengalami perubahan tingkat kesadaran yang disertai tanda khas pada mata

16

berupa kelopak mata terbuka spontan dan nistagmus. Selain itu kadang-kadang
dijumpai gerakan yang tidak disadari (cataleptic appearance), seperti gerakan
mengunyah, menelan, tremor dan kejang. Itu merupakan efek anestesi dissosiatif
yang merupakan tanda khas setelah pemberian Ketamin. Apabila diberikan secara
intramuskular, efeknya akan tampak dalam 5-8 menit, sering mengakibatkan
mimpi buruk dan halusinasi pada periode pemulihan sehingga pasien mengalami
agitasi. Aliran darah ke otak meningkat, menimbulkan peningkatan tekanan darah
intrakranial.
Konsentrasi plasma (Cp) yang diperlukan untuk hipnotik dan amnesia
ketika operasi kurang lebih antara 0,7 sampai 2,2 g/ml (sampai 4,0 g/ml buat
anak-anak). Pasien dapat terbangun jika Cp dibawah 0,5g/ml.
Ketamin merupakan suatu reseptor antagonis N-Metil-D-aspartat (NMDA)
yang non kompetitif yang menyebabkan :

Penghambatan aktivasi reseptor NMDA oleh glutamat

Mengurangi pembebasan presinaps glutamat

Efek potensial Gamma-aminobutyric acid (GABA) Pemberian Ketamin dapat


menyebabkan efek psikologis yang berupa:

Mimpi buruk

Perasaan ekstrakorporeal (merasa seperti melayang keluar dari badan)

Salah persepsi, salah interpretasi dan ilusi

Euphoria, eksitasi, kebingungan dan ketakutan

20%-30% terjadi pada orang dewasa

Dewasa > anak-anak

17

Perempuan > laki-laki


-

Mata
Menimbulkan lakrimasi, nistagmus dan kelopak mata terbuka spontan,

terjadi peningkatan tekanan intraokuler akibat peningkatan aliran darah pada


pleksus koroidalis.
-

Sistem kardiovaskuler
Ketamin adalah obat anestesia yang bersifat simpatomimetik, sehingga

bisa meningkatkan tekanan darah dan jantung. Peningkatan tekanan darah akibat
efek inotropik positif dan vasokonstriksi pembuluh darah perifer.
-

Sistem pernafasan
Pada dosis biasa, tidak mempunyai pengaruh terhadap sistem respirasi.

dapat menimbulkan dilatasi bronkus karena sifat simpatomimetiknya, sehingga


merupakan obat pilihan pada pasien asma.

Dosis dan pemberian


Ketamin merupakan obat yang dapat diberikan secara intramuskular

apabila akses pembuluh darah sulit didapat contohnya pada anak anak. Ketamin
bersifat larut air sehingga dapat diberikan secara I.V atau I.M. Dosis induksi
adalah 1 2 mg/KgBB secara I.V atau 5 10 mg/Kgbb I.M , untuk dosis sedatif
lebih rendah yaitu 0,2 mg/KgBB dan harus dititrasi untuk mendapatkan efek yang
diinginkan.
Untuk pemeliharaan dapat diberikan secara intermitten atau kontinyu. Pemberian
secara intermitten diulang setiap 10 15 menit dengan dosis setengah dari dosis

18

awal sampai operasi selesai.3 Dosis obat untuk menimbulkan efek sedasi atau
analgesic adalah 0,2 0,8 mg/kg IV atau 2 4 mg/kg IM atau 5 10 g/kg/min
IV drip infus.

d. Efek samping
Dapat menyebabkan efek samping berupa peningkatan sekresi air liur pada
mulut,selain itu dapat menimbulkan agitasi dan perasaan lelah , halusinasi dan
mimpi buruk juga terjadi pasca operasi, pada otot dapat menimbulkan efek
mioklonus pada otot rangka selain itu ketamin juga dapat meningkatkan tekanan
intracranial. Pada mata dapat menyebabkan terjadinya nistagmus dan diplopia.

e. Kontra indikasi
Mengingat efek farmakodinamiknya yang relative kompleks seperti yang
telah disebutkan diatas, maka penggunaannya terbatas pada pasien normal saja.
Pada

pasien

yang

menderita

penyakit

sistemik

penggunaanya

harus

dipertimbangkan seperti tekanan intrakranial yang meningkat, misalnya pada


trauma kepala, tumor otak dan operasi intrakranial, tekanan intraokuler
meningkat, misalnya pada penyakit glaukoma dan pada operasi intraokuler. Pasien
yang

menderita

penyakit

sistemik

yang

sensitif

terhadap

obatobat

simpatomimetik, seperti ; hipertensi tirotoksikosis, Diabetes militus , PJK dll.

4. OPIOID

19

Opioid telah digunakan dalam penatalaksanaan nyeri selama ratusan tahun.


Obat opium didapat dari ekstrak biji buah poppy papaverum somniferum, dan kata
opium berasal dari bahasa yunani yang berarti getah.
Opium mengandung lebih dari 20 alkaloid opioids. Morphine, meperidine,
fentanyl, sufentanil, alfentanil, and remifentanil merupakan golongan opioid yang
sering digunakan dalam general anestesi. efek utamanya adalah analgetik. Dalam
dosis yang besar opioid kadang digunakan dalam operasi kardiak. Opioid berbeda
dalam potensi, farmakokinetik dan efek samping.

a. Mekanisme kerja
Opioid berikatan pada reseptor spesifik yang terletak pada system saraf
pusat dan jaringan lain. Empat tipe mayor reseptor opioid yaitu , ,,,.
Walaupun opioid menimbulkan sedikit efek sedasi, opioid lebih efektif sebagai
analgesia. Farmakodinamik dari spesifik opioid tergantung ikatannya dengan
reseptor, afinitas ikatan dan apakah reseptornya aktif. Aktivasi reseptor opiat
menghambat presinaptik dan respon postsinaptik terhadap neurotransmitter
ekstatori (seperti asetilkolin) dari neuron nosiseptif.

B. Farmakokinetik
- Absorbsi
Cepat dan komplit terjadi setelah injeksi morfin dan meperedin intramuskuler,
dengan puncak level plasma setelah 20-60 menit. Fentanil sitrat transmukosal oral
merupakan metode efektif menghasilkan analgesia dan sedasi dengan onset cepat

20

(10 menit) analgesia dan sedasi pada anak-anak (15-20 g/Kg) dan dewasa (200800 g).
-

Distribusi
Waktu paruh opioid umumnya cepat (5-20 menit). Kelarutan lemak yang

rendah dan morfin memperlambat laju melewati sawar darah otak, sehingga onset
kerja lambat dan durasi kerja juga Iebih panjang. Sebaliknya fentanil dan
sufentanil onsetnya cepat dan durasi singkat setelah injeksi bolus.
-

Metabolisme
Metabolisme sangat tergantung pada biotransformasinya di hepar, aliran

darah hepar. Produk akhir berupa bentuk yang tidak aktif.


-

Ekskresi
Eliminasi terutama oleh metabolisme hati, kurang lebih 10% melewati

bilier dan tergantung pada aliran darah hepar. 5 10% opioid diekskresikan lewat
urine dalam bentuk metabolit aktif, remifentanil dimetabolisme oleh sirkulasi
darah dan otot polos esterase.
c. Farmakodinamik
-

Sistem kardiovaskuler
System kardiovaskuler tidak mengalami perubahan baik kontraktilitas otot

jantung maupun tonus otot pembuluh darah.Tahanan pembuluh darah biasanya


akan menurun karena terjadi penurunan aliran simpatis medulla, tahanan sistemik
juga menurun hebat pada pemberian meperidin atau morfin karena adanya
pelepasan histamin.
-

Sistem pernafasan

21

Dapat menyebabkan penekanan pusat nafas, ditandai dengan penurunan


frekuensi nafas, dengan jumlah volume tidal yang menurun. PaCO2 meningkat
dan respon terhadap CO2 tumpul sehingga kurve respon CO2 menurun dan
bergeser ke kanan, selain itu juga mampu menimbulkan depresi pusat nafas akibat
depresi pusat nafas atau kelenturan otot nafas, opioid juga bisa merangsang
refleks batuk pada dosis tertentu.
-

Sistem gastrointestinal
Opioid menyebabkan penurunan peristaltik sehingga pengosongan

lambung juga terhambat.


-

Endokrin
Fentanil mampu menekan respon sistem hormonal dan metabolik akibat

stress anesthesia dan pembedahan, sehingga kadar hormon katabolik dalam darah
relatif stabil.

Dosis dan pemberian


Petidin diberikan I.M dengan dosis 1 mg/kgbb atau intravena 0,5

mg/Kgbb, sedangakan morfin sepersepuluh dari petidin dan fentanil seperseratus


dari petidin.

5. BENZODIAZEPIN
Golongan benzodiazepine yang sering digunakan oleh anestesiologi adalah
Diazepam (valium), Lorazepam (Ativan) dan Midazolam (Versed), diazepam dan

22

lorazepam tidak larut dalam air dan kandungannya berupa propylene glycol.
Diazepam tersedia dalam sediaan emulsi lemak (Diazemuls atau Dizac), yang
tidak menyebakan nyeri atau tromboplebitis tetapi hal itu berhubungan
bioaviabilitasnya yang rendah, midazolam merupakan benzodiazepin yang larut
air yang tersedia dalam larutan dengan PH 3,5.

a. Mekanisme kerja
Golongan benzodiazepine bekerja sebagai hipnotik, sedative, anxiolitik,
amnestik, antikonvulsan, pelumpuh otot yang bekerja di sentral. Benzodiazepine
bekerja di reseptor ikatan GABA. Afinitas pada reseptor GABA berurutan seperti
berikut

lorazepam

>

midazolam

>

diazepam.

Reseptor

spesifik

benzodiazepine akan berikatan pada komponen gamma yang terdapat pada


reseptor GABA.

b. Farmakokinetik
Obat golongan benzodiazepine dimetabolisme di hepar, efek puncak akan
muncul setelah 4 - 8 menit setelah diazepam disuntikkan secara I.V dan waktu
paruh dari benzodiazepine ini adalah 20 jam. Dosis ulangan akan menyebabkan
terjadinya akumulasi dan pemanjangan efeknya sendiri. Midazolam dan diazepam
didistribusikan secara cepat setelah injeksi bolus, metabolisme mungkin akan
tampak lambat pada pasien tua.

Clearance in ml/kg/min

23

Short
Intermediate
Long

midazolam
lorazepam
diazepam

6-11
0.8-1.8
0.2-0.5

c. Farmakodinamik
- Sistem saraf pusat
Dapat menimbulkan amnesia, anti kejang, hipnotik, relaksasi otot dan mepunyai
efek sedasi, efek analgesik tidak ada, menurunkan aliran darah otak dan laju
metabolisme.
-

Sistem Kardiovaskuler
Menyebabkan vasodilatasi sistemik yang ringan dan menurunkan cardiac

out put. tidak mempengaruhi frekuensi denyut jantung, perubahan hemodinamik


mungkin terjadi pada dosis yang besar atau apabila dikombinasi dengan opioid.

Sistem Pernafasan
Mempengaruhi penurunan frekuensi nafas dan volume tidal , depresi pusat

nafas mungkin dapat terjadi pada pasien dengan penyakit paru atau pasien dengan
retardasi mental.
-

Sistem saraf otot


Menimbulkan penurunan tonus otot rangka yang bekerja di tingkat

supraspinal dan spinal, sehingga sering digunakan pada pasien yang menderita
kekakuan otot rangka.

d. Dosis

24

Dosis midazolam bervariasi tergantung dari pasien itu sendiri.

Untuk preoperatif digunakan 0,5 2,5mg/kgbb

Untuk keperluan endoskopi digunakan dosis 3 5 mg

Sedasi pada analgesia regional, diberikan intravena.

Menghilangkan halusinasi pada pemberian ketamin.

e. Efek samping
Midazolam dapat menyebabkan depresi pernafasan jika digunakan sebagai
sedasi. Lorazepam dan diazepam dapat menyebabkan iritasi pada vena dan
trombophlebitis. Benzodiazepine turut memperpanjang waktu sedasi dan amnesia
pada pasien. Efek Benzodiazepines dapat di reverse dengan flumazenil (Anexate,
Romazicon) 0.1-0.2 mg IV prn to 1 mg, dan 0.5 - 1 mcg/kg/menit berikutnya.

A. PENILAIAN PASCA ANESTESI


Pulih dari anestesi umum atau regional secara rutin dikelola di kamar pulih
atau unit perawatan pasca anestesi. Idealnya dapat bangun dari anesthesia secara
bertahap, tanpa keluhan dan mulus. Kenyataannya sering dijumpai hal hal yang
tidak menyenangkan akibat stress pasca operasi atau pasca anesthesia yang berupa
gangguan napas, gangguan kardiovaskular, gelisah, kesakitan, mual muntah,
menggigil dan kadang kadang perdarahan.5
Selama di unit perawatan pasca anestesi pasien dinilai tingkat pilih
sadarnya untuk criteria pemindahan ke ruang perawatan biasa

25

BAB III
PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil anamnesis, Pemeriksaan fisik dan Pemeriksaan


penunjang pasien didiagnosis abortus inkomplit dengan ASA II, yakni pasien
dengan anemia. Riwayat hipertensi dan Diabetes Melitus tidak ada. Pasien
dianjurkan untuk melakukan operasi kuretase. Menjelang operasi pasien tampak
sakit ringan, tenang, kesadaran compos mentis. Pasien sudah dipuasakan selama 6
jam. Jenis anestesi yang dilakukan yaitu anestesi intravena dengan teknik TIVA.
Dilakukan induksi dengan propofol 100 mg. propofol dapat menghambat
transmisi neuron oleh GABA. Obat anestesi yang bekerja cepat efek kerjanya
dicapai dalam waktu 30 detik. Dan diberikan Fentanyl 50 mcg dengan dosis 0,51mg/kgBB, yang mempunyai efek analgesia sangat kuat, akan tetapi efek
hipnotiknya kurang. Apabila diberikan intravena, maka dalam waktu 30 detik
pasien akan mengalami perubahan tingkat kesadaran.
Selama operasi keadaan pasien stabil. Observasi dilanjutkan pada pasien
postoperatif di Bangsal, dimana dilakukan pemantauan tanda vital meliputi
tekanan darah, nadi, respirasi dan saturasi oksigen.

26

BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Pada pasien ini dilakukan kuretase pada tanggal 24 Mei 2013 dengan
teknik anestesi yang di pakai adalah anestesi umum intravena. Dilakukan induksi
dengan propofol sebagai obat sedatif, yang diberikan bersamaan dengan ketamin.
Untuk maintenance selama operasi berlangsung O2 2L. Pemberian cairan infus
RL untuk mengganti cairan intravaskular dan ekstrasel yang hilang selama
operasi. Perawatan post operatif dilakukan di Bangsal dengan pengawasan tanda
vital, tanda-tanda perdarahan dan infus cairan sesuai dengan kebutuhan.

27

BAB IV
KESIMPULAN

Teknik anestesi dan manajemen perioperatif yang dilakukan pada


tindakan kuretase pada pasien ini, baik dari preoperatif, intraoperatif dan
postoperatif sudah sesuai dengan teori yang ada.
Setelah dirawat di bangsal hingga kesadaran membaik, tanda vital
normal tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 71 x/menit, frekuensi nafas 18
x/menit, SpO2 100% pasien dapat di pulangkan setelah 1 hari di rawat di
bangsal.

DAFTAR PUSTAKA

28

1. Dobson. Michael B. Penuntun Praktis Anestesi. Jakarta : EGC; 2012.


2. Mangku Gde, Senapathi Agung Gde Tjokorda. Buku Ajar Ilmu Anestesia
dan Reanimasi, Indeks Jakarta: Jakarta. 2010
3. Latief, Said. A. Suryadi, Kartini. A. Dachlan, M. Ruswan. Petunjuk
Praktis Anestesiologi. Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas
Kedokteran UI: Jakarta.2010
4. Anesthesia.

Diunduh

25

Januari

2016.

Available

from:http://yoursurgery.com/ProcedureDetails.cfm?BR=3&Proc=2
5. Bein, B. Fudickar, A. Propofol Infusion Syndrome : update of clinical
manifestation and pathophysiology. Minerva Anestesiol: 2009; 75: 339-44.
6. Samodro R, Sutiyono D, Satoto HH. Mekanisme kerja obat anestesi lokal.
Dalam: Jurnal Anestesiologi Indonesia. Bagian anestesiologi dan terapi
intensif FK UNDIP/RSUP Dr.Kariadi. 2011; 3(1): 48-59
7. Katzung BG. Farmakologi dasar & klinik. Edisi 10. Jakarta: EGC; 2011:
423-430
8. Gunawan, S. G. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. FKUI. Jakarta. 2007.
Hal 786-787
9. Omoigui Sota. Obat-obatan anestesi. Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran
ECG. Jakarta. 1997. Pages 268-269, 240-243

29