Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejak 1978 ketika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memulai programnya Health for
All in 2000, pelayanan kesehatan primer menjadi salah satu hal yang utama dalam
pengembangan perencanaan pemerintah. Program tersebut menitikberatkan pelayanan
kesehatan yang komprehensif.
Pada Januari 1995 Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) dan Organisasi Dokter
Keluarga Dunia yaitu World Organization of National Colleges, Academies and Academic
Associatons of General Practitioner or Family Physician (WONCA) telah merumuskan
sebuah visi global dan rencana tindakan (action plan) untuk meningkatkan kesehatan
individu dan masyarakat yang tertuang dalam tulisanMaking Medical Practice and
Education More Relevant to Peoples Needs: The Role of Family Doctor.
Dalam acara pembukaan Temu Ilmiah Akbar Kursus Penyegar dan Penambah Ilmu
Kedokteran (TIA-KPPIK) 2002 di Jakarta, Menteri Kesehatan, Achmad Sujudi, menyatakan
bahwa visi dan misi kurikulum pendidikan dokter di Indonesia sepatutnya diarahkan untuk
menghasilkan dokter keluarga, tidak lagi dokter komunitas atau dokter Puskesmas seperti
sekarang.

Hal

ini

sesuai

dengan

Peraturan

Menteri

Kesehatan

Nomor

916/Menkes/Per/VIII/1997 tentang Pelayanan Dokter Umum yang diarahkan menjadi


pelayanan dokter keluarga.
Ilmu Kedokteran Keluarga kemudian masuk dalam Kurikulum Inti Pendidikan Dokter di
Indonesia (KIPDI II) pada tahun 1993, yang merupakan bagian dari Ilmu Kedokteran
Komunitas/Ilmu Kesehatan Masyarakat.
Definisi dokter keluarga (DK) atau dokter praktek umum (DPU) yang dicanangkan oleh
WONCA pada tahun 1991 adalah dokter yang mengutamakan penyediaan pelayanan
komprehensif bagi semua orang yang mencari pelayanan kedokteran dan mengatur pelayanan
oleh provider lain bila diperlukan. Dokter ini adalah seorang generalis yang menerima semua
orang yang membutuhkan pelayanan kedokteran tanpa adanya pembatasan usia, jenis
kelamin ataupun jenis penyakit. Dokter yang mengasuh individu sebagai bagian dari keluarga
dan dalam lingkup komunitas dari individu tersebut tanpa membedakan ras, budaya dan
tingkatan sosial. Secara klinis dokter ini berkompeten untuk menyediakan pelayanan dengan
sangat mempertimbangkan dan memperhatikan latar budaya, sosial ekonomi dan psikologis
1

pasien. Sebagai tambahan, dokter ini bertanggung jawab atas berlangsungnya pelayanan yang
komprehensif dan berkesinambungan bagi pasiennya (Danakusuma, 1996).
Dokter keluarga ini memiliki fungsi sebagai five stars doctor dan memiliki organisasi
yang telah dibentuk yaitu PDKI dan KIKKI yang telah diketahui oleh IDI.

BAB II
PEMBAHASAN
2

2.1 Skenario
LBM VI.3
PELAYANAN DOKTER KELUARGA
Home Visit
Pak Seto 45 tahun penjual bakso keliling datang ke klinik dokter keluarga dengan
keluhan batuk berdahak, demam intermitten sejak sebulan yang lalu. Dokter kemudian
melakukan anamnesa, pemriksaan fisik dan pemeriksaan dahak sampai 3 kali yaitu sesaatpagi-sesaat, ternyata ditemukan basil tahan asam pada ketiganya. Dokter menjelaskan kepada
pak Seto bahwa telah menderita penyakit TBC Paru yang harus diobati secara teratur,
berkelanjutan dengan paket pengobatan selama 6 (enam) bulan. Karena penyakit TBC
mempunyai potensi penularan yang tinggi, dokter meminta seluruh anggota keluarga pak
Seto diperiksa dahaknya.
Tiga hari kemudian dokter melakukan home visit ke rumah pak Seto dan memeriksa
lingkungan rumah dan keluarga pak Seto yang terdiri dari istrinya (40 tahun), anak I (lakilaki, 15 tahun), anak II (perempuan, 10 tahun) dan anak III (laki-laki, 5 tahun). Lingkungan
rumah ternyata kumuh yang kurang pencahayaan, ventilasi, kepadatan hunian tinggi, dan
sanitasi yang buruk. Dokter kemudian memberikan penyuluhan kesehatan kepada pak Seto
dan keluarganya.
2.2 Terminologi
1. Dokter Keluarga: Dokter Keluarga adalah dokter yang memberi pelayanan kesehatan
yang berorientasi komunitas dengan titik berat pada keluarga sehingga ia tidak hanya
memandang penderita sebagai individu yang sakit tapi sebagai bagian dari unit keluarga
dan tidak anya menanti secara pasif tetapi bila perlu aktif mengunjungi penderita atau
keluarganya.
2. Pelayanan Dokter Keluarga : adalah pelayanan kedokteran yang menyeluruh yang
memusatkan pelayanannya kepada keluarga sebagai satu unit, dimana tanggung jawab
dokter terhadap pelayanan kesehatan tidak dibatasi oleh golongan umur atau jenis
kelamin, tidak juga oleh organ tubuh atau jenis penyakit tertentu saja.
2.3 Permasalahan pada scenario
1. Apa definisi, tujuan dan fungsi dari dokter keluarga?
2. Apa saja prinsip dan standar pelayanan dokter keluarga?
3. Apa saja kompetensi praktik dan karakteristik pelayanan dokter keluarga?
3

4. Jelaskan perbedaan dokter keluarga dengan dokter umum!


5. Jelaskan tentang pembayaran sistem kesehatan!
6. Apakah dokter di skenario telah melakukan pelayanan dokter keluarga secara
menyeluruh? Bagaimana pelayanan dokter keluarga yang seharusnya?
2.4 Permasalahan pada skenario
1. Apa definisi, tujuan dan fungsidari dokter keluarga?
Definisi Dokter Keluarga
Dokter Keluarga adalah dokter yang memberi pelayanan kesehatan yang berorientasi
komunitas dengan titik berat pada keluarga sehingga ia tidak hanya memandang penderita
sebagai individu yang sakit tapi sebagai bagian dari unit keluarga dan tidak anya menanti
secara pasif tetapi bila perlu aktif mengunjungi penderita atau keluarganya
Tujuan Pelayanan Dokter Keluarga
Tujuan pelayanan dokter keluarga mencakup bidang yang amat luas sekali. Jika
disederhanakan secara umum dapat dibedakan atas dua macam (Azwar, 1995) :
1. Tujuan Umum
Tujuan umum pelayanan dokter keluarga adalah sama dengan tujuan pelayanan
kedokteran dan atau pelayanan kesehatan pada umumnya, yakni terwujudnya
keadaan sehat bagi setiap anggota keluarga.
2. Tujuan Khusus
Sedangkan tujuan khusus pelayanan dokter keluarga dapat dibedakan atas dua
macam :
a. Terpenuhinya kebutuhan keluarga akan pelayanan kedokteran yang lebih
efektif. Dibandingkan dengan pelayanan kedokteran lainnya, pelayanan
dokter keluarga memang lebih efektif. Ini disebabkan karena dalam
menangani suatu masalah kesehatan, perhatian tidak hanya ditujukan pada
keluhan yang disampaikan saja, tetapi pada pasien sebagai manusia
seutuhnya, dan bahkan sebagai bagian dari anggota keluarga dengan
lingkungannya masing-masing. Dengan diperhatikannya berbagai faktor
yang seperti ini, maka pengelolaan suatu masalah kesehatan akan dapat
dilakukan secara sempurna dan karena itu penyelesaian suatu masalah
kesehatan akan dapat pula diharapkan lebih memuaskan.
b. Terpenuhinya kebutuhan keluarga akan pelayanan kedokteran yang lebih
efisien. Dibandingkan dengan pelayanan kedokteran lainnya, pelayanan
dokter keluarga juga lebih mengutamakan pelayanan pencegahan penyakit
serta diselenggarakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan.

Dengan diutamakannya pelayanan pencegahan penyakit, maka berarti


angka jatuh sakit akan menurun, yang apabila dapat dipertahankan, pada
gilirannya akan berperan besar dalam menurunkan biaya kesehatan. Hal
yang sama juga ditemukan pada pelayanan yang menyeluruh, terpadu dan
berkesinambungan. Karena salah satu keuntungan dari pelayanan yang
seperti ini ialah dapat dihindarkannya tindakan dan atau pemeriksaan
kedokteran yang berulang-ulang, yang besar peranannya dalam mencegah
penghamburan dana kesehatan yang jumlahnya telah diketahui selalu
bersifat terbatas.
Fungsi dan Tugas Dokter Keluarga
Dokter keluarga memiliki 5 fungsi yang dimiliki, yaitu (Azrul Azwar, dkk. 2004):
a. Care Provider (Penyelenggara Pelayanan Kesehatan)
Yang mempertimbangkan pasien secara holistik sebagai seorang individu dan
sebagai

bagian

integral

(tak

terpisahkan)

dari

keluarga,

komunitas,

lingkungannya, dan menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berkualitas


tinggi, komprehensif, kontinu, dan personal dalam jangka waktu panjang dalam
wujud hubungan profesional dokter-pasien yang saling menghargai dan
mempercayai. Juga sebagai pelayanan komprehensif yang manusiawi namun tetap
dapat dapat diaudit dan dipertangungjawabkan
b. Comunicator (Penghubung atau Penyampai Pesan)
Yang mampu memperkenalkan pola hidup sehat melalui penjelasan yang efektif
sehingga memberdayakan pasien dan keluarganya untuk meningkatkan dan
memelihara kesehatannya sendiri serta memicu perubahan cara berpikir menuju
c.

sehat dan mandiri kepada pasien dan komunitasnya


Decision Maker (Pembuat Keputusan)
Yang melakukan pemeriksaan pasien, pengobatan, dan pemanfaatan teknologi
kedokteran berdasarkan kaidah ilmiah yang mapan dengan mempertimbangkan
harapan pasien, nilai etika, cost effectiveness untuk kepentingan pasien

sepenuhnya dan membuat keputusan klinis yang ilmiah dan empatik


d. Manager
Yang dapat berkerja secara harmonis dengan individu dan organisasi di dalam
maupun di luar sistem kesehatan agar dapat memenuhi kebutuhan pasien dan
komunitasnya berdasarkan data kesehatan yang ada. Menjadi dokter yang cakap
e.

memimpin klinik, sehat, sejahtera, dan bijaksana


Community Leader (Pemimpin Masyarakat)
5

Yang memperoleh kepercayaan dari komunitas pasien yang dilayaninya,


menyearahkan kebutuhan kesehatan individu dan komunitasnya, memberikan
nasihat kepada kelompok penduduk dan melakukan kegaiatan atas nama
masyarakat dan menjadi panutan masyarakat
Selain fungsi, ada pula tugas dokter keluarga, yaitu :
1) Menyelenggarakan pelayanan primer secara paripurna menyuruh, dan bermutu
guna penapisan untuk pelayanan spesialistik yang diperlukan,
2) Mendiagnosis secara cepat dan memberikan terapi secara cepat dan tepat,
3) Memberikan pelayanan kedokteran secara aktif kepada pasien pada saat sehat dan
sakit
4) Memberikan pelayanan kedokteran kepada individu dan keluarganya,
5) Membina keluarga pasien untuk berpartisipasi dalam upaya peningkatan taraf
kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan dan rehabilitasi,
6) Menangani penyakit akut dan kronik,
7) Melakukan tindakan tahap awal kasus berat agar siap dikirim ke rumah sakit,
8) Tetap bertanggung-jawab atas pasien yang dirujukan ke Dokter Spesialis atau
dirawat di RS,
9) Memantau pasien yang telah dirujuk atau di konsultasikan,
10) Bertindak sebagai mitra, penasihat dan konsultan bagi pasiennya,
11) Mengkordinasikan pelayanan yang diperlukan untuk kepentingan pasien,
12) Menyelenggarakan rekam Medis yang memenuhi standar,
13) Melakukan penelitian untuk mengembang ilmu kedokteran secara umum dan ilmu
kedokteran keluarga secara khusus.
2. Apa saja prinsip dan standar pelayanan dokter keluarga?
Prinsip Pelayanan Dokter Keluarga
Secara ringkas, yang dimaksud dengan dokter keluarga ialah dokter yang memberikan
pelayanan kesehatan dengan ciri-ciri utama sebagai berikut:
1. Pelayanan kesehatan lini pertama Artinya memberikan pelayanan pada strata primer,
yaitu ditengah-tengah pemukiman masyarakat sehingga mudah dicapai. Setiap
keluarga sebaiknya mempunyai dokter keluarga yang dapat mereka hubungi bila
memerlukan pertolongan kesehatan.
2. Pelayanan kesehatan/medis yang bersifat umum Artinya memberikan pelayanan
untuk masalah kesehatan atau penyakit yang tergolong umum dan bukan spesialistik.
Pelayanan dokter yang bersifat umum juga dikenal dengan istilah berobat jalan

walaupun kadang- kadang dapat pula diberikan di rumah untuk kasus tertentu
misalnya pasien yang sulit berjalan.
3. Bersifat holistik dan komprehensif Holistik artinya tidak dibatasi pada masalah
biomedis pasien saja, tetapi juga dengan melihat latar belakang sosial-budaya pasien
yang mungkin berkaitan dengan penyakitnya. Misalnya, banyak penyakit didapat dari
pekerjaannya seperti nyeri otot dan tulang, radang saluran napas, radang kulit atau
kelelahan. Jika penyakit tersebut tidak ditangani secara holistik dan hanya terfokus
pada gejala atau penyakitnya saja, maka tidak akan benar- benar berhasil
disembuhkan.
Komprehensif artinya tidak hanya terbatas pada pelayanan pengobatan atau kuratif
saja, tetapi meliputi aspek lainnya mulai dari promotif-preventif hingga rehabilitatif.
Misalnya, konseling, edukasi kesehatan, imunisasi, KB, medical check-up, perawatan
pasca RS dan rehabilitasi medik.
4. Pemeliharaan kesehatan yang berkesinambungan Artinya, pelayanan kesehatan
dilakukan terus menerus kepada pasien maupun keluarganya guna memelihara dan
meningkatkan kesehatan mereka. Dengan kata lain, hubungan dokter-pasien yang
lebih kontinu atau sebagai dokter langganan. Hubungan yang berke- sinambungan itu
menguntungkan karena menjadi lebih saling kenal dan lebih akrab sehingga
memudahkan dalam mengatasi berbagai masalah kesehatan pasien/keluarga tersebut.
5. Pendekatan Keluarga Artinya, lebih menekankan keluarga sebagai unit sasaran
pelayanan kesehatan daripada perorangan. Pasien umumnya merupakan anggota
sebuah keluarga yaitu sebagai suami, isteri atau anak. Pendekatan keluarga.
mempunyai berbagai keuntungan terutama untuk dukungan yang diperlukan guna
mengatasi masalah kesehatan. Misalnya seorang anak akan banyak memerlukan
pengertian dan dukungan orang tuanya. Suami yang menderita hipertensi perlu
dukungan isteri dan anaknya. Isteri yang sedang hamil, perlu dukungan suaminya dan
banyak lagi contoh lain.
Standar Pelayanan Dokter Keluarga
Menurut Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI), standar pelayanan dokter
keluarga meliputi:
A. Standar pemeliharaan kesehatan di klinik
1. Standar pelayanan paripurna
Sifat paripurna pada kedokteran keluarga yaitu termasuk pemiliharaan dan
peningkatan kesehatan (promotive),

pencegahan kesehatan (curative),


7

pencegahan

kecacatan (disability limitation), dan rehabilitasi setelah sakit

(rehabilitation)dengan
memperlihatkan kemampuan sosial serta sesuai dengan mediko legal etika
kedokteran
a. Pelayanan medis strata pertama untuk semua orang
b. Memiliki izin pelayanan dokter keluarga dan surat persetujuan tempat
praktik
c. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan pasien dan keluarganya
d. Pencegahan penyakit dan proteksi khusus
e. Deteksi dini terhadap penyakit dan melakukan pentalaksanaan yang tepat
terhadap pasien dan keluarganya
f. Kuratif medik
Melaksanakan pemulihan kesehatan dan pencegahan kecacatan pada strata
pelayanan tingkat pertama, termasuk kegawatdaruratan medik, atau
perujukan
g. Rehabilitasi medik dan sosial pada pasien dana atau keluarganyaSetelah
mengalami masalah kesehatan baik dari segi fisik, jiwa maupun sosial
h. Kemampuan sosial keluarga
i. Pelayanan dokter keluarga memiliki sistem untuk memeprhatikan kondisi
sosial pasien dan keluarganya
2. Standar pelayanan medis (standard of medical care)
Pelayanan sebuah dokter keluarga harus sesuai dengan lege artis
Anamnesis
Dengan pendekatan patient centered approach dalam rangka memperoleh
keluhan utama pasien, kekhawatiran dan harapan pasien mengenai
keluhannya tersebut, serta memperoleh keterangan untuk dapat menegakkan

diagnosis
Pemeriksaan fisik, penunjang serta diagnosis dan diagnosis banding
Melakukan secara diagnosis holistik
Konseling
Untuk membantu pasien dan keluarga menentukan pilihan terbaik
penatalaksanaan untuk pasien
Konsultasi
Saat diperlukan, dokter keluarga melakukan konsultasi ke dokter yang
dianggap lebih piawai dan atau berpengalaman.

2. Standar pelayanan bersinambung (standard of continuum care)

Pelayanan yang diberikan dokter keluarga merupakan pelayanan bersinambung


yang melaksanakan pelayanan kedokteran secara efektif efisien, proaktif dan terus
menerus demi kesehatan pasien
Rekam medik berkesinambung
Informasi riwayat kesehatan pasien sebelumnya pada saat datang sigunakan

untuk memaastikan bahwa penatalaksanaan yang diterapkan telah sesuai


Pelayanan efektif efisien
Pelayanan dokter keluarga menyelenggarakan pelayanan rawat jalan efektif

efisien bagi pasien, menjaga kualitas, sadar mutu dan biaya


Pendampingan
Saat dilaksanakan konsultasi dana atau rujukan, dokter keluarga
menawarkan kemudian melakasanakan pendampingan pasien, demi

kepentingan pasien
Pelayanan proaktif
Pelayanan dokter keluarga menjaga kesinambungan

3. Standar pelayanan menyeluruh (standard of holistic of care)


Pelayanan yang disediakan dokter keluarga bersifat menyeluruh, yaiut peduli
nahwa pasien adalah seorang manusia seutuhnya yang terdiri dari fisik, mental,
social dan spiritual, serta berkehidupan di tengah lingkungan fisik dan sosialnya
Pasien adalah manusia seutuhnya
Pelayanan dokter keluarga memiliki system untuk memandang pasien

sebagai manusia yang seutuhnya


Pasien adalah bagian dari keluarga dan lingkungannya
Pelyanan dokter keluarga memiliki sistem untuk memandang pasien sebagai
bagian dari keluarga pasien, dan memperhatikan bahwa keluarga pasien
dapat mempengaruhi dan/atau dipengaruhi oleh situasi dan kondisi

kesehatan pasien.
Pelayanan menggunakan segala sumber di sekitarnya
Pelayanan dokter keluarga mendayagunakan segala sumber di sekitar
kehidupan pasien untuk meningkatkan keadaan kesehatan pasien dan
keluarganya.

4. Standar pelayanan terpadu (standard of integration of care)


Pelayanan yang disediakan dokter keluarga bersifat terpadu, selain merupkan
kemitraan antara dokter dengan pasien pada saat proses penatalaksanaan medis,

juga merupakan kemitraan lintas program dengan berbagai institusi yang


menunjang pelayanan kedokteran baik dari formal maupun informal.
koordinator penatalaksanaan pasien kerja sama dengan dokter pasien keluarga, maupun bersama antara dokter pasien dokter spesialis / rumah

sakit.
Mitra dokter pasien saat proses pentalaksanaan medis
Mitra lintas sektoral medik
Dokter keluarga bekerja sebahai mitra penyedia pelayanan kesehatan

dengan berbagai sektor pelayanan kesehatan formal di sekitarnya.


Mitra lintas sektoral alternatif dan komplimenter medik
Dokter keluarga memperdulikan dan memperhatikan kebutuhan dan
perliaku pasien dan kelaurganya sebagai masyarakat yang menggunakan
berbagai pelayanan kesehatan nonformal di sekitarnya.

B. Standar perilaku dalam praktik (standard of behaviour in practice)


1. Standar perilaku terhadap pasien
Dokter keluarga menyediakan kesempatan bagi pasien untuk menyampaikan
kekhawatiran dan masalah kesehatannya, serta memberikan kesempatan kepada
pasien untuk memperoleh penjelasan yang dibutuhkan guna dapat memutuskan
pemilihan penatalaksanaan yang akan dilaksanakannya.
Informasi memperoleh pelayanan
Dokter keluarga memberikan keterangan yang adekuat mengenai cara

untuk memperoleh pelayanan yang diinginkan


Masa konsultasi
Menyediakan waktu konsultasi untuk menjelaskan

keluhan

dan

keinginanannya
Informasi medik menyeluruh
Dokter keluarga memberikan informasi yang jelas kepada pasien mengenai
keadaan dan tindakan terhadap pasien, sehingga memungkin pasien dapat

memutuhkan tindakan yang akan dilakukan terhadapnya


Menghormati hak dan kewajiban pasien dan dokter
2. Standar perilaku dengan mitra kerja di klinik (standard of partners relationship
in practive) Baik dengan klinik, tim, sejawat, pegawai klinik, pemimpin klinik
3. Apa saja kompetensi dan karakteristik pelayanan dokter keluarga?
Kompetensi Dokter Keluarga

10

Dokter keluarga harus mempunyai kompetensi khusus yang lebih dari pada seorang
lulusan fakultas kedokteran pada umumnya. Kompetensi khusus inilah yang perlu
dilatihkan melalui program perlatihan ini. Yang dicantumkan disini hanyalah kompetensi
yang harus dimiliki oleh setiap Dokter Keluarga secara garis besar. Rincian memgenai
kompetensi ini, yang dijabarkan dalam bentuk tujuan pelatihan,
1 Menguasai dan mampu menerapkan konsep operasional kedokteran keluarga,
2 Menguasai pengetahuan dan mampu menerapkan ketrampilan klinik dalam pelayanan
3

kedokteran keluarga,
Menguasai ketrampilan berkomunikasi, menyelenggarakan hubungan profesional
dokter- pasien untuk :
a Secara efektif berkomunikasi dengan pasien dan semua anggota keluarga
dengan perhatian khusus terhadap peran dan risiko kesehatan keluarga,
b Secara efektif memanfaatkan kemampuan keluarga untuk berkerjasana
menyelesaikan masalah kesehatan, peningkatan kesehatan, pencegahan dan
penyembuhan penyakit, serta pengawasan dan pemantauan risiko kesehatan
c

keluarga,
Dapat bekerjasama secara profesional secara harmonis dalam satu tim pada
penyelenggaraan pelayanan kedokteran/kesehatan.

Memiliki keterampilan manajemen pelayanan kliniks.


a

Dapat memanfaatkan sumber pelayanan primer dengan memperhitungkan


potensi yang dimiliki pengguna jasa pelayanan untuk menyelesaikan
masalahnya.

Menyelenggarakan pelayan kedokteran keluarga yang bermutu sesuai dengan


standar yang ditetapkan.

Memberikan pelayanan kedokteran berdasarkan etika moral dan spritual.

Memiliki pengetahuan dan ketrampilan di bidang pengelolaan pelayanan kesehatan


termasuk sistem pembiayaan (Asuransi Kesehatan/JPKM).

11

Kompetensi dokter keluarga yang tercantum dalam Standar Kompetensi Dokter Keluarga
yang disusun oleh Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia tahun 2006 adalah (Danasari,
2008) :
a
b
c

Keterampilan komunikasi efektif


Keterampilan klinik dasar
Keterampilan menerapkan dasar ilmu biomedik, ilmu klinik, ilmu perilaku dan

epidemiologi dalam praktek kedokteran keluarga


Keterampilan pengelolaan masalah kesehatan pada individu, keluarga ataupun
masyarakat dengan cara yang komprehensif, holistik, berkesinambungan,

e
f
g

terkoordinir dan bekerja sama dalam konteks Pelayanan Kesehatan Primer


Memanfaatkan, menilai secara kritis dan mengelola informasi
Mawas diri dan pengembangan diri atau belajar sepanjang hayat
Etika moral dan profesionalisme dalam praktek

Pada dasarnya kompetensi yang harus dimiliki oleh dokter keluarga selain harus
memiliki kompetensi dokter menurut Konsil Kedokteran Indonesia, juga harus memiliki
tambahan kompetensi untuk dokter keluarga, diantaranya :
A Area komunikasi efektif
1 Berkomunikasi dengan pasien serta anggota keluarganya
a) Menempatkan diri sebagai mitra keluarga dalam penatalaksaan masalah kesehatan
pasien dan keluarga
b) Mampu melaksanakan anamnesis dengan pendekatan pasien (patient centered
approach) dalam rangka memperoleh keluhan utama pasien, kekhawatiran dan
harapan pasien mengenai keluhannya tersebut serta memperoleh keterangan untuk
dapat menegakkan diagnosis
c) Memahami masalah yang sebenarnya terjadi dengan menggali dan menganalisa
faktor-faktor keluarga pasien yang berhubungan dengan masalah kesehatan pasien
d) Mampu memberikan informasi yang jelas kepada pasien mengenai seluruh tujuan,
kepentingan, keuntungan, resiko yang berhubungan dalam hal pemeriksaan,
konsultasi, rujukan pengobatan, tindakan dan sebagainya seingga memungkinkan
pasien untuk dapat memutuskan segala yang akan dilakukan terhadapnya secara
puas dan terinformasi

12

e) Mampu menggali, menganalisa dan menganjurkan sumber daya yang ada pada
keluarga dan lingkungan untuk kepentingan pentalaksanaan kesehatan pasien dan
keluarganya
f) Mampu melakukan konseling perorangan dan konseling kelompok (keluarga
maupun kelompok lain)
2

Berkomunikasi dengan masyarakat


Mampu merencanakan dan menerapkan pendidikan kesehatan yang sesuai bagi
pasien, keluarga dan komunitas yang ada dihadapannya dengan media yang tepat
guna

B Area keteampilan klinis


1 Mampu menganalisa informasi dalam rekam medik dan rekam keluarga utuk
menegakkan diagnostik holistik dan perencanaan komprehensif bagi pasien dan
2

keluarganya
Mampu elaksanakan pendampingan pasien secara profesional demi kepentingan

pasien pada saat dibutuhkan dalam layanan konsultasi dan/atau rujukan


Mampu secara trampil melakukan prosedur tunjangan hidup dasar (basic life support)
dan ACLS dimanapun berada

C Area pengelolaan masalah kesehatan


1 Mampu menyelenggarakan pelayanan rawat jalan efektif efisien bagi pasien, menjaga
2

kualitas, sadar mutu, dan sadar biaya


Mampu menyelenggarakan pelyanan yang peduli dan perhatian pada kebutuhan dan

perilaku pasien dan keluarganya sebgai masyarakat


Mampu mengidentifikasi, mmberi alas an, menerapkan dan merencanakan strategi
pencegahan primer, sekunder dan tersier bagi seluruh anggota keluarga pasien seta

komunikasi sekitar pasien


Mampu menempatkan diri untuk berpartisipasi dalam program pendidikan kesehatan

bagi komunitas sesuai dengan kebutuhan


Mampu menempatkan diri untuk berpartisipasi dalam pergerakkan masyarakat dalam

penanggulangan bencana dan rehabilitasi komunitas pasca bencana


Mampu menyusun system untuk memandang pasien sebagai bagian keluarga pasien
dan memperhatikan bahwa keluarga pasien dapat mempengaruhi dan atau

dipengaruhhi oleh situasi dan kondisi kesehatan pasien


Mampu mendayagunakan sumber di sekitar kehidupan pasien untuk mengingkatkan
keadaan kesehatan pasien dan keluarganya
13

Mampu memperhatikan latar belakang social, budaya, ekonomi pasien dalam


berkomunikasi dan menawarkan pilihan tindakan

D Area pengelolaan informasi


1 Mampu mengaplikasikan EBM dan appraisal kritis suatu informasi baru dalam
2

praktik keseharian
Mampu merencakan dan menerapkan teknologi informasi dan komunikasi guna
memberi pelayanan yang memuaskan bagi pasein dan keluarganya

E Area mawas diri dan pengembangan diri


Mampu menginisiasi dan melaksanakan Program Pendidikan Keprofesian Kedokteran
Berkelanjutan (P2KB) untuk diri dan perkumpulan profesinya
F Area etika, moral, medikolegal, dan profesionalisme serta keselamatan pasien
1 Mampu menempatkan diri sebagai mitra penyedia pelyanan kesehatan dengan
2

berbagai sektor pelyanan kesehatan formal di sekitarnya


Mampu melakukan program jaga mutu (quality assurance) secara mandiri dan atau

bersama-sama dengan dokter keluarga lainnya


3 Mampu menjadi pimpinan professional pada suau pusat pelayanan kedokteran
4

kesehatan primer
Mampu menganalisa persamaan dan perbedaaan karate individu, keluarga, hingga
factor social budaya yang berpengaruh pada kesehatan pasien dan keluarga

4. Jelaskan perbedaan dokter keluarga dengan dokter umum!


Tabel ini menjelaskan tentang perbedaan antara dokter praktek umum dengan dokter
keluarga (Qomariah, 2000) :

DOKTER PRAKTEK
UMUM

DOKTER KELUARGA

Cakupan Pelayanan

Terbatas

Lebih Luas

Sifat Pelayanan

Sesuai Keluhan

Menyeluruh, Paripurna,
bukan sekedar yang
14

dikeluhkan

Cara Pelayanan

Kasus per kasus dengan


pengamatan sesaat

Kasus per kasus dengan


berkesinambungan
sepanjang hayat
Lebih kearah

Jenis Pelayanan

Lebih kuratif hanya untuk

pencegahan, tanpa

penyakit tertentu

mengabaikan pengobatan
dan rehabilitasi

Peran keluarga

Kurang dipertimbangkan

Promotif dan pencegahan

Tidak jadi perhatian

Hubungan dokter-pasien

Dokter pasien

Lebih diperhatikan dan


dilibatkan
Jadi perhatian utama
Dokter pasien teman
sejawat dan konsultan
Secara individual sebagai

Awal pelayanan

Secara individual

bagian dari keluarga


komunitas dan
lingkungan

5. Jelaskan tentang pembayaran sistem kesehatan!


Sistem pembiayaan kesehatan Indonesia secara umum terbagi dalam 2 sistem yaitu:
a Fee for Service ( Out of Pocket )
Sistem ini secara singkat diartikan sebagai sistem pembayaran berdasarkan
layanan, dimana pencari layanan kesehatan berobat lalu membayar kepada pemberi
pelayanan kesehatan (PPK). PPK (dokter atau rumah sakit) mendapatkan
pendapatan berdasarkan atas pelayanan yang diberikan, semakin banyak yang
dilayani, semakin banyak pula pendapatan yang diterima.
15

Sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini masih bergantung pada sistem
pembiayaan kesehatan secara Fee for Service ini. Dari laporan World Health
Organization di tahun 2006 sebagian besar (70%) masyarakat Indonesia masih
bergantung pada sistem, Fee for Service dan hanya 8,4% yang dapat mengikuti
sistem Health Insurance (WHO, 2009). Kelemahan sistem Fee for Service adalah
terbukanya peluang bagi pihak pemberi pelayanan kesehatan (PPK) untuk
memanfaatkan hubungan Agency Relationship , dimana PPK mendapat imbalan
berupa uang jasa medik untuk pelayanan yang diberikannya kepada pasien yang
besar-kecilnya ditentukan dari negosiasi. Semakin banyak jumlah pasien yang
ditangani, semakin besar pula imbalan yang akan didapat dari jasa medik yang
ditagihkan ke pasien. Dengan demikian, secara tidak langsung PPK didorong untuk
meningkatkan volume pelayanannya pada pasien untuk mendapatkan imbalan jasa
b

yang lebih banyak.


Health Insurance
Sistem ini diartikan sebagai sistem pembayaran yang dilakukan oleh pihak ketiga
atau pihak asuransi setelah pencari layanan kesehatan berobat. Sistem health
insurance ini dapat berupa system kapitasi dan system Diagnose Related Group
(DRG system).
Sistem kapitasi merupakan metode pembayaran untuk jasa pelayanan kesehatan
dimana PPK menerima sejumlah tetap penghasilan per peserta untuk pelayanan
yang telah ditentukkan per periode waktu. Pembayaran bagi PPK dengan system
kapitasi adalah pembayaran yang dilakukan oleh suatu lembaga kepada PPK atas
jasa pelayanan kesehatan dengan pembayaran di muka sejumlah dana sebesar
perkalian anggota dengan satuan biaya (unit cost) tertentu. Salah satu lembaga di
Indonesia adalah Badan Penyelenggara JPKM (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan
Masyarakat). Masyarakat yang telah menajdi peserta akan membayar iuran dimuka
untuk memperoleh pelayanan kesehatan paripurna dan berjenjang dengan pelayanan
tingkat pertama sebagai ujung tombak yang memenuhi kebutuhan utama kesehatan
dengan mutu terjaga dan biaya terjangkau.
Sistem kedua yaitu DRG (Diagnose Related Group) tidak berbeda jauh dengan
system kapitasi di atas. Pada system ini, pembayaran dilakukan dengan melihat
diagnosis penyakit yang dialami pasien. PPK telah mendapat dana dalam

16

penanganan pasien dengan diagnosis tertentu dengan jumlah dana yang berbeda
pula tiap diagnosis penyakit. Jumlah dana yang diberikan ini, jika dapat
dioptimalkan penggunaannya demi kesehatan pasien, sisa dana akan menjadi
pemasukan bagi PPK.
Kelemahan dari system

Health

Insurance

adalah

dapat

terjadinya

underutilization dimana dapat terjadi penurunan kualitas dan fasilitas yang


diberikan kepada pasien untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Selain
itu, jika peserta tidak banyak bergabung dalam system ini, maka resiko kerugian
tidak dapat terhindarkan. Namun dibalik kelemahan, terdapat kelebihan system ini
berupa PPK mendapat jaminan adanya pasien (captive market), mendapat kepastian
dana di tiap awal periode waktu tertentu, PPK taat prosedur sehingga mengurangi
terjadinya multidrug dan multidiagnose. Dan system ini akan membuat PPK lebih
kea rah preventif dan promotif kesehatan.

Apakah dokter di skenario telah melakukan pelayanan dokter keluarga secara menyeluruh?
Bagaimana pelayanan dokter keluarga yang seharusnya?

17

BAB III
PENUTUP
3.1.

Kesimpulan
Dokter keluarga merupakan profesi dokter yang dapat mencegah terjadinya
pembengkakkan biaya dengan cara memperhatikan riwayat daripada suatu keluarga.
Dengan tindakan seperti itulah dokter keluarga dapat mencegah penyakit yang akan
timbul. Dan ini pula yang dilewati oleh dokter praktek umum.
Dokter keluarga juga dapat berperan sebagaimana layaknya dokter praktek umum,
yaitu sama-sama sebagai five stars doctor dimana mereka menjadicommunicator,
care provider, decision maker, community leader dan manager. Selain itu juga, dokter
keluarga tergabung dalam organisasi Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia
(PDKI) dan Kolegium Ilmu Kedokteran Keluarga Indonesia (KIKKI).
PDKI terbentuk pada tahun 2003 dengan anggotanya adalah dokter praktik umum
(IDI) yang juga bekerja sebagai pelayanan jasa primer. Kemudian, pada kongres
selanjutnya mendirikan kolega yaitu Kolegium Ilmu Kedokteran Keluarga Indonesia
(KIKKI).
Namun, ada juga perbedaan antara dokter praktik umum dan dokter keluarga yang
dapat dilihat dari cakupan pelayanan, sifat pelayanan, cara pelayanan, jenis
pelayanan, dan lain-lain.

3.2.

Saran
Semoga pembuatan dari laporan ini berguna kedepannya.

18

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Azrul. 1995. Pengantar Pelayanan Dokter Keluarga. IDI : Jakarta


Danakusuma, Muhyidin. 1996. Pengantar Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran
Komunitas. IDI : Jakarta
Danasari. 2008. Standar Kompetensi Dokter Keluarga. PDKI : Jakarta
Qomariah. 2000. Sekilas Kedokteran Keluarga. FK-Yarsi : Jakarta

19