Anda di halaman 1dari 16

GANGGUAN TIDUR PADA PASIEN

LANJUT USIA
Kelompok C3
Riska Cerlyan Mustamu 102013302
Yohanna Inge 102014100
Glorya Nathasia Ahab 102014185
Dwiki Widyanugraha 102014194
Nur Amira Amalina Mohammad Zulkifli
102014228
Linda Gunawan 102014258

SKENARIO 6

Seorang laki-laki berusia 64 tahun dibawa


ke Poli Psikogeriatrik oleh anaknya dengan
keluhan utama tidak bisa tidur dan marahmarah sejak 2 bulan yang lalu

IDENTIKASI ISTILAH YANG TIDAK


DIKETAHUI

Geriatriadalah cabang ilmu kedokteran dengan fokus pada


penuaan dini dan tatalaksana penyakit terkaitusia lanjut.
Proses menua mengakibatkan penurunan fungsi sistem organ
seperti sistem sensorik, sarafpusat, pencernaan,
kardiovaskular, dan sistem respirasi.

RUMUSAN MASALAH

Seorang laki-laki berusia 64 tahun


tidak bisa tidur dan marah-marah
sejak 2 bulan yang lalu

Hipotesis
Seorang laki-laki berusia
64 tidak bisa tidur dan
marah-marah karena
faktor sosial, biologi, dan
psikologinya

FISIOLOGI TIDUR

Tidur : periode istirahat bagi tubuh


berdasarkan atas kemauan serta
kesadaran dan secara utuh atau
sebagian fungsi tubuh akan dihambat
atau dikurangi.
Individu : 6-8 jam/hari
Insomnia : gangguan tidur yang sering
muncul
Lansia : 67% mengalami gangguan
tidur

SIKLUS TIDUR

Tidur REM (rapid eye movement ): Tahap tidur


terdalam, muncul mimpi, frekuensi, nadi, nafas, dan TD
bervariasi, gelombang otak lambat 20-25% waktu
tidur.

Tidur NREM (non-rapid eye movement ): 75-80%


1.

2.

3.

4.

Tahap awal tidur/ transisi, mudah terbangun, EEG menunjukan


penurunan voltase dengan gelombang alfa frekuensinya
semakin menurun. Terjadi 3-5 menit.
Tahap tidur ringan, kedua mata berhenti bergerak, tonus otot
tetap terpelihara, EEG didominasi oleh aktivitas teta.
Disebut juga tidur delta, ditandai dengan 20-50% aktivitas
delta, tonus otot meningkat tapi tidak ada gerakan bola mata.
Tahap paling dalam, frek.nadi, TD, metabolisme
. Disebut
juga tidur gelombang lambat

GELOMBANG OTAK SAAT TIDUR

PENYEBAB INSOMNIA PADA USIA


LANJUT

Terjadi pengurangan pada gelombang lambat


(stadium 4), gelombang alfa, meningkatnya
frekuensi terbangun di malam hari.
Gelombang delta
Penurunan fase REM
Perubahan siklus sirkadian

IRAMA SIRKADIAN

Mengatur siklus tidur, suhu tubuh, aktivitas saraf


otonom, kardiovaskular dan sekresi hormon.
Pusat pengaturan: Suprachiasmatic Nucleus (SCN)
di hipotalamus
Cahaya masuk ke retina neuron fotoreseptor
SCN teraktivasi merangsang pineal gland
sekresi melatonin timbul rasa lelah
Umur , fungsi SCN

PENYEBAB MASALAH TIDUR


Faktor internal:
Fisiologis:
Perubahan fisik
Penambahan usia
Gangguan suhu
tubuh
Gejala menopause
Gangguan
pernafasan saat tidur
Psikologis:
Kecemasan
Depresi

Faktor eksternal:
Lingkungan:
Suara gaduh
Temperatur & Alas tidur yang
tidak nyaman
Kebiasaan buruk : makan,
menonton TV di tempat tidur.
Gaya hidup:
Minum kafein, teh dan soda
sebelum tdur
Merokok
Kondisi medis:
Penyakit akut dan kronik :
Alzheimer, hipotiroidisme,
demensia dan delirium, penyakit
musculoskeletal, kanker,
penyakit paru, penyakit
kardiovaskuler

PENATALAKSANAAN
Non-Farmakologi
Membangun
kebiasaan tidur yang
teratur
Tidak
mengkonsumsui
kafein, makanan
berat < 2 jam
sebelum tidur
Tidur pada siang hari
<
Lakukan aktifitas
Terapi terlaksasi:
yoga, relaksasi otot,
latihan pernafasan
dengan diafrgama

Farmakologi
Golongan
benzodiazepine
temazepam adalah 1530 mg setiap malam
Non-benzodiapine :
Zaleplon, zolpidem dan
Eszopiclone (berfungsi
untuk mengurangi sleep
letency )
Ramelteon (Melatonin
Receptor Agonist)
digunakan pada pasien
yang mengalami kesulitan
ntuk mengawali tidur

KESIMPULAN

Insomnia lebih sering terjadi pada usia lanjut.


Insomnia dapat disebabkan oleh berbagai faktor
seperti pertambahan usia, depresi, penggunaan
obat dan zat lainnya, serta ritme sirkardian.
Insomnia merupakan gangguan sederhana namun
tidak dapat sembuh spontan sehingga
memerlukan terapi untuk menanganinya baik
secara farmakologi maupun non-farmakologi.