Anda di halaman 1dari 14

BAB III

KLASIFIKASI CEDERA OLAHRAGA


A. Jenis-jenis Cedera Olahraga
Ada beberapa jenis cedera olahraga diantaranya adalah:
1.

Luka luar (lecet/robek)

Luka luar dapat dilihat dari tanda-tanda timbulnya kemerahan pada kulit hingga
robekan kulit yang mengeluarkan darah.berikut contoh gambar luka robek

2.

Kram (cramp/kejang otot)

Kejang otot disebabkan oleh terjadinya kelelahan otot, dehidrasi, menurunnya kadar
kalsium dan kalium dalam darah. Bagian otot yang paling sering kelelahan adalah
betis (sering disebut dengan istilah naik betis) meskipun otot paha juga cukup rentan
mengalami hal serupa. Otot yang kelelahan akan menimbulkan nyeri yang bervariasi
dari ringan hingga sedang. Otot yang kram akan terasa keras karena otot melakukan
kontraksi (pemendekan serabut otot). Berikut contoh gambar kejang otot.

10

3.

Robekan otot, putus tendon, pecah tendon (tendon rupture)

Secara tradisional, kedua cedera yang pertama ini dikenal sebagai keseleo. Cedera ini
biasanya disebabkan oleh kurangnya pemanasan, peregangan, atau tackling keras
pada lutut/mata kaki. Robekan/putus tendon ditandai dengan gangguan gerakan sendi.
Tendon yang putus akan segera tertarik oleh otot dan sulit disatukan dengan bagian
tendon lainnya yang melekat ke tulang. Tendon yang putus memerlukan tindakan
pembedahan. Terkadang, tendon dapat pula bergeser dari tempatnya melekat. Pecah
sebagian tendon pada tumit dapat dilihat sebagai penggembungan pada bagian tendon
yang pecah.Contoh gambar Robekan otot:

4.

Patah/Retak tulang

Patah tulang kecil maupun tulang panjang dapat terjadi dalam sepakbola. Kesalahan
posisi tubuh dalam mendarat atau tackling keras dapat menimbulkan patah tulang. Jika
terjadi, pemain akan merasakan nyeri hebat. Kelainan bentuk tulang dapat segera
diamati jika patah tulang mengalami pergeseran fragmen (sliding). Jika tidak tampak
kelainan bentuk tulang, patah tulang dapat dikenali dengan timbulnya bunyi crepitatio
(seperti krek, krek) ketika kedua fragmen tulang digerakkan.

11

Patah tulang pada tulang pipa betis dapat segera diamati dengan adanya
malformasi (kecacatan) . Namun, patah tulang pada bagian paha sukar diamati. Patah
tulang paha sangat mungkin menimbulkan perdarahan yang banyak, nyeri yang hebat
karena memendekknya otot paha sehingga penderita akan segera masuk ke dalam
keadaan shock akibat perdarahan.contoh gambar patah tulang :

5.

Trauma tumpul (pukulan/sikutan/tendangan) ke arah tubuh


Trauma tumpul pada daerah perut, pada awalnya, akan menunjukkan jejas

(tanda cedera) pada kulit di mana terjadi benturan. Jika benturan bersifat keras dan
mengenai organ dalam perut seperti usus, lambung, hati, pankreas, dan limpa maka
perdarahan akan terjadi karena luka robek. Perdarahan ini biasanya tidak tampak/tidak
dapat dilihat. Perdarahan organ dalam akan menimbulkan reaksihypovolemic shock
dan peritonitis (radang perut) karena banyak volume darah yang mengalir ke rongga
perut.contoh gambar trauma tumpul :

12

B. Cedera-cedera yang lazim Terjadi dalam Olahraga


Cedera pada olahraga mempunyai beberapa gejala cedera tergantung jenis
cedera yang terjadi. Misalnya, rasa sakit, nyeri, bengkak, dan memar. Keretakan pada
tulang atau dislokasi.
Cedera olah raga yang sering terjadi adalah:
- Patah tulang karena tekanan
- Shin splints
- Tendinitis
- Lutut pelari
- Cedera urat lutut
- Punggung altit angkat besi
- Sikut petenis
- Cedera kepala
- Cedera kaki
C. Penyebab Cedera
Cedera olah raga disebabkan oleh:
1. Metode Latihan Yang Salah

13

Metode latihan yang salah merupakan penyebab paling sering dari cedera pada
otot dan sendi. Penderita tidak memberikan waktu pemulihan yang cukup setelah
melakukan olah raga atau tidak berhenti berlatih ketika timbul nyeri.
Setiap kali otot tertekan oleh aktivitas yang intensif, beberapa otot mengalami
cedera dan otot yang lainnya menggunakan cadangan energinya yang tersimpan
sebagai glikogen karbohidrat. Penyembuhan serat-serat otot dan penggantian glikogen
memerlukan waktu lebih dari 2 hari.
Sebagian besar program olah raga diselenggarakan secara bergantian; hari ini
melakukan latihan berat, hari berikutnya beristirahat atau melakukan latihan ringan.
Hanya perenang yang bisa melakukan latihan yang berat dan ringan setiap hari tanpa
mengalami cedera. Kemungkinan daya ampung dari air membantu melindungi otot
dan sendi para perenang
2. Kelainan Struktural
Kelainan struktural bisa menyebabkan seseorang lebih peka terhadap cedera
olah raga karena adanya tekanan yang tidak semestinya pada bagian tubuh tertentu.
Misalnya, jika panjang kedua tungkai tidak sama, maka pinggul dan lutut pada tungkai
yang lebih panjang akan mendapatkan tekanan yang lebih besar.
Faktor biokimia yang menyebabkan cedera kaki, tungkai dan pinggul adalah
pronasi (pemutaran kaki ke dalam setelah menyentuh tanah). Pronasi sampai derajat
tertentu adalah normal dan mencegah cedera dengan cara membantu menyalurkan
kekuatan menghentak ke seluruh kaki. Pronasi yang berlebihan bisa menyebabkan
nyeri pada kaki, lutut dan tungkai. Pergelangan kaki sangat lentur sehingga ketika
berjalan atau berlari, lengkung kaki menyentuh tanah dan kaki menjadi rata.
Jika seseorang memiliki pergelangan kaki yang kaku, maka akan terjadi
kebalikannya, yaitu pronasi yang kurang. Kaki tampak memiliki lengkung yang sangat
14

tinggi dan tidak dapat menyerap goncangan dengan baik, sehingga meningkatkan
resiko terjadinya retakan kecil dalam tulang kaki dan tungkai (fraktur karena tekanan).
3. Kelemahan Otot, Tendon & Ligamen
Jika mendapatkan tekanan yang lebih besar daripada kekuatan alaminya, maka
otot, tendon dan ligamen akan mengalami robekan. Sendi lebih peka terhadap cedera
jika otot dan ligamen yang menyokongnya lemah. Tulang yang rapuh karena
osteoporosis mudah mengalami patah tulang (fraktur).
Latihan kekuatan bisa membantu mencegah terjadinya cedera. Satu-satunya
cara untuk memperkuat otot adalah berlatih melawan tahanan, yang secara bertahap
kekuatannya ditambah.
D. Gejala Cedera
Nyeri pertama kali muncul jika serat-serat otot atau tendon yang jumlahnya
terbatas mulai mengalami robekan. Menghentikan latihan pada saat nyeri terjadi, akan
mengurangi cedera pada serat-serat tersebut, sehingga pemulihan lebih cepat terjadi.
Jika latihan tidak segera dihentikan, maka jumlah serat yang robek akan lebih banyak,
sehingga kerusakannya lebih luas dan penyembuhannya menjadi lebih lama.
E. Diagnosa Cedera
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala, keterangan dari penderita mengenai
aktivitas yang dilakukannya dan hasil pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan diagnostik yang dilakukan meliputi:
- CT scan
- MRI
- Artroskopi
- Elektromiografi
- Pemeriksaan dengan bantuan komputer lainnya untuk menilai fungsi otot dan sendi.
15

F. Patofisiologi Cedera Olahraga


Ada dua jenis cedera yang sering dialami oleh atlet, yaitu trauma akut
dan Overuse Syndrome (Sindrom Pemakaian Berlebih). Trauma akut adalah suatu
cedera berat yang terjadi secara mendadak, seperti robekan ligament, otot, tendo,
atau terkilir, atau bahkan patah tulang. Cedera akut biasanya memerlukan pertolongan
profesional. Sindrom pemakaian berlebih sering dialami oleh atlet, bermula dari
adanya suatu kekuatan yang sedikit berlebihan, namun berlangsung berulang-ulang
dalam jangka waktu lama.Sindrom ini kadang memberi respon yang baik dengan
pengobatan sendiri.
Cedera olahraga seringkali direspon oleh tubuh dengan tanda radang
yang terdiri atas rubor (merah), tumor (bengkak), kalor (panas), dolor (nyeri),
dan functiolaesa (penurunan fungsi). Pembuluh darah di lokasi cedera akan
melebar (vasodilatasi) dengan maksud untuk mengirim lebih banyak nutrisi dan
oksigen dalam rangka mendukung penyembuhan. Pelebaran pembuluh darah ini lah
yang mengakibatkan lokasi cedera terlihat lebih merah (rubor). Cairan darah yang
banyak dikirim di lokasi cedera akan merembes keluar dari kapiler menuju
ruang antar sel, dan menyebabkan bengkak (tumor). Dengan dukungan banyak
nutrisi dan oksigen, metabolisme di lokasi cedera akan meningkat dengan sisa
metabolisme berupa panas. Kondisi inilah yang menyebabkan lokasi cedera akan lebih
panas (kalor) dibanding dengan lokasi lain. Tumpukan sisa metabolisme dan zat kimia
lain akan merangsang ujung saraf di lokasi cedera dan menimbulkan nyeri (dolor).
Rasa nyeri juga dipicu oleh tertekannya ujung saraf karena pembengkakan yang
terjadi di lokasi cedera. Baik rubor, tumor, kalor, maupun

dolor akan

menurunkan fungsi organ atau sendi di lokasi cederayang dikenal dengan istilah
functiolaesa.
16

Cedera olahraga dapat diklasifikasikan sebagai cedera ringan apabila robekan


yang terjadi hanya dapat dilihat dibawah mikroskop, dengan keluhan minimal,
dan tidak mengganggu penampilan secara berarti. Contoh yang dapat dilihat
adalah

memar,

lecet,

dan

sprain

ringan. Cedera

sedang

ditandai

dengan

kerusakan jaringan yang nyata, nyeri, bengkak, kemerahan, panas, dan ada
gangguan

fungsi.

Tanda

radang

seperti

tumor,

rubor,

kalor,

dolor,

dan

functiolaesa terlihat nyata secara keseluruhan atau sebagian. Contoh dari cedera
ini adalah robeknya otot, tendo, serta ligament secara parsial. Pada cedera berat terjadi
robekan total atau hampir total, dan bias juga terjadi patah tulang. Cedera ini
membutuhkan istirahat total, pengobatan intensif, atau bahkan operasi.
Cedera yang sering terjadi pada atlet adalah sprain yaitu cedera pada
sendi yang mengakibatkan robekan pada ligament. Sprain terjadi karena adanya
tekanan yang berlebihan dan mendadak pada sendi, atau karena penggunaan
berlebihan yang berulang-ulang. Sprain ringan biasanya disertai hematom dengan
sebagian serabut ligament putus, sedangkan pada sprain sedang terjadi efusi cairan
yang menyebabkanbengkak. Pada sprain berat, seluruh serabut ligamen

putus

sehingga

hebat,

tidak

dapat

digerakkan

seperti biasa

dengan rasa

nyeri

pembengkakan, dan adanya darah dalam sendi.


Dislokasi sendi juga sering terjadi pada olahragawan yaitu terpelesetnya
bonggol sendi dari tempatnya. Apabila sebuah sendi pernah mengalami dislokasi,
maka ligament pada sendi tersebut akan kendor, sehingga sendi tersebut mudah
mengalami

dislokasi

kembali

(dislokasi habitualis). Penanganan yang dapat

dilakukan pada saat terjadi dislokasi adalah segera menarik persendian tersebut dengan
sumbu memanjang.

17

Cedera olahraga berat yang sering terjadi pada olahragawan adalah patah
tulang yang dapat dibagi menjadi patah tulang terbuka dan tertutup. Patah tulang
terbuka terjadi apabila pecahan tulang melukai kulit, sehingga tulang terlihat
keluar, sedangkan pada patah tulang tertutup, pecahan tulang tidak menembus
permukaan kulit. Pada kasus patah tulang, olahragawan harus

berhenti

dari

pertandingan, dan secepat mungkin harus dibawa ke professional karena harus


direposisi secepatnya. Reposisi yang dilakukan sebelum limabelas menit akan
member hasilmemuaskan karena pada saat itu belum terjadi nyeri pada tulang
(neural shock). Setelah reposisi bias dipasang spalk untuk mempertahankan posisi
dan sekaligus menghentikan perdarahan.
Penyebab terjadinya cedera olahraga dapat berasal dari luar seperti misalnya
kontak keras dengan lawan pada olahraga body contact, karena benturan dengan
alat-alat olahraga seperti misalnya stick hockey, bola , raket, dan lain-lain.Dapat pula
disebabkan oleh keadaan lapangan yang tidak rata yang meningkatkan potensi
olahragawan untuk jatuh, terkilir, atau bahkan patah tulang. Penyebab dari dalam
biasanya terjadi karena koordinasi otot dan sendi yang kurang sempurna, ukuran
tungkai yang tidak sama panjang, ketidak seimbangan otot antagonis.
G. Terapi Latihan untuk Cedera Olahraga
Olahraga

prestasi

memang

menuntut

pelakunya

untuk

memiliki

sekelompok otot yang lebih kuat daripada kelompok otot lainnya. Hal ini
menyebabkan adanya ketidak seimbangan kekuatan antara sekelompok otot dengan
kelompok otot antagonisnya. Cedera otot dapat terjadi baik pada kelompok otot yang
kuat maupun kelompok otot yang lemah. Sebagai contoh, seorang pelari biasanya
mempunyai otot betis yang jauh lebih kuat dibanding otot-otot pada kaki depan.
Ketidak

seimbangan

ini

dapat

menimbulkan
18

beberapa

cedera

misalnya

peradangan pada tendo achiles, strain pada otot calf, heel spur, dan radang bursa
calcaneal. Kelompok otot tibial
anteriornya dapat mengalami shin-splint, myositis maupun tendinitis. Untuk
mencegah terjadinya cedera tersebut diperlukan program latihan peregangan pada otot
yang kencang, dan latihan penguatan bagi otot yang lemah. Pada dasarnya program
terapi latihan terdiri atas latihan peregangan dan latihan penguatan.
1. Latihan Peregangan
Latihan peregangan secara teratur telah terbukti sangat efektif untuk
mengurangi kemungkinan terjadinya cedera. Latihan olahraga terus menerus dapat
menyebabkan otot mengalami kekakuan dan menjadi mudah cedera. Kekakuan
pada otot juga akan mengurangi jangkauan gerak sendi. Program latihan
peregangan dapat membantu mencegah terjadinya kekakuan pada sekelompok
otot, menjaga fleksibilitas

persendian, serta membantu program pemanasan

sebelum melakukan olahraga yang sesungguhnya. Ada tiga jenis teknik peregangan
yang

dapat dilakukan

yaitu teknik peregangan statis, balistik, dan PNF

(Propioceptive Neuromuscular Facilitation).


Peregangan statis merupakan teknik peregangan yang paling banyak
dipergunakan.Dalam teknik ini peregangan dilakukan secara perlahan-lahan sampai
pada titik resistensi atau sampai terasa sedikit sakit, kemudian bertahan pada posisi
meregang tersebut selama beberapa saat. Latihan peregangan tersebut kemudian
diulangi sampai beberapa kali untuk setiap kelompok otot. Teknik peregangan
balistis merupakan teknik pereganngan dengan gerakan yang lebih kuat dan
menggunakan

gerakan-gerakan

bouncing (mengayun)

secara

berulang-ulang.

Teknik ini mempunyai potensi terjadi cedera yang cukup besar, sehingga
masyarakat awam tidak dianjurkan untuk melakukan teknik ini.
19

Teknik PNF banyak dipergunakan oleh para ahli terapi fisik dalam
memeriksa

dan mempertimbangkan respon fisiologis dan system saraf, otot,

persendian, maupun tendon. Teknik ini merupakan teknik peregangan yang paling
efektif, namun belum banyak dikenal oleh masyarakat luas. Hal ini mungkin
terjadi karena pelaksanaan teknik ini lebih sulit dan membutuhkan partner
latihan. Secara umum, teknik PNF diawali dengan peregangan otot permulaan,
diikuti dengan melakukan kontraksi otot secara isometric (dengan daya resistensi
yang diberikan oleh partner), kemudian relaksasi untuk beberapa detik. Diakhiri
dengan peregangan pasif selama beberapa saat yang dialkukan oleh partner
dengan memberi tekanantekanan pada otot. Ada beberapa modifikasi dari teknik
peregangan PNF yang memungkinkan untuk dilakukan tanpa bantuan partner,
namun pada awalnya harus mendapatkan instruksi terlebih dahulu dari orang yang
telah berpengalaman.
Beberapa pedoman yang harus diikuti pada saat memulai program
peregangan adalah:
1)Lakukan

peregangan

secara

perlahan.

Awali

dan

tingkatkan

intensitas

peregangan dengan perlahan, kemudian secara bertahap tingkatkan intensitasnya


sambil member kesempatan relaksasi otot, 2)Jangan melakukan gerakan bouncing
karena dapat menimbulkan mekanisme reflek untuk menegang. Mekanisme ini justru
akan menimbulkan kontra produktif terhadap hasil peregangan, 3)Lakukan peregangan
secara teratur, bahkan dianjurkan setiap hari meskipun hari itu tidak akan melakukan
olahraga, 4)Bernafas secara normal, jangan menahan nafas pada saat melakukan
peregangan, 5)Rileks dan nikmati peregangan yang dilakukan. Peregangan tidak
hanya efektif untuk mengurangi ketegmeneangan yang dilakukanangan otot, namun

20

juga dapat membantu mengurangi tekanan emosional dan menimbulkan rasa sehat
pada tubuh secara menyeluruh (Anderson, 2005).
2. Latihan Penguatan
Hampir semua jenis olahraga membutuhkan kombinasi antara kekuatan,
kecepatan, koordinasi, dan ketahanan tubuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
atlet dengan kekuatan yang lebih besar akan lebih jarang terkena sindrom pemakaian
berlebih. Latihan penguatan otot tidak hanya menghasilkan kekuatan otot, namun
juga mengurangi tekanan pada persendian. Ketika otot telah berkembang menjadi
kuat, maka akan mengontrol dengan baik gerakan tulang belakang dan anggota tubuh
lainnya, misalnya pada saat gerakan melompat dan melempar.
Kelompok otot juga harus dilatih untuk mendukung koordinasi gerakan,
menyesuaikan pola gerakan sehingga terhindar dari ketegangan pada kelompok
otot maupun tendo tertentu (terhindar dari sindrom pemakaian berlebih). Latihan
ketahanan otot juga memungkinkan meningkatnya koordinasi gerak, keterampilan,
serta kekuatan tubuh yang terkontrol selama melakukan aktivitas olahraga dalam
jangka waktu lama. Program latihan penguatan yang terbaik meliputi kombinasi antara
latihan kekuatan (power training) dan latihan ketahanan (endurance training).
Tubuh manusia dilengkapi dengan kemampuan yang luarbiasa untuk
beadaptasi dengan setiap tekanan yang ditimpakan kepadanya. Selama melakukan
latihan penguatan, otot tubuh diharapkan dapat beradaptasi dengan tekanan dan
beban berlebih yang ditimpakan secara berulang. Secara anatomis dalam tubuh
manusia ada dua macam serabut yaitu serabut otot cepat dan serabut otot lambat.
Serabut otot cepat akan merespon latihan dengan beban berat namun ulangan
sedikit, dan sebaliknya dengan serabut ototakan merespon latihan dengan beban
sedang atau ringan dengan banya ulangan.
21

Metode latihan penguatan dapat dibedakan dalam tigakelompok yaitu: metode


isometric, isotonis, dan isokinetis. Metode isometric membutuhkan ontraksi otot
melawan resistensinya tanpa harus mengubah panjang otot dan mengubah sudut
persendian. Metode isotonis membutuhkan perubahan panjang otot dan perubahan
posisi persendian pada saat memindahkan gerakan resistensi atau memindahkan berat
dalam bentuk lingkungan gerakan. Metode isokinetis menggunakan kecepatan yang
konstan dengan resistensi yang bervariasi selama melakukan gerakan melengkung.
Resistensi yang bervariasi tersebut dimaksudkan bahwa apabila kekuatan melawan
otot berubah, maka berubah pula posisi sendinya. Hal ini penting karena kekuatan
yang ada pada otot tergantung pada sudut persendian. Dengan melakukan
resistensi otot yang berubah-ubah, maka otot akan menjadi kuat secara efektif pada
setiap posisi persendian yang ada (Taylor, 1997).
Ketiga metode latihan tersebut dapat memberi hasil
kekuatan,power, maupun

ketahanan

otot

apabila

optimal baik pada

menggunakan

beban

yang

progresif (dilakukan penambahan beban secara bertahap). Latihan dengan metode


isometric dapat menimbulkan ketegangan dan resistensi pada otot tanpa harus
mengubah posisi sendi. Latihan ini sangat bermanfaat bagi otot yang terisolasi dan
mengemabngkan bagian-bagian yang sulit dijangkau, serta memberikan resistensi
secara aman. Metode isometric sangat bemanfaat untuk menguatkan otot-otot
yang berada di dekat persendian. Misal latihan untuk leher dan kepala. Metode
isometric membantu meningkatkan kesehatan otot pada saat melakukan program
penyembuhan cedera. Kelemahan dari metode ini adalah manfaat yang hanya terbatas
pada satu posisi latihan saja, dan tidak bisa meningkatkan kekuatan yang meliputi
keseluruhan gerak sendi.

22

Metode latihan isotonis merupakan metode latihan penguatan yang paling


umum dilakukan (Gould, 2005). Metode isotonis sangat bervariasi, meskipun pada
dasarnya beprinsip pada pemberian beban dan tekanan yang berlebihan untuk
mendapatkan respond an adaptasi otot, sehingga kekuatan otot meningkat.
Program latihan resistensi progresif merupakan jenis metode latihan resistensi yang
paling banyak digunakan karena dapat melatih kekuatan sekaligus ketahanan. Dalam
metode ini terdapat tiga set latihan yang masing-masing harus dilakukan
sehingga bertahan 5 detik denagn 10 kali pengulangan setiap set nya. Set pertama
menimbulkan 50% dari daya resistensi maksimum, set ke dua 75% daya resistensi
maksimum, sedangkan set ke tiga 100% daya resistensi maksimum. Latihan
ditingkatkan secara bertahap dari minnggu ke minggu sehingga aman untuk pemula
dan untuk rehabilitasi cedera.
Metode Piramid dalam mengangkat beban dapat dilakukan dengan
mengangkat beban ringan sebanyak 10 kali, kemudian istirahat sebentar dan
diikuti dengan pengangkatan 6 kali menggunakan beban sedang. Setelah istirahat
sebentar, diakhiri dengan pengulangan 4 kali menggunakan beban berat. Metode
piramid akan menambah massa otot dan meningkatkan kekuatannya. Disamping
itu ada juga metode latihan penguatan dengan menggunakan beban berat
kemudian diikuti beban ringan. Metode ini disebut Oxford Programyang dirancang
untuk menghindari kelelahan dengan beban awal yang maksimal. Pengulangan
dilakukan 6-10 kali menggunakan beban maksimal, kemudian diikuti beban
ringan dengan pengulangan 10 kali. Teknik ini hanya dianjurkan untuk atlet
yang

telah

memiliki

pengalaman

latihan

beban sebelumnya, karena mudah

menimbulkan ketegangan otot, ligament, dan tendo.

23