Anda di halaman 1dari 56

LAPORAN COMMUNITY HEALTH ANALYSIS

KEPANITERAAN ILMU KEDOKTERAN MASYARAKAT


PUSKESMAS II WANGON
FAKTOR RISIKO KEJADIAN DEMAM BERDARAH DI WILAYAH
KERJA PUSKESMAS II WANGON TAHUN 2016

Disusun Oleh:
Jatmiko Edy Nugroho

G4A015018

Puti Hasana Kasih

G4A015022

Perseptor fakultas

: dr. Diah Krisnansari M.Sc

Perseptor lapangan : drg. Imam Hidayat

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


JURUSAN KEDOKTERAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
MARET 2016

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN COMMUNITY HEALTH ANALYSIS
KEPANITERAAN ILMU KEDOKTERAN MASYARAKAT
PUSKESMAS II WANGON
FAKTOR RISIKO KEJADIAN DEMAM BERDARAH DI WILAYAH
KERJA PUSKESMAS II WANGON TAHUN 2016
Disusun untuk memenuhi sebagian syarat dari
Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Masyarakat
Jurusan Kedokteran
Fakultas Kedokteran
Universitas Jenderal Soedirman

Disusun oleh:
Jatmiko Edy Nugroho

G4A015018

Puti Hasana Kasih

G4A015022

Telah dipresentasikan dan disetujui :


Tanggal Maret 2016
Preseptor Lapangan

Preseptor Fakultas

drg. Imam Hidayat


NIP.

dr. Diah Krisnansari, M.Sc


NIP.

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Demam berdarah dengue merupakan salah satu permasalahan pokok di
seluruh dunia. WHO melaporkan bahwa 2,5-3 juta manusia berisiko terhadap
penyakit ini. Penyakit demam berdarah adalah penyakit yang berbasis
perkotaan namun sudah mulai meluas ke pedesaan. Setiap kasus demam
berdarah menimbulkan rata-rata kematian mencapai 5% dari semua kasus.
Penyakit Demam Berdarah bahkan menjadi wabah 5 tahunan yang terakhir
terjadi pada tahun 2003/2004. Sejak tahun 1968 hingga tahun 2009 World
Health Organization (WHO) mencatat negara Indonesia sebagai negara
dengan kasus Demam Berdarah tertinggi di Asia Tenggara. Dari jumlah
keseluruhan kasus tersebut, sekitar 95% terjadi pada anak di bawah 15 tahun.
Tahun 2007 jumlah kasus DBD di Indonesia sebanyak 158.115, tahun 2008
sebanyak 137.469 kasus, tahun 2009 sebanyak 158.912 kasus dengan kota
terjangkit sebanyak 382 kota (Maria et al., 2013)
Penyakit DBD di Indonesia pada mulanya ditemukan di Surabaya pada
tahun 1968 dengan jumlah kasus 58 orang dan memakan korban jiwa
sebanyak 24 orang. Perkembangan penyakit ini dari tahun ke tahun cenderung
mengalami peningkatan baik dalam jumlah kasus maupun wilayah
penyebarannya. Awalnya penyakit ini lebih banyak terjadi di kota-kota besar
namun sekarang sudah terjadi di kota kecil bahkan sampai ke daerah pedesaan
(Rahayu et al., 2010)
Suatu daerah dikatakan endemis apabila dalam 3 tahun terakhir, setiap
tahunnya terdapat penderita DBD atau yang karena keadaan lingkungannya.
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan kasus endemik yang menyebar
di seluruh wilayah Indonesia dan hingga saat ini endemik hampir di 300
kabupaten yang ada. Nyamuk jenis Aedes aegypti merupakan vektor utama
dari penyakit DBD. Seluruh wilayah Indonesia memiliki risiko untuk
terjangkit penyakit DBD kecuali daerah yang memiliki ketinggian di atas
1000m di atas permukaan laut (Sari et al.,2013 ). Sejak tahun 2007, 33
kabupaten/kota dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah merupakan daerah
endemis DBD. Pada tahun 2008-2009, sudah menyebar ke seluruh

kabupaten/kota dengan jumlah kasus yang cukup tinggi (Sunaryo &


Pramestuti, 2014)
Faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit demam berdarah dengue
antara lain faktor host, lingkungan, serta faktor dari virus dengue sendiri.
Faktor lingkungan merupakan salah satu faktor penting yang erat kaitannya
dengan infeksi dengue. Lingkungan pemukiman sangat besar peranannya
dalam penyebaran penyakit menular. Kondisi perumahan yang tidak
memenuhi syarat rumah sehat apabila dilihat dari kondisi kesehatan
lingkungan akan berdampak pada masyarakat itu sendiri. Dampaknya dilihat
dari terjadinya suatu penyakit yang berbasis lingkungan yang dapat menular
(Maria et al., 2013).
Daerah Wangon sendiri DBD menjadi salah satu penyakit yang
menimbulkan kejadian luar biasa. Selama bulan Februari-Maret tahun 2016,
tercatat kasusnya meningkat 2 kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Tahun
2016 ini selama 2 bulan sudah sudah terdapat 12 pasien DBD, sedangkan
tahun lalu hanya berjumlah 4 orang dalam kurun 1 tahun. Berdasarkan fakta
yang dipaparkan peningkatan kejadian DBD merupakan masalah yang perlu
diketahui penyebabnya, peneliti tertarik untuk menganalisis dan melakukan
intervensi terhadap angka kejadian DBD di wilayah Wangon, khususnya yang
menjadi lingkup Puskesmas 2 Wangon.
B. Tujuan
1) Tujuan Umum
Melakukan analisis kesehatan komunitas (Community Health Analysis) di
wilayah kerja Puskesmas II Wangon Kabupaten Banyumas
2) Tujuan Khusus
a. Menentukan faktor risiko DBD di wilayah kerja Puskesmas II Wangon
b. Mencari alternatif pemecahan masalah DBD di wilayah kerja
Puskesmas II Wangon
c. Melakukan intervensi terhadap penyebab masalah DBD untuk
mengatasi masalah kesehatan di wilayah kerja Puskesmas II Wangon.
C. Manfaat
1. Manfaat Teoritis

Menjadi dasar untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang


permasalahan kesehatan yang terjadi di wilayah kerja Puskesmas II
wangon.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi mahasiswa
Menjadi dasar untuk penelitian lebih lanjut mengenai masalah
kesehatan di wilayah kerja Puskesmas II Wangon.
b. Bagi masyarakat desa
Memberikan

informasi

kesehatan

(promotif,

preventif,

dan

rehabilitatif) kepada masyarakat wialyah kerja Puskesmas II Wangon,


untuk penelitian khususnya berkaitan dengan demam berdarah.
c. Bagi instansi terkait
Membantu program enam dasar pelayanan kesehatan puskesmas
berkaitan dengan promosi kesehatan terutama masalah demam
berdarah sehingga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan
menentukan kebijakan yang harus diambil untuk menyelesaikan
masalah.
d. Bagi Fakultas Kedokteran UNSOED
Untuk menambah bahan referensi yang dapat digunakan sebagai
acuan dalam penelitian selanjutnya.

II. ANALISIS SITUASI


A.

Gambaran Umum Wilayah Puskesmas II Wangon


1. Keadaan Geografis
Puskesmas II Wangon merupakan salah satu UPTD Dinas
Kesehatan yang terletak di wilayah Kecamatan Wangon dan merupakan
salah satu dari dua Puskesmas yang ada di Kecamatan Wangon. Luas
wilayah kerja Puskesmas II Wangon adalah 21,38 km 2 terdiri terdiri dari 5
desa yaitu Windunegara, Wlahar, Cikakak, Jambu, Jurangbahas. Desa
Jambu meruakan desa yang mempunyai wilayah yang paling luas yaitu
sekitar 6,1 km2, sedangkan desa Wlahar merupakan desa yang mempunyai
wilayah paling sempit yaitu 2,7 km2.
Letak Geografi Puskesmas II Wangon terletak diantara 102936.31
Bujur Timur dan sekitar 10900717.53 Lintang Selatan, berbatasan
dengan beberapa kecamatan yaitu :
a.

Sebelah Timur

: Kecamatan Purwojati

b.

Sebelah Barat

: Kecamatan Lumbir

c.

Sebelah Utara

: Kecamatan Ajibarang

d.

Sebelah Selatan : Kecamatan Wangon dan wilayah kerja


Puskesmas II Wangon
Topografi wilayah kerja Puskesmas II Wangon terdiri dari 60 %

daratan

dan 40 % pegunungan. Jarak Puskesmas II Wangon ke ibukota

kabupaten 24 km, jarak desa dari puskesmas adalah 10 km. Semua pusat
pemerintah desa dapat terjangkau dengan kendaraan roda dua dan roda
empat.
2. Keadaan Demografis
a.

Pertumbuhan dan Persebaran Penduduk


Berdasarkan hasil pendataan yang didapatkan dari setiap desa tahun
2015 jumlah penduduk wilayah kerja Puskesmas II Wangon adalah
23.981 jiwa, terdiri dari 12.152 jiwa laki laki (50.67%) dan 11.829
jiwa perempuan (49.33%) tergabung dalam 6.275 rumah tangga/KK.
Jumlah penduduk tahun 2015 yang tertinggi di Desa Jambu sebanyak

6.550 jiwa sedangkan terendah di Desa Jurangbahas sebanyak 2.606


jiwa. Apabila dibandingkan dengan luas wilayah, kepadatan penduduk
tertinggi terdapat di desa Wlahar sebesar 1750.37/km2.
b.

Kepadatan Penduduk
Kepadatan penduduk wilayah kerja Puskesmas II Wangon tahun 2015
sebesar 1.126 jiwa per km2. Dengan kepadatan tertinggi terdapat di
Desa Wlahar dengan tingkat kepadatan sebesar 1750.37 jiwa/km2.,
sedangkan kepadatan penduduk terendah pada Desa Jurangbahas
sebesar 840.65 jiwa / km2.

c.

Status Sosial Ekonomi


1)

Tingkat Pendidikan
Berdasarkan data Profil Kesehatan Puskesmas II Wangon Tahun
2015 jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan adalah
sebagai berikut :
Tabel 1. Data Tingkat Pendidikan Pendudukam
NO
JENIS PENDIDIKAN
1
Tidak/belum sekolah
2
Tidak /Belum Tamat
SD/MI
3
SD/MI
4
SMP/MTS
5
SMA/SMK/MA
6
AK/DIPLOMA
7
UNIVERSITAS
Sumber : Profil Puskesmas II Wangon 2015

JUMLAH
31
8.398
9.750
3.004
1.891
626
312

Dari tabel tersebut di atas tingkat pendidikan paling banyak adalah


SD/MI, sebesar (40,65%), kemudian Tidak/belum Tamat SD/MI
(35%),

Tamat

SMP

(12,5%),

SMA/SMK/MA

(7,88%),

AK/Diploma (2,6%) dan Universitas sebanyak (1,3%).


2) Mata Pencaharian
Berdasarkan data yang diperoleh dari Kecamatan pada tahun 2015,
mata pencaharian atau jenis pekerjaan penduduk di wilayah kerja
Puskesmas II Wangon adalah sesuai urutan sebagai berikut : Petani

(27,96%), Industri (23,50%), perdagangan (18,20%), Konstruksi


(11,44%), Jasajasa ( 10,47%), angkutan dan komunukasi (5,86%),
pertambangan dan penggalian (1,6%), listrik, gas dan air (0,5%),
serta lembaga Keuangan (0,35%).
3. Petugas kesehatan
Berikut rasio tenaga kesehatan per 100.000 Penduduk:
a.

Rasio dokter umum per 100.000 penduduk tahun 2015 sebesar 8,3.

b.

Rasio tenaga dokter gigi per 100.000 penduduk tahun 2015 sebesar
4,2.

c.

Rasio tenaga apoteker, S1 Farmasi, D III farmasi 1.

d.

Rasio tenaga gizi per 100.000 penduduk 4.

e.

Rasio tenaga keperawatan per 100.000 penduduk pada tahun 2015


sebesar 67.

f.

Rasio tenaga kesehatan masyarakat 0 dan tenaga sanitasi 4,2.

B. Sarana Kesehatan
Puskesmas II Wangon merupakan salah satu UPTD Dinas Kesehatan
Kabupaten Banyumas, merupakan Puskesmas Non Perawatan dan memiliki 1
(satu) Puskesmas Pembantu (Pustu) yang terletak di Desa Cikakak dan 5
(lima) PKD yang tersebar di 4 dssa wilayah kerja Puskemas II Wangon. 1
(satu) desa belum memiliki PKD yaitu Desa Windunegara.
Dalam Pelayanan kesehatan dasar, Puskesmas II Wangon juga
melaksanakan Puskesmas Keliling (Pusling) di beberapa titik wilayah kerja
Puskesmas II Wangon. Konsep wilayah kerja puskesmas yaitu dengan sasaran
penduduk yang dilayani oleh sebuah puskesmas rata rata 30.000 penduduk
per-puskesmas.
C. Pembiayaan Kesehatan
Penyelenggaraan pembiayaan di Puskesmas II Wangon terdiri dari
operasional umum, Jamkesmas, Jampersal dan dana BOK dengan tujuan agar
semua program kesehatan di Puskesmas II Wangon ini berjalan dengan lancar
dan mencapai target yang telah ditentukan. Pada tahun 2015 jumlah total
anggaran kesehatan Puslesmas II Wangon Rp. 648.523.248,- dengan

kontribusi sebesar 31,21% berasal dari APBD Kabupaten Banyumas, 58,61%


bersumber dari Pendapatan Sah BLUD, 10,18% berusmber dari anggaran
APBN . Untuk anggaran kesehatan perkapita

mengalami kenaikan Rp.

27.043,21.
D. Situasi Derajat Kesehatan Masyarakat
Untuk memberikan gambaran derajat kesehatan masyarakat Wilayah
Puskesmas II Wangon pada Tahun 2015 disajikan situasi mortalitas dan
morbiditas.
1. Angka Kematian
Gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari
kejadian kematian dalam masyarakat. Disamping itu kejadian juga dapat
dijadikan indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan
dan program pembangunan kesehatan lainnya. Angka kematian pada
umumnya dapat dihitung dengan melakukan berbagai survey dan
penelitian. Perkembangan tingkat kematian dan penyakit penyakit yang
terjadi pada periode terakhir akan diuraikan dibawah ini.
a. Angka Kematian Bayi
Angka kematian bayi (AKB) adalah jumlah kematian bayi (0-12
bulan) per 1000 kelahiran hidup dalam kurun waktu satu tahun. AKB
menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan masyarakat yang
berkaitan dengan faktor penyebab kematian bayi, tingkat pelayanan
antenatal, status gizi ibu hamil, tingkat keberhasilan program KIA dan
KB, serta kondisi lingkungan dan sosial ekonomi. Bila AKB tinggi
berarti status kesehatan di wilayah tersebut rendah.
Sebagai gambaran perkembangan angka kematian bayi selama tiga
tahun terakhir (2012-2014) adalah sebagai berikut :

10

Gambar 1. Grafik Angka Kematian Bayi (per 1000 KH) Puskesmas II


Wangon Tahun 2012-2015
Peningkatan AKB dari tahun sebelumnya menunjukkan masih
rendahnya status kesehatan ibu dan bayi baru lahir, rendahnya akses
dan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak, serta perilaku ibu
hamil dan keluarga serta masyarakat yang belum mendukung perilaku
hidup sehat.
b.

Angka Kematian Ibu


Angka Kematian Ibu (AKI) mencerminkan risiko yang dihadapi ibu
ibu selama kehamilan,melahirkan, dan nifas yang dipengaruhi baik
oleh penyebab langsung maupun tidak langsung. Penyebab langsung
kematian ibu terbesar adalah komplikasi obstetrik (90%) yang dikenal
dengan Trias seperti perdarahan, infeksi dan pre eklamsi, atau
komplikasi pada saat kehamilan, kelahiran dan selama nifas yang
tidak tertangani dengan baik dan tepat waktu. Sedangkan penyebab
kematian ibu tidak langsung merupakan akar permasalahan yang erat
hubungannya dengan masalah sosial budaya seperti kebiasaan,
keyakinan, kepercayaan, sikap dan perilaku masyarakat terhadap
perawatan kehamilan, kelahiran dan selama nifas.
Jumlah kematian ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas II Wangon
pada tahun 2014 tidak ada kematian ibu. Dalam kurun waktu 3 tahun
2012-2014 juga tidak ada kematian ibu di wilayah kerja Puskesmas II
Wangon. Berdasarkan data diatas dapat dikatakan bahwa program
kesehatan ibu dan anak sudah berjalan cukup baik.

c. Angka Kematian Balita

11

Angka Kematian Balita (AKABA) merupakan jumlah kematian balita


(0-5 th) per 1.000 kelahiran hidup dalam kurun waktu satu tahun.
AKABA menggambarkan tingkat permasalahan anak balita, tingkat
pelayanan KIA, tingkat keberhasilan program KIA dan kondisi
lingkungan. Berdasarkan tabel lampiran profil kesehatan tahun 2014
Angka Kematian Balita sebesar 0 . Selama 3 periode yaitu tahun 2012
- 2014 Angka kematian Balita di wilayah kerja Puskesmas II Wangon
tidak ada atau sebesar 0 per 1.000 kelahiran hidup.
2. Angka Kesakitan
a. Acute Flaccid Paralisis (AFP)
Puskemas II Wangon dari tahun 2012-2015 belum/tidak menemukan
kasus AFP. Pemberian Imunisasi Polio rutin pada anak

balita

merupakan salah satu cara pemerintah untuk mencegah terjadinya


kasus

Polio (Eradikasin Polio). Surveylans P2M termasuk AFP

dilakukan untuk mengamati dan menjaring semua kelumpuhan yang


terjadi secara mendadak dan bersifat layuh seperti kelumpuhan pada
poliomielitis.
b. Kesembuhan Penderita TB Paru BTA (+)
Penemuan kasus baru BTA (+) di Puskemas II Wangon tahun 2015
sebanyak 21 orang atau sehingga total CDR sebanyak 28,60% sampai
dengan saat ini belum memenuhi

target CDR yaitu > 70%. Hal

tersebut karena Puskesmas II Wangon belum secara aktif melakukan


penemuan kasus BTA (+) karena tidak ada tenaga laborat/analis
sehingga penemuan kasus TB BTA (+) kiriman dari sarana kesehatan
yang lain.
c. Persentase Balita dengan Pneumonia Ditangani
Cakupan penemuan penderita Pnemonia Balita di Wilayah kerja
Puskesmas II Wangon pada tahun 2015 sebesar 9,9 % mengalami
peningkatan dibanding pada tahun 2014 sebesar 5,8% tapi belum
significan karena masih jauh dari target yaitu 80%.
d. Prevalensi HIV

12

Penemuan kasus HIV/AIDS di wilayah kerja Puseksmas II Wangon


pada tahun 2015 tidak ditemukan kasus HIV/AIDS. Dalam kurun
waktu 2012-2015 tidak ditemukan laporan kasus penderita HIV-AIDS.
Untuk penemuan kasus Puskesmas mendapatkan Laporan dari Rumah
Sakit yang kemudian akan di tindak lanjuti dari Dinas kesehatan.
Kasus HIV/AIDS merupakan fenomena gunung es dimana kasus yang
dilaporkan hanya sebagian kecil dari masyarakat.
e. Angka Kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD)
Angka Kesakitan/Incidence Rate (IR) di Wilayah kerja Puskesmas II
Wangon pada tahun 2015 sebesar 12,5 per 100.000 penduduk. Angka
ini mengalami peningkatan dibanding tahun 2014 sebesar 21,6 per
100.000 penduduk dan tahun 2013 yaitu sebesar 53,3.per 100.000
penduduk.mAngka kematian/Case Fatality Rate (CFR) pada tahun
2014 adalah 0 %.
f. Penanganan Kasus DBD
Penderita kasus DBD yang ditangani merupakan penderita DBD yang
penanganannya sesuai standar di satu wilayah kerja pada kurun waktu
tertentu. Cakupan penderita DBD yang ditangani pada tahun 20145
sebesar 100%.
g. Penanganan Diare pada balita
Kasus penyakit Diare yang ditangani di wilayah kerja Puskesmas II
Wangon tahun 2015 sebesar 34,6% cenderung mengalami peningkatan
dibanding tahun 2014 sebesar 34,1% dan tahun 2013 yaitu sebesar
29%.
h. Persentase Penderita Kusta selesai berobat
Penemuan Kasus Kusta dengan type MB sebanyak 1 orang

dengan

angka penemuan kasus baru sebesar 4,17 per 100.000 penduduk. Pada
tahun 2014 sebesar 8,64 per 100.000 penduduk. Penderita tersebut
sedang menjalani pengobatan dengan teratur dan merupakan pasien
lama. Tidak ditemukan kasus baru pada penyakit kusta.
i. Kasus Penyakit filariasis ditangani

13

Jumlah Penemuan kasus filariasis di wilayah kerja Puskesmas II


Wangon sebanyak 0 (nol). Periode 2012-2015 Puslesmas II Wangon
belum menemukan kasus Filariasis.
j. Penyakit Tidak Menular
Penyakit tidak menular yang ditemukan diantaranya yaitu Dispepsia
hipertensi, Diabetes Mellitus , Remathoid artritis dan Myalgia hal ini
dapat terlihat pada Sepuluh besar Penyakit pada tahun 2015.
3. Angka Status Gizi Masyarakat
a. Persentase Kunjungan Neonatus
Kunjungan Neonatus adalah kunjungan yang dilakukan oleh petugas
kesehatan ke rumah ibu bersalin untuk memantau dan memberi
pelayanan kesehatan untuk ibu dan bayinya. Cakupan Kunjungan
Neonatus di Wilayah Kerja Puskesmas II Wangon pada tahun 2015
adalah sebesar 100%, terjadi peningkatan dibanding 2014 adalah
sebesar 99,7%, dan tahun 2013 sebesar 98,9%. Hal ini menunjukkan
tingginya kesadaran ibu dalam pemantauan perkembangan dan
kesehatan neonatus.
b. Persentase Kunjungan Bayi
Kunjungan bayi adalah bayi yang memperoleh pelayanan kesehatan
sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan paling sedikit 4 kali di
luar kunjungan neonatus. Cakupan kunjungan bayi di wilayah kerja
Puskesmas II Wangon pada tahun 2015 sebesar 95,89%, terjadi
peningkatan dibanding tahun 2014 sebesar 93,5%. Berdasarkan Target
SPM maka angka tersebut sudah memenuhi target yaitu 90%.
c. Persentase BBLR ditangani
Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi yang lahir dengan berat
badan kurang dari 2500 gram. Penyebab terjadi BBLR antara lain
karena ibu hamil mengalami anemia, kurang asupan gizi waktu dalam
kandungan atau lahir premature. Presentase BBLR di Wilayah Kerja
Puskesmas II Wangon pada tahun 2015 sebesar 6,34% dibandingkan
tahun 2014 terjadi peningkatan presentase sebesar 2,6%. Bayi dengan
BBLR mendapat penanganan dari petugas kesehatan 100%.

14

d. Balita dengan Gizi Buruk


Balita dengan gizi buruk dapat dipantau melalui pemantauan tumbuh
kembang Balita di Posyandu, pemantauan status gizi. Perawatan yang
baik dapat meningkatkan status gizi balita. Berdasarkan table profile
Puskesmas II Wangon pada tahun 2015 kasus balita gizi buruk sebesar
0,22% dibandingkan tahun 2014 mengalami peningkatan jumlah kasus
balita dengan gizi buruk sebesar 0,07%. Pada tahun 2013 tidak
ditemukan kasus gizi buruk pada balita.

15

III.

IDENTIFIKASI PERMASALAHAN DAN PRIORITAS MASALAH

A. Daftar Permasalahan Kesehatan


Berikut ini adalah data sepuluh penyakit terbesar di Puskesmas
Wangon II bulan Juni-Desember 2015.
Tabel 3.1Data sepuluh penyakit terbesar di Puskesmas Wangon II
bulan Juni-Desember 2015.
NO
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Nama
Penyakit
ISPA
Hipertensi
Gastroenteritis
Dispepsia
DKI
Mialgia
Cephalgia
DKA
Vertigo
DBD

Juni
331
85
0
32
28
35
29
47
0
0

Juli
280
60
39
44
68
0
25
0
0
0

Agustus
303
71
88
30
42
26
29
0
0
0

September
374
29
54
49
28
53
0
0
18
0

Oktober
299
49
49
53
0
39
21
47
0
0

November
236
77
44
52
41
48
39
28
29
0

Desember
226
72
39
43
53
54
43
58
0
0

Prioritas masalah di wilayah Puskesmas Wangon II dipilih dengan


menggunakan metode Hanlon Kuantitatif dengan emapat kelompok
kriteria, yaitu:
1.

: besarnya

Kelompok kriteria A
2.

problem)
: kegawatan masalah, penilaian terhadap

Kelompok kriteria B
3.
Kelompok kriteria C

masalah(magnitude

of

the

dampak, urgensi dan biaya


: kemudahan dalam penanggulangan, yaitu
penilaian

terhadap

tingkat

kesulitan

penanggulangan masalah
4.
Kelompok kriteria D

: PEARL factor, yaitu penilaian terhadap


propriety,

economic,

acceptability,

resources availability, legality


Kriteria prioritas masalah di Puskesmas Wangon II dirinci sebagai berikut:
1. Kriteria A (besarnya masalah)

Total
1989
443
313
303
260
255
186
180
47
12

16

Besarnya masalah kesehatan diukur dengan melihat


besarnya penduduk yang terkena efek akibat masalah tersebut.
Tabel 3.2 Kriteria A Hanlon Kuantitatif
NO
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Nama
Penyakit
ISPA
Hipertensi
Gastroenteritis
Dispepsia
DKI
Mialgia
Cephalgia
DKA
Vertigo
DBD

Total
1989
443
313
303
260
255
186
180
47
12

Insidensi
8,64
1,93
1,36
1,32
1,13
1,11
0,81
0,78
0,20
0,05

Kategori
5,00-9,99%
1,00-4,99%
1,00-4,99%
1,00-4,99%
1,00-4,99%
1,00-4,99%
0,00-0,99%
0,00-0,99%
0,00-0,99%
0,00-0,99%

Skor
3
2
2
2
2
2
1
1
1
1

2. Kriteria B (Kegawatan Masalah)


Kegawatan : (paling cepat mengakibatkan kematian)
Skor : 1 = Tidak gawat
2 = Kurang gawat
3 = Cukup gawat
4 = Gawat
5 = Sangat gawat
Urgensi: (harus segera ditangani, apabila tidak menyebabkan kematian)
Skor : 1 = Tidak urgen
2 = Kurang urgen
3 = Cukup urgen
4 = Urgen
5 = Sangat urgen
Biaya: (Efek ekonomi yang timbul)
Skor : 1 = Sangat murah
2 = Murah
3 = Cukup mahal
4 = Mahal

17

5 = Sangat mahal
Tabel 3.3 Kriteria B Hanlon Kuantitatif

NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Nama Penyakit
ISPA
Hipertensi
Gastroenteritis
Dispepsia
DKI
Mialgia
Cephalgia
DKA
Vertigo
DBD

Kegawata
n
1
2
3
2
1
2
3
1
2
4

Urgensi
1
2
4
1
1
1
1
1
1
4

Biaya
1
1
2
1
1
2
2
1
2
3

Nilai
1
2
3
2
1
2
2
1
2
4

3. Kriteria C (Penanggulangan Masalah)


Penilaian penanggulangan adalah berupa pertanyaan yang
harus dijawab, yaitu apakah sumber-sumber dan teknologi yang
tersedia

mampu

menyelesaikan

masalah:

makin

sulit

dalam

penanggulangan, skor yang diberikan makin kecil.


Skor

: 1 = Sangat sulit ditanggulangi


2 = Sulit ditanggulangi
3 = Cukup bisa ditanggulangi
4 = Mudah ditanggulangi
5 = Sangat mudah ditanggulangi
Pada tahap ini dilakukan pengambilan suara dari 2 orang

yang kemudian dirata-rata untuk menentukan skor, dimana skor


tertinggi merupakan masalah yang paling mudah ditanggulangi.
Adapun hasil konsensus tersebut adalah sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

ISPA
: (1+3)/2 = 2
Hipertensi
: (4+2)/2 = 3
Gastroenteritis : (4+4)/2 = 4
Dispepsia
: (4+4)/2 = 4

18

5. DKI
6. Myalgia
7. Cephalgia
8. DKA
9. Vertigo
10. DBD

: (4+4)/2 = 4
: (1+3)/2 = 2
: (2+2)/2 = 2
: (4+4)/2 = 4
: (4+4)/2 = 4
: (4+4)/2= 4

4. Kriteria D (P.E.A.R.L)
Propriety

: kesesuaian (1/0)

Economic

: ekonomi murah (1/0)

Acceptability

: dapat diterima (1/0)

Resourcesavailability

: tersedianya sumber daya (1/0)

Legality

: legalitas terjamin (1/0)

Tabel 3.4 Kriteria P.E.A.R.L. Hanlon Kuantitatif

NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Nama Penyakit
ISPA
Hipertensi
Gastroenteritis
Dispepsia
DKI
Mialgia
Cephalgia
DKA
Vertigo
DBD

Penetapan nilai

P
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

E
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

A
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

R
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

L
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

Hasil
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

19

Setelah nilai kriteria A, B, C, dan D didapatkan kemudian nilai


tersebut dimasukkan ke dalam formula sebagai berikut :
a. Nilai prioritas dasar (NPD) = (A+B) x C
b. Nilai prioritas total (NPT) = (A+B) x C x D

Tabel 3.5 Penetapan Prioritas Masalah


Nama
Penyakit
DBD
Gastroenteritis
Dispepsia
Hipertensi
DKI
Vertigo
ISPA
Mialgia
DKA
Cephalgia

NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

A
1
2
2
2
2
1
3
2
1
1

B
4
3
2
2
1
2
1
2
1
2

C
4
4
4
3
4
4
2
2
4
2

D
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

NPD
20
20
16
12
12
12
8
8
8
6

NPT
20
20
16
12
12
12
8
8
8
6

Prioritas pertama masalah diperoleh dengan nilai NPT


tertinggi. Berdasarkan hasil perhitungan dengan metode Hanlon
kuantitatif urutan prioritas masalahnya adalah sebagai berikut:
1.

DBD

2.

Gastroenteritis

3.

Dispepsia

4.

Hipertensi

5.

DKI

6.

Vertigo

7.

ISPA

8.

Mialgia

9.

DKA

10. Cephalgia

20

IV. KERANGKA KONSEPTUAL MASALAH


A. Dasar Teori dan Pembahasan
1. Definisi Demam Berdarah
Demam berdarah dengue (DBD) merupakan suatu penyakit
epidemik akut yang disebabkan oleh virus yang ditransmisikan oleh Aedes
aegypti dan. Aedes albopictus. Penderita yang terinfeksi akan memiliki
gejala berupa demam ringan sampai tinggi, disertai dengan sakit kepala,
nyeri pada mata, otot dan persendian, hingga perdarahan spontan (WHO,
2010). Nyamuk penular dengue ini terdapat hampir di seluruh pelosok
Indonesia, kecuali di tempat yang memiliki ketinggian lebih dari 1000
meter di atas permukaan laut. Penyakit DBD banyak dijumpai terutama di
daerah tropis. Beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya DBD
antara lain rendahnya status kekebalan kelompok masyarakat dan
kepadatan populasi nyamuk penular karena banyaknya tempat perindukan
nyamuk yang biasanya terjadi pada musim penghujan (Depkes, 2016).
Data dari seluruh dunia menjelaskan bahwa wilayah Asia
menempati urutan pertama dalam jumlah penderita DBD setiap tahunnya.
Menurut WHO, negara Indonesia ialah negara dengan kasus DBD
tertinggi di Asia Tenggara sejak tahun 1968 hingga 2009 (Ni et al., 2014).
Pada tahun 2014, sampai pertengahan bulan Desember tercatat penderita
DBD di 34 provinsi di Indonesia sebanyak 71.668 orang, dan 641
diantaranya meninggal dunia. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan
tahun sebelumnya, yakni tahun 2013 dengan jumlah penderita sebanyak
112.511 orang dan jumlah kasus meninggal sebanyak 871 penderita
(Depkes, 2016).

21

2. Etiologi Demam Berdarah


Penyebab dari demam berdarah sendiri adalah gigitan nyamuk
Aedes aegypti yang mengandung virus dengue. Host alami dari virus
tersebut adalah manusia, agentnya adalah virus dengue yang termasuk ke
dalam famili Flaviridae dan genus Flavivirus, terdiri dari 4 serotipe yaitu
Den-1, Den-2, Den-3 dan Den-4 yang, ditularkan ke manusia melalui
gigitan nyamuk yang terinfeksi, khususnya nyamuk Aedes aegypti dan Ae.
albopictus yang terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia (Candra,
2010).
Masa inkubasi virus dengue dalam manusia (inkubasi intrinsik)
berkisar antara 3 sampai 14 hari sebelum gejala muncul,gejala klinis ratarata muncul pada hari keempat sampai hari ketujuh, sedangkan masa
inkubasi ekstrinsik (di dalam tubuh nyamuk) berlangsung sekitar 8-10 hari
(Candra, 2010).
3. Patomekanisme Demam Berdarah
Nyamuk Aedes Spp yang telah terinfeksi virus dengue akan tetap
terinfeksi selama hidupnya dan akan menularkan kepada individu yang
rentan terhadap gigitan nyamuk tersebut. Setelah virus masuk ke dalam
tubuh manusia, virus dengue akan menuju organ sasaran yaitu hepar,
tepatnya pada sel-sel kupfer, endotel pembuluh darah, modus limfaticus,
sumsum tulang, dan paru-paru. Sel monosit dan makrofag memiliki peran
pada infeksi ini, dimulai dengan menempel dan masuknya genom virus ke
dalam sel dengan bantuan organel sel dan membentuk komponen perantara
dan komponen struktur virus. Antibodi DBD dibedakan berdasarkan
perannya terdiri dari antobodi netralisasi atau neutralizing antibody yang
memiliki serotipe spesifik Antibodi tersebut mampu mencegah infeksi
virus. Antibody non netralising serotype memiliki peran reaktif silang yang
dapat meningkatkan infeksi dan berperan dalam pathogenesis DBD dan
DSS. Terdapat dua teori atau hipotesis immunopatogenesis DBD dan DSS
yang masih kontroversial yaitu infeksi sekunder (secondary heterologus
infection) dan antibody dependent enhancement (ADE) (Soegijanto, 2002)

22

Teori atau hipotesis infeksi sekunder pada DBD menjelaskan


bahwa bila seseorang mendapatkan infeksi sekunder oleh satu serotipe
virus dengue maka akan terjadi proses kekebalan terhadap infeksi serotipe
virus dengue tersebut untuk jangka waktu yang lama. Namun apabila
orang tersebut mendapatkan infeksi sekunder oleh serotipe virus dengue
lainnya maka akan terjadi infeksi yang lebih berat. Hal ini terjadi karena
antibody heterologus yang terbentuk pada infeksi primer akan membentuk
kompleks dengan infeksi virus dengue serotipe baru yang berbeda, dan
tidak dapat dinetralisasi bahkan cenderung membentuk kompleks yang
infeksius dan bersifat oponisasi internalisasi. Hal ini akan menyebabkan
teraktifasinya IL-1, IL- 6, tumor necrosis factor-alpha (TNF-A) dan
platelet activating factor (PAF) (Soegijanto, 2002)
Aktifasi TNF alpha sendiri dapat menyebabkan kebocoran pada
dinding pembuluh darah, merembesnya cairan plasma ke jaringan tubuh
akibat dari kerusakan endothel pembuluh darah (Dewi et al., 2007). Hal
ini terjadi karena adanya kompleks imun yang terbentuk akan merangsang
komplemen yang farmakologisnya cepat dan pendek dan bersifat vasoaktif
dan prokoagulan sehingga menimbulkan kebocoran plasma (syock
hipolemik) dan perdarahan (gGbson, 2010). Sedangkan teori ADE
menjelaskan jika terdapat antibodi spesifik terhadap jenis virus tertentu,
maka dapat mencegah penyakit yang diakibatkan oleh virus tersebut, tetapi
sebaliknya apabila antibodinya tidak dapat menetralisasi virus, justru akan
menimbulkan penyakit yang berat.
Selain kedua teori tersebut, masih terdapat bebebrapa teori lain mengenai
patogenesis DBD, di antaranya adalah teori virulensi virus yang
didasarkan pada perbedaan serotipe virus dengue yaitu DEN 1, DEN 2,
DEN 3 dan DEN 4 yang semuanya bisa ditemukan pada kasus-kasus fatal.
Selanjutnya ada teori antigen-antibodi yang berdasarkan pada penderita
atau kejadian DBD dapat terjadi penurunan aktivitas sistem komplemen
yang ditandai dengan adanya penurunan kadar C3, C4 dan C5. Selain itu
ada teori moderator yang menyatakan bahwa makrofag yang terinfeksi
virus dengue akan melepas berbagai mediator seperti interferon, IL-1, IL-

23

6, IL-12, TNF dan yang lainnya, yang bersama endotoksin dapat


menyebabkan terjadinya syok septik, demam , dan peningkatan
permeabilitas kapiler (Candra, 2010)
Viremia pada infeksi virus DBD bisa terjadi sangat cepat, hanya
dalam beberapa hari dapat terjadi infeksi di beberapa tempat namun belum
dapat menimbulkan derajat kerusakan jaringan (tissue destruction) yang
berat untuk menyebabkan kematian. Kematian yang terjadi pada DBD
lebih disebabkan oleh adanya gangguan metabolik pada sistem tubuh.
Kurane dan Ennis (1994) menyatakan bahwa infeksi virus dengue akan
mengaktivasi makrofag yang memfagositosis kompleks virus-antibodi non
netralisasi sehingga virus dapat bereplikasi di makrofag. Terjadinya infeksi
makrofag oleh virus dengue menyebabkan adanya aktivasi T helper dan T
sitotoksik yang menyebabkan produksi limfokin dan interferon gamma.
Interferon gamma akan mengaktivasi monosit 15 sehingga disekresi
berbagai mediator inflamasi seperti TNF-_, IL-1, PAF (platelet activating
factor), IL-6, dan histamin yang mengakibatkan terjadinya disfungsi
endotel dan terjad kebocoran plasma. Peningkatan C3a dan C5a terjadi
melalui aktivasi kompleks virus antibodi yang juga mengakibatkan
terjadinya kebocoran plasma. Trombositopenia pada infeksi dengue terjadi
melalui mekanisme :
a. Supresi sumsum tulang
b. Destruksi dan pemendekan masa hidup trombosit.
Fase awal infeksi (<5 hari) gambaran sumsum tulang menunjukkan
adanya keadaan hiposeluler dan supresi megakariosit. Setelah keadaan
nadi

tercapai

akan

terjadi

peningkatan

hematopoiesis

termasuk

megakariopoiesis. Kadar tromobopoietin dalam darah pada saat terjadi


trombositopenia justru menunjukkan kenaikan. Hal ini menunjukkan
terjadinya stimulasi trombopoiesis sebagai mekanisme kompensasi
Candra, 2010).
4. Vektor Demam Berdarah

24

Nyamuk Ae. aegypti merupakan vektor utama serta yang menjadi


vektor pendamping pada penyakit DBD. Nyamuk tersebut ditemukan di
seluruh wilayah Indonesia, hidup optimal pada ketinggian di atas 1000 m
di atas permukaan laut,10. Nyamuk Aedes berasal dari Brazil dan Ethiopia,
stadium dewasa berukuran lebih kecil bila dibandingkan dengan rata-rata
nyamuk lainnya.3 Terdapat dua spesies nyamuk tersebut, yaitu Ae.aegypti
dan Ae.albopictus. Kedua spesies nyamuk tersebut termasuk ke dalam
Genus Aedes dari Famili Culicidae. Morfologis dari keduanya sangat
mirip, namun tetap bisat dibedakan dari strip putih yang terdapat pada
bagian skutumnya. 46 Skutum Ae. aegypti berwarna hitam dengan dua
strip putih sejajar di bagian dorsal tengah yang diapit oleh dua garis
lengkung berwarna putih. Sedangkan skutum Ae. albopictus yang juga
berwarna hitam hanya berisi satu garis putih tebal di bagian dorsalnya
(Knowton et al., 2009)
Nyamuk Aedes aegypti dewasa memiliki ukuran lebih kecil jika
dibandingkan dengan rata-rata ukuran nyamuk lainnya. Nyamuk ini
memiliki dasar hitam dengan bintik- bintik putih pada bagian badan, kaki,
dan sayapnya. Nyamuk Aedes aegypti jantan mengisap cairan tumbuhan
dari sari bunga untuk keperluan hidupnya. Sedangkan nyamuk betina
mengisap darah. Nyamuk betina biasanya mencari mangsanya pada siang
hari. Aktivitas menggigit nyamuk tersebut pada pagi (pukul 9.00-10.00)
sampai petang hari (16.00-17.00. Aedes aegypti memiliki kebiasan
mengisap darah berulang kali untuk memenuhi lambungnya dengan darah.
Hal tersebut membuat nyamuk ini sangat infektif sebagai penular penyakit.
Setelah mengisap darah, nyamuk ini hinggap untuk beristirahat di dalam
atau diluar runlah. Tempat hinggap yang digemari adalah benda-benda
yang tergantung dan biasanya ditempat yang agak gelap dan lembab.
Disini nyamuk menunggu proses pematangan telurnya. Selanjutnya
nyamuk betina akan meletakkan telurnya sedikit diatas permukaan air.
Pada umumnya telur akan menetas menjadi jentik dalam waktu 2 hari
setelah terendam air. Jentik kemudian menjadi kepompong dan akhirnya
menjadi nyamuk dewasa (Siregar, 2004).

25

Nyamuk Aedes aegypti dewasa bisa mendapat virus dengue


sewaktu mengigit atau mengisap darah orang yang sakit Demam Berdarah
Dengue atau tidak sakit tetapi didalam darahnya terdapat virus dengue.
Seseorang yang didalam darahnya terdapat virus dengue merupakan
sumber penularan penyakit demam berdarah. Virus dengue berada dalam
darah selama 4-7 hari mulai 1-2 hari sebelum demam.Apabila penderita
tersebut digigit nyamuk penular, maka virus dalam darah akan ikut
terhisap

masuk

kedalam

lambung

nyamuk.

Selanjutnya

virus

memperbanyak diri dan tersebar diberbagai jaringan tubuh nyamuk yang


salah satunya pada kelenjar liurnya. Sekitar 1 minggu setelah mengisap
darah penderita, nyamuk tersebut siap untuk menularkan kepada orang lain
(masa inkubasi ekstrinsik). Virus ini akan tetap berada dalam tubuh
nyamuk sepanjang hidupnya. Oleh karena itu, nyamuk Aedes aegypti yang
telah mengisap virus dengue menjadi penular (infektif) sepanjang
hidupnya. Penularan ini disebabkan karena setiap kali nyamuk
menusuk/mengigit,

akan mengeluarkan air liur melalui alat tusuknya

(proboscis) agar darah yang diisap tidak membeku. Bersama air liur inilah
virus dengue dipindahkan dari nyamuk ke orang lain (Siregar, 2004).
5. Faktor Risiko Demam Berdarah
Faktor resiko DBD biasanya dikaitkan dengan kepadatan penduduk
dan lingkungannya. Pertumbuhan penduduka yang cepat bisa melemahkan
pengendalian populasi yang bisa memungkinkan terjadinya KLB. Faktor
resiko lain yang berhubungan adalah kemiskinan yang mengakibatkan
sesorang tidak mampu untuk membuat rumahnya layak dan sehat, namun
tidak memungkiri bahwa DBD juga bisa menyerang penduduk yang lebih
makmur 40.
Kabupaten Banyumas sendiri merupakan salah satu daerah
endemis untuk DBD. Daerah ini memiliki kejadian yang mengalami
kenaikaina tiap tahunnya dan penyebarannya pun semakin luas. Dardjito
et al., 2008 dalam penelituiannya mencoba mengungkapkan hubungan

26

beberapa faktor resiko dengan terjadinya demam berdarah di wilayah


banyumas. Faktor-faktor resiko tersebut meliputi :
a.

Pemeliharaan tanaman hias


Pemeliharaan tanaman hias masih menjadi kegemaran masyarakat.
Tanaman hias yang ditempatkan pada suatu tempat yang berisi air untuk
menghiasi ruangan rumah beresiko untuk menjadi tempat berkembang
biak nyamuk
b.

Tanaman sekitar rumah


Pemeliharraan tanaman sekitar rumah masih banyak
terdapat pada daerah di Kabupaten Banyumas. Tanaman-tanaman
tersebut dapat menjadi tempat berkembangbiak nyamuk penular
penyakit demam berdarah dengue. Salah satu jenis tempat
perkembangbiakkan

nyamuk

Aedes

aegypti

yaitu

tempat

penampungan air alamiah seperti, lubang pohon, lubang batu,


pelepah daun, tempurung kelapa, potongan bambu dan Iain-lain.
c. Pengurasan tempat penampungan air
Depkes menyatakan bahwa tempat perkembangbiakkan
utama jentik Aedes aegypti pada tempat-tempat penampungan air
di dalam atau di luar rumah atau sekitar rumah,biasanya tidak
melebihi jarak 500 meter dari rumah. Tempat perkembangbiakkan
nyamuk ini dapat berupa genangan air yang tertampung di suatu
tempat atau bejana, karena nyamuk tidak dapat berkembangbiak di
genangan air yang langsung berhubungan dengan tanah.
d.
Kebiasaan tidur siang
Waktu nyamuk Aedes aegypti untuk menggigit lebih
banyak pada siang hari daripada malam hari, yaitu antara jam
08.00 - 12.00 dan jam 15.00- 17.00 dan aktivitas tersebut lebih
banyak dilakukan di dalam rumah dari pada di luar rumah
e. Kebiasaan gantung pakaian
Kebiasaan menggantung pakaian di dalam

rumah

meningkatkan risiko terkena penyakit DBD daripada yang


mempunyai kebiasaan tidak menggantung pakaian. Hal ini
berkaitan dengan kesenangan nyamuk terhadap gantungan pakaian
sebagai tempat tinggal.
f. Kebiasaan menggunakan obat anti nyamuk

27

Metode perlindungan diri yang digunakan oleh individu


atau kelompok kecil pada masyarakat untuk melindungi diri
mereka sendiri dari gigitan nyamuk adalah dengan menggunakan
obat nyamuk, dimana obat nyamuk merupakan peralatan kecil,
g.

mudah dibawa, dan sederhana dalam penggunaannya


Usia
Anak-anak kebanyakan memiliki aktivitas yang dilakukan
berada di dalam rumah, sehingga kemungkinan kontak dengan
nyamuk Aedes aegypti lebih besar dibandingkan dengan orang
dewasa muda maupun orang tua yang kebanyakan aktivitasnya di

lakukan luar rumah.


h. Pemeliharaan burung
Salah satu jenis tempat perkembangbiakkan nyamuk Aedes
aegypti yaitu tempat penampungan air yang bukan digunakan
untuk keperluan sehari-hari seperti: tempat minuman burung, vas
bunga tanaman bias, dan barang-barang bekas, seperti ban, kaleng,
botol dan Iain-lain
i. Pembersihan rumah
Salah satu cara mencegah perkembangbiakkan nyamuk
Aedes aegypti adalah kebersihan halaman rumah dari sisa sampah
barang-barang bekas yang dapat menjadi tempat perindukkan
nyamuk Aedes aegypti
j. Lingkungan Biologik
Lingkungan biologik yang mendukung perkembangbiakkan
nyamuk penular penyakit DBD adalah adanya tanaman hias yang
berisi air dan tanaman pekarangan/sekitar rumah di samping dapat
menampung

air

secara

alami

dapat

pula

mempengaruhi

kelembaban dan pencahayaan di dalam rumah, sehingga menjadi


tempat yang disenangi oleh nyanmk. Aedes aegypti untuk istirahat.

28

2. Skema Kerangka Konseptual

Gambar 2. Kerangka Konseptual

29

3. Hipotesis
1. Terdapat hubungan pemeliharaan tanaman hias dengan kejadian DBD di
wilayah kerja Puskesmas Wangon II pada bulan Januari Maret tahun
2016
2. Terdapat hubungan pemeliharaan tanaman sekitar rumah dengan kejadian
DBD di wilayah kerja Puskesmas Wangon II pada bulan Januari-Maret
tahun 2016
3. Terdapat hubungan pengurasan tempat penampungan air dengan kejadian
DBD di wilayah kerja Puskesmas Wangon II pada bulan januari-Maret
tahun 2016
4. Terdapat hubungan kebiasaan menutup tempat penampungan air dengan
kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Wangon II pada bulan JanuariMaret tahun 2016
5. Terdapat hubungan kebiasaan mengubur/membakar barang-barang bekas
yang dapat menampung air dengan kejadian DBD di wilayah kerja
Puskesmas Wangon II pada bulan Januari-Maret tahun 2016
6. Terdapat hubungan pemeliharaan burung dengan kejadian DBD di wilayah
kerja Puskesmas Wangon II pada bulan Januari-Maret tahun 2016
7. Terdapat hubungan pembersihan rumah dengan kejadian DBD di wilayah
kerja Puskesmas Wangon II bulan Januari-Maret pada tahun 2016
8. Terdapat hubungan kebiasaan menggantung pakaian dengan kejadian DBD
di wilayah kerja Puskesmas Wangon II pada bulan Januari-Maret tahun
2016
9. Terdapat hubungan kebiasaan tidur siang dengan kejadian DBD di wilayah
kerja Puskesmas Wangon II pada bulan Januari-Maret tahun 2016
10. Terdapat hubungan penggunaan kelambu/kawat nyamuk/ penutup pintu
angin dengan kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas Wangon II pada
bulan Januari-Maret tahun 2016
11. Terdapat hubungan keboasaan penggunaan obat nyamuk dengan kejadian
DBD di wilayah kerja Puskesmas Wangon II pada bulan Januari-Maret
tahun 2016

30

V. METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
Penelitian

menggunakan

studi

observasional

analitik

dengan

pendekatan case control. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor resiko
kejadian demam berdarah di wilayah kerja Puskesmas II Wangon.
B. Populasi dan Sampel
1. Populasi
a. Populasi target
Populasi target pada penelitian ini adalah semua penduduk di wilayah
kerja Puskesmas II Wangon
b. Populasi terjangkau
Populasi terjangkau pada penelitian ini adalah semua penderita demam
berdarah atau yang pernah didiagnosis demam berdarah yang tercatat
dalam data demam berdarah kader Puskesmas II Wangon pada bulan
Januari-Februari 2016.
c. Teknik pengambilan sampel
Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik cluster
sampling
d. Besar sampel
Jumlah sampel penelitian ini adalah 12 sampel untuk kelompok kasus
dan 12 sampel untuk kelompok kontrol.
e. Kriteria inklusi dan ekslusi
1) Kriteria inklusi kasus:
a) Warga yang sedang menderita atau pernah menderita demam
berdarah yang tercatat di dalam data demam berdarah kader
Puskesmas II Wangon sejak bulan Januari sampai Februari 2016.
b) Bersedia menjadi subyek penelitian dengan menandatangani
lembar persetujuan menjadi subyek penelitian setelah membaca
lembar informed consent.
c) Subjek penelitian adalah penderita atau anggota keluarga
penderita yang tinggal serumah dengan penderita.
2) Kriteria inklusi kontrol:

31

a) Warga yang tidak menderita atau tidak pernah menderita demam


berdarah yang tercatat di dalam data demam berdarah kader
Puskesmas II Wangon sejak bulan Januari sampai Februari 2016.
b) Bersedia menjadi subyek penelitian dengan menandatangani
lembar persetujuan menjadi subyek penelitian setelah membaca
lembar informed consent.
c) Subjek penelitian adalah warga yang bertempat tinggal disekitar
rumah penderita
3) Kriteria eksklusi
a) Penderita atau warga yang tidak bersedia menjadi responden
b) Tidak kooperatif dalam melakukan tahap wawancara dan
pengisian kuesioner.
C. Variabel Penelitian
1. Variabel Bebas
Variabel bebas pada penelitian ini adalah umur, pengurasan tempat
penampungan air, tanaman hias, tanaman disekitar rumah, kebiasaan
membersihkan rumah secara rutin, kebiasaan tidur siang, kebiasaan
menggantung pakaian dan kebiasaan menggunakan obat nyamuk. Variabel
bebas termasuk skala kategorik nominal.
2. Variabel Terikat
Variabel terikat pada penelitian ini adalah kejadian demam berdarah.
Variabel terikat termasuk skala kategorik nominal.
D. Definisi Operasional
Definisi operasional variabel dijelaskan pada Tabel

Tabel 7. Definisi Operasional


VARIABEL

DEFINISI OPERASIONAL

SKALA

Definisi :
Penyakit yang disebabkan oleh virus dari golongan
arbovirus yang ditandai dengan demam tinggi
mendadak tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus
menerus selama 2-7 hari, manifestasi perdarahan
(petekie, purpura, perdarahan konjungtiva, epistaksis,

Nominal

Variabel Terikat
Kejadian demam
berdarah (Depkes,
2005).

32

perdarahan mukosa, perdarahan gusi), termasuk uji


tourniquet (rumple leede) positif, trombositopeni
disertai atau tanpa pembesaran hati (hepatomegali).
Kategori :
Ya : Demam berdarah
Tidak : Tidak demam berdarah
Alat Ukur :
Kuesioner
Varibel Bebas
1. Faktor Perilaku
a. Kebiasaan
menggunakan
obat nyamuk

b. Kebiasaan
menguras
tempat
penampungan
air

c. Kebiasaan
menutup TPA

d. Kebiasaan
mengubur/mem
bakar barang
bekas

e. Kebiasaan tidur
siang

Definisi :
Kebiasaan responden menggunakan obat nyamuk
setiap hari pada pagi, sore maupun malam hari
Kategori :
Ya : Menggunakan obat nyamuk setiap
Tidak : Tidak menggunakan obat nyamuk setiap hari
Alat Ukur :
Kuesioner
Definisi:
Kebiasaan responden
membersihkan atau menguras tempat penampungan air
baik di dalam maupun di luar rumah dalam ukuran
waktu 1 minggu.
Kategori :
Ya : 1 kali dalam 1 minggu
Tidak : <1 kali dalam 1 minggu
Alat ukur :
Kuesioner
Definisi:
Kebiasaan responden menutup TPA setelah digunakan
sehingga TPA selalu dalam keadaan tertutup.
Kategori:
Iya
Tidak
Alat ukur :
Kuesioner dan Pengamatan
Definisi:
Kebiasaan mengubur/membakar barang bekas yang
dapat menampung air sehingga tidak ada barang bekas
yang menumpuk disekitar rumah
Kategori:
Iya
Tidak
Alat ukur:
Kuesiner dan pengamatan
Definisi :
Responden sering tidur atau beraktivitas di dalam
rumah antara jam 09-11.00 WIB atau jam 16.0017.00 WIB
Kategori :
Ya
Tidak
Alat Ukur :
Kuesioner

Nominal

Nominal

Nominal

33

f. Kebiasaan
menggantung
pakaian

g. Kebiasaan
membersihkan
halaman sekitar
rumah secara
rutin

Definisi :
Kebiasaan responden menggantung pakaian di dalam
kamar atau rumah
Kategori :
Ya
Tidak
Alat ukur:
kuesioner dan pengamatan
Definisi :
Kebiasaan responden membersihkan halaman sekitar
rumah dari barang-barang bekas seperti botol-botol,
kaleng, plastik dan batang-barang lain yang dapat
menampung air
Kategori :
Iya: Membersihkan minimal 3 kali seminggu atau tidak
terdapat barang bekas seperti botol-botol, kaleng,
plastik dan batang-barang lain yang dapat menampung
air di sekitar rumah (pengamatan)

Nominal

Nominal

Tidak: tidak membersihkan secara rutin (kurang dari 3


kali dalam satu minggu) atau terdapat barang bekas
seperti botol-botol, kaleng, plastik dan batang-barang
lain yang dapat menampung air disekitar rumah
(pengamatan)
Alat Ukur :
Kuesioner dan pengamatan
2. Faktor Linkungan
a. Tanaman hias

b. Tanaman
disekitar rumah

c. Pelihara burung

Definisi :
Tanaman hias yang ditanam di dalam vas yang berisi
air yang berada di dalam rumah maupun di halaman
rumah responden
Kategori :
Ada
Tidak ada
Alat Ukur :
Kuesioner
Definisi :
Tumbuhan atau pepohonan yang cukup rindang yang
tumbuh disekitar rumah responden yang dapat
menampung air
Kategori :
Ada
Tidak ada
Alat Ukur :
Kuesioner
Definisi : Terdapat burung atau kandang burung yang
jarang dibersihkan dan memiliki tempat penampungan
air minum burung yang jarang diganti atau tidak
terpakai
Kategori :
Ya
Tidak
Alat Ukur :
Kuesioner dan pengamatan

Nominal

Nominal

Nominal

34

d. Kolam Ikan di
sekitar rumah

Definisi:
Terdapat kolam ikan yang di dalamnya hanya ada
genangan air tanpa ada ikan yang hidup
Kategori :
Ada
Tidak
Alat Ukur:
Kuesioner dan pengamatan

Nominal

E. Instrumen Pengambilan Data


Sumber data pada penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.
Data primer diperoleh dari wawancara terstruktur dan observasi dengan
menggunakan kuesioner. Wawancara dan observasi dengan kuesioner
dilakukan pada rumah responden pada bulan Maret 2016. Data sekunder
berasal dari data demam berdarah kader Puskesmas II Wangon pada bulan
Januari sampai Februari 2016.

35

F. Rencana Analisis Data


Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1.

Analisis univariat digunakan untuk menggambarkan karakteristik

2.

demografi responden.
Analisis bivariat digunakan untuk mencari hubungan variabel bebas dan
variabel terikat menggunakan uji Chi Square, jika tidak memenuhi syarat

3.

uji Chi Square maka dilakukan Fisher Test sebagai alternatif.


Metode Hanlon digunakan untuk menentukan faktor risiko yang akan
dijadikan sebagai prioritas, apabila terdapat beberapa faktor risiko
(variabel bebas) yang berhubungan signifikan dengan kejadian demam
berdarah.

G. Tata Urutan Kerja


1. Tahap persiapan
a. Analisis situasi.
b. Identifikasi dan analisis penyebab masalah.
c. Pencarian responden yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi.
2. Tahap pelaksanaan
a. Mencatat dan menentukan nama responden.
b. Pengambilan data primer.
c. Menyusun alternatif pemecahan masalah sesuai hasil pengolahan data
d. Melakukan pemecahan masalah
e. Penyusunan laporan CHA
f. Tahap pengolahan dan analisis data.
g. Tahap penyusunan laporan.
H. Waktu dan Tempat
Kegiatan dilaksanakan pada:
Tanggal

: 15-16 Maret 2016

Tempat

: Desa Windunegara, Wlahar, dan Jambu Kec Wangon.


VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

36

1.

Analisis Univariat
Berikut ini merupakan hasil penelitian yang telah dilakukan di
Desa Windunegara, Wlahar dan Jambu Kecamatan Wangon Banyumas.
Penelitian ini dengan menggunakan metode wawancara langsung
pengisian kuesioner yang dipandu langsung oleh peneliti. Analisis
univariat yang digunakan dengan menggunakan distribusi frekuensi pada
masing-masing variabel dan persentasenya. Adapun distribusi variabel
beserta persentase masing-masing kategori telah tersaji pada tabel 8.
Tabel 8. Distribusi Frekuensi
Variabel

Jenis Kelamin

Kasus
6

Kontrol
5

Juml
ah
11

Persent
ase
total
45.80%

13

54.20%

Iya

12
(50.0%)

12

50.00%

Tidak

12
(50.0%)

12

50.00%

Iya

9
(75.0%)

4
(33.3%)

13

54.2%

3
(25.0%)
4
(33.3%)
8
(66.7%)
3
(25.0%)
9
(75.0%)
8
( 66.7%)
4
( 33.3%)

8
(66.7%)
10
(83.3%
2
( 16.7%)

11

45.8%

14

58.3%

10

41.7%

25.00%

18

75.00%

18

75.0%

25.0%

12.5%

21

87.5%

13

54.2%

11

45.8%

Kategor
i
Lak-Laki
Perempu
an

Kejadian DBD

Kebiasaan
menggantung
pakaian

Tidak menguras TPA


secara rutin

Tidak
Iya
Tidak
Iya

Penggunaan Abate
Tidak
Kebiasaan menutup
TPA

Adanya tanaman
hias

Adanya tanaman
disekitar rumah

Iya
Tidak
Iya
Tidak
Iya
Tidak

Frekuensi

2
(16.6%)
10
(83.3%)
9
(75.0%)
3
( 25.0%)

3 (25.0%
9
(75.0%)
10
(83.3%)
2
(16.7%)
1 (8.3%)
11(91.7%
)
4
( 33.3%)
8
(66.7%)

37

Kolam ikan disekitar


rumah

Adanya ban bekas


di atap/genteng

Iya
Tidak
Iya
Tidak
Iya

Memelihara burung
Tidak
Kebiasaan
membersihkan
halaman dan sekitar
rumah
Kebiasaan
mengubur/membak
ar barang bekas
Membersihkan
penampungan air
kulkas
Kebiasaan tidur
siang
Penggunaan
kelambu/kawat
nyamuk/penutup
lubang angin
Penggunaan obat
anti nyamuk

Iya
Tidak
Iya
Tidak
Iya
Tidak
Iya
Tidak
Iya
Tidak
Iya
Tidak

2
(16.7%)
10
(83.3%)

1 (8.3%)

12.5%

11
(91.7%)

21

87.5%

1 (8.3%)

1 (8.3%)

8.3%

11
(91.7%)
2
(16.7%)
10
(83.3%)
4
(33.3%)
8
( 66.7%)

11
(91.7%)
2
(16.7%)
10
(83.3%)
9
(75.0%)
3
(25.0%)
4
(33.3%)
8
(66.7%)
2
(16.7%)
10
( 83.3%)
2
( 16.7%)
10
(83.3%)
4
( 33.3%)
8
( 66.7%)
9 (75.0
%)
3 (25.0
%)

22

91.7%

16.7%

20

83.3%

13

54.2%

11

45.8%

20.8%

19

79.2%

25.0%

18

75.0%

29.2%

17

70.8%

20.8%

19

79.2%

14

58.3%

10

41.7%

1 (8.3%)
11
( 91.7%)
4
(33.3%)
8
(66.7%)
5
( 41.7%)
7
( 58.3%)
1 (8.3%)
11
(91.7%)
5
(41.7%)
7
(58.3%)

Pada tabel 8 dapat dilihat bahwa sebanyak 13 (54.2%) responden


adalah perempuan dengan 11 (45.7%) responden laki-laki. Jumlah kasus
dan kontrol pada penelitian ini seimbang dengan perbandingan 1:1. Data
distribusi frekuensi umur responden untuk masing-masing kelompok
dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 9. Tabel Distribusi Umur Responden
Kelom
pok
Kasus

Mean
25.42

Medi
an
32.00

Modu
s
34.00

38

Kontrol

Pada

33.25

tabel

33.50

dapat

35.00

dilihat

bahwa

rata-rata

umur

penderita/responden DBD pada kelompok kasus adalah 25.42 dan pada


kelompok kontrol adalah 33.25.
2.

Analisis Bivariat
Hasil analisis bivariat antara variabel bebas (terkait faktor risiko
lingkungan dan perilaku) dan variabel terikat (kejadian demam berdarah)
disajikan dalam tabel 10. Analisis dilakukan dengan menggunakan uji
Chi square.
Tabel 10.1. Analisis Chi square Kebiasaan Menggantung Pakaian
dengan Kejadian DBD
DBD
Tidak
4
9 (75%) (33.3%
8
3 (25%) (66.7%)
12
12
(100%) (100%)
Ya

Kebiasaan
menggantung
pakaian

Iya
Tidak
Total

Total
13
(100%)
11
(100%)
24
(100%)

OR

95%CI

0,041

Berdasarkan tabel 10.1, responden yang memiliki kebiasaan


menggantung pakaian yang mengalami DBD berjumlah lebih banyak
(75%) dari pada responden tidak memiliki kebiasaan menggantung
pakaian (25%). Nilai p= 0.041 (p<0.05) menunjukkan hubungan yang
secara statistik signifikan, antaraa kebiasaan menggantung pakaian
dengan kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas II wangon. Nilai odd
ratio (OR) 6 menunjukkan bahwa kebiasaan menggantung pakaian
merupakan faktor yang dapat meningkatkan kejadian DBD sebanyak 6
kali lebih tinggi dibandingkan yang tidak memiliki kebiasaan
menggantung pakaian.
Tabel 10.2 Analisis Chi Square Tidak Menguras TPA Secara Rutin
dengan Kejadian DBD
Tidak
menguras
TPA secara
rutin

Iya
Tidak
Total

DBD
Ya
Tidak
8
2
(66.7%) (16.7%)
4
10
(33.3%) (83.3%)
12
12

Total
10
(100%)
14
(100%)
24

OR
10

95%CI

P
0.013

39

(100%)

(100%)

(100%)

Berdasarkan tabel 10.2, responden yang tidak menguras TPA


secara rutin yang mengalami kejadian DBD jumlahnya lebih banyak
(66.7%) dibandingkan responden yang menguras TPA secara rutin
(33.3%). Nilai p=0.013 (p<0.05) meuunjukkan hubungan yang signifikan
antara kebiasaan menguras TPA secara rutin dengan kejadian DBD di
wilayah kerja Puskesmas II Wangon. Nilai odd ratio (OR) 10
menunjukkan bahwa kebiasaan tidak menguras TPA secara rutin dapat
meningkatkan kejadian DBD.
Tabel 10.3. Analisis Chi Square Penggunaan Abate dengan Kejadian
DBD
Ya
Penggunaan
abate

DBD
Tidak

Iya

3 (25%)

3 (25%)

Tidak

9 (75%)

9 (75%)

Total

12
(100%)

12
(100%)

Total
6
(100%)
18
(100%)
24
(100%)

OR

95%CI

1.00

Berdasarkan tabel 10.3, menunjukkan bahwa responden yang


tidak menggunakan abate yang mengalami DBD jumlahnya lebih banyak
(75%) dibandingkan responden yang menggunakan abate (25%). Nilai
OR 1 dan p=1.00 (p>0,05) menunjukkan hubungan yang tidak signifikan
secara statistik antara penggunaan abate dengan kejadian DBD di
wilayah kerja Puskesmas II Wangon.
Tabel 10.4 Analisis Chi Square Kebiasaan Menutup TPA dengan
Kejadian DBD

Kebiasaan
Menutup
TPA

Tidak
menutup
TPA
Menutup
TPA
Total

DBD
Ya
Tidak
4
2
(33.3% (16.7%
)
)
8
10
(66.7% (83.3%
)
)
12
12
(100%) (100%)

Total

OR

95%CI

6
(100%)
18
(100%)

0.4

0.3

24
(100%)

Berdasarkan tabel 10.4, responden yang tidak menutup TPA yang


mengalami DBD jumlahnya lebih sedikit (33.3%) dibandingkan
responden yang menutup TPA (66.75). Nilai OR 0.4 (OR <1) dan p=0.3
(p>0.05) menunjukkan hubungan yang tidak signifikan secara statistik

40

antara kebiasaan menutup TPA dengan kejadian DBD di wilayah kerja


Puskesmas II Wangon.
Tabel 10.5. Analisis Fisher Exact Test Memiliki Tanaman Hias dengan
Kejadian DBD

Tanaman
Hias

Iya
Tidak
Total

DBD
Ya
Tidak
2
1
(16.7%) (8.3%)
10
11
(83.3%) (91.7%)
12
12
(100%) (100%)

Total
3
(12.5%)
21
(87.5%)
24
(100%)

OR

95%CI

2.2

1.0

Berdasarkan tabel 10.5, responden yang memiliki tanaman hias


yang mengalami DBD jumlahnya lebih sedikit (16.7%) dibandingkan
responden yang tidak memiliki tanaman hias (83.3%). Nilai p=1 (p>0,05)
menunjukkan hubungan yang secara statistik tidak signifikan, antara
adanya tanaman hias dengan kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas
II Wangon.
Tabel 10.6. Analisis Chi Square Terdapat Tanaman di Sekitar Rumah
dengan Kejadian DBD

Tanaman di
Sekitar
Rumah

Iya
Tidak
Total

DBD
Ya
Tidak
9
4
(75.0%) (33.3%)
3
8
(25.0%) (66.7%)
12
12
(100%) (100%)

Total
13
(54.2%)
11
(45.8%)
24
(100%)

OR

95%CI

0.04

Berdasarkan tabel 10.6, responden yang memiliki tanaman di


sekitar rumah yang mengalami DBD jumlahnya lebih banyak (75%)
dibandingkan responden yang tidak terdapat tanaman di sekitar
rumahnya (25%). Nilai p=0.04 (p<0.05) menunjukkan hubungan yang
secara statistik signifikan, antara tanaman di sekitar rumah dengan
kejadia DBD di wilayah kerja Puskesmas II Wangon. Selain itu, nilai OR
6 (OR>1) menunjukkan bahwa tanaman disekitar rumah merupakan
faktor risiko yang dapat meningkatkan kejadian DBD sebanyak 6 kali
lebih tinggi dibandingkan yang tidak terdapat tanaman di sekitar rumah.
Tabel 10.7. Analisis Fishers Exaxt Test Adanya Ban Bekas di
Atap/Genteng Rumah dengan Kejadian DBD
Ya

DBD
Tidak

Total

OR

95%CI

41

Adanya
Ban Bekas

Iya
Tidak
Total

1
(8.3%)
11
(91.7%)
12
(100%)

1
(8.3%)
11
(91.7%)
12
(100%)

2
( 8.3%)
22
(91.7%)
24
(100%)

Berdasarkan tabel 10.7, responden yang memiliki ban bekas di


atap/genteng rumah yang mengalami DBD jumlahnya lebih sedikit
(8.3%) dibandingkan yang tidak memiliki ban bekas di atap/genteng
rumah. Nilai OR 1 dan p=1 (p>0.05) menunjukkan hubungan yang tidak
signifikan secara statistik, antara adanya ban bekas di atap/genteng
dengan kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas II Wangon.
Tabel 10.8 Analisis Fishers Exact Test Kolam Ikan Sekitar Rumah
dengan Kejadian DBD

Kolam Ikan

Ada
Tidak
ada
Total

DBD
Ya
Tidak
2
1
(16.7%) (8.3%)
10
11
(83.3%) (91,7%)
12
12
(100%) (100%)

Total
3
(12.5%)
21
(87.5%)
24
(100%)

OR

95%CI

2.2

Berdasarkan tabel 10.8, responden yang memiliki kolam yang


mengalami DBD jumlahnya lebih sedikit (16.7%) dibandingkan
responden yang tidak memiliki kolam ikan (83.3%). Walaupun nilai OR
2.2, namun nilai p=1 (p=>0.05) menunjukkan bahwa tidak ada hubungan
yang signifikan secara statistik, antara adanya kolam ikan dengan
kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas II Wangon.
Tabel 10.9 Analisis Chi Square Memelihara Burung dengan Kejadian
DBD

Memelihara
burung

Iya
Tidak
Total

DBD
Ya
Tidak
2
2
(16.7%) (16.7%)
10
10
(83.3%) (83.3%)
12
12
(100%) (100%)

Total
4
(16.7%)
20
(83.3%)
24
(100%)

OR

95%CI

0.7

Berdasarkan tabel 10.9, responden yang memelihara burung yang


mengalami DBD jumlahnya lebih sedikit (16.7%) dibandingkan
responden yang tidak memelihara burung (83.3%). Nilai OR 1 dan p=0.7

42

(p> 0.05) menunjukkan hubungan yang tidak signifikan secara statistik,


antara memelihara burung dengan kejadian DBD di wilayah kerja
Puskesmas II Wangon.
Tabel 10.10 Analisis Chi Square Kebiasaan Membersihkan Halaman dan
Sekitar Rumah Secara Rutin dengan Kejadian DBD
DBD
Tidak
8
3
(66.7%)
(25%)

Total
11
(45.8%)

4
(33.3%)
12
(100%)

13
(54.2%)
24
(100%)

Ya

Kebiasaan
membersihkan
halaman
sekitar rumah
secara rutin

Tidak
Iya
Total

9
(75%)
12
(100%)

OR

95%CI

0.041

Berdasarkan tabel 10.10, responden yang tidak membersihkan


halaman rumah yang menderita DBD jumlahnya lebih banyak (66.7%)
dibandingkan responden yang membersihkan halaman secara rutin
(33.3%). Nilai p=0.041 (p<0.05) menunjukkan hubungan yang secara
statistik signifikan, antara kebiasaan membersihkan halaman rumah
dengan kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas II Wangon. Nilai OR
6 (OR>1) menunjukkan bahwa tidak membersihkan halaman rumah
secara rutin merupakan faktor risiko yang dapat meningkatkan kejadian
DBD 6 kali lebih tinggi dibandingkan yang membersihkan halaman
secara rutin.
Tabel 10.11 Analisis Fishers Exact Test Mengubur/Membakar Barang
Bekas dengan Kejadian DBD

Iya

DBD
Tidak
8
11
(66.7%
(91.7%)
)
1
4(33.3
(8.3%)
%)

Total
19
(79.2%
)
5(20.8
%)

Total

12(100
%)

24
(100%)

Ya

Mengubur/memb
akar barang
bekas

Tidak

12
(100%)

OR

5.5

95%CI

0.31
7

Berdasarkan tabel 10.11, responden yang tidak memiliki


kebiasaan membakar/mengubur barang bekas yang mengalami DBD
jumlahnya lebih banyak (91.7%) dibandingkan responden yang
mengubur/membakar barang bekas. Walaupun nilai OR 5.5 (OR >1)

43

namun nilai p=0.317 (p>0.05) menunjukkan hubungan yang tidak


signifikan secara statistik, antara kebiasaan mengubur / membakar barang
bekas dengan kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas II Wangon.
Tabel 10.12 Analisis Fishers Exact Test Penampungan Air Kulkas
dengan Kejadian DBD

Membersihka
n tempat
penampungan
air kulkas

Tidak
Iya
Total

DBD
Ya
Tidak
8
10
(66.7% (83.3%
)
)
4
2
(33.3% (16.7%
)
)
12
12
(100%) (100%)

Total

OR

95%CI

18
(75%)
0.4

0.64

6
(25%)
24
(100%)

Berdasarkan tabel 10.12, responden yang tidak membersihkan


tempat penampungan air kulkas yang mengalami DBD jumlahnya lebih
banyak (66.7%) dibandingkan responden yang membersihkan tempat
penampungan air kulkas. Nilai OR 0.64 (OR<1) dan p=0.64 (p>0.05)
menunjukkan hubungan yang tidak signifikan secara statistik antara
kebiasaany membersihkan air kulkas dengam kejadian DBD.
Tabel 10.13 Analisis Fishers Exact Test Kebiasaan Tidur Siang dengan
Kejadian DBD
Ya
Kebiasaan
tidur siang

DBD
Tidak

Iya

5
(41.7%)

2
(16.7%)

Tidak

7
(58.3%)

10
(83,.3%)

Total

12
(100%)

12
(100%)

OR

Total
7
( 29.2%
)
17
( 70.8%
)
24
( 100%)
.

95%CI

0.371

3.57

Berdasarkan tabel 10.13,responden yang memiliki kebiasaan tidur


siang

yang

mengalami

DBD

jumlahya

lebih

sedikit

(58.3%)

dibandingkan responden yang tidak tidur siang. Walaupun nilai OR 3.75


(OR>1), namun nilai p=0.371 (.0.05) menunjukkan hubungan yang tidak
signifikan secara statistik, antara kebiasaan tidur siang dengan kejadian
DBD di wilayah kerja Puskesmas II Wangon.
Tabel 10.14 Analisis Fishers Exact Test Penggunaan Kelambu/Kawat
Nyamuk/Penutup Pintu Angin dengan Kejadian DBD

44

Penggunaan
kelambu/kawat/pen
utup pintu angin

Tidak
Iya
Total

DBD
Ya
Tidak
11
8
(91.7
(66.7
%)
%)
4
1
(33.3
(8.3%)
%)
12
12
(100% (100%
)
)

OR

Total
19
(79.2
%)
5
(20.8
%)
24
(100%
)

95%CI

5.5
0.31
7

Berdasarkan tabel 10.14, responden yang tidak menggunakan


kelambu atau kawat atau penutup pintu angina yang menderita DBD
jumlahnya

lebih

banyak

(91.7%)

dibanding

responden

yang

menggunakan kelambu atau kawat (8.3%). Nilai p=0.317 (p>0.05)


menunjukkan hubungan yang tidak signifikan secara statistik, antara
kebiasaan menggunakan kelambu atau kawat penutup dengan kejadian
DBD.
Tabel 10.15 Analisis Chi Square Penggunaan Obat Anti Nyamuk
dengan Kejadian DBD
DBD
Penggunaan
Obat
Nyamuk

Tidak
Iya
Total

Ya

Tidak

7(58.3%)
5
(41.7%)
12
(100%)

3 (25%)
9 (73%)
12
(100%)

Total
10
(41.7%)
14
(58.3%)
24
(100%)

OR
4.2

95%CI

P
0.02

Berdasarkan tabel 10.15, responden yang tidak menggunakan obat


anti nyamuk yang mengalami DBD jumlahnya lebih banyak (58.3%)
dibandingkan responden yang menggunakan obat anti nyamuk (41.7%).
nilai p=0.02 (p<0.05) menunjukkan hubungan yang signifikan secara
statistik, antara pemakaian obat anti nyamuk dengan kejadian DBD. Nilai
OR 4.2 (OR>1) menunjukkan bahwa tidak menggunakan obat anti
nyamuk merupakan risiko peningkatan kejadian DBD 4.2 kali lebih
tinggi dibandingkan yang menggunakan obat anti nyamuk.

B. Pembahasan
Penelitian ini meneliti mengenai identifikasi faktor risiko DBD di
wilayah kerja Puskesmas II Wangon Kabupaten Banyumas. Hipotesis dari

45

penelitian

ini

adalah

terdapat

hubungan

antara

faktor

risiko

yang

terindentifikasi dengan kejadian DBD di wilayah kerja Puskesmas II Wangon


Kabupaten Banyumas. Responden dikelompokkan ke dalam kelompok kasus
dan kelompok kontrol. Responden yang termasuk ke dalam kelompok kasus
adalah warga yang pernah menderita DBD selama 2 bulan terahir sebanyak
50% dari keseluruhan total responden, sementara responden yang termasuk ke
dalam kelompok kontrol adalah warga yang tidak pernah menderita DBD
sebanyak 50% dari keseluruhan total responden.
DBD merupakan masalah kesehatan yang seringkali ditemukan di
daerah tropis dan subtropis dengan angka fatalitas yang cukup tinggi. Sebagian
besar kasus DBD menyerang anak-anak (WHO,2008). Pada penelitian ini,
penderita DBD yang berusia <12 tahun berjumlah sebanyak 3 orang dengan
usia termuda 7 tahun. Kejadian DBD cukup sering terjadi pada anak-anak
didukung oleh kebiasaan sehari-hari dimana anak-anak lebih sering berada di
dalam rumah, sehingga kontak dengan nyamuk lebih besar ( Dardjito dkk.
2008).
DBD merupakan penyakit menular yang di perantarai oleh vektor
nyamuk Aedes aegypti, sehingga kejadian penyakit ini sangat dipengaruhi oleh
lingkungan dan perilaku host yang mendukung untuk berkembangnya vektor
(Fathi dkk 2005). Pada penelitian ini ada beberapa faktor risiko terkait
lingkungan dan perilaku responden yang di identifikasi, salah satunya adalah
kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah. Hasil penelitian ini
menunjukkan hubungan yang bermakna antara kebiasaan menggantung
pakaian dengan kejadian DBD. Hal ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh Dardjito dkk (2008) yang menyatakan bahwa kebiasaan
menggantung pakaian di dalam rumah memiliki risiko terkena penyakit DBD
4.8 kali daripada yang tidak mempunyai kebiasaan menggantung pakaian.
Selain itu penelitian lain juga menunjukkan hasil bahwa 68.7% responden
dengan kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah mengalami DBD
( Widodo, 2012). Menurut Fathi dkk (2005) menyebutkan bahwa tempat
istirahat yang disukai oleh nyamuk Aedes aegypti adalah benda-benda
tergantung yang ada di dalam rumah, seperti gorden, kelambu dan baju/pakaian

46

di kamar yang gelap dan lembab. WHO Regional Publication juga


menyebutkan bahwa nyamuk Aedes aegypti lebih menyukai beristirahat di
tempat gelap, lembab, tempat tersembunyi di dalam rumah atau bangunan,
termasuk tempat tidur, kloset, kamar mandi dan dapur.
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan
antara kebiasaan menguras TPA secara rutin dengan kejadian DBD (p=0.013).
Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan hasil bahwa
84% responden yang tidak menguras atau membersihkan TPA secara rutin
mengalami kejadian DBD, dengan OR 1.48, yang berarti kebiasaan tidak
menguras TPA secara rutin berkaitan dengan peningkatan risiko terjadinya
DBD (Dardjito dkk, 2008). Ditjen PPM& PLP Depkess menyatakan bahwa
tempat perkembangbiakkan utama jentik Aedes aegypti pada tempat-tempat
penampungan air di dalam atau diluar rumah atau sekitar rumah, biasanya tidak
melebihi jarak 500 meter dari rumah. Tempat perkembangbiakkan nyamuk ini
berupa genangan air yang tertampung di suatu tempat atau bejana dan tidak
dapat berkembangbiak di genangan air yang langsung berhubungan dengan
tanah.
Pada penelitian ini di dapatkan juga hubungan yang signifikan antara
faktor risiko kebiasaan membersihkan halaman rumah dengan kejadian DBD
(p=0.041). Hal ini sesuai dengan penelitian Hasan tahun (2007) yang
menyatakan bahwa membersihkan halaman rumah dari barang-barang bekas
seperti botol, ban bekas, plastik dan barang-barang lain yang dapat menampung
air dapat mengurangi risiko kejadian DBD. Penelitian tersebut menunjukkan
hasil OR 2,79 dengan CI= 1,80-4.30, yang berarti adanya hubungan antara
kebiasaan membersihkan halaman rumah dari botol, plastik dll dengan kejadian
DBD. Ban bekas, botol, plastik dan barang-barang lain yang dapat menampung
air menjadi sarana yang memungkinkan untuk tempat perkembangbiakan
nyamuk. Semakin banyak barang bekas yang dapat menampung air, semakin
banyak tempat bagi nyamuk untuk bertelur dan berkembang biak, sehingga
semakin meningkat pula risiko kejadian DBD (Widodo, 2012).

47

Hasil penelitian ini juga menunjukkan hasil adanya hubungan yang


signifikan antara kebiasaan menggunakan obat anti nyamuk dengan kejadian
DBD (p=0.02). Hasil ini sesuai dengan penelitian Dardjito dkk (2008) yang
menunjukkan nilai OR 2.071 dan nilai p= 0.042. Hal ini dapat diartikan bahwa
terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara kebiasaan
menggunakan obat anti nyamuk dengan kejadian DBD. Metode perlindungan
diri digunakan oleh individu atau kelompok kecil pada masyarakat untuk
melindungi diri mereka sendiri dari gigitan nyamuk, salah satunya dengan oabt
nyamuk.
C. Prioritas Permasalahan
Berikut merupakan prioritas permasalahan dari 5 variabel yang
memiliki hubungan signifikan dengan kejadian DBD di wilayah kerja
Puskesmas II Wangon. Prioritas masalah yang akan dipecahkan dalam
Community Health Analysis ini dilakukan menggunakan metode Hanlon seperti
yang tercantum dalam tabel 11.
Tabel 11. Prioritas permasalahan yang akan dipecahkan menggunakan metode
Hanlon
Masalah
1. Kebiasaan
menggantun
g pakaian
2. Tidak
menguras
TPA secara
rutin
3. Terdapat
tanaman
disekitar
rumah
4. Tidak
membersihka
n halaman
dan sekitar
rumah secara
rutin
5. Tidak
menggunaka
n obat anti
nyamuk

D
A

NPD

NPT

Urutan
prioritas

36

36

36

36

30

30

44

44

28

28

Berdasarkan metode Hanlon pada tabel 11, didapatkan bahwa prioritas


permasalahan yang akan dipecahkan adalah tidak membersihkan sekitar rumah
secara rutin.

48

VII. ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH


A. Penyusunan Alternatif Pemecahan Masalah
Berdasarkan penjelasan di atas, faktor risiko yang berpengaruh terhadap
kejadian DBD di masyarakat wilayah kerja Puskemas II Wangon Kabupaten
Banyumas adalah kebiasaan menggatung pakaian, kebiasaan tidak menguras
TPA secara rutin, adanya tanaman di sekitar rumah, kebiasaan tidak
membersihkan halaman atau sekitar rumah secara rutin dan tidak
menggunakan obat anti nyamuk. Berdasarkan metode Hanlon, faktor risiko
yang paling berpengaruh adalah faktor perilaku, yaitu kebiasaan tidak
membersihkan halaman atau sekitar rumah secara rutin. Pemecahan masalah
yang terkait dengan faktor risiko dan penanganan DBD maka dapat dibuat
beberapa alternatif. Metode yang digunakan adalah metode Rinke. Metode ini
menggunakan dua kriteria yang meliputi efektifitas dan efisiensi jalan keluar.
Efektifitas jalan keluar terdiri dari besarnya masalah yang dapat diatasi,
pentingnya jalan keluar, sedangkan efisiensi jalan keluar dihubungkan dengan
biaya yang diperlukan untuk melakukan jalan keluar.
1) Kriteria efektifitas jalan keluar
a. M (besarnya masalah yang dapat diatasi) :
1.
Masalah yang dapat diatasi sangat kecil
2.
Masalah yang dapat diatasi kecil
3.
Masalah yang dapat diatasi cukup besar
4.
Masalah yang diatasi besar
5.
Masalah yang diatasi dapat sangat besar
b. I (pentingnya jalan keluar yang dikaitkan dengan kelanggengan
selesainya masalah):
1. Sangat tidak langgeng
2. Tidak langgeng
3. Cukup langgeng
4. Langgeng
5. Sangat langgeng

49

c.

V (sensitivitas jalan keluar yang dikaitkan dengan kecepatan

penyelesaian masalah):
1. Penyelesaian masalah sangat lambat
2. Penyelesaian masalah lambat
3. Penyelesaian cukup cepat
4. Penyelesaian masalah cepat
5. Penyelesaian masalah sangat cepat
2) Kriteria efisiensi jalan keluar (yang dikaitkan dengan biaya yang
dikeluarkan dalam menyelesaikan masalah)
1. Biaya sangat mahal
2. Biaya mahal
3. Biaya cukup mahal
4. Biaya murah
5. Biaya sangat murah
Beberapa alternatif pemecahan masalah yang bisa dilakukan diantaranya
adalah pemberantasan sarang nyamuk (PSN), penyuluhan mengenai DBD
terhadap kader kesehatan, atau penyebaran pamflet dan poster mengenai
penanganan DBD. Solusi penyebaran pamflet dan poster dirasa kurang efektif
dalam hal penanggulangan karena kurangnya komunikasi atau informasi, atau
daya tarik pembaca sehingga masyarakat kurang dapat memahami pesan yang
terkandung dalam pamflet maupun poster tersebut. Kegiatan penanggulangan
lainnya seperti penyuluhan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik
jika dibandingkan dengan pembagian poster dan leaflet.. Penyuluhan dengan
komunikasi yang bagus, tampilan yang menarik, dan informatif bisa
memberikan antusias lebih terhadap masyarakat desa. Namun, informasi yang
diperoleh pada saat penyuluhan munghkin kurang bisa diterapkan secara
langsung oleh masyarakat desa. Untuk menunjang hasil yang memuaskan
dibutuhkan kegiatan yang langsung pada sasaran dan disertai aksi di lapangan
seperti pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Pemberantasan sarang nyamuk
sendiri mengacu pada kegiatan 3 M (mengurias, mengubur, dan menutup).
Sasaran PSN sendiri adalah warga desa Windunegara Kecamatan Wangon.
Sasaran warga desa dinilai lebih baik karena diharapkan warga desa bisa
mengaplikasikan

PSN

secara

langsung

di

lingkungan

sekitarnya.

Pengaplikasian ini juga diharapkan agar warga bisa melakukannya secara


berlanjut untuk pencegahan kejadian penyakit di kemudian hari. Penyuluhan
sendiri diutujukan kepada para kader kesehatan desa, dan beberapa warga

50

khususnya tokoh masyarakat,. Dengan pemberian penyuluhan terhadap kader


dan tokoh masyarakat ini diharapkan sasaran mampu memberikan apa yang
telah didapatkan dalam penyuluhan secara lebih luwes kepada ibu-ibu di Desa
Windunegara. Prioritas pemecahan masalah dengan menggunakan metode
Rinke untuk masalah perilaku ibu dalam penanganan DBD di Desa
Windunegara Kecamatan Wangon adalah sebagai berikut :
Tabel 10. Prioritas Pemecahan Masalah dengan Metode Rinke

Penyuluhan kepada kader dan


tokoh masyarakat mengenai
DBD disertai dengan PSN

16

Urutan
Prioritas
Pemecahan
Masalah
1

Penyuluhan kepada kader dan


tokoh masyarakat mengenai
penanganan DBD
Penyebaran leaflet dan poster
mengenai penanganan DBD

12

12

No

Daftar Alternatif Jalan


Keluar

Efektivitas
I
V

Efisiensi
(C)

MxIxV/C

Berdasarkan hasil perhitungan prioritas pemecahan masalah menggunakan


metode Rinke, maka didapat satu prioritas pemecahan masalah, yaitu
melakukan penyuluhan kepada kader mengenai DBD dan dilanjutkan dengan
kegiatan PSN.

51

VIII. RENCANA KEGIATAN


A. Latar Belakang
Demam dengue (DD) atau dengue fever dan demam berdarah dengue
(DBD) atau dengue hemorrhagic fever adalah sebuah penyakit yang
diakibatkan oleh virus dengue (DENV). DD atau DBD merupakan penyakit
vector-borne viral dan lebih dari setengah populasi dunia hidup dengan risiko
terinfeksi (Ooi & Gubler, 2010). Berdasarkan epidemiologi daerah tropis
dunia, diperkirakan 3 milyar orang beresiko penyakit ini setiap tahun
(Halstead, 2008).
Rencana

Strategis

Kementerian

Kesehatan

Tahun

2015-2019

menjelaskan bahwa DBD merupakan salah satu penyakit menular yang


diprioritaskan bersama penyakit menular lainnya seperti HIV/AIDS,
tuberkulosis, malaria, influenza, dan flu burung. DBD juga merupakan
penyebab kematian terbesar di samping kecelakaan transportasi dan
tuberkulosis pada anak usia sekolah dan remaja (Kementerian Kesehatan RI,
2015).
Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2014 menyatakan bahwa jumlah
kasus DBD di Indonesia mencapai 100.347 dari jumlah penduduk Indonesia
sebesar 252.124.458 dengan incidence rate (IR) per 100.000 penduduk
sebesar 39,80. Jumlah kasus yang meninggal akibat DBD sebesar 907 dan
case fatality rate (CFR) sebesar 0,90%. Jumlah kasus DBD di Jawa Tengah
sendiri mencapai 11.075 dari jumlah penduduk sebesar 32.779.832 dengan IR
per 100.000 penduduk sebesar 33,79 dan jumlah kasus meninggal akibat DBD
tahun 2014 sebesar 159 dengan CFR sebesar 1,44% (Kementerian Kesehatan
RI, 2015). Insidensi penyakit DBD di Kabupaten Banyumas sendiri juga
cukup tinggi. Terdapat 543 kasus DBD dengan IR per 100.000 penduduk
sebesar 32,14 dan CFR sebesar 0,74% di Kabupaten Banyumas pada tahun
2013 (Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas, 2013).
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan kasus endemik yang
menyebar di seluruh wilayah Indonesia dan hingga saat ini endemik hampir di
300 kabupaten yang ada. Nyamuk jenis Aedes aegypti merupakan vektor
utama. Faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit ini antara lain faktor

52

host, lingkungan, serta faktor dari virus dengue sendiri. Faktor lingkungan
merupakan salah satu faktor penting yang erat kaitannya dengan infeksi
dengue. Lingkungan pemukiman sangat besar peranannya dalam penyebaran
penyakit menular. Kondisi perumahan yang tidak memenuhi syarat rumah
sehat apabila dilihat dari kondisi kesehatan lingkungan akan berdampak pada
masyarakat itu sendiri. Dampaknya dilihat dari terjadinya suatu penyakit yang
berbasis lingkungan yang dapat menular (Maria et al., 2013).
Kejadian DBD merupakan masalah yang belum bisa ditangani secara
menyeluruh di Desa Windunegara Kecamatan Wangon. Hal ini berkaitan
dengan kurangnya kepedulian warga desa dengan kondisi lingkungan sekitar
yang merupakan faktor resiko bagi timbulnya penyakit DBD. Kurangnya
kepedulian tersebut bisa terjadi karena kurangnya pengetahuan warga desa
mengenai penyakit DBD terutama pencegahannya. Kurangnya pengetahuan
menyebabkan warga desa juga kurang mengerti apa yang harus dilakukan
untuk mencegah terjadinya penyebaran DBD. Maka dari itu perlu diadakan
edukasi berupa penyuluhan DBD dan kegiatan PSN untuk mengurangi angka
kejadian DBD. Diharapkan, dengan memberi informasi dan edukasi melalui
penyuluhan terhadap dan kegiatan PSN tersebut

warga desa mengerti

mengenai pencegahan penyakit demam berdarah.


B. Tujuan
1. Umum
Menekan angka kejadian Demam Berdarag di Desa Windunegara
Kecamatan Wangon.
2. Khusus
Meningkatkan kemampuan warga desa dalam mencegah penyebaran
penyakit DBD di kemudian hari melalui penyuluhan dan PSN di Desa
Windunegara Kecamatan Wangon.
C. Bentuk Kegiatan
Kegiatan yang akan dilaksanakan disajikan dalam bentuk penyuluhan
tentang penyakit DBD dilanjutkan dengan kegiatan PSN, terutama langkah
pencegahan yang dapat dilakukan Desa Windunegara, Kecamatan Wangon,
Kabupaten Banyumas.
D. Sasaran
Kader Kesehatan dan beberapa warga Desa Winduengara Kecamatan
Wangon Kabupaten Banyumas.

53

E. Pelaksanaan
1. Personil
a) Kepala Puskesmas
b) Pembimbing
c) Pelaksana

: drg. Imam Hidayat


: Astuti, Amd.Keb
: Jatmiko Edy Nugroho
Puti Hasana Kasih
2. Waktu dan Tempat Penyuluhan:
a) Hari
: Jumat
b) Tanggal
: 25 Maret 2016
c) Tempat
: Balai Desa Wi ndunegara, Wangon, Banyumas
d) Waktu
: 09.00 WIB 11.00 WIB

F. Rencana Evaluasi Program


1. Input
a. Sasaran : 80% dari keseluruhan kader kesehatan dan beberapa
warga di Desa Windunegara Kecamatan Wangon.
b. Sumber Daya : ruangan, proyektor, konsumsi, alat tulis, pemateri,
materi yang diberikan, leaflet materi.
2. Proses
a. Keberlangsungan acara
Evaluasi keberlangsungan acara meliputi kehadiran para
pengisi acara yaitu pemberi sambutan dan pemateri, pelaksanaan
kegiatan, serta antusiasme peserta yang dinilai dari partisipasi aktif
peserta untuk bertanya. Materi disampaikan dalam bentuk
presentasi yang meliputi definisi DBD, etiologi, faktor risiko dan
sumber penularan, penanganan DBD di rumah, penanganan di
pelayanan kesehatan, kapan penderita DBD harus dibawa ke
fasilitas pelayanan kesehatan, disertai video edukatif.
b. Jadwal pelaksanaan kegiatan
Evaluasi jadwal pelaksanaan kegiatan dinilai dari ketepatan
tanggal, waktu, serta alokasi waktu pada saat berlangsungnya
acara. Kegiatan direncanakan berlangsung pada hari Jumat, 25
Maret

20156

pukul 09.00 WIB di Balai Desa Windunegara

Kecamatan Wangon,

Banyumas. Adapun alokasi waktu serta

rincian kegiatan yang akan dilakukan dicantumkan dalam Tabel


11.

54

Tabel 11. Jadwal Kegiatan


Jam
09.00 09.05
09.05 09.10
09.10 09.15
09.15 09.25

Alokasi
5 menit
5 menit
5 menit
10 menit

09.25 09.35
09.35 10.05
10.05 10.35
10.35 10.55
10.55 11.05
11.05 11.10

10 menit
30 menit
30 menit
20 menit
10 menit
5 menit

Kegiatan
Registrasi
Pembukaan
Sambutan Perwakilan Puskesmas
Sambutan Kepala Desa
Windunegara
Pretest
Penyampaian materi DBD
Penyampaian materi PSN
Sesi Diskusi
Posttest
Penutupan

3. Output
Rerata nilai post-test kader posyandu di Desa Windunegara Kecamatan
Wangon setelah mengikuti penyuluhan adalah minimal 80 dari skala
100.

55

DAFTAR PUSTAKA

Dardjito E., Yuniarno, S., Wibowo, C., Saprasetyo, ADL., Dwiyanti H.2008.
Beberapa Faktor Resiko Yang Berpengaruh Terhadap kejadian Penyakit
Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Banyumas. Media Litbang
Kesehatan. Vol : 18 No.3
Fathi SK dan Chatarina UW. 2005. Peran Faktor Lingkungan dan Perilaku
Terhadap Penularan Demam Berdarah Dengue di Kota Mataram. Jurnal
Kesehatan Lingkungan. Vol (2) No.1:1-10.
Hasan A. 2007. Hubungan Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah
Dengue dan Pencegahan Gigitan Nyamuk (Aedes aegypti) Dengan Kejadian
Demam Berdarah Dengue di Kota Bandar Lampung Tahun 2007. Tesis.
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
Knowlton K, Solomon G, Rotkin-Ellman M, Pitch F. Mosquito-Borne Dengue
Fever Threat Spreading in the Americas. New York: Natural Resources
Defense Council Issue Paper; 2009.
Maria, Ita., Ishak, H., Selomo, M.,2013. Faktor Resiko Kejadian Demam
Berdarah Dengue (DBD) Di Kota Makassar Tahun 2013. Bagian Kesehatan
Lingkungan. FK Hasaanudin Makassar.
Rahayu, M., Baskoro, T., Wahyudi, B.,2010. Berita Kedokteran Masyarakat :
Studi Kohort Kejadian Penyakit Demam Berdarah Dengue. Vol.26 N0.4
Sari, R.D., Ishak, H., Ibrahim, E.2013. Faktor Yang Berhubungan Dengan Tingkat
Endemisistas Demam Berdarah di Kelurahan Adatongeng Kecamatan
Turikale kabupaten Maros. Makassar. Bagian Kesehatan lingkungan.
Fakultas Kesehatan Masyarakat UNHAS.
Siregar, Faziah A. 2004. Epidemiologi dan Pemberantasan Demam Berdarah
Dengue (DBD) di Indonesia http://library.usu.ac.id/download/. (diakses
pada Maret 2016)
Soegijanto S. Patogenesa dan Perubahan Patofisiologi Infeksi Virus Dengue.
www.pediatrikcom/buletin/20060220-8ma2gi-buletindoc;

2002

[cited

56

2010]; Available from: www.pediatrikcom/ buletin/20060220-8ma2gibuletindoc.


Sunaryo.,

Prmastuti, N., 2014.Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional:

Surveilans Aedes aegypti di Daerah Endemis Demam Berdarah Dengue.


Vol.08, No.)8 Mei 2014.
Widodo NP. 2012. Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Demam
Berdarah Dengue (DBD) di Kota Mataram Provinsi Nusa Tenggara Barat
Tahun 2012. Tesis. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia