Anda di halaman 1dari 17

Referat

Vertigo

Pembimbing :
dr. Wahyu B.M., Sp.THT
Disusun Oleh :
Jordy
112014223
Kevin Rianto Putra
112014315
Kepaniteraan Ilmu Telinga Hidung Tenggorok
Periode 31 Agustus 2015 s.d. 3 Oktober 2015
Rumah Sakit Panti Wilasa Dr. Cipto
2015

BAB I
PENDAHULUAN
Dizziness dan vertigo merupakan salah satu gejala yang sering membuat pasien
datang berobat ke dokter (sesering nyeri punggung dan sakit kepala). Terjatuh dapat menjadi
konsekuensi langsung dari dizziness, dan risiko meningkat pada orang yang sudah tua dengan
defisit neurologi dan maasalah kesehatan kronik lainnya. Keseluruhan insidensi dizziness,
vertigo dan imbalans adalah 5-10%, dan mencapai 40% pada pasien di atas usia 40 tahun.
Insidens terjatuh adalah 25% pada pasien dengan usia di atas 65 tahun.1
Alat vestibuler (alat keseimbangan) terletak di telinga dalam (labirin), terlindung oleh
tulang yang paling keras yang dimiliki oleh tubuh. Labirin terdiri atas labirin tulang, dan
labirin membran. Labirin membran terletak dalam labirin tulang dan bentuknya hampir
menyerupai labirin tulang. Antara labirin membran dan labirin tulang terdapat perilimfa,
sedangkan endolimfa terdapat di dalam labirin membran. Berat jenis cairan endolimfa lebih
tinggi daripada cairan perilimfa. Ujung saraf vestibuler berada dalam labirin membran yang
terapung dalam perilimfa, yang berada dalam labirin tulang. Setiap labirin terdiri dari 3
kanalis semisirkularis, yaitu kanalis semisirkularis horizontal (lateral), kananlis semisirkularis
anterior (superior) dan kanalis semisirkularis posterior (inferior). Selain 3 kanalis ini, terdapat
pula utrikulus dan sakulus.2

Gambar 1. Anatomi Telinga Dalam


Keseimbangan dan orientasi tubuh seseorang terhadap lingkungan di sekitarnya
tergantung pada input sensorik dari reseptor vestibuler di labirin, organ visual dan
proprioseptif. Gabungan informasi ketiga reseptor sensorik tersebut akan diolah di SSP,
sehingga menggambarkan keadaan posisi tubuh pada saat itu. Labirin terdiri dari labirin statis
yaitu utrikulus dan sakulus yang merupakan pelebaran labirin membran yang terdapat dalam
Referat - Vertigo | 1

vestibulum labirin tulang. Pada tiap pelebarannya terdapat makula utrikulus yang di
dalamnya terdapat sel-sel reseptor keseimbangan. Labirin kinetik terdiri dari 3 kanalis
semisirkularis dimana pada tiap kanalis terdapat pelebaran yang berhubungan dengan
utrikulus, disebut ampula. Di dalamnya terdapat krista ampularis yang terdiri dari sel-sel
reseptor keseimbangan dan seluruhnya tertutup oleh suatu substansi gelatin yang disebut
kupula.2
Gerakan atau perubahan kepala dan tubuh akan menimbulkan perpindahan cairan
endolimfa di labirin dan selanjutnya silia sel rambut akan menekuk. Tekukan silia
menyebabkan permeabilitas membran sel berubah, sehingga ion kalsium akan masuk ke
dalam sel yang menyebabkan terjadinya proses depolarisasi dan akan merangsang pelepasan
neurotransmiter eksitator yang selanjutnya akan meneruskan impuls sensoris melalui sistem
saraf aferen ke pusat keseimbangan di otak. Sewaktu berkas silia terdorong ke arah
berlawanan, maka terjadi hiperpolarisasi.2
Organ vestibuler berfungsi sebagai transduser yang mengubah energi mekanik akibat
rangsangan otolit dan gerakan endolimfa di dalam kanalis semisirkularis menjadi energi
biolistrik, sehingga dapat memberi informasi mengenai perubahan posisi tubuh akibat
percepatan linier atau percepatan sudut. Dengan demikian dapat memberi informasi
mengenai semua gerak tubuh yang sedang berlangsung.2
Vertigo, dizziness, tinitus, dan kehilangan pendengaran biasanya berhubungan dengan
kelainan telinga dalam, atau kelainan sistem saraf pusat. Sekitar 40% pasien dengan migrain
mengalami vertigo, motion sickness, dan kehilangan pendengaran ringan. Oleh karena itu,
membedakan migrain dengan kelainan telinga dalam primer terkadang sulit.1
Anamnesis dan penemuan klinis pada pemeriksaan vestibuler pasien sangat penting
untuk mengetahui penyebab yang mendasari. Pemeriksaan audiologi, vestibuler, darah
lengkap, dan radiologi dapat membantu menyingkirkan diagnosis banding dan menentukan
terapi yang tepat. Pemeriksaan vestibuler sebaiknya diminta setelah anamnesis dan
pemeriksaan fisik yang lengkap karena tidak mempunyai nilai diagnostik. Kebanyakkan
pasien diterapi secara medis dan dengan rehabilitasi vestibuler.1

Referat - Vertigo | 2

BAB II
PEMBAHASAN
Definisi
Vertigo berasal dari istilah latin, yaitu vertere yang berarti berputar, dan igo yang
berarti kondisi. Vertigo merupakan subtipe dari dizziness yang secara definitif merupakan
ilusi gerakan, dan yang paling sering adalah perasaan atau sensasi tubuh yang berputar
terhadap lingkungan atau sebaliknya, lingkungan sekitar kita rasakan berputar. Vertigo juga
dirasakan sebagai suatu perpindahan linear ataupun miring, tetapi gejala seperti ini lebih
jarang dirasakan. Kondisi ini merupakan gejala kunci yang menandakan adanya gangguan
sistem vestibuler dan kadang merupakan gejala kelainan labirin. Namun, tidak jarang vertigo
merupakan gejala dari gangguan sistemik lain (misalnya, obat, hipotensi, penyakit endokrin,
dan sebagainya).1-3
Berbeda dengan vertigo, dizziness atau pusing merupakan suatu keluhan yang umum
terjadi akibat perasaan disorientasi, biasanya dipengaruhi oleh persepsi posisi terhadap
lingkungan. Dizziness sendiri mempunyai empat subtipe, yaitu vertigo, disekuilibrium tanpa
vertigo, presinkop, dan pusing psikofisiologis.1,3,4
Tabel 1. Empat Subtipe Dizziness3,4

Etiologi
Banyak kondisi yang dapat menyebabkan vertigo, dan mengidentifikasi adanya
ketulian atau tanda-tanda pada sistem saraf pusat dapat membantu dalam menyingkirkan
diagnosis banding.4

Referat - Vertigo | 3

Tabel 2. Penyebab Vertigo3,4


Vertigo dengan ketulian

Vertigo tanpa ketulian

Vertigo dengan tanda


intrakranial

Mnires disease

Vestibular neuronitis

Cerebellopontine angle tumour

Labyrinthitis

Benign positional vertigo

Cerebrovascular disease : TIA /


CVA

Labyrinthine trauma

Acute vestibuler dysfunction

Vertebro-basilar insufficiency and


thromboembolism:- lateral
medullary syndrome- subclavian
steal syndrome- basilar migraine

Acoustic neuroma

Medication induced vertigo e.g.

Brain tumour:- e.g. ependymoma

aminoglycosides

or metastasis in the fourth


ventricle

Acute cochleo-vestibular

Cervical spondylosis

Migraine

Following flexion-extension injury

Multiple sclerosis

dysfunction
Syphilis (jarang)

Aura of epileptic attack especially


temporal lobe epilepsy
Drugs e.g. phenytoin,
barbiturates
Syringobulbia

Epidemiologi
Keseluruhan insidensi dizziness, vertigo dan imbalans adalah 5-10%. Dari keempat
subtipe dizziness, vertigo terjadi pada sekitar 32% kasus, dan sampai dengan 56,4% pada
populasi orang tua. Insidens terjatuh adalah 25% pada pasien dengan usia di atas 65 tahun.
Sementara itu, angka kejadian vertigo pada anak-anak tidak diketahui, tetapi dari studi yang
lebih baru pada populasi anak sekolah di Skotlandia, dilaporkan sekitar 15% anak paling
tidak pernah merasakan sekali serangan pusing dalam periode satu tahun. Sebagian besar
(hampir 50%) diketahui sebagai paroxysmal vertigo yang disertai dengan gejala-gejala
migren (pucat, mual, fonofobia, dan fotofobia).1,3
Patofisiologi
Etiologi vertigo adalah abnormalitas dari organ-organ vestibuler, visual, ataupun
sistem propioseptif. Labirin (organ untuk ekuilibrium) terdiri atas 3 kanalis semisirkularis,
yang berhubungan dengan rangsangan akselerasi angular, serta utrikulus dan sakulus, yang
berkaitan dengan rangsangan gravitasi dan akselerasi vertikal. Rangsangan berjalan melalui
nervus vestibularis menuju nukleus vestibularis di batang otak, lalu menuju fasikulus
Referat - Vertigo | 4

medialis (bagian kranial muskulus okulomotorius), kemudian meninggalkan traktus


vestibulospinalis (rangsangan eksitasi terhadap otot-otot ekstensor kepala, ekstremitas, dan
punggung untuk mempertahankan posisi tegak tubuh). Selanjutnya, serebelum menerima
impuls aferen dan berfungsi sebagai pusat untuk integrasi antara respons okulovestibuler dan
postur tubuh.3
Fungsi vestibuler dinilai dengan mengevaluasi refleks okulovestibuler dan intensitas
nistagmus akibat rangsangan perputaran tubuh dan rangsangan kalori pada daerah labirin.
Refleks okulovestibuler bertanggung jawab atas fiksasi mata terhadap objek diam sewaktu
kepala dan badan sedang bergerak. Nistagmus merupakan gerakan bola mata yang terlihat
sebagai respons terhadap rangsangan labirin, serta jalur vestibuler retrokoklear, ataupun jalur
vestibulokoklear sentral. Vertigo sendiri mungkin merupakan gangguan yang disebabkan oleh
penyakit vestibuler perifer ataupun disfungsi sentral oleh karenanya secara umum vertigo
dibedakan menjadi vertio perifer dan vertigo sentral. Penggunaan istilah perifer menunjukkan
bahwa kelainan atau gangguan ini dapat terjadi pada end-organ (utrikulus maupun kanalis
semisirkularis) maupun saraf perifer.3,4
Lesi vertigo sentral dapat terjadi pada daerah pons, medulla, maupun serebelum.
Kasus vertigo jenis ini hanya sekitar 20% - 25% dari seluruh kasus vertigo, tetapi gejala
gangguan keseimbangan (disekulibrium) dapat terjadi pada 50% kasus vertigo. Penyebab
vertigo sentral ini pun cukup bervariasi, di antaranya iskemia atau infark batang otak
(penyebab terbanyak), proses demielinisasi (misalnya, pada sklerosis multipel, demielinisasi
pascainfeksi), tumor pada daerah serebelopontin, neuropati kranial, tumor daerah batang otak,
atau sebab-sebab lain.3,4
Tabel 3. Perbedaan Vertigo Vestibuler Perifer dan Sentral3,4

Beberapa penyakit ataupun gangguan sistemik dapat juga menimbulkan gejala


vertigo. Begitu pula dengan penggunaan obat, seperti antikonvulsan, antihipertensi, alkohol,
analgesik, dan tranquilizer. Selain itu, vertigo juga dapat timbul pada gangguan
Referat - Vertigo | 5

kardiovaskuler (hipotensi, presinkop kardiak maupun non-kardiak), penyakit infeksi,


penyakit endokrin (DM, hipotiroidisme), vaskulitis, serta penyakit sistemik lainnya, seperti
anemia, polisitemia, dan sarkoidosis. Hal ini disebabkan karena sistem vestibuler sangat
sensitif terhadap perubahan konsentrasi O2 dalam darah, sehingga perubahan aliran darah
yang mendadak dapat menimbulkan vertigo. Vertigo tidak akan timbul hanya ada perubahan
konsentrasi O2 saja, tetapi harus ada faktor lain yang menyertainya, misalnya sklerosis pada
salah satu dari arteri auditiva interna, atau salah satu arteri tersebut terjepit. Dengan demikian,
bila ada perubahan konsentrasi O2, hanya satu sisi yang mengadakan penyesuaian, sehingga
terdapat perbedaan elektro potensial antara vestibuler kanan dan kiri, yang mengakibatkan
terjadinya serangan vertigo.2,3
Neurotransmiter yang turut berkontribusi dalam patofisiologi vertigo, baik perifer
maupun sentral, di antaranya adalah neurotransmiter kolinergik, monoaminergik,
glutaminergik, dan histamin. Beberapa obat antivertigo bekerja dengan memanipulasi
neurotransmiter-neurotransmiter ini, sehingga gejala-gejala vertigo dapat ditekan. Glutamat
merupakan neurotransmiter eksitatorik utama dalam serabut saraf vestibuler. Glutamat ini
memengaruhi kompensasi vestibuler melalui reseptor NMDA (N-metil-D-aspartat). Reseptor
asetilkolin muskarinik banyak ditemukan di daerah pons dan medulla, dan akan menimbulkan
keluhan

vertigo

dengan

memengaruhi

reseptor

muskarinik

tipe

M2,

sedangkan

neurotransmiter histamin banyak ditemukan secara merata di dalam struktur vestibuler bagian
sentral, berlokasi di pre dan postsinaps pada sel-sel vestibuler.3
Gejala Klinis
Vertigo dapat terjadi sebagai akibat lesi sentral atau perifer. Vertigo dapat juga
diakibatkan oleh kondisi yang membatasi pergerakan leher, seperti vertigo yang disebabkan
oleh spondilosis cervical, atau setelah trauma fleksi-ekstensi whiplash. Sangat penting
untuk mengetahui apakah pasien memiliki lesi perifer atau sentral. Informasi dari anamnesis
dapat membantu membedakannya, seperti waktu terjadi dan durasi dari vertigo; faktor yang
mencetuskan; serta gejala yang berhubungan, seperti nyeri, nausea, gejala neurologis, dan
ketulian.1,3,4
Pada vertigo sentral biasanya timbul secara bertahap, kecuali pada vertigo sentral akut
yang disebabkan oleh faktor vaskular, seperti CVA. Lesi sentral biasanya menyebabkan
tanda-tanda neurologis yang menyertai vertigo. Fungsi auditori biasanya tidak terganggu.
Lesi sentral juga menyebabkan imbalans yang berat. Nistagmus murni vertikal, horizontal
atau torsional, dan tidak membaik dengan fiksasi mata ke suatu objek.1,3,4

Referat - Vertigo | 6

Tabel 4. Perbedaan Durasi, Gejala Auditori, dan Asal Lesi pada Penyebab Vertigo4
Patologi
Benign Paroxysmal Positional

Durasi per Episode

Gejala Auditori yang


Berhubungan

Asal Lesi

Detik

Tidak ada

Perifer

Vestibuler Neuronitis

Hari

Tidak ada

Perifer

Mnire's Disease

Jam

Ada

Perifer

Perilymphatic Fistula

Detik

Ada

Perifer

Transient Ischemic Attack

Detik / jam

Tidak ada

Sentral

Vertiginous Migraine

Jam

Tidak ada

Sentral

Labyrinthitis

Hari

Ada

Perifer

Stroke

Hari

Tidak ada

Sentral

Acoustic Neuroma

Bulan

Ada

Perifer

Cerebellar Tumour

Bulan

Tidak ada

Sentral

Multiple Sclerosis

Bulan

Tidak ada

Sentral

Vertigo

Riwayat kesehatan merupakan data awal yang paling penting untuk menilai keluhan
pusing ataupun vertigo. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam anamnesis adalah onset
(adakah faktor pencetus spesifik seperti terbang atau trauma), durasi per episode (detik pada
BPPV; jam pada Mnire's Disease; minggu pada labirinitis, trauma belakang kepala,
neuronitis vestibuler; jam pada kelainan psikogenik), gejala auditori yang berhubungan
(jarang pada lesi sistem saraf pusat primer), serta nausea dan muntah pada penyebab
vestibuler.1,3,4
Riwayat Adanya aura dan gejala-gejala neurologis perlu diperhatikan, misalnya
apakah ada gangguan (hilangnya) pendengaran, perasaan penuh, perasaan tertekan, ataupun
berdenging di dalam telinga. Jika terdapat keluhan tinitus, apakah hal tersebut terjadi terusmenerus, intermiten, atau pulsatif. Apakah ada gejala-gejala gangguan batang otak atau
kortikal (misalnya, nyeri kepala, gangguan visual, kejang, hilang kesadaran).3
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang menyeluruh sebaiknya difokuskan pada evaluasi neurologis
terhadap saraf-saraf kranial dan fungsi serebelum, misalnya dengan melihat modalitas
motorik dan sensorik. Penilaian terhadap fungsi serebelum dilakukan dengan menilai fiksasi
gerakan bola mata; adanya nistagmus (horizontal) menunjukkan adanya gangguan vestibuler
sentral. Pemeriksaan kanalis auditorius dan membran timpani juga harus dilakukan untuk
Referat - Vertigo | 7

menilai ada tidaknya infeksi telinga tengah, malformasi, kolesteatoma, atau fistula
perilimfatik. Dapat juga dilakukan pemeriksaan tajam pendengaran.3,4
Tes Keseimbangan
Pemeriksaan klinis, baik yang dilakukan unit gawat darurat maupun di ruang
pemeriksaan lainnya, mungkin akan memberikan banyak informasi tentang keluhan vertigo.
Beberapa pemeriksaan klinis yang mudah dilakukan untuk melihat dan menilai gangguan
keseimbangan diantaranya adalah tes Romberg. Pada tes ini, penderita berdiri dengan lengan
dilipat di dada, dan mata tertutup. Tes ini dapat dipertajam dengan memposisikan kaki yang
satu di depan kaki yang lain, tumit yang satu berada di depan jari-jari kaki yang lain
(tandem). Orang yang normal mampu berdiri dalam sikap Romberg ini selama 30 detik atau
lebih. Berdiri dengan satu kaki dengan mata terbuka dan kemudian dengan mata tertutup
merupakan skrining yang sensitif untuk kelainan keseimbangan. Bila pasien mampu berdiri
dengan satu kaki dalam keadaan mata tertutup, dianggap normal.1-4
Stepping Test
Penderita harus berjalan di tempat dengan mata tertutup sebanyak 50 langkah dengan
kecepatan seperti berjalan biasa dan tidak diperbolehkan beranjak dari tempat semula. Tes ini
dapat mendeteksi ada tidaknya gangguan sistem vestibuler. Bila penderita beranjak lebih dari
1 meter dari tempat semula atau badannya berputar lebih dari 30 derajat dari keadaan semula,
dapat diperkirakan penderita mengalami gangguan sistem vestibuler.1-4
Past-Pointing Test
Penderita diperintahkan untuk merentangkan lengannya dan telunjuk penderita
diperintahkan menyentuh telunjuk pemeriksa. Selanjutnya, penderita diminta untuk menutup
mata, mengangkat lengannya tinggi-tinggi (vertikal) dan kemudian kembali pada posisi
semula. Dapat pula dilakukan tes jari hidung, yang dilakukan dalam posisi duduk dan pasien
diminta menunjuk hidung dengan jari dalam keadaan mata terbuka dan tertutup. Pada
gangguan vestibuler, akan didapatkan salah tunjuk.1-4
Manuver Dix-Hallpike
Untuk menimbulkan vertigo pada penderita dengan gangguan sistem vertibuler, dapat
dilakukan manuver Nylen-Barany atau Hallpike. Pada tes ini, penderita duduk di pinggir
ranjang pemeriksaan, kemudian direbahkan sampai kepala bergantung di pinggir tempat tidur
dengan sudut sekitar 30 derajat di bawah horizon, lalu kepala ditolehkan ke kiri. Tes
kemudian diulangi dengan kepala melihat lurus dan diulangi lagi dengan kepala menoleh ke
kanan. Penderita harus tetap membuka matanya agar pemeriksa dapat melihat
muncul/tidaknya nistagmus. Kepada penderita ditanyakan apakah merasakan timbulnya
gejala vertigo.1,3,4

Referat - Vertigo | 8

Gambar 2. Manuver Dix-Hallpike


Tes Kalori
Tes kalori baru boleh dilakukan setelah dipastikan tidak ada perforasi membran
timpani maupun serumen. Cara melakukan tes ini adalah dengan memasukkan air bersuhu
30 C sebanyak 1 mL. Tes ini berguna untuk mengevaluasi nistagmus, keluhan pusing, dan
gangguan fiksasi bola mata.1,3,4
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan lain dapat juga dilakukan, dan selain pemeriksaan fungsi vestibuler,
perlu dikerjakan pula pemeriksaan penunjang lain jika diperlukan. Beberapa pemeriksaan
penunjang dalam hal ini di antaranya adalah pemeriksaan laboratorium (darah lengkap, tes
toleransi glukosa, elektrolit darah, kalsium, fosfor, magnesium) dan pemeriksaan fungsi
tiroid. Pemeriksaan penunjang dengan CT-scan, MRI, atau angiografi dilakukan untuk
menilai struktur organ dan ada tidaknya gangguan aliran darah, misalnya pada vertigo
sentral.3
Posturografi
Posturografi adalah pemeriksaan keseimbangan yang dapat menilai secara objektif
dan kuantitatif kemampuan keseimbangan postural seseorang. Untuk mendapatkan gambaran
yang benar tentang gangguan keseimbangan karena gangguan vestibuler, maka input visual
diganggu dengan menutup mata dan input proprioseptif dihilangkan dengan berdiri di atas
tumpuan yang tidak stabil. Dikatakan terdapat gangguan keseimbangan bila terlihat ayun
tubuh berlebihan, melangkah atau sampai jatuh sehingga perlu berpegangan. Pemeriksaan
posturografi dilakukan dengan menggunakan alat yang terdiri dari alas sebagai dasar
tumpuan yang disebut sebagai force platform, komputer graficoder, busa dengan ketebalan 10
cm untuk mengganggu input proprioseptif, dan disket data untuk menyimpan data hasil
pengukuran.2
Pasien diminta berdiri tenang dengan tumit sejajar di atas alat, mata memandang ke
satu titik di muka, kemudian dilakukan perekaman pada 4 kondisi, masing-masing selama 60
detik. Kondisi pertama pasien berdiri di atas alas dengan mata terbuka memandang titik
Referat - Vertigo | 9

tertentu. Pada kondisi ini ketiga input sensori bekerja sama. Kondisi kedua pasien berdiri di
atas alas dengan mata tertutup. Pada kondisi ini input visual diganggu. Kondisi ketiga pasien
berdiri di atas alas busa 10 cm dengan mata terbuka, memandang titik tertentu. Pada kondisi
ini input proprioseptif diganggu. Kondisi keempat pasien berdiri tenang di atas alas busa 10
cm dengan mata tertutup. Pada kondisi ini input visual dan proprioseptif diganggu, sehingga
hanya organ vestibuler yang bekerja. Bila terjadi pemanjangan ayun tubuh maka terjadi
gangguan keseimbangan.2

Gambar 3. Algoritma Diagnosis3


Manajemen Vertigo
Penatalaksanaan vertigo bergantung pada lama keluhan dan ketidaknyamanan akibat
gejala yang timbul, serta patologi yang mendasarinya. Pada vertigo, beberapa tindakan
spesifik dapat dianjurkan untuk mengurangi keluhan vertigo. Pada penyakit Meniere,
misalnya, pengurangan asupan garam dan penggunaan diuretik disarankan untuk mengurangi
tekanan endolimfatik. Untuk BPPV (benign paroxysmal positional vertigo), dapat dicoba
dengan bedside maneuver yang disebut dengan Epley particle repositioning maneuver.3
Epley manoeuver bertujuan untuk mengeluarkan debris dari kanalis semisirkularis
dan mengumpulkannya di utrikulus dimana sel rambut tidak terstimulasi. Kontraindikasi pada
Epley manoeuver mencakup stenosis karotid berat, penyakit jantung tidak stabil, penyakit
leher berat (spondilosis servikal dengan mielopati), serta artritis rheumatoid berat.4

Referat - Vertigo | 10

Gambar 4. Epley Manuver


Penatalaksanaan Medikamentosa
Secara umum, penatalaksanaan medikamentosa mempunyai tujuan utama: (i)
mengeliminasi keluhan vertigo, (ii) memperbaiki proses-proses kompensasi vestibuler, dan
(iii) mengurangi gejala-gejala neurovegetatif ataupun psikoafektif. Beberapa golongan obat
yang dapat digunakan untuk penanganan vertigo di antaranya adalah:5
a. Antikolinergik
Antikolinergik merupakan obat pertama yang digunakan untuk penanganan
vertigo, yang paling banyak dipakai adalah skopolamin dan homatropin. Kedua
preparat tersebut dapat juga dikombinasikan dalam satu sediaan antivertigo.
Antikolinergik berperan sebagai supresan vestibuler melalui reseptor muskarinik.
Pemberian antikolinergik per oral memberikan efek rata-rata 4 jam, sedangkan gejala
efek samping yang timbul terutama berupa gejala-gejala penghambatan reseptor
muskarinik sentral, seperti gangguan memori dan kebingungan (terutama pada
populasi lanjut usia), ataupun gejala-gejala penghambatan muskarinik perifer, seperti
gangguan visual, mulut kering, konstipasi, dan gangguan berkemih.1,4,5
b. Antihistamin
Penghambat reseptor histamin-1 (H-1 blocker) saat ini merupakan antivertigo
yang paling banyak diresepkan untuk kasus vertigo, dan termasuk di antaranya adalah
difenhidramin, siklizin, dimenhidrinat, meklozin, dan prometazin. Mekanisme
antihistamin sebagai supresan vestibuler tidak banyak diketahui, tetapi diperkirakan
juga mempunyai efek terhadap reseptor histamin sentral. Antihistamin mungkin juga
mempunyai potensi dalam mencegah dan memperbaiki motion sickness. Efek sedasi
Referat - Vertigo | 11

merupakan efek samping utama dari pemberian penghambat histamin-1. Obat ini
biasanya diberikan per oral, dengan lama kerja bervariasi mulai dari 4 jam (misalnya,
siklizin) sampai 12 jam (misalnya, meklozin).1,4,5
c. Histaminergik
Obat kelas ini diwakili oleh betahistin yang digunakan sebagai antivertigo di
beberapa negara Eropa, tetapi tidak di Amerika. Betahistin sendiri merupakan
prekrusor histamin. Efek antivertigo betahistin diperkirakan berasal dari efek
vasodilatasi, perbaikan aliran darah pada mikrosirkulasi di daerah telinga tengah dan
sistem vestibuler. Pada pemberian per oral, betahistin diserap dengan baik, dengan
kadar puncak tercapai dalam waktu sekitar 4 jam. efek samping relatif jarang,
termasuk di antaranya keluhan nyeri kepala dan mual.1,4,5
d. Antidopaminergik
Antidopaminergik biasanya digunakan untuk mengontrol keluhan mual pada
pasien dengan gejala mirip vertigo. Sebagian besar antidopaminergik merupakan
neuroleptik. Efek antidopaminergik pada vestibuler tidak diketahui dengan pasti,
tetapi diperkirakan bahwa antikolinergik dan antihistaminik (H1) berpengaruh pada
sistem vestibuler perifer. Lama kerja neuroleptik ini bervariasi mulai dari 4 sampai 12
jam. Beberapa antagonis dopamin digunakan sebagai antiemetik, seperti domperidon
dan metoklopramid. Efek samping dari antagonis dopamin ini terutama adalah
hipotensi ortostatik, somnolen, serta beberapa keluhan yang berhubungan dengan
gejala ekstrapiramidal, seperti diskinesia tardif, parkinsonisme, distonia akut, dan
sebagainya.1,4,5
e. Benzodiazepin
Benzodiazepin merupakan modulator GABA, yang akan berikatan di tempat
khusus pada reseptor GABA. Efek sebagai supresan vestibuler diperkirakan terjadi
melalui mekanisme sentral. Namun, seperti halnya obat-obat sedatif, akan
memengaruhi kompensasi vestibuler. Efek farmakologis utama dari benzodiazepin
adalah sedasi, hipnosis, penurunan kecemasan, relaksasi otot, amnesia anterograd,
serta antikonvulsan. Beberapa obat golongan ini yang sering digunakan adalah
lorazepam, diazepam, dan klonazepam.1,4,5
f. Antagonis kalsium
Obat-obat golongan ini bekerja dengan menghambat kanal kalsium di dalam
sistem vestibuler, sehingga akan mengurangi jumlah ion kalsium intrasel. Penghambat
kanal kalsium ini berfungsi sebagai supresan vestibuler. Flunarizin dan sinarizin
Referat - Vertigo | 12

merupakan penghambat kanal kalsium yang diindikasikan untuk penatalaksanaan


vertigo; kedua obat ini juga digunakan sebagai obat migren. Selain sebagai
penghambat kanal kalsium, ternyata flunarizin dan sinarizin mempunyai efek sedatif,
antidopaminergik, serta antihistamin-1. Flunarizin dan sinarizin dikonsumsi per oral.
Flunarizin mempunyai waktu paruh yang panjang, dengan kadar mantap tercapai
setelah 2 bulan, tetapi kadar obat dalam darah masih dapat terdeteksi dalam waktu 2-4
bulan setelah pengobatan dihentikan. Efek samping jangka pendek dari penggunaan
obat ini terutama adalah efek sedasi dan peningkatan berat badan. Efek jangka
panjang yang pernah dilaporkan ialah depresi dan gejala parkinsonisme, tetapi efek
samping ini lebih banyak terjadi pada populasi lanjut usia.1,4,5
g. Simpatomimetik
Simpatomimetik, termasuk efedrin dan amfetamin, harus digunakan secara
hati-hati karena adanya efek adiksi.5
h. Asetilleusin
Obat ini banyak digunakan di Prancis. Mekanisme kerja obat ini sebagai
antivertigo tidak diketahui dengan pasti, tetapi diperkirakan bekerja sebagai prekrusor
neuromediator yang memengaruhi aktivasi vestibuler aferen, serta diperkirakan
mempunyai efek sebagai antikalsium pada neurotransmisi. Beberapa efek samping
penggunaan asetilleusin ini di antaranya adalah gastritis (terutama pada dosis tinggi)
dan nyeri di tempat injeksi.5
i. Lain-lain
Beberapa preparat ataupun bahan yang diperkirakan mempunyai efek
antivertigo diantaranya adalah Ginkgo biloba, piribedil (agonis dopaminergik), dan
ondansetron.5

Referat - Vertigo | 13

Untuk serangan akut, terapi mencakup Betahistine Hidroklorida 8-16mg sampai


dengan 3 kali sehari, Cinnarizine 15-30mg 3 kali sehari, dan Prochlorperazine yang diberikan
hanya untuk penyembuhan gejala akut, dalam bentuk tablet 5-10mg, atau buccal 3mg, atau
injeksi 12,5mg IM. Untuk pencegahan rekurensi, dapat dilakukan pembatasan intake garam
dan cairan (berhenti merokok, dan membatasi konsumsi kopi atau alkohol), pemberian
Betahistine hidrokloride 16mg 3 kali sehari secara rutin untuk Mnire's Disease, dan
Cinnarizine 15-30mg 3 kali sehari.4

Referat - Vertigo | 14

BAB III
KESIMPULAN
Vertigo merupakan gejala dari berbagai kelainan, baik pada organ pendengaran
maupun otak (medulla, pons, dan serebelum), sehingga secara umum dikelompokkan atas
vertigo sentral dan perifer. Diagnosis dan penatalaksanaan vertigo secara umum dapat
dilakukan di pusat layanan kesehatan primer. Beberapa tindakan pemeriksaan keseimbangan
sederhana (tes Romberg, tes salah tujuk) dapat dilakukan pada praktik sehari-hari. Terapi
medikamentosa (obat antivertigo) sangat banyak pilihannya, dan harus dipertimbangkan
antara manfaat dan risiko penggunaannya.

Referat - Vertigo | 15

Daftar Pustaka
1. Samy HM. Dizziness, vertigo, and imbalance. 7 Agustus 2015. Diunduh dari:
http://emedicine.medscape.com/article/2149881-overview#a5. 18 September 2015.
2. Bashiruddin J, Hadjar E, Alviandi W. Gangguan keseimbangan. Dalam: Soepardi EA,
Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD (ed). Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung
tenggorok kepala & leher. Ed 7. Jakarta: FKUI; 2012. h 79-88.
3. Kuo CH, Pang L, Chang R. Vertigo - part 1 - assessment in general practice. Aust Fam
Physician 2008;37(5):341-73.
4. Sura DS, Newell S. Vertigo diagnosis and menagement in primary care. BJMP
2010; 3(4):a351.
5. Randy Swartz. Treatment of vertigo. Am Fam Physician 2005;71:1115-22, 1129-306.

Referat - Vertigo | 16