Anda di halaman 1dari 79

LAPORAN COMMUNITY HEALTH ANALYSIS

KEPANITERAAN ILMU KEDOKTERAN MASYARAKAT


PUSKESMAS II WANGON
FAKTOR RISIKO KEJADIAN DEMAM BERDARAH DI WILAYAH
KERJA PUSKESMAS II WANGON TAHUN 2016

Disusun Oleh:
Jatmiko Edy Nugroho

G4A015018

Puti Hasana Kasih

G4A015022

Perseptor fakultas

: dr. Diah Krisnansari M.Sc

Perseptor lapangan : drg. Imam Hidayat

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


JURUSAN KEDOKTERAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

MARET 2016

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN COMMUNITY HEALTH ANALYSIS
KEPANITERAAN ILMU KEDOKTERAN MASYARAKAT
PUSKESMAS II TAMBAK
FAKTOR RISIKO YANG MENYEBABKAN DIARE PADA BALITA DI
DESA PESANTREN KECAMATAN TAMBAK KABUPATEN BANYUMAS
Disusun untuk memenuhi sebagian syarat dari
Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Masyarakat
Jurusan Kedokteran
Fakultas Kedokteran
Universitas Jenderal Soedirman

Disusun oleh:
Raditya Bagas Wicaksono

G4A014067

Annisa Farah Fadhilah

G4A014068

Telah dipresentasikan dan disetujui :


Tanggal September 2015
Preseptor Lapangan

Preseptor Fakultas

drg. Imam Hidayat


NIP.

dr. Diah Krisnansari, M.Sc


NIP.

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Demam berdarah dengue merupakan salah satu permasalahan pokok di
seluruh dunia. WHO melaporkan bahwa 2,5-3 juta manusia berisiko terhadap
penyakit ini. Penyakit demam berdarah adalah penyakit yang berbasis
perkotaan namun sudah mulai meluas ke pedesaan. Setiap kasus demam
berdarah menimbulkan rata-rata kematian mencapai 5% dari semua kasus.
Penyakit Demam Berdarah bahkan menjadi wabah 5 tahunan yang terakhir
terjadi pada tahun 2003/2004. Sejak tahun 1968 hingga tahun 2009 World
Health Organization (WHO) mencatat negara Indonesia sebagai negara
dengan kasus Demam Berdarah tertinggi di Asia Tenggara. Dari jumlah
keseluruhan kasus tersebut, sekitar 95% terjadi pada anak di bawah 15 tahun.
Tahun 2007 jumlah kasus DBD di Indonesia sebanyak 158.115, tahun 2008
sebanyak 137.469 kasus, tahun 2009 sebanyak 158.912 kasus dengan kota
terjangkit sebanyak 382 kota (Maria et al., 2013)
Penyakit DBD di Indonesia pada mulanya ditemukan di Surabaya pada
tahun 1968 dengan jumlah kasus 58 orang dan memakan korban jiwa
sebanyak 24 orang. Perkembangan penyakit ini dari tahun ke tahun cenderung
mengalami peningkatan baik dalam jumlah kasus maupun wilayah
penyebarannya. Awalnya penyakit ini lebih banyak terjadi di kota-kota besar
namun sekarang sudah terjadi di kota kecil bahkan sampai ke daerah pedesaan
(Rahayu et al., 2010)
Suatu daerah dikatakan endemis apabila dalam 3 tahun terakhir, setiap
tahunnya terdapat penderita DBD atau yang karena keadaan lingkungannya.
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan kasus endemik yang menyebar
di seluruh wilayah Indonesia dan hingga saat ini endemik hampir di 300
kabupaten yang ada. Nyamuk jenis Aedes aegypti merupakan vektor utama
dari penyakit DBD. Seluruh wilayah Indonesia memiliki risiko untuk
terjangkit penyakit DBD kecuali daerah yang memiliki ketinggian di atas
1000m di atas permukaan laut (Sari et al.,2013 ). Sejak tahun 2007, 33
kabupaten/kota dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah merupakan daerah
endemis DBD. Pada tahun 2008-2009, sudah menyebar ke seluruh

kabupaten/kota dengan jumlah kasus yang cukup tinggi (Sunaryo &


Pramestuti, 2014)
Faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit demam berdarah dengue
antara lain faktor host, lingkungan, serta faktor dari virus dengue sendiri.
Faktor lingkungan merupakan salah satu faktor penting yang erat kaitannya
dengan infeksi dengue. Lingkungan pemukiman sangat besar peranannya
dalam penyebaran penyakit menular. Kondisi perumahan yang tidak
memenuhi syarat rumah sehat apabila dilihat dari kondisi kesehatan
lingkungan akan berdampak pada masyarakat itu sendiri. Dampaknya dilihat
dari terjadinya suatu penyakit yang berbasis lingkungan yang dapat menular
(Maria et al., 2013).
Daerah Wangon sendiri DBD menjadi salah satu penyakit yang
menimbulkan kejadian luar biasa. Selama bulan Februari-Maret tahun 2016,
tercatat kasusnya meningkat 2 kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Tahun
2016 ini selama 2 bulan sudah sudah terdapat 12 pasien DBD, sedangkan
tahun lalu hanya berjumlah 4 orang dalam kurun 1 tahun. Berdasarkan fakta
yang dipaparkan peningkatan kejadian DBD merupakan masalah yang perlu
diketahui penyebabnya, peneliti tertarik untuk menganalisis dan melakukan
intervensi terhadap angka kejadian DBD di wilayah Wangon, khususnya yang
menjadi lingkup Puskesmas 2 Wangon.
B. Tujuan
1) Tujuan Umum
Melakukan analisis kesehatan komunitas (Community Health Analysis) di
wilayah kerja Puskesmas II Wangon Kabupaten Banyumas
2) Tujuan Khusus
a. Menentukan faktor risiko DBD di wilayah kerja Puskesmas II Wangon
b. Mencari alternatif pemecahan masalah DBD di wilayah kerja
Puskesmas II Wangon
c. Melakukan intervensi terhadap penyebab masalah DBD untuk
mengatasi masalah kesehatan di wilayah kerja Puskesmas II Wangon.
C. Manfaat
1. Manfaat Teoritis

Menjadi dasar untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang


permasalahan kesehatan yang terjadi di wilayah kerja Puskesmas II
wangon.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi mahasiswa
Menjadi dasar untuk penelitian lebih lanjut mengenai masalah
kesehatan di wilayah kerja Puskesmas II Wangon.
b. Bagi masyarakat desa
Memberikan

informasi

kesehatan

(promotif,

preventif,

dan

rehabilitatif) kepada masyarakat wialyah kerja Puskesmas II Wangon,


untuk penelitian khususnya berkaitan dengan diare.
c. Bagi instansi terkait
Membantu program enam dasar pelayanan kesehatan puskesmas
berkaitan dengan promosi kesehatan terutama masalah diare sehingga
dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan menentukan kebijakan
yang harus diambil untuk menyelesaikan masalah.
d. Bagi Fakultas Kedokteran UNSOED
Untuk menambah bahan referensi yang dapat digunakan sebagai
acuan dalam penelitian selanjutnya.

II. ANALISIS SITUASI


A.

Gambaran Umum Wilayah Puskesmas II Wangon


1. Keadaan Geografis
Puskesmas II Wangon merupakan salah satu UPTD Dinas
Kesehatan yang terletak di wilayah Kecamatan Wangon dan merupakan
salah satu dari dua Puskesmas yang ada di Kecamatan Wangon. Luas
wilayah kerja Puskesmas II Wangon adalah 21,38 km 2 terdiri terdiri dari 5
desa yaitu Windunegara, Wlahar, Cikakak, Jambu, Jurangbahas. Desa
Jambu meruakan desa yang mempunyai wilayah yang paling luas yaitu
sekitar 6,1 km2, sedangkan desa Wlahar merupakan desa yang mempunyai
wilayah paling sempit yaitu 2,7 km2.
Letak Geografi Puskesmas II Wangon terletak diantara 102936.31
Bujur Timur dan sekitar 10900717.53 Lintang Selatan, berbatasan
dengan beberapa kecamatan yaitu :
a.

Sebelah Timur

: Kecamatan Purwojati

b.

Sebelah Barat

: Kecamatan Lumbir

c.

Sebelah Utara

: Kecamatan Ajibarang

d.

Sebelah Selatan : Kecamatan Wangon dan wilayah kerja


Puskesmas II Wangon
Topografi wilayah kerja Puskesmas II Wangon terdiri dari 60 %

daratan

dan 40 % pegunungan. Jarak Puskesmas II Wangon ke ibukota

kabupaten 24 km, jarak desa dari puskesmas adalah 10 km. Semua pusat
pemerintah desa dapat terjangkau dengan kendaraan roda dua dan roda
empat.
2. Keadaan Demografis
a.

Pertumbuhan dan Persebaran Penduduk


Berdasarkan hasil pendataan yang didapatkan dari setiap desa tahun
2015 jumlah penduduk wilayah kerja Puskesmas II Wangon adalah
23.981 jiwa, terdiri dari 12.152 jiwa laki laki (50.67%) dan 11.829
jiwa perempuan (49.33%) tergabung dalam 6.275 rumah tangga/KK.
Jumlah penduduk tahun 2015 yang tertinggi di Desa Jambu sebanyak

6.550 jiwa sedangkan terendah di Desa Jurangbahas sebanyak 2.606


jiwa. Apabila dibandingkan dengan luas wilayah, kepadatan penduduk
tertinggi terdapat di desa Wlahar sebesar 1750.37/km2.
b.

Kepadatan Penduduk
Kepadatan penduduk wilayah kerja Puskesmas II Wangon tahun 2015
sebesar 1.126 jiwa per km2. Dengan kepadatan tertinggi terdapat di
Desa Wlahar dengan tingkat kepadatan sebesar 1750.37 jiwa/km2.,
sedangkan kepadatan penduduk terendah pada Desa Jurangbahas
sebesar 840.65 jiwa / km2.

c.

Status Sosial Ekonomi


1)

Tingkat Pendidikan
Berdasarkan data Profil Kesehatan Puskesmas II Wangon Tahun
2015 jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan adalah
sebagai berikut :
NO

JENIS PENDIDIKAN

JUMLAH

Tidak/belum sekolah

31

Tidak /Belum Tamat

8.398

SD/MI
3

SD/MI

9.750

SMP/MTS

3.004

SMA/SMK/MA

1.891

AK/DIPLOMA

626

UNIVERSITAS

312

Sumber : Profil Puskesmas II Wangon 2015


Dari tabel tersebut di atas tingkat pendidikan paling banyak adalah
SD/MI, sebesar (40,65%), kemudian Tidak/belum Tamat SD/MI
(35%),

Tamat

SMP

(12,5%),

SMA/SMK/MA

AK/Diploma (2,6%) dan Universitas sebanyak (1,3%).


2) Mata Pencaharian

(7,88%),

Berdasarkan data yang diperoleh dari Kecamatan pada tahun 2015,


mata pencaharian atau jenis pekerjaan penduduk di wilayah kerja
Puskesmas II Wangon adalah sesuai urutan sebagai berikut : Petani
(27,96%), Industri (23,50%), perdagangan (18,20%), Konstruksi
(11,44%), Jasajasa ( 10,47%), angkutan dan komunukasi (5,86%),
pertambangan dan penggalian (1,6%), listrik, gas dan air (0,5%),
serta lembaga Keuangan (0,35%).
3. Petugas kesehatan
Berikut rasio tenaga kesehatan per 100.000 Penduduk:
a.

Rasio dokter umum per 100.000 penduduk tahun 2015 sebesar 8,3.

b.

Rasio tenaga dokter gigi per 100.000 penduduk tahun 2015 sebesar
4,2.

c.

Rasio tenaga apoteker, S1 Farmasi, D III farmasi 1.

d.

Rasio tenaga gizi per 100.000 penduduk 4.

e.

Rasio tenaga keperawatan per 100.000 penduduk pada tahun 2015


sebesar 67.

f.

Rasio tenaga kesehatan masyarakat 0 dan tenaga sanitasi 4,2.

B. Sarana Kesehatan
Puskesmas II Wangon merupakan salah satu UPTD Dinas Kesehatan
Kabupaten Banyumas, merupakan Puskesmas Non Perawatan dan memiliki 1
(satu) Puskesmas Pembantu (Pustu) yang terletak di Desa Cikakak dan 5
(lima) PKD yang tersebar di 4 dssa wilayah kerja Puskemas II Wangon. 1
(satu) desa belum memiliki PKD yaitu Desa Windunegara.
Dalam Pelayanan kesehatan dasar, Puskesmas II Wangon juga
melaksanakan Puskesmas Keliling (Pusling) di beberapa titik wilayah kerja
Puskesmas II Wangon. Konsep wilayah kerja puskesmas yaitu dengan sasaran
penduduk yang dilayani oleh sebuah puskesmas rata rata 30.000 penduduk
per-puskesmas.
C. Pembiayaan Kesehatan
Penyelenggaraan pembiayaan di Puskesmas II Wangon terdiri dari
operasional umum, Jamkesmas, Jampersal dan dana BOK dengan tujuan agar

10

semua program kesehatan di Puskesmas II Wangon ini berjalan dengan lancar


dan mencapai target yang telah ditentukan. Pada tahun 2015 jumlah total
anggaran kesehatan Puslesmas II Wangon Rp. 648.523.248,- dengan
kontribusi sebesar 31,21% berasal dari APBD Kabupaten Banyumas, 58,61%
bersumber dari Pendapatan Sah BLUD, 10,18% berusmber dari anggaran
APBN . Untuk anggaran kesehatan perkapita

mengalami kenaikan Rp.

27.043,21.
D. Situasi Derajat Kesehatan Masyarakat
Untuk memberikan gambaran derajat kesehatan masyarakat Wilayah
Puskesmas II Wangon pada Tahun 2015 disajikan situasi mortalitas dan
morbiditas.
1. Angka Kematian
Gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari
kejadian kematian dalam masyarakat. Disamping itu kejadian juga dapat
dijadikan indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan
dan program pembangunan kesehatan lainnya. Angka kematian pada
umumnya dapat dihitung dengan melakukan berbagai survey dan
penelitian. Perkembangan tingkat kematian dan penyakit penyakit yang
terjadi pada periode terakhir akan diuraikan dibawah ini.
a. Angka Kematian Bayi
Angka kematian bayi (AKB) adalah jumlah kematian bayi (0-12
bulan) per 1000 kelahiran hidup dalam kurun waktu satu tahun. AKB
menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan masyarakat yang
berkaitan dengan faktor penyebab kematian bayi, tingkat pelayanan
antenatal, status gizi ibu hamil, tingkat keberhasilan program KIA dan
KB, serta kondisi lingkungan dan sosial ekonomi. Bila AKB tinggi
berarti status kesehatan di wilayah tersebut rendah.
Sebagai gambaran perkembangan angka kematian bayi selama tiga
tahun terakhir (2012-2014) adalah sebagai berikut :

11

Gambar. Grafik Angka Kematian Bayi (per 1000 KH) Puskesmas II


Wangon Tahun 2012-2015
Peningkatan AKB dari tahun sebelumnya menunjukkan masih
rendahnya status kesehatan ibu dan bayi baru lahir, rendahnya akses
dan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak, serta perilaku ibu
hamil dan keluarga serta masyarakat yang belum mendukung perilaku
hidup sehat.
b.

Angka Kematian Ibu


Angka Kematian Ibu (AKI) mencerminkan risiko yang dihadapi ibu
ibu selama kehamilan,melahirkan, dan nifas yang dipengaruhi baik
oleh penyebab langsung maupun tidak langsung. Penyebab langsung
kematian ibu terbesar adalah komplikasi obstetrik (90%) yang dikenal
dengan Trias seperti perdarahan, infeksi dan pre eklamsi, atau
komplikasi pada saat kehamilan, kelahiran dan selama nifas yang
tidak tertangani dengan baik dan tepat waktu. Sedangkan penyebab
kematian ibu tidak langsung merupakan akar permasalahan yang erat
hubungannya dengan masalah sosial budaya seperti kebiasaan,
keyakinan, kepercayaan, sikap dan perilaku masyarakat terhadap
perawatan kehamilan, kelahiran dan selama nifas.
Jumlah kematian ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas II Wangon
pada tahun 2014 tidak ada kematian ibu. Dalam kurun waktu 3 tahun
2012-2014 juga tidak ada kematian ibu di wilayah kerja Puskesmas II
Wangon. Berdasarkan data diatas dapat dikatakan bahwa program
kesehatan ibu dan anak sudah berjalan cukup baik.

c. Angka Kematian Balita

12

Angka Kematian Balita (AKABA) merupakan jumlah kematian balita


(0-5 th) per 1.000 kelahiran hidup dalam kurun waktu satu tahun.
AKABA menggambarkan tingkat permasalahan anak balita, tingkat
pelayanan KIA, tingkat keberhasilan program KIA dan kondisi
lingkungan. Berdasarkan tabel lampiran profil kesehatan tahun 2014
Angka Kematian Balita sebesar 0 . Selama 3 periode yaitu tahun 2012
- 2014 Angka kematian Balita di wilayah kerja Puskesmas II Wangon
tidak ada atau sebesar 0 per 1.000 kelahiran hidup.
2. Angka Kesakitan
a. Acute Flaccid Paralisis (AFP)
Puskemas II Wangon dari tahun 2012-2015 belum/tidak menemukan
kasus AFP. Pemberian Imunisasi Polio rutin pada anak

balita

merupakan salah satu cara pemerintah untuk mencegah terjadinya


kasus

Polio (Eradikasin Polio). Surveylans P2M termasuk AFP

dilakukan untuk mengamati dan menjaring semua kelumpuhan yang


terjadi secara mendadak dan bersifat layuh seperti kelumpuhan pada
poliomielitis.
b. Kesembuhan Penderita TB Paru BTA (+)
Penemuan kasus baru BTA (+) di Puskemas II Wangon tahun 2015
sebanyak 21 orang atau sehingga total CDR sebanyak 28,60% sampai
dengan saat ini belum memenuhi

target CDR yaitu > 70%. Hal

tersebut karena Puskesmas II Wangon belum secara aktif melakukan


penemuan kasus BTA (+) karena tidak ada tenaga laborat/analis
sehingga penemuan kasus TB BTA (+) kiriman dari sarana kesehatan
yang lain.
c. Persentase Balita dengan Pneumonia Ditangani
Cakupan penemuan penderita Pnemonia Balita di Wilayah kerja
Puskesmas II Wangon pada tahun 2015 sebesar 9,9 % mengalami
peningkatan dibanding pada tahun 2014 sebesar 5,8% tapi belum
significan karena masih jauh dari target yaitu 80%.
d. Prevalensi HIV

13

Penemuan kasus HIV/AIDS di wilayah kerja Puseksmas II Wangon


pada tahun 2015 tidak ditemukan kasus HIV/AIDS. Dalam kurun
waktu 2012-2015 tidak ditemukan laporan kasus penderita HIV-AIDS.
Untuk penemuan kasus Puskesmas mendapatkan Laporan dari Rumah
Sakit yang kemudian akan di tindak lanjuti dari Dinas kesehatan.
Kasus HIV/AIDS merupakan fenomena gunung es dimana kasus yang
dilaporkan hanya sebagian kecil dari masyarakat.
e. Angka Kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD)
Angka Kesakitan/Incidence Rate (IR) di Wilayah kerja Puskesmas II
Wangon pada tahun 2015 sebesar 12,5 per 100.000 penduduk. Angka
ini mengalami peningkatan dibanding tahun 2014 sebesar 21,6 per
100.000 penduduk dan tahun 2013 yaitu sebesar 53,3.per 100.000
penduduk.mAngka kematian/Case Fatality Rate (CFR) pada tahun
2014 adalah 0 %.
f. Penanganan Kasus DBD
Penderita kasus DBD yang ditangani merupakan penderita DBD yang
penanganannya sesuai standar di satu wilayah kerja pada kurun waktu
tertentu. Cakupan penderita DBD yang ditangani pada tahun 20145
sebesar 100%.
g. Penanganan Diare pada balita
Kasus penyakit Diare yang ditangani di wilayah kerja Puskesmas II
Wangon tahun 2015 sebesar 34,6% cenderung mengalami peningkatan
dibanding tahun 2014 sebesar 34,1% dan tahun 2013 yaitu sebesar
29%.
h. Persentase Penderita Kusta selesai berobat
Penemuan Kasus Kusta dengan type MB sebanyak 1 orang

dengan

angka penemuan kasus baru sebesar 4,17 per 100.000 penduduk. Pada
tahun 2014 sebesar 8,64 per 100.000 penduduk. Penderita tersebut
sedang menjalani pengobatan dengan teratur dan merupakan pasien
lama. Tidak ditemukan kasus baru pada penyakit kusta.
i. Kasus Penyakit filariasis ditangani

14

Jumlah Penemuan kasus filariasis di wilayah kerja Puskesmas II


Wangon sebanyak 0 (nol). Periode 2012-2015 Puslesmas II Wangon
belum menemukan kasus Filariasis.
j. Penyakit Tidak Menular
Penyakit tidak menular yang ditemukan diantaranya yaitu Dispepsia
hipertensi, Diabetes Mellitus , Remathoid artritis dan Myalgia hal ini
dapat terlihat pada Sepuluh besar Penyakit pada tahun 2015.
3. Angka Status Gizi Masyarakat
a. Persentase Kunjungan Neonatus
Kunjungan Neonatus adalah kunjungan yang dilakukan oleh petugas
kesehatan ke rumah ibu bersalin untuk memantau dan memberi
pelayanan kesehatan untuk ibu dan bayinya. Cakupan Kunjungan
Neonatus di Wilayah Kerja Puskesmas II Wangon pada tahun 2015
adalah sebesar 100%, terjadi peningkatan dibanding 2014 adalah
sebesar 99,7%, dan tahun 2013 sebesar 98,9%. Hal ini menunjukkan
tingginya kesadaran ibu dalam pemantauan perkembangan dan
kesehatan neonatus.
b. Persentase Kunjungan Bayi
Kunjungan bayi adalah bayi yang memperoleh pelayanan kesehatan
sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan paling sedikit 4 kali di
luar kunjungan neonatus. Cakupan kunjungan bayi di wilayah kerja
Puskesmas II Wangon pada tahun 2015 sebesar 95,89%, terjadi
peningkatan dibanding tahun 2014 sebesar 93,5%. Berdasarkan Target
SPM maka angka tersebut sudah memenuhi target yaitu 90%.
c. Persentase BBLR ditangani
Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi yang lahir dengan berat
badan kurang dari 2500 gram. Penyebab terjadi BBLR antara lain
karena ibu hamil mengalami anemia, kurang asupan gizi waktu dalam
kandungan atau lahir premature. Presentase BBLR di Wilayah Kerja
Puskesmas II Wangon pada tahun 2015 sebesar 6,34% dibandingkan
tahun 2014 terjadi peningkatan presentase sebesar 2,6%. Bayi dengan
BBLR mendapat penanganan dari petugas kesehatan 100%.

15

d. Balita dengan Gizi Buruk


Balita dengan gizi buruk dapat dipantau melalui pemantauan tumbuh
kembang Balita di Posyandu, pemantauan status gizi. Perawatan yang
baik dapat meningkatkan status gizi balita. Berdasarkan table profile
Puskesmas II Wangon pada tahun 2015 kasus balita gizi buruk sebesar
0,22% dibandingkan tahun 2014 mengalami peningkatan jumlah kasus
balita dengan gizi buruk sebesar 0,07%. Pada tahun 2013 tidak
ditemukan kasus gizi buruk pada balita.

16

III.

IDENTIFIKASI PERMASALAHAN DAN PRIORITAS MASALAH

A. Daftar Permasalahan Kesehatan


Berikut ini adalah data sepuluh penyakit terbesar di Puskesmas II Wangon
bulan Juni-Desember 2015 dan data kejadian luar biasa (KLB) penyakit
demam berdarah.
Tabel . Data sepuluh penyakit terbesar di Puskesmas II Wangon bulan JuniDesember 2015
NO

Penyakit

Jun

Jul

Agust

Sept

Okt

Nov

Des

Total

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

ISPA
Demam yang tidak diketahui penyebab
Hipertesi Primer
Diare dan Gastroenteritis
Dispepsia
Myalgia
Dermatitis kontak alergi
Dermatitis kontak iritan
Nyeri kepala
Vertigo

108
64
85
32
35
47
28
29
-

212
51
60
39
44
68
25
-

272
86
71
88
30
26
42
29
-

311
66
29
54
49
53
28
18

248
44
49
49
53
39
47
21
-

236
73
77
44
52
48
28
41
39
29

226
61
72
39
43
54
58
53
43
-

1939
445
443
310
303
255
222
218
186
47

Sumber: Data Sekunder Puskesmas II Wangon


Tabel
B. Penentuan Prioritas Masalah
Penentuan prioritas masalah di wilayah kerja Puskesmas II Wangon
dengan menggunakan metode Hanlon Kuantitatif dengan empat kelompok
kriteria, yaitu:
1. Kriteria A (besarnya masalah)
Untuk menentukan besarnya masalah kesehatan diukur dari besarnya
penduduk yang terkena efek langsung.
Tabel . Kriteria A Hanlon Kuantitatif
NO
1
2
3
4
5
6
7
8

PENYAKIT
ISPA
Demam yang
tidak diketahui
penyebab
Hipertesi Primer
Diare dan
Gastroenteritis
Dispepsia
Myalgia
Dermatitis kontak
alergi
Dermatitis kontak
iritan

TOTAL
1939

PREVALENSI

8.08 %

KATEGORI
5,00-9,99%

SKOR
3

445

1.85 %

1,00-4,99%

443

1.84 %

1,00-4,99%

310

1.29 %

1,00-4,99%

303
255

1,26 %
1.06 %

1,00-4,99%
1,00-4,99%

2
2

222

0.92%

0,00-0,99%

218

0.90 %

0,00-0,99%

17

9
10
11

Nyeri kepala
Vertigo
Demam berdarah

186
47

0.77 %
0.19 %

0,00-0,99%
0,00-0,99%

1
1

Sumber : Data Sekunder Puskesmas II Wangon


2. Kriteria B (kegawatan masalah)
Kegawatan : (paling cepat mengakibatkan kematian)
Skor : 1 = Tidak gawat
2 = Kurang gawat
3 = Cukup gawat
4 = Gawat
5 = Sangat gawat
Urgensi: (harus segera ditangani, apabila tidak menyebabkan kematian)
Skor : 1 = Tidak urgen
2 = Kurang urgen
3 = Cukup urgen
4 = Urgen
5 = Sangat urgen
Biaya: (biaya penanggulangan)
Skor : 1 = Sangat murah
2 = Murah
3 = Cukup mahal
4 = Mahal
5 = Sangat mahal

18

Tabel . Kriteria B Hanlon Kuantitatif


Masalah
ISPA
Demam yang tidak
diketahui penyebab
Hipertesi Primer
Diare dan Gastroenteritis
Dispepsia
Myalgia
Dermatitis kontak alergi
Dermatitis kontak iritan
Nyeri kepala
Vertigo
Demam Berdarah

Kegawatan
2
2

Urgensi
2
3

Biaya
1
1

Nilai
5
6

3
3
1
1
1
1
2
2
4

3
3
1
1
1
1
2
2
4

3
2
1
1
1
1
1
2
3

9
8
3
3
3
3
5
6
11

3. Kriteria C (penanggulangan masalah)


Untuk menilai kemudahan dalam penanggulangan, pertanyaan yang
harus dijawab adalah apakah sumber-sumber dan teknologi yang tersedia
mampu menyelesaikan masalah: makin sulit dalam penanggulangan, skor
yang diberikan makin kecil.
Skor

: 1 = Sangat sulit ditanggulangi


2 = Sulit ditanggulangi
3 = Cukup bisa ditanggulangi
4 = Mudah ditanggulangi
5 = Sangat mudah ditanggulangi

1. ISPA

:3

2. Demam yang tidak diketahui penyebabnya

:3

3. Hipertensi primer

:3

4. Diare dan gastroenteritis

:3

5. Dispepsia

:4

6. Myalgia

:4

7. Dermatitis kontak alergi

:4

8. Dermatitis kontak iritan

:4

9. Nyeri kepala

:4

10. Vertigo

:3

11. Demam berdarah

:3

19

4. Kriteria D (P.E.A.R.L)
Propriety

: kesesuaian (1/0)

Economic

: ekonomi murah (1/0)

Acceptability

: dapat diterima (1/0)

Resources availability : tersedianya sumber daya (1/0)


Legality

: legalitas terjamin (1/0)

Tabel . Kriteria P.E.A.R.L. Hanlon Kuantitatif


Masalah
ISPA
Demam yang tidak
diketahui penyebab
Hipertesi Primer
Diare dan
Gastroenteritis
Dispepsia
Myalgia
Dermatitis kontak
alergi
Dermatitis kontak
iritan
Nyeri kepala
Vertigo
Demam berdarah

P
1
1

E
1
1

A
1
1

R
1
1

L
1
1

Hasil
1
1

Penetapan nilai
Setelah nilai kriteria A, B, C, dan D didapatkan kemudian nilai
tersebut dimasukkan ke dalam formula sebagai berikut :
a. Nilai prioritas dasar (NPD) = (A+B) x C
b. Nilai prioritas total (NPT) = (A+B) x C x D
Tabel . Penetapan Prioritas Masalah
Masalah
Demam
Berdarah
Hipertesi
Diare
dan
Gastroenteritis
ISPA
Demam

11 3

D
D
P E A R L
1 1 1 1 1 1

3
2

5
6

3
3

1
1

1
1

1
1

NPD

NPT

Urutan
prioritas

36

36

1 1

33

33

1 1

30

30

1
1

1 1
1 1

24
24

24
24

4
5

20

Nyeri kepala

Vertigo

Dispepsia

Myalgia
Dermatitis
kontak alergi
Dermatitis
kontak iritan

1 1
1 1

24

24

21

21

1 1
1 1

20

20

20

20

1 1
1 1

16

16

10

16

16

11

Prioritas pertama masalah diperoleh dengan nilai NPT tertinggi.


Berdasarkan hasil perhitungan dengan metode Hanlon kuantitatif urutan
prioritas masalahnya adalah sebagai berikut:
1. Demam berdarah
2. Hipertensi primer
3. Diare dan gastroenteritis
4. ISPA
5. Demam tanpa diketahui penyebab
6. Nyeri Kepala
7. Vertigo
8. Dispepsia
9. Mialgia
10. Dermatitis kontak alergi
11. Dermatitis kontak iritan

IV. KERANGKA KONSEPTUAL MASALAH

21

A. Dasar Teori dan Pembahasan


1. Definisi Demam Berdarah
Demam berdarah dengue (DBD) merupakan suatu penyakit
epidemik akut yang disebabkan oleh virus yang ditransmisikan oleh Aedes
aegypti dan. Aedes albopictus. Penderita yang terinfeksi akan memiliki
gejala berupa demam ringan sampai tinggi, disertai dengan sakit kepala,
nyeri pada mata, otot dan persendian, hingga perdarahan spontan (WHO,
2010). Nyamuk penular dengue ini terdapat hampir di seluruh pelosok
Indonesia, kecuali di tempat yang memiliki ketinggian lebih dari 1000
meter di atas permukaan laut. Penyakit DBD banyak dijumpai terutama di
daerah tropis. Beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya DBD
antara lain rendahnya status kekebalan kelompok masyarakat dan
kepadatan populasi nyamuk penular karena banyaknya tempat perindukan
nyamuk yang biasanya terjadi pada musim penghujan (Depkes, 2016).
Data dari seluruh dunia menjelaskan bahwa wilayah Asia
menempati urutan pertama dalam jumlah penderita DBD setiap tahunnya.
Menurut WHO, negara Indonesia ialah negara dengan kasus DBD
tertinggi di Asia Tenggara sejak tahun 1968 hingga 2009 (Ni et al., 2014).
Pada tahun 2014, sampai pertengahan bulan Desember tercatat penderita
DBD di 34 provinsi di Indonesia sebanyak 71.668 orang, dan 641
diantaranya meninggal dunia. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan
tahun sebelumnya, yakni tahun 2013 dengan jumlah penderita sebanyak
112.511 orang dan jumlah kasus meninggal sebanyak 871 penderita
(Depkes, 2016).
2. Etiologi Demam Berdarah
Penyebab dari demam berdarah sendiri adalah gigitan nyamuk
Aedes aegypti yang mengandung virus dengue. Host alami dari virus
tersebut adalah manusia, agentnya adalah virus dengue yang termasuk ke
dalam famili Flaviridae dan genus Flavivirus, terdiri dari 4 serotipe yaitu
Den-1, Den-2, Den-3 dan Den-4 yang, ditularkan ke manusia melalui
gigitan nyamuk yang terinfeksi, khususnya nyamuk Aedes aegypti dan Ae.

22

albopictus yang terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia (Candra,


2010).
Masa inkubasi virus dengue dalam manusia (inkubasi intrinsik)
berkisar antara 3 sampai 14 hari sebelum gejala muncul,gejala klinis ratarata muncul pada hari keempat sampai hari ketujuh, sedangkan masa
inkubasi ekstrinsik (di dalam tubuh nyamuk) berlangsung sekitar 8-10 hari
(Candra, 2010).
3. Patomekanisme Demam Berdarah
Nyamuk Aedes Spp yang telah terinfeksi virus dengue akan tetap
terinfeksi selama hidupnya dan akan menularkan kepada individu yang
rentan terhadap gigitan nyamuk tersebut. Setelah virus masuk ke dalam
tubuh manusia, virus dengue akan menuju organ sasaran yaitu hepar,
tepatnya pada sel-sel kupfer, endotel pembuluh darah, modus limfaticus,
sumsum tulang, dan paru-paru. Sel monosit dan makrofag memiliki peran
pada infeksi ini, dimulai dengan menempel dan masuknya genom virus ke
dalam sel dengan bantuan organel sel dan membentuk komponen perantara
dan komponen struktur virus. Antibodi DBD dibedakan berdasarkan
perannya terdiri dari antobodi netralisasi atau neutralizing antibody yang
memiliki serotipe spesifik Antibodi tersebut mampu mencegah infeksi
virus. Antibody non netralising serotype memiliki peran reaktif silang yang
dapat meningkatkan infeksi dan berperan dalam pathogenesis DBD dan
DSS. Terdapat dua teori atau hipotesis immunopatogenesis DBD dan DSS
yang masih kontroversial yaitu infeksi sekunder (secondary heterologus
infection) dan antibody dependent enhancement (ADE) (Soegijanto, 2002)
Teori atau hipotesis infeksi sekunder pada DBD menjelaskan
bahwa bila seseorang mendapatkan infeksi sekunder oleh satu serotipe
virus dengue maka akan terjadi proses kekebalan terhadap infeksi serotipe
virus dengue tersebut untuk jangka waktu yang lama. Namun apabila
orang tersebut mendapatkan infeksi sekunder oleh serotipe virus dengue
lainnya maka akan terjadi infeksi yang lebih berat. Hal ini terjadi karena
antibody heterologus yang terbentuk pada infeksi primer akan membentuk

23

kompleks dengan infeksi virus dengue serotipe baru yang berbeda, dan
tidak dapat dinetralisasi bahkan cenderung membentuk kompleks yang
infeksius dan bersifat oponisasi internalisasi. Hal ini akan menyebabkan
teraktifasinya IL-1, IL- 6, tumor necrosis factor-alpha (TNF-A) dan
platelet activating factor (PAF) (Soegijanto, 2002)
Aktifasi TNF alpha sendiri dapat menyebabkan kebocoran pada
dinding pembuluh darah, merembesnya cairan plasma ke jaringan tubuh
akibat dari kerusakan endothel pembuluh darah (Dewi et al., 2007). Hal
ini terjadi karena adanya kompleks imun yang terbentuk akan merangsang
komplemen yang farmakologisnya cepat dan pendek dan bersifat vasoaktif
dan prokoagulan sehingga menimbulkan kebocoran plasma (syock
hipolemik) dan perdarahan (gGbson, 2010). Sedangkan teori ADE
menjelaskan jika terdapat antibodi spesifik terhadap jenis virus tertentu,
maka dapat mencegah penyakit yang diakibatkan oleh virus tersebut, tetapi
sebaliknya apabila antibodinya tidak dapat menetralisasi virus, justru akan
menimbulkan penyakit yang berat.
Selain kedua teori tersebut, masih terdapat bebebrapa teori lain mengenai
patogenesis DBD, di antaranya adalah teori virulensi virus yang
didasarkan pada perbedaan serotipe virus dengue yaitu DEN 1, DEN 2,
DEN 3 dan DEN 4 yang semuanya bisa ditemukan pada kasus-kasus fatal.
Selanjutnya ada teori antigen-antibodi yang berdasarkan pada penderita
atau kejadian DBD dapat terjadi penurunan aktivitas sistem komplemen
yang ditandai dengan adanya penurunan kadar C3, C4 dan C5. Selain itu
ada teori moderator yang menyatakan bahwa makrofag yang terinfeksi
virus dengue akan melepas berbagai mediator seperti interferon, IL-1, IL6, IL-12, TNF dan yang lainnya, yang bersama endotoksin dapat
menyebabkan terjadinya syok septik, demam , dan peningkatan
permeabilitas kapiler (Candra, 2010)
Viremia pada infeksi virus DBD bisa terjadi sangat cepat, hanya
dalam beberapa hari dapat terjadi infeksi di beberapa tempat namun belum
dapat menimbulkan derajat kerusakan jaringan (tissue destruction) yang
berat untuk menyebabkan kematian. Kematian yang terjadi pada DBD

24

lebih disebabkan oleh adanya gangguan metabolik pada sistem tubuh.


Kurane dan Ennis (1994) menyatakan bahwa infeksi virus dengue akan
mengaktivasi makrofag yang memfagositosis kompleks virus-antibodi non
netralisasi sehingga virus dapat bereplikasi di makrofag. Terjadinya infeksi
makrofag oleh virus dengue menyebabkan adanya aktivasi T helper dan T
sitotoksik yang menyebabkan produksi limfokin dan interferon gamma.
Interferon gamma akan mengaktivasi monosit 15 sehingga disekresi
berbagai mediator inflamasi seperti TNF-_, IL-1, PAF (platelet activating
factor), IL-6, dan histamin yang mengakibatkan terjadinya disfungsi
endotel dan terjad kebocoran plasma. Peningkatan C3a dan C5a terjadi
melalui aktivasi kompleks virus antibodi yang juga mengakibatkan
terjadinya kebocoran plasma. Trombositopenia pada infeksi dengue terjadi
melalui mekanisme :
a. Supresi sumsum tulang
b. Destruksi dan pemendekan masa hidup trombosit.
Fase awal infeksi (<5 hari) gambaran sumsum tulang menunjukkan
adanya keadaan hiposeluler dan supresi megakariosit. Setelah keadaan
nadi

tercapai

akan

terjadi

peningkatan

hematopoiesis

termasuk

megakariopoiesis. Kadar tromobopoietin dalam darah pada saat terjadi


trombositopenia justru menunjukkan kenaikan. Hal ini menunjukkan
terjadinya stimulasi trombopoiesis sebagai mekanisme kompensasi
Candra, 2010).
4. Vektor Demam Berdarah
Nyamuk Ae. aegypti merupakan vektor utama serta yang menjadi
vektor pendamping pada penyakit DBD. Nyamuk tersebut ditemukan di
seluruh wilayah Indonesia, hidup optimal pada ketinggian di atas 1000 m
di atas permukaan laut,10. Nyamuk Aedes berasal dari Brazil dan Ethiopia,
stadium dewasa berukuran lebih kecil bila dibandingkan dengan rata-rata
nyamuk lainnya.3 Terdapat dua spesies nyamuk tersebut, yaitu Ae.aegypti
dan Ae.albopictus. Kedua spesies nyamuk tersebut termasuk ke dalam
Genus Aedes dari Famili Culicidae. Morfologis dari keduanya sangat

25

mirip, namun tetap bisat dibedakan dari strip putih yang terdapat pada
bagian skutumnya. 46 Skutum Ae. aegypti berwarna hitam dengan dua
strip putih sejajar di bagian dorsal tengah yang diapit oleh dua garis
lengkung berwarna putih. Sedangkan skutum Ae. albopictus yang juga
berwarna hitam hanya berisi satu garis putih tebal di bagian dorsalnya
(Knowton et al., 2009)
Nyamuk Aedes aegypti dewasa memiliki ukuran lebih kecil jika
dibandingkan dengan rata-rata ukuran nyamuk lainnya. Nyamuk ini
memiliki dasar hitam dengan bintik- bintik putih pada bagian badan, kaki,
dan sayapnya. Nyamuk Aedes aegypti jantan mengisap cairan tumbuhan
dari sari bunga untuk keperluan hidupnya. Sedangkan nyamuk betina
mengisap darah. Nyamuk betina biasanya mencari mangsanya pada siang
hari. Aktivitas menggigit nyamuk tersebut pada pagi (pukul 9.00-10.00)
sampai petang hari (16.00-17.00. Aedes aegypti memiliki kebiasan
mengisap darah berulang kali untuk memenuhi lambungnya dengan darah.
Hal tersebut membuat nyamuk ini sangat infektif sebagai penular penyakit.
Setelah mengisap darah, nyamuk ini hinggap untuk beristirahat di dalam
atau diluar runlah. Tempat hinggap yang digemari adalah benda-benda
yang tergantung dan biasanya ditempat yang agak gelap dan lembab.
Disini nyamuk menunggu proses pematangan telurnya. Selanjutnya
nyamuk betina akan meletakkan telurnya sedikit diatas permukaan air.
Pada umumnya telur akan menetas menjadi jentik dalam waktu 2 hari
setelah terendam air. Jentik kemudian menjadi kepompong dan akhirnya
menjadi nyamuk dewasa (Siregar, 2004).
Nyamuk Aedes aegypti dewasa bisa mendapat virus dengue
sewaktu mengigit atau mengisap darah orang yang sakit Demam Berdarah
Dengue atau tidak sakit tetapi didalam darahnya terdapat virus dengue.
Seseorang yang didalam darahnya terdapat virus dengue merupakan
sumber penularan penyakit demam berdarah. Virus dengue berada dalam
darah selama 4-7 hari mulai 1-2 hari sebelum demam.Apabila penderita
tersebut digigit nyamuk penular, maka virus dalam darah akan ikut
terhisap

masuk

kedalam

lambung

nyamuk.

Selanjutnya

virus

26

memperbanyak diri dan tersebar diberbagai jaringan tubuh nyamuk yang


salah satunya pada kelenjar liurnya. Sekitar 1 minggu setelah mengisap
darah penderita, nyamuk tersebut siap untuk menularkan kepada orang lain
(masa inkubasi ekstrinsik). Virus ini akan tetap berada dalam tubuh
nyamuk sepanjang hidupnya. Oleh karena itu, nyamuk Aedes aegypti yang
telah mengisap virus dengue menjadi penular (infektif) sepanjang
hidupnya. Penularan ini disebabkan karena setiap kali nyamuk
menusuk/mengigit,

akan mengeluarkan air liur melalui alat tusuknya

(proboscis) agar darah yang diisap tidak membeku. Bersama air liur inilah
virus dengue dipindahkan dari nyamuk ke orang lain (Siregar, 2004).
5. Faktor Risiko Demam Berdarah
Faktor resiko DBD biasanya dikaitkan dengan kepadatan penduduk
dan lingkungannya. Pertumbuhan penduduka yang cepat bisa melemahkan
pengendalian populasi yang bisa memungkinkan terjadinya KLB. Faktor
resiko lain yang berhubungan adalah kemiskinan yang mengakibatkan
sesorang tidak mampu untuk membuat rumahnya layak dan sehat, namun
tidak memungkiri bahwa DBD juga bisa menyerang penduduk yang lebih
makmur 40.
Kabupaten Banyumas sendiri merupakan salah satu daerah
endemis untuk DBD. Daerah ini memiliki kejadian yang mengalami
kenaikaina tiap tahunnya dan penyebarannya pun semakin luas. Dardjito
et al., 2008 dalam penelituiannya mencoba mengungkapkan hubungan
beberapa faktor resiko dengan terjadinya demam berdarah di wilayah
banyumas. Faktor-faktor resiko tersebut meliputi :
a.

Pemeliharaan tanaman hias


Pemeliharaan tanaman hias masih menjadi kegemaran masyarakat.
Tanaman hias yang ditempatkan pada suatu tempat yang berisi air untuk
menghiasi ruangan rumah beresiko untuk menjadi tempat berkembang
biak nyamuk
b.

Tanaman sekitar rumah


Pemeliharraan tanaman sekitar rumah masih banyak
terdapat pada daerah di Kabupaten Banyumas. Tanaman-tanaman

27

tersebut dapat menjadi tempat berkembangbiak nyamuk penular


penyakit demam berdarah dengue. Salah satu jenis tempat
perkembangbiakkan

nyamuk

Aedes

aegypti

yaitu

tempat

penampungan air alamiah seperti, lubang pohon, lubang batu,


pelepah daun, tempurung kelapa, potongan bambu dan Iain-lain.
c. Pengurasan tempat penampungan air
Depkes menyatakan bahwa tempat perkembangbiakkan
utama jentik Aedes aegypti pada tempat-tempat penampungan air
di dalam atau di luar rumah atau sekitar rumah,biasanya tidak
melebihi jarak 500 meter dari rumah. Tempat perkembangbiakkan
nyamuk ini dapat berupa genangan air yang tertampung di suatu
tempat atau bejana, karena nyamuk tidak dapat berkembangbiak di
genangan air yang langsung berhubungan dengan tanah.
d.
Kebiasaan tidur siang
Waktu nyamuk Aedes aegypti untuk menggigit lebih
banyak pada siang hari daripada malam hari, yaitu antara jam
08.00 - 12.00 dan jam 15.00- 17.00 dan aktivitas tersebut lebih
banyak dilakukan di dalam rumah dari pada di luar rumah
e. Kebiasaan gantung pakaian
Kebiasaan menggantung pakaian di dalam

rumah

meningkatkan risiko terkena penyakit DBD daripada yang


mempunyai kebiasaan tidak menggantung pakaian. Hal ini
berkaitan dengan kesenangan nyamuk terhadap gantungan pakaian
sebagai tempat tinggal.
f. Kebiasaan menggunakan obat anti nyamuk
Metode perlindungan diri yang digunakan oleh individu
atau kelompok kecil pada masyarakat untuk melindungi diri
mereka sendiri dari gigitan nyamuk adalah dengan menggunakan
obat nyamuk, dimana obat nyamuk merupakan peralatan kecil,
g.

mudah dibawa, dan sederhana dalam penggunaannya


Usia
Anak-anak kebanyakan memiliki aktivitas yang dilakukan
berada di dalam rumah, sehingga kemungkinan kontak dengan
nyamuk Aedes aegypti lebih besar dibandingkan dengan orang
dewasa muda maupun orang tua yang kebanyakan aktivitasnya di
lakukan luar rumah.

28

h. Pemeliharaan burung
Salah satu jenis tempat perkembangbiakkan nyamuk Aedes
aegypti yaitu tempat penampungan air yang bukan digunakan
untuk keperluan sehari-hari seperti: tempat minuman burung, vas
bunga tanaman bias, dan barang-barang bekas, seperti ban, kaleng,
botol dan Iain-lain
i. Pembersihan rumah
Salah satu cara mencegah perkembangbiakkan nyamuk
Aedes aegypti adalah kebersihan halaman rumah dari sisa sampah
barang-barang bekas yang dapat menjadi tempat perindukkan
nyamuk Aedes aegypti
j. Lingkungan Biologik
Lingkungan biologik yang mendukung perkembangbiakkan
nyamuk penular penyakit DBD adalah adanya tanaman hias yang
berisi air dan tanaman pekarangan/sekitar rumah di samping dapat
menampung

air

secara

alami

dapat

pula

mempengaruhi

kelembaban dan pencahayaan di dalam rumah, sehingga menjadi


tempat yang disenangi oleh nyanmk. Aedes aegypti untuk istirahat.

2. Skema Kerangka Konseptual

29

Gambar 3.1. Kerangka Konseptual


3. Hipotesis

30

1. Terdapat hubungan pemeliharaan tanaman hias dengan kejadian DBD di


wilayah kerja Puskesmas Wangon II pada bulan Januari Maret tahun
2016
2. Terdapat hubungan pemeliharaan tanaman sekitar rumah dengan kejadian
DBD di wilayah kerja Puskesmas Wangon II pada bulan Januari-Maret
tahun 2016
3. Terdapat hubungan pengurasan tempat penampungan air dengan kejadian
DBD di wilayah kerja Puskesmas Wangon II pada bulan januari-Maret
tahun 2016
4. Terdapat hubungan pemeliharaan burung dengan kejadian DBD di wilayah
kerja Puskesmas Wangon II pada bulan Januari-Maret tahun 2016
5. Terdapat hubungan pembersihan rumah dengan kejadian DBD di wilayah
kerja Puskesmas Wangon II bulan Januari-Maret pada tahun 2016
6. Terdapat hubungan kebiasaan menggantung pakaian dengan kejadian DBD
di wilayah kerja Puskesmas Wangon II pada bulan Januari-Maret tahun
2016
7. Terdapat hubungan usia penderita dengan kejadian DBD di wilayah kerja
Puskesmas Wangon II pada bulan Januari-Maret tahun 2016
8. Terdapat hubungan kebiasaan tidur siang dengan kejadian DBD di wilayah
kerja Puskesmas Wangon II pada bulan Januari-Maret tahun 2016
9. Terdapat hubungan keboasaan penggunaan obat nyamuk dengan kejadian
DBD di wilayah kerja Puskesmas Wangon II pada bulan Januari-Maret
tahun 2016

31

V. METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
Penelitian

menggunakan

studi

observasional

analitik

dengan

pendekatan case control. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor resiko
kejadian demam berdarah di wilayah kerja Puskesmas II Wangon.
B. Populasi dan Sampel
1. Populasi
a. Populasi target
Populasi target pada penelitian ini adalah semua penduduk di wilayah
kerja Puskesmas II Wangon
b. Populasi terjangkau
Populasi terjangkau pada penelitian ini adalah semua penderita demam
berdarah atau yang pernah didiagnosis demam berdarah yang tercatat
dalam data demam berdarah kader Puskesmas II Wangon pada bulan
Januari-Februari 2016.
c. Teknik pengambilan sampel
Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik
consecutive sampling.
d. Besar sampel
Jumlah sampel penelitian ini adalah 12 sampel untuk kelompok kasus
dan 12 sampel untuk kelompok kontrol.
e. Kriteria inklusi dan ekslusi
1) Kriteria inklusi kasus:
a) Warga yang sedang menderita atau pernah menderita demam
berdarah yang tercatat di dalam data demam berdarah kader
Puskesmas II Wangon sejak bulan Januari sampai Februari 2016.
b) Bersedia menjadi subyek penelitian dengan menandatangani
lembar persetujuan menjadi subyek penelitian setelah membaca
lembar informed consent.
c) Subjek penelitian adalah penderita atau anggota keluarga
penderita yang tinggal serumah dengan penderita.
2) Kriteria inklusi kontrol:

32

a) Warga yang tidak menderita atau tidak pernah menderita demam


berdarah yang tercatat di dalam data demam berdarah kader
Puskesmas II Wangon sejak bulan Januari sampai Februari 2016.
b) Bersedia menjadi subyek penelitian dengan menandatangani
lembar persetujuan menjadi subyek penelitian setelah membaca
lembar informed consent.
c) Subjek penelitian adalah warga yang bertempat tinggal disekitar
rumah penderita
3) Kriteria eksklusi
a) Penderita atau warga yang tidak bersedia menjadi responden
b) Tidak kooperatif dalam melakukan tahap wawancara dan
pengisian kuesioner.
C. Variabel Penelitian
1. Variabel Bebas
Variabel bebas pada penelitian ini adalah umur, pengurasan tempat
penampungan air, tanaman hias, tanaman disekitar rumah, kebiasaan
membersihkan rumah secara rutin, kebiasaan tidur siang, kebiasaan
menggantung pakaian dan kebiasaan menggunakan obat nyamuk. Variabel
bebas termasuk skala kategorik nominal.
2. Variabel Terikat
Variabel terikat pada penelitian ini adalah kejadian demam berdarah.
Variabel terikat termasuk skala kategorik nominal.
D. Definisi Operasional
Definisi operasional variabel dijelaskan pada Tabel

Tabel . Definisi Operasional


VARIABEL

DEFINISI OPERASIONAL

SKALA

Definisi :
Penyakit yang disebabkan oleh virus dari golongan
arbovirus yang ditandai dengan demam tinggi
mendadak tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus
menerus selama 2-7 hari, manifestasi perdarahan
(petekie, purpura, perdarahan konjungtiva, epistaksis,

Nominal

Variabel Terikat
Kejadian demam
berdarah (Depkes,
2005).

33

perdarahan mukosa, perdarahan gusi), termasuk uji


tourniquet (rumple leede) positif, trombositopeni
disertai atau tanpa pembesaran hati (hepatomegali).
Kategori :
Ya : Demam berdarah
Tidak : Tidak demam berdarah
Alat Ukur :
Kuesioner

34

Varibel Bebas
1. Faktor Perilaku
a. Kebiasaan
menggunakan
obat nyamuk

b. Kebiasaan
menguras
tempat
penampungan
air

c. Kebiasaan tidur
siang

d. Kebiasaan
menggantung
pakaian

e. Kebiasaan
membersihkan
halaman rumah
secara rutin

Definisi :
Kebiasaan responden menggunakan obat nyamuk
setiap hari
Kategori :
Ya : Menggunakan obat nyamuk setiap
Tidak : Tidak menggunakan obat nyamuk setiap hari
Alat Ukur :
Kuesiones
Definisi:
Kebiasaan responden
membersihkan atau menguras tempat penampungan air
dalam ukuran waktu 1 minggu.
Kategori :
Ya : 1 kali dalam 1 minggu
Tidak : <1 kali dalam 1 minggu
Alat ukur :
Kuesioner
Definisi :
Responden sering tidur di dalam rumah antara jam
08.00-12.00 WIB
Kategori :
Ya
Tidak
Alat Ukur :
Kuesioner
Definisi :
Kebiasaan responden menggantung pakaian di dalam
kamar atau rumah
Kategori :
Ya
Tidak
Alat ukur:
kuesioner
Definisi :
Kebiasaan responden membersihkan halaman rumah
dari barang-barang atau botol-botol yang tidak terpakai
setiap hari
Kategori :
Ya
Tidak
Alat Ukur :
Kuesioner

Nominal

Nominal

Nominal

Nominal

Nominal

2. Faktor Linkungan
a. Tanaman hias

Definisi :
Tanaman hias yang ditanam di dalam vas yang berisi
air yang berada di dalam rumah maupun di halaman
rumah responden
Kategori :
Ada
Tidak ada
Alat Ukur :

Nominal

35

Kuesioner

b. Tanaman
disekitar rumah

c. Pelihara burung

Definisi :
Tumbuhan atau pepohonan yang cukup rindang yang
tumbuh disekitar rumah responden
Kategori :
Ada
Tidak ada
Alat Ukur :
Kuesioner
Definisi :
Kategori :
Ya
Tidak
Alat Ukur :
Kuesioner

Nominal

Nominal

E. Instrumen Pengambilan Data


Sumber data pada penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.
Data primer diperoleh dari wawancara terstruktur dan observasi dengan
menggunakan kuesioner. Wawancara dan observasi dengan kuesioner
dilakukan pada rumah responden pada bulan Maret 2016. Data sekunder
berasal dari data demam berdarah kader Puskesmas II Wangon pada bulan
Januari sampai Februari 2016.

36

F. Rencana Analisis Data


Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1.

Analisis univariat digunakan untuk menggambarkan karakteristik

2.

demografi responden.
Analisis bivariat digunakan untuk mencari hubungan variabel bebas dan
variabel terikat menggunakan uji Chi Square, jika tidak memenuhi syarat

3.

uji Chi Square maka dilakukan Fisher Test sebagai alternatif.


Metode Hanlon digunakan untuk menentukan faktor risiko yang akan
dijadikan sebagai prioritas, apabila terdapat beberapa faktor risiko
(variabel bebas) yang berhubungan signifikan dengan kejadian demam
berdarah.

G. Tata Urutan Kerja


1. Tahap persiapan
a. Analisis situasi.
b. Identifikasi dan analisis penyebab masalah.
c. Pencarian responden yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi.
2. Tahap pelaksanaan
a. Mencatat dan menentukan nama responden.
b. Pengambilan data primer.
c. Menyusun alternatif pemecahan masalah sesuai hasil pengolahan data
d. Melakukan pemecahan masalah
e. Penyusunan laporan CHA
f. Tahap pengolahan dan analisis data.
g. Tahap penyusunan laporan.
H. Waktu dan Tempat
Kegiatan dilaksanakan pada:
Tanggal

: Maret 2016

Tempat

37

DAFTAR PUSTAKA

Dardjito E., Yuniarno, S., Wibowo, C., Saprasetyo, ADL., Dwiyanti H.2008.
Beberapa Faktor Resiko Yang Berpengaruh Terhadap kejadian Penyakit
Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Banyumas. Media Litbang
Kesehatan. Vol : 18 No.3
Knowlton K, Solomon G, Rotkin-Ellman M, Pitch F. Mosquito-Borne Dengue
Fever Threat Spreading in the Americas. New York: Natural Resources
Defense Council Issue Paper; 2009.
Maria, Ita., Ishak, H., Selomo, M.,2013. Faktor Resiko Kejadian Demam
Berdarah Dengue (DBD) Di Kota Makassar Tahun 2013. Bagian Kesehatan
Lingkungan. FK Hasaanudin Makassar.
Rahayu, M., Baskoro, T., Wahyudi, B.,2010. Berita Kedokteran Masyarakat :
Studi Kohort Kejadian Penyakit Demam Berdarah Dengue. Vol.26 N0.4
Sari, R.D., Ishak, H., Ibrahim, E.2013. Faktor Yang Berhubungan Dengan Tingkat
Endemisistas Demam Berdarah di Kelurahan Adatongeng Kecamatan
Turikale kabupaten Maros. Makassar. Bagian Kesehatan lingkungan.
Fakultas Kesehatan Masyarakat UNHAS.
Siregar, Faziah A. 2004. Epidemiologi dan Pemberantasan Demam Berdarah
Dengue (DBD) di Indonesia http://library.usu.ac.id/download/. (diakses
pada Maret 2016)
Soegijanto S. Patogenesa dan Perubahan Patofisiologi Infeksi Virus Dengue.
www.pediatrikcom/buletin/20060220-8ma2gi-buletindoc;

2002

[cited

2010]; Available from: www.pediatrikcom/ buletin/20060220-8ma2gibuletindoc.


Sunaryo.,

Prmastuti, N., 2014.Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional:

Surveilans Aedes aegypti di Daerah Endemis Demam Berdarah Dengue.


Vol.08, No.)8 Mei 2014

38

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
1.

Analisis Univariat
Berikut ini merupakan hasil penelitian yang telah dilakukan di
Desa Pesantren Kecamatan Tambak Kabupaten Banyumas. Penelitian ini
dilakukan bersamaan dengan Posyandu Balita Desa Pesantren dengan
jumlah balita 30 orang. Penelitian ini dengan menggunakan metode
wawancara langsung pengisian kuesioner yang dipandu langsung oleh
peneliti. Anailis univariat yang digunakan dengan menggunakan distribusi
frekuensi pada masing-masing variabel dan persentasenya. Adapun
distribusi variabel beserta persentase masing-masing kategori telah tersaji
pada tabel 8.
Tabel 8. Distribusi Frekuensi
Variabel
Jenis Kelamin
Diare
Status Gizi
Suplementasi
Vitamin A
Konsumsi Makanan
Tidak Higienis
Perilaku Ibu Pada
Penanganan Diare
PHBS Ibu
Pendapatan
Perkapita
Kondisi Rumah

Kategori
Perempuan
Laki-laki
Ya
Tidak
Tidak Baik
Baik
Tidak Baik
Baik
Sering
Tidak Sering
Tidak Baik
Baik
Tidak Baik
Baik
Rendah
Tinggi
Tidak Sehat
Sehat

Frekuensi Persentase
Total
19
63,33%
100,00%
11
36,67%
15
50,00%
100,00%
15
50,00%
11
36,67%
100,00%
19
63,33%
1
3,33%
100,00%
29
96,67%
10
33,33%
100,00%
20
66,67%
22
73,33%
100,00%
8
26,67%
13
43,33%
100,00%
17
56,67%
15
50,00%
100,00%
15
50,00%
17
56,67%
100,00%
13
43,33%

Pada tabel 8 dapat dilihat bahwa sebanyak 19 (63,33%) sampel


adalah balita perempuan, dengan 11 (36,67%) balita laki-laki. Jumlah
kasus dan kontrol pada penelitian ini seimbang dengan perbandingan 1:1.

39

2.

Analisis Bivariat
Hasil analisis bivariat antara variabel bebas (status gizi,
suplementasi vitamin A, konsumsi makanan tidak higienis, perilaku ibu
pada penanganan diare, perilaku hidup bersih dan sehat ibu, pendapatan
perkapita, serta kondisi rumah) dan variabel terikat (kejadian diare)
disajikan dalam tabel 9-15. Analisis dilakukan dengan menggunakan uji
Fisher Exact Test karena data tidak memenuhi syarat uji Chi Square yaitu
terdapat nilai expected (E) kurang dari lima.
Tabel 9. Analisis Fisher Exact Test Status Gizi dengan Kejadian Diare

Status Gizi

Tidak
Baik
Baik
Total

Diare
Ya
Tidak
9
2
(60%) (13,3%)
6
13
(40%) (86,7%)
15
15
(100%) (100%)

Total
11
(36,7%)
19
(63,3%)
30
(100%)

OR

95%CI

9,75

1,59259,695

0,021

Berdasarkan tabel 9, balita dengan status gizi tidak baik yang


mengalami diare berjumlah lebih banyak (60%) daripada yang memiliki
status gizi baik (40%). Nilai p=0,021 (p<0,05) menunjukkan hubungan
yang secara statistik signifikan, antara status gizi yang tidak baik dengan
kejadian diare pada balita di Desa Pesantren, Tambak, Banyumas. Nilai
odds ratio (OR) 9,75 (OR>1) menunjukkan bahwa status gizi yang tidak
baik merupakan faktor yang dapat meningkatkan kejadian diare sebanyak
9,75 kali lebih tinggi dibandingkan status gizi yang baik. Nilai 95% CI
tidak mencakup angka 1, sehingga status gizi yang tidak baik secara
statistik signifikan dapat meningkatkan kejadian diare.
Tabel 10. Analisis Fisher Exact Test Suplementasi Vitamin A dengan
Kejadian Diare

Suplementasi
Vitamin A

Tidak
Baik
Baik
Total

Diare
Ya
Tidak
1
0
(6,7%)
(0%)
14
15
(93,3%) (100%)
15
15
(100%) (100%)

Total
1
(3,3%)
29
(96,7%)
30
(100%)

OR

95%CI

0,483

0,3310,704

1,000

Berdasarkan tabel 10, balita dengan suplementasi vitamin A tidak


baik yang mengalami diare berjumlah lebih sedikit (6,7%) daripada yang
mendapatkan suplementasi vitamin A baik (93,3%). Nilai p=0,483

40

(p>0,05) menunjukkan hubungan yang secara statistik tidak signifikan,


antara suplementasi vitamin A tidak baik dengan kejadian diare pada
balita di Desa Pesantren, Tambak, Banyumas. Nilai odds ratio (OR)
0,483 (OR<1) dan nilai 95% CI yang mencakup angka 1 menunjukkan
bahwa suplementasi vitamin A tidak baik memiliki hubungan yang secara
statistik tidak signifikan dengan kejadian diare pada balita di Desa
Pesantren, Tambak, Banyumas.
Tabel 11. Analisis Fisher Exact Test Makanan Tidak Higienis dengan
Kejadian Diare

Makanan
Tidak
Higienis

Sering
Jarang
Total

Diare
Ya
Tidak
9
1
(60%)
(6,7%)
6
14
(40%) (93,3%)
15
15
(100%) (100%)

Total
10
(33,3%)
20
(66,7%)
30
(100%)

OR

95%CI

21

2,155204,614

0,005

Berdasarkan tabel 11, balita yang sering mengonsumsi makanan


tidak higienis yang mengalami diare berjumlah lebih banyak (60%)
daripada yang jarang mengonsumsi makanan tidak higienis (40%). Nilai
p=0,005 (p<0,05) menunjukkan hubungan yang secara statistik
signifikan, antara konsumsi makanan yang tidak higienis dengan kejadian
diare pada balita di Desa Pesantren, Tambak, Banyumas. Nilai odds ratio
(OR) 21 (OR>1) menunjukkan bahwa seringnya konsumsi makanan yang
tidak higienis merupakan faktor yang dapat meningkatkan kejadian diare
sebanyak 21 kali lebih tinggi dibandingkan balita yang jarang
mengonsumsi makanan yang tidak higienis. Nilai 95% CI tidak
mencakup angka 1, sehingga konsumsi makanan yang tidak higienis
secara statistik signifikan dapat meningkatkan kejadian diare.
Tabel 12. Analisis Fisher Exact Test Perilaku Ibu pada Penanganan
Diare dengan Kejadian Diare
Perilaku
Ibu Pada
Penanganan
Diare

Tidak
Baik
Baik
Total

Diare
Ya
Tidak
14
8
(93,3%) (53,3%)
1
7
(6,7%) (46,7%)
15
15
(100%) (100%)

Total
22
(73,3%)
8
(26,7%)
30
(100%)

OR

95%CI

12,25

1,268118,362

0,035

41

Berdasarkan tabel 12, balita dengan ibu yang memiliki perilaku


tidak baik pada penanganan diare, mengalami diare berjumlah lebih
banyak (93,3%) daripada balita dengan ibu yang perilaku penanganan
diarenya baik (6,7%). Nilai p=0,035 (p<0,05) menunjukkan hubungan
yang secara statistik signifikan, antara perilaku ibu pada penanganan
diare yang tidak baik dengan kejadian diare pada balita di Desa
Pesantren, Tambak, Banyumas. Nilai odds ratio (OR) 12,25 (OR>1)
menunjukkan bahwa perilaku ibu pada penanganan diare yang tidak baik
merupakan faktor yang dapat meningkatkan kejadian diare pada balita
sebanyak 12,25 kali lebih tinggi dibandingkan balita yang ibunya baik
dalam perilaku penanganan diare. Nilai 95% CI tidak mencakup angka 1,
sehingga perilaku ibu pada penanganan diare yang tidak baik secara
statistik signifikan dapat meningkatkan kejadian diare.
Tabel 13. Analisis Fisher Exact Test PHBS Ibu dengan Kejadian Diare
Diare
Tidak
4
9 (60%)
(26,7%)
11
6 (40%)
(73,3%
15
15
(100%) (100%)
Ya

PHBS Ibu

Tidak
Baik
Baik
Total

Total
13
(43,3%)
17
(56,7%)
30
(100%)

OR

95%CI

4,125

0,88319,273

0,139

Berdasarkan tabel 13, balita dengan PHBS ibu yang tidak baik
yang mengalami diare berjumlah lebih banyak (60%) daripada balita
dengan PHBS ibu yang baik (40%). Nilai p=0,139 (p>0,05)
menunjukkan hubungan yang secara statistik tidak signifikan, antara
PHBS ibu yang tidak baik dengan kejadian diare pada balita di Desa
Pesantren, Tambak, Banyumas. Walaupun nilai odds ratio (OR) 4,125
(OR>1) tetapi nilai 95% CI yang mencakup angka 1 menunjukkan bahwa
PHBS ibu yang tidak baik memiliki hubungan yang secara statistik tidak
signifikan dengan kejadian diare pada balita di Desa Pesantren, Tambak,
Banyumas.

42

Tabel 14. Analisis Fisher Exact Test Pendapatan Perkapita dengan


Kejadian Diare

Pendapatan
Perkapita

Rendah
Tinggi
Total

Diare
Ya
Tidak
11
4
(73,3%) (26,7%)
4
11
(26,7%) (73,3%)
15
15
(100%) (100%)

Total
15
(50%)
15
(50%)
30
(100%)

OR

95%CI

7,563

1,49938,152

0,027

Berdasarkan tabel 14, balita dari keluarga dengan pendapatan


perkapita rendah, mengalami diare berjumlah lebih banyak (73,3%)
daripada balita dari keluarga dengan pendapatan perkapita tinggi
(26,7%). Nilai p=0,027 (p<0,05) menunjukkan hubungan yang secara
statistik signifikan, antara pendapatan perkapita rendah dengan kejadian
diare pada balita di Desa Pesantren, Tambak, Banyumas. Nilai odds ratio
(OR) 7,563 (OR>1) menunjukkan bahwa pendapatan perkapita rendah
merupakan faktor yang dapat meningkatkan kejadian diare pada balita
sebanyak 7,563 kali lebih tinggi dibandingkan balita dari keluarga
dengan pendapatan perkapita tinggi. Nilai 95% CI tidak mencakup angka
1, sehingga pendapatan perkapita rendah secara statistik signifikan dapat
meningkatkan kejadian diare.
Tabel 15. Analisis Fisher Exact Test Kondisi Rumah dengan Kejadian
Diare
Diare
Tidak
11
(73,3%) 6 (40%)
4
(26,7%) 9 (60%)
15
15
(100%) (100%)
Ya

Kondisi
Rumah

Tidak
Sehat
Sehat
Total

Total
17
(56,7%)
13
(43,3%)
30
(100%)

OR

95%CI

4,125

0,88319,273

0,139

Berdasarkan tabel 15, balita dengan kondisi rumah yang tidak


sehat yang mengalami diare berjumlah lebih banyak (73,3%) daripada
balita dengan kondisi rumah yang sehat (26,7%). Nilai p=0,139 (p>0,05)
menunjukkan hubungan yang secara statistik tidak signifikan, antara
kondisi rumah yang tidak sehat dengan kejadian diare pada balita di Desa
Pesantren, Tambak, Banyumas. Walaupun nilai odds ratio (OR) 4,125

43

(OR>1) tetapi nilai 95% CI yang mencakup angka 1 menunjukkan bahwa


kondisi rumah yang tidak sehat memiliki hubungan yang secara statistik
tidak signifikan dengan kejadian diare pada balita di Desa Pesantren,
Tambak, Banyumas.

B. Pembahasan
Penelitian ini meneliti mengenai identifikasi faktor resiko diare di Desa
Pesantren Kecamatan Tambak Kabupaten Banyumas. Hipotesis yang peneliti
ajukan yaitu terdapat keterkaitan faktor resiko yang teridentifikasi dengan
kejadian diare pada balita di Desa Pesantren Kecamatan Tambak. Responden
dikelompokkan ke dalam kelompok kasus dan kelompok kontrol. Responden
yang termasuk ke dalam kelompok kasus adalah balita yang menderita diare
selama tiga bulan terakhir sebanyak 50% dari keseluruhan total responden,
sementara responden yang termasuk ke dalam kelompok kontrol adalah balita
yang tidak menderita diare selama tiga bulan terakhir sebanyak 50% dari
keseluruhan total responden.
Balita merupakan kelompok usia yang mudah terkena diare. Sebagian
besar diare terjadi pada anak usia di bawah dua tahun. Balita yang berusia 12
24 bulan mempunyai risiko terjadi diare sebanyak 2,23 kali lebih besar
dibandingkan anak usia 25 59 bulan. Hal ini sesuai dengan studi
epidemiologi yang dilakukan oleh Yusuf (2011) yang menyatakan bahwa angka
kesakitan diare pada anak paling banyak terjadi pada rentang usia 1 bulan
sampai dengan kurang dari dua tahun, yakni sebanyak 73,1%. Umur ada
kaitannya dengan daya tahan tubuh. Pada umumnya daya tahan tubuh dewasa
jauh lebih tinggi dari pada daya tahan tubuh bayi dan anak. Angka kesakitan
pada bayi dan anak berhubungan dengan daya tahan tubuhnya sehingga anak
dan terutama bayi memiliki risiko yang lebih besar untuk menderita diare dan
dehidrasi dibandingkan orang dewasa (Jannah, 2005).
Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna
antara status gizi dengan kejadian diare. Hal ini sejalan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Atussoleha (2012) yang menyatakan bahwa 78,6% pasien

44

dengan status gizi kurang mengalami diare. Bayi dan balita yang mengalami
gizi kurang lebih mudah terjangkit penyakit dibandingkan dengan balita
dengan gizi baik. Keadaan gizi kurang dapat menyebabkan peningkatan
beratnya penyakit, lama, serta risiko kematian terutama pada penderita gizi
buruk (Depkes RI, 2007). Semakin buruk gizi anak, maka akan semakinsering
frekuensi diare ynag dialami. Mortalitas bayi umumnya kecil di negara yang
memiliki prevalensi Kurang Energi Protein (KEP) yang rendah.
Menurut Depkes RI, faktor yang menyebabkan diare pada anak
malnutrisi adalah atrofi vilus usus halus, atrofi pankreas, penurunan daya tahan
tubuh, dan gangguan absorpsi makanan (Palupi et al, 2009). Keadaan
malnutrisi dapat menimbulkan efek buruk terhadap struktur usus halus dan
atrofi mukosa. Selain itu juga terdapat penurunan mitosis serta infiltrasi
limfosit serta sel plasma dalam mukosa dan submukosa usus. Perubahanperubahan strukturan dan fungsional tersebut disertai dengan penurunan
produksi enzim pankreas yang dapat mempengaruhi absorpsi makanan dan
berakhir dengan kejadian diare (Palupi, 2009).
Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna
antara konsumsi makanan tidak higienis dengan kejadian diare. Hal ini sesuai
dengan penelitian yang dilakukan oleh Ayuningtyas (2012) yang menyatakan
bahwa angka kejadian diare berkaitan dengan frekuensi mengkonsumsi
makanan yang tidak higienis terutama jajanan yang biasa dikonsumsi anakanak. Salah satu jenis bakteri yang banyak ditemui pada jajanan anak-anak
adalah bakteri E. coli.

Keberadaan bakteri E.coli dalam makanan

mengindikasikan bahwa makanan tersebut sudah terkontaminasi feses atau


dalam kata lain makanan tersebut tidak higienis (Maradona, 2011).
Bakteri E. coli yang mampu menyebabkan diare diantaranya adalah
Enteropathogenic E. coli (EPEC) yang lebih banyak menyerang bayi,
Enterotoxigenic E. coli (ETEC), Enterohemorrhagic E. coli (EHEC),
Enteroinvasive E. coli (EIEC), dan Enteroagregative E. coli (EGEC). Semua
jenis bakteri tersebut mampu merusak dinding usus dengan atau tanpa melalui

45

toksin. Infeksi oleh bakteri E. coli ini lebih sering terjadi di negara berkembang
(Jawetz et al, 2005).
Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna
antara perilaku ibu pada penanganan diare dengan kejadian diare pada balita.
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Purbasari (2009) yang
menyatakan bahwa perilaku ibu dalam penanganan diare berhubungan dengan
angka kejadian diare. Perilaku penanganan diare yang dinilai adalah tandatanda dehidrasi, minum air, oralit, dan konsumsi pemberian suplemen zinc.
Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna
antara pendapatan per kapita Menurut Sajogyo (1994), pendapatan seseorang
sangat menentukan dalam pemilihan pangan yang akan dikonsumsi. Dengan
pendapatan tinggi maka kemampuan untuk membeli bahan pangan akan
semakin beragam pula. Sedangkan Berg (1986) menyatakan bahwa pendapatan
merupakan faktor yang menentukan kualitas dan kuantitas makanan yang
dikonsumsi.
C. Prioritas Permasalahan
Berikut merupakan prioritas permasalahan dari empat variabel yang
memiliki hubungan signifikan dengan kejadian diare di Desa Pesantren,
Tambak, Banyumas. Prioritas masalah yang akan dipecahkan dalam
Community Health Analysis ini dilakukan menggunakan metode Hanlon seperti
yang tercantum dalam tabel 16.
Tabel 16. Prioritas permasalahan yang akan dipecahkan menggunakan metode
Hanlon
Masalah
1. Status gizi
yang tidak
baik
2. Makanan
yang tidak
higienis
3. Perilaku ibu
pada
penanganan
diare yang
tidak baik
4. Pendapatan
perkapita
yang rendah

D
A

10

NPD

NPT

Urutan
prioritas

22

24

24

70

70

22

46

Berdasarkan metode Hanlon pada tabel 16, didapatkan bahwa prioritas


permasalahan yang akan dipecahkan adalah perilaku ibu pada penanganan
diare yang tidak baik

47

VII. ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH


A. Penyusunan Alternatif Pemecahan Masalah
Berdasarkan penjelasan di atas, faktor resiko yang berpengaruh terhadap
kejadian diare di masyarakat Desa Pesantren Kecamatan Tambak Kabupaten
Banyumas adalah status gizi yang buruk, kebiasaan mengkonsumsi makanan
yang tidak higienis, perilaku penanganan diare yang kurang baik, dan
pendapatan per kapita yang rendah. Berdasarkan metode Hanlon, faktor risiko
yang paling berpengaruh adalah perilaku penangan diare yang kurang baik.
Pemecahan masalah yang terkait perilaku penangan diare yang kurang baik
dengan diare maka dapat dibuat beberapa alternatif. Metode yang digunakan
adalah metode Rinke. Metode ini menggunakan dua kriteria yaitu efektifitas
dan efisiensi jalan keluar.
Efektifitas jalan keluar meliputi besarnya masalah yang dapat diatasi,
pentingnya jalan keluar, sedangkan efisiensi jalan keluar dikaitkan dengan
biaya yang diperlukan untuk melakukan jalan keluar.
1) Kriteria efektifitas jalan keluar
a. M (besarnya masalah yang dapat diatasi) :
1.
Masalah yang dapat diatasi sangat kecil
2.
Masalah yang dapat diatasi kecil
3.
Masalah yang dapat diatasi cukup besar
4.
Masalah yang diatasi besar
5.
Masalah yang diatasi dapat sangat besar
b. I (pentingnya jalan keluar yang dikaitkan dengan kelanggengan
selesainya masalah):
1. Sangat tidak langgeng
2. Tidak langgeng
3. Cukup langgeng
4. Langgeng
5. Sangat langgeng

48

c.

V (sensitivitas jalan keluar yang dikaitkan dengan kecepatan

penyelesaian masalah):
1. Penyelesaian masalah sangat lambat
2. Penyelesaian masalah lambat
3. Penyelesaian cukup cepat
4. Penyelesaian masalah cepat
5. Penyelesaian masalah sangat cepat
2) Kriteria efisiensi jalan keluar (yang dikaitkan dengan biaya yang
dikeluarkan dalam menyelesaikan masalah)
1. Biaya sangat mahal
2. Biaya mahal
3. Biaya cukup mahal
4. Biaya murah
5. Biaya sangat murah
Beberapa alternatif pemecahan masalah yang bisa dilakukan diantaranya
adalah penyuluhan mengenai penangan diare terhadap diare atau penyebaran
pamfet dan poster mengenai penanganan diare. Pemberian leaflet dan poster
dirasa kurang efektif oleh karena tidak adanya penjelasan khusus mengenai
apa yang tercantum di dalam leaflet, sehingga dikhawatirkan masyarakat
tidak memahami penuh apa yang dicantumkan di dalam leaflet atau poster.
Sementara itu, penyuluhan mampu memberikan pemahaman yang lebih baik
jika dibandingkan dengan hanya sekedar membagikan poster. Hal inilah yang
membutan alternatif pemecahan masalah berupa penyuluhan dinilai lebih
efisien dibandingkan dengan hanya membagikan leaflet. Sasaran penyuluhan
yang dipilih bisa ibu-ibu di Desa pesantren langsung ataupun kader kesehatan
di Desa Pesantren. Sasaran kader kesehatan dinilai lebih baik oleh karena
selain mampu memberikan keberlangsungan yang lebih lama dan lebih
mudah diterima masyarakat, kader kesehatan juga lebih mudah dijangkau dan
dinilai lebih efektif serta efisien jika dibandingkan dengan menjadikan ibuibu secara langsung sebagai sasaran. Dengan pemberian penyuluhan terhadap
kader ini diharapkan para kader mampu memberikan apa yang telah
didapatkan dalam penyuluhan secara lebih luwes kepada ibu-ibu di Desa
pesantren serta bisa ikut mengawasi dan menilai perilaku ibu dalam
penanganan diare. Prioritas pemecahan masalah dengan menggunakan
metode Rinke untuk masalah perilaku ibu dalam penanganan diare di Desa
Pesantren Kecamatan Tambak adalah sebagai berikut :
Tabel 10. Prioritas Pemecahan Masalah dengan Metode Rinke

49

Penyuluhan
kepada
ibu
mengenai penanganan diare
yang dapat dilakukan ibu

12

Urutan
Prioritas
Pemecahan
Masalah
2

Penyuluhan kepada kader


mengenai penanganan diare
yang dapat dilakukan ibu
Penyebaran leaflet dan poster
mengenai penanganan diare

16

12

No

Daftar Alternatif Jalan


Keluar

Efektivitas
I
V

Efisiensi
(C)

MxIxV/C

Berdasarkan hasil perhitungan prioritas pemecahan masalah menggunakan


metode Rinke, maka didapat satu prioritas pemecahan masalah, yaitu
melakukan penyuluhan kepada kader mengenai penanganan diare yang dapat
dilakukan ibu .

50

VIII. RENCANA KEGIATAN


A. Latar Belakang
Diare merupakan penyakit infeksi saluran cerna yang masih menjadi
masalah utama di negara maju maupun negara berkembang. Setiap anak di
bawah usia lima tahun di negara berkembang akan memgalami episode diare
kurang lebih tiga sampai empat kali pertahun. Setiap balita di Indonesia akan
mengalami episode diare kurang lebih 1,6 2 kali pertahun. Sampai saat ini,
penyakit diare merupakan penyebab kematian utama balita di dunia
(Kemenkes RI, 2014; WHO, 2009).
Kejadian Luar Biasa (KLB) diare terjadi di Indonesia pada tahun 2013
sebanyak 646 kasus. Jumlah kasus terbanyak terjadi di Provinsi Jawa Tengah
yang mencapai 294 kasus. Pada tahun 2013, angka kematian karena diare di
Indonesia adalah sebesar 1,08%. Angka ini masih jauh dari harapan yaitu
sebesar <1% (Kemenkes RI, 2014). Kejadian diare di Desa Pesantren,
Kecamatan Tambak memiliki beberapa faktor risiko yang memiliki hubungan
signifikan dengan kejadian diare, yaitu status gizi yang tidak baik, seringnya
konsumsi makanan tidak higienis, perilaku ibu pada penanganan diare, dan
rendahnya status ekonomi yang dilihat melalui pendapatan perkapita.
Praktik keluarga dalam pengobatan diare yang sesuai kebijakan
pemerintah

dinilai

masih

rendah.

Berdasarkan

survei

Indonesian

Demographic Health Survey (IDHS) tahun 2007, masih banyak bayi di bawah
enam bulan yang menderita diare tidak mendapatkan pengobatan apapun.
Hanya 15% 24% dari balita penderita diare yang mendapatkan pengobatan
cairan yang baik. Semantara itu, jumlah balita penderita diare yang
mendapatkan makanan hanya sebanyak 44% 48% (Kemenkes RI, 2011).
Berdasarkan fakta bahwa kejadian diare merupakan masalah yang belum bisa
ditangani dengan baik, diperlukan intervensi terhadap angka kejadian diare di
Desa Pesantren Kecamatan Tambak secara efektif dan efisien melalui
perantara kader posyandu. Perilaku ibu pada penanganan diare merupakan
faktor risiko yang signifikan secara statistik berhubungan dengan kejadian
diare. Perilaku ibu tersebut erat kaitannya dengan pengetahuan ibu mengenai
penanganan diare.

51

Pengetahuan ibu dapat ditingkatkan melalui edukasi. Edukasi secara


terus menerus dapat dilakukan oleh bagian dari masyarakat tempat ibu tinggal,
yaitu kader posyandu. Selain merupakan bagian dari masyarakat yang mudah
dijangkau oleh tenaga kesehatan, kader posyandu juga merupakan pihak yang
sering bertemu dengan ibu-ibu di desa oleh karena adanya program posyandu
rutin setiap bulan. Diharapkan, dengan memberi informasi dan edukasi
melalui penyuluhan terhadap kader posyandu, mereka dapat informasi secara
jelas kepada ibu yang tinggal di wilayah kerja masing-masing posyandu.
Dengan demikian, pengetahuan ibu posyandu dapat meningkat yang
berdampak pada peningkatan perilaku ibu pada penanganan diare.
B. Tujuan
1. Umum
Menekan angka kejadian atau kekambuhan diare pada balita di Desa
Pesantren Kecamatan Tambak.
2. Khusus
Meningkatkan kemampuan ibu balita dalam menangani diare secara
adekuat di kemudian hari melalui penyuluhan kader posyandu di Desa
Pesantren Kecamatan Tambak.
C. Bentuk Kegiatan
Kegiatan yang akan dilaksanakan disajikan dalam bentuk penyuluhan
tentang penyakit diare terutama langkah penanganan diare yang dapat
dilakukan ibu balita kepada para Kader Posyandu Desa Pesantren, Kecamatan
Tambak, Kabupaten Banyumas.
D. Sasaran
Dua puluh orang kader Posyandu Desa Pesantren Kecamatan Tambak
Kabupaten Banyumas.

52

E. Pelaksanaan
1. Personil
a) Kepala Puskesmas
b) Pembimbing
c) Pelaksana

: dr. Harry Widyatomo


: Apriliani Dewi K., Amd.Keb
: Raditya Bagas Wicaksono
Annisa Farah Fadhilah
2. Waktu dan Tempat Penyuluhan:
a) Hari
: Senin
b) Tanggal
: 28 September 2015
c) Tempat
: Balai Desa Pesantren, Tambak, Banyumas
d) Waktu
: 09.00 WIB 11.00 WIB

F. Rencana Anggaran
Konsumsi

: 20 x Rp5.000,00

Total

: Rp100.000,00

= Rp100.000,00

G. Rencana Evaluasi Program


1. Input
a. Sasaran : 80% dari keseluruhan kader posyandu di Desa Pesantren
Kecamatan Tambak.
b. Sumber Daya : ruangan, proyektor, konsumsi, alat tulis, pemateri,
materi yang diberikan, leaflet materi.
2. Proses
a. Keberlangsungan acara
Evaluasi keberlangsungan acara meliputi kehadiran para
pengisi acara yaitu pemberi sambutan dan pemateri, pelaksanaan
kegiatan, serta antusiasme peserta yang dinilai dari partisipasi aktif
peserta untuk bertanya. Materi disampaikan dalam bentuk
presentasi yang meliputi definisi diare, etiologi, faktor risiko dan
sumber penularan, penanganan diare di rumah, penanganan diare di
pelayanan kesehatan, kapan ibu harus membawa anak ke fasilitas
pelayanan kesehatan, serta apa saja yang perlu dimonitoring setelah
anak diberikan penanganan disertai video edukatif.
b. Jadwal pelaksanaan kegiatan
Evaluasi jadwal pelaksanaan kegiatan dinilai dari ketepatan
tanggal, waktu, serta alokasi waktu pada saat berlangsungnya

53

acara. Kegiatan direncanakan berlangsung pada hari Senin, 28


September 2015 pukul 09.00 WIB di Balai Desa Pesantren
Kecamatan Tambak, Banyumas. Adapun alokasi waktu serta
rincian kegiatan yang akan dilakukan dicantumkan dalam Tabel
11.
Tabel 11. Jadwal Kegiatan
Jam
09.00 09.05
09.05 09.10
09.10 09.15
09.15 09.25
09.25 09.35
09.35 10.05
10.05 10.35
10.35 10.55
10.55 11.05
11.05 11.10

Alokasi
5 menit
5 menit
5 menit
10 menit
10 menit
30 menit
30 menit
20 menit
10 menit
5 menit

Kegiatan
Registrasi
Pembukaan
Sambutan Perwakilan Puskesmas
Sambutan Kepala Desa Pesantren
Pretest
Penyampaian materi diare
Penyampaian materi ISPA
Sesi Diskusi
Posttest
Penutupan

3. Output
Rerata nilai post-test kader posyandu di Desa Pesantren Kecamatan
Tambak setelah mengikuti penyuluhan adalah minimal 80 dari skala
100.

54

IX. Pelaksanaan dan Evaluasi Program

A. Pelaksanaan
Setelah dilakukan penyuluhan, diharapkan kader kesehatan dapat
membantu mengatasi masalah-masalah yang berhubungan dengan diare di
Desa Pesantren. Pelaksanaan kegiatan penyuluhan dilaksanakan melalui 3
tahap, yaitu:
1.

Tahap Persiapan
a.

Perizinan
Perizinan diajukan dalam bentuk lisan oleh dokter muda kepada
Kepala Puskesmas II Tambak, Preseptor Lapangan, Bidan Desa,
serta Kepala Desa Pesantren.

b.

Materi
Materi yang disiapkan adalah materi penyuluhan tentang penanganan
diare yang bisa dilakukan ibu di rumah dalam bentuk power point
dan video edukatif.

b. Sarana
Sarana yang digunakan yaitu ruangan balai desa, proyektor, sound
system, leaflet mengenai diare, dan laptop.
2.

Tahap Pelaksanaan
a.

Judul Kegiatan
Penyuluhan Mengenai Perilaku Ibu pada Penanganan Diare

b.

Waktu
Senin, 28 September 2015 jam 09.45

c.

Tempat
Balai Desa Pesantren Kecamatan Tambak

d.

Penanggung Jawab
1) dr. Nendyah Roesti, Msi selaku pembimbing fakultas
2) dr. Harry Widyatomi selaku Kepala Puskesmas II Tambak,
sekaligus sebagai pembimbing lapangan
3) Apriliani Dewi K., Amd.Keb selaku bidan desa.
4) Pelaksana Raditya Bagas Wicaksono dan Annisa Farah Fadhilah
5) Peserta kader posyandu desa Pesantren Kecamatan Tambak

55

6) Penyampaian Materi
Penyuluhan materi diare diberikan pada kader posyandu Desa
Pesantren Kecamatan Tambak, yang mencakup definisi diare,
etiologi, faktor risiko dan sumber penularan, penanganan diare di
rumah, penanganan diare di pelayanan kesehatan, kapan ibu harus
membawa anak ke fasilitas pelayanan kesehatan, serta apa saja
yang perlu dimonitoring setelah anak diberikan penanganan
disertai video edukatif.
B.

Evaluasi
1. Input
a.

Sasaran
Sebanyak 17 kader posyandu hadir dalam kegiatan penyuluhan. Maka
target penyuluhan terpenuhi, yaitu minimal 16 orang (80%) dari
keseluruhan kader posyandu di Desa Pesantren Kecamatan Tambak
yang menghadiri penyuluhan. Sasaran yang mengikuti kegiatan
penyuluhan terlihat antusias dalam mengikuti kegiatan. Hal ini dapat
dilihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh sasaran serta
sasaran yang ikut berinteraksi aktif menjawab pertanyaan-pertanyaan
yang disampaikan oleh pemateri.

b.

Sumber Daya
Ruangan dan proyektor telah disediakan dan disiapkan oleh
pemerintah Desa Pesantren. Konsumsi sebanyak 20 buah didapatkan
dari hasil iuran pelaksana kegiatan. Lembar jawab pretest dan postest
disediakan oleh pelaksana kegiatan, sedangkan alat tulis disediakan
oleh masing-masing peserta. Pemateri yaitu Annisa Farah Fadhilah
menyampaikan materi yang berisi definisi diare, etiologi, faktor risiko
dan sumber penularan, penanganan diare di rumah, serta kapan ibu
harus membawa anak ke fasilitas pelayanan kesehatan. Pelaksana
kegiatan juga memberikan leaflet ringkasan materi yang dicetak
menggunakan printer pribadi. Sumber pembiayaan yang digunakan
cukup untuk menunjang terlaksananya kegiatan. Anggaran yang

56

dihabiskan adalah sejumlah Rp. 100.000,00 yang digunakan untuk


konsumsi peserta.
2.

Proses
a. Keberlangsungan acara
Acara diselenggarakan di Aula Balai Desa Pesantren dan
berlangsung kondusif. Semua pengisi acara, baik pemberi
sambutan dari perwakilan puskesmas yang diwakili dr. Agus
Suyudi maupun kepala Desa Pesantren beserta pemateri datang
menghadiri dan mengisi acara. Semua rangkaian kegiatan
terlaksana dengan baik dan antusiasme peserta baik dibuktikan
dengan jumlah pertanyaan yang diajukan peserta ada sebanyak
tujuh pertanyaan mengenai diare. Materi disampaikan dengan
metode presentasi yang meliputi definisi diare, etiologi, faktor
risiko dan sumber penularan, penanganan diare di rumah,
penanganan diare di pelayanan kesehatan, kapan ibu harus
membawa anak ke fasilitas pelayanan kesehatan, serta apa saja
yang perlu dimonitoring setelah anak diberikan penanganan
disertai video edukatif.
b. Jadwal pelaksanaan kegiatan
Kegiatan berhasil dilaksanakan pada hari Senin, 28 September
2015. Acara dimulai pukul 09.45, mundur empat puluh lima menit
dari rencana awal karena peserta baru dapat berkumpul pada jam
tersebut. Acara berlangsung selama 135 menit atau lebih 5 menit
jika dibandingkan dengan alokasi waktu yang telah direncanakan
dan berakhir pada pukul 12.00. Semua rangkaian acara terlaksana
dan sesuai dengan alokasi waktu yang telah direncanakan.

3.

Output
Rerata nilai post-test kader posyandu di Desa Pesantren Kecamatan
Tambak setelah mengikuti penyuluhan adalah 82,50 sehingga
memenuhi batas minimal 80 dari skala 100. Hal ini menunjukkan
peningkatan sebanyak 39,5% dibandingkan rerata nilai pre-test yaitu
50,59 dari skala 100.

57

X. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1.

Hasil analisis kesehatan komunitas (Community Health Analysis) di Desa


Pesantren wilayah kerja Puskesmas II Tambak Kabupaten Banyumas
menunjukkan bahwa diare menjadi prioritas masalah yang diambil.

2.

Faktor risiko yang berhubungan signifikan secara statistik dengan


kejadian diare di Desa Pesantren, Kecamatan Tambak adalah status gizi
yang tidak baik, seringnya konsumsi makanan yang tidak higienis,
perilaku ibu pada penanganan diare yang tidak baik, serta status ekonomi
yang rendah. Adapun permasalahan yang diangkat untuk dilakukan
intervensi adalah perilaku ibu pada penanganan diare yang tidak baik.

3.

Alternatif

pemecahan

masalah

yang

dipilih

adalah

melakukan

penyuluhan mengenai penanganan diare kepada kader posyandu di Desa


Pesantren, Kecamatan Tambak.
4.

Penyuluhan berjalan lancar pada hari Senin, 28 September 2015 pukul


09.45-12.00 dan memenuhi target yaitu minimal 80% kader posyandu
hadir serta nilai postest mencapai 82,50 dengan kenaikan sebesar 39,5%

B. Saran
1.

Perlu dilakukan survey lanjutan mengenai perilaku ibu pada penanganan


diare dalam 3-4 bulan kedepan untuk melihat apakah kader posyandu
berhasil menjelaskan kepada ibu balita di desa Pesantren, Tambak.

2.

Perlu dilakukan evaluasi mengenai prevalensi diare di desa Pesantren,


Tambak 3-4 bulan kedepan.

58

DAFTAR PUSTAKA
Alboneh, F. A. 2013. Hubungan Status Gizi dengan Kejadian Diare pada Balita
Usia 2 5 tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Karanganyar
Kabupaten Karanganyar. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Solo. (Tidak dipublikasikan)
Atussoleha, M. I. 2012. Hubungan Antara Status Gizi, ASI Eksklusif, dan Faktor
Lain Terhadap Frekuensi Diare pada Anak Usia 10 23 Bulan di
Puskesmas Tugu, Depok Tahun 2012. Skripsi. Universitas Indonesia.
Depok. (Tidak Dipublikasikan)
Ayuningtyas, N. V. 2012. Hubungan Frekuensi Jajan Anak dengan Kejadian Diare
Akut pada Anak Sekolah Dasar di SDN Sukatani 4 dan SDN Sukatani 7,
Kelurahan Sukatani, Depok Tahun 2012. Skripsi. Universitas Indonesia.
Depok. (Tidak Dipublikasikan).
Devi, N. 2012. Gizi Anak Sekolah. Jakarta : PT. Kompas Media Nusantara
Direktorat Bina Gizi Masyarakat. 2009. Panduan Manajemen Suplementasi
Vitamin A. Jakarta : Departemen Kesehatan.
Depkes RI. 2007. Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare. Jakarta : Direktorat
Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan
Pemukiman Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Fatmasari, H. 2008. Hubungan Beberapa Faktor Resiko dengan Kejadian Diare
pada Anak Balita di Ruang Rawat Inap Puskesmas Kecamatan Jatibarang
Kabupaten Brebes Tahun 2008. Skripsi. Universitas Muhammadiyah
Semarang. Semarang. (Tidak Dipublikasikan).
Fatmawati, A. 2008. Hubungan antara Sanitasi Rumah dengan Kejadian Diare di
Desa Singosari Kecamatan Mojosongo Kabupaten Boyolali Tahun 2008.
Skripsi. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Solo. (Tidak
Dipublikasikan)
Fitri, C. N. 2009. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kebiasaan Konsumsi
Makanan Jajanan pada Siswa Sekolah Dasar di SDN Rawamangun 01
Pagi Jakarta Timur Tahun 2012. Skripsi. Universitas Indonesia. Jakarta.
(Tidak Dipublikasikan)
Jannah, R. Gambaran Penderita Diare Serta Karakteristik yang Berobat pada
Bulan Juli di Puskesmas Peusangan Kabupaten Bireun Tahun 2005.
Skripsi. Universitas Muhammadiyah Aceh. Aceh. (Tidak Dipublikasikan)
Jawetz, et al. 2005. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta : EGC.
Juckett G and Trivedi R. 2011. Evaluation of Chronic Diarrhea. American
Academy of Family Physicians; 84(10):1119-1126

59

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011. Pengandalian Diare di


Indonesia. Subdit Pengendalian Diare dan Infeksi Saluran Pencernaan.
Marpaung, M. 2010. Uji Klinis Manfaat Vitamin A dalam Pengobatan Diare Akut
pada Anak. Skripsi. Universitas Sumatera Utara. Medan. (Tidak
Dipublikasikan)
Palupi, A., Hadi, H., Soenarto, S. S. 2009. Status Gizi dan Hubungannya dengan
Kejadian Diare pada Anak Diare Akut di Ruang Rawat Inap RSUP Dr.
Sardjito Yogyakarta. Jurnal Gizi Klinik Indonesia 6 (1) : 1 7.
Purbasari, E. 2009. Tingkat Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Ibu dalam
Penanganan Awal Diare pada Balita di Puskesmas Kecamatan Ciputat,
Tangerang Selatan, Banten pada Bulan September Tahun 2009. Skripsi.
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Jakarta. (Tidak
Dipublikasikan)
Qauliyah, A. 2010. Artikel Kedokteran : Patofisiologi, Gejala Klinik, dan
Penatalaksanaan
Diare.
Dapat
diunduh
di
:
http://astaqauliyah.com/2010/06/artikel-kedokteran-patofisiologi-gejalaklinik-dan-penatalaksanaan-diare/ (Diakses pada Tanggal 9 September
2015)
Sari, S. A. P. 2012. Hubungan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Ibu
dengan Kejadian Diare pada Bayi Usia 1 12 Bulan di Kelurahan
Antirogo Kabupaten Jember. Skripsi. Universitas Jember. Jember. (Tidak
Dipublikasikan)
Siburian, S. H. 2010. Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Kepala Keluarga Tentang
Sanitasi Dasar dan Rumah Sehat di Wilayah Perimeter Pelabuhan Teluk
Nimbung Tanjungbalai Tahun 2010. Skripsi. Universitas Sumatera Utara.
Medan. (Tidak Dipublikasikan)
Thomas PD, Forbes A, Green J, Howdle P, Long R, et al. 2003. Guidelines for the
investigation of chronic diarrhoea, 2nd edition. Gut; 52(Suppl V):v1v15
World Health Organization (WHO). 2009. Diarrhoea: Why Children Are Still
Dying And What Can Be Done .World Health Organization (WHO).
Available
from
http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/44174/1/9789241598415_eng.pd
f (diakses pada tanggal 9 September 2015)
World Health Organization. 2005. The Treatment of Diarrhea : A Manual for
Physicians and Other Senior Health Workers 4th Review. Geneva : Who
Library Cataloguing.
World Health Organization. 2007. The Treatment of Diarrhea : A Manual for
Physicians and Other Senior Health Workers 4th Review. Geneva : Who
Library Cataloguing.
Wulandari, A. P. 2009. Hubungan Antara Faktor Lingkungan dan Faktor
Sosiodemorafi dengan Kejadian Diare pada Balita di Desa Blimbing

60

Kecamatan Sambirejo Kabupaten Sragen Tahun 2009. Skripsi.


Universitas Muhammadiyah Surakarta. Solo. (Tidak Dipublikasikan)
Yusuf, S. 2011. Profil Diare di Ruang Rawat Inap Anak. Sari Pediatri 13 (4) : 265
270

61

Lampiran 1. Dokumentasi

Gambar 1. Kader Kesehatan Desa Pesantren

Gambar 2. Sambutan

Gambar 3. Pretest

Gambar 4. Penyuluhan Diare

Gambar 5. Sesi Diskusi

Gambar 6. Postest

62

Lampiran 2. Kuesioner Penelitian

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
PURWOKERTO
Kampus RSUD Prof. dr. Margono Soekardjo
Jl. dr. Gumbreg No.1 Purwokerto

Informed Consent

Kami mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman


Purwokerto, saat ini sedang malakukan penelitian dengan judul Faktor Risiko
yang Mempengaruhi Kejadian Diare pada Balita di Desa Pesantren, Kecamatan
Tambak. Penelitian ini diselenggarakan dalam rangka pelaksanaan Community
Health Analysis pada Kepaniteraan Ilmu Kedokteran Komunitas dan Ilmu
Kesehatan
Masyarakat
Fakultas
Kedokteran
Universitas
Jenderal
Soedirman.Kesediaan anda sangat berarti dalam penyusunan penelitian ini. Atas
kesediaan anda dan anak anda menjadi responden, kami ucapkan terimakasih.

Tambak, September 2015


Tim Peneliti
Raditya Bagas Wicaksono, Annisa Farah Fadhilah

63

Lembar Persetujuan Partisipasi dalam Penelitian

Setelah membaca surat pemberitahuan dan mendengar penjelasan


sebelumnya, maka saya yang bertandatangan di bawah ini:
Nama

Usia

Alamat

Secara sukarela bersedia berpartisipasi dalam penelitian Faktor Risiko


yang Mempengaruhi Kejadian Diare pada Balita di Desa Pesantren, Kecamatan
Tambak.

Tambak, September 2015

Responden

64

KUESIONER ANALISIS FAKTOR RISIKO DIARE PADA BALITA


DESA PESANTREN PUSKESMAS II TAMBAK
KABUPATEN BANYUMAS
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

IDENTITAS
Nama anak balita
Jenis Kelamin

1.A. Laki-laki
2.B. Perempuan

VARIABEL BEBAS
Kejadian Diare
Apakah anak Ibu pernah mengalami
buang air besar cair atau lembek
1.A. Ya
dengan frekuensi lebih dari tiga kali
2.B. Tidak
dalam sehari selama tiga bulan
terakhir?
3.VARIABEL TERIKAT
4.1. FAKTOR ANAK
a. Status Gizi Anak
(gram)

Berat badan saat ini


/

Tanggal lahir

/
tahun

Umur

bulan

(cm)

Panjang badan saat ini


Weight to Height Z-Score

SD

Kategori

a. Status Gizi Baik


b. Status Gizi Tidak Baik

b. Riwayat Suplementasi Vitamin A


Sudah berapa kali anak
mendapatkan vitamin A pada tahun
ini?

Usia 0 11 bulan
a. Satu kali (Februari atau Agustus)
b. Belum pernah
Usia 12 59 bulan

65

a. Dua kali (Februari dan Agustus)


b. Kurang dari dua kali
a. Suplementasi vitamin A baik
Kategori
b. Suplementasi vitamin A tidak baik
c. Kebiasaan Konsumsi Makanan pada Anak
Berapa kali anak dan atau ibu
membeli makanan untuk konsumsi
anak di luar rumah yang tidak
higienis menurut persepsi ibu?

a. 2 kali sehari
b. < 2 kali sehari

Kategori

a. Sering
b. Tidak Sering

2. FAKTOR IBU
a.Perilaku Ibu dalam Penanganan Diare
a. 0
b. 1

Apa yang ibu lakukan saat anak


diare?

a. Memuasakan
b. Memberi makan seperti
biasa
c. Mengganti makanan
dengan yang lebih
lunak

Apakah ibu langsung membawa anak


berobat pada saat awal diare?
Apakah ibu memberikan obat
antidiare pada awal anak ibu diare?
Apakah ibu memberikan minum
lebih banyak?
Apakah ibu memberikan oralit saat
anak ibu diare?

a.
b.
a.
b.
a.
b.
a.
b.

Apa yang ibu lakukan jika anak ibu


mengalami dehidrasi/kekurangan
cairan?

a. Memberi minum lebih


banyak
b. Tetap memberikan ASI
c. Memberikan cairan
oralit (cairan rehidrasi
oral)
d. Memberi makanan yang
mengandung banyak air

a.
b.
a.
b.
a.
b.
a.
b.
a.

Apakah ibu memberikan suplemen


zinc pada saat anak ibu diare?
Apakah ibu memberikan obat-obatan
tradisional saat anak ibu diare?

Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak

Kategori

a. Ya

0
1
0
1
1
0
1
0
1

b. 1
c. 1
d. 1
a.
b.
a.
b.
a.
b.
c.

a. Ya
b. Tidak
a. Ya
b. Tidak

b. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Ibu


Ibu menggunakan air sungai untuk mencuci peralatan makan

c. 2

1
0
0
1
Baik
Sedang
Kurang
a. 0

66

dan minum
Ibu menggunakan air sungai untuk mencuci peralatan makan
dan minum
Ibu menggunakan air pompa, sumur gali, air ledeng, atau air
kemasan untuk mencuci bahan makanan
Ibu menggunakan air pompa, sumur gali, air ledeng, atau air
kemasan untuk mencuci tangan
Sumber air yang digunakan berjarak lebih dari 10 meter dari
tempat penampungan kotoran, limbah, atau septic tank
Ibu menyimpan air di tempat penampungan air yang terbuka
Ibu memberikan minum dari air yang dimasak sampai
mendidih
Ibu menggunakan air sungai untuk mandi
Ibu mencuci pakaian bayi di sungai
Ibu mencuci peralatan masak di sungai
Ibu langsung memegang makanan tanpa mencuci tangan
dengan menggunakan air bersih (tidak berwarna, tidak berasa,
tidak berbau) dan sabun
Ibu mencuci tangan dengan air bersih (tidak berwarna, tidak
berasa, tidak berbau) dan sabun setelah buang air besar dan
menceboki bayi
Ibu mencuci tangan saja tanpa menggunakan sabun sebelum
melakukan sesuatu
Ibu melakukan buang air besar di sungai
Ibu melakukan buang air besar di di jamban yang terletak
dalam rumah
Ibu membuang tinja/kotoran bayi di jamban dalam rumah
Ibu membersihkan jamban ketika terlihat kotor saja
Ibu membuang tinja/kotoran bayi di pekarangan dekat rumah
Jamban yang digunakan bersih dan tidak berbau
Tersedia air, sabun, dan alat untuk membersihkan jamban
Kategori
3. FAKTOR SOSIAL EKONOMI
Jumlah pendapatan suami per
bulan

A. Rp

b.
a.
b.
a.
b.
a.
b.
a.
b.
a.
b.
a.
b.
a.
b.
a.
b.
a.
b.

Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak

b.
c.
d.
a.
b.
a.
b.
a.
b.
a.
b.
a.
b.
a.
b.
a.
b.
a.
b.

1
0
1
1
0
1
0
1
0
0
1
1
0
0
1
0
1
0
1

a. Ya
b. Tidak

a. 0
b. 1

a. Ya
b. Tidak

a. 1
b. 0

a.
b.
a.
b.
a.
b.
a.
b.
a.
b.
a.
b.
a.
b.
a.
b.
a.
b.

Ya
a. 0
Tidak
b. 1
Ya
a. 0
Tidak
b. 1
Ya
a. 1
Tidak
b. 0
Ya
a. 1
Tidak
b. 0
Ya
a. 0
Tidak
b. 1
Ya
a. 0
Tidak
b. 1
Ya
a. 1
Tidak
b. 0
Ya
a. 1
Tidak
b. 0
PHBS ibu baik
PHBS ibu buruk

67

Jumlah pendapatan istri per


bulan
Total pendapatan keluarga
Jumlah anggota keluarga yang
menjadi tanggungan keluarga
Pendapatan perkapita
Kategori

B. Rp
C. Rp
D. ....... orang
E. Rp
F. a. Di atas pendapatan rata-rata per kapita
G. b. Di bawah pendapatan rata-rata per kapita

68

4. FAKTOR LINGKUNGAN
Kriteria Rumah Sehat
a. Komponen Rumah (Bobot 31)
Langit-langit

a. Tidak ada
b. Ada, kotor, sulit dibersihkan, dan rawankecelakaan
c. Ada, bersih dan tidak rawan kecelakaan

a. 0
b. 1
c. 2
a. 1
b. 2

Dinding

Lantai

a. Bukan tembok (terbuat dari anyamanbambu/ilalang)


b. Semi permanen/setengah tembok/pasangan bata
ataubatu yang tidak diplester/papan yang tidak kedap
air.
c. Permanen (Tembok/pasangan batu bata yang
diplesterpapan kedap air)

a.
b.
c.
a.
Jendela kamar tidur
b.
Jendela ruang keluarga a.
b.
Ventilasi

Lubang asap dapur

Tanah
Papan/anyaman bambu dekat dengan tanah/plesteran
Diplester/ubin/keramik/papan (rumah panggung).
Tidak ada
Ada
Tidak ada
Ada

a. Tidak ada
b. Ada, lubang ventilasi dapur < 10% dari luas lantai
c. Ada, lubang ventilasi > 10% dari luas lantai

a. Tidak ada
b. Ada, lubang ventilasi dapur < 10% dari luas lantai
dapur
c. Ada, lubang ventilasi dapur > 10% dari luas lantai
dapur(asap keluar dengan sempurna) atau ada exhaust
fanatau ada peralatan lain yang sejenis

c. 3
a. 0
b. 1
c.
a.
b.
a.
b.
a.
b.

2
0
1
0
1
0
1

c. 2
a. 0
b. 1
c. 2

a. 0
a. Tidak terang, tidak dapat dipergunakan untuk
membaca
b. Kurang terang, sehingga kurang jelas untuk
membacadengan normal
c. Terang dan tidak silau sehingga dapat dipergunakan
untukmembaca dengan normal.
b. Sarana Sanitasi (Bobot 25)
Pencahayaan

b. 1
c. 2

69

a. 0
b. 1
Sarana Air Bersih
(SGL/SPT/PP/KU/
PAH)

a. Tidak ada
b. Ada, bukan milik sendiri dan tidak memenuhi syarat
kesehatan
c. Ada, milik sendiri dan tidak memenuhi syarat
kesehatan
d. Ada, bukan milik sendiri dan memenuhi syarat
kesehatan
e. Ada, milik sendiri dan memenuhi syarat kesehatan

c. 2
d. 3
e. 4

70

a. 0
b. 1
Jamban (saran
pembuangan kotoran)

a. Tidak ada.
b. Ada, bukan leher angsa, tidak ada tutup, disalurkan
kesungai / kolam
c. Ada, bukan leher angsa, ada tutup, disalurkan ke
sungaiatau kolam
d. Ada, bukan leher angsa, ada tutup, septic tankAda,
leher angsa, septic tank.

c. 2
d. 3
a. 0
b. 1

Sarana Pembuangan
a. Tidak ada, sehingga tergenang tidak teratur di halaman
b. Ada, diresapkan tetapi mencemari sumber air (jarak
sumber air (jarak dengan sumber air < 10m)
c. Ada, dialirkan ke selokan terbuka
d. Ada, diresapkan dan tidak mencemari sumber air
(jarak dengan sumber air > 10m)
e. Ada, dialirkan ke selokan tertutup (saluran kota)
untukdiolah lebih lanjut.
Saran Pembuangan
a. Tidak ada
b. Ada, tetapi tidak kedap air dan tidak ada tutup
Sampah/Tempat
c. Ada, kedap air dan tidak bertutup
Sampah
d. Ada, kedap air dan bertutup.
c. Perilaku Penghuni (Bobot 44)
Air Limbah (SPAL)

Membuka Jendela
Kamar Tidur
Membuka jendela
Ruang Keluarga
Mebersihkan rumah
dan halaman
Membuang tinja bayi
dan balita ke jamban
Membuang sampah
pada tempat sampah
Kategori

c. 2
d. 3
e. 4
a.
b.
c.
d.

0
1
2
3

a. Tidak pernah dibuka


b. Kadang-kadang
c. Setiap hari dibuka

a. 0
b. 1
c. 2

a. Tidak pernah dibuka


b. Kadang-kadang
c. Setiap hari dibuka

a. 0
b. 1
c. 2

a. Tidak pernah
b. Kadang-kadang
c. Setiap hari

a. 0
b. 1
c. 2

a. Dibuang ke sungai/kebun/kolam sembarangan


b. Kadang-kadang ke jamban
c. Setiap hari dibuang ke jamban

a. 0
b. 1
c. 2

a.
b.
c.
a.
b.

a. 0
b. 1
c. 2

Dibuang ke sungai / kebun / kolam sembarangan


Kadang-kadang dibuang ke tempat sampah
Setiap hari dibuang ke tempat sampah
Kriteria Rumah Sehat Terpenuhi
Kriteria Rumah Sehat Tidak Terpenuhi

Lampiran 3. Analisis Statistik

71

Statistics
Sex
N

Valid
Missing

Gizi
30
0

30
0

Vitamin
30
0

Makanan
30
0

PHBS
30
0

Ekonomi
30
0

Sex

Valid

Perempuan
Laki-laki
Total

Frequency
19
11
30

Percent
63,3
36,7
100,0

Valid Percent
63,3
36,7
100,0

Cumulative
Percent
63,3
100,0

Gizi

Valid

Baik
Tidak Baik
Total

Frequency
19
11
30

Percent
63,3
36,7
100,0

Valid Percent
63,3
36,7
100,0

Cumulative
Percent
63,3
100,0

Vitamin

Valid

Baik
Tidak Baik
Total

Frequency
29
1
30

Percent
96,7
3,3
100,0

Valid Percent
96,7
3,3
100,0

Cumulative
Percent
96,7
100,0

Makanan

Valid

Jarang
Sering
Total

Frequency
20
10
30

Percent
66,7
33,3
100,0

Valid Percent
66,7
33,3
100,0

Cumulative
Percent
66,7
100,0

Rumah
30
0

Penanganan
30
0

72

PHBS

Valid

Baik
Tidak Baik
Total

Frequency
17
13
30

Percent
56,7
43,3
100,0

Valid Percent
56,7
43,3
100,0

Cumulative
Percent
56,7
100,0

Ekonomi

Valid

Di atas rata-rata
Di bawah rata-rata
Total

Frequency
15
15
30

Percent
50,0
50,0
100,0

Cumulative
Percent
50,0
100,0

Valid Percent
50,0
50,0
100,0

Rumah

Valid

Terpenuhi
Tidak Terpenuhi
Total

Frequency
13
17
30

Percent
43,3
56,7
100,0

Valid Percent
43,3
56,7
100,0

Cumulative
Percent
43,3
100,0

Penanganan

Valid

Baik
Tidak Baik
Total

Frequency
8
22
30

Percent
26,7
73,3
100,0

Valid Percent
26,7
73,3
100,0

Cumulative
Percent
26,7
100,0

Case Processing Summary

Gizi * Diare
Vitamin * Diare
Makanan * Diare
PHBS * Diare
Ekonomi * Diare
Rumah * Diare
Penanganan * Diare

Valid
N
Percent
30
100,0%
30
100,0%
30
100,0%
30
100,0%
30
100,0%
30
100,0%
30
100,0%

Cases
Missing
N
Percent
0
,0%
0
,0%
0
,0%
0
,0%
0
,0%
0
,0%
0
,0%

Total
N
30
30
30
30
30
30
30

Percent
100,0%
100,0%
100,0%
100,0%
100,0%
100,0%
100,0%

73

Gizi * Diare
Crosstab
Diare
Gizi

Baik

Tidak Baik

Total

Count
Expected Count
% within Diare
Count
Expected Count
% within Diare
Count
Expected Count
% within Diare

Kontrol
13
9,5
86,7%
2
5,5
13,3%
15
15,0
100,0%

Kasus

Total

6
9,5
40,0%
9
5,5
60,0%
15
15,0
100,0%

19
19,0
63,3%
11
11,0
36,7%
30
30,0
100,0%

Chi-Square Tests

Pearson Chi-Square
Continuity Correctiona
Likelihood Ratio
Fisher's Exact Test
Linear-by-Linear
Association
N of Valid Cases

Value
7,033b
5,167
7,459
6,799

df
1
1
1

Asymp. Sig.
(2-sided)
,008
,023
,006

Exact Sig.
(2-sided)

Exact Sig.
(1-sided)

,021

,010

,009

30

a. Computed only for a 2x2 table


b. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is
5,50.

Risk Estimate

Value
Odds Ratio for Gizi (Baik /
Tidak Baik)
For cohort Diare = Kontrol
For cohort Diare = Kasus
N of Valid Cases

Vitamin * Diare

95% Confidence
Interval
Lower
Upper

9,750

1,592

59,695

3,763
,386
30

1,036
,188

13,675
,791

74

Crosstab
Diare
Vitamin

Baik

Tidak Baik

Total

Kontrol
15
14,5
100,0%
0
,5
,0%
15
15,0
100,0%

Count
Expected Count
% within Diare
Count
Expected Count
% within Diare
Count
Expected Count
% within Diare

Kasus
14
14,5
93,3%
1
,5
6,7%
15
15,0
100,0%

Total
29
29,0
96,7%
1
1,0
3,3%
30
30,0
100,0%

Chi-Square Tests
Value
1,034b
,000
1,421

Pearson Chi-Square
Continuity Correctiona
Likelihood Ratio
Fisher's Exact Test
Linear-by-Linear
Association
N of Valid Cases

1,000

df
1
1
1
1

Asymp. Sig.
(2-sided)
,309
1,000
,233

Exact Sig.
(2-sided)

Exact Sig.
(1-sided)

1,000

,500

,317

30

a. Computed only for a 2x2 table


b. 2 cells (50,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is
,50.

Risk Estimate

For cohort Diare = Kasus


N of Valid Cases

Makanan * Diare

Value
,483
30

95% Confidence
Interval
Lower
Upper
,331
,704

75

Crosstab
Diare
Makanan

Jarang

Sering

Total

Kontrol
14
10,0
93,3%
1
5,0
6,7%
15
15,0
100,0%

Count
Expected Count
% within Diare
Count
Expected Count
% within Diare
Count
Expected Count
% within Diare

Kasus

Total

6
10,0
40,0%
9
5,0
60,0%
15
15,0
100,0%

20
20,0
66,7%
10
10,0
33,3%
30
30,0
100,0%

Chi-Square Tests
Value
9,600b
7,350
10,653

Pearson Chi-Square
Continuity Correctiona
Likelihood Ratio
Fisher's Exact Test
Linear-by-Linear
Association
N of Valid Cases

9,280

df
1
1
1

Asymp. Sig.
(2-sided)
,002
,007
,001

Exact Sig.
(2-sided)

Exact Sig.
(1-sided)

,005

,003

,002

30

a. Computed only for a 2x2 table


b. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is
5,00.

Risk Estimate

Value
Odds Ratio for Makanan
(Jarang / Sering)
For cohort Diare = Kontrol
For cohort Diare = Kasus
N of Valid Cases

PHBS * Diare

95% Confidence
Interval
Lower
Upper

21,000

2,155

204,614

7,000
,333
30

1,067
,165

45,938
,672

76

Crosstab
Diare
PHBS

Baik

Tidak Baik

Total

Kontrol
11
8,5
73,3%
4
6,5
26,7%
15
15,0
100,0%

Count
Expected Count
% within Diare
Count
Expected Count
% within Diare
Count
Expected Count
% within Diare

Kasus

Total

6
8,5
40,0%
9
6,5
60,0%
15
15,0
100,0%

17
17,0
56,7%
13
13,0
43,3%
30
30,0
100,0%

Chi-Square Tests
Value
3,394b
2,172
3,466

Pearson Chi-Square
Continuity Correctiona
Likelihood Ratio
Fisher's Exact Test
Linear-by-Linear
Association
N of Valid Cases

3,281

df
1
1
1

Asymp. Sig.
(2-sided)
,065
,141
,063

Exact Sig.
(2-sided)

Exact Sig.
(1-sided)

,139

,070

,070

30

a. Computed only for a 2x2 table


b. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is
6,50.

Risk Estimate

Value
Odds Ratio for PHBS
(Baik / Tidak Baik)
For cohort Diare = Kontrol
For cohort Diare = Kasus
N of Valid Cases

Ekonomi * Diare

95% Confidence
Interval
Lower
Upper

4,125

,883

19,273

2,103
,510
30

,866
,244

5,109
1,067

77

Crosstab
Diare
Ekonomi

Di atas rata-rata

Di bawah rata-rata

Total

Kontrol
11
7,5
73,3%
4
7,5
26,7%
15
15,0
100,0%

Count
Expected Count
% within Diare
Count
Expected Count
% within Diare
Count
Expected Count
% within Diare

Kasus

Total

4
7,5
26,7%
11
7,5
73,3%
15
15,0
100,0%

15
15,0
50,0%
15
15,0
50,0%
30
30,0
100,0%

Exact Sig.
(2-sided)

Exact Sig.
(1-sided)

,027

,013

Chi-Square Tests
Value
6,533b
4,800
6,794

Pearson Chi-Square
Continuity Correctiona
Likelihood Ratio
Fisher's Exact Test
Linear-by-Linear
Association
N of Valid Cases

6,316

df
1
1
1

Asymp. Sig.
(2-sided)
,011
,028
,009

,012

30

a. Computed only for a 2x2 table


b. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is
7,50.

Risk Estimate

Value
Odds Ratio for Ekonomi
(Di atas rata-rata / Di
bawah rata-rata)
For cohort Diare = Kontrol
For cohort Diare = Kasus
N of Valid Cases

Rumah * Diare

95% Confidence
Interval
Lower
Upper

7,563

1,499

38,152

2,750
,364
30

1,126
,149

6,717
,888

78

Crosstab
Diare
Kontrol
Rumah

Terpenuhi

Count
Expected Count
% within Diare
Count
Expected Count
% within Diare
Count
Expected Count
% within Diare

Tidak Terpenuhi

Total

9
6,5
60,0%
6
8,5
40,0%
15
15,0
100,0%

Kasus

Total

4
6,5
26,7%
11
8,5
73,3%
15
15,0
100,0%

13
13,0
43,3%
17
17,0
56,7%
30
30,0
100,0%

Chi-Square Tests
Value
3,394b
2,172
3,466

Pearson Chi-Square
Continuity Correctiona
Likelihood Ratio
Fisher's Exact Test
Linear-by-Linear
Association
N of Valid Cases

3,281

df
1
1
1

Asymp. Sig.
(2-sided)
,065
,141
,063

Exact Sig.
(2-sided)

Exact Sig.
(1-sided)

,139

,070

,070

30

a. Computed only for a 2x2 table


b. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is
6,50.

Risk Estimate

Value
Odds Ratio for Rumah
(Terpenuhi / Tidak
Terpenuhi)
For cohort Diare = Kontrol
For cohort Diare = Kasus
N of Valid Cases

Penanganan * Diare

95% Confidence
Interval
Lower
Upper

4,125

,883

19,273

1,962
,476
30

,937
,196

4,106
1,155

79

Crosstab
Diare
Kontrol
Penanganan

Baik

Tidak Baik

Total

Count
Expected Count
% within Diare
Count
Expected Count
% within Diare
Count
Expected Count
% within Diare

7
4,0
46,7%
8
11,0
53,3%
15
15,0
100,0%

Kasus

Total

1
4,0
6,7%
14
11,0
93,3%
15
15,0
100,0%

8
8,0
26,7%
22
22,0
73,3%
30
30,0
100,0%

Chi-Square Tests
Value
6,136b
4,261
6,719

Pearson Chi-Square
Continuity Correctiona
Likelihood Ratio
Fisher's Exact Test
Linear-by-Linear
Association
N of Valid Cases

5,932

df
1
1
1

Asymp. Sig.
(2-sided)
,013
,039
,010

Exact Sig.
(2-sided)

Exact Sig.
(1-sided)

,035

,018

,015

30

a. Computed only for a 2x2 table


b. 2 cells (50,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is
4,00.

Risk Estimate

Value
Odds Ratio for
Penanganan (Baik / Tidak
Baik)
For cohort Diare = Kontrol
For cohort Diare = Kasus
N of Valid Cases

95% Confidence
Interval
Lower
Upper

12,250

1,268

118,362

2,406
,196
30

1,305
,031

4,436
1,262