Anda di halaman 1dari 24

SEJARAH

Nama Kelompok

Alda Sirajudin
Dhiyaani Rafi
Irma Yuliani
Miftah Kurnia
Shintya Desi F
Shafa Widad
Siti Nurul Hafizah

Kelas

Kelompok

XI.IPS 3

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimahkan rahmat, taufik
dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan waktu yang telah
di tentukan. Shalawat serta salam senantiasa tercurah limpahkan pada junjungan kita Nabi
besar Muhammad SAW, sampai akhir zaman. dengan judul makalah :Emansipasi wanita
dapat terselesaikan tepat waktu.
Dengan selesainya makalah ini tak lupa penyusun menyampaikan terimakasih pada semua
pihak yang telah membantu, menyumbangkan pikirannya, memberi kritik dan saran yang
membangun sehingga makalah ini dapat diselesaikan.dan mohon maaf apabila dalam
penyusunan makalah ada aa beberapa kesalahan. Akhirnya penyusun harapkan agar hasil dari
makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembelajaran selanjutnya

Depok, 21 Mei 2016

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...........................................................................2
DAFTAR ISI ..........................................................................................3
BAB I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah ..............................................................................5
1.3 Tujuan ............................................................................................... 5
BAB II.
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian emansipasi ........................................................................6
2.2 Biografi kartini ....................................................................................7
2.3 Arah perjuangan kartini ......................................................................8
2.4 perjuangan kartini masa kini ...............................................................9
2.5 Kontroversi .........................................................................................10
2.6 Feminisme kartini ...............................................................................11
2.6.1 Budaya patrikarki ................................................................11
2.6.2 Pembongkaran wacana feminism.........................................12
2.7 Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita........................13
2.8 Kebebasan dalam emansipasi .............................................................19
2.9 Emansipasi perempuan di era globalisasi ...........................................20
BAB III.
PENUTUP
3.1 Kesimpulan ..........................................................................................24
3.2 Saran ....................................................................................................24

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Makalah ini berisi tentang Emansipasi Wanita dan perjuangan wanita untuk menyamakan
derajat wanita terhadap kaum pria. Memang secara fisik wanita lebih lemah dari pria, namun
pada dasarnya antara wanita dan pria memiliki hak dan kedudukan yang sama.
Emansipasi wanita di Indonesia identik dengan R.A. Kartini, sampai saat ini perjuangan
wanita diperdengungkan dengan keras dalam sendi-sendi kehidupan terutama dalam
kesetaraan dengan kaum laki-laki karena masih banyak kaum laki-laki yang menganggap
bahwa wanita itu hanya duduk diam dirumah mengurus keluarga, dan memelihara rumah.
Gerakan emansipasi saat ini semakin berkibar kaum wanita tidak terlalu tergantung pada
kaum laki-laki. Pergerakan ini telah mengantarkan kaum wanita Indonesia menuju pada
mimbar kehormatan dan gerbang kebebasan namun harus dipahami pula kebebasan disini
bukan berarti kebablasan, dimana kaum wanita bertindak semaunya tanpa melihat normanorma yang ada di masyarakat.
Realita dizaman kehidupan sekarang ini bahwa wanita tidak lagi dipandang sebelah mata,
mereka lebih dihargai dan dihormati. Saat ini banyak kaum wanita yang sukses dalam meniti
karier, dalam pendidikan dan bahkan memiliki jabatan diatas kaum laki-laki. Kenyataan itu
sangat nyata ketika bangsa Indonesia memiliki presiden wanita, dimana jabatan presiden itu
merupakan jabatan tertinggi dalam pemerintahan dan yang mengatur sendi-sendi dalam
menjalankan sistem negara.
Namun tidak dapat dipungkiri bahwa emansipasi yang diperjuangkan dari dulu banyak
disalah artikan. Wanita merasa dihargai sehingga mereka sangup melakukan apasaja untuk
kaum laki-laki terutama dalam memuaskan nafsu kaum laki-laki hanya untuk mendapatkan
harga yang tepat dan pendapatan yang melimpah. Wanita dijadikan komoditas penjualan bagi
kaum laki-laki, dengan alih-alih ingin mencari kerja untuk mencukupi kehidupan keluarga.
Selain itu juga wanita yang menamakan dirinya sebagai wanita karir tidak sedikit melupakan
kewajibannya mengurus keluarganya, bekerja melebihi kapasitasnya karena mereka merasa
memiliki hak yang sama dengan kaum laki-laki dalam bekerja.

1.2 Rumusan Masalah


Apa arti Emansipasi Wanita Pada Zaman Sekarang?

1.3 Tujuan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Memenuhi tugas mata pelajaran Sejarah


Memahami konsep emansipasi wanita
Mengetahui sejarah emansipasi dan penyebab munculnya emansipasi
Mengenal pelopor emansipasi wanita selain R.A. Kartini
Mengetahui dampak positif dan mengatif dari emansipasi wanita
Memberikan pengetahuan tentang emansipasi dari awal mula hingga sekarang
Mengetahui gerakan feminisme

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN EMANSIPASI

Emansipasi ialah istilah yang digunakan untuk menjelaskan sejumlah usaha untuk
mendapatkan hak politik maupun persamaan derajat, sering bagi kelompok yang tak diberi
hak secara spesifik, atau secara lebih umum dalam pembahasan masalah seperti itu.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia emansipasi ialah pembebasan dari perbudakan,
persamaan hak dl berbagai aspek kehidupan masyarakat
Emansipasi wanita ialah proses pelesapan diri para wanita dari kedudukan sosial ekonomi
yang rendah atau dari pengekangan hukum yang membatasi kemungkinan untuk berkembang
dan untuk maju.
Dan bicara emansipasi wanita, maka pasti membicarakan Kartini, seorang wanita priyayi
Jawa yang memiliki pemikiran maju di masanya yang kemudian diangkat namanya menjadi
penggerak emansipasi wanita Indonesia, berkat surat-surat2 korespondennya pada sahabat
Belandanya yang kemudian diangkat menjadi sebuah buku berjudul Habis Terang Terbitlah
Terang.
Jadi bila disimpulkan arti Emansipasi dan apa yang dimaksudkan oleh Kartini adalah agar
wanita mendapatkan hak untuk mendapatkan pendidikan, seluas-luasnya, setinggitingginya.
Agar wanita juga di akui kecerdasannya dan diberi kesempatan yang sama untuk
mengaplikasikan keilmuan yang dimilikinya dan Agar wanita tidak merendahkan dan di
rendahkan derajatnya di mata pria.
Dalam hal ini tidak ada perkara yang menyatakan bahwa wanita menginginkan kesamaan hak
keseluruhan dari pria, karena pada hakikatnya pria dan wanita memliki kelebihannya masingmasing.
Lantas sekarang, emansipasi dijadikan kedok kebebasan para wanita. Jadi akan menjadi
sangat miris bila pengertian emansipasi wanita ini lantas di anggap sebagai pemberontakan
wanita dari kodrat kewanitaannya. Dimana wanita melupakan kewanitaannya dan lebih
menunjukkan keperkasaannya secara fisik, yang notabene bukan lahannya namun
memaksakan agar diakui. Saat wanita lupa bahwa selain cerdas di luar sana juga harus
cerdas didalam rumahnya.
Dan emansipasi wanitapun dijadikan kedok untuk memperdagangkan diri dalam balutan
kontes putri dan ratu dengan tameng menguji kecerdasan kontestannya.Apakah hubungannya
kecerdasan yang dinilai dalam balutan baju seksi dan wajah mempesona?? Dan ada juga yang
menjual kecantikan untuk memperoleh nilai lebih dalam hal pendidikan, pekerjaan bahkan

status sosial, suatu bentuk pelacuran terselubung yang malah menghancurkan derajat wanita
dimata pria.

Lantas di mana letak kebanggaan seorang wanita?? Jadi apa arti emansipasi bila akhirnya
hanya menjadi olok-olokan??
Jika Kartini sekarang masih hidup, dia pasti akan menyerang pengertian emansipasi yang
ada seperti sekarang ini. Kartini akan menyerang kontes ratu-ratuan yang mengumbar
aurat, Kartini akan menyerang keinginan perempuan untuk menjadi seperti pria yang
sebenarnya berangkat dari perasaan rendah diri dan pengakuan jika pria lebih unggul,
sebab menurut Kartini, perempuan dan laki-laki itu memiliki keunggulan dan juga
kelemahannya masing-masing yang unik, sebab itu mereka memerlukan satu dengan yang
lainnya, saling melengkapi

2.2 BIOGRAFI KARTINI


Raden Adjeng Kartini (lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879-meninggal di Rembang,
Jawa Tengah, 17 september 1904 pada umur 25 tahun) adalah seorang tokoh suku jawa dan
pahlawan Nasional Indonesia.
Kertini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Ibunya M.A Ngasirah.
Ayahnya bernama Raden Mas Adipati sosroningrat.
Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europose Lagere School). Disini antara lain kartini
belajar bahasa belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah
dipingit.
Karena kartini bisa berbahasa Belanda, maka dirumah ia mulai belajar sendiri dan menulis
surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari belanda. Salah satunya adalah
Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku, koran eropa dia tertarik pada
kemajuan berfikir perempuan eropa, timbul keinginannya untuk memajukan perempuan
pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah
Berkat kegigihannya kartini, kemudian didirikan sekolah wanita oleh yayaan kartini di
Semarang pada 1912, dan kemudian di surabaya, yogyakarta, malang, madiun, cirebon, dan
daerah lainnya. Nama sekolah tersebut bernama sekolah kartini

2.3 ARAH PERJUANGAN KARTINI


Sejarah bangsa merupakan catatan pengalaman perkembangan bangsa.

Pri bahasa

mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Oleh karena itu bangsa yang mau
maju sudah tentu harus belajar sejarah.
Kalau bangsa ini ingin memiliki masyarakat wanita yang maju sesuai dengan cita-cita dan
perjuangan Kartini, maka sejarah Kartini perlu dicermati kembali. Sebab kalau tidak
demikian perjuangan para Kartini masa kini bisa saja kurang sesuai lagi dengan apa yang
menjadi cita-cita ibu Kartini, walaupun sekarang ini sudah banyak wanita Indonesia yang
berpendidikan tinggi dan menduduki jabatan penting di berbagai instansi.
Perjuangan Kartini dilator belakangi kehidupan para wanita pada zamannya yang pada
umumnya hanya menjalankan kehidupan sebagai ibu rumah tangga. Apa yang dikerjakan ibu
rumah tangga pada waktu itu juga terbatas pada tugas menjalankan fungsi sebagai istri,
mengasuh anak, mengurus dapur, dan pekerjaan rumah tangga lainnya.
Kartini melihat para wanita pada waktu itu tidak memiliki hak dan kebebasan yang sama
dengan kaum lelaki untuk mengenyam pendidikan tinggi. Dalam kondisi seperti itu Kartini
juga melihat adanya kesenjangan intelektual di antara suami istri dalam hal pendidikan.
Padahal untuk bisa membentuk keluarga yang baik, terutama dalam mendidik anak, selain
diperlukan seorang ayah yang berpendidikan tinggi, juga diperlukan seorang ibu yang juga
berpendidikan tinggi.
Dari latar belakang sejarah perjuangan Kartini sudah jelaslah bahwa arah perjuangan Kartini
adalah memajukan kaum wanita yang dimulai dari pendidikan. Kartini tidak pernah
menganggap pekerjaan sebagai ibu rumah tangga sebagai pekerjaan yang lebih rendah
daripada pekerjaan yang dilakukan oleh kaum lelaki.
Dalam perjuangannya untuk memajukan kaum wanita Indonesia yang antara lain melalui
buku yang ditulisnya dengan judul Habis Gelap Terbitlah terang ternyata Kartini mendapat
dukungan penuh dari suaminya. Ini artinya perjuangan Kartini tidak dimaksudkan untuk
bersaing atau mengalahkan kaum lelaki.
Sisi lain yang sangat penting dari kenyataan tersebut adalah bahwa suami Ibu Kartini adalah
seorang lelaki yang hidup pada zaman dulu tapi berpikir maju atau modern. Dukungan

terhadap istrinya yang memperjuangkan persamaan hak wanita menunjukkan bahwa suami
Ibu Kartini sangat mengerti kalau perjuangan hak azasi adalah perjuangan universal yang
sebetulnya tidak perlu memandang jenis kelamin.

Sikap suami Ibu Kartini tersebut kiranya

cukup layak dicontoh oleh kaum lelaki Indonesia dalam menyikapi perjuangan emansipasi
wanita Indonesia masa kini.

2.4 PERJUANGAN KARTINI MASA KINI


Sekarang ini kita sudah bisa melihat kemajuan para wanita Indonesia dalam suatu indikasi di
mana pekerjaan atau jabatan yang dulu hanya diduduki oleh kaum lelaki sudah banyak yang
diduduki oleh kaum wanita. Berbagai pekerjaan atau jabatan mulai dari pegawai negeri /
swasta, pilot, pengacara, notaris, dokter, direktur, menteri, bahkan sampai jabatan presiden
sudah banyak diperankan oleh wanita Indonesia.
Pertanyaan yang mungkin perlu direnungkan adalah, apakah peran sebagai ibu rumah tangga
pada zaman sekarang ini dianggap lebih rendah daripada peran sebagai wanita karir ?Apakah
wanita yang tetap memilih kehidupan sebagai ibu rumah tangga dapat dianggap sebagai
ketinggalan zaman ?
Perlu diingat kembali bahwa pada zaman dulu di mana belum banyak bermuncuan wanita
karir, para ibu rumah tangga sangat menguasai paling sedikit 2 macam keterampilan yang
tidak banyak dikuasai kaum lelaki, yaitu memasak dan menjahit.
Ke dua macam keterampilan tersebut sampai sekarang dan sampai kapanpun dapat dijadikan
lahan bisnis yang menjanjikan. Pada zaman sekarang ini, makin sedikit saja ibu rumah
tangga yang bisa memasak dan menjahit. Bahkan lebih dari itu kelihatannya lebih banyak
kaum lelaki yang bisa memasak dan menjahit. Apakah ini suatu kemajuan ataukah
kemunduran ?
Di masa sekarang dan masa yang akan datang, sesuai dengan kemajuan teknologi terutama
dalam bidang internet, sangat mungkin akan semakin banyak orang yang memilih untuk
bekerja di rumah. Saya dan istri telah memulai sejak beberapa tahun yang lalu. Bukankah
hal ini bisa menjadi salah satu indikasi bahwa persamaan hak perlu diperjuangkan oleh kaum
wanita dengan dukungan dari kaum lelaki seperti yang dilakukan oleh Ibu Kartini dan
suaminya ?

10

2.5 KONTROVERSI
Ada kalangan yang meragukan kebenaran surat-surat Kartini. Ada dugaan J.H.
Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan saat itu, merekayasa surat-surat
Kartini. Kecurigaan ini timbul karena memang buku Kartini terbit saat pemerintahan kolonial
Belanda menjalankan politik etis di Hindia Belanda, dan Abendanon termasuk yang
berkepentingan dan mendukung politik etis. Hingga saat ini pun sebagian besar naskah asli
surat tak diketahui keberadaannya. Menurut almarhumah Sulastin Sutrisno, jejak keturunan
J.H. Abendanon pun sukar untuk dilacak Pemerintah Belanda.
Penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar juga agak diperdebatkan. Pihak yang
tidak begitu menyetujui, mengusulkan agar tidak hanya merayakan Hari Kartini saja, namun
merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember. Alasan mereka adalah
agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya, karena masih ada
pahlawan wanita lain yang tidak kalah hebat dengan Kartini seperti Cut Nyak Dhien, Martha
Christina Tiahahu,Dewi Sartika dan lain-lain.Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu
hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan
penjajah. Sikapnya yang pro terhadap poligami juga bertentangan dengan pandangan kaum
feminis tentang arti emansipasi wanita. Dan berbagai alasan lainnya. Pihak yang pro
mengatakan bahwa Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat
derajat kaum wanita Indonesia saja, melainkan adalah tokoh nasional; artinya, dengan ide dan
gagasan pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara
pikirnya sudah melingkupi perjuangan nasional.

2.6 FEMINISME KARTINI


Setiap 21 April kita memperingati Hari Kartini. Pada hari itu tahun 1879, telah lahir seorang
pahlawan bagi kaum yang dalam perkembangan jaman, dimana pun di seluruh dunia, sering
dinomorduakan. Raden Ajeng Kartini sontak menggegerkan pemerintah kolonial Hindia
Belanda karena perjuangannya melawan diskriminasi terhadap kaumnya. Belanda bingung,
mengapa seseorang yang dibesarkan oleh kultur budaya patriarki dan berada dibawah
jajahannya, bisa memiliki pemikiran semodern itu? Apabila dikatakan Kartini terpengaruh
feminisme, penulis cenderung sependapat. Tapi apakah Kartini sepenuhnya mengadopsi

11

konsep feminisme an sich? Mungkin tidak, akan tetapi, walaupun kebanyakan definisidefinisi feminisme berpusat pada tuntutan kesetaraan jenis kelamin, isu-isu kesetaraan dan
persamaan hak bukanlah merupakan satu-satunya perhatian feminisme.

2.6.1 Budaya Patrikarki


Gerakan feminisme merupakan perjuangan dalam rangka mentransformasikan sistem dan
struktur yang tidak adil, menuju ke sistem yang adil bagi perempuan maupun laki-laki.
Dengan kata lain, hakekat feminisme adalah gerakan transformasi sosial dalam arti tidak
selalu memperjuangkan soal perempuan belaka. Dengan demikian strategi perjuangan jangka
panjang gerakan feminisme tidak sekadar upaya pemenuhan kebutuhan praktis kondisi kaum
perempuan, atau hanya dalam rangka mengakhiri dominasi gender dan manifestasinya
seperti: eksploitasi, marginalisasi, subordinasi, pelekatan stereo tipe, kekerasan dan
penjinakan belaka, melainkan perjuangan transformasi sosial ke arah penciptaan stuktur yang
secara fundamental baru dan lebih baik.
Feminisme Kartini sendiri adalah sebuah sintesis dari patriarki dan feminisme barat, yang
kemudian diperkenalkan di Indonesia sebagai sebuah bentuk oposisi terhadap budaya dan
otoritas politik (sebelum ada negara ketika itu) yang melakukan penindasan secara sistematis
kepada kaum perempuan. Feminisme Kartini penekanannya ada pada budaya breakthrough
yang diperjuangkan beliau pada sebuah era dimana budaya patriarki dilegalkan baik oleh
budaya (Jawa), maupun otoritas politik (pemerintahan Hindia Belanda). Ia bergerak secara
komunal, diawali oleh kapasitas individu, bukan karena sifatnya yang feodal, tetapi karena
perlunya pemahaman kolektif untuk mendobrak sebuah rezim yang diskriminatif.
Feminisme Kartini juga lebih menekankan pada tuntutan agar perempuan memperoleh
pendidikan yang memadai, menaikkan derajat perempuan yang kurang dihargai pada
masyarakat Jawa, dan kebebasan dalam berpendapat dan mengeluarkan pikiran. Pada masa
itu tuntutan tersebut khususnya pada masyarakat Jawa adalah lompatan besar bagi perempuan
yang disuarakan oleh perempuan juga. Kartini, yang semasa hidupnya dibesarkan oleh
kebiasaan-kebiasaan feodalis karena berasal dari kalangan priyayi dan berayahkan seorang
Bupati, sudah memiliki courage untuk stand up melawan budayanya sendiri, bahkan
jamannya.

12

Tetapi, banyak yang tidak memperhatikan bahwa karena budaya partiarki itulah sebenarnya
Kartini dapat menjadi seorang Kartini yang kita kenal sekarang sebagai pahlawan bagi kaum
perempuan. Hal ini karena ia berasal dari keluarga priyayi, maka kehidupan Kartini
sebetulnya bisa dibilang baik. Ia tidak mengalami kesulitan seperti banyak perempuan lain
yang pada masa itu masih terjerat kemiskinan dan kebodohan. Kartini diperbolehkan
bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa
Belanda. Karena Kartini bisa berbahasa Belanda itulah ia mulai membaca dari buku-buku,
koran, dan majalah Eropa, terutama Belanda.
Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial
umum. Bahkan, dalam Sebuah buku kumpulan suratnya kepada Stella Zeehandelaar berjudul
Aku Mau ... Feminisme dan Nasionalisme, Kartini banyak bicara masalah yang dewasa ini
menjadi perbincangan kita semua, yaitu masalah sosial, budaya, agama, sampai korupsi.
Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan
hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Ini inti dari Feminisme Kartini yang
tidak terfokus pada perempuan saja.

2.6.2 Pembongkaran Wacana Feminisme


Sudah saatnya perempuan tidak hanya ditempatkan sebagai objek pembangunan (woman in
development), akan tetapi berkedudukan sebagai subjek pembangunan (woman and
development). Hal ini yang secara substansif diperjuangkan oleh Kartini, walaupun mungkin
masih dengan bahasa dan konteks yang berbeda ketika itu. Tetapi permasalahan yang justru
muncul bukan terletak pada sikap apologi dan permisif pria terhadap keterlibatan perempuan
saja. Pertanyaannya, apakah kesadaran untuk memperjuangkan hak-haknya dan hasrat untuk
memperbaiki citranya yang selama ini dianggap sebatas teman di ranjang, pelipur stress pria,
ibu yang mengurusi anak-anaknya, telah benar-benar dilakukan perempuan untuk
memperoleh kesetaraannya? Sensitivitas gender dan altruisme merupakan strategi yang jelas
dalam upaya peningkatan citra dan status perempuan.
Namun yang perlu disadari oleh perempuan khususnya, bagaimana bisa mengadopsi
seoptimal mungkin segala potensi serta terlepas dari kendala struktural, nilai-nilai budaya,
dan interpretasi ajaran agama yang bias gender dan bias nilai-nilai patriakhi. Bukan tidak
mungkin, upaya-upaya gerakan feminisme yang selama ini masih menjadi perbincangan
hangat di semua kalangan hanya cerita dan citra eksklusif para perempuan yang sudah

13

"tercerahkan" dari kehidupan rumah tangga saja. Tidak ada yang salah dengan hal ini, hanya
saja konsep kesetaraan gender tidak bermain disini. Yang bermain adalah superioritas
individu sebuah gender tertentu.
Terakhir, tanpa harus mereduksi peran perempuan sejatinya, ketika sebuah pembongkaran
wacana feminisme menjadi sebuah keharusan yang niscaya bagi sebuah peradaban bangsa,
feminisme ala Kartini menjadi efektif karena ia muncul dari semangat komunal untuk
mendobrak sebuah sistematisasi yang bergerak secara diskriminatif. Bukan dari nafsu
individu untuk memperoleh penghargaan hanya dari modal kebebasannya. Selamat
berjuang Kartini-Kartini muda!

2.7 Dewi Sartika, Simbol Perjuangan Emansipasi Wanita


Pada tanggal 21 April orang Indonesia memperingat Hari Kartini yang dianggap sebagai
simbol bagi perjuangan perempuan dalam memperoleh kesetaraan, hal yang selama ini
dikenal dengan emansipasi perempuan. Sejak kecil anak-anak Indonesia diajarkan tentag
kepahlawanan. Salah satu nama pahlawan nasional yang paling diingat adalah Kartini.
Kartini disebut-sebut sebagai pelopor pendidikan bagi perempuan.
Kini saat arus informasi kian deras. Akses atas berbagai bacaan dan opini-opini personal
semakin mudah untuk ditemukan, maka sikap kritis dan penggalian fakta semakin sering
terjadi. Hal ini membuat beberapa hal dipertanyakan lagi asal muasalnya. Salah satunya
adalah tentang dipilihnya Kartini sebagai simbol bagi perjuangan hak perempuan. Sebab
ternyata ada satu lagi tokoh perempuan yang juga memiliki peran besar dalam
memperjuangkan kesetaraan perempuan tidak hanya dibidang pendidikan namun juga dalam
dunia kerja. Ia adalah Raden Dewi Sartika, seorang perempuan dari Tanah Sunda.
Dewi Sartika lahir di Bandung, 4 Desember 1884, dan meninggal di Tasikmalaya, 11
September 1947 pada umur 62 tahun. Beliau adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum
perempuan, diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966
Beliau adalah perempuan yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya memperjuangkan
pendidikan bagi kaum perempuan. R. Dewi Sartika adalah perempuan Menak (priyayi) yang
enggan dibatasi oleh kekakangan adat yang menurutnya tidak akan membawa kesejahteraan

14

bagi banyak orang. Beliau berasal dari keturunan yang sangat dekat dengan pemerintahan
Bandung. Dewi Sartika lahir di Bandung pada 4 Desember 1884 dari ayah yang
bernama Raden

Rangga

Rajapermas. Kakek

dari

Somanagara dan
ibunya

adalah

ibu

mantan

yang
Bupati

bernama Raden
Bandung

Ayu

yakni Adipati

Wiranatakusumah IV atau yang disebut Dalem Bintang.

Saat di Cicalengka, Dewi Sartika mendapati bahwa banyak perempuan bahkan dikalangan
Menak yang tidak bisa baca tulis. Istri keempat pamannya yang bernama Nyi Raden Eni atau
disapaAgan Eni menerima gadis-gadis yang ingin mondok dan belajar etika seorang
perempuan Menak Sunda. Namun ternyata mereka tetap saja tidak diajari baca tulis karena
dianggap tidak perlu memiliki skill semacam itu, cukuplah mampu melayani dan mengurusi
rumah dengan baik. Kondisi ini membuat Dewi Sartika terkadang mengisengi para gadis
yang tengah mondok tersebut. Gadis-gadis ini terkadang meminta bantuan Dewi Sartika
untuk membacakan atau menuliskan surat kepada pria pujaan hati mereka yang sedang
sekolah di Bandung atau di Jakarta. Saat membacakan surat ini, Dewi Sartika sering
mengartikannya terbalik. Saat membacakan surat yang sebenarnya berisi kerinduan sang
kekasih terhadap gadis tersebut, Dewi Sartika malah mengatakan bahwa dalam surat tersebut
sang kekasih bermaksud untuk memutuskan hubungan dengan gadis tersebut. Menangislah
sang gadis karena patah hatinya. Keisengan semacam ini dilakukan oleh Dewi Sartika untuk
menggugah keinginan gadis-gadis tersebut untuk belajar membaca dengan begitu mereka
tidak akan bisa dibodohi seperti itu lagi oleh Dewi Sartika atau oleh orang lain.

Jiwa Dewi Sartika sebagai seorang pengajar sudah mulai terlihat pula saat di Cicalengka.
Seringkali Dewi Sartika melakukan permainan sekolah-sekolahan dengan anak-anak abdi
dalam yang bekerja di rumah pamannya. Selama permainan itu Dewi Sartika benar-benar
mengajari mereka membaca dan menulis dan bahkan sedikit bahasa Belanda.
Pada tahun 1902, Dewi Sartika mendengar bahwa ayahnya meninggal di pengasingan dan
ibunya telah kembali ke Bandung. Beliaupun memilih untuk segera kembali ke Bandung.
Ditambah lagi beliau memang sudah tidak nyaman tinggal di Cicalengka karena anak dari
Istri ketiga pamannya yang bernama Nyi Raden Permasih, Raden Kanjun, bermaksud
melamarnya. Akhirnya Dewi Sartika pun kembali ke Bandung.

15

Di Bandung inilah Dewi Sartika secara serius merintis sekolah untuk perempuan. Pada tahun
1902 tersebutla, di halaman belakang rumah ibunya, beliau membuka sebuah sekolah untuk
perempuan. Beliau membuka kesempatan bagi siapapun yang ingin belajar dibawah
pengajaran beliau tanpa peduli status sosial mereka. Beliau mengajar secara sukarela tanpa
meminta upah. Sebagai gantinya banyak murid-muridnya yang datang dengan membawa
makanan atau membawa keperluan dapur. (Bisa jadi ini pun menjadi sumber penghidupan
Dewi Sartika sebab saat ayahnya diasingkan ke Ternate seluruh harta mereka pun disita oleh
pemerintah).
Tekad Dewi Sartika untuk menyediakan pendidikan bagi perempuan bisa jadi semakin bulat
sebab melihat kondisi ibunya yang tidak bisa berusaha sendiri untuk menghidupi diri dan
keluarganya. Sebab meskipun ibunya berasal dari golongan Menak namun beliau hanya
mendapat pendidikan tata krama dan hal-hal terkait tentang pembawaan seorang Menak di
lingkungan sosial, namun tidak diajari keterampilan yang memadai untuk bisa berusaha
sendiri. Baca-tulispun tidak termasuk dalam pendidikan kaum Menak untuk perempuan. Bisa
jadi hal ini yang membuat Dewi Sartika segera merealisasikan rencananya membuat sekolah
tersebut meskipun dengan sarana yang seadanya.
Ternyata

sekolah

yang

beliau

buat

di

rumah

tersebut

diketahui

oleh C.Den

Hammer (Inspektur Pengajaran Hindia Belanda). Awalnya kegiatan beliau dicurigai karena
mengingat latar belakang beliau sebagai anak dari pria yang berusaha melakukan
pemberontakan terhadap pemerintahan Bupati Martanagara. Namun kegiatan beliau akhirnya
didukung dan beliau diminta untuk membuat sebuah sekolah secara resmi. Dewi Sartika
sangat senang mendengar hal ini, ia pun segera mengabari sanak saudaranya, namun mereka
tidak mendukung kegiatan Dewi Sartika. Mereka yang merupakan kaum Menak menganggap
bahwa Dewi Sartika berusaha mengubah tradisi dan menjatuhkan martabat mereka. Sebab
Dewi Sartika tidak membatasi sekolahnya hanya untuk kaum Menak saja. Ia bahkan
mengajari wanita-wanita yang berasal dari pasar.
Dengan usul dari Den Hammer, Dewi Sartika kemudian menemui RA Martanegara. Awalnya
beliau ragu untuk menemui Bupati Bandung tersebut mengingat bahwa ayahnya pernah
menyusun pemberontakan untuk menurukan RA Martanegara di masa-masa awal beliau
menjabat. Namun karena mengingat bahwa yang beliau lakukan bukanlah hal yang buruk,

16

maka beliau tetap pun menemui RA Martanegara. Dan ternyata rencana beliau untuk
membuat sekolah wanita disambut positif oleh Martanegara.
Akhirnya pada 16 Januari 1904 secara resmi didirikanlah Sakola Istri yang tempat
belajarnya dipindahkan dari rumah Dewi Sartika ke halaman depan rumah Bupati Bandung,
tepatnya dalam ruangan di Paseban Barat.(Kini tempat tersebut sudah hancur dan
menjadi bagian dari taman di Pendopo Alun-Alun Bandung). Saat awal berdirinya,
Sakola Istri memiliki 3 orang pengajar yakni Dewi Sartika, Nyi Poerwa, & Nyi Oewit.
Dengan jumlah murid pertama kali sekitar 60 orang.
Karena jumlah murid yang terus bertambah, tahun 1905 dipindahkanlah Sakola Istri ke jalan
Ciguriang-Kebon Cau. Lahan ini dijadikan lahan sekolah baru dan dibeli sendiri oleh Dewi
Sartika dengan uang tabungannya. Selama kesibukan beliau mengurusi Sakola Istri, ibunya
merisaukan perihal jodohnya. Sebab diusianya yang telah mencapai 20 tahun, beliau belum
juga menikah. Padahal di masa beliau, para wanita menikah diusia yang belasan tahun. Dewi
Sartika sempat dilamar oleh keluarga Pangeran Djajadiningrat yang datang dari Banten.
Namun lamaran tersebut ditolak oleh Dewi Sartika karena beliau tidak ingin menikah dengan
orang yang tidak beliau kenal dan belum tentu cocok dihatinya.
Tak lama kemudian beliau bertemu dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata atau yang
disapa dengan nama Raden Agah. Raden Agah adalah salah seorang guru di Eerste
Kalsse School yang berada di daerah Karang Pamulung. Tahun 1906 Dewi Sartika dan Raden
Agah menikah. Saat itu status Raden Agah adalah seorang duda.
Pada 1910 tepatnya pada 5 November 1910 pukul 19.00 didirikanlah Perkumpulan
Kautamaan Istri yang dibentuk oleh Residen Priangan W.F.L Boissevain dikediamannya
yang dikenal sebagai Gedung Pakuan. Pada 1911 tepat pada nama Sakola Istri diganti
menjadi Sakola Kautamaan Istri karena banyaknya sumbangsih yang diberikan oleh
perkumpulan tersebut. Berkat dana yang dikumpulkan oleh Perkumpulan Kautamaan Istri ini,
dibangunlah cabang-cabang Sakola Keutamaan Istri di Sumedang, Cianjur, Sukabumi,
Tasikmalaya, Garut, Purwakarta. Pada peringatan 7 tahun pendirian sekolah ini, Dewi Sartika
berpidato yang kemudian dibukukan dan diterbitkan di Bandung oleh A.C Nix & Co pada
tahun 1912 dengan judul Buku Kautamaan Istri.

17

Tahun 1914 tulisan Dewi Sartika yang berjudul De Inlandsche Vrouw (Wanita
Bumiputera)dibukukan bersama tulisan lainnya oleh Commissie van Mindere Welvaart
Onderzoek (Komisi Penelitian Kemunduran Kesejahteraan) yang dibentuk oleh pemerintah
Hindia Belanda. Dalam tulisannya ini Dewi Sartika tidak menggunakan gelar Raden dan
hanya menyertakan keterangan bahwa ia adalah tenaga pengajar di Sakola Kautamaan Istri.
Pada tahun 1916 ini pula Dewi Sartika mengenal adik kandung RA Kartini yakni R.A
Kardinahyang merupakan orang yang Dewi Sartika temui untuk belajar membatik
di Kendal. Dari Kendal, Dewi Sartika membawa serta Mbok Suro untuk mengajar
membatik di Sakola Keutamaan Istri. Hanya ini hubungan yang berhasil ditemukan penulis
melalui beberapa literatur yang berhasil ditemukan oleh penulis.
Akhrirnya pada 1929 diubahlah nama Sakola Kautamaan Istri menjadi Sekolah Raden Dewi.
Kemudian sekolah ini berubah nama lagi menjadi Sekolah Rakyat Gadis No.29 saat diambil
alih oleh Jepang saat Jepang menjajah Indonesia pada tahun 1942. Saat itu Dewi Sartika
menolak untuk mengajar karena Jepang mengubah kurikulum sekolah berdasarkan
kepentingan mereka.
Kedukaan melanda Dewi Sartika saat Raden Agah meninggal pada 25 Juli 1939. Sejak
kepergian Raden Agah, kondisi kesehatan Dewi Sartika mulai memburuk. Beliau merasa
sangat kehilangan seorang pendamping setia. Raden Agah memberi dukungan yang sangat
besar pada Dewi Sartika. Raden Agah sampai rela mengorbankan perkembangan karirnya
demi mendampingi Dewi Sartika dalam mengembangkan Sakola Kautamaan Istri. Selain itu
Raden Agah juga tidak mempoigami Dewi Sartika, hal yang sangat jarang terjadi di masa
tersebut. Sepeninggal Raden Agah, Dewi Sartika yang kondisinya memburuk sesekali
digantikan oleh anak bugsunya, Dewi Ine Tardine, yang akrab disapa Ibu Ine.
*Perlu diketahui bahwa Dewi Sartika dua kali mendapat penghargaan dari Pemerintah Hindia
Belanda yakni pada tahun 1922 dan 1939. Pada tahun 1922 beliau dianugerahi Bintang Perak
oleh pemerintah Hindia Belanda, dan tahun 1939 diberi penghargaan yang lebih tinggi lagi
yakni Bintang Emas. Hal ini berarti membantah penyataan yang mengatakan bahwa Raden
Dewi Sartika dilingkungan orang-orang Belanda tidak begitu dikenal. Fakta ini juga
terbantahkan dengan data bahwa perhatian publik atas keberadaan Sakola Kautamaan Istri
cukup bagus karena di tahun 1913 Sakola Kautamaan Istri sempat dikunjungi oleh Gubernur

18

Jenderal Idenburg.Kemudian pada tahun 1916 Sakola Kautamaan Istri dikunjungi


oleh Nyonya Limburg van Stirum(istri dari Gubernur Jenderal yang baru).
Sosok Dewi Sartika tidak begitu dikenal kiprahnya dalam skala nasional. Padahal di masa
beliau, beliau ikut andil dalam memperjuangankan hak-hak perempuan-perempuan Indonesia
dalam skala nasional dan bahkan memperjuangkan kemajuan pendidikan orang-orang
Indonesia. Sebab beliau percaya dengan mendidik seorang perempuan yang kelak akan
mendampingi suaminya dan mendidik anak-anaknya, maka itu berarti beliau telah mendidik
sebuah bangsa.
Indonesia memiliki banyak pejuang perempuan. Tidak hanya Kartini seorang. Kehadiran Hari
Kartini tidak menjadi alasan untuk mengagungkan ketokohan seorang Kartini yang karya dan
jasa belum tentu melebihi karya dan jasa pahlawan perempuan yang lain. Kartini hanya
menjadi simbol bagi Emansipasi Wanita, namu Dewi Sartika layak menjadi simbol bagi
PERJUANGAN Emansipas Wanita.

2.8 KEBEBASAN DALAM EMANSIPASI


Kebebasan dari emansipasi adalah kebebasan dari perbudakan, persamaaan hak dalam
berbagai aspek kehidupan masyarakat, misal : persamaan hak, seperti kaum wanita dengan
kaum pria. Di zaman modern seperti sekarang ini banyak kaum wanita menganggap bahwa
emansipasi menunjukkan tidak ada lagi diferensiasi antara kaum wanita dengan kaum pria
dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat.
Masalah inilah yang timbul dan saat ini menjadi kendala besar untuk meningkatkan martabat
kaum wanita, padahal menurut ilmu histories, pelopor emansipasi kaum wanita R.A Kartini
menguraikan bahwa emansipasi bertujuan untuk membebaskan kaum wanita dari perbudakan
dan keterbelakangan, misal pada waktu dijajah pada pada waktu dijajah oleh bangsa Belanda
kaum wanita tidak diperbolehkan untuk sekolah seperti kaum pria, kaum wanita pada waktu
itu hanya dijadikan budak penjajah dan mengurusi semua keperluan dapur. Maka dari itu
emansipasi dijadikan sebagai tonggak baru untuk mengangkat dan memajukan derajat kaum

19

wanita dan untuk bias mewujudkannya beliau mendirikan sebuah sekolah yang khusus untuk
kaum wanita.
Semenjak terdapat sekolah untuk kaum wanita yang didirikan R.A Kartini, banyak putrid
bangsa ini yang mampu meningkatkan martabat kaum wanita dengan kepandaian dan
keuletannyadalam berbagai bidang.Terbukti di zaman modern sekarang ini yang sudah
merdeka, banyak anak- anak sekolah yang berprestrasi bahkan sebagian besar prestasi banyak
diraih oleh kaum wanita.
Tetapi dengan adanya prestasi-prestasi itulah kaum wanita sekarang merasa bias menandingi
kemampuan dan berbagai kegiatan yang dimiliki kaum pria, misalkan saja dalam hal pacaran
seorang wanita tidak malu untuk menyatakan perasaannya kepada kaum pria dan juga dalam
hal kegiatan olahraga, seni, dll. Biasanya jika terdapat kejadian seperti orang-orang akan
mengatakan bahwa ini adalah zamannya emansipasi, jadi harus menyamakan dengan kaum
pria. Tetapi itu merupakan sebuah kesalahan, kita pasti sudah tahu bahwa kodrat kaum wanita
pasti dibawahnya kaum pria dan bila kaum wanita di atas kaum pria itu tidak akan terjadi
bahkan itu bisa menjatuhkan kehormatan dan martabat kaum wanita itu sendiri di mata
masyarakat.
Kesalahan kaum wanita yang lain adalah merokok, minum-minuman keras, pecandu narkoba,
pergaulan bebas, dan masih banyak lagi, bukankah itu semua dilarang oleh agama islam baik
kaum pria dan kaum wanita. Masalah lainnya yaitu bolos sekolah untuk anak-anak yang
masih sekolah dan pecandu narkoba untuk orang yang suka memakai, kalau kedua hal itu
sudah jelas ada dalam UUD dan pasti orang yang melakukannya akan mendapatkan
hukuman. Jadi disini jika sampai ketahuan terdapat kaum wanita yang melakukannya, dimana
rasa malu mereka ?dan dimana rasa kasihan mereka terhadap kaum wanita lainnya ? yang
tidak tahu apa-apa tetapi malah menerima dampak buruknya.
Dengan adanya masalah-masalah yang terjadi di atas, sudah dapat disimpulkan bahwa
emansipasi, awalnya memang sebuah kemajuan tetapi di akhir berbanding terbalik, yaitu
kemunduran yang didapatkan mungkin itu semua didasari karena masalah intern, misal :
terlalu dibebaskan pergaulan kita oleh orang tuanya, tidak diperhatikan keluarganya atau
ditinggal bekerja orang tuanya, jadi emansipasi disini termasuk kebebasan yang kebablasan.
Jadi sebaiknya para orang tua harus hati-hati menjaga anak-anaknya, khususnya anak
perempuan khususnya dalam bidang pergaulan. Apalagi anak-anak remaja perempuan
sekarang mudah sekali untuk dirayu, dibujuk dan dipengaruhi, jadi jangan sampai orang tua

20

membebaskan anak-anak perempuanya dalam pergaulan karena akan cepat merubah


perkembangannya dan itu adalah perkembangan yang negative. Dan bagi perempuanperempuan dewasa yang dianggap sudah bisa mengatur diri sendiri harus tetap diawasi dalam
pergaulan, misal : hal pacaran, orang tua harus tetap membatasinya, karena jika terlalu
dibebaskan mungkin hanya akan mengakibatkan penyesalan bagi semua oran terutama orang
tua.

2.9 EMANSIPASI PEREMPUAN DI ERA GLOBALISASI


Seiring dengan perkembangan zaman, melalui gerakan emansipasi ini, perempuan Indonesia
akhirnya dapat mensejajarkan diri dengan kaum pria dalam berbagai bidang kehidupan, baik
di bidang politik, ekonomi maupun sosial. Perempuan sudah dapat men-duduki posisi-posisi
penting di bidang birokrasi. Perempuan juga sudah dapat berkiprah di bidang politik. Selain
itu, perempuan juga sudah banyak yang sukses di bidang sosial dan ekonomi.
Di era globalisasi ini, perempuan tidak hanya bekerja di lingkungan rumah ataupun melayani
suami walaupun hal tersebut adalah salah satu kewajiban perempuan mengikuti kodratnya.
Akan tetapi, perempuan juga dapat berperan untuk bangsa di ranah politik, ekonomi dan
sosial. Bukti nyata dari hal tersebut dapat dilihat pada Pasal 65 ayat 1 UU (UndangUndang) Nomor 12 Tahun 18 Februari 2003 yang berbunyi Setiap partai politik peserta
pemilu dapat mengajukan calon anggota DPR (Dewan Perwakilan Rakyat), DPRD (Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah) provinsi dan DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah)
kabupaten/kota untuk setiap daerah pemilihan dengan memperhatikan keterwakilan
perempuan sekurang-kurangnya 30%. Ketentuan dari UU (Undang-Undang) di atas
merupakan tindak lanjut dari konvensi PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa), yaitu persoalan yang
menyangkut penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Selain itu, Uni
Antar Parlemen (Inter Parliamentary Union) pada tahun 1997 di New Delhi mendeklarasikan
Hak politik perempuan harus dianggapi sebagai satu kesatuan dengan hak asasi manusia.
Oleh karena itu, hak politik perempuan tidak dapat dipisahkan dari hak asasi manusia. UU
(Undang-Undang) dan konvensi PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) tersebut menandakan
bahwa dalam ranah politik peran perempuan sudah mulai diakui dan diperhitungkan.
Di bidang ekonomi, tidak sedikit perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga atau
membantu suami bekerja. Bahkan, ada beberapa perempuan yang mengerjakan pekerja-an
laki-laki sebagai supir bus. Hal ini terlihat pada Perusahaan Transjakarta Busway yang

21

memiliki 80 pengemudi perempuan. Dalam bidang sosial, perempuan yang dulu lekat dengan
stigma kasur, sumur, dan dapur sekarang telah mampu bangkit dan menggeser stigma kasar
tersebut. Bahkan, dalam bidang sosial ini kaum perempuan telah memiliki benteng untuk
melindungi diri dari pengaruh globalisasi dalam bidang sosial ini. Kaum perempuan telah
dilindungi oleh UU (Undang-Undang) pornografi dan pornoaksi yang banyak menyita
perhatian khalayak. Pada hakikatnya UU (Undang-Undang) tersebut adalah sebuah bentuk
perlindungan kehormatan perempuan yang dijadikan bahan eksploitasi oleh pihak-pihak yang
berkepentingan.
Beberapa perempuan Indonesia sudah membuktikan kepada bangsa bahwa mereka mampu
memegang peran penting dalam membangun bangsa. Salah satu dari mereka adalah Mari
Elka Pangestu seorang ekonom Indonesia kelas dunia. Kita juga mengenal Susi Susanti yang
sudah mengharumkan nama Indonesia dalam bidang olahraga (bulu tangkis), beliau adalah
peraih piala emas Olimpiade Bercelona pada tahun 2002. Sosok yang masih tergambar jelas
di hati rakyat adalah mantan presiden kelima kita yaitu Megawati Soekarnoputri, wanita
pertama yang pernah memerintah negara ini. Mereka semua adalah pelaku emansipasi
perempuan. Mereka memanfaatkan jasa Raden Ajeng Kartini tersebut untuk membekali diri
mereka sendiri dengan keahlian, pengetahuan, dan wawasan berfikir yang luas. Mereka
mencari dan menggali potensi mereka tanpa menuntut selalu diistimewakan sebagai
perempuan. Ibu kita Kartini pasti bangga pada mereka.
Lain halnya dengan generasi sekarang, perempuan generasi muda sekarang sudah telah
banyak terlena dan terombang-ambing oleh arus globalisasi yang semakin mewarnai dan
meracuni bangsa. Tidak sedikit efek dari era globalisasi ini berpengaruh negatif sehingga
tidak menutup kemungkinan partisipasi perempuan dalam pembangunan bangsa pada masa
mendatang tidak dapat berjalan, sehingga tidak ada lagi pembuktian bahwa perempuan
mampu berdiri membangun bangsa. Bahkan, persoalan ini apabila dibiarkan dan tidak ada
usaha untuk melakukan perbaikan akan dapat menciptakan generasi muda yang bimbang dan
tidak memiliki masa depan yang pasti.
Dewasa ini emansipasi seringkali disala artikan. Emansipasi sering kali menjadi alasan yang
dicari bagi kaum perempuan, khususnya remaja putri untuk mendapatkan kebebasan seluasluasnya, dan seringkali berlebihan kadarnya. Kita bisa melihat fakta-fakta yang terjadi di era
ini, seperti riset yang dilakukan yang menyatakan bahwa dari data yang dihimpun dari 100
remaja, terdapat 51 remaja perempuannya sudah tidak lagi perawan. Hasil Riset ini

22

disampaikan oleh Sugiri kepada sejumlah media dalam Grand Final Kontes Rap dalam
memperingati Hari AIDS sedunia di lapangan parkir IRTI Monas, Minggu (28/ 11/2010).
Sugiri juga merincikan bahwa di Surabaya perempuan yang sudah tidak perawan lagi
mencapai 54%, di Medan 52%, serta Bandung mencapai 47% dan data ini dikumpulkan
selama kurun waktu 2010 saja. Selain itu, lebih ekstrim lagi jika kita membicarakan pelacuran anak gadis di bawah umur. Wajah lugu dan pikiran yang masih polos diracuni oleh pahampaham hidup senang secara praktis. Sungguh mengerikan, karena paham itu ditanamkan
orang tua mereka sendiri. Akibatnya, tidak jarang kita temui orang tua yang tega menjual
anaknya demi materi. Selebihnya dilakukan sendiri oleh si perempuan muda tersebut dengan
alasan untuk mendapatkan hidup yang lebih layak dan untuk menghidupi orangtuanya di
rumah. Perbuatan ini tanpa mereka sadari telah menjatuhkan harga diri perempuan secara
global.
Permasalahan di atas menyebabkan status perempuan semakin tenggelam dalam kekelaman
masa. Harapan, angan-angan untuk maju telah ternoda dengan kenyataan tersebut. Akibat dari
permasalahan tersebut, perempuan semakin direndahkan. Tidak ada lagi rasa nasionalisme
mengingat jasa pahlawan yang sudah memperjuangkan emansipasi. Harga diri wanita yang
semakin rendah dengan perbuatan keji seperti itu jelas-jelas Raden Ajeng Kartini kecewa.
Kecewa

dengan

kaum

penerusnya

yang

menyalahgunakan

perjuangannya

untuk

meningkatkan harkat perempuan. Pembebasan atas diskriminasi pada perempuan seharusnya


dimanfaatkan untuk mengembangkan dan membangkitkan eksistensi kaum perempuan secara
terhormat, bukan menginjak dan menurunkan harga diri kaum perempuan itu sendiri.
Di zaman yang semakin maju dan semakin pesat ini apakah emansipasi perempuan akan
dibiarkan seperti ini? Mengingat perjuangan para pahlawan yang mengabdikan dirinya hanya
untuk bangsa tercinta ini. Sedikit pun mereka tidak mau menurunkan harga diri meski harus
kehilangan nyawa.
Masih rendahnya keterlibatan dan partisipasi perempuan khususnya generasi muda di dalam
pembangunan ekonomi, sosial, politik dan bidang lainnya yang bersifat membangun bangsa
ditambah lagi oleh efek negatif globalisasi yang mempengaruhi pikiran-pikiran gene-rasi
muda (perempuan) bangsa harus menjadi musuh bersama kita, dalam rangka menyukses-kan
pembangunan menyeluruh di negeri ini.
Demi membangun bangsa ini agar menjadi lebih baik lagi, kaum perempuan tidak boleh
melupakan hakikatnya sebagai seseorang perempuan yang mempunyai sumber ke-lembutan.

23

Sudah selayaknya kaum perempuan perlu menyadari akan kodratnya. Perempuan diharapkan
bisa menjadi pendidik pertama dan utama bagi anak-anak yang dilahirkannya. Menjadi Ibu
yang dapat membimbing mereka menjadi anak yang kuat, cerdas, dan mem-punyai etika yang
baik agar dapat berguna bagi bangsa, negara, dan agama. Itulah sebenarnya peran wanita
yang utama selain berbagai peran di ketiga bidang kehidupan ekonomi, politik dan sosial.
Wanita dituntut untuk menjalani kehidupan sesuai perannya masing-masing. Wanita telah
menjadi sosok yang harus di hormati dan dilindungi dari berbagai kekerasan dan
penganiayaan. Namun, wanita juga harus sadar akan tugas utamanya. Tugas ini mampu untuk
menyadarkan perempuan generasi muda untuk menjadi perempuan yang terhormat, berharga
dan sebagai kebanggaan bangsa.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah dan jasa-jasa
pahlawannya yang berjuang hanya untuk bangsa tercinta ini ujar Ir. Soekarno. Kita seharusn
ya dapat meman-faatkan emansipasi perempuan yang sudah diperjuangkan para oleh para
pendahulu kita dengan sebaik-baiknya, yaitu membekali diri untuk berpartisipasi membangun
bangsa ini, mengharumkan nama kaum perempuan, membuat bangga bangsa dan tidak
menjadi seseorang yang menjatuhkan martabatnya sebagai seorang perempuan.
Emansipasi perempuan ini seharusnya dapat men-jadikan generasi muda perempuan yang
cerdas bukan menjadi lemah. Jadikan perempuan sebagai subjek bagi bangsa ini dan tidak
hanya menjadi objek. Sekaranglah saatnya generasi muda perempuan mencatatkan dirinya
sebagai pelaku emansipasi yang mampu berdiri meng-ambil peran penting untuk membangun
bangsa yang tercinta ini.

24

3.2 Saran
kita sebaiknya sebagai generasi muda terutama sebagai perempuan harus bisa menghargai
semua perjuangan para pahlawan wanita, dan tidak hanya sebatas menghargai saja tapi bisa
menjalankan segala hak dan kewajiban kita sebagai perempuan dengan sebaik baiknya .