Anda di halaman 1dari 16

Muhammadiyah dan Ekonomi

Jiwa ekonomi Muhammadiyah, sebetulnya sudah terlihat dari profil kehidupan pendirinya. Adalah
KH. Ahmad Dahlan yang bekerja sebagai pedagang batik (bussinessman) di samping kegiatan sehariharinya sebagai guru mengaji dan khatib. KH. Ahmad Dahlan sering melakukan perjalan-an ke
berbagai kota untuk berdagang. Dalam perjalanan bisnisnya, KH. Ahmad Dahlan selalu membawa misi
dakwah Islamiyah. Naluri dan aktivitas bisnisnya tentu disinari oleh ajaran Islam, sehingga tingkah laku
yang dilakukannya dicontoh dan menjadi inspirasi bagi para pengikutnya.
Kepada para aktivis organisasi dan para pendukung gerakannya, KH. Ahmad Dahlan berwantiwanti: Hidup-hidupilah Muhammad-iyah, dan jangan hidup dari Muhammadiyah. Himbauan ini
menimbul-kan konsekuensi tertentu. Warga Muhammadiyah tidak bisa memper-juangkan kepentingan
ekonominya lewat organisasi ini. Mereka hanya menyumbangkan harta dan tenaganya untuk dakwah
dan amal usaha, misalnya mendirikan sekolah dan panti asuhan anak yatim piatu atau menyantuni
fakir miskin (Dawam Rahardjo, 1995:48).
Lebih lanjut Dawam mengatakan, konsekuensi yang lain adalah bahwa untuk memperjuangkan
kepentingan ekonominya, mereka harus memajukan usahanya agar bisa membayar zakat, shadaqah,
infaq atau memberi wakaf, warga Muhammadiyah harus menengok ke organisasi lain. Pada waktu itu,
yang bergerak di bidang sosial-ekonomi adalah Sarekat Dagang Islam (SDI), kemudian bernama
Sarekat Islam (SI) itu. Itulah sebabnya warga Muhammadiyah sering berganda keanggotaan,
Muhammadiyah dan Sarekat Islam.
Warga Muhammadiyah di kota-kota Industri, seperti Yogyakarta, Pekalongan, Solo, Tasikmalaya,
Tulungagung, dan kota lainnya meru-pakan tulang punggung gerakan koperasi, terutama koperasi
batik. Tetapi aktivitas mereka tidak atas nama Muhammadiyah, walaupun langkah tokoh-tokoh
koperasi tersebut sangat jelas keberpihakannya kepada Muhammadiyah.
Dari ulasan di atas, jelaslah bahwa Muhammadiyah lahir dari para pedagang (entrepreneur), dan
ternyata para pengurus Muhammadiyah pada perkembangannya hingga mencapai tingkat kejayaan,
juga lebih didominasi oleh para pebisnis yang memiliki misi yang jelas terhadap perjuangan amar
maruf nahi munkar. Fakta tersebut tentu berimplikasi positif pada eksistensi lembaga dan
pemberdayaan ekonomi bagi tubuh Muhammadiyah.
Musthafa

Kamal

Pasha

(2003:135)

mengemukakan

bahwa

dengan

maksud

dan

tujuan

Muhammadiyah yang luas dan besar itu, luas dan besar pula amal usaha Muhammadiyah. Sudah
barang tentu pada mula-mula usahanya belum sebesar yang ada sekarang ini, lebih-lebih pada saat
itu banyak pula rintangan dan halangan yang dihadapi, baik dari ulama-ulama yang belum dapat
menerima cara pemahaman agama Islam KH Ahmad Dahlan, maupun kaum pemegang adat yang
gigih mempertahankan tradisi nenek-moyangnya. Segala rintangan dan halangan tersebut, sama

sekali tak mengurangi usaha Muhammadiyah. Dengan segala kesabaran dan keuletannya, KH. Ahmad
Dahlan terus berusaha mengatasinya tanpa memperhatikan betapa beratnya rintangan dan halangan.
KH. Ahmad Dahlan juga selalu mengajarkan dalam pengajiannya bahwa Islam tidak hanya bersifat
ucapan, akan tetapi harus diaplikasi-kan dalam serangkaian aksi nyata berupa amalan yang konkrit
dalam berbagai bidang. Sebagai organisasi gerakan Islam, di samping mengem-bangkan bidang
pendidikan, sebenarnya Muhammadiyah pun telah merintis gerakan-gerakan sosial sejak didirikan.
Namun secara kelem-bagaan, Muhammadiyah baru melakukan aksi sosial berupa pembagian zakat
fitrah khususnya untuk fakir miskin sejak tahun 1926. Pada tahun sebelumnya, tepatnya tahun 1921,
Muhammadiyah

memprogramkan

perbaikan

ekonomi

rakyat,

salah

satunya

adalah

dengan

membentuk komisi penyaluran tenaga kerja pada tahun 1930. Pada perkembangan selanjutnya, tahun
1959 mulai dibentuk jamaah Muhammadiyah di setiap cabang dan terbentuknya dana dakwah.
Usaha Muhammadiyah memperbaiki ekonomi anggota dan umat mendorong rencana kongres
besar produksi dan niaga Muhammadiyah pada tahun 1966. Dua tahun berikutnya, tahun 1968,
Muktamar ke-37 di Yogyakarta menetapkan program Pemasa (Pembangunan Masyarakat Desa),
sehingga dibentuk Biro pemasa sebagai pelaksana. Pokok pan-dangan Muhammadiyah terhadap
pembangunan

desa

tersebut

meru-pakan

strategi

dakwah

pengembangan

masyarakat

yang

berorientasi pedesaan. Selanjutnya dalam menanggapi permasalahan bidang eko-nomi khususnya


Bank, Muhammadiyah menetapkan bahwa bunga Bank yang dikelola oleh swasta hukumnya haram.
Sementara

Bank

Peme-rintah,

Muhammadiyah

mengambil

keputusan

bahwa

hukumnya mutasyabihaat (Abdul Munir Mulkhan, 1990:115).


Dalam hal kerjasama dalam bidang perbankan, Muhammadiyah pernah menandatangani
kerjasama dengan Bank Rakyat Indonesia di Jakarta. Pertimbangan sikap Muhammadiyah terhadap
bunga Bank dan kerjasama tersebut waktu itu adalah kepentingan umum. Permasalahan ekonomi dan
bank kembali muncul ke permukaan dalam Muktamar Tarjih di Malang pada tahun 1989 dalam pokok
acara Asuransi dan Koperasi Simpan Pinjam.
Program-program ekonomi yang dirancang ternyata menjadi dorongan untuk terbentuknya Majelis
Ekonomi Muhammadiyah. Penegasan peran Muhammadiyah untuk terlibat dalam problematika
perekonomian nasional, terlahir pada Muktamar ke-41 di Solo tahun 1985 dengan terbentuknya Majelis
Ekonomi Muhammadiyah secara resmi. Namun yang sangat disayangkan adalah perkembangan
Majelis Ekonomi tersebut mengalami kevakuman lebih dari sepuluh tahun. Anwar Ali Akbar dan Masud
(2002:117) mengemukakan bahwa kevakuman majelis ini karena memang hanya diorientasikan
sebagai advokasi bagi problem-problem perekonomian nasional. Sadar akan hal itu, tepatnya pada
Muktamar ke-43 di Banda Aceh, akhirnya nama Majelis Ekonomi Muhammadiyah diubah menjadi
Majelis Pembina Ekonomi Muhammadiyah (MPEM). Tentunya hal ini mempunyai tujuan agar terjadi
perubahan orientasi yang terfokus pada misi pem-berdayaan dan pembinaan ekonomi umat.

Majelis Pembina Ekonomi Muhammadiyah di bawah kepemimpinan Amien Rais merumuskan visi
dan misinya ke dalam tiga jalur, yaitu: 1) mengembangkan badan usaha milik Muhammadiyah (BUMM)
yang merepresentasikan kekuatan ekonomi organisasi Muhammadiyah, 2) mengembangkan wadah
koperasi bagi anggota Muhammadiyah, dan 3) memberdayakan angota Muhammadiyah di bidang
ekonomi dengan mengembangkan usaha-usaha milik anggota Muhammadiyah.
Dalam upaya membumikan visi dan misi guna terciptanya pember-dayaan ekonomi umat, pada
dasarnya Muhammadiyah telah memiliki modal yang memadai. Sebagaimana dikemukakan Anwar Ali
Akbar dan Masud (2002:117), selama ini Muhammadiyah sudah banyak me-miliki aset atau
sumberdaya yang bisa dijadikan modal, diantaranya: pertama, sumberdaya manusia. Sebagai
organisasi yang berbasis massa masyarakat perkotaan, Muhammadiyah mempunyai SDM maju yang
sangat

beragam

dan

berpendidikan; kedua,

lembaga

yang

telah

didirikan.

Pada

awal

perkembangannya, Muhammadiyah telah berhasil mendirikan berbagai macam bangunan sesuai


dengan

fungsi

dan

orientasi

masing-masing

yang

juga

bisa

dioptimalkan

sebagai

wadah

pemberdayaan eko-nomi umat; ketiga, organisasi Muhammadiyah, dari pusat sampai ke ranting.
Majelis Pembina Ekonomi Muhammadiyah (MPEM) kembali berubah nama menjadi Majelis Ekonomi PP
Muhammadiyah pada Muktamar ke-44 di Jakarta.
Namun, sebagaimana diungkap Muarif (2005:223), dalam persoalan ekonomi ini,Persyarikatan
Muhammadiyah mengalami posisi dilematis. Di satu sisi, visi ekonomi ketika hendak membangun
perekonomian

yang

tangguh

haruslah

didasarkan

pada

profesionalisme.

Adapun

untuk

mengantarkannya pada profesionalisme itu biasanya menggunakan cara yang mengarah pada dunia
bisnis kapitalis. Hal ini tentunya bertolak belakang dengan visi kerakyatan yang pada awal berdirinya
persyari-katan menjadi agenda utama.
b. Sebuah Gugatan
Amal usaha muhammadiyah yang berkembang pesat, terutama pendidikan berdiri lebih
dilatarbelakangi oleh proses bottom up. Artinya kebanyakan sekolah-sekolah Muhammadiyah yang
tersebar di negeri ini, mulanya didirikan oleh warga Muhammadiyah secara pribadi atau yayasan lokal.
Kemudian setelah lembaga tersebut eksis, dikonversi menjadi sekolah Muhammadiyah. Jadi,
Muhammadiyah secara kelem-bagaan dalam hal ini hanya menjadi fasilitator, bukan inisiator. Yang
menjadi inisiator adalah warga Muhammadiyah yang mempunyai komit-men bagi kelangsungan
gerakan dakwah Muhammadiyah. Hampir semua sekolah Muhammadiyah yang berasal dari wakaf
warga Muhammadiyah yang telah dirintis dengan susah payah, dan setelah survive, mereka rela
menyerahkannya kepada Muhammadiyah.
Fenomena yang terjadi di sektor pendidikan tidak terjadi pada bidang ekonomi. Badan-badan
usaha di Muhammadiyah, semuanya lahir secara top down. Dalam hal ini, Muhammadiyah secara

institusi menjadi inisiator, bukan menjadi fasilitator. Sebut saja, PT. Solar Global dan Bank
Persyarikatan. (edit)
Sampai saat ini diakui bahwa belum ada Badan Usaha Milik Muham-madiyah atau lembaga ekonomi
lainnya yang bisa diandalkan. Harus diakui bahwa pada point ini, Muhammadiyah itu kalah oleh
organisasi masyarakat atau yayasan keagamaan lainnya. Sebut saja Daaruttauhid sebagai pendatang
baru yang telah mampu membangun dan mengem-bangkan keran-keran ekonomi yang dapat
menghidupkan eksistensi lembaga dan memberikan manfaat kepada masyarakat terutama secara
ekonomi.
Memang benar adanya, jika dikatakan bahwa Muhammadiyah me-lalui MPEM telah mendirikan 550
unit koperasi di seluruh Indonesia. Kemudian dari koperasi-koperasi yang ada dikembangkan menjadi
BMT (Baitul Maal wat Tamwil). Namun pertanyaan kemudian, Koperasi atau BMT mana yang mampu
menuai keberhasilan? (edit)
Pertanyaan selanjutnya, kenapa sektor perekonomian di tubuh Muhammadiyah begitu terpuruk?
Atau berbanding terbalik dengan sektor pendidikan?. Hal ini dikarenakan oleh,pertama, terjadi
perubahan paradigma di tubuh Muhammadiyah. Perubahan paradigma ini berawal dari karakter
kepemimpinan yang dibangun. Sebagaimana telah dijabar-kan bahwa Muhammadiyah lahir dan
dikembangkan oleh naluri para pedagang. Sedangkan periode penerusnya banyak dipimpin oleh para
pegawai atau karyawan yang kurang memiliki naluri bisnis, sehingga bisnis apapun yang
dikembangkan sulit berkembang, bahkan mem-bahayakan Muhammadiyah itu sendiri. Kedua, proses
yang terjadi adalah top down bukanbottom up. Peran Muhammadiyah bukan sebagai fasilitator bagi
warganya untuk berjuang secara ekonomi tetapi malah menjadi inisiator yang kerap kali menimbulkan
masalah. Masalah yang terjadi juga dilatarbelakangi oleh berbagai hal, seperti keterbatasan
sumberdaya, kurangnya amanah, serta faktor lainnya.
C. Bangkit dari Nol
Keterpurukan yang dialami Muhammadiyah dalam bidang ekonomi seyogyanya menjadi pelajaran
berharga. Muhammadiyah dituntut untuk melakukan terobosan baru dan langkah konkrit untuk
membangkitkan ekonominya, sehingga bisa menghidupkan eksistensi lembaga dalam rangka
menjalankan peran dan fungsinya, serta dalam melakukan pem-berdayaan ekonomi umat pada
umumnya. Kasus Bank Persyarikatan yang telah mengotori Muhammadiyah menjadi pelajaran
berharga.
Pada bagian lain, sektor pendidikan dan kesehatan nampaknya bi-dang yang menonjol di
Muhammadiyah. Ironisnya, walaupun tidak profit oriented dalam melakukan aktivitasnya, namun
lembaga pendidikan dan rumah sakit yang dimiliki Muhammadiyah terbukti memiliki andil yang sangat
besar dalam menghidupkan eksistensi persyarikatan. Sektor ini telah membantu eksistensi setiap level
kepemimpinan di Muhammad-iyah, baik dari sisi finansial, apalagi dalam pembentukan kader persyarikatan sehingga diyakini bahwa sektor inimempunyai potensi besar untuk dikembangkan lebih jauh
dan lebih besar.

Kembali

ke

permasalahan

ekonomi,

Muhammadiyah

perlu

melaku-kan

revitalisasi

yang

dijawantahkan dalam berbagai langkah aksi yang strategis dalam mengembangkan bidang tersebut.
Terobosan yang di lakukan hendaknya sistematis dan mempertimbangkan kondisi realitas secara
matang. Beberapa langkah di bawah ini nampaknya perlu diper-timbangkan Muhammadiyah untuk
bangkit dari nol, serta menata kem-bali pranata ekonomi yang mengalami degradasi dan menyedihkan
itu. Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:
Pertama,

kembali

ke

khittah

atau

paradigma

awal

dalam

pengem-bangan

ekonomi

Muhammadiyah, yaitu bottom up. Di samping itu, adalah mempersiapkan sumberdaya manusia yang
jujur dan amanah. Pengala-man menunjukkan bahwa tidak sedikit manusia cerdas yang bergabung
dan turut berkiprah di Muhammadiyah. Namun kenapa terjadi keter-purukan? Salah satu sebab
utamanya adalah kurangnya amanah dan kejujuran pada mereka yang mengelola lembaga-lembaga
yang ada di Muhammadiyah. Menanamkan sikap tersebut bukan sesuatu yang seder-hana, seluruh
anggota Muhammadiyah perlu melakukan re-thinking tentang Muhammadiyah itu sendiri. Ideologi
Perjuangan Muhammad-iyah amar maruf nahi munkar harus benar-benar tertanam dalam jiwa
seluruh anggota Muhammadiyah.
Kedua, revitalisasi Majelis/ lembaga/ badan usaha yang dimiliki dari pusat sampai ke ranting. Jika
dicermati secara seksama, terlihat jelas bahwa lembaga ekonomi yang dimiliki dari pusat sampai
ranting telah mengalami kehilangan elan vitalnya serta kehilangan orientasi. Hal ini harus menjadi
perhatian yang serius bagi semua warga Muhammadiyah.
Ketiga, menjalin kerjasama ekonomi dengan lembaga yang jelas, se-hingga terciptanya sebuah
kerjasama yang menguntungkan kedua belah pihak (simbiosis mutualisme). Kerjasama bisnis yang
dibangun harus ter-buka dengan lembaga manapun asalkan dalam kerangka kemaslahatan.
Keempat, membentuk badan usaha yang secara realitas dapat dikem-bangkan. Sebenarnya,
membuka mini market bukanlah sesuatu yang rumit bagi Muhammadiyah. Namun mengapa tidak
dilakukan?. Mungkin paradigma kita lebih senang memandang langit dari pada menginjak bumi.
Kelima, dibentuknya Lembaga Audit sebut saja Majelis Pemeriksaan Keuangan Muhammadiyah
(MPK-M)

yang

dapat

memeriksa

dan

meng-evaluasi

kondisi

keuangan

seluruh

amal

usaha

Muhammadiyah. Majelis tersebut yang tentunya diisi oleh personal yang jujur dan amanah pun
dapat menjadi dewan pertimbangan terhadap rencana-rencana eko-nomi Muhammadiyah. Kasakkusuk yang terjadi pada awal pendirian Bank Persyarikatan semestinya tidak boleh terjadi, karena jika
MPKM hadir di Muhammadiyah, tentunya Bank Swansarindo yang dikonversi menjadi Bank
Persyarikatan terlebih dahulu harus masuk laboratorium MPK-M.
Akhirul kalam, semua warga Muhammadiyah tentu berharap bahwa Muktamar ke-45 di Malang
akan menghasilkan keputusan yang tepat, khususnya berkaitan dengan permasalahan ekonomi di
tubuh Muham-madiyah. Muktamar juga diharapkan menghasilkan langkah konkrit bagi kebangkitan
ekonomi Muhammadiyah. Semoga ![ ]

S.M. Hasanuzzaman, ilmu ekonomi Islam adalah pengetahuan dan aplikasi ajaran-ajaran
dan aturan-aturan syariah yang mencegah ketidakadilan dalam pencarian dan
pengeluaran sumber-sumber daya, guna memberikan kepuasan bagi manusia dan
memungkinkan mereka melaksanakan kewajiban-kewajiban mereka terhadap Allah dan
masyarakat.
Ciri Ekonomi Islam

Tidak banyak yang dikemukakan dalam Al Qur'an, dan hanya prinsip-prinsip yang
mendasar saja. Karena alasan-alasan yang sangat tepat, Al Qur'an dan Sunnah
banyak sekali membahas tentang bagaimana seharusnya kaum Muslim berprilaku
sebagai produsen, konsumen dan pemilik modal, tetapi hanya sedikit tentang
sistem ekonomi. Ekonomi dalam Islam harus mampu memberikan kesempatan
seluas-luasnya kepada setiap pelaku usaha. Selain itu, ekonomi islam menekankan
empat sifat, antara lain:

Kesatuan (unity)
Keseimbangan (equilibrium)
Kebebasan (free will)
Tanggungjawab (responsibility)
Manusia sebagai wakil (khalifah) Tuhan di dunia tidak mungkin bersifat
individualistik, karena semua (kekayaan) yang ada di bumi adalah milik Allah
semata, dan manusia adalah kepercayaannya di bumi. Didalam menjalankan
kegiatan ekonominya, Islam sangat mengharamkan kegiatan riba, yang dari segi
bahasa berarti "kelebihan".

Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam


Secara garis besar ekonomi Islam memiliki beberapa prinsip dasar:

Berbagai sumber daya dipandang sebagai pemberian atau titipan dari Allah
swt kepada manusia.
Islam mengakui pemilikan pribadi dalam batas-batas tertentu.
Kekuatan penggerak utama ekonomi Islam adalah kerja sama.
Ekonomi Islam menolak terjadinya akumulasi kekayaan yang dikuasai oleh
segelintir orang saja.
Ekonomi Islam menjamin pemilikan masyarakat dan penggunaannya
direncanakan untuk kepentingan banyak orang.
Seorang mulsim harus takut kepada Allah swt dan hari penentuan di akhirat
nanti.
Zakat harus dibayarkan atas kekayaan yang telah memenuhi batas (nisab)
Islam melarang riba dalam segala bentuk.
Konsep Dasar
Dengan konsep dasar merujuk kepada Ayat-ayat dan Hadits-hadits yang menolak
banyak kegiatan transaksi dan kontrak ini, beberapa usaha kaum Muslim telah
berhasil membuat suatu konsep dasar keuangan Islam untuk mewujudkan suatu
konsep keuangan alternatif yang berlandaskan Syariah yang mereka dambakan

selama ini. Bermula dengan usaha Ahmed El-Naggar pada tahun 1963 di Mesir
dengan mendirikan sebuah bank lokal yang menghindarkan segala transaksinya
dari riba (berlandaskan syariah) dan diikuti oleh banyak usaha akademisi dan
praktisi

dari

kaum

Muslim

lainnya.

Dan kini, perkembangan keuangan Islam semakin pesat di berbagai belahan dunia
Timur dan Barat, dan semakin diminati oleh banyak orang untuk dipelajari secara
lebih mendalam.

Perbedaan Ekonomi Islam Dengan Ekonomi Konvensional.


Krisis ekonomi yang sering terjadi ditengarai adalah ulah sistem ekonomi
konvensional, yang mengedepankan sistem bunga sebagai instrumen provitnya.
Berbeda dengan apa yang ditawarkan sistem ekonomi syariah, dengan instrumen
provitnya, yaitu sistem bagi hasil. Sistem ekonomi syariah sangat berbeda dengan
ekonomi kapitalis, sosialis maupun komunis. Ekonomi syariah bukan pula berada
ditengah-tengah ketiga sistem ekonomi itu. Sangat bertolak belakang dengan
kapitalis yang lebih bersifat individual, sosialis yang memberikan hampir semua
tanggungjawab kepada warganya serta komunis yang ekstrim, ekonomi Islam
menetapkan bentuk perdagangan serta perkhidmatan yang boleh dan tidak boleh di
transaksikan. Ekonomi dalam Islam harus mampu memberikan kesejahteraan bagi
seluruh masyarakat, memberikan rasa adil, kebersamaan dan kekeluargaan serta
mampu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada setiap pelaku usaha.

Perkembangan ilmu pengetahuan sebelum peradaban


Islam

Sebelum era Islamic Golden Age, perkembangan ilmu pengetahuan bermula secara terpisah
dari Yunani, India, dan Persia.
Era filsafat klasik Yunani dimulai abad 6 sebelum Masehi, yang menjadi titik fondasi filsafat dan
perkembangan ilmu pengetahuan. Pada era inilah, konsep awal sebuah negara dibuat, hukumhukum logika, deduksi, induksi, silogisme digagas. Pada era inilah juga klasifikasi ilmu yang kita
ketahui sekarang dirangkai, dari mulai biologi, matematika, astronomi, ekonomi, politik, hukum,
dlsb.
Sementara itu di India dan Persia, peradaban kuno di sana udah bikin penghitungan sampe
1012 yang ditulis pada Kitab Yajurveda (1200 SM). Pada 800 SM, seorang filsuf
bernama Baudhyana, telah memikirkan konsep dasar teorema Pythagoras. Dalam dunia
astronomi, kitab Vedanga Jyotisa (abad 6-4 SM) udah ngebicarain masalah perhitungan
kalender, pengukuran astronomis, dan penetapan aturan-aturan dasar observasi benda
langit. Kemudian angka yg kita pake sekarang nih (0-9) awalnya dikembangin oleh
matematikawan India di jaman dinasti Maurya. Sementara itu, konsep angka 0 (nol) sendiri juga
pertama kali dikembangin oleh Aryabhata (kira-kira 500 M) yang kemudian dikembangkan lebih
lanjut oleh Al Khwarizmi (780-850 M) dan Al Kindi (801-873 M). Jadi banyak yang sekarang salah
sangka bahwa angka ini disebutnya angka Arab, harusnya yang bener itu angka Hindu-Arab.

Apa yang menjadi pemicu lahirnya peradaban emas


Islam?
Secara sederhana, era ini dipicu oleh banyak hal yang saling mendukung satu sama lain.
1. Hal pertama adalah ketika khalifah pertama Dinasti Umayyah yaitu Muawiyah ibn Abu
Sufyan(setelah para khalifah Rashidun: Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali) melakukan invasi
ke daerah Transjordania dan Syiria sampai dia menemukan banyak banget manuskripmanuskrip kuno di Kota Damaskus yang diwariskan dari perkembangan ilmu
pengetahuan Yunani dan Romawi (Sokrates, Plato, Aristoteles, Galen, Euclid,
dsb). Berdasarkan penemuannya itu, Muawiyah terinspirasi buat bikin pondasi
peradaban Islam yang berdasarkan ilmu pengetahuan.
2. Pemicu yang kedua, adalah karena pada saat yang bersamaan kekhalifahan
Ummayyah sedang mengadopsi teknologi penulisan naskah di atas kertas yang awalnya
berkembang di Tiongkok. Dengan perkembangan teknologi penulisan itu, Muawiyah
juga menyewa tenaga ilmuwan-ilmuwan dari Yunani dan Romawi untuk melakukan
terjemahan terhadap naskah-naskah kuno tersebut ke dalam bahasa Arab
3. Pemicu ketiga adalah ketika dinasti Ummayah beralih menjadi dinasti Abbasiyah yang
ditandai perpindahan pusat pemerintahan dari Damaskus ke Baghdad di
Mesopotamia. Dengan perpindahan pusat pemerintahan itu, yang dulunya (waktu di
Damaskus) peradaban Islam dapet pengaruh kebudayaan dan ilmu pengetahuan dari
Yunani dan Romawi, nah pas di Baghdad dapet tambahan pengaruh lagi dari
kebudayaan Persia dan India. Komplit lah sudah! Seluruh sumber ilmu pengetahuan
terlengkap yang dimiliki umat manusia (Yunani, Romawi, Persia, India) pada saat itu
akhirnya bisa ngumpul di satu titik lokasi.

4. Pemicu yang keempat adalah pengaruh 2 orang khalifah besar, yaitu Harun Al
Rasyid dan anaknya, Al Mamun yang punya cita-cita mulia untuk membangun
peradaban Islam yang menjunjung tinggi perkembangan sains, logika, rasionalitas, serta
menjaga kemajuan ilmu pengetahuan serta meneruskan perkembangan ilmu yang telah
diraih oleh Bangsa India, Persia, dan Byzantium. Tanpa adanya peran mereka berdua
yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, Zaman Keemasan Islam kemungkinan ga
bakal pernah muncul pada masa it

Apa sih hikmah yang bisa kita ambil dengan menelusuri


lebih dalam tentang Islamic Golden Age ini?
sejak tragedi WTC 11 September 2001, peradaban Islam mendapat tantangan yang besar,
terutama perubahan paradigma sebagian masyarakat dunia yang mengasosiasikan Islam
dengan stigma negatif seperti terorisme, represi gender, hukum syariat, dlsb. Peristiwa
9/11 dan banyak konflik perang di Timur Tengah menjadi pemicu perang urat-syaraf antara
dunia Islam dengan sebagian Barat hingga saat ini.
Melihat fenomena sosial seperti itu, banyak cendekiawan Islam yang mencoba untuk
"mengingatkan" kembali bahwa peradaban dunia modern saat ini sebetulnya berhutang
banyak terhadap era emas peradaban Islam di dalam setiap kesempatan, entah itu di ruangan
kelas, mesjid, madrasah, atau forum yang terbuka untuk umum. Untuk hal yang satu itu gue
sangat sepakat banget bahwa kita gak boleh melupakan kontribusi era emas peradaban Islam.
Namun sayangnya, masih banyak dari bentuk diskusi itu yang lupa akan esensi sesungguhnya
yang bisa kita dapatkan dari peradaban yang luar biasa ini. Esensi yang dimaksud ini
adalah apa yang menyebabkan dunia Islam sempat menjadi pemegang obor estafet ilmu
pengetahuan yang menerangi seluruh dunia? dan apa sebetulnya hal yang membuat era
emas ini berakhir? Karena dengan mengetahui pemicu jatuh-bangunnya sebuah era emas,
kita bisa banyak belajar untuk membangun kembali hal yang sama serta belajar dari kesalahan
masa lalu untuk tidak mengulanginya kembali.

Islam pernah begitu maju karena peradaban Islam saat itu sangat menjunjung tinggi
akses ilmu pengetahuan yang terbuka dari berbagai macam sumber. Mereka bisa
maju dengan menghargai para ilmuwan sebelumnya kendati berasal dari kebudayaan berbeda
(Yunani, Romawi, Persia, India) sebagai pemegang tongkat estafet pertama yang merapihkan
cara pandangan kita mengenai klasifikasi ilmu dan logika. Peradaban Islam dulu begitu maju
karena menghargai perbedaan serta terbuka dengan kelompok lain seperti Yahudi,
Nasrani, Sabian, dan Zoroaster (Majusi) untuk ikut bersama-sama membangun dunia ini
dan berkontribusi mengembangkan ilmu untuk menjadikan dunia ini lebih baik.
Peradaban inilah yang menjadi jembatan peralihan dari ilmu filsafat yunani klasik yang abstrak
menuju subjek yang lebih konkrit dengan penalaran observasi dan pendekatan empiris.
Peradaban inilah yang mulai meraba-raba kaidah-kaidah metode penelitian ilmiah sampai
akhirnya disempurnakan oleh para ilmuwan Eropa yang memegang tongkat estafet ketiga yang
juga sempat jatuh-bangun karena pengaruh Gereja Katolik Roma yang melarang
perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Dark Age. Sampai akhirnya lahirlah para
"pahlawan baru" di Eropa yang kembali menggebrak dunia dengan pemahaman yang baru
seperti Galileo Gelilei, Copernicus, Darwin, Newton, hingga Einstein.

perkembangan studi ekonomi Islam dapat dibagi pada


empat pase:
Masa Pertumbuhan
Masa pertumbuhan terjadi pada awal masa berdirinya negara Islam di Madinah. Meskipun belum
dikatakan sempurna sebagai sebuah studi ekonomi, tapi masa itu merupakan benih bagi
tonggak-tonggak timbulnya dasar ekonomi Islam. Secara amaliyah, segala dasar dan praktek
ekonomi Islam sebagai sebuah sistem telah dipraktekkan pada masa itu, tentunya dengan kondisi
yang amat sederhana sesuai dengan masanya. Lembaga keuangan seperti bank dan perusahan
besar (PT) tentunya belum ditemukan. Namun demikian lembaga moneter di tingkat
pemerintahan telah ada, yaitu berupa Baitul Mal. Perusahaan (PT) pun telah dipaktekkan dalam
skala kecil dalam bentuk musyarakah.
Masa Keemasan
Setelah terjadi beberapa perkembangan dalam kegiatan ekonomi, pada abad ke 2 Hijriyah para
ulama mulai meletakkan kaidah-kaidah bagi dibangunnya sistem ekonomi Islam di sebuah negara

atau pemerintahan. Kaidah-kaidah ini mencakup cara-cara bertransaksi (akad), pengharaman


riba, penentuan harga, hukum syarikah (PT), pengaturan pasar dan lain sebagainya. Namun
kaidah-kaidah yang telah disusun ini masih berupa pasal-pasal yang tercecer dalam buku-buku
fiqih dan belum menjadi sebuah buku dengan judul ekonomi Islam.
Beberapa karya fiqih yang mengetengahkan persoalan ekonomi, antara lain:

Fiqih Mazdhab Maliki:

Al-Umm, karya Imam SyafiI (150-204 H)

Al-Mudawwanah al-Kubrto, karya Imam

Al-Ahkam al-Sulthoniyah, karya Al-

Malik (93-179 H)

Mawardi (wafat 450 H)

Bidayatul Mujtahid, karya Ibnu Rusyd

Al-Majmu, karya Imam An-Nawawi (wafat

(wafat 595 H)

657 H)

Al-Jami Li Ahkam al-Quran, karya Imam

Al-Asybah Wa al-Nadzoir, karya Jalaluddin

al-Quirthubi (wafat 671 H)

al-Suyuthi (wafat 911 H)

Al-Syarhu al-Kabir, karya Imam Ahmad al-

Nihayah al-Muhtaj, karya Syamsuddin al-

Dardir (wafat 1201 H)

Romli (wafat 1004 H)

Fiqih Mazdhab Hanafi:

Fiqih Mazdhab Hambali:

Ahkam al-Quran, karya Imam Abu Bakar

Al-Ahkam al-Sulthoniyah, karya Qodhi Abu

Al-Jassos (wafat 370 H)

Yala (wafat 458 H)

Al-Mabsut, karya Imam Syamsuddin al-

Al-Mughni, karya Ibnu Qudamah (wafat

Syarkhsi (wafat 483 H)

620 H)

Tuhfah al-Fuqoha, karya Imam Alauddin

Al-Fatawa al-Kubro, karya Ibnu Taimiyah

al-Samarqandu (wafat 540 H)

(wafat 728 H)

Badai al-Sonai, karya Imam Alauddin Al-

Alamul Muwaqiin, karya Ibnu qoyim al-

Kasani (wafat 587 H)

Jauziyah (wafat 751 H)

Fiqih Mazdhab SyafiI:

Dari kitab-kitab tersebut, bila dikaji, maka akan ditemukan banyak hal tentang masalah-masalah
yang berkaitan dengan ekonomi Islam, baik sebagai sebuah sistem maupun keterangan tentang
solusi Islam bagi problem-problem ekonomi pada masa itu.
Ibnu Hazm dalam kitabnya Al-Muhalla misalnya, memberi penjelasan tentang kewajiban negara
menjamin kesejahteraan minimal bagi setiap warga mengara. Konsep ini telah melampaui
pemikiran ahli ekonomi saat ini. Demikian pula halnya dengan karya-karya fiqih lain, ia telah
meletakkan konsep-konsep ekonomi Islam, seperti prinsip kebebasan dan batasan berekonomi,
seberapa jauh intervensi negara dalam kegiatan roda ekonomi, konsep pemilikan swasta (pribadi)
dan pemilikan umum dan lain sebagainya.
Masa Kemunduran
Dengan ditutupnya pintu ijihad, maka dalam menghadapi perubahan sosial, prinsip-prinsip Islam
pada umumnya dan prinsip ekonomi khususnya, tidak berfungsi secara optimal, karena para
ulama seakan tidak siap dan berani untuk langsung menelaah kembali sumber asli tasyri dalam
menjawab perubahan-perubahan tersebut. Mereka lebih suka merujuk pada pendapat imamimam mazdhab terdahulu dalam mengistimbat suatu hukum, sehingga ilmu-ilmu keislaman lebih
bersifat pengulangan dari pada bersifat penemuan.
Tradisi taklid ini menimbulkan stagnasi (kejumudan) dalam mediscover ilmu-ilmu baru, khususnya
dalam menjawab hajat manusia di bidang ekonomi. Padahal ijtihad adalah sumber kedua Islam
setelah al-Quran dan as-Sunnah. Dan pukulan telak terhadap Islam adalah ketika ditutupnya
pintu ijtihad tersebut.
Masa Kesadaran Kembali
Sejak ditutupnya pintu ijtihad pada abad 15 H, hubungan antara sebagian masyarakat dengan
penerapan syariat Islam yang sahih menjadi renggang. Sebagaimana juga telah terhentinya
studi-studi tentang ekonomi Islam, hingga sebagian orang telah lupa sama sekali, bahkan ada
sebagian pihak yang mengingkari istilah ekonomi Islam. Ajaran Islam akhirnya terpojok pada
hal-hal ibadah mahdloh dan persoalan perdata saja. Lebih ironis lagi sebagian hal itu pun masih
jauh dari ajaran Islam yang benar.
Namun demikian, meskipun studi ilmiah modern dalam bidang ekonomi masih sangat terbatas,
namun usaha-usaha telah dilakukan, antara lain:
Pertama, studi ekonomi mikro. Dalam hal ini studi terfokus pada masalah-masalah yang terpisah,
seperti pembahasan tentang riba, monopoli, penentuan harga, perbankan, asuransi kebebasan
dan intervensi pemerintah pada kegiatan ekonomi dan lain-lain. Langkah ini terlihat dari
diadakannya beberapa seminar dan muktamar, antara lain:
Muktamar Internasional tentang fiqih Islam

Pada Muktamar Fiqih Islam pertama yang diadakan di Paris tahun 1951 dibahas masalah-masalah
yang berhubungan dengan ekonomi, riba dan konsep pemilikan.
Muktamarr Fiqih Islam kedua diadakan di Damaskus pada bulan April 1961. Dalam muktamar
tersebut dibahas tentang asuransi dan sistem hisbah (pengawasan) menurut Islam.
Muktamar Fiqih Islam ketiga diadakan di Kairo pada Mei 1967, membahas tentang asuransi sosial
(takaful) menurut Islam
Muktamar Fiqih Islam keempat diadakan di Tunis pada bulan Januari 1975, membahas masalah
pemalsuan dan monopoli.
Muktamar Fiqih Islam kelima diadakan di Riyadh pada bulan Nopember 1977 membahas tentang
sistem pemilikan dan status sosial menurut Islam.
Muktamar Fiqih Islam sedunia, diadakan di Riyadh juga yang diorganisir oleh Universitas Imam
Muhammad bin Saud pada tanggal 23 Oktober hingga Nopemebr 1976, membahas tentang
perbankan Islam antara teori dan praktek dan pengaruh penerapan ekonomi Islam di tengahtengah masyarakat.
Muktamar Lembaga Riset Islam di Kairo. Dalam hal ini sedikitnya telah delapan kali mengadakan
muktamar yang membahas tentang ekonomi Islam.
Pertemuan studi sosiologi negara-negara Arab.
Seminar Dewan Pembinaan Ilmu Pengetahuan, satra dan sosial (seksi ekonomi dan keuangan).
Muktamar Ekonomi Islam Internasional, antara lain: Muktamar Ekonomi Islam Sedunia pertama ,
diadakan di Makkah pada tanggal 21-26 Pebruari 1976 dan Muktamar ekonomi Islam, diadakan di
London pada bulan Juli 1977.
Hingga saat ini buku-buku tentang ekonomi Islam, baik dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris
serta bahasa lainnya dapat kita temukan di toko-toko buku. Buah dari semaraknya studi-studi
ekonomi Islam ini membuahkan berdirinya bank-bank Islam, baik dalam skala nasional maupun
internasional. Dalam skala internasional misalnya, telah berdiri Islamic Development Bank
(IDB/Bank Pembangunan Islam) yang kantornya berkedudukan di Jeddah Saudi Arabia. Dalam
agreemen establishing the islamic Development Bank (anggaran dasar IDB) pada article 2
disebutkan bahwa salah satu fungsi dan kekuatan IDB pada ayat (xi) adalah melaksanakan
penelitian untuk kegiatan ekonomi, keuangan dan perbankan di negara-negara muslim dapat
sejalan dengan syariah. IDB juga telah memberikan bantuan teknis, baik dalam bentuk
mensponsori penyelenggaraan seminar-seminar ekonomi dan perbankan Islam di seluruh dunia
maupun dalam bentuk pembiayaan untuk tenaga perbankan yang belajar di bank Islam serta
tenaga ahli bank yang ditempatkan di bank Islam yang baru berdiri.
Bukti lain maraknya pelaksanaan ekonomi Islam adalah laporan dari data yang diambil dari
Directory Of Islamic Financial Institutions tahun 1988 terbitan IRTI/IDB bahwa sedikitnya telah 32
bank Islam berdiri (sebelum Bank Muamalat Indonesia berdiri) di seluruh dunia, termasuk di

Eropa. Bila di Indoneisa banyak bank konvensional beralih bentuk ke bank syariah, berarti
pertumbuhan bank syariah semakin cepat dan diminati oleh kalangan usahawan, belum lagi
pertumbuhan bank syariah di negara lain dalam dekade ini, seperti di Malaysia dan negaranegara Islam lainnya.