Anda di halaman 1dari 48

LAPORAN TUGAS PENGENALAN PROFESI BLOK VIII

Leukemia

DosenPembimbing :dr. Thia Prameswarie


Disusun Oleh:
Kelompok Tutorial 4
1. Tiara Khairina

(702013012)

2. Taufik Alghofiqi

(702013018)

3. Debby Rahmadini

(702013028)

4. Ade Pratiwi

(702013031)

5. Muhammad Syakirby

(702013057)

6. Aryani Diningrum

(702013068)

7. Clarisa Lucia Valerina

(702013076)

8. Muhammad Rizki Pratama

(702013085)

9.Tia Nurul Hidayah

(702013086)

10.Bazliah Syarfina

(702013090)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG
TAHUN AJARAN 2014/2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan
karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan Tugas Pengenalan Profesi yang
berjudul Leukemia sebagai tugas kompetensi kelompok.Shalawat beserta salam
selalu tercurah kepada junjungan kita, nabi besar Muhammad SAW beserta para
keluarga, sahabat, dan pengikut-pengikutnya sampai akhir zaman.
Penulis menyadari bahwa laporan tugas pengenalan profesi ini jauh dari
sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun guna perbaikan dan penyempurnaan di masa mendatang.
Dalam penyelesaian laporan tutorial ini, penulis banyak mendapat bantuan,
bimbingan dan saran. Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan rasa hormat
dan terima kasih kepada :
1. Allah SWT, yang telah memberi kehidupan dan kesempatan untuk bersyukur.
2. Kedua orang tua yang selalu memberi dukungan materil maupun spiritual.
3. dr. Thia Prameswarie sebagai dosen pembimbing kelompok TPP 4 karena
telah membimbing dan memberikan masukan yang membangun sehingga
TPP dapat diselesaikan.
4. Teman-teman sejawat.
5. Semua pihak yang memberi saran penulis
Semoga Allah SWT memberikan balasan pahala atas segala amal yang diberikan
kepada semua orang yang telah mendukung penulis dan semoga laporan tutorial ini
bermanfaat bagi kita dan perkembangan ilmu pengetahuan. Semoga kita selalu dalam
lindungan Allah SWT. Amin.

Palembang,September 2014

Penulis

Daftar Isi
Kata pengantar ........................................................................................ 2

Daftar Isi ................................................................................................. 3


BAB I Pendahuluan ................................................................................ 4
1.1 Latar Belakang ..................................................................... 4
1.2 Rumusan Masalah ............................................................... 5
1.3 Tujuan .................................................................................. 5
1.4 Manfaat.................................................................................. 6
BAB II Tinjauan Pustaka ........................................................................ 7
2.1 Definisi ................................................................................ 7
2.2 Epidemiologi ....................................................................... 9
2.3 Etiologi ................................................................................ 10
2.4 Patofisiologi ......................................................................... 12
2.5 Klasifikasi ............................................................................ 14
2.6 Manifestasi klinis ................................................................ 17
2.7 Penegakan diagnosis ............................................................ 19
2.8 Tatalaksana .......................................................................... 21
2.9 Pengobatan ..........................................................................23
BAB III Metode Pelaksanaan ................................................................. 25
3.1 Waktu dan tanggal pelaksanaan ........................................... 25
3.2 Alat pengumpulan data ......................................................... 25
3.3 Subjek Tugas Mandiri .......................................................... 25
3.4 Cara Pengambilan Data ........................................................ 25
3.5 Pengumpulan Data ...............................................................25
3.6 Langkah- Langkah Kerja .....................................................25
Daftar Pustaka ........................................................................................26

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Blok Hematologi dan Limfatik merupakan blok ke VII di semester II dari


Kurikulum Berbasis Kompetensi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran
Universitas Muhammadiyah Palembang. Blok ini bertujuan agar para mahasiswa
memiliki pemahaman yang baik terhadap penyakit Hematologi dan Limfatik dan
dapat melakukan tatalaksana yang baik terhadap masalah tersebut secara
komprehensif.Salah satu strategi

pembelajaran

di Fakultas

Kedokteran

Universitas Muhammadiyah Palembang adalah adanya tugas pengenalan profesi


(TPP).Salah satu Tugas Pengenalan Profesi yang dilakukan pada blok VIII ini
adalah mengamati penyakit leukemia.
Pada tahun 2007, terdapat sekitar 256.000 anak dan dewasa di seluruh
dunia menderita penyakit sejenis leukemia, dan 209.000 orang diantaranya
meninggal karena penyakit tersebut, hampir 90% dari semua penderita yang
terdiagnosa adalah dewasa. (Fadjari, 2007)
Penyakit leukemia merupakan merupakan suatu keadaan terjadinya
pertumbuhan yang bersifat irreversible dari sel induk darah.Pertumbuhan dimulai
darimana sel itu berasal. Sel-sel tersebut, pada berbagai stadium akan membanjiri
aliran darah. Pada kasus leukemia (kanker darah), sel darah putih tidak merespon
kepada tpasien/signal yang diberikan. Akhirnya produksi yang berlebihan tidak
terkontrol (abnormal) akan keluar dari sumsum tulang dan dapat ditemukan di
dalam perifer atau darah tepi. Jumlah sel darah putih yang abnormal ini bila
berlebihan dapat mengganggu fungsi normal sel lainnya, seseorang dengan
kondisi ini (leukemia) akan menunjukkan beberapa gejala seperti mudah terkena
penyakit infeksi, anemia dan pendarahan.
Oleh karena itu, penulis melakukan penelitian tentang gambaran klinis,
riwayat keluarga, sosial ekonomi, dan penatalaksanaan penyakit leukemia
terhadap penderita leukemia yang terdiri dari berbagai usia di Komunitas Peduli
Kanker.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana gambaran klinis dari penyakit leukemia ?
2. Bagaimana riwayat keluarga dari penderita leukemia ?
3. Bagaimana keadaan sosial ekonomi penderita leukemia ?
4. Bagaimana penatalaksanaan penyakit leukemia ?
1.1 Tujuan
1.3.1Tujuan Umum

Tujuan umum pelaksanaan TPP ini adalah memahami penyakit Leukemia


yang ada di masyarakat sekitar kota Palembang.
2
1.
2.
3.
4.

Tujuan Khusus
Tujuan khusus pelaksanaan TPP ini, yaitu:
Mengetahui gejala klinis dari penyakit leukemia.
Mengetahui riwayat keluarga dari penderita leukemia.
Mengetahui keadaan sosial ekonomi penderita leukemia.
Mengetahui penatalaksanaan penyakit leukemia.

1.2 Manfaat
1 Menambah pengetahuan tentang gejala klinis dari penyakit leukemia.
2 Menambah pengetahuan tentang riwayat keluarga dari penderita leukemia.
3 Menambah pengetahuan tentangkeadaan sosial ekonomi penderita
leukemia.
4 Menambah pengetahuan tentang penatalaksanaan penyakit leukemia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Leukemia adalah sekumpulan penyakit yang ditpasieni oleh adanya
akumulasi leukosit ganas dalam sumsum tulang dan darah.Sel-sel abnormal ini
menyebabkan timbulnya gejala karena kegagalan sumsum tulang (yaitu
anemia, neutropenia, trombositopenia) dan infiltrasi organ (misalnya
hati,limpa, kelenjar getah bening, meningens, otak, kulit, atau testis)
(Hoffbrand, 2002)
Leukemia merupakan suatu penyakit yang dikenal dengan adanya
proliferasi neoplastik dari sel-sel organ hemopoetik, yang terjadi sebagai akibat
5

mutasi somatik sel bakal (stem cell) yang akan membentuk suatu klon sel
leukemia.
Leukemia

atau

kanker

darah

juga

didefinisikan

sekelompok

penyakit neoplastik yang beragam, ditpasieni oleh perbanyakan secara tak


normal atau transformasi maligna dari sel-sel pembentuk darah di sumsum
tulang dan jaringan limfoid. Sel-sel normal di dalam sumsum tulang digantikan
oleh sel tak normal atau abnormal.Sel abnormal ini keluar dari sumsum dan
dapat ditemukan di dalam darah perifer atau darah tepi. Sel leukemia
mempengaruhi hematopoiesis atau proses pembentukan sel darah normal dan
imunitas tubuh penderita.(Wirawan, 2003)

2.2 Epidemiologi
Leukemia menurut usia didapatkan data yaitu, LLA terbanyak pada anakanak dan dewasa, LMK pada semua usia, lebih sering pada orang dewasa,
LMK pada semua usia tersering usia 40-60 tahun, LLK terbanyak pada orang
tua. LMA lebih sering ditemukan pada usia dewasa (85%) daripada anak-anak
(15%). Walaupun leukemia menyerang kedua jenis kelamin, tetapi pria
terserang sedikit lebih banyak dibandingkan wanita dengan perbandingan 2 :
1(Supandiman, 2007)
2.3 Etiologi
Penyebab leukemia belum diketahui secara pasti. Diperkirakan leukemia
tidak disebabkan oleh penyebab tunggal, tetapi gabungan dari faktor resiko
antara lain :

Terinfeksi virus.
Agen virus sudah lama diidentifikasi sebagai penyebab leukemia pada
hewan. Pada tahun 1980, diisolasi virus HTLV-1( human Tcell lymphotropic
virus type 1) yang menyerupai virus penyebab AIDS dari leukemia sel T
manusia pada limfosit seorang penderita limfoma kulit dan sejak saat itu
diisolasi dari sampel serum penderita leukemia sel T.

Faktor Genetik.
Pengaruh genetik

maupun

faktor-faktor

lingkungan

kelihatannya

memainkan peranan , namun jarang terdapat leukemia familial, tetapi insidensi


6

leukemia lebih tinggi dari saudara kandung anak-anak yang terserang , dengan
insidensi yang meningkat sampai 20% pada kembar monozigot (identik).

Kelainan Herediter.
Individu dengan kelainan kromosom, seperti Sindrom Down, kelihatannya
mempunyai insidensi leukemia akut 20 puluh kali lipat.

Faktor lingkungan.
- Radiasi. Kontak dengan radiasi ionisasi disertai manifestasi leukemia yang
timbul bertahun-tahun kemudian.
- Zat Kimia. Zat kimia misalnya : benzen, arsen, kloramfenikol,
fenilbutazon,dan agen antineoplastik dikaitkan dengan frekuensi yang
meningkat khususnya agen-agen alkil. Kemungkinan leukemia meningkat pada
penderita yangdiobati baik dengan radiasi maupun kemoterapi.(Rotty, 2007)

Radiasi
Orang yang terekspos radiasi yang sangat tinggi lebih memiliki
kecenderungan untuk mengidap leukemia mielositik akut, leukemia mielositik
kronik,atau leukemia limfositik akut.
Ledakan bom atom: telah menyebabkan radiasi yang sangat tinggi
(contohnya seperti ledakan di jepang pada perang dunia kedua). Terjadi
peningkatan resiko mengidap leukemia pada orang-orang, terutama

anak-anak, yang selamat dari ledakan bom tersebut.


Radioterapi: radioterapi untuk kanker dan kondisi lainnya adalah
sumber ekposur radiasi tinggi lainnya. Radioterapi meningkatkan resiko

leukemia.
X-rays: dental x-rays dan x-rays diagnostik lainnya (seperti CT-Scan)
mengekspos orang-orang terhadap level radiasi yang lebih rendah.
Belum diketahui apakah radiasi level rendah ini dapat menghubungkan
leukemia dengan anak-anak maupun orang dewasa. Peneliti sedang
mempelajari apakah melakukan banyak foto x-rays dapat meningkatkan

resiko leukemia. Mereka juga mempelajari apakah menjalani CT-Scan


ketika anak-anak dapat meningkatkan resiko leukemia.

Benzene
Terekspose benzene di tempat kerjadapat menyebabkan leukemia
mielositik akut.Selain itu benzene juga dapat menyebabkan leukemia
mielositik kronik atau leukemia limfositik akut.Benzene banyak digunakan
pada industri kimia. Benzene juga ditemukan pada asap rokok dan gasoline.

Merokok
Merokok dapat meningkatkan resiko leukemia mielositik akut. (Rotty, 2007)

Kemoterapi
Pasien kanker yang diterapi dengan beberapa tipe obat pelawan kanker
kadang akan mengidap leukemia mielositik akut atau leukemia limfositik akut.
Contohnya, diterapi dengan obat bernama alkylating agen atau topoisomerase
inhibitor dapat dihubungkan dengan kemungkinan kecil berkembangnya
leukemia akut.
Memiliki satu atau lebih faktor resiko tidak berarti seseorang akan mengidap
leukemia. Kebanyakan orang yang memiliki faktor resiko tidak pernah
berkembang menjadi leukemia. (Rotty, 2007)
2.4 Patofisiologi
Pada keadaan normal, sel darah putih berfungsi sebagai pertahanan kita
dengan infeksi. Sel ini secara normal berkembang sesuai dengan perintah,
dapat dikontrol sesuai dengan kebutuhan tubuh kita.Leukemia meningkatkan
produksi sel darah putih pada sumsum tulang yang lebih dari normal.Mereka
terlihat berbeda dengan sel darah normal dan tidak berfungsi seperti biasanya.
Sel leukemia memblok produksi sel darah putih yang normal , merusak
kemampuan tubuh terhadap infeksi. Sel leukemia juga merusak produksi sel
darah lain pada sumsum tulang termasuk sel darah merah dimana sel tersebut
berfungsi untuk menyuplai oksigen pada jaringan. (Rofinda, 2012)
Menurut Smeltzer dan Bare (2001) analisa sitogenik menghasilkan banyak
pengetahuan mengenai aberasi kromosomal yang terdapat pada pasien dengan
leukemia. Perubahan kromosom dapat meliputi perubahan angka, yang
menambahkan atau menghilangkan seluruh kromosom, atau perubahan
8

struktur, yang termasuk translokasi ini, dua atau lebih kromosom mengubah
bahan

genetik,

dengan

perkembangan

gen

yang

berubah

dianggap

menyebabkan mulainya proliferasi sel abnormal. (Fadjari, 2007)


Leukemia terjadi jika proses pematangan dari stem sel menjadi sel darah
putih mengalami gangguan dan menghasilkan perubahan ke arah keganasan.
Perubahan tersebut seringkali melibatkan penyusunan kembali bagian dari
kromosom (bahan genetik sel yang kompleks).Penyusunan kembali kromosom
(translokasi kromosom) mengganggu pengendalian normal dari pembelahan
sel, sehingga sel membelah tak terkendali dan menjadi ganas.Pada akhirnya
sel-sel ini menguasai sumsum tulang dan menggantikan tempat dari sel-sel
yang menghasilkan sel-sel darah yang normal.Kanker ini juga bisa menyusup
ke dalam organ lainnya, termasuk hati, limpa, kelenjar getah bening, ginjal dan
otak. (Fianza, 2007)
Jika penyebab leukemia virus, virus tersebut akan masuk ke dalam tubuh
manusia jika struktur antigennya sesuai dengan struktur antigen manusia. Bila
struktur antigen individu tidak sama dengan struktur antigen virus, maka virus
tersebut ditolaknya seperti pada benda asing lain. Struktur antigen manusia
terbentuk oleh struktur antigen dari berbagai alat tubuh, terutama kulit dan
selaput lendir yang terletak di permukaan tubuh (kulit disebut juga antigen
jaringan ). Oleh WHO terhadap antigen jaringan telah ditetapkan istilah HL-A
(Human Leucocyte Lucos A). Sistem HL-A individu ini diturunkan menurut
hukum genetika sehingga adanya peranan faktor ras dan keluarga dalam
etiologi leukemia tidak dapat diabaikan.
Leukemia merupakan proliferasi dari sel pembuat darah yang bersifat
sistemik dan biasanya berakhir fatal.Leukemia dikatakan penyakit darah yang
disebabkan karena terjadinya kerusakan pada pabrik pembuat sel darah yaitu
sumsum tulang.Penyakit ini sering disebut kanker darah.Keadaan yang
sebenarnya sumsum tulang bekerja aktif membuat sel-sel darah tetapi yang
dihasilkan adalah sel darah yang tidak normal dan sel ini mendesak
pertumbuhan sel darah normal.

Proses patofisiologi leukemia dimulai dari transformasi ganas sel induk


hematologis dan turunannya. Proliferasi ganas sel induk ini menghasilkan sel
leukemia dan mengakibatkan penekanan hematopoesis normal, sehingga terjadi
bone marrow failure, infiltrasi sel leukemia ke dalam organ, sehingga
menimbulkan organomegali, katabolisme sel meningkat, sehingga terjadi
keadaan hiperkatabolisme. (Wirawan, 2003)

2.5 Klasifikasi
Leukemia dapat diklafikasikan ke dalam :
1. Maturitas sel :
Leukemia Akut
Leukemia akut biasanya merupakan penyakit yang bersifat agresif,
dengan transformasi ganas yang menyebabkan terjadinya akumulasi
progenitor sumsum tulang dini, disebut sel blas. Gambaran klinis dominan
penyakit-penyakit ini biasanya adalah kegagalan sumsum tulang yang
disebabkan akumulasi sel blas walaupun juga terjadi infiltrasi jaringan.
Apabila tidak diobati, penyakit ini biasanya cepat bersifat fatal, tetapi,
secara paradoks, lebih mudah diobati dibandingkan leukemia kronik. (Rotty,
2012)

Leukemia Kronik
Leukemia kronik dibedakan dari leukemia akut berdasarkan progresinya
yang lebih lambat. Sebaliknya, leukemia kronik lebih sulit diobati.

2. Tipe-tipe sel asal

Mielositik (Mieloblast yang dihasilkan sumsum tulang)


Limfositik (limfoblast yang dihasilkan sistem limfatik)
Normalnya, sel asal (mieloblast dan limfoblast) tak ada pada darah perifer.
Maturitas sel dan tipe sel dikombinasikan untuk membentuk empat tipe utama
leukemia :
A. Leukemia Mielositik Akut (LMA)

10

Leukemia Mielositik Akut (LMA) atau dapat juga disebut leukemia


granulositik akut (LGA), mengenai sel stem hematopetik yang kelak
berdiferensiasi ke semua sel mieloid, monosit, granulosit (basofil, netrofil,
eosinofil), eritrosit, dan trombosit.Dikarakteristikan oleh produksi berlebihan
dari mieloblast. Semua kelompok usia dapat terkena insidensi meningkat sesuai
dengan bertambahnya usia. Merupakan leukemia nonlimfositik yang paling
sering terjadi.
Gambaran klinis LMA, antara lain yaitu terdapat peningkatan leukosit,
pembesaran pada limfe, rasa lelah, pucat, nafsu makan menurun, anemia,
ptekie, perdarahan , nyeri tulang, Infeksi,pembesaran kelenjer getah
bening,limpa,hati dan kelenjer mediastinum. Kadang-kadang juga ditemukan
hipertrofi

gusi

,khususnya

pada

leukemia

akut

monoblastik

dan

mielomonositik.
Pada tahun 1976 tujuh ahli hematologi dari Amerika,Perancis,dan Ingris
melakukan kerjasama dan mereka mengusulkan klasifikasi baru untuk
leukemia akut. Klasifikasi itu kemudian diterima dan dikenal sebagai
klasifikasi FAB (French American British).mereka membagi LMA menjadi 6
jenis:

M-1: Diferensiasi granulositik tanpa pematangan


M-2: Diferensiasi granulositik disertai pematangan menjadi stadium

promielositik
M-3: Diferensiasi granulositik disertai promielosit hipergranular yang
dikaitkan dengan pembekuan intra vaskular tersebar (Disseminated

intravascular coagulation).
M-4: Leukemia mielomonositik akut: kedua garis sel granulosit dan
monosit.
M-5a: Leukemia monositik akut : kurang berdiferesiasi
M-5b: Leukemia monositik akut : berdiferensiasi baik
M-6: Eritroblast predominan disertai diseritropoiesis berat
M-7: Leukemia megakariositik.
(Rotty, 2012)

B. Leukemia Mielositik Kronik (LMK)

11

Leukemia Mielositik Kronis (LMK) atau leukemia granulositik kronis


(LGK), juga dimasukan dalam keganasan sel stem mieloid. Namun, lebih
banyak terdapat sel normal di banding pada bentuk akut, sehingga penyakit ini
lebih ringan.Abnormalitas genetika yang dinamakan kromosom Philadelpia
ditemukan 90% sampai 95% pasien dengan LMK. LMK jarang menyerang
individu di bawah 20 tahun, namun insidensinya meningkat sesuai
pertambahan usia.
Gambaran menonjol adalah :

Adanya kromosom Philadelphia pada sel sel darah. Ini adalah

kromosom abnormal yang ditemukan pada sel sel sumsum tulang.


Krisis Blast. Fase yang dikarakteristik oleh proliferasi tiba-tiba dari
jumlah besar mieloblast. Temuan ini menpasienkan pengubahan LMK
menjadi LMA. Kematian sering terjadi dalam beberapa bulan saat sel
sel leukemia menjadi resisten terhadap kemoterapi selama krisis blast.
(Rotty, 2012)

C. Leukemia Limfositik Akut (LLA)


Leukemia Limfositik Akut (LLA) dianggap sebagai suatu proliferasi ganas
limfoblas. Paling sering terjadi pada anak-anak, dengan laki-laki lebih banyak
dibanding perempuan,dengan puncak insidensi pada usia 4 tahun. Setelah usia
15 tahun , LLA jarang terjadi. Manifestasi dari LLA adalah berupa proliferasi
limfoblas abnormal dalam sum-sum tulang dan tempat-tempat ekstramedular.
Gejala pertama biasanya terjadi karena sumsum tulang gagal menghasilkan
sel darah merah dalam jumlah yang memadai, yaitu berupa lemah dan sesak
nafas, karena anemia (sel darah merah terlalu sedikit), infeksi dan demam
karena berkurangnya jumlah sel darah putih, perdarahan karena jumlah
trombosit yang terlalu sedikit.

12

Manifestasi klinis :
Hematopoesis normal terhambat
Penurunan jumlah leukosit
Penurunan sel darah merah
Penurunan trombosit (Rotty, 2012)
D. Leukemia Limfositik Kronis (LLK)
Leukemia Limfositik Kronik (LLK) ditpasieni dengan adanya sejumlah
besar limfosit (salah satu jenis sel darah putih) matang yang bersifat ganas dan
pembesaran kelenjar getah bening. Lebih dari 3/4 penderita berumur lebih dari
60 tahun, dan 2-3 kali lebih sering menyerang pria. Pada awalnya penambahan
jumlah limfosit matang yang

ganas terjadi di kelenjar getah bening.

Kemudian menyebar ke hati dan limpa, dan kedua nya mulai membesar.
Masuknya limfosit ini ke dalam sumsum tulang akan menggeser sel-sel yang
normal, sehingga terjadi anemia dan penurunan jumlah sel darah putih dan
trombosit di dalam darah. Kadar dan aktivitas antibodi (protein untuk melawan
infeksi) juga berkurang.Sistem kekebalan yang biasanya melindungi tubuh
terhadap serangan dari luar, seringkali menjadi salah arah dan menghancurkan
jaringan tubuh yang normal.
Manifestasinya adalah :

13

Adanya anemia
Pembesaran nodus limfa
Pembesaran organ abdomen
Jumlah eritrosi dan trombosit mungkin normal atau menurun
Terjadi penurunan jumlah limfosit (limfositopenia) (Fianza, 2007)
2.6 Manifestasi Klinis
Seperti semua sel darah lainnya, sel leukemia beredar di seluruh
tubuh.Gejala leukemia bergantung pada jumlah sel leukemia dan dimana sel
leukemia tersebut terkmpul dalam tubuh.Orang dengan leukemia kronik dapat
tidak memiliki gejala.Seorang dokter sering menemukan penyakit tersebut
dalam pemeriksaan darah rutin secara tidak sengaja.
Seseorang dengan leukemia akut biasanya pergi ke dokter saat mereka
merasa sakit.Jika otak telah terkena, mereka mungkin mengalami sakit kepala,
muntah, kehilangan kontrol otot, atau kejang. Leukemia juga dapat
mempengaruhi bagian tubuh seperti saluran cerna, ginjal, paru, jantung, atau
testis. (Price, 2014)
Gejala leukemia yang ditimbulkan umumnya berbeda diantara penderita,
namun secara umum dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Anemia.
Penderita akan menampakkan cepat lelah, pucat dan bernafas cepat (sel
darah merah dibawah normal menyebabkan oxygen dalam tubuh kurang,
akibatnya penderita bernafas cepat sebagai kompensasi pemenuhan kekurangan
oxygendalamtubuh).
2. Perdarahan.

14

Ketika Platelet (sel pembeku darah) tidak terproduksi dengan wajar karena
didominasi oleh sel darah putih, maka penderita akan mengalami perdarahan
dijaringan kulit (banyaknya jentik merah lebar/kecil dijaringan kulit).
3. Terserang Infeksi.
Sel darah putih berperan sebagai pelindung daya tahan tubuh, terutama
melawan penyakit infeksi. Pada Penderita Leukemia, sel darah putih yang
dibentuk tidak normal (abnormal) sehingga tidak berfungsi semestinya.
Akibatnya tubuh si penderita rentan terkena infeksi virus/bakteri, bahkan
dengan sendirinya akan menampakkan keluhan adanya demam, keluar cairan
putih dari hidung (meler) dan batuk.

4. Nyeri Tulang dan Persendian.


Hal ini disebabkan sebagai akibat dari sumsum tulang (bone marrow)
didesak padat oleh sel darah putih.

5. Nyeri Perut.
Nyeri perut juga merupakan salah satu indikasi gejala leukemia, dimana sel
leukemia dapat terkumpul pada organ ginjal, hati dan empedu yang
menyebabkan pembesaran pada organ-organ tubuh ini dan timbulah
nyeri.Nyeri perut ini dapat berdampak hilangnya nafsu makan penderita
leukemia.
6. Pembengkakan Kelenjar Limfe.
Penderita kemungkinan besar mengalami pembengkakan pada kelenjar
limfe, baik itu yang dibawah lengan, leher, dada dan lainnya.Kelenjar limfe
bertugas menyaring darah, sel leukemia dapat terkumpul disini dan
menyebabkan pembengkakan.

15

7. Kesulitan Bernafas (Dyspnea).


Penderita mungkin menampakkan gejala kesulitan bernafas dan nyeri dada,
apabila terjadi hal ini maka harus segera mendapatkan pertolongan medis.
(Fianza, 2007)

2.7 Penegakan Diagnosis


Penegakan diagnosis leukemia dilakukan secara terperinci melalui
anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang sehingga dapat
diperoleh data-data yang maksimal untuk mendukung diagnosis. Terkadang
diagnosis leukemia ditemukan secara tidak sengaja saat pasien menjalani
pemeriksaan kesehatan rutin.Pemeriksaan riwayat penyakit yang lebih teliti
dilakukan dan pasien dapat melaporkan riwayat leukemia atau gejala dan faktor
resiko yang ada.
Pada pemeriksaan fisik, dapat ditemukan gumpalan, atau abnormalitas lain
dan gejala dari leukemia. Pada pemeriksaan fisik biasanya akan diperiksa ada
tidaknya pembengkakan pada kelenjar getah bening, limfe, dan hati (Rofinda,
2012)
2.7.1

Pemeriksaan Penunjang

Pada pemeriksaan darah perifer pada leukemia dapat diketenukan:

Akut

Jumlah Leukosit
Rendah,normal,atau tinggi

Differential Leukosit
Jika tinggi, maka sel blas
akan

predominan,

Jika

normal atau rendah mungkin


Konik

Tinggi

sel blast sangat sedikit


Sel blast <10%

Penyakit Leukemia dapat dipastikan dengan beberapa pemeriksaan


penunjang, diantaranya adalah Biopsi, Pemeriksaan darah {complete blood

16

count (CBC)}, CT or CAT scan, magnetic resonance imaging (MRI), X-ray,


Ultrasound, Spinal tap/lumbar puncture.

Tes darah: laboratorium akan memeriksa jumlah sel-sel darah.


Leukemia menyebabkan jumlah sel-sel darah putih meningkat sangat
tinggi, dan jumlah trombosit dan hemoglobin dalam sel-sel darah merah
menurun. Pemeriksaan laboratorium juga akan meneliti darah untuk
mencari ada tidaknya tpasien-tpasien kelainan pada hati dan/atau ginjal.

Biopsi: dokter akan mengangkat sumsum tulang dari tulang pinggul


atau tulang besar lainnya. Ahli patologi kemudian akan memeriksa
sampel di bawah mikroskop, untuk mencari sel-sel kanker. Cara ini
disebut biopsi, yang merupakan cara terbaik untuk mengetahui apakah

ada sel-sel leukemia di dalam sumsum tulang.


Sitogenetik: laboratorium akan memeriksa kromosom sel dari sampel
darah tepi, sumsum tulang (bone marrow sample), atau kelenjar getah

bening.
Lumbal puncture: dengan menggunakan jarum yang panjang dan tipis,
dokter perlahan-lahan akan mengambil cairan cerebrospinal (cairan
yang mengisi ruang di otak dan sumsum tulang belakang). Prosedur ini
berlangsung sekitar 30 menit dan dilakukan dengan anestesi lokal.
Pasien harus berbaring selama beberapa jam setelahnya, agar tidak
pusing. Laboratorium akan memeriksa cairan apakah ada sel-sel

leukemia atau tpasien-tpasien penyakit lainnya.


Sinar X pada dada: sinar X ini dapat menguak tpasien-tpasien penyakit
di dada. (Wirawan, 2003)

17

2.8 Tata Laksana


2.8.1 Leukemia Mielositik Kronik
Sebagian besar pengobatan tidak menyembuhkan penyakit, tetapi hanya
memperlambat perkembangan penyakit.Pengobatan dianggap berhasil apabila
jumlah sel darah putih dapat diturunkan sampai kurang dari 50.000/mikroliter
darah.Pengobatan yang terbaik sekalipun tidak bisa menghancurkan semua sel
leukemik.Satu-satunya

kesempatan

penyembuhan

adalah

dengan

pencangkokan sumsum tulang.Pencangkokan paling efektif jika dilakukan pada


stadium awal dan kurang efektif jika dilakukan pada fase akselerasi atau krisis
blast.Obat interferon alfa bisa menormalkan kembali sumsum tulang dan
menyebabkan remisi.Hidroksiurea per-oral (ditelan) merupakan kemoterapi
yang paling banyak digunakan untuk penyakit ini.Busulfan juga efektif, tetapi
karena memiliki efek samping yang serius, maka pemakaiannya tidak boleh
terlalu lama.Terapi penyinaran untuk limpa kadang membantu mengurangi
jumlah sel leukemik. Kadang limpa harus diangkat melalui pembedahan
(splenektomi) untuk: mengurangi rasa tidak nyaman di perut, meningkatkan
jumlah

trombosit,

mengurangi

kemungkinan

dilakukannya

tranfusi.

(Supardiman, 2007)
2.8.2 Leukemia Limfositik Akut
Tujuan pengobatan adalah

mencapai

kesembuhan

total

dengan

menghancurkan sel-sel leukemik sehingga sel noramal bisa tumbuh kembali di


dalam sumsum tulang. Penderita yang menjalani kemoterapi perlu dirawat di
rumah sakit selama beberapa hari atau beberapa minggu, tergantung kepada
respon yang ditunjukkan oleh sumsum tulang.Sebelum sumsum tulang kembali
berfungsi normal, penderita mungkin memerlukan: transfusi sel darah merah
untuk mengatasi anemia, transfusi trombosit untuk mengatasi perdarahan,
antibiotik untuk mengatasi infeksi.
Beberapa kombinasi dari obat kemoterapi sering digunakan dan dosisnya
diulang selama beberapa hari atau beberapa minggu.Suatu kombinasi terdiri
dari prednison per-oral (ditelan) dan dosis mingguan dari vinkristin dengan
antrasiklin atau asparaginase intravena.Untuk mengatasi sel leukemik di otak,
biasanya diberikan suntikan metotreksat langsung ke dalam cairan spinal dan
terapi penyinaran ke otak.Beberapa minggu atau beberapa bulan setelah
pengobatan awal yang intensif untuk menghancurkan sel leukemik, diberikan
18

pengobatan tambahan (kemoterapi konsolidasi) untuk menghancurkan sisa-sisa


sel leukemik.Pengobatan bisa berlangsung selama 2-3 tahun.
Sel-sel leukemik bisa kembali muncul, seringkali di sumsum tulang, otak
atau buah zakar.Pemunculan kembali sel leukemik di sumsum tulang
merupakan masalah yang sangat serius.Penderita harus kembali menjalani
kemoterapi.Pencangkokan sumsum tulang menjanjikan kesempatan untuk
sembuh pada penderita ini.Jika sel leukemik kembali muncul di otak, maka
obat kemoterapi disuntikkan ke dalam cairan spinal sebanyak 1-2
kali/minggu.Pemunculan kembali sel leukemik di buah zakar, biasanya diatasi
dengan kemoterapi dan terapi penyinaran. (Wirawan, 2003)
2.8.3 Leukeumia Limfositik Kronik
Leukemia limfositik kronik berkembang dengan lambat, sehingga banyak
penderita yang tidak memerlukan pengobatan selama bertahun-tahun sampai
jumlah limfosit sangat banyak, kelenjar getah bening membesar atau terjadi
penurunan jumlah eritrosit atau trombosit.Anemia diatasi dengan transfusi
darah dan suntikan eritropoietin (obat yang merangsang pembentukan sel-sel
darah merah).Jika jumlah trombosit sangat menurun, diberikan transfusi
trombosit.Infeksi diatasi dengan antibiotik.Terapi penyinaran digunakan untuk
memperkecil ukuran kelenjar getah bening, hati atau limpa.
Obat antikanker saja atau ditambah kortikosteroid diberikan jika jumlah
limfositnya

sangat

banyak.Prednison dan

kortikosteroid

lainnya

bisa

menyebabkan perbaikan pada penderita leukemia yang sudah menyebar.Tetapi


respon ini biasanya berlangsung singkat dan setelah pemakaian jangka panjang,
kortikosteroid menyebabkan beberapa efek samping.Leukemia sel B diobati
dengan alkylating agent, yang membunuh sel kanker dengan mempengaruhi
DNAnya.Leukemia sel berambut diobati dengan interferon alfa dan
pentostatin. (Katzung, 2013)
2.9 Pengobatan
2.9.1 Kemoterapi
Sebagian besar pasien leukemia menjalani kemoterapi.Jenis pengobatan
kanker

ini

menggunakan

obat-obatan

untuk

membunuh

sel-sel

leukemia.Tergantung pada jenis leukemia, pasien bisa mendapatkan satu jenis


obat atau kombinasi dari dua obat atau lebih. (katzung, 2013)

19

2.9.2

Terapi Biologi

Orang dengan jenis penyakit leukemia tertentu menjalani terapi biologi


untuk meningkatkan daya tahan alami tubuh terhadap kanker.Terapi ini
diberikan melalui suntikan di dalam pembuluh darah balik.
Bagi pasien dengan leukemia limfositik kronis, jenis terapi biologi yang
digunakan adalah antibodi monoklonal yang akan mengikatkan diri pada selsel leukemia. Terapi ini memungkinkan sistem kekebalan untuk membunuh
sel-sel leukemia di dalam darah dan sumsum tulang.Bagi penderita dengan
leukemia myeloid kronis, terapi biologi yang digunakan adalah bahan alami
bernama interferon untuk memperlambat pertumbuhan sel-sel leukemia.
2.9.3

Terapi Radiasi

Terapi Radiasi (juga disebut sebagai radioterapi) menggunakan sinar


berenergi tinggi untuk membunuh sel-sel leukemia. Bagi sebagian besar pasien,
sebuah mesin yang besar akan mengarahkan radiasi pada limpa, otak, atau
bagian lain dalam tubuh tempat menumpuknya sel-sel leukemia ini. Beberapa
pasien mendapatkan radiasi yang diarahkan ke seluruh tubuh.(Iradiasi seluruh
tubuh biasanya diberikan sebelum transplantasi sumsum tulang.)
2.9.4

Transplantasi Sel Induk (Stem Cell)

Beberapa pasien leukemia menjalani transplantasi sel induk (stem


cell).Transplantasi sel induk memungkinkan pasien diobati dengan dosis obat
yang tinggi, radiasi, atau keduanya. Dosis tinggi ini akan menghancurkan selsel leukemia sekaligus sel-sel darah normal dalam sumsum tulang. Kemudian,
pasien akan mendapatkan sel-sel induk (stem cell) yang sehat melalui tabung
fleksibel yang dipasang di pembuluh darah balik besar di daerah dada atau
leher. Sel-sel darah yang baru akan tumbuh dari sel-sel induk (stem cell) hasil
transplantasi ini.
Setelah transplantasi sel induk (stem cell), pasien biasanya harus menginap
di rumah sakit selama beberapa minggu. Tim kesehatan akan melindungi

20

pasien dari infeksi sampai sel-sel induk (stem cell) hasil transplantasi mulai
menghasilkan sel-sel darah putih dalam jumlah yang memadai. (Fadjari, 2007)

BAB III
METODE PELAKSANAAN
21

Nama Kegiatan
Tugas Pengenalan Profesi dengan judul Leukimia (Komunitas Peduli
Kanker).

3.2 Lokasi Pelaksanaan


Tugas pengenalan profesi blok 8 dilakukan di Komunitas Peduli Kanker.
3.3 Tempat Dan WaktuPelaksanaan
Tempat
:Komunitas Peduli Kanker
Waktu
:
3.4 Subyek Tugas Mandiri
Subyek tugas mandiri pada tugas pengenalan profesi blok8 adalah pasien
leukemia di Komunitas Peduli Kanker
3.5 Alat Dan Bahan
1. Alat Tulis
2. Daftar pertanyaan wawancara
3. Kamera
6

Langkah Kerja
1 Membuat proposal TPP dan konsultasi dengan pembimbing
2 Melakukan pengamatan terhadap kasus Leukimia di Komunitas Peduli
3
4
5

Kanker
Mencatat kembali hasil observasi
Membuat laporan TPP
Membuat kesimpulan observasi

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil wawancara

22

Pada saat kami melakukan TPP, kami mewawancarai lima pasien leukemia
yang dirawat di Rumah Sakit Muhammad Hoesin. Berikut hasil wawancara
terhadap lima pasien leukemia.
1. Pasien 1
Nama
Tanggal lahir
Umur
Jenis kelamin
Alamat

: Reza
: 31 Juli 2006
: 8 tahun
: Laki-laki
: Pemulutan

A. Gambaran klinis
Pertanyaan gambaran klinis
1. Apakah paisen sering merasa lelah,

jawaban
Ya, Reza sering mengeluh mudah

pucat dan nafas cepat? (Anemia)

lelah. Selain itu, badan Reza pucat,


tetapi nafas Reza tidak cepat.

2. Apakah sering terjadi perdarahan ?

Perdarahan kulit : bercak kebiruan,


peteckie
Perdarahan

organ

epistaksis,

perdarahan gusi, hematuria, melena


Reza mengalami perdarahan kulit
(bercak

kebiruan,

ptekie)

dan

perdarahan gusi. Perdarahan gusi


yang terjadi yaitu seperti terdapat
darah beku yang berwarna agak
kehitaman yang terus menerus (tidak
berhenti).
3. Apakah sering terjadi demam tanpa Ya, Reza sering mengalami demam
sebab yang jelas?

yang hilang timbul tanpa sebab yang

jelas.
4. Apakah ada infeksi pada rongga Tidak ada.
mulut, tenggorokan, kulit, saluran
nafas?
5. Apakah ada keluar cairan putih dari Tidak ada.
hidung ? (pilek)
23

6. Apakah ada pembesaran pada gusi?

Tidak.

7. Apakah ada batuk ?

Ya, kadang-kadang Reza mengalami


batuk.

8. Apakah ada keringat malam?

Tidak.

9. Apakah ada nyeri tulang atau sendi?

Tidak.

10. Apakah pasien sering nyeri perut? Ya, menurut dokter, Reza mengalami
(pembesaran ginjal, hati dan limfa)

pembesaran hati dan limpa.

11. Apakah ada penurunan nafsu Tidak, nafsu makan Reza tetap baik.
makan?
12. Apakah terjadi mual dan muntah? Tidak.
(TIK meningkat)
13.

Apakah

ada

pembengkakan Tidak.

kelenjar getah bening?


14.Apakah ada sakit kepala, mata Tidak.
kabur, dan kaku kuduk?

B. Riwayat Keluarga
Pertanyaan riwayat keluarga

jawaban

1.Apakah ada anggota keluarga yang Tidak ada


menderita leukemia ?
C. Sosial Ekonomi
Pertanyaan sosial ekonomi
1. Apa pekerjaan pasien sehari hari?
.

jawaban
Reza masih duduk di bangku sekolah
dasar. Orangtua Reza bekerja sebagai

petani dengan penghasilan cukup.


2. Bagaimana pola makan pasien sehari- Pola makan Reza sehari-hari masih

24

hari?
3. Apakah pasien seorang perokok?

seperti biasa (makan 3 kali sehari).


Bukan, Ayah Reza yang merupakan

perokok.
4. Bagaimana pola hidup paisen sebelum Pola hidup Reza didiagnosis leukemia
dan setelah mengetahui bahwa pasien masih seperti anak lainnya, dengan
menderita leukemia?

kesibukan sekolah dan bermain. Setelah


didiagnosis leukemia, Reza tidak bisa
lagi bersekolah dan bermain seperti
biasa. Selama 3 bulan terakhir ini, Reza
menginap di RSMH.

D. Tatalaksana
Pertanyaan tatalaksana (Riwayat

jawaban

pengobatan sebelumnya)
1. Apa pengobatan yang sudah didapat Kemoterapi, sudah 10 kali kemoterapi
dan sudah berapa lama

mendapatkan selama 3 bulan terakhir.

pengobatan tersebut?
2. Dimana pasien sudah mendapatkan Sebelumnya, Reza sudah pernah dirawat
pengobatan?

di

RS

Bari,

tetapi

karena

alasan

kelengkapan alat dan pengobatan, Reza


dirujuk ke RSMH.
3. Obat apa yang diberikan pada pasien? Kemoterapi.
4. Bagaimana keadaan jika tidak Semakin memburuk.
melakukan pengobatan?
E.Komplikasi
Pertanyaan komplikasi
jawaban
1.Apakah ada gejala-gejala yang timbul Tidak ada. Hanya saja setelah menjalani
setelah pasien mendapatkan pengobatan kemoterapi, rambut Reza rontok, tetapi
leukemia?

tidak terjadi komplikasi, justru setelah


dilakukan kemoterapi, Reza tidak lagi
mengalami perdarahan gusi, dan berat
badan Reza tidak mengalami penurunan
lagi.

25

2. Pasien 2
Nama: Abdal
Tanggal lahir : 12 Mei 2006
Umur: 8 tahun
Jenis kelamin: Laki-laki
Alamat: Sengeti, Jambi
A. Gambaran Klinis
Pertanyaan gambaran klinis
jawaban
1. Apakah pasien sering merasa lelah, Ya, Abdal sering mengeluh mudah
pucat dan nafas cepat ? (Anemia)

lelah, bahkan seluruh badan Abdal


pucat, tetapi Abdal tidak mengalami
nafas cepat.
Pucat

yang

dialami

Abdal

menye;uruh di seluruh tubuh, dan


semakin hari keadaannya semakin
2. Apakah sering terjadi perdarahan ?

memburuk.
Perdarahan kulit : bercak kebiruan,
peteckie
Perdarahan

organ

epistaksis,

perdarahan gusi, hematuria, melena


Abdal tidak mengalami perdarahan
baik

perdarahan

kulit

maupun

perdarahan organ.
3. Apakah sering terjadi demam tanpa Tidak.
sebab yang jelas?

4. Apakah ada infeksi pada rongga mulut, Tidak.


tenggorokan, kulit, saluran nafas?
5. Apakah ada keluar cairan putih dari Tidak ada.
hidung ?
6. Apakah ada pembesaran pada gusi?

Tidak.

7. Apakah ada batuk ?

Tidak.

26

8. Apakah ada keringat malam?


9. Apakah ada nyeri tulang atau sendi?

Tidak
Ada, Abdal sering mengeluh nyeri di
bagian kaki (sendi).

10. Apakah pasien sering nyeri perut?


11.

Apakah

terjadi

penurunan

makan?

Tidak.
nafsu Tidak, nafsu makan Abdal masih
baik

12. Apakah ada mual dan muntah? (TIK Tidak. Abdal pernah muntah ketika
meningkat)

dilakukan penyuntikan di sumsum


tulang. Selain itu tidak ada lagi.

13. Apakah ada pembengkakan kelenjar Ya,


getah bening?

Abdal

pembengkakan

mengalami
kelenjar

getah

bening pada bagian leher dan axilla.


14. Apakah ada sakit kepala, mata kabur, Abdal tidak mengalami sakit kepala
dan kaku kuduk?

dan

mata

kabur,

tapi

Abdal

mengeluh mengalami kaku kuduk.

B. Riwayat Keluarga
Pertanyaan Riwayat Keluarga
jawaban
1.Apakah ada anggota keluarga yang Belum ada anggota keluarga Abdal
menderita leukemia ?

yang menderita leukemia.

C. Sosial Ekonomi
Pertanyaan sosial ekonomi
1. Apa pekerjaan pasien sehari hari?

jawaban
Abdal masih duduk di bangku
sekolah

dasar.

Orangtua

Abdal

bekerja wiraswasta.
2. Bagaimana pola makan pasien sehari- Pola makan Abdal teratur, tiga kali
hari?

sehari.
27

3. Apakah pasien seorang perokok?

Bukan. Ayah Abdal yang merupakan

perokok.
4. Bagaimana pola hidup pasien sebelum Sebelum

didiagnosis

leukemia,

dan setelah mengetahui bahwa pasien Abdal merupakan anak yang aktif,
menderita leukemia?

tetapi semakin lama, daya tahan


tubuh Abdal menurun (Abdal mudah
lelah), sehingga berdampak pada
keaktifan Abdal. Abdal didiagnosis
baru sekitar 2 minggu yang lalu, dan
langsung dibawa ke RSMH, dan
sekarang Abdal menginap di RSMH.

D. Tatalaksana
Pertanyaan tatalaksana
jawaban
1.Apa pengobatan yang sudah pasien dapat Abdal belum menjalani pengobatan.
dan sudah berapa lama pasien mendapatkan
pengobatan tersebut?
2. Dimana pasien sudah mendapatkan Abdal diperiksa di RS Jambi, dan
pengobatan?

langsung dibawa ke RSMH, tetapi

.
belum mendapat pengobatan
3. Obat apa yang diberikan pada pasien?
Belum ada.
4. Bagaimana keadaan jika tidak melakukan Mungkin akan semakin buruk.
pengobatan?

E. Komplikasi?
Pertanyaan komplikasi
1.Apakah ada gejala-gejala yang timbul Belum tau.

jawaban

setelah pasien mendapatkan pengobatan


leukemia?

3. Pasien 3
Nama
Tanggal lahir
Umur

: Kevin Arialsyah
: 2 Februari 2006
: 8 tahun 7 bulan

28

Jenis kelamin
Alamat

: Laki laki
: Lubuk Linggau

A. Gambaran Klinis
Pertanyaan gambaran klinis
jawaban
1. Apakah pasien sering merasa lelah, pucat Ya, Kevin sering merasa lelah,
dan nafas cepat ? (Anemia)

pucat, dan nafas cepat.

2. Apakah sering terjadi perdarahan ?

Perdarahan kulit : bercak kebiruan,


peteckie
Perdarahan

organ

epistaksis,

perdarahan gusi, hematuria, melena


Kevin hanya mengalami perdarahan
organ.
3. Apakah sering terjadi demam tanpa sebab Tidak.
yang jelas?
4. Apakah ada infeksi pada rongga mulut, Tidak.
tenggorokan, kulit, saluran nafas?
5. Apakah ada keluar cairan putih dari Tidak ada.
hidung ?
6. Apakah ada pembesaran pada gusi?

Ya, sebelumnya, Kevin mengalami

7. Apakah ada batuk ?


8. Apakah ada keringat malam?
9. Apakah ada nyeri tulang atau sendi?

pembesaran pada gusi.


Tidak.
Tidak.
Ya, Kevin sering mengeluh nyeri

pada bagian tulang dan sendi.


10. Apakah pasien sering nyeri perut? Ya, Kevin mengalami nyeri perut
(pembesaran ginjal, hati dan limfa).

(hepatosplenomegali)

11. Apakah ada penurunan nafsu makan?

Tidak.

12. Apakah ada mual dan muntah? (TIK Ya, Kevin seringkali mual dan
meningkat).
muntah.
13. Apakah ada pembengkakan kelenjar Ada,
getah bening?

Kevin

pembengkakan
bening

pada

mengalami
kelenjar

bagian

leher

getah
dan

inguinalis.
14. Apakah ada sakit kepala, mata kabur, Ada, Kevin seringkali mengalami
29

dan kaku kuduk?

sakit kepala, mata kabur, dan kaku


kuduk

B. Riwayat Keluarga
Pertanyaan Riwayat Keluarga
jawaban
1. Apakah ada anggota keluarga yang Sebelum Kevin, belum pernah ada
menderita leukemia ?

anggota keluarga yang menderita


leukemia.

C. Sosial Ekonomi
Pertanyaan sosial ekonomi
1. Apa pekerjaan pasien sehari hari?

jawaban
Kevin merupakan siswa sekolah
dasar.

2. Bagaimana pola makan pasien sehari-hari?


3. Apakah pasien seorang perokok?

Orangtua

Kevin

bekerja

sebagai wiraswasta.
Pola makan Kevin masih baik.
Bukan. Ayah Kevin yang merupakan

perokok.
4. Bagaimana pola hidup pasien sebelum dan Sebelum

didiagnosis

leukemia,

setelah mengetahui bahwa pasien menderita Kevin merupakan anak yang aktif,
leukemia?

sekolah dan bermain selayaknya


anak

seusianya,

tapi

setelah

didiagnosis leukemia, Kevin lebih


banyak

menghabiskan

waktu di

Rumah Sakit.
D. Tatalaksana
Pertanyaan tatalaksana (Riwayat

jawaban

pengobatan sebelumnya)
1. Apa pengobatan yang sudah pasien dapat Selama 5 bulan terakhir, Kevin telah
dan sudah berapa lama pasien mendapatkan menjalani 15 kali kemoterapi.
pengobatan tersebut?
2. Dimana pasien
pengobatan?

sudah

mendapatkan Pada saat kevin mengalami gejalagejala seperti mudah lelah, pucat,
sering pusing, dan terkadang terjadi
perdarahan pada gusi kevin dibawa

30

oleh ibunya ke rumah sakit di pagar


alam dan didiagnosis menderita
penyakit leukimia, setelah itu kevin
dirujuk ke kumah sakit mohammad
hosein di palembang.
3. Obat apa yang diberikan pada pasien?
Kemoterapi.
4. Bagaimana keadaan jika tidak melakukan Akan semakin memburuk.
pengobatan?
E. Komplikasi?
Pertanyaan komplikasi

1.

jawaban

Apakah ada gejala-gejala yang timbul Setelah

setelah

pasien

mendapatkan

menjalani

kemoterapi,

pengobatan rambut Kevin rontok, tetapi tidak

leukemia?

menunjukkan adanya komplikasi,


justru

keadaan

Kevin

semakin

membaik setelah menjalani 15 kali


kemoterapi.

4.

Pasien 4
Nama
Tanggal lahir
Umur
Jenis kelamin
Alamat

: Anggun
: 21 April 2012
: 2,4 tahun
: Perempuan
: Baturaja

A. Gambaran Klinis
Pertanyaan gejala klinis
jawaban
1. Apakah pasien sering merasa lelah, pucat Ya, Anggun mengalami pucat di
dan nafas cepat ? (Anemia)

seluruh badannya.

2.Apakah sering terjadi perdarahan ?

Perdarahan kulit : bercak kebiruan,


peteckie
Perdarahan

organ

epistaksis,

perdarahan gusi, hematuria, melena


tidak.
3. Apakah sering terjadi demam tanpa sebab Ya, Anggun

sering

mengalami
31

yang jelas?

demam hilang timbul tanpa sebab

.
yang jelas.
4. Apakah ada infeksi pada rongga mulut, Tidak.
tenggorokan, kulit, saluran nafas?
5. Apakah ada keluar cairan putih dari Tidak ada.
hidung ?
6. Apakah ada pembesaran pada gusi?
7. Apakah ada batuk ?
8. Apakah ada keringat malam?
9. Apakah ada nyeri tulang atau sendi?

Tidak.
Tidak ada.
Tidak ada.
Tidak ada.

10. Apakah pasien sering nyeri perut? Iya, terdapat bengkak pada bagian
(pembesaran ginjal, hati dan limfa)
11. Apakah terjadi penurunan nafsu makan?

perut, terkadang sampai keras sekali.


Ya, bahkan kadang Anggun samapi
tidak mau makan sama sekali.
Anggun diberi obat penambah nafsu
makan, setelah mengkonsumsi obat
penambah nafsu makan, barulah
Anggun mau makan, bahkan kadang
sampai menghabiskan 2 kali lipat

porsi makan biasanya.


12. Apakah terjadi mual dan muntah? (TIK Tidak.
meningkat)
13. Apakah ada pembengkakan kelenjar Tidak.
getah bening?
14. Apakah ada sakit kepala, mata kabur, Tidak.
dan kaku kuduk?
B. Riwayat Keluarga
Pertanyaan Riwayat Keluarga
jawaban
1.Apakah ada anggota keluarga yang Tidak ada, Anggun merupakan orang
menderita leukemia ?

pertama di keluarga yang menderita


kanker sel darah putih (leukemia).

C.Sosial Ekonomi
Pertanyaan Sosial Ekonomi
1.Apa pekerjaan orang tua pasien sehari-hari?

Ayah

jawaban
Anggun bekerja

sebagai

32

pedagang,

sedangkan

ibunya

adalah ibu rumah tangga. Anggun


2. Bagaimana pola makan pasien sehari-hari?

adalah anak pertama.


Pola makan Anggun mulai rutin
seperti

biasa,

mengkonsumsi
3. Apakah pasien seorang perokok?

nafsu makan.
Bukan, ayah

setelah
obat

Anggun
penambah

Anggun

merupakan perokok.
4. Bagaimana pola hidup pasien sebelum dan Setelah didiagnosis

yang

leukemia,

setelah mengetahui bahwa pasien menderita Anggun menginap di RSMH.


leukemia?

D. Tatalaksana
Pertanyaan tatalaksana (Riwayat

Jawaban

pengobatan sebelumnya)
1. Apa pengobatan yang sudah pasien dapat Anggun sudah menjalani 15 kali
dan sudah berapa lama pasien mendapatkan kemoterapi selama 5 bulan terakhir.
pengobatan tersebut?
2. Dimana pasien

sudah

mendapatkan Sebelumnya, Anggun sudah pernah

pengobatan?

dirawat di RS Baturaja, karena


keterbatasan alat dan pengobatan,

3. Obat apa yang diberikan pada pasien?

Anggun dirujuk ke RSMH.


Obat
kemoterapi,
dan

obat

penambah nafsu makan.


4. Bagaimana keadaan jika tidak melakukan Semakin memburuk.
pengobatan
E. Komplikasi
Pertanyaan komplikasi
1.Apakah ada gejala-gejala yang timbul setelah Setelah
pasien mendapatkan pengobatan leukemia?

rambut

Jawaban
menjalani
kemoterapi,
Anggun

rontok,

sampai

mengalami kebotakan, tapi tidak

33

menunjukkan

adanya

gejala

komplikasi.

5.

Pasien 5
Nama
Umur
Jenis kelamin
Alamat

: Ikhsan
: 9 tahun
: Laki-laki
: Curup

A. Gambaran Klinis
Pertanyaan gejala klinis
jawaban
1. Apakah pasien sering merasa lelah, pucat dan Ya, Ikhsan sering merasa lelah,
nafas cepat ? (Anemia)

pucat, dan nafas cepat.

2. Apakah sering terjadi perdarahan ?

Perdarahan

kulit

bercak

kebiruan, peteckie
Perdarahan organ : epistaksis,
perdarahan

gusi,

hematuria,

melena
Terjadi perdarahan pada kulit dan
organ, berupa bercak, kebiruan,
perdarahan gusi, dan melena.
3. Apakah sering terjadi demam tanpa sebab yang Ya, Ikhsan sering mengalami
jelas?
demam tanpa sebab yang jelas.
4. Apakah ada infeksi pada rongga mulut, Tidak ada.
tenggorokan, kulit, saluran nafas?
5. Apakah ada keluar cairan putih dari hidung ?

Tidak.
34

6. Apakah ada pembesaran pada gusi?

Tidak.

7. Apakah ada batuk ?


8. Apakah ada keringat malam?
9. Apakah ada nyeri tulang atau sendi?

Tidak.
Tidak.
Ya, Ikhsan seringkali mengeluh
nyeri tulang dan sendi.

10.

Apakah

pasien

sering

nyeri

perut? Pasien tidak mengalami nyeri

(pembesaran ginjal, hati dan limfa) Pasien tidak perut.


mengalami nyeri perut.
11. Apakah terjadi penurunan nafsu makan?

Ya, Ikhsan mengalami penurunan

nafsu makan
12. Apakah pasien mengalami mual dan muntah? Ya, Ikhsan seringkali mual dan
(TIK meningkat).

muntah.

13. Apakah ada pembengkakan kelenjar getah Ada, yaitu di bagian axilla.
bening?
14. Apakah ada sakit kepala, mata kabur, dan Ikhsan mengalami sakit kepala
kaku kuduk?

dan mata kabur, tapi Ikhsan tidak


mengalami kaku kuduk.

B. Riwayat Keluarga
Pertanyaan Riwayat Keluarga
Jawaban
1.Apakah ada anggota keluarga yang menderita Tidak ada, di keluarganya Ikhsan
leukemia ?

adalah

orang

pertama

yang

menderita leukemia.
C. Sosial Ekonomi
Pertanyaan sosial ekonomi
1.Apa pekerjaan pasien sehari hari?
.

Jawaban
Ikhsan masih di bangku sekolah
dasar. Orangtua Ikhsan berprofesi
sebagai petani dengan penghasilan

2. Bagaimana pola makan pasien sehari-hari?

yang cukup
Pola makan Ikhsan mulai tidak
teratur sejak Ikhsan mengalami
35

penurunan nafsu makan. Makanan


kesukaan Ikhsan biasanya yaitu
3. Apakah pasien seorang perokok?

ikan nila dan kangkung.


Bukan. Ayah Ikhsan

merupakan perokok.
4. Bagaimana pola hidup pasien sebelum dan Sebelum menderita

yang

leukemia,

setelah mengetahui bahwa pasien menderita Ikhsan masih bisa sekolah, karena
leukemia?

menderita leukemia, Ikhsan tidak


naik kelas, seharusnya sekarang
Ikhsan sudah duduk di bangku
kelas

sekolah

dasar,

tapi

sekarang Ikhsan masih duduk di


bangku kelas 4 sekolah dasar.

D. Tatalaksana
Pertanyaan tatalaksana
Jawaban
1. Apa pengobatan yang sudah pasien dapat dan Pada awalnya Ikhsan menderita
sudah

berapa

lama

pasien

pengobatan tersebut?

mendapatkan demam

dan

diberikan

obat

antimalaria oleh dokter Rumah


Sakit

Lubuklinggau.

Namun

setelah dilakukan pemeriksaan


lebih lanjut, Ikhsan di diagnosis
Leukemia, lalu Ichsan dirujuk ke
RSMH.

dan

sudah

diberikanpengobatan

berupa

kemoterapi selama 6 bulan (dari


bulan 9-bulan 2).
2.

Dimana

pengobatan?

pasien

sudah

mendapatkan Sebelumnya
Lubuk
diagnosis
dirujuk

di

Rumah Sakit

Linggau,

setelah

leukemia,
ke

Rumah

di

Ikhsan
Sakit

36

3.Obat apa yang diberikan pada pasien?

Muhammad Hoesin.
Ketika di RS Lubuklinggau,
Ikhsan diberi obat antimalaria,
karena diagnosis sementara saat
itu Ikhsan menderita malaria.
Di

RSMH

Ikhsan

diberikan

pengobatan berupa kemoterapi


selama 6 bulan (dari bulan 2
4.

sampai bulan 9).


Bagaimana keadaan jika tidak melakukan Jika tidak melakukan pengobatan,

pengobatan?

keadaan

Ikhsan

semakin

memburuk.

E. Komplikasi?
Pertanyaan komplikasi
jawaban
1.Apakah ada gejala-gejala yang timbul setelah Ikhsan mengalami keroktokan
pasien mendapatkan pengobatan leukemia?

rambut

setelah

kemoterapi,

menjalani

tetapi

tidak

menunjukkan terjadinya gejala


komplikasi, justru berat badan
Ikhsan

naik

kembali,

dan

menunjukkan adanya harapan


Ikhsan untuk sembuh.

37

Dari hasil wawancara, di dapatkan gambaran klinis sebagai berikut.


Tabel 4.1 Gambaran klinis penderita leukemia
No
1
2

Gambaran Klinis
Sering merasa lelah, pucat dan nafas cepat
Sering terjadi perdarahan
Perdarahan kulit : bercak kebiruan, peteckie
Perdarahan organ : epistaksis, perdarahan

Jumlah pasien
5 orang

1 orang

gusi, hematuria, melena


2 orang
3
4

Sering terjadi demam tanpa sebab yang jelas


3 orang
Infeksi pada rongga mulut, tenggorokanm

5
6
7
8
9
10
11
12

kulit, saluran nafas


Pembesaran pada gusi
Mengalami batuk
Terdapat keringat malam
Mengalami nyeri tulang atau sendi
Mengalami nyeri perut
Mengalami penururunan nafsu makan
Mual dan muntah
Mengalami pembesaran kelenjar

1 orang
1 orang
3 orang
2 orang
2 orang
2 orang
getah 2 orang

13

bening
Sakit kepala, mata kabur, kaku kuduk

3 orang

38

Dari 5 orang pasien yang telah kami wawancarai saat tugas pengenalan profesi
didapatkan gejala - gejala berbeda dialami oleh penderita leukemia, dimana geajala
tersebut antara lain: sering merasa lelah, pucat dan nafas cepat yang dialami oleh 5
orang pasien, sering terjadi perdarahan sepert perdarahan kulit yaitu bercak kebiruan,
peteckie ditemukan pada salah satu pasien dan perdarahan seperti epistaksis,
perdarahan gusi, hematuria, melena ditemukan pada dua orang pasien, sering terjadi
demam tanpa sebab yang jelas dialami oleh 3 orang pasien dari 5 orang pasien yang
telah kami wawancarai. Infeksi pada rongga mulut, tenggorokan dan saluran nafas
seperti pembesaran pada gusi dialami oleh 1 orang dari 5 orang pasien yang telah
kami wawancarai, mengalami batuk 1 orang. Tidak ada pasien yang mengalami
keringat malam hal ini kemungkinan disebabkan oleh sistem imun tubuh pasien yang
masih cukup baik sehingga memungkinkan tidak terjadi hipermetabolik salah
satunya ialah berkeringat malam. Mengalami nyeri tulang atau sendi dialami oleh 3
orang dari 5 orang pasien yang telah kami wawancarai. Mengalami nyeri perut
dialami oleh 2 orang dari total 5 orang pasien yang telah kami wawancarai.
Mengalami penururunan nafsu makan dialami oleh 2 orang pasien dari total 5 orang
pasien yang telah kami wawancarai. Gejala mual dan muntah dialami oleh 2 orang
dari total 5 orang yang kami wawancarai. Mengalami pembesaran kelenjar getah
bening dialami oleh 2 orang pasien penderita leukemia dari total 5 orang pasien
leukima yang telah kami wawancarai. Dan terdapat 3 orang yang mengalami sakit
kepala, mata kabur, kaku kuduk dari total 5 orang pasien yang telah kami
wawancarai.

39

4.2 Pembahasan
Menurut Bakta (2006), gejala klinik leukemia akut sangat bervariasi tetapi pada
umumnya timbul cepat, dalam beberapa hari atau minggu, hal ini sesuai dengan yang
dialami oleh lima pasien yang kami wawancarai saat TPP. Dari lima pasien tersebut,
terdapat gejala klinis yang timbul cepat dalam 4 minggu, gejalanya juga bervariasi,
diantaranya, ada yang timbul perdarahan pada gusi (Reza), pucat di seluruh badan
(Anggun), demam tinggi yang kontinyu (Ikhsan), mudah lelah dan nafas cepat
(Kevin), dan tampak pucat dan mudah lelah (Abdal).
Kelima pasien yang diwawancarai, sering mengalami lelah dan pucat. Menurut Bakta
(2006) dan Fianza (2007), mudah lelah dan pucat disebabkan karena terjadinya
kegagalan

sumsum

tulang

yang

mengakibatkan

terjadinya

anemia,

yang

menimbulkan gejala pucat dan lemah.

40

Dari 5 pasien, terdapat 1 orang pasien yang mengalami perdarahan kulit dan 2 orang
yang mengalami perdarahan. Perdarahan tersebut karena terjadinya trombositopenia,
yaitu keadaan dimana platelet (sel pembeku darah) tidak terproduksi dengan wajar
disebabkan karena didominasi oleh sel darah putih, sehingga penderita akan
mengalami perdarahan pada kulit (Fianza, 2007) (Bakta, 2006)
Dari 5 pasien, terdapat 3 orang yang mengalami demam tanpa sebab yang jelas.
Demam terjadi karena kegagalan sumsum tulang yang mengakibatkan terjadinya
neutropenia sehingga menimbulkan infeksi yang ditandai oleh demam, infeksi
rongga mulut, tenggorokan, kulit, saluran nafas, dan sepsis, sampai syok septic
(Bakta, 2006). Tapi, dari 5 pasien, tidak ada yang mengalami infeksi pada rongga
mulut, tenggorokan, dan saluran nafas.
Pada penderita leukemia, sel darah putih yang terbentuk tidak normal, karena
terjadinya kegagalan sumsum tulang, yang menyebabkan sel darah putih tidak
befungsi semestinya. Akibatnya tubuh penderita leukemia rentan terkena infeksi
virus atau bakteri sehingga menampakkan gejala demam, keluar cairan putih dari
hidung (meler) dan batuk. (Fianza, 2007). Dari 5 pasien, hanya 1 orang yang
mengalami batuk, dan tidak ada yang mengalami keluarnya cairan putih dari hidung
(meler).
Pada penderita leukemia, terjadi infiltrasi ke dalam organ yang menibulkan
organomegali dan gejala lain seperti nyeri tulang dan nyeri sendi, limfadenopati
superficial, splenomegali atau hepatomegali, hipertrofi gusi, dan sindrom meningeal
(sakit kepala,mata kabur, mual, muntah, kaku kuduk). (Bakta, 2006) Gejala-gejala
tersebut juga terjadi pada 5 pasien yang kami wawancarai, terdapat 1 orang pasien
yang mengalami pembesaran gusi, 3 orang pasien yang mengalami nyeri tulang atau
sendi, 2 orang yang mengalami hepatosplenomegali, 2 orang yang mengalami mual
dan muntah, dan 3 orang yang mengalami sakit kepala, mata kabur, dan kaku kuduk.
Penderita leukemia juga biasanya mengalami pengbengkakan kelenjar limfe, karena
terjadinya penumpukan sel leukost pada kelenjar limfe sehingga mengakibatkan
terjadinya pembengkakan. (Fianza, 2007). Dari 5 pasien, 2 orang yang mengalami
pembengkakan kelenjar getah bening.

41

Pada pasien leukemia, biasanya mengalami gejala hipermetabolik yang ditandai


dengan adanya keringat malam (Bakta,2006). Dari ke 5 orang pasien yang telah kami
wawancarai tidak ada yang mengalami Hipermetabolik yang dalam hal ini adalah
keringat malam hal tersebut dikarenakan kemungkinan pasien tersebut mengalami
leukemia dalam jangka waktu yang belum terlalu lama jadi sistem imun tubuh masih
sedikit bagus dan sel-sel leukemia belum sepenuhnya menguasai tubuh dan membuat
tubuh belum semakin rentan terhadap infeksi yang berkepanjangan seperti pada
kasus TBC selain itu juga diperkirakan tubuh masih kuat melawan infeksi yang
berkepanjangan jadi tidak mengalami keringat malam karena keringat malam
merupakan salah satu indikasi yang kuat bahwa tubuh sedang melawan infeksi yang
berkepanjangan.
Nyeri perut juga merupakan salah satu indikasi gejala leukemia, dimana sel leukemia
dapat terkumpul pada organ ginjal, hati, dan empedu yang menyebabkan pembesaran
pada organ-organ tubuh ini dan timbullah nyeri pada bagian perut. Nyeri perut ini
berdampak pada hilangnya nafsu makan. (Fianza, 2007). Dari 5 pasien, hanya 2
orang yang mengalami penurunan nafsu makan. Kemungkinan pada 3 orang pasien
lainnya tidak terjadi pembesaran organ sehingga tidak mengakibatkan penurunan
nafsu makan.
Dari hasil wawancara yang telah kami lakukan dengan orang tua pasien maka kami
di dapati bahwa tidak ada satu pun anggota keluarga pasien menderita riwayat
penyakit yang sama (dalam hal ini leukimia) hal menunjukkan bahwa kemungkinan
besar pasien merupakan satu-satu nya anggota keluarga yang menderita penyakit
leukimia. Dimana pengaruh genetik memainkan peranan , namun jarang terdapat
leukemia familial, tetapi insidensi leukemia lebih tinggi dari saudara kandung anakanak yang terserang , dengan insidensi yang meningkat sampai 20% pada kembar
monozigot (identik). (Fianza, 2007)
Dari hasil wawancara yang telah kami lakukan kepada orang tua pasien maka
didapati bahwa pekerjaan orang tua serta pola makan anak baik yang kemungkinan
pola makan anak bukan salah satu faktor pendukung yang menyebabkan anak
menderita leukimia, karena kelima pasien orangtuanya termasuk berpendapatan
sedang. Rata-rata nafsu makan anak tidak mengalami penurunan baik sebelum

42

maupun setelah menderita leukimia (dari lima pasien, dua yang mengalami
penurunan nafsu makan) namun untuk menjaga kesehatan maka orang tua mengaku
lebih memperhatikan waktu makan anaknya selain itu orang tua juga lebih
memperhatikan kandungan gizi dari makanan seperti lebih banyak memberikan
buah-buahan serta sayuran. Selain itu, 5 pasien ini, bukanlah perokok. Keadaan
social ekonomi merupakan salah satu factor risiko terjadinya leukemia, tapi
meskipun seseorang memiliki satu atau lebih factor risiko menderita leukemia, tidak
berarti seseorang tersebut akan mengidap leukemia. (Rotty, 2007). Diakitkan dengan
5 pasien yang telah diwawancarai, dapat disimpulkan bahwa kemungkian penyebab
penyakit leukemia yang dialami bukan karena factor social ekonomi.
Tata laksana dari leukemia yaitu dengan cara di kemoterapi. (Fadjari, 2007). Dari
lima pasien, hanya satu orang yang belum menjalani kemoterapi. Untuk pasien yang
sudah menjalani kemoterapi, sudah menunjukkan tanda-tanda menbaik, bahkan ada
satu pasien yang berat badannya mulai meningkat kembali. Kemoterapi adalah obat
yang digunakan untuk membunh sel-sel ganas sekaligus membunuh sel yang baik
sehingga akan berdampak pada pasien, salah satunya akan berdampak pada rambut
pasien. Sebelum dilakukan kemoterapi rambut pasien tebal dan hitam, setelah
menjalani kemoterapi, rambut pasien rontok dan kuning.

DAFTAR PUSTAKA
Bakta, I Made. 2006. Hematologi Klinik Ringkas. Jakarta : EGC
Fadjari H. 2007. Leukemia Granulositik Kronik: Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Jilid Kedua. Edisi Keempat .FKUI: Jakarta
Fianza PI. 2007. Leukemia Limfoblastik Akut: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.
Jilid kedua.FKUI: Jakarta
Hoffbrand AV, Pettit JE, Moss PAH. 2002.Leukemia: Buku Hematologi.
Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta
Katzung, B. G. 2013. Farmakologi Dasar dan Klinik edisi II. Jakarta: Salemba
Medika
43

Price, Sylvia A. Wilson, Lorraine M. 2014.Patofisiologi, Konsep Klinis ProsesProses Penyakit edisi 6. Jakarta: EGC
Rofinda ZD. 2012.Kelainan hemostasis pada leukemia. Padang: Fakultas
Kedokteran Universitas Pasienlas
Rotty LWA.2007. Leukemia Limfositik Kronik: Buku Ajar IlmuPenyakit
Dalam. FKUI: Jakarta
Supandiman, Iman.2008. Hematologi Klinik Ed 2. Penerbit Alumni : Bandung
Wirawan R. 2003.Diagnosis keganasan darah dan sumsum tulang. Dalam:
Suryaatmadja, ed. Pendidikan Berkesinambungan Patologi Klinik.
Jakarta: Bagian Patologi Klinik FKUI

Lampiran 1
Daftar pertanyaan wawancara

Nama Pasien

TTL

Umur

Jenis Kelamin :
Alamat

44

A. Gambaran Klinis
1. Apakah pasien sering merasa lelah, pucat dan nafas cepat ? (Anemia)
2. Apakah sering terjadi perdarahan ?
a. Perdarahan kulit : bercak kebiruan, peteckie
b. Perdarahan organ : epistaksis, perdarahan gusi, hematuria, melena
3. Apakah sering terjadi demam tanpa sebab yang jelas?
4. Apakah ada infeksi pada rongga mulut, tenggorokan, kulit, saluran nafas?
5. Apakah ada keluar cairan putih dari hidung ?
6. Apakah ada pembesaran pada gusi?
7. Apakah ada batuk ?
8. Apakah ada keringat malam?
9. Apakah ada nyeri tulang atau sendi?
10. Apakah pasien sering nyeri perut? (pembesaran ginjal, hati dan limfa)
11. Apakah ada penurunan nafsu makan?
12. Apakah ada mual dan muntah? (TIK meningkat)
13. Apakah ada pembengkakan kelenjar getah bening?
14. Apakah ada sakit kepala, mata kabur, dan kaku kuduk?

B. Riwayat Keluarga

Apakah ada anggota keluarga yang menderita leukemia ?

C. Sosial Ekonomi
1.
Apa pekerjaan pasien sehari hari?
2.
Bagaimana pola makan pasien sehari-hari?
3.
Apakah pasien seorang perokok?
4.
Bagaimana pola hidup pasien sebelum dan setelah mengetahui bahwa
pasien menderita leukemia?
D. Tatalaksana
1. Apa pengobatan yang sudah pasien dapat dan sudah berapa lama pasien
mendapatkan pengobatan tersebut?
2. Dimana pasien sudah mendapatkan pengobatan?
3. Obat apa yang diberikan pada pasien?
4. Bagaimana keadaan jika tidak melakukan pengobatan?
E. Komplikasi?
2. Apakah ada gejala-gejala yang timbul setelah pasien mendapatkan
pengobatan leukemia?

45

Lampiran 2

46

ss

47

48