Anda di halaman 1dari 25

BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Atresia Ani


Atresia berasal dari bahasa Yunani, a artinya tidak ada, tresis artinya nutrisi
atau makanan. Dalam istilah kedokteran atresia itu sendiri adalah keadaan
tidak adanya atau tertutupnya lubang badan normal atau organ tubular secara
kongenital disebut juga clausura.
Dengan kata lain tidak adanya lubang di tempat yang seharusnya berlubang
atau buntunya saluran atau rongga tubuh, hal ini bisa terjadi karena bawaan
sejak lahir atau terjadi kemudian karena proses penyakit yang mengenai
saluran itu. Atresia dapat terjadi pada seluruh saluran tubuh, misalnya atresia
ani. Jadi ATRESIA ANI adalah bentuk kelainan bawaan dimana tidak adanya
lubang dubur terutama pada bayi, rektum yang buntu terletak di atas levator
sling yang juga dikenal dengan istilah "AGNESIS REKTUM".
Atresia ani memiliki nama lain yaitu anus imperforate atau malformasi
anorectal. Jika atresia ani terjadi maka hampir selalu memerlukan tindakan
operasi untuk membuat saluran seperti keadaan normalnya Menurut Ladd dan
Gross (1966) anus imperforata dalam 4 golongan, yaitu:
1. Stenosis rektum yang lebih rendah atau pada anus (Tipe pertama)
2. Membran anus yang menetap (Tipe Kedua)
3. Anus imperforata dan ujung rektum yang buntu terletak pada bermacammacam jarak dari peritoneum (Tipe Ketiga)
4. Lubang anus yang terpisah dengan ujung rectum (Tipe Keempat)

B.

Etiologi
Atresia dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
1. Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur sehingga bayi
lahir tanpa lubang dubur
2. Kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu/3
bulan
3. Adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik didaerah
usus, rektum bagian distal serta traktus urogenitalis, yang terjadi antara
minggu keempat sampai keenam usia kehamilan.
4. Insiden + 1 : 4000 5000
5. Secara tertutup diasosiakan dengan devidasi kongenital lainnya seperti :
penyakit jantung, atresia esofagus, spinal malformasi, hidronefrosis,
BBLR.

C. Patofisiologi
Terjadinya anus imperforata karena kelainan congenital dimana saat proses
perkembangan embrionik tidak lengkap pada proses perkembangan anus dan
rectum. Dalam perkembangan selanjutnya ujung ekor dari belakang
berkembang jadi kloaka yang juga akan berkembang jadi genitor urinary dan
struktur anoretal.
Atresia ani ini terjadi karena tidak sempurnanya migrasi dan perkembangan
kolon antara 7-10 minggu selama perkembangan janin. Kegagalan tersebut
terjadi karena abnormalitas pada daerah uterus dan vagina, atau juga pada
proses obstruksi. Anus imperforate ini terjadi karena tidak adanya pembukaan
usus besar yang keluar anus sehingga menyebabkan feses tidak dapat
dikeluarkan.
Manifestasi klinis diakibatkan adanya obstuksi dan adanya 'fistula. Obstuksi ini
mengakibatkan distensi abdomen, sekuestrasi cairan, muntah dengan segala
akibatnya Apabila urin mengalir melalui fistel menuju rektum, maka urin akan
diabsorbsi sehingga terjadi asidosis hiperchloremia, sebaliknya feses mengalir
kearah traktus urinarius menyebabkan infeksi berulang. Pada keadaan ini
biasanya akan terbentuk fistula antara rectum dengan organ sekitarnya. Pada
2

wanita 90% dengan fistula ke vagina (rektovagina) atau perineum


(rektovestibuler). Pada laki- laki biasanya letak tinggi, umumnya fistula
menuju ke vesika urinaria atau ke prostate (rektovesika) pada letak rendah
fistula menuju ke urethra (rektourethralis).

D. Manifestasi Klinis
Gejala yang menunjukan terjadinya atresia ani atau anus imperforata terjadi
dalam waktu 24-48 jam. Gejala itu dapat berupa:
1. Perut kembung dan membuncit
2. Muntah
3. Tidak ada anus yang terbuka
4. Tidak bisa buang air besar
5. Tidak ada mekonium
6. Pada pemeriksaan radiologis dengan posisi tegak serta terbalik dapat
dilihat sampai dimana terdapat penyumbatan
7. Termometer oleh jari kecil tidak dapat masuk ke dalam rectum
8. Pada bayi perempuan biasanya disertai vistula recta vagina, jarang
disertai vistula recta ana
9. Pada bayi laki laki sering disertai vistula recta urinari; dalam urin ada
meconium

E. Klasifikasi Atresia Ani


Klasifikasi atresia ani :
a. Anal stenosis adalah terjadinya penyempitan daerah anus sehingga
feses tidak dapat keluar.
b. Membranosus atresia adalah terdapat membran pada anus.
c. Anal agenesis adalah memiliki anus tetapi ada daging diantara
rectum dengan anus.
d. Rectal atresia adalah tidak memiliki rectum (Wong, Whaley. 1985).

F. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita atresia ani antara lain :
a. Asidosis hiperkioremia
b. Infeksi saluran kemih yang bisa berkepanjangan
c. Kerusakan uretra (akibat prosedur bedah)
d. Komplikasi jangka panjang
Eversi mukosa anal
Stenosis (akibat kontriksi jaringan perut dianastomosis)
Masalah atau kelambatan yang berhubungan dengan toilet
training
Inkontinensia (akibat stenosis awal atau impaksi)
Prolaps mukosa anorektal
Fistula kambuan (karena ketegangan diare pembedahan dan
infeksi) (Ngustiyah, 1997 : 248

G. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan rectal digital dan visual adalah pemeriksaan
diagnostik yang umum dilakukan pada gangguan ini.
b. Jika ada fistula, urin dapat diperiksa untuk memeriksa adanya selsel epitel mekonium.
c. Pemeriksaan sinyal X lateral infeksi (teknik wangensteen-rice)
dapat menunjukkan adanya kumpulan udara dalam ujung rectum
yang buntu pada mekonium yang

mencegah udara sampai

keujung kantong rectal.


d. Ultrasound dapat digunakan untuk menentukan letak rectal
kantong.
e. Aspirasi

jarum

untuk

mendeteksi

kantong

rectal

dengan

menusukan jarum tersebut sampai melakukan aspirasi, jika


mekonium tidak keluar pada saat jarum sudah masuk 1,5 cm Derek
tersebut dianggap defek tingkat tinggi.
f. Pemeriksaan radiologis dapat ditemukan :
Udara dalam usus berhenti tiba-tiba yang menandakan
obstruksi di daerah tersebut.
Tidak ada bayangan udara dalam rongga pelvis pada bagian
baru lahir dan gambaran ini harus dipikirkan kemungkinan
atresia reftil/anus impoefartus, pada bayi dengan anus
impoefartus. Udara berhenti tiba-tiba di daerah sigmoid,
kolon/rectum.
Dibuat foto anterpisterior (AP) dan lateral. Bayi diangkat
dengan kepala dibawah dan kaki diatas pada anus benda bang
radio-opak, sehingga pada foto daerah antara benda radioopak dengan dengan bayangan udara tertinggi dapat diukur.

H. Penatalaksanaan
Penanganan secara preventif antara lain:
1. Kepada ibu hamil hingga kandungan menginjak usia tiga bulan untuk
berhati-hati terhadap obat-obatan, makanan awetan dan alkohol yang
dapat menyebabkan atresia ani.
2. Memeriksa lubang dubur bayi saat baru lahir karena jiwanya terancam
jika sampai tiga hari tidak diketahui mengidap atresia ani karena hal
ini dapat berdampak feses atau tinja akan tertimbun hingga mendesak
paru-parunya.
3. Pengaturan diet yang baik dan pemberian laktulosa untuk menghindari
konstipasi.

Rehabilitasi dan Pengobatan


Penatalaksanaan Atresia ani tergantung klasifikasinya :
1. Melakukan pemeriksaan colok dubur
2. Melakukan

pemeriksaan

radiologik

pemeriksaan

foto

rontgen

bermanfaat dalam usaha menentukan letak ujung rectum yang buntu


setelah berumur 24 jam, bayi harus diletakkan dalam keadaan posisi
terbalik selama tiga menit, sendi panggul dalam keadaan sedikit
ekstensi lalu dibuat foto pandangan anteroposterior dan lateral setelah
petanda diletakkan pada daerah lekukan anus.
3. Melakukan tindakan kolostomi neonatus tindakan ini harus segera
diambil jika tidak ada evakuasi mekonium.
4. Pada stenosis yang berat perlu dilakukan dilatasi setIap hari dengan
kateter uretra, dilatasi hegar, atau spekulum hidung berukuran kecil
selanjutnya orang tua dapat melakukan dilatasi sendiri dirumah dengan
jari tangan yang dilakukan selama 6 bulan sampai daerah stenosis
melunak dan fungsi defekasi mencapai keadaan normal.

5. Melakukan operasi anapelasti perineum yang kemudian dilanjutkan


dengan dilatasi pada anus yang baru pada kelainan tipe dua.
6. Pada kelainan tipe tiga dilakukan pembedahan rekonstruktif melalui
anoproktoplasti pada masa neonatus
7. Melakukan

pembedahan

rekonstruktif

antara

lain:

operasi

abdominoperineum pada usia (1 tahun) operasi anorektoplasti sagital


posterior pada usia (8-!2 bulan) pendekatan sakrum setelah bayi
berumur (6-9 bulan)
8. Penanganan tipe empat dilakukan dengan kolostomi kemudian
dilanjutkan

dengan

operasi

"abdominal

pull-through"

manfaat

kolostomi adalah antara lain:


a. Mengatasi obstruksi usus
b. Memungkinkan pembedahan rekonstruktif untuk dikerjakan
dengan lapangan operasi yang bersih
c. Memberi kesempatan pada ahli bedah untuk melakukan
pemeriksaan lengkap dalam usaha menentukan letak ujung
rektum yang buntu serta menemukan kelainan bawaan yang
lain.
Fena dan Defries pada tahun 1982 memperkenalkan metode operasi
dengan pendekatan postero sagital anorectoplasty, yaitu dengan cara
membelah muskulus sfingter eksternus dan muskulus levator ani untuk
memudahkan

mobilisasi

kantong

rectum

dan

pemotongan

fistel. Keberhasilan penatalaksanaan atresia ani dinilai dari fungsinya


secara jangka panjang, meliputi anatomisnya, fungsi fisiologisnya, bentuk
kosmetik serta antisipasi trauma psikis. Sebagai Goalnya adalah defekasi
secara teratur dan konsistensinya baik. Untuk menanganinya secara tepat,
harus ditentukankan ketinggian akhiran rectum yang dapat ditentukan
dengan berbagai cara antara lain dengan pemeriksaan fisik, radiologis dan
USG.

Komplikasi yang terjadi pasca operasi banyak disebabkan oleh kegagalan


menentukan letak kolostomi, persiapan operasi yang tidak adekuat
keterbatasan pengetahuan anatomi, ketrampilan operator yang kurang serta
perawatan

post

operasi

yang

buruk.

Dari

berbagai

klasifikasi

penatalaksanaannya berbeda tergantung pada letak ketinggian akhiran


rectum dan ada tidaknya fistula.
Teknik terbaru dari operasi atresia ani ini adalah teknik Postero Sagital
Ano Recto Plasty (PSARP). Teknik ini punya akurasi tinggi untuk
membuka lipatan bokong pasien. Teknik ini merupakan pengganti dari
teknik lama, yaitu Abdomino Perineal Poli Through (APPT). Teknik lama
ini punya resiko gagal tinggi karena harus membuka dinding perut, banyak
menimbulkan inkontinen feses dan prolaps mukosa usus yang lebih tinggi.
Teknik Operasi
Dilakukan dengan general anestesi , dengan endotrakeal intubasi , dengan
posisi pasien tengkurap dan pelvis ditinggikan
Stimulasi perineum dengan alat Pena Muscle Stimulator untuk identifikasi
anal dimple
Incisi bagian tengah sacrum kearah bawah melewati pusat spingter dan
berhenti 2 cm didepanya
Dibelah jaringan subkutis , lemak, parasagital fiber dan muscle complek.
Os Coxigeus dibelah sampai tampak muskulus levator , dan muskulus levator
dibelah tampak dinding belakang rectum
Rectum dibebas dari jaringan sekitarnya
Rectum ditarik melewati levator, muscle complek dan parasagital fiber
Dilakukan anoplasti dan dijaga jangan sampai tension.
Perawatan Pasca Operasi PSARP (Postero Sagital Anorecto Plasti)
8

1. Antibiotik intra vena diberikan selama 3 hari ,salep antibiotik diberikan


selama 8-10 hari.
2. 2 minggu pasca operasi dilakukan anal dilatasi dengan heger dilatation, 2x
sehari tiap minggu dilakukan anal dilatasi dengan anal dilator yang
dinaikan ukuran sesuai dengan umurnya.

Businasi dihentikan bila busi nomor 13-14 mudah masuk


UMUR

UKURAN

1 - 4 Bulan

# 12

4 - 12 bulan

#13

8 - 12 bulan

# 14

1-3 tahun

# 15

3 - 12 tahun

# 16

> 12 tahun

# 17

FREKUENSI
Tiap 1hari
Tiap 3 hari
Tiap 1 minggu
Tiap 1 minggu
Tiap 1 bulan

DILATASI
1x dalam 1 bulan
lx dalam 1 bulan
2 x dalam 1 bulan
1x dalam 1 bulan
lx dalam 3 bulan

Kalibrasi anus tercapai dan orang tua mengatakan mudah mengejan serta tidak ada
rasa nyeri dilakukan 2x selama 3-4 minggu merupakan indikasi tutup kolostomi,
secara bertahap frekuensi diturunkan.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN ATRESIA ANI SECARA TEORITIS
A. Asuhan Keperawatan Atresia Ani Secara Teoritis
1. Pengkajian
a.

Identitas Pasien
Nama, Tempat tgl lahir, umur , Jenis Kelamin, Alamat, Agama, Suku
Bangsa, Pendidikan, Pekerjaan , No. CM, Tanggal Masuk RS,
Diagnosa Medis

b.

RIWAYAT KESEHATAN
1) Keluhan Utama :
Distensi abdomen
2) Riwayat Kesehatan Sekarang :
Muntah, perut kembung dan membuncit, tidak bisa buang air
besar, meconium keluar dari vagina atau meconium terdapat
dalam urin
3) Riwayat Kesehatan Dahulu :
Klien mengalami muntah-muntah setelah 24-48 jam pertama
kelahiran
4) Riwayat Kesehatan Keluarga :
Merupakan kelainan kongenital bukan kelainan/penyakit menurun
sehingga belum tentu dialami oleh angota keluarga yang lain
5) Riwayat Kesehatan Lingkungan :
Kebersihan lingkungan tidak mempengaruhi kejadian atresia ani

c.

Pola Fungsi Kesehatan


1) Pola persepsi terhadap kesehatan
Klien belum bisa mengungkapkan secara verbal/bahasa tentang
apa yang dirasakan dan apa yang diinginkan

10

2) Pola aktifitas kesehatan/latihan


Pasien belum bisa melakukan aktifitas apapun secara mandiri
karena masih bayi
AKTIFITAS
Mandi
Berpakaian
Eliminasi
Mobilitas ditempat tidur
Pindah
Ambulansi
Makan

Keterangan :
0 :

Mandiri

1 :

Dengan menggunakan alat bantu

2 :

Dengan menggunakan bantuan dari orang lain

3 :

Dengan bantuan orang lain dan alat bantu

4 :

Tergantung total, tidak berpartisipasi dalam


beraktifitas

3) Pola istirahat/tidur
Diperoleh dari keterangan sang ibu bayi atau kelurga yang lain
4) Pola nutrisi metabolik
Klien hanya minum ASI atau susu kaleng
5) Pola eliminasi
Klien tidak dapat buang air besar, dalam urin ada mekonium
6) Pola kognitif perseptual
Klien belum mampu berkomunikasi, berespon, dan berorientasi
dengan baik pada orang lain

7) Pola konsep diri


11

a) Identitas diri

: belum bisa dikaji

b) Ideal diri

: belum bisa dikaji

c) Gambaran diri

: belum bisa dikaji

d) Peran diri

: belum bisa dikaji

e) Harga diri

: belum bisa dikaji

8) Pola seksual Reproduksi


Klien masih bayi dan belum menikah
9) Pola nilai dan kepercayaan
Belum bisa dikaji karena klien belum mengerti tentang kepercayaan
10) Pola peran hubungan
Belum bisa dikaji karena klien belum mampu berinteraksi dengan
orang lain secara mandiri
11) Pola koping
Belum bisa dikaji karena klien masih bayi dan belum mampu
berespon terhadap adanya suatu masalah

d.

Pemeriksaan Fisik
Hasil pemeriksaan fisik yang didapatkan pada pasien atresia ani adalah
anus tampak merah, usus melebar, kadang kadang tampak ileus
obstruksi, termometer yang dimasukkan melalui anus tertahan oleh
jaringan, pada auskultasi terdengar hiperperistaltik, tanpa mekonium
dalam 24 jam setelah bayi lahir, tinja dalam urin dan vagina (FKUI, Ilmu
Kesehatan Anak:1985).

1) Keadaan Umum

12

Klien lemah
2) Tanda-tanda vital
Nadi

: 120 140 kali per menit

Tekanan darah

:-

Suhu

: 36,5C 37,6C

Pernafasan

: 30 40 kali per menit

BB

: > 2500 gram

TB

: normal

3) Pemeriksaan Fisik Head To Toe


a) Kepala
Kepala simetris, tidak ada luka/lesi, kulit kepala bersih, tidak ada
benjolan/tumor, tidak ada caput succedanium, tidak ada chepal
hematom.
b) Mata
Simetris,

tidak

konjungtifistis,

tidak

ada

perdarahan

subkonjungtiva, tidak ikterus, tidak nistagamus/ tidak episnatus,


conjungtiva tampak agak pucat.
c) Hidung
Simetris, bersih, tidak ada luka, tidak ada secret, tidak ada
pernafasan cuping hidung, tidak ada pus dan lendir.
d) Mulut
Bibir simetris, tidak macrognatia, micrognatia, tidak macroglosus,
tidak cheilochisis.
e) Telinga
Memiliki 2 telinga yang simetris dan matur tulang kartilago
berbentuk sempurna
f) Leher
Tidak ada webbed neck.

13

g) Thorak
Bentuk dada simetris, silindris, tidak pigeon chest, tidak funnel
shest, pernafasan normal
h) Jantung
Tidak ada mur-mur, frekuensi jantung teratur
i) Abdomen
Simetris,

teraba

lien,

teraba

hepar,

teraba

ginjal,

tidak

termasa/tumor, tidak terdapat perdarahan pada umbilicus


j) Genitalia
Terdapat lubang uretra, tidak ada epispandia pada penis tidak ada
hipospandia pada penis, tidak ada hernia sorotalis.
k) Anus
Tidak terdapat anus, anus nampak merah, usus melebar, kadangkadang tampak ileus obstruksi. Thermometer yang dimasukan
kedalam anus tertahan oleh jaringan. Pada auskultasi terdengar
peristaltic.
l) Ektrimitas atas dan bawah
Simetris, tidak fraktur, jumlah jari lengkap, telapak tangan maupun
kaki dan kukunya tampak agak pucat

2. Diagnosa Keperawatan
a. Data Fokus
Data obyektif :
Pra pembedahan :
o Klien muntah-muntah
o Perut kembung
o Perut membuncit
o Tidak bisa BAB
o Tidak ada anus terbuka
o Terdapat mekonium dalam urin
o Mekonium keluar dari vagina

14

o Klien lemah
Post Pembedahan :
o

Terpasang kolostomi

Terpasang infus

Luka jahitan post insisi

b. Analisa Data
No.
1

Symptom
DO :
-

Ketidakseimbangan
Klien muntahmuntah

DO :
-

Problem

Etiologi
Pengurangan intake

nutrisi kurang dari


kebutuhan tubuh

Perut kembung
Klien lemah
Pola nafas tidak efektif

Distensi abdomen

Resiko kurang volume

Intake tidak adekuat

Tidak ada anus


terbuka

Klien tidak bisa


BAB

DO :
-

Klien muntah-

cairan

muntah
4

DO :
-

Klien lemah
Resiko infeksi

Proses pembedahan

Terpasang
kolostomi

Terdapat luka
jahitan post insisi

DO :

Terpasang infus
Kerusakan

integritas

Adanya kolostomi

15

terpasang

kulit

kolostomi

c.

Diagnosa Keperawatan
a) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan pengurangan intake
b) Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan distensi abdomen
c) Resiko kurang volume cairan berhubungan dengan intake tidak
adekuat
d) Resiko infeksi berhubungan dengan proses pembedahan
e) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya kolostomi

3. Nursing Care Plan

16

BAB III
PENUTUP

A.

KESIMPULAN
ATRESIA ANI adalah kelainan bawaan yang harus segera ditangani dan

sesungguhnya dapat dicegah oleh ibu hamil dan dapat diobati dengan penanganan
17

yang serius dan sesuai prosedur agar jumlah penderita dapat ditekan yang kini
telah mencapai 4000 kelahiran hidup yang sebagian besar bayi dengan kelainan
bentuk anurectum lahir dalam keadaan prematur.
Atresia ani biasanya jelas sehingga diagnosis sering dapat ditegakkan
segera setelah bayi lahir dengan melakukan inspeksi secara tepat dan cermat pada
daerah perineum.

18

DAFTAR PUSTAKA

Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. 2002. Ilmu Kesehatan Anak.
Percetakan INFOMEDIKA JAKARTA : Jakarta

Nelson,Waldo E. 2000. Ilmu Kesehatan Anak. EGC: Jakarta

Sjamsuhidayat.R. 2003. ILMU BEDAH. EGC : Jakarta

Benson CD et al. Pediatric Surgery, Vol.2. Chicago: Year Book Medical


Publishers, inc. 1962; 82156

Raffensperger;G. Swenson's Peddiatric Surgery, 5th eds. Connecticut:


Apple ton & Lange, 1992; 586623

Cook RCM. Anorectal malformation: neonatal management In: Dudley H,


Carter

http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/04/16/atresia-ani/

http://bedah.us/content/view/25/39/

www.medic8.com

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN BERDASARKAN KASUS

19

A. Skenario Kasus
Ny. A melahirkan bayi perempuan di Rumah Sakit Baiturrahim, pada tanggal
2 juni 2016, dengan BB 3000 gram, TB 50 cm pada saat 24 jam setelah
kelahiran bayi tersebut mengalami muntah berwarna kehijauan dan belum
mengeluarkan mekonium, saat dilakukan pengkajian didapatkan bahwa bayi
Ny. A tidak memiliki lubang anus, perut kembung, distensi abodmen, dan saat
buang kecil terlihat adanya mekonium dalam urine, Ny. A terlihat sangat
gelisah saat mengetahui bahwa bayinya tidak bisa BAB, Ny.A terus bertanya
pada dokter tentang keadaan bayinya dan bagaimana cara agar bayinya bisa
normal seperti anak lainnya, Setelah dilakukan pemeriksaan penunjang,
didapatkan tanda double bubble appearance pada foto polos abdomen, setelah
diketahui bahwa bayi Ny. A positif mengalami atresia ani, maka dokter
langsung memerintahkan untuk persiapan operasi kolostomi, setelah
dilakukan operasi terlihat terpasang kantong kolostomy dan ada luka jahitan
post insisi, TTV nadi : 140 x/i,Tekanan darah : - , Suhu : 37,6C, RR
: 40 x/i.
B. Pengkajian
Tanggal

: 3 juni 2014

Jam

: 08.00

Tempat

: Ruang perawatan bayi

e.

BIODATA
a.

Identitas Klien
Nama

: By. C

Tempat / Tgl Lahir

: Jambi / 2 Juni 2016

Umur

: 3 Hari

Jenis Kelamin

: Perempuan

20

b.

f.

No. CM

: 1235

Tanggal Masuk RS

: 2 juni 2016

Diagnosa Medis

: Atresia Ani

Identitas Penanggung Jawab


Nama

: Ny. A

Tempat/Tgl Lahir

: Jambi / 1 Januari 1990

Umur

: 26 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Alamat

: Lebak Bandung

Agama

: Islam

Suku Bangsa

: Melayu

Hubungan Dgn Klien

: Ibu Kien

RIWAYAT KESEHATAN
6) Keluhan Utama :
Mual muntah berwarna kehijauan, tidak BAB sejak 24 jam kelahiran
7) Riwayat Kesehatan Sekarang :
saat dilakukan pengkajian didapatkan bahwa bayi Ny. A tidak memiliki
lubang anus, perut kembung, distensi abodmen, dan saat buang kecil
terlihat adanya mekonium dalam urine, Setelah dilakukan pemeriksaan
penunjang, didapatkan tanda double bubble appearance pada foto polos
abdomen.
8) Riwayat Kesehatan Dahulu : 9) Riwayat Kesehatan Keluarga :
Tidak ada keluarga yang pernah mengalami penyakit atresia ani

g.

POLA FUNGSI KESEHATAN


12) Pola persepsi terhadap kesehatan

21

Klien belum bisa mengungkapkan secara verbal/bahasa tentang apa


yang dirasakan dan apa yang diinginkan
13) Pola aktifitas kesehatan/latihan
Pasien belum bisa melakukan aktifitas apapun secara mandiri karena
masih bayi
Aktifitas
Makan
Mandi
Berpakaian
Eliminasi
Mobilisasi ditempat tidur
Berpindah
Ambulansi
Naik tangga

Keterangan :
i. : Mandiri
ii. : Dengan menggunakan alat bantu
iii. : Dengan menggunakan bantuan dari orang lain
iv. : Dengan bantuan orang lain dan alat bantu
v. :Tergantung total, tidak berpartisipasi dalam beraktifitas
14) Pola istirahat/tidur
Bayi rewel dan sulit untuk tidur
15) Pola nutrisi metabolik
Bayi hanya minum ASI
16) Pola eliminasi
Bayi tidak dapat buang air besar, dalam urin ada mekonium

17) Pola kognitif perseptual


belum mampu berkomunikasi, berespon, dan berorientasi dengan
baik pada orang lain
18) Pola konsep diri
a) Identitas diri

: belum bisa dikaji


22

b) Ideal diri

: belum bisa dikaji

c) Gambaran diri

: belum bisa dikaji

d) Peran diri

: belum bisa dikaji

e) Harga diri

: belum bisa dikaji

19) Pola seksual Reproduksi


Klien masih bayi dan belum menikah
20) Pola nilai dan kepercayaan
Belum bisa dikaji karena klien belum mengerti tentang kepercayaan
21) Pola peran hubungan
Belum bisa dikaji karena klien belum mampu berinteraksi dengan
orang lain secara mandiri
22) Pola koping
Belum bisa dikaji karena klien masih bayi dan belum mampu
berespon terhadap adanya suatu masalah.
4.

Pemeriksaan Fisik
a.

Keadaan umum

Penampakan umum
Klien tampak lemah, pucat dan menggigil

BB

3000 gram

TD : -

Suhu : 37,6C
b.

TB: 160 cm
RR : 40 x/mnt

Nadi : 140 x/mnt

Pemeriksaan fisik head to toe


1) Kepala
Kepala simetris, tidak ada luka/lesi, kulit kepala bersih, tidak ada
benjolan/tumor, tidak ada caput succedanium, tidak ada chepal
hematom.
2) Mata
Mata simetris kiri kanan , bola mata simetris kiri kanan, warna
konjungtiva tampak agak pucat, dan sclera berwarna putih.
3) Telinga
Memiliki 2 telinga yang simetris dan matur tulang kartilago
berbentuk sempurna.
4) Hidung
23

Simetris , warna sama dengan warna kulit lain, tidak ada lesi,
tidak ada sumbatan, perdarahan dan tanda-tanda infeksi, tidak ada
pembengkakan dan nyeri tekan.
5) Mulut
Bibir simetris, tidak macrognatia, micrognatia, tidak macroglosus,
tidak cheilochisis
6) Leher
Tidak ada webbed neck.
7) Dada
Bentuk dada simetris, silindris, tidak pigeon chest, tidak funnel
shest, pernafasan normal Tidak ditemukan suara nafas tambahan
8) Jantung
Tidak ada mur-mur, frekuensi jantung teratur
9) Abdomen
perut kembung dan distensi abdomen
10) Getalia
Terdapat lubang pada vagina, dan vagina
11) Anus
Tidak terdapat anus, anus nampak merah, usus melebar, kadangkadang tampak ileus obstruksi. Thermometer yang dimasukan
kedalam anus tertahan oleh jaringan. Pada auskultasi terdengar
peristaltic.
12) Ektrimitas atas dan bawah
Simetris, tidak fraktur, jumlah jari lengkap, telapak tangan
maupun kaki dan
kukunya tampak agak pucat
5. Pemeriksanan Penunjang
Foto Polos Abdomen

: didapatkan tanda double


bubble appearance pada foto polos
abdomen

24

25