Anda di halaman 1dari 36

Measurement Of Sediment Transport

PENGUKURAN TRANSPORT
SEDIMEN
Disusun
Oleh:

Oggi Heicqal Ardian 14/375098/PTK/10070


Robi Arianta Sembiring

14/370714/PTK/9665

PENGERTIAN
Sedimentasi
Saluran terbuka dan sungai Alluvial yang mempunyai sedimen dasar berupa
material granuler akan mengalami transportasi (perpindahan) sedimen
secara individu disebabkan oleh kecepatan aliran yang tinggi.
Transpor sedimen didefenisikan sebagai perpindahan tempat neto sedimen
yang melalui suatu tampang lintang selama periode waktu tertentu.
Banyaknya transpor sedimen dinyatakan dalam (berat, massa, volume) per
satuan waktu (N/det; kg/det; m3/det).
Untuk memudahkan dan memprediksi transport sedimen digunakan berbagai
formulasi yang dikembangkan dari hasil eksperimen di lapangan dan
laboratorium.

Erosi bagian hulu

Sedimen Terangkut Aliran


Sungai

Erosi Tebing Sungai & Longsor

Akibat sedimen

menghitung transpor sedimen mempunyai akurasi yang kurang baik, disebabkan karena:

a. Interaksi antara pergerakan air dan transport sedimen sangat komplek dan sulit untuk
dideskripsikan dengan formulasi matematik.
b. Karena pengukuran transport sedimen mempunyai akurasi yang kurang baik maka
formulasi (rumus) yang ada tidak dapat dijadikan acuan.

Pengukuran transpor sedimen bertujuan untuk:

a. Pada irigasi: merancang stabilitas saluran, fenomena transport sedimen pada saluran pengambilan (intake)

b. Pada teknik persungaian: merancang cut of pada tikunngan sungai, besarnya pengerukan pada muara sungai, flood control,
mendesign umur layanan waduk.

SEDIMENT YIELD
(Hasil Sedimen)
Sediment Yield adalah total sedimen yang keluar dari daerah tangkapan (catchment
area) /suatu DAS/ sub DAS
yang melewati stasiun kontrol di outlet daerah tangkapan dinyatakan dalam ton/ tahun
atau m3/ km2/ tahun besaran ini menunjukkan kecepatan denudasi atau degradasi dari
daerah tangkapan.
Sedimen terbagi dalam 2 kelompok :
kohesif : Clay (lempung)
non-kohesif : sand (pasir), coarser (kerikil)
Perbadaan dibedakan berdasarkan ukuran pertikel, di tunjukkan sbb:

Ukuran butiaran berdasarkan British standards

Konfigurasi dasar (Bedforms)


Pada saluran dengan dasar mobile bed (material sedimen non kohesif yang dapat
bergerak), terjadi interaksi antara aliran dengan dasar.

Perubahan aliran dapat menyebabkan terjadinya perubahan konfigurasi dasar (tinggi


kekasaran); dan sebaliknya, perubahan kekasaran akan mempengaruhi aliran itu
sendiri.

Jenis / phase konfigurasi dasar sangat tergantung dari sifat / jenis aliran
dan bahan penyusun material dasar (pasir, kerikil).
Pada aliran dalam saluran terbuka, angka Froude, Fr, sering
digunakan sebagai kriteria suatu aliran. Untuk tujuan klasifikasi
konfigurasi dasar (bed form), dibedakan 3 regim aliran, yaitu :
Lower flow regime, Fr < 1.
Transition flow regime,
Fr 1.
Upper flow regime, Fr > 1.
Pada waktu kecepatan aliran masih sangat kecil, tegangan gesek
kritik, o cr, dari dasar masih belum terlampaui, dan material sedimen
tidak / belum bergerak dasar masih rata (plane bed).
Dengan bertambahnya kecepatan, intensitas angkutan sedimen
bertambah (secara random), dan terbentuk konfigurasi dasar.

Klasifikasi Transpor Sedimen

Individual
movement

Bed load
Suspended load
Wash load

Massive
movement

Debris flows
Mud flows
Landslides
Pyroclastic flows

Sediment
movement

Berdasarkan mekanisme transpornya sedimen suspense terbagi menjadi


dua yaitu wash load dan bed material transport.
Wash load adalah material yang lebih halus dibandingkan material dasar
saluran. Biasanya ukuran butirannya rata-rata D50 = 60 mikrometer untuk
mudah membedakan antara wash load dan bed material load.

Wash load: sedimen yang tidak ditemukan di dasar sungai


karena secara permanen tersuspensi.

BAD LOAD
Bed load adalah transport sedimen sliding, rolling,atau
jumping pada dasar saluran.
Secara umum konfigurasi dari pergerakan sedimen
membentuk konfigurasi dasar seperti dunes, ripple,etc.
.

Bed Load Transport


Fluid force

Rolling

Sliding

Saltating

BAD LOAD
T : tranpert tanah per satuan leber
h : kedalaman aliran (m)
D : diameter partikel (m)
: massa jenis relative
S : kemiringan
: ripple factor.
Sebagai contoh seperti hubungan 'X vs Y ',
terkenal Meyer- Peter / Mller fungsi bed load
dapat diberikan:

Suspended load
Suspended load: Sedimen yang tersuspensi oleh turbulensi aliran dan tidak
berada di dasar sungai
Sedimen layang (suspensi) adalah transpor butiran dasar yang tersuspensi
oleh gaya gravitasi yang diimbangi gaya angkat yang terjadi pada turbulensi
aliran. butiran dasar terangkat ke atas lebih besar atau kecil tapi pada
akhirnya akan mengendap dan kembali ke dasar sungai.

WASH LOAD
Wash load adalah transpor butiran sedimen yang
berukuran kecil dan halus dibanding dengan sedimen
dasar juga sangat jarang ditemukan didasar sungai.

Distribusi konsentrasi arah vertikal

SEDIMENT TRANSPORT MEASUREMENTS

Bed load Transport Meter Arnhem (BTMA)


BTMA adalah alat untuk mengukur sedimen dasar yang
berupa pasir dan kerikil yang berada pada dasar sungai/
saluran
(+) mempunyai konstruksi kuat
(+) simple juga mudah diperbaiki dan dipelihara.
(-) dimensinya besar dan berat
(-) Kecepatan aliran 2,5 m/s.

Pengukuran sedimen dasar dengan BTMA atau HS


mempunyai beberapa asumsi sebagai berikut ;
Tidak ada sedimen layang yang masuk
Tinggi dari mulut sampler bersesuaian dengan
ketebalan dari lapis dasar (bedlayer)
Ukuran butiran antara 60-300 mikrometer diabaikan

gambar : Bedload Transport Meter Arnhem

Gambar Alat penangkap sedimen dasar tipe USBLH-84 dan HS

Prinsip kerja
rangka (frame) dimasukkan ke dalam sungai setelah sampai didasar lalu ditekan
pada bagian leaf spring.
Bentuk dari wire mesh sampler menyebabkan tekanan yang rendah di belakang alat
sehingga air dan material dasar terangkut masuk ke dalam mulut penangkap
sedimen (sampler mouth).
Butiran sedimen dasar yang kasar dapat ditangkap oleh wire mesh sampler,
BTMA menangkap material yang lebih kasar dari 300 mikrometer (secara teoritik)
sedangkan material diantara 60-300 mikrometer akan lolos.
Hal perlu diperhatikan :
pengambilan sampel dilakukan pada sungai yang lurus (stabil) agar kondisi
dasar saluran stabil sehingga memudahkan pengukuran,
kecermatan dalam pengukuran terkait kondisi hidraulik juga perlu
diperhatikan (kedalaman, kecepatan aliran, ukuran butiran, kemiringan).

Cara pengambilan sampel

o Sebaiknya sebelum pengambilan sampel dilakukan pengukuran kedalaman secara


longitudinal terlebih dahulu (sounding) agar memudahkan estimasi peletakkan BTMA
atau sejenisnya.
o Sedimen dasar diukur dengan bantuan perahu dengan cara menurunkan alat BTMA
atau sejenisnya ke dasar, dengan menentukan jarak panjang sampel yang diukur (L)
bergantung pada kedalaman, kecepatan aliran, dan jenis alat.
o harus mempunyai jarak panjang yang besar dibanding dengan l dunes (panjang
konfigurasi dasar) L .
o sampel diambil secara acak dengan waktu dua menit.
o Ilustrasi tersaji pada gambar dibawah kasus A. Sedangkan untuk L = atau L <
(kasus B) pengambilan sampel harus acak dan berbeda posisi, iliustrasi tersaji pada
gambar 5.6. kasus B.

Gambar. Posisi perahu saat pengambilan sampel pada dasar pasir

Delft Bottle
Botol Delft (Delftsen Fles, D.F) adalah alat untuk
mengukur sedimen suspensi pada sungai.
Prinsip kerja:
Suspensi yang terkandung pada air akan melewati mulut
botol delft, bentuk mulut tersebut menginduksi tekanan
rendah di belakang alat (outlet) sehingga kecepatan air
tinggi dan pada akhirnya air dapat masuk kedalam mulut
botol delft
Di bagian dalam botol, kecepatan aliran akan berkurang
dan menyebabkan sedimen mengendap di dalam botol
tersebut.
Material yang mengendap diambil kemudian diukur
volumenya setelah air dalam botol delft keluar.

Delft Bottle
Sampling:
Sampel sedimen layang diambil dengan botol Delft yang
diturunkan dari perahu kedalam sungai dengan bantuan kabel
Kedalaman alat ditentukan oleh kuantitas paid-out cable dan
menunjukan counter block
Saat botol Delft tenggelam untuk sementara, alat akan menjadi
landai pada arah belakang
Setelah alat diisi dengan air menurunkannya dengan cepat untuk
mengetahu kedalaman
Waktu sampling mulai diukur dengan stop-watch selama tiga
menit sudah memberikan hasi yang baik
Botol Delft diangkat kembali ke perahu, setelah perhitungan
total sedimen
Secara umum sampel diambil dengan interval 1,5 m dan diukur
secara vertikal dengan mengambil lima sampel dengan interval
10 cm

Water sampler
Water sampler digunakan untuk mengukur konsentrasi wash load terdiri dari
botol, rubber stopper, suspension-line, heavy weight meta body
Pengukuran dilakukan dengan menurunkan water sampler ke dalam sungai
dengan kedalaman yang fix dalam waktu tertentu hingga botol terisi wash load
yang cukup, setelah terisi diangkat lalu ditandai sesuai lokasi pengambilan sampel
Keuntungannya adalah mempunyai berat yang ringan sehingga memungkinkan
untuk dibawa dengan tangan dan dapat juga digunakan untuk survey pendahuluan
Kelemahannya adalah posisi water sampler saat pengambilan sampel
mengganggu pola aliran sehingga tidak dapat digunakan untuk mengukur total
sedimen yang terangkut oleh sungai

Water sampler
Ada banyak jenis alat water sampler dua diantara yaitu metal water sampler dan Perspex
water sampler.

metal water sampler

perspex water sampler

Ukuran butiran
Tabel karakteristik kekuatan dan struktur (setelah;
Hayes, 1959)

Diameter saringan, paling sering digunakan.


Untuk menentukan ukuran butiran dengan
saringan, digunakan beberapa saringan
dengan ukuran lubang yang berbeda.
Pengukuran diameter butiran dengan cara ini
dilakukan untuk butiran yang mempunyai
diameter lebih besar dari 0.0625 mm, sesuai
dengan ukuran saringan terkecil

Bentuk butiran merupakan salah satu sifat sedimen yang sering dianggap ikut berpengaruh
terhadap proses angkutan sedimen
Untuk menyatakan butiran sering digunakan koefisien / parameter tersebut pada prinsipnya dapat
dikelompokkan menjadi 3 bagian, yaitu:
koefisien yang didasarkan pada volume butiran,
koefisien yang didasarkan pada proyeksi luasan butiran, dan
koefisien yang didasarkan pada sumbu triaxial (sumbu panjang, sumbu pendek dan sumbu
menengah)

Nilai Shape factor didasarkan pada nilainilai sumbu triaxial yang saling tegak
lurus; yaitu sumbu panjang, a, sumbu
menengah, b, dan sumbu pendek, c.
Untuk butiran berbentuk bola, nilai shape
factor ini akan sama dengan satu,
sedangkan untuk butiran dengan bentuk
selain bola, nilai shape factor lebih kecil
dari satu. Shape factor (faktor bentuk),
mempengaruhi besar kecilnya hambatan
aliran, CD

Hubungan antara kecepatan pengendapan dan diameter


ukuran butiran, shape factor, dan angka Reynolds

Tabel analisis ukuran butiran yang lolos ayakan

Kurva hubungan antara diameter ukuran butiran


dan persentase butiran yang lolos ayakan

Standar internasional
Standar internasional digunakan untuk mengkoreksi hasil perhitungan pengukuran transport
sedimen