Anda di halaman 1dari 16

TUGAS

MAKALAH
BUDIDAYA CHLORELLA

OLEH:
KELOMPOK II
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

ARIS SANDO HAMZAH


YUSRIN
MUSTAKIM
YUSTIN PALIO
AHMAD SALTIN
ARMIN
SADAM

I1A2 11 023
I1A2 11 025
I1A2 11 041
I1A2 11 063
I1A2 11 004
I1A2 11 012
I1A2 11 014

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis atas kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat, hidayah dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan Makalah Budidaya Chlorella ini
tepat pada waktunya.
Dengan selesainya penyusunan makalah ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada
pada teman-teman yang banyak membantu penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan dari berbagai pihak.
Semoga Allah SWT, senantiasa melimpahkan rahmat serta petunjuk kepada semua pihak
yang telah banyak membantu penulis sehingga makalah ini dapat terselesaikan, Amin.

Kendari, 2 April 2014

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Seiring perkembangan zaman, budidaya pakan alami terus dikembangkan karena
banyaknya permintaan dari produser atau pembudidaya asing maupun lokal. Pakan alami terus
digunakan dan dikembangkan sampai saat ini mengingat manfaat dan nilai gizi yang cukup besar
hal ini sesuai pernyataan Chilmawati (2008), bahwa Dalam budidaya terutama dalam usaha
pembenihan, pakan alami merupakan salah satu faktor pembatas. Salah satu pakan alami yang
memiliki prospek tinggi bagi masyarakat yaitu chlorella, selain digunakan sebagai pakan alami,
chlorella juga bisa diolah menjadi obat-obatan maupun kosmetik. Ukeles (1971), menyatakan
bahwa Chlorella sp. telah digunakan secara luas terutama di panti-panti pembenihan ikan, udang,
kerang-kerangan atau hewan budidaya lainnya. Seperti phytoplankton pada umumnya, Chlorella
sp. juga membutuhkan unsur makro N dan P untuk meningkatkan laju pertumbuhan. Hal ini
didukung oleh pernyataan Hama (1988) bahwa Pertumbuhan Chlorella sp. sangat dipengaruhi
oleh beberapa faktor lingkungan, diantaranya unsur hara dalam media kultur serta kualitas air
seperti salinitas, pH, suhu, intensitas cahaya yang optimum.
Mikroalga Chlorella memiliki potensi sebagai pakan alami, pakan ternak, suplemen,
penghasil komponen bioaktif bahan farmasi dan kedokteran. Hal tersebut disebabkan Chlorella
mengandung berbagai nutrien seperti protein, karbohidrat, asam lemak tak jenuh, vitamin,
klorofil, enzim, serat yang tinggi (S. Wirosaputro, 1998) dan (D. Steenblock, 2000). Selain itu,
Chlorella merupakan mikroalga kosmopolit yang sebagian besar hidup di lingkungan akuatik
baik perairan tawar, laut maupun payau, juga ditemukan di tanah dan di tempat lembab (B.R.
Vashishta,1999). Menurut Sachlan (1982), bahwa sel Chlorella memiliki tingkat reproduksi yang
tinggi, setiap sel Chlorella mampu berkembang menjadi 10.000 sel dalam waktu 24 jam.
Pemanfaatan Chlorella dilakukan menggunakan teknik kultur. Keberhasilan teknik kultur
bergantung pada kesesuaian antara jenis mikroalga yang dibudidayakan dan beberapa faktor
lingkungan, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah faktor derajat keasaman (pH) agar
metabolisme sel mikroalga tidak mengganggu (C.S. Reynolds, 1984) dan (T. Chrismadh, 1998)..
Derajat keasaman (pH) media menentukan kelarutan dan ketersediaan ion mineral sehingga
mempengaruhi penyerapan nutrien oleh sel. Perubahan nilai pH yang drastis dapat

mempengaruhi kerja enzim serta dapat menghambat proses fotosintesis dan pertumbuhan
beberapa mikroalga (D.S. Anderson, 1993).
B. Rumusan Masalah
Apa itu chlorella?
Bagaimana cara kultur chlorella?
Mengetahui faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup chlorella?
Mengetahui manfaat mikroalga chlorella?
C. Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah agar pembaca mengetahui tentang mikroalga chlorella,
carakultur chlorella, serta mengetahui faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan
kelangsungan hidup chlorella dan manfaat dari mikroalga tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Chlorella sp.
Menurut habitat hidupnya ada dua macam Chlorella, yaitu Chlorella yang hidup di air
tawar maupn yang hidup di air laut. Contoh Chlorella yang hidup di air laut adalah C.
minutissima, C. vulgaris, C. pyrenoidosa, C. virginica. Bentuk sel bulat atau bulat telur,
merupakan alga bersel tunggal, tetapi kadang-kadang dijumpai bergerombol. Diameter selnya
berkisar 2-8 mikron, berwarna hijau karena klorofil merupakan pigmen yang dominan, dinding
selnya keras terdiri atas selulosa dan pectin. Sel ini mempunyai protoplasma yang berbentuk
cawan. Chlorella dapat bergerak tetapi sangat lambat sehingga pada pengamatan seakan-akan
tidak bergerak.
Chlorella bersifat kosmopolit yang dapat tumbuh dimana-mana, kecuali pada tempat yang
sangat kritis bagi kehidupan. Alga ini dapat tumbuh pada salinitas 0-35 ppt. salinitas 10-20 ppt
merupakan salinitas optimum untuk pertumbuhan alga ini. Alga ini masih dapat bertahan hidup
pada suhu 400C, tetapi tidak tumbuh. Kisaran suhu 25-30 0C merupakan kisaran suhu yang
optimal. Alga ini berproduksi secara aseksual dengan pembelahan sel, tetapi juga dapat dengan
pemisahana utospora dari sel induknya. Reproduksi sel ini diawali dengan pertumbuhan sel yang
membesar. Periode selanjutnya adalah terjadinya peningkatan aktivitas sintesa sebagai bagian
dari persiapan pembentukan sel anak, yang merupakan tingkat pemasakan awal. Tahap
selanjutnya terbentuk sel induk muda yang merupakan tingkat pemasakan akhir, yang akan
disusul dengan pelepasan sel anak.
B. PRINSIP KULTUR Chlorella sp
Salah satu contoh phytoplankton adalah Chlorella sp. Chlorella sp merupakan mikro alga
sehingga dalam dunia pembenihan sering hanya disebut alga. Kultur Chlorella sp murni atau
monospesifik species dimulai dari kegiatan isolasi kemudian dikembangkan secara sedikit demi
sedikit secara bertingkat. Media kultur yang digunakan mula-mula hanya beberapa liter saja,
kemudian berangsur-angsur meningkat ke volume yang lebih besar hingga mencapai skala
massal. Kultur hingga volume 3 liter masih dilakukan didalam laboratorium sehingga sering
disebut dengan kultur skala laboratorium. Selanjutnya dilakukan kultur aut-door yang dapat
mencapai volume 60-100 liter yang merupakan tahapan kultur selanjutnya. Karena kultur ini

menggunakan proses yang bertingkat-tingkat dari volume kecil ke volume yang lebih besar,
maka prinsip kultur ini disebut dengan kultur bertingkat atau berlanjut.
Pertumbuhan Chlorella sp sangat erat kaitannya dengan ketersediaan hara makro dan
mikro serta dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Factor-faktor lingkungan yang berpengaruh
terhadap pertumbuhan Chlorella sp antara lain cahaya, suhu, tekanan osmotic, dan pH air. Kultur
Cholorella sp skala laboratorium biasanya memerlukan kondisi lingkungan terkendali. Hal ini
dimaksudkan agar pertumbuhannya optimal sehingga didapatkan bibit yang bermutu tinggi untuk
skala kultur selanjutnya.

Gambar 1: Kultur masal Chlorella sp.


C.
1.

STERILISASI
METODE STERILISASI
Pada dasarnya persiapan untuk kultur berbagai jenis phytoplankton adalah sama,

misalnya pada kultur Chlorella sp, yaitu sterilisasi alat dan bahan yang bertujuan untuk
membunuh mikroorganisme yang tidak diinginkan. Ada lima metode sterilisasi, yakni:
a. Sterilisasi Basah
Metode ini dilakukan dengan cara perebusan. Botol-botol kultur dan peralatan lain yang
akan digunakan direbus dengan air hingga mendidih selama 2 jam. Air yang akan digunakan
untuk kultur juga dapat disterilkan dengan cara ini.

b. Sterilisasi dengan Autoclave dan Oven


Sterilisasi dengan autoclave pada dasarnya menggunakan uap air panas bertekanan,
sedangkan sterilisasi menggunakan oven menggunakan udara panas. Sterilisasi model ini
umumnya digunakan untuk mensterilkan alat-alat dan botol kultur yang terbuat dari gelas.
c. Sterilisasi dengan Penyaringan
Metode ini dilakukan untuk cairan/larutan yang tidak tahan terhadap suhu tinggi, misalnya
vitamin, sehingga dilakukan penyaringan dengan sebuah saringan yang steril.
d. Sterilisasi dengan Sinar Ultra Violet
Sinar UV dengan panjang gelombang 2000-3000 A dapat membunuh mikroorganisme dengan
cara menghancurkan struktur proteinnya. Metode ini banyak digunakan untk mensterilkan ruang
kerja dan air.
e. Sterilisasi Kimia
Bahan-bahan yang biasa digunakan untuk sterilisasi ini adalah HCL, HgCl2, Alkohol, Formalin,
Phenol, Chlorin, dan sebagainya.
2. CARA STERILISASI
Sterilisasi Peralatan yang digunakan untuk isolasi Phytoplankton
Sterilisasi peralatan yang akan digunakan untuk isolasi dapat menggunakan autoclave
dengan suhu 1210C dan tekanan 1 kg/cm3 atau menggunakan oven pada suhu sekitar 105 0C.
Mula-mula peralatan isolasi yang terdiri atas tabung reaksi, cawan petri, pipet ukur, dan lain-lain
dicuci dengan air tawar dan detergen yang kemudian diletakkan di rak dan ditunggu hingga
kering. Setelah kering, cawan petri dan pipet ukr dibungkus dengan kertas krap, sedangkan
tabung reaksi ditutp dengan karet penutup, terutama apabila sterilisasinya menggunakan
autoclave. Tetapi apabila menggunakan oven, peralatan tidak perlu dibungkus kertas, cukup
dimasukkan kedalam tabung stainless, kemudian ditutup rapat dan dislotip dengan slotip tahan

panas. Peralatan tersebut disusun dalam autoclave kemudian ditutup rapat. Sterilisasi dengan
autoclave berjalan 15 menit pada suhu 121 0C dengan tekanan 1 kg/cm3. Sedangkan
menggunakan oven berjalan 5 jam pada suhu 1050C.
Sterilisasi Media Kultur
Sterilisasi media kultur dapat dilakukan dengan autoclave. Media yang akan disterilisasi
mula-mula dimasukkan kedalam botol atau erlenmayer bersih. Selanjutnya botol atau erlenmayer
tersebut ditutup dengan kapas atau gabus, dan diatasnya ditutup kembali dengan aluminium foil
dan diikat dengan slotip. Selanjutnya botol atau erlenmayer yang telah berisi media tersebut
disusun rapi dalam autoclave dan siap untuk disterilisasi.
Sterilisasi Alat
Alat-alat yang cukup besar sehingga tidak dapat masuk kedalam autoclave atau oven,
dapat disterilkan dengan cara kimia, misalnya dengan HCl atau chlorine. Peralatan kultur yang
sudah dicuci bersih direndam dengan HCl 10% selama 2 hari, kemudian dibilas dengan air tawar.
Selain itu dapat dengan merendam peralatan pada larutan chlorine 150 mg/l selama 12-24 jam,
kemudian dinetralisir dengan 40-50 mg/l Na-Thiosulfat dan dibilas dengan air tawar hingga bau
chlorine hilang.
Sterilisasi Media tidak Tahan Panas
Media pengkaya yang tidak tahan panas, misalnya vitamin, disterilisasi dengan
penyaringan. Saringan yang digunakan 2,5-3 mikron. Media tersebut selanjutnya ditempatkan
dalam wadah yang steril dan ditutup rapat dengan aluminium foil.
Sterilisasi pada Kultur semi Out-door dan Out-door/missal
Untuk kultur missal sterilisasi alat dan bahan dilakukan dengan cara chlorinisasi karena
cara ini lebih cepat, ekonomis, dan secara tekhnis mudah dilaksanakan. Cara chlorinisasi tersebut
adalah sebagai berikut: bak dicuci bersih dengan menggunakan sabun/detergen lalu disterilkan
dengan larutan Na-Thiosulfat 40-50 mg/l. Terakhir bak dibilas dengan air tawar sampai bersih
dan bau chlorine hilang. Air sebagai media kultur juga dapat disterilkan dengan menggunakan

chlorine. Air laut yang akan digunakan sebelumnya disaring, lalu disterilkan dengan chlorine 60
mg/l selama minimal 1 jam dan dinetralisir dengan larutan Na-Thiosulfat 20 mg/l untuk
menghilangkan sisa-sisa chlorine dalam air laut hingga bau chlorine hilang. Air yang telah steril
disimpan dalam bak yang tidak tembus sinar dan ditutup dengan penutup tidak tembus sinar
untuk mencegah pertumbuhan lumut atau phytoplankton lain yang tidak dikehendaki.
D.

TEKHNIK BUDIDAYA Chlorella sp

Ada beberapa tahapan yang dilakukan dalam kultur Chlorella sp, yaitu koleksi dan isolasi.
1.

Koleksi
Koleksi bertujuan untuk mendapatkan species Chlorella sp dari alam untuk dikultur

secara murni. Pengambilannya dialam dapat menggunakan plankton net. Chlorella sp yang
diperoleh dapat dikembangkan dengan menggunakan pupuk
2.

Isolasi
Ada beberapa metode untuk mengisolasi phytoplankton, khusus untk fitoplankton jenis

Chlorella sp menggunakan metode isolasi goresan. Metode ini sangat baik digunakan untuk
mengisolasi phytoplankton sel tunggal seperti Chlorella sp. Metode ini menggunakan media
agar-agar. Agar-agar sebanyak 1,5% dicampur dengan air laut pada salinitas tertentu, kemudian
dipanaskan hingga mendidih dan larut sempurna berwarna kuning jernih. Selama proses
pemanasan harus diaduk terus menerus untuk mencegah terjadinya kerak atau penggumpalan.
Setelah pemanasan selesai, larutan agar-agar tersebut kemudia diangkat dan ditunggu sampai
agak dingin baru dilakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk Allen Miquel (untuk sekala
laboratorium) dengan komposisi KNO3 20,2 gr, Akuades 100 gr, sedangkan untuk skala massal
ukuran 1-4 ton digunakan pupuk teknis yang terdiri dari: KNO 3 100 gr/ton, FeCl3 3 gr/ton, dan
NaH2PO4. 10 H2O 10 gr/ton dan sesuai dosis yang diinginkan.
Larutan agar-agar yang telah dipupuk disterilisasi dengan autoclave (121 0C, 15 menit)
atau pengukusan sekitar 30 menit. Bahan-bahan pengkaya yang tidak tahan panas harus
disterilkan secara terpisah. Angkat dan biarkan agak dingin, sekitar 50 0C. Selanjutnya

dituangkan kedalam cawan petri yang sudah steril dengan tebal kurang lebih 3 mm atau kedalam
tabung reaksi yang sudah steril dalam posisi miring. Agar miring pada tabung reaksi tersebut
biasa digunakan untuk penyimpanan isolat. Selanjutnya dituang hingga membeku. Setelah media
agar membeku, kemudian ditulari bibit Chlorella sp yang berasal dari air sampel dengan cara
goresan menggunakan ose yang telah dibakar dengan pembakar spritus. Bibit digoreskan dalam
media agar-agar pada cawan petri dengan pola zig-zag. Untuk mencegah kontaminasi oleh
mikroorganisme lain maka cawan petri ditutup atau disegel dengan isolasi. Untuk penumbuhan,
cawan petri atau tabung reaksi tersbeut diletakkan pada rak kultur serta disinari dengan dua buah
lampu TL 40 watt secara terus menerus. Cawan petri diletakkan dalam posisi terbalik. Hal ini
dilakukan untuk menghindari terjadinya proses pengeringan akibat penyinaran dengan lampu TL
secara terus menerus atau terjadinya penetesan embun dari bagian tutup cawan petri ke media
agar-agar. Setelah beberapa hari inokulum akan tampak tumbuh pada goresan media agar-agar,
tetapi masih dicampur dengan phytoplankton jenis lain, kemudia dilakukan penggoresan
berulang-ulang pada media agar-agar yang sama sampai diperoleh bibit yang benar-benar murni.
Isolate yang diinkubasi dalam ruangan ber AC untuk menjaga kestabilan suhu 25-27 0C. isolate
juga dapat dipindah kecawan petri yang lain atau pada agar miring dalam tabung reaksi apabila
diperlukan.
Hasil kultur murni dari media agar-agar dikembangkan pada media cair dalam tabung
reaksi dengan volume media kultur 10 ml. bibit diambil dengan jarum ose yang steril kemudia
dipindah ke tabung rekasi decara aseptis. Sebelumnya Chlorella sp yang tumbuh pada
permukaan agar-agar diperiksa lebih dahulu dengan cara memindahkan phytoplankton pada
gelas objek yang telah diberi media kultur 1 tetes. Sela sesuai dengan keinginan kemudian
dilakukan inokulasi pada tabung reaksi yang berisi air laut yang telah diperkaya oleh unsure hara
dan ditumbuhkan. Larutan diaduk dengan cara dikocok sesering mungkin selama masa kultur.
Apabila bibit pada tabung reaksi tersebut telah tumbuh dengan baik, maka phytoplankton
tersebut (Chlorella sp) dapat dikembangkan kedalam botol-botol kultur yang lebih besar.
E.

PERTUMBUHAN PLANKTON (Chlorella sp)


Pertumbuhan phytoplankton dalam kultur dapat ditandai dengan bertambah besarnya

ukuran sel atau bertambah banyaknya jumlah sel. Hingga saat ini kepadatan sel digunakan secara

luas untuk mengetahui pertumbuhan phytoplankton dalam kultur pakan alami. Ada empat fase
pertumbuhan, yaitu:
1.

Fase Istirahat
Sesaat setelah penambahan inokulum kedalam media kultur, populasi tidak mengalami

perubahan. Ukuran sel pada saat ini pada umumnya meningkat. Secara fisiologis phytoplankton
sangat aktif dan terjadi proses sintesis protein baru. Organism mengalami metabolism, tetapi
belum terjadi pembelahan sel sehingga kepadatan sel belum meningkat.
2.

Fase Logaritmik/Eksponsial
Fase ini diawali oleh pembelahan sel dengan laju pertumbuhan tetap. Pada kondisi kultur

yang optimum, laju pertumbuhan pada fase ini mencapai maksimal.


3.

Fase Stasioner
Pada fase ini, pertumbuhan mulai mengalami penurunan dibandingkan dengan fase

logaritmik. Pada fase ini laju reproduksi sama dengan laju kematian. Dengan demikian
penambahan dan pengurangan jumlah phytoplankton relative sama ata seimbang sehingga
kepadatan phytoplankton tetap.
4.

Fase Kematian
Pada fase ini laju kematian lebih cepat daripada laju reproduksi. Jumlah sel menurun

secara geometric. Penurunan kepadatan phytoplankton ditandai dengan perubahan kondisi


optimum yang dipengaruhi temperature, cahaya, pH air, jumlah hara yang ada, dan beberapa
kondisi lingkungan yang lain.
F.

PENGHITUNGAN KEPADATAN PHYTOLANKTON (Chlorella sp)


Penghitungan kepadatan plankton digunakan sebagai salah atu ukuran mengetahui

pertumbuhan phytoplankton, mengetahui kepadatan bibit, kepadatan pada awal kultur, dan
kepadatan pada saat panen. Kepadatan phytoplankton dapat dihitung dengan menggunakan

Hemacytometer. Hemacytometer banyak digunakan untuk menghitung sel-sel darah. Untuk


dapat mempergunakan alat-alat ini perlu alat yang lain yaitu mikroskop dan pipet tetes. Untuk
memudahkan penghitungan phytoplankton yang diamati biasanya menggunakan alat bantu hand
counter. Hemacytometer merupakan suatu alat yang terbuat dari gelas yang dibagi menjadi
kotak-kotak pada dua tempat bidang pandang. Kotak tersebut berbentuk bujur sangkar dengan
sisi 1 mm, sehingga apabila ditutup dengan gelas penutup volume ruangan yang terdapat diatas
bidang bergaris adalah 0,1 mm atau 10 -4 ml. Kotak bujur sangkar yang mempunyai sisi 1 mm
tersebut dibagi lagi menjadi 25 buah kotak bujur sangkar, yang masing-masing dibagi lagi
menjadi 16 kotak bujur sangkar kecil.
Cara penghitungan kepadatan phytoplankton dengan Hemacytometer adalah sebagai
berikut: Hemacytometer dibersihkan dan dikeringkan terlebih dahulu dengan tissue. Kemudian
gelas penutupnya dipasang. Phytoplankton yang akan dihitung kepadatannya diteteskan dengan
menggunakan pipet tetes pada bagian parit yang melintang hingga penuh. Penetesan harus hatihati agar tidak terjadi gelembung udara dibawah gelas penutup. Selanjutnya Hemacytometer
tersebut diamati dibawah mikroskop dengan pembesaran 100 atau 400 kali dan dicari bidang
yang berkotak-kotak. Untuk mengetahui kepadatan phytoplankton dengan cara menghitung
phytoplankton yang terdapat pada kotak bujur sangkar yang mempunyai sisi 1 mm. apabila
jumlah phytoplankton yang didapat adalah N, maka kepadatan phytoplankton adalah N x 10 4
sel/ml.
G.

PEMANENAN
Berdasarkan pola pertumbuhan phytoplankton, maka pemanenan phytoplankton harus

dilakukan pada saat yang tepay yaitu pada saat phytoplankton tersebut mencapai puncak
populasi. Apabila pemanenan phytoplankton terlal cepat atau belum mencapai puncak populasi,
sisa zat hara masih cukup besar sehingga dapat membahayakan organism pemangsa karena
pemberian phytoplankton pada bak larva kebanyakan dengan cara memindahkan massa air kultur
phytoplankton. Sedangkan apabila pemanenan terlambat maka sudah banyak terjadi kematian
phytoplankton sehingga kualitasnya turun. Khusus untuk phytoplankton jenis Chlorella sp
pemanenan dilakukan pada saat 4 hari karena phytoplankton tersebut mencapai puncak populasi
pada saat hari ke 4 setelah pembibitan maka sebaiknya segera dipanen.

Pemanenan phytoplankton dapat dilakukan dengan berbagai macam alat sesuai dengan
kebutuhan dan jumlah phytoplankton. Adapun peralatannya antara lain : centrifuge, plate
separator, dan berbagai macam filter. Pemanenan dapat dilakukan secara total atau sebagian.
Apabila panen dilakukan sebagian, phytoplankton yang telah siap dipanen diambil sebanyak 2/3
bagian. Kemudian kedalam sisa phytoplankton yang 1/3 bagian tersebut ditambahkan air laut
dengan salinitas tertentu (10-20 ppt). selanjutnya dilakukan pemupukan sekitar dosis. Panen
sebagian ini sebaiknya dilakukan tidak lebih dari tiga kali pada bak budidaya yang sama, setelah
itu harus dilakukan panen total.
H.

PASCA PANEN
Chlorella sp yang telah dipanen memiliki banyak peranan yang sangat penting, baik

sebagai pakan alami larva terutama larva ikan kakap putih, ikan kakap merah, dan ikan kerapu,
juga sebagai green water pada pemeliharaan berbagai jenis larva. Bahkan kini banyak digunakan
dalam system pengolahan dan penanggulangan air limbah. Chlorella sp ternyata sudah
dikonsumsi manusia dan sangat mudah didapatkan dipasaran dalam berbagai bentk, seperti
tablet, sirup, permen, shampoo, sabun, handbody lotion, dan lain-lain. Hasil pemanenan dapat
disimpan dalam bentuk kering didapat dari hasil penjemuran phytoplankton konsentrat dibawah
sinar matahari.penjemuran dilakukan dalam kotak penjemuran bertenaga surya yang dapat
menghasilkan udara panas dengan suhu sekitar 70 0C. Dengan suhu ini komposisi gizi
phytoplankton terutama protein tidak rusak. Chlorella sp yang kering yang didapat disimpan
dalam botol-botol yang tertutup rapat. Pengeringan juga dapat dilakukan dengan menggunakan
oven. Phytoplankton freeze (beku) didapat dari hasil penyimpanan phytoplankton yang telah
dipadatkan didalam freezer.
I.

PEMELIHARAAN STOK MURNI


Untuk memelihara kesinambungan kultur phytoplankton perlu dilakukan pemeliharaan

stok murni. Stok murni dapat disimpan dalam media agar-agar dan media cair serta disimpan
dalam lemari pendingin. Penyimpanan stok murni dalam media cair dilakukan dalam tabung
reaksi volume 10 ml, diberi pupuk dan tanpa aerasi, tetapi harus dilakukan pengocokan setiap
hari. Biakan stok murni ini diletakkan pada rak kultur dengan pencahayaa lampu TL. Biakan stok

murni ini harus diganti seminggu sekali. Penyimpanan stok murni dalam lemari pendingin dapat
bertahan sampai satu bulan, dan sebaiknya segera digunakan dan diganti dengan stok murni yang
baru.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Menurut habitat hidupnya ada dua macam Chlorella, yaitu Chlorella yang hidup di air
tawar maupn yang hidup di air laut. Contoh Chlorella yang hidup di air laut adalah C.
minutissima, C. vulgaris, C. pyrenoidosa, C. virginica. Pertumbuhan Chlorella sp sangat erat
kaitannya dengan ketersediaan hara makro dan mikro serta dipengaruhi oleh kondisi lingkungan.
Factor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan Chlorella sp. antara lain
cahaya, suhu, tekanan osmotic, dan pH air. Kultur Cholorella sp skala laboratorium biasanya
memerlukan kondisi lingkungan terkendali. Hal ini dimaksudkan agar pertumbuhannya optimal
sehingga didapatkan bibit yang bermutu tinggi untuk skala kultur selanjutnya.Penghitungan
kepadatan plankton digunakan sebagai salah atu ukuran mengetahui pertumbuhan phytoplankton,
mengetahui kepadatan bibit, kepadatan pada awal kultur, dan kepadatan pada saat panen.
Kepadatan phytoplankton dapat dihitung dengan menggunakan Hemacytometer. Hemacytometer
banyak digunakan untuk menghitung sel-sel darah.

DAFTAR PUSTAKA

S. Wirosaputro, Chlorella: Makanan Kesehatan Global Buku I, Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta, 1998.
D. Steenblock, Chlorella: Makanan Sehat Alami, terjemahan, Muhilal dan U. L. Siagian, PT
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2000.
B.R. Vashishta, Botany Part I: Algae, 8th ed., S. Chand & Company Ltd., New Delhi, 1999.
M. Sachlan, Planktonologi, Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Diponegoro,
Semarang, 1982.
C.S. Reynolds, The Ecology of Freshwater Phytoplankton, Cambridge University Press,
Cambridge, 1984.
T. Chrismadha, Nofdianto, Rosidah, Y. Mardianti, Prosiding Hasil Penelitian dan Pengembangan
Limnologi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Limnologi LIPI, Cibinong, 1998, p.350.
D.S. Anderson, R. Davis, M.S. Ford, Journal of Phycology 29 (1993) 264.
Chilmawat, D dan Suminto. 2008. Penggunaan Media Kultur Yang Berbeda Terhadap
Pertumbuhan Chlorella sp. Program Studi Budidaya Perairan, Jurusan Perikanan Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Semarang.
Hama, O.H. dan S. Miyachi. 1988. Chlorella. Microagae Biotechnology. 1st edition. Cambridge
University.
Ukeles, R. 1971. Nutritional equirements in shellfish culture In : K. S. Price Price Jr. and D. L.
Maurer (Eds). Nutritional equirements in shellfish culture. Proch. Conf. On Artificial

Propagation of Commercially Valuable Shellfish- Oysters. Univ. Delaware, newrk. DE :


22-23 October 1963 : 43-64.