Anda di halaman 1dari 6

KEJANG DEMAM

A. Pendahulan
1. Pengertian
Istilah kejang demam digunakan untuk bangkitan kejang yg timbul akibat
kenaikan suhu tubuh, biasanya terjadi di antara umur 3 bulan dan 5 tahun
yang di sebabkan oleh demam tanpa adanya infeksi intra kranial atau
penyebab yang jelas. Banyak pernyataan yang dikemukakan mengenai kejang
demam, salah satu diantaranya adalah : Kejang demam adalah suatu kejadian
pada bayi atau anak, biasanya terjadi pada umur 3 bulan sampai 5 tahun,
berhubungan dengan demam tetapi tidak pernah terbukti adanya infeksi
intrakranial atau penyebab tertentu. Kejang demam harus dapat dibedakan
dengan epilepsi, yaitu ditandai dengan kejang berulang tanpa demam.(1)
2. Epidemiologi
Kejadian kejang demam ini di negara yang berkembang berkisar antara
30% , di Jepang angka kejadian kejang ini lebih tinggi karena faktor infeksi
yang masih tinggi dan dapat menyebabkan peningkatan suhu, sedangkan di
Indonesia pada tahun 1995 berkisar antara 2,5%. Infeksi saluran nafas akut
merupakan penyebab yang banyak ditemui sebagai penyakit yang
menimbulkan kejang demam.(1-4)
3. Klasifikasi
Secara umumnya kejang demam dibagi menjadi 2 golongan. Kriteria
untuk penggolongan tersebut dikemukakan oleh berbagai pakar. Dalam hal
ini terdapat perbedaan

kecil

dalam

penggolongan

tersebut,

menyangkut jenis kejang, tingginya demam, usia penderita, lamanya


kejang berlangsung, gambaran rekaman otak, dan lainnya.(3)

Secara epidemiologi kejang demam dibagi menjadi dua macam, yaitu


kejang demam komplek dan kejang demam sederhana. Kejang demam
komplek adalah kejang yang memiliki durasi kejangnya > 15 menit, berulang
> 2x dalam 24 jam, dan sifat kejangnya fokal atau persial. (3)
Sedangkan kejang demam sederhana adalah kejang yang memiliki durasi
kejangnya < 15 menit, 1x dalam 24 jam, dan sifat kejangnya tonik, klonik,
atau tonik klonik (tanpa gerakan fokal) hanya bersifat kejang umum biasa.
(3)

4. Faktor Resiko
Beberapa faktor yang berperan menyebabkan kejang demam antara lain
adalah demam, demam setelah imunisasi DPT dan morbili, efek toksin dari
mikroorganisme, respon alergik atau keadaan imun yang abnormal akibat
infeksi, perubahan keseimbangan caira dan elektrolit.(1-2)
Faktor risiko berulangnya kejang demam, antara lain :
(1) riwayat kejang demam dalam keluarga;
(2) usia kurang dari 18 bulan;
(3) temperatur tubuh saat kejang, makin rendah temperatur saat kejang
makin sering berulang;
(4) adanya gangguan perkembangan neurologis; dan
(5) lamanya demam
5. Etiologi
Penyebab Febrile Convulsion hingga kini belum diketahui dengan pasti,
demam sering disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas, otitis media,
pneumonia, gastroenteritis dan infeksi saluran kemih. Kejang tidak selalu
tinbul pada suhu yang tinggi. Kadang-kadang demam yang tidak begitu tinggi
dapat menyebabkan kejang.(3)

Kejang dapat terjadi pada setiap orang yang mengalami hipoksemia


(penurunan oksigen dalam darah) berat, hipoglikemia, asodemia, alkalemia,
dehidrasi, intoksikasi air, atau demam tinggi. Kejang yang disebabkan oleh
gangguan metabolik bersifat reversibel apabila stimulus pencetusnya
dihilangkan.(3)
6. Patofisiologi
Sel neuron dikelilingi oleh suatu membran. Dalam keadaan normal
membran sel neuron dapat dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium dan
sangat sulit dilalui oleh ion natrium dan ion lain, kecuali ion clorida.
Akibatnya konsentrasi natrium menurun sedangkan di luar sel neuron terjadi
keadaan sebaliknya.(8)
Dengan perbedaan jenis konsentrasi ion di dalam dan di luar sel maka
terdapat perbedaan potensial yang disebut potensial membran dan ini dapat
dirubah dengan adanya :
a.

Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler

b.

Rangsangan yang datangnya mendadak, misalnya mekanis,


kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya

c.

Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena


penyakit atau keturunan.
Pada

kenaikan

suhu

tubuh

tertentu

dapat

terjadi

perubahan

keseimbangan dari membran dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari
ion kalium maupun ion natrium melalui membran tadi, dengan akibat
terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya
sehingga meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel tetangganya sehingga
terjadi kejang.(8)
Pada keadaan demam kenaikan suhu 1C akan

mengakibatkan

kenaikan metabolisme basal 10%-15% dan kebutuhan oksigen akan

meningkat 20%. Pada seorang anak berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai
65% dari seluruh tubuh, dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 15%.
Jadi pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan
dari membran sel neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion
Kalium maupun ion Natrium melalui membran tadi, dengan akibat terjadinya
lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga
dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel tetangganya dengan
bantuan bahan yang disebut neurotransmitter dan terjadilah kejang. Tiap anak
mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung tinggi rendahnya
ambang kejang seeorang anak menderita kejang pada kenaikan suhu tertentu.
Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, kejang telah terjadi pada suhu
38C sedangkan pada anak dengan ambang kejang yang tinggi, kejang baru
terjadi pada suhu 40C atau lebih. Dari kenyataan inilah dapatlah disimpulkan
bahwa terulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada ambang kejang
yang rendah sehingga dalam penanggulangannya perlu diperhatikan pada
tingkat suhu berapa penderita kejang. Kejang demam yang berlangsung
singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak menimbulkan gejala sisa.
Tetapi pada kejang yang berlangsung lama (lebih dari 15 menit) biasanya
disertai terjadinya apnea, meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk
kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis
laktat disebabkan oleh metabolisme anaerobik, hipotensi arterial disertai
denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh makin meningkatnya
aktifitas otot dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otak meningkat.
Rangkaian kejadian di atas adalah faktor penyebab hingga terjadinya
kerusakan neuron otak selama berlangsungnya kejang lama.(8)

7. Manifestasi Klinik

8. Diagnosis (anamnesa, Px.fisik dan Px.Penunjang)


9. Diagnosis Banding
10. Penatalaksanaan
11. Komplikasi
Pada penderita kejang demam yang mengalami kejang lama biasanya
terjadi hemiparesis. Kelumpuhannya sesuai dengan kejang fokal yang terjadi.
Mula mula kelumpuhan bersifat flasid, tetapi setelah 2 minggu timbul
spastisitas.
Kejang demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan
anatomis di otak sehingga terjadi epilepsy.
Ada beberapa komplikasi yang mungkin terjadi pada klien dengan
kejang demam :
a. Pneumonia aspirasi
b. Asfiksia
c. Retardasi mental

12. Prognosis

DAFTAR PUSTAKA

1. Soetomenggolo TS. Kejang demam dan penghentian kejang. Dalam: Pusponegoro HD,
Passat J. mangunatmadja I, dkk penyunting Kelainan Neurologis dalam praktek seharihari. PKB IKA XXXIV. Jakarta. Balai Penerbit FKUI. 2008: 209 21.

2. Bret EM. Epilepsi and convulsion. In: Brett EM. Penyunting Padiatric neurology 2 nd
ed. Ediburg. Chuchill Livingstone, 2005: 317 88.
3. Ismael S. Penatalaksanaan kelainan syaraf anak. Dalam : Pusponegoro HD, Passat J.
mangunatmadja I, dkk penyunting Kelainan Neurologis dalam praktek sehari-hari. PKB
IKA XXXIV. Jakarta. Balai Penerbit FKUI. 2002: 235 47.
4. Concensus statement. Febrile zeisure long term management of children with fever
associated seizures NIH Concensus development conference. Neuropediatric. 2002; 11:
196 202
5. Berg AT, Shinar S, Darafsky AS et al. Predictors od recurrent febrile seizure s. Arch
Pediat Adolesv Med. 2001: 151 : 371 8.
6. Herts DG, Nelson KB. Febrile seizure. In : David RB Penyunting Pediatric neurology 1
st ed. Connecticut. Appleton and Lange. 2001 : 557 67.
7. Ferwell JR. Blackner G, Sulzbacher S. Adelman L, Vocher M. First febrile seizure. Clin.
Pediat. 2000. 33: 263 67.
8. Nelson KB, Hertz DG. Febrile seizures. In: Swaiman KF penyunting pediatric neurology
2 bd ed. Toronto: Mosby. 1999. 565 69.