Anda di halaman 1dari 32

PRESENTASI KASUS

FRAKTUR NASAL
Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Dalam Mengikuti
Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu Penyakit THT
Rumah Sakit Umum Daerah Temanggung

Diajukan Kepada :
dr. M. Pramono, Sp.THT
Disusun Oleh :
Santo Juliansyah
20100310044
BAGIAN ILMU PENYAKIT THT
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TEMANGGUNG
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN PROGRAM
PENDIDIKAN PROFESI DOKTER UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2015

HALAMAN PENGESAHAN

Telah dipresentasikan dan disetujui Presentasi Kasus dengan judul :


Fraktur Nasal

Tanggal : Desember 2015


Tempat : RSUD Temanggung

Oleh :
Santo Juliansyah
20100310044

Disahkan oleh :
Dokter Pembimbing

dr. Pramono, Sp.THT

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT atas segala limpahan nikmat,
petunjuk dan kemudahan yang telah diberikan, sehingga penulis dapat
menyelesaikan Presentasi Kasus Fraktur Nasal.
Referat ini terwujud atas bimbingan serta pengarahan dari berbagai pihak.
Untuk itu, dalam kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih yang
tak ternilai kepada:
1. dr. Pramono, Sp.THT selaku dosen pembimbing bagian Ilmu
Kesehatan THT RSUD Temanggung yang telah mengarahkan dan
membimbing.
2. Perawat bagian poliklinik mata RSUD Temanggung.
3. Rekan-rekan Co-Assisten atas bantuan dan kerjasamanya.
4. Dan seluruh pihak-pihak terkait yang membantu penyelesaian
Presentasi Kasus ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Dalam penyusunan Presentasi Kasus ini, penulis menyadari masih terdapat
banyak kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran membangun
demi kesempurnaan penyusunan di masa yang akan datang.
Wassalamualaikum Wr.Wb
Temanggung, Desember 2015

Penulis

DAFTAR ISI
PRESENTASI KASUS

HALAMAN PENGESAHAN

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I

PENDAHULUAN

BAB II

LAPORAN KASUS

BAB III

14

TINJAUAN PUSTAKA

14

DAFTAR PUSTAKA

31

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Tonsilitis kronis merupakan penyakit yang paling sering terjadi pada
tenggorokan terutama pada usia muda. Penyakit ini terjadi disebabkan peradangan
pada tonsil oleh karena kegagalan atau ketidaksesuaian pemberian antibiotik pada
penderita tonsilitis akut. Ketidaktepatan terapi antibiotik pada penderita tonsilitis
akut akan merubah mikroflora pada tonsil, merubah struktur pada kripta tonsil dan
adanya infeksi virus menjadi faktor predisposisi bahkan faktor penyebab
terjadinya tonsilitis kronis.
Tonsilitis kronis merupakan penyakit yang paling sering terjadi dari
seluruh radang tenggorok yang berulang. Berdasarkan data epidemiologi penyakit
THT di 7 provinsi (Indonesia) pada tahun 1994-1996, prevalensi Tonsilitis Kronis
4,6% tertinggi setelah Nasofaringitis Akut (3,8%). Sedangkan pada penelitian di
RSUP Dr. Hasan Sadikin pada periode April sampai dengan Maret 1998
ditemukan 1024 pasien tonsilitis kronis atau 6,75% dari seluruh jumlah kunjungan
(Undaya R, 1999 dalam Farokah, 2005). Sedangkan penelitian yang dilakukan di
Malaysia pada Poli THT Rumah Sakit Sarawak selama 1 tahun dijumpai 8.118
pasien dalam jumlah penderita penyakit tonsilitis kronis menempati urutan
keempat yakni sebanyak 657 (81%) penderita.
Tonsilitis dapat menyebar dari orang ke orang melalui kontak tangan,
menghirup udara tetesan setelah seseorang dengan tonsilitis bersin atau berbagi
peralatan atau sikat gigi dari orang yang terinfeksi. Anak-anak dan remaja berusia
5-15 tahun yang paling mungkin untuk mendapatkan tonsilitis, tetapi dapat
menyerang siapa saja.

Hanya sekitar 30 % dari tonsilitis pada anak disebabkan oleh radang


tenggorokan dan hanya 10% dari tonsilitis pada orang dewasa disebabkan oleh
radang tenggorokan.
Tonsilitis Kronis menempati urutan kelima (10,5 persen pada laki-laki,
13,7 persen pada perempuan). Mengingat angka kejadian yang tinggi dan dampak
yang ditimbulkan dapat mempengaruhi kualitas hidup anak, maka pengetahuan
yang memadai mengenai tonsilitis kronis diperlukan guna penegakan diagnosis
dan terapi yang tepat dan rasional.

BAB II
LAPORAN KASUS

Identitas Pasien
Nama

: Tn. Susilo

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Umur

: 27 tahun

Alamat

: Maluwih rt 01 rw 05 Gesing,
Kandangan, Temanggung

Agama

: Islam

Suku

: Jawa

Status

: Belum Kawin

No. CM

: 204241

Tanggal Masuk

: 15 Desember 2015

Tanggal Pemeriksaan : 15 Desember 2015


Anamnesis
Auto dan alloanamnesa tanggal 15 Desember 2015 di Poli THT.
Keluhan utama
Nyeri dan bengkak pada hidung
Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang ke poli THT dengan keluhan nyeri dan bengkak di hidung post
trauma alat meteran di pangkal hidung sejak 2 hari yang lalu. Sebelumnya
pasien datang ke IGD RSUD temanggung setelah trauma dan di tangani di IGD,

dari IGD pasien di perintahkan kontrol ke poli THT. Pasien tidak demam, pilek,
batuk, mengeluarkan darah, pusing.
Riwayat penyakit dahulu dan riwayat pengobatan
Pasien sebelumnya belum pernah mengalami hal serupa. Riwayat pengobatan
sudah di beri tampon di IGD.
Riwayat penyakit keluarga dan Sosial
Tidak ada keluarga yang mengalami hal seperti ini. Pasien adalah seorang buruh
bangunan.
Riwayat alergi
Pasien mengaku tidak memiliki riwayat alergi makanan maupun obat-obatan.
Pemeriksaan fisik
Dilakukan tanggal 15 Desember 2015 di Poli THT.
Status Generalis
Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Compos mentis

Berat badan

: 68 kg

Tinggi Badan

: 171 cm

Status Gizi

: Cukup

Tanda vital
Tensi

: 120/70 mmHg

Nadi

: 88 x/menit

Respirasi

: 20 x/menit

Suhu

: 36,7 C

Status General :
Kepala

: Normocephali

Muka

: Simetris, parese nervus fasialis -/

Mata

: Anemis -/-, ikterus -/-, reflek pupil +/+ isokor

THT

: Sesuai status lokalis

Leher

: Kaku kuduk (-)


Pembesaran kelenjar limfe -/Pembesaran kelenjar parotis -/Kelenjar tiroid (-)

Thorak

Cor

: S1S2 tunggal, reguler, murmur

Po

: Vesikuler +/+, Rhonki -/-, Wh -/-

Abdomen

: Distensi (-), BU (+) N, hepar/lien tidak teraba

Ekstremitas

: Akral hangat

Status Lokalis
Pemeriksaan telinga
No
.
1.
2.

Pemeriksaan
Telinga
Tragus
Daun telinga

Telinga kanan

Telinga kiri

Nyeri tekan (-), edema (-)


Nyeri tekan (-), edema (-)
Bentuk dan ukuran dalam batas Bentuk dan ukuran dalam batas
normal, hematoma (-), nyeri normal, hematoma (-), nyeri

3.

Liang telinga

tarik aurikula (-)


tarik aurikula (-)
Serumen (+), hiperemis (-), Serumen (+), hiperemis (-),
furunkel (-), edema (-), otorhea furunkel (-), edema (-), otorhea
(-)

4.

Membran timpani

(-)

Intak. Retraksi (-), bulging (-), Intak. Retraksi (-), bulging (-),
hiperemi

(-),

edema

(-), hiperemi

perforasi (-), cone of light (+)

(-),

edema

(-),

perforasi (-), cone of light (+)

10

Pemeriksaan hidung

Pemeriksaan hidung

Dextra

Hidung

Bentuk deviasi

Sekret

Bercampur
mengental

Sinistra
Bentuk deviasi

darah

Mukosa konka media Hiperemis(+),

yang Bercampur
mengental

darah

yang

hipertrofi Hiperemis(+), hipertrofi(+)

(+)
Mukosa

konka Hiperemis(+),

inferior

(+)

Meatus media

Hiperemis(+),

hipertrofi Hiperemis(+), hipertrofi(+)

hipertrofi Hiperemis(+), hipertrofi(-)

(-)
Meatus inferior

Hiperemis(+),

hipertrofi Hiperemis(+), hipertrofi(+)

(+)
Septum

Deviasi (+)

Deviasi (+)

Massa

(-)

(-)

11

Pemeriksaan Tenggorokan

Bibir

Mukosa bibir basah, berwarna merah muda (N)

Mulut

Mukosa mulut basah berwarna merah muda


Warna kuning gading, caries (-), gangren(-)

Geligi
Warna merah muda, sama dengan daerah sekitar
Ginggiva
Lidah

Tidak ada ulkus, pseudomembrane (-), dalam batas normal

Uvula

Bentuk normal, hiperemi (+), edema (-)

12

Palatum mole

Ulkus (-), hiperemi (-)

Faring

Mukosa hiperemi (-), reflex muntah (+), membrane (-)

Tonsila palatine

Kanan

Kiri

Ukuran

T0

T0

Warna

Hiperemis (-)

Hiperemis (-)

Tidak rata

Tidak rata

Normal

Normal

(-)

(-)

Abses (-)

Abses (-)

hiperemi (-)

hiperemi (-)

Permukaan
Kripte
Detritus
Peri Tonsil
Fossa

Tonsillaris

dan Arkus Faringeus

Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium: darah lengkap, bleeding time, cloting time, laju endap darah,
ureum dan kreatinin: Hb 14.9 g/dL
Foto cranium : Curiga fraktur os nasal, sinus paranasal baik, Hipertrofi konka nasi
Diagnosis
Fraktur OS Nasal

13

Diagnosis Banding

Rencana Terapi
Pembedahan : Rekontruksi Nasi
2.8.1.

14

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

Embriologi
Tonsila Palatina berasal dari proliferasi sel-sel epitel yang melapisi
kantong faringeal kedua. Perluasan ke lateral dari kantong faringeal kedua diserap
dan bagian dorsalnya tetap ada dan menjadi epitel tonsilla palatina. Pilar tonsil
berasal dari arcus branchial kedua dan ketiga. Kripta tonsillar pertama terbentuk
pada usia kehamilan 12 minggu dan kapsul terbentuk pada usia kehamilan 20
minggu. Pada sekitar bulan ketiga, tonsil secara gradual akan diinfiltrasi oleh selsel limfatik.
Secara histologis tonsil mengandung 3 unsur utama yaitu jaringan ikat atau
trabekula (sebagai rangka penunjang pembuluh darah, saraf dan limfa), folikel
germinativum (sebagai pusat pembentukan sel limfoid muda) serta jaringan
interfolikel (jaringan limfoid dari berbagai stadium).

Anatomi
Tonsil merupakan suatu akumulasi dari limfonoduli permanen yang
letaknya di bawah epitel yang telah terorganisir sebagai suatu organ. Berdasarkan
lokasinya, tonsil dibagi menjadi; Tonsilla lingualis yang terletak pada radix

15

linguae, Tonsilla palatina (tonsil) yang terletak pada ismus faucium antara arcus
glossopalatinus dan arcus glossopharingicus, Tonsilla pharingica (adenoid) yang
terletak pada dinding dorsal dari nasofaring, Tonsilla tubaria yang terletak pada
bagian lateral nasofaring di sekitar ostium tuba auditiva dan Plaques dari peyer
(tonsil perut), terletak pada ileum.
Dari kelima macam tonsil tersebut, Tonsilla lingualis, Tonsilla palatina,
Tonsilla pharingica, dan Tonsilla tubaria membentuk cincin jaringan limfe pada
pintu masuk saluran nafas dan saluran pencernaan. Cincin ini dikenal dengan
nama cincin waldeyer. Kumpulan jaringan ini melindungi anak terhadap infeksi
melalui udara dan makanan. Jaringan limfe pada cincin waldeyer menjadi
hipertrofi fisiologis pada masa kanak-kanak, adenoid pada umur 3 tahun dan
tonsil pada umur 5 tahun dan kemudian menjadi atrofi pada masa pubertas.
Tonsil palatina dan adenoid (tonsil faringeal) merupakan bagian terpenting
dari cincin waldeyer. Tonsil palatina adalah masa jaringan limfoid yang terletak di
dalam fossa tonsil pada kedua sudut orofaring dan dibatasi oleh pilar anterior (otot
palatoglosus) dan pilar posterior (otot palatofaringeus). Palatoglosus mempunyai
origo seperti kipas dipermukaan oral palatum mole dan berakhir pada sisi lateral
lidah. Palatofaringeus merupakan otot yang tersusun vertical dan di atas melekat
pada palatum mole, tuba eustachius dan dasar tengkorak. Otot ini meluas ke
bawah sampai ke dinding atas esophagus. Otot ini lebih penting daripada
palatoglosus dan harus diperhatikan pada operasi tonsil agar tidak melukai otot
ini. Kedua pilar bertemu diatas untuk bergabung dengan palatum mole. Di inferior
akan berpisah dan memasuki jaringan pada dasar lidah dan leteral dinding faring.

16

Jaringan limfoid pada cincin waldeyer berperan penting pada awal


kehidupan, yaitu sebagai daya pertahanan local yang setiap saat berhubungan
dengan agen dari luar (makan, minum, bernafas) dan sebagai surveilens imun.
Fungsi ini didukung secara anatomis dimana didaerah faring terjadi tikungan
jalannya material yang melewatinya disamping itu bentuknya tidak datar,
sehingga terjadi turbulensi khususnya udara pernafasan. Dengan demikian
kesempatan kontak berbagai agen yang ikut dalam proses fisiologis tersebut pada
permukaan penyusun cincin waldeyer itu semakin besar.

Adapun struktur yang terdapat disekitar tonsila palatina adalah:

17

Anterior
Posterior
Superior
Inferior
Medial
Lateral

: arcus palatoglossus
: arcus palatopharyngeus
: palatum mole
: 1/3 posterior lidah
: ruang orofaring
: kapsul dipisahkan oleh m. constrictor pharyngis superior

oleh jaringan areolar longgar. A. carotis interna terletak 2,5 cm di belakang


dan lateral tonsila.
Adenoid atau tonsila faringeal adalah jaringan limfoepitelial berbentuk
triangular yang terletak pada aspek posterior. Adenoid berbatasan dengan kavum
nasi dan sinus paranasals pada bagian anterior, kompleks tuba eustachius- telinga
tengah- kavum mastoid pada bagian lateral.
Terbentuk sejak bulan ketiga hingga ketujuh embriogenesis. Adenoid akan
terus bertumbuh hingga usia kurang lebih 6 tahun, setelah itu akan mengalami
regresi. Adenoid telah menjadi tempat kolonisasi kuman sejak lahir. Ukuran
adenoid beragam antara anak yang satu dengan yang lain. Umumnya ukuran
maximum adenoid tercapai pada usia antara 3-7 tahun. Pembesaran yang teijadi
selama usia kanak-kanak muncul sebagai respon multi antigen seperti. virus,
bakteri, alergen, makanan dan iritasi lingkungan.

18

Fossa tonsil atau sinus tonsil dibatasi oleh otot-otot orofaring, yaitu batas
anterior adalah otot palatoglosus, batas lateral atau dinding luarnya adalah otot
konstriktor faring superior. Tonsil tidak mengisi seluruh fosa tonsilaris, daerah
yang kosong di atasnya dikenal sebagai fossa supratonsilaris. Bagian luar tonsil
terikat longgar pada muskulus konstriktor faring superior, sehingga tertekan setiap
kali makan. Permukaan lateral tonsil melekat pada fasia faring yang sering juga
disebut kapsul tonsil, sehingga mudah dilakukan diseksi pada tonsilektomi.
Tonsil mendapat vaskularisasi dari cabang-cabang a. karotis eksterna
yaitu: a. maksilaris eksterna (a. fasialis) yang mempunyai cabang a. tonsilaris dan
a. palatina asenden, a. maksilaris interna dengan cabangnya yaitu a.palatina
desenden, a. lingualis dengan cabangnya yaitu a. lingualis dorsal dan a. faringeal
asenden. a. tonsilaris berjalan ke atas di bagian luar m. konstriktor superior dan
memberikan cabang untuk tonsil dan palatum mole. Arteri palatina asenden,
mengirim cabang-cabangnya melalui m. konstriktor posterior menuju tonsil.
Arteri faringeal asenden juga memberikan cabangnya ke tonsil melalui bagian luar
m. konstriktor superior. Arteri lingualis dorsal naik ke pangkal lidah dan mengirim
cabangnya ke tonsil, plika anterior dan plika posterior.

19

20

Tonsil dipersarafi oleh nervus trigeminus dan glossofaringeus. Nervus


trigeminus mempersarafi bagian atas tonsil melalui cabangnya yang melewati
ganglion sfenopalatina yaitu nervus palatine. Sedangkan nervus glossofaringeus
selain mempersarafi bagian tonsil, juga dapat mempersarafi lidah bagian belakang
dan dinding faring.
Imunologi Tonsil
Tonsil palatina merupakan penghasil utama dari sitokin yang dihasilkan
oleh makrofag - makrofag dan partikel netrofil didalam tubuh yang merupakan
mekanisme pertahanan tubuh dan juga merupakan organ limfatik sekunder yang
diperlukan untuk diferensiasi dan proliferasi limfosit yang sudah disensitisasi.
Interleukin ( IL) seperti IL-1, IL-6 . dan tumor necrosis factor- juga berperan
dalam pertahanan tubuh pada fase akut. Secara sistemik proses imunologi dari
tonsil terbagi 3 yaitu;
Respon imun tahap 1
Respon imun tahap 2
Migrasi limfosit
Pada respon imun tahap 1 terjadi ketika antigen memasuki orofaring
mengenai epitel kripta yang merupakan kompartemen tonsil pertama sebagai
barrier imunologi. Sel M tidak hanya berperan untuk mentransport antigen
melalui barrier tetapi juga membentuk kompartemen intraepitel spesifik yang
membawa material asing dalam konsentrasi yang tinggi secara bersamaan. Respon
imun tonsila palatina tahap kedua terjadi setelah antigen melalui epitel kripta dan
mencapai daerah ekstrafolikular atau folikel limfoid, sel plasma tonsil juga
menghasilkan lima jenis Ig ( Ig G 65 %, Ig A 30%, Ig M, Ig d, Ig E) yang
membantu melawan dan mencegah infeksi. Respon imun berikutnya berupa
migrasi limfosit. Dari penelitian didapat bahwa migrasi limposit berlanjut terus
menerus dari darah ke tonsil dan kembali ke sirkulasi melalui pembuluh limfe.
Tonsilektomi merupakan tindakan operasi yang sering dilakukan pada
bidang THT. Ikinciogullary melaporkan kadar IgG, IgA, dan IgM dalam serum
21

mengalami penurunan setelah dilakukan tindakan tonsilektomi dibandingkan


dengan kadar sebelum operasi. Walaupun demikian, menurut Ikinciogullary
perubahan ini tidak menyebabkan defisiensi imun yang signifikan. Hasil yang
berbeda didapatkan oleh Faramazi, bahwa kadar IgA mengalami peningkatan pada
minggu-minggu awal pasca tonsiloadenoidektomi. Sedangkan IgG dan IgM
mengalami perubahan yang tidak bermakna. Faramazi juga mendapatkan kadar
limfosit T mengalami penurunan yang ringan, dan kembali normal setelah 8
minggu. Sedangkan kadar limfosit B tidak mengalami perubahan yang signifikan.
Selain itu, aktivitas imunologi terbesar dari tonsil ditemukan pada usia 3-10 tahun
sehingga sampai saat ini masih terdapat kontroversi di kalangan ahli penyakit
dalam, ahli bagian anak dan ahli THT dalam hal pendekatan diagnostik dan terapi
pada kasus anak.
Definisi
Tonsillitis adalah peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian dari
cincin Waldeyer. Cincin Waldeyer terdiri atas susunan kelenjar limfa yang
terdapat di dalam rongga mulut, yaitu tonsil faringeal (adenoid), tonsil palatina
(tonsil faucial), tonsil lingual (tonsil pangkal lidah), tonsil tuba eustasius (lateral
band dinding faring/Gerlachs tonsil).
Tonsilitis kronis merupakan radang pada tonsila palatina yang sifatnya
menahun. Yang dimaksud kronis adalah apabila terjadi perubahan histologis pada
tonsil, yaitu didapatkannya mikroabses yang diselimuti oleh dinding jaringan
fibrotik dan dikelilingi oleh zona sel sel radang yang dapat menjadi fokal infeksi
bagi organ organ lain, seperti sendi, ginjal, jantung dan lain lain.
Tonsilitis kronis umumnya terjadi akibat komplikasi tonsilitis akut yang
tidak mendapat terapi adekuat, mungkin serangan mereda tetapi kemudian dalam
waktu pendek kambuh kembali dan menjadi laten. Proses ini biasanya diikuti
dengan pengobatan dan serangan yang berulang setiap enam minggu hingga 3 4
bulan. Seringnya serangan merupakan faktor prediposisi timbulnya tonsilitis
kronis yang merupakan infeksi fokal.

22

Faktor predisposisi lain timbulnya tonsillitis kronis ialah rangsangan yang


menahun dari rokok, beberapa jenis makanan, hygiene mulut yang buruk,
pengaruh cuaca, dan kelelahan fisik. Kuman penyebabnya sama dengan tonsillitis
akut tetapi kadang kuman berubah menjadi kumah golongan gram negatif.
Etiologi
Etiologi penyakit ini dapat disebabkan oleh serangan ulangan dari
tonsilitis akut yang mengakibatkan kerusakan permanen pada tonsil atau
kerusakan ini dapat terjadi bila fase resolusi tidak sempurna. Bakteri penyebab
tonsilitis kronis pada umumnya sama dengan tonsilitis akut, yang paling sering
adalah kuman gram positif.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ahli, bakteri yang paling
banyak ditemukan pada jaringan tonsil adalah Streptococcus hemolyticus group
A. Beberapa jenis bakteri lain yang dapat ditemukan adalah Staphylococcus,
Pneumococcus, Haemophylus influenza, virus, jamur dan bakteri anaerob.
Faktor predisposisi antara lain raangsangan kronis (rokok, makanan),
higiene mulut yang buruk, pengaruh cuaca (udara dingin, lembab, suhu yang
berubah-ubah), alergi (iritasi kronis dari alergen), keadaan umum (gizi jelek,
kelelahan fisik), pengobatan tonsilitis akut yang tidak adekuat.
Patofisiologi
Terjadinya tonsilitis dimulai saat kuman masuk ke tonsil melalui kriptekriptenya, sampai disitu secara aerogen (melalui hidung, droplet yang
mengandung kuman terhisap oleh hidung kemudian nasofaring terus ke tonsil),
maupun secara foodvorn yaitu melalui mulut bersama makanan.
Fungsi tonsil sebagai pertahanan terhadap masuknya kuman ke tubuh baik
yang melalui hidung maupun mulut. Kuman yang masuk kesitu dihancurkan oleh
makrofag, Sel-sel polimorfonuklear. Jika tonsil berulang kali terkena infeksi maka
pada suatu waktu tonsil tidak bisa membunuh kuman-kuman semuanya, akibatnya
kuman bersarang di tonsil. Pada keadaan inilah fungsi pertahanan tubuh dari tonsil
berubah menjadi sarang infeksi (tonsil sebagai fokal infeksi). Sewaktu waktu

23

kuman bisa menyebar ke seluruh tubuh misalnya pada keadaan umum yang
menurun.
Fokal infeksi adalah sumber kuman di dalam tubuh dimana kuman dan
produk-produknya dapat menyebar jauh ke tempat lain dalam tubuh itu dan dapat
menimbulkan penyakit. Kelainan ini hanya menimbulkan gejala ringan atau
bahkan tidak ada gejala sama sekali, tetapi akan menyebabkan reaksi atau
gangguan fungsi pada organ lain yang jauh dari sumber infeksi. Penyebaran
kuman atau toksin dapat melalui beberapa jalan. Penyebaran jarak dekat biasanya
terjadi secara limfogen, sedangkan penyebaran jarak jauh secara hematogen.
Fokal infeksi secara periodik menyebabkan bakterimia atau toksemia. Bakterimia
adalah terdapatnya kuman dalam darah. Kuman-kuman yang masuk ke dalam
aliran darah dapat berasal dari berbagai tempat pada tubuh. Darah merupakan
jaringan yang mempunyai kemampuan dalam batas-batas tertentu untuk
membunuh kuman-kuman karena adanya imun respon. Maka dalam tubuh sering
terjadi bakterimia sementara. Bakterimia sementara berlangsung selama 10 menit
sampai beberapa jam setelah tindakan.
Manifestasi Klinis dan Diganosis
Pasien dengan tonsillitis kronis akan mengeluh ada penghalang/rasa
mengganjal serta sakit di tenggorokan, dan pernafasan berbau. Pada pemeriksaan
tampak tonsil membesar dengan permukaan yang tidak rata, kriptus membesar,
dan kriptus berisi detritus.
Bila tonsillitis kronis tersebut dalam keadaan eksaserbasi akut maka akan
ada tanda-tanda infeksi seperti demam, infeksi saluran nafas, nyeri menelan, lesu,
tidak nafsu makan, pada pemeriksaan tonsil terlihat hiperemi, membengkak, ada
kripte melebar, dan detritus.
Berdasarkan rasio perbandingan tonsil dengan orofaring, dengan
mengukur jarak antara kedua pilar anterior dibandingkan dengan jarak permukaan
medial kedua tonsil, maka gradasi pembesaran tonsil dapat dibagi menjadi:
TO

: tonsil masuk di dalam fossa atau sudah diangkat


24

T1
T2
T3
T4

: <25% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring


: 25-50% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring
: 50-75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring
: > 75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring

Pada anak, tonsil yang hipertrofi dapat terjadi obstruksi saluran nafas atas
yang dapat menyebabkan hipoventilasi alveoli yang selanjutnya dapat terjadi
hiperkapnia dan dapat menyebabkan kor polmunale. Obstruksi yang berat
menyebabkan apnea waktu tidur, gejala yang paling umum adalah mendengkur
yang dapat diketahui dalam anamnesis.
Diagnosis Banding
Diagnosa banding dari tonsilitis kronis adalah:
1. Penyakit-penyakit yang disertai dengan pembentukan pseudomembran
yang menutupi tonsil (tonsilitis membranosa)
a. Tonsilitis difteri
Disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphteriae. Tidak semua
orang yang terinfeksi oleh kuman ini akan sakit. Keadaan ini
tergantung pada titer antitoksin dalam darah. Titer antitoksin sebesar
0,03 sat/cc darah dapat dianggap cukup memberikan dasar imunitas.
Gejalanya terbagi menjadi 3 golongan besar, umum, lokal dan gejala
akibat eksotoksin. Gejala umum sama seperti gejala infeksi lain, yaitu
demam subfebris, nyeri kepala, tidak nafsu makan, badan lemah, nadi
lambat dan keluhan nyeri menelan. Gejala lokal yang tampak berupa
tonsil membengkak ditutupi bercak putih kotor yang makin lama
makin meluas dan membentuk pseudomembran yang melekat erat
pada dasarnya sehingga bila diangkat akan mudah berdarah. Gejala
akibat eksotoksin dapat menimbulkan kerusakan jaringan tubuh,
misalnya pada jantung dapat terjadi miokarditis sampai dekompensasi
kordis, pada saraf kranial dapat menyebabkan kelumpuhan otot
palatum dan otot pernafasan

dan pada ginjal dapat menimbulkan

albuminuria.
b.

Angina Plaut Vincent (Stomatitis ulseromembranosa)


25

Gejala yang timbul adalah demam tinggi (39C), nyeri di mulut, gigi
dan kepala, sakit tenggorok, badan lemah, gusi mudah berdarah dan
hipersalivasi. Pada pemeriksaan tampak membran putih keabuan di
tonsil, uvula, dinding faring, gusi dan prosesus alveolaris. Mukosa
mulut dan faring hiperemis. Mulut berbau (foetor ex ore) dan kelenjar
submandibula membesar.
c.

Mononukleosis Infeksiosa
Terjadi tonsilofaringitis ulseromembranosa bilateral. Membran semu
yang menutup ulkus mudah diangkat tanpa timbul perdarahan, terdapat
pembesaran kelenjar limfe leher, ketiak dan regio inguinal. Gambaran
darah khas, yaitu terdapat leukosit mononukleosis dalam jumlah besar.
Tanda khas yang lain adalah kesanggupan serum pasien untuk
beraglutinasi terhadap sel darah merah domba (Reaksi Paul Bunnel).

2. Penyakit kronik faring granulomatus


a.

Faringitis tuberkulosa
Merupakan proses sekunder dari TBC paru. Keadaan umum pasien
buruk karena anoreksi dan odinofagi. Pasien mengeluh nyeri hebat di
tenggorok, nyeri di telinga (otalgia) dan pembesaran kelenjar limfa
leher.

b.

Faringitis luetika

c.

Gambaran klinis tergantung dari stadium penyakit primer, sekunder


atau tersier. Pada penyakit ini dapat terjadi ulserasi superfisial yang
sembuh disertai pembentukan jaringan ikat. Sekuele dari gumma bisa
mengakibatkan perforasi palatum mole dan pilar tonsil.

d.

Lepra
Penyakit ini dapat menimbulkan nodul atau ulserasi pada faring
kemudian menyembuh dan disertai dengan kehilangan jaringan yang
luas dan timbulnya jaringan ikat.

e.

Aktinomikosis faring
Terjadi akibat pembengkakan mukosa yang tidak luas, tidak nyeri, bisa
mengalami ulseasi dan proses supuratif. Blastomikosis dapat

26

mengakibatkan ulserasi faring yang ireguler, superfisial, dengan dasar


jaringan granulasi yang lunak.
Penyakit-penyakit diatas, keluhan umumnya berhubungan dengan nyeri
tenggorok dan kesulitan menelan. Diagnosa pasti berdasarkan pada pemeriksaan
serologi, hapusan jaringan/kultur, X ray dan biopsi.
Penatalaksanaan
Pengobatan pasti untuk tonsillitis kronis adalah pembedahan dengan
pengangkatan tonsil. Tindakan ini dilakukan pada kasus-kasus dimana
penatalaksanaan medis atau yang konservatif gagal untuk meringankan gejalagejala. Penatalaksanaan medis termasuk pemberian antibiotik seperti penisilin,
irigasi tenggorokan sehari-hari dan usaha untuk membersihkan kripte tonsil
dengan alat irigasi gigi (oral). Ukuran jaringan tonsil tidak mempunyai hubungan
dengan infeksi kronis maupun berulang.
Terapi antibiotik pada tonsilitis kronis sering gagal dalam mengurangi dan
mencegah rekurensi infeksi, baik karena kegagalan penetrasi antibiotik ke dalam
parenkim tonsil ataupun ketidaktepatan antibiotik. Oleh sebab itu, penanganan
yang efektif bergantung pada identifikasi bakteri penyebab dalam parenkim tonsil.
Pemeriksaan apus permukaan tonsil tidak dapat menunjukkan bakteri pada
parenkim tonsil, walaupun sering digunakan sebagai acuan terapi, sedangkan
pemeriksaan aspirasi jarum halus (fine needle aspiration/FNA) merupakan tes
diagnostik yang menjanjikan.
Indikasi tonsilektomi menurut American Academy of Otolaryngology
Head and Neck Surgery Clinical Indicators Compendium tahun 1995
menetapkan : Indikasi tonsilektomi menurut The American Academy of
Otolaryngology,Head and Neck Surgery:
1. Indikasi absolut:
a. Pembesaran tonsil yang menyebabkan sumbatan jalan nafas atas,
disfagia menetap, gangguan tidur atau komplikasi kardiopulmunar.
b. Tonsil hipertrofi yang menimbulkan maloklusi gigi dan menyebabkan
gangguan pertumbuhan orofacial

27

c. Rhinitis dan sinusitis yang kronis, peritonsilitis, abses peritonsil yang


tidak hilang dengan pengobatan. Otitis media efusi atau otitis media
supuratif.
d. Tonsilitis yang menimbulkan febris dan konvulsi
e. Biopsi untuk menentukan jaringan yang patologis

(dicurigai

keganasan)
2. Indikasi relatif :
a. Penderita dengan infeksi tonsil yang kambuh 3 kali atau lebih dalam
setahun meskipun dengan terapi yang adekuat
b. Bau mulut atau bau nafas yang menetap yang menandakan tonsilitis
kronis tidak responsif terhadap terapi media
c. Tonsilitis kronis atau rekuren yang disebabkan kuman streptococus
yang resisten terhadap antibiotik betalaktamase
d. Pembesaran tonsil unilateral yang diperkirakan neoplasma
3. Kontra indikasi :
a. Diskrasia darah kecuali di bawah pengawasan ahli hematologi
b. Usia di bawah 2 tahun bila tim anestesi dan ahli bedah fasilitasnya
tidak mempunyai pengalaman khusus terhadap bayi
c. Infeksi saluran nafas atas yang berulang
d. Perdarahan atau penderita dengan penyakit sistemik yang tidak
terkontrol.
e. Celah pada palatum
Komplikasi
Komplikasi dari tonsilitis kronis dapat terjadi secara perkontinuitatum ke daerah
sekitar atau secara hematogen/limfogen ke organ yang jauh dari tonsil.(6,13,14,15)
1. Komplikasi sekitar tonsil
a.

Peritonsilitis
Peradangan tonsil dan daerah sekitarnya yang berat tanpa adanya
trismus dan abses.

b.

Abses Peritonsilar (Quinsy)


Kumpulan nanah yang terbentuk di dalam ruang peritonsil. Sumber
infeksi berasal dari penjalaran tonsilitis akut yang mengalami supurasi,
menembus kapsul tonsil dan penjalaran dari infeksi gigi.
28

c.

Abses Parafaringeal
Infeksi dalam ruang parafaring dapat terjadi melalui aliran getah
bening/pembuluh darah. Infeksi berasal dari daerah tonsil, faring, sinus
paranasal, adenoid, kelenjar limfe faringeal, mastoid dan os petrosus.

d.

Abses retrofiring
Merupakan pengumpulan pus dalam ruang retrofaring. Biasanya
terjadi pada anak usia 3 bulan sampai 5 tahun karena ruang retrofaring
masih berisi kelenjar limfe.

e.

Krista Tonsil
Sisa makanan terkumpul dalam kripta mungkin tertutup oleh jaringan
fibrosa dan ini menimbulkan krista berupa tonjolan pada tonsil
berwarna putih/berupa cekungan, biasanya kecil dan multipel.

f.

Tonsilolith (kalkulus dari tonsil)

g.

Terjadinya deposit kalsium fosfat dan kalsium karbonat dalam


jaringan tonsil membentuk bahan keras seperti kapur.

2. Komplikasi ke organ jauh


a.

Demam rematik dan penyakit jantung rematik

b.

Glomerulonefritis

c.

Episkleritis, konjungtivitis berulang dan koroiditis

d.

Psoriasis, eritema multiforme, kronik urtikaria dan purpura

e.

Artritis dan fibrositis

Prognosis
Tonsilitis biasanya mereda dalam beberapa hari dengan beristirahat dan
pengobatan suportif. Menangani gejala-gejala yang timbul dapat membuat

29

penderita tonsilitis lebih nyaman. Baik setelah dilakukan tonsilektomi dan


sebelum terjadinya komplikasi lebih lanjut.

30

BAB IV
PEMBAHASAN
Pasien datang dengan keluhan nyeri dan sulit menelan yang sebelumnya
diawali oleh demam, batuk, dan pilek. Ketika dimintai keterangan lebih lanjut,
pasien mengaku sejak dulu sudah sering merasa sulit menelan. Saat dilakukan
pemeriksaan pada daerah tenggorok, terlihat tonsil membesar T3 (dextra) dan T3
(sinistra) dengan tampilan hiperemis, bengkak, kripte melebar, dan terlihat
detritus. Keterangan tersebut dapat digunakan sebagai acuan untuk mendiagnosa
pasien dengan tonsillitis kronis eksaserbasi akut. Hal ini diperkuat dengan riwayat
infeksi yang sedang diderita pasien saat ini yaitu demam, batuk, dan pilek yang
menandakan adanya eksaserbasi akut.
Dilihat dari ukurannya T3 dan T3, keadaan pasien merasa kesulitan untuk
makan dan minum, dan seringnya keadaan ini kambuh dalam 1 bulan terakhir, dan
memberat dalam 1 minggu ini maka disarankan untuk dilakukan operasi
tonsilektomi. Namun sebelum dilakukan tonsilektomi, keluarga diberikan
penjelasan untuk mempertimbangkan persetujuan operas, serta mulai dengan
pemeriksaan laboratorium untuk mengecek darah lengkap, bleeding time dan
clotting time, laju endap darah, ureum, dan kreatinin.

31

DAFTAR PUSTAKA

1. Soepardi.E.A,et all. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok


Kepala Leher. 6th ed. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
2007. pg:212-25.
2. Adams.G.L, Boies.L.R, Higler. P.A. Boies Buku Ajar Penyakit THT. 6th
ed. Penyakit-penyakit Nasofaring dan Orofaring. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC. 1997. pg: 330-44.
3. Caparas.M.B, Lim.M.G. Basic Otolaryngology. Publication of comittee of
the college of Medicine: University of the Philippines. 1998. pg: 149-59.
4. Robertson,

J.S. 2004.

Journal

of

Tonsilitis.

Available

at:

http://www.emedicine.com.
5. Ramsey, D.D. 2003.. Tonsilitis. Available at: http://www.illionisuniv.com.
6. Lee, K.J. MD. Essential Otolaryngology Head & Neck Surgery.
2003. McGraw-Hill.
7. Jackson C. Disease of the nose, throat and ear. 2 nd ed. Philadelphia: WB
Sunders Co. 1959. pg: 239-59.

32