Anda di halaman 1dari 20

KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN R.

I
POLITEKNIK STMI JAKARTA
Jalan Letjend Soeprapto No. 26, CempakaPutih - Jakarta P usat

Telp (021) 4244561, 4244280


KARYA ILMIAH
PEMBUATAN ASPAL POLIMER DENGAN CAMPURAN
BAN BEKAS DAN BAKELIT

NAMA

RIDHA

FATURACHMI
NIM
:
1513015
KELAS

KA01

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena atas berkah dan
rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas Laporan Ilmiah ini. Penulis
membuat Laporan Ilmiah ini untuk memenuhi pra-syarat kelulusan mata kuliah
Metodologi Penelitian.
Di dalam Laporan Ilmiah ini, penulis menuliskan tata cara atau prosedur
dalam melakukan penelitian yang berjudul Pembuatan Aspal Polimer dengan
Karet Ban Bekas dan Bakelit. Penulis menyadari betapa pentingnya laporan

ilmiah ini untuk para mahasiswa Politeknik STMI Jakarta khususnya jurusan
Teknik Kimia Polimer karena dapat membantu para mahasiswa dalam
menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kimia polimer.
Penulis juga menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam
Laporan Ilmiah ini. Maka dari itu penulis mengharapkan saran dan kritik dari
pembaca, agar laporan selanjutnya dapat diperbaiki menjadi lebih baik.
Sebagai akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen
pengajar metodologi penelitian yaitu Ir. Sumingkrat, M.Si dan teman-teman yang
telah membantu penulis menyelesaikan tugas laporan ilmiah ini.

Jakarta, 10 Juni 2014


Penulis
Ridha Faturachmi

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................2
DAFTAR ISI...........................................................................................................3
ABSTRAK..............................................................................................................4
BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................4
1.1

Latar Belakang.........................................................................................5

1.2

Perumusan Masalah................................................................................7

1.3

Tujuan......................................................................................................7

1.4

Manfaat....................................................................................................8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................................9


2.1

Aspal........................................................................................................9

2.2

Polimer Elastomer dan Polimer Plastomer............................................13

2.3

Bakelit....................................................................................................15

Gambar 2.1 Reaksi pembentukan molekul Bakelit......................................15

2.4

Styrene Butadiena Rubber.....................................................................16

Gambar 2.2 Struktur molekul Styrene Butadiene Rubber............................16


BAB III METODOLOGI PENELITIAN..................................................................20
3.1

Tempat dan Waktu Penelitian................................................................20

3.2

Bahan dan Alat.......................................................................................20

3.2.1 Bahan..................................................................................................20
3.2.2 Alat......................................................................................................20
3.3

Metodologi Penelitian.............................................................................20

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN...................................................................21


BAB V KESIMPULAN DAN SARAN...................................................................21
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................21

ABSTRAK
Aspal merupakan bahan pengikat yang sudah sering digunakan dalam
campuran beraspal untuk perkerasan jalan. Campuran beraspal sering kali
mengalami berbagai kerusakan seperti menjadi getas, retak-retak, serta
naiknya aspal ke permukaan jalan. Dengan adanya masalah-masalah tersebut,
diperlukan suatu cara untuk meningkatkan kemampuan aspal salam campuran
yaitu dengan menggunakan bahan tambah. Beberapa bahan yang dapat
digunakan sebagai bahan tambah pada campuran beraspal adalah polimer
elastomer, polimer plastomer dan lain-lain. Penelitian ini meliputi bagaimana
cara membuat aspal polimer dengan campuran ban bekas dan bakelit,
dilakukan pengujian sifat mekanik dengan uji kuat tekan. Sedangkan untuk sifat
fisik di uji dengan penyerapan air, di uji sifat termal dengan DTA, dan analisis
morfologi dengan SEM. Serta analisis gugus fungsi dengan FTIR. Diharapkan
modifikasi aspal polimer ini dapat meningkatkan hasil ketahanan yang lebih baik
terhadap
ketahanan

deformasi,
usang

mengatasi
dari

keretakan-keretakan

kerusakan

akibat

umur

dan

meningkatkan

sehingga

dihasilkan

pembangunan jalan lebih tahan lama serta juga dapat mengurangi biaya
perawatan atau perbaikan jalan.

BAB I PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Dewasa ini infrastruktur jalan raya di Indonesia masih merupakan

masalah

besar

karena

sebahagian

jalan

raya

ini

perlu

peremajaan/perbaikan setiap tahunnya dan ini sangat memerlukan dana


yang tidak sedikit dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) setiap
tahun. Oleh karena itu perlu dicari solusi untuk dapat mengurangi
pengeluaran tersebut. Salah satu yang sangat memungkinkan untuk
menghindari kerugian negara adalah dengan mengkaji ketahanan aspal
yang tahan lama dan berkualitas. Jika dilihat kekuatan atau ketahanan dari
jalan yang

dibuat begitu cepat rusak, tentu banyak faktor yang

menyebabkannya. Hal ini jika dipandang dari sudut sains kimia boleh jadi
akibat kurang kuatnya ikatan kimia antara aspal dengan agregatnya (Tamrin,
2011). Pada dasarnya aspal menurut Sukirman (2003) merupakan bahan
komposit yang biasa digunakan dalam proyek-proyek konstruksi seperti
permukaan jalan, bandara dan tempat parkir. Ini terdiri dari aspal dan
agregat mineral yang dicampur bersama, kemudian ditetapkan dalam
lapisan yang dipadatkan sehingga digolongkan material pembentuk
campuran perkerasan jalan. Aspal sendiri memiliki beberapa kelemahan
diantaranya seperti mengalami deformasi (perubahan bentuk) permanen
disebabkan adanya tekanan terlalu berat oleh muatan truk yang berlebihan
dan tingginya frekuensi lalu lintas kendaraan dijalan raya., keretakan-

keretakan maupun kerusakan dapat juga disebabkan karena tererosi akibat


kikisan air, ini semua terjadi pada campuran aspal (Brown, 1990).
Alternatif yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah-masalah
tersebut yaitu dengan meningkatkan sifat fisik dan mekanik aspal. Salah
satunya dengan aspal polimer. Belakangan ini penelitian aspal yang
dikombinasikan dengan bahan polimer telah banyak dipublikasikan dan pola
ini sangat memungkinkan untuk membuat aspal khususnya untuk jalan raya
di Indonesia. Hal ini tentunya dapat menjadi solusi untuk menghindari
pemborosan dana APBN yang setiap tahunnya harus dikeluarkan oleh
negara.
Aspal polimer adalah suatu material yang dihasilkan dari modifikasi
antara polimer alam atau polimer sintetis dengan aspal. Modifikasi aspal
polimer (atau biasa disingkat dengan PMA) telah dikembangkan selama
beberapa dekade terakhir. Umumnya dengan sedikit penambahan bahan
polimer (biasanya sekitar 2-6%) sudah dapat meningkatkan hasil ketahanan
yang lebih baik terhadap deformasi, mengatasi keretakan-keretakan dan
meningkatkan ketahanan usang dari kerusakan akibat umur sehingga
dihasilkan pembangunan jalan lebih tahan lama serta juga dapat
mengurangi biaya perawatan atau perbaikan jalan. (Polacco, 2005).
Modifikasi aspal polimer telah digunakan di beberapa negara maju,
dan telah berhasil ditempatkan pada lokasi-lokasi jalan raya. Beberapa
penelitian mengenai PMA telah dilakukan, seperti Yildrim (2005) yang
melakukan modifikasi karet stirena butadiena stirena, karet stirena
butadiena, dan etilen vinil asetat dengan aspal. Pei-Hung (2000) juga telah
memodifikasi pada polietilena, polipropilena, dan karet EPDM dengan aspal.
Tortum (2004) melakukan penelitian tentang penentuan kondisi optimum
untuk karet ban di aspal beton. Mothe (2008) mengkarakterisasi campuran
aspal dengan TG/DTG, DTA dan FTIR. Yang (2010) Melihat mekanisme dan
kinetika dari reaksi antara aspal dengan anhidrat maleat.
Disisi lain, diketahui Bakelit adalah suatu jenis polimer yang dibuat
dari dua jenis monomer, yaitu fenol dan formaldehida. Polimer ini sangat
keras, titik leburnya sangat tinggi dan tahan api. Berdasarkan sifat-sifat
yang dimiliki oleh bakelit tersebut, dinilai dapat mengatasi masalah dari
campuran aspal dengan menambahkan bakelit tersebut sebagai zat aditif.
Disamping penggunaan bakelit, tentu perlu penambahan bahan

aditif lain yang bersifat elastomer, agar dihasilkan campuran aspal yang
tidak terlalu keras, tetapi sedikit elastis. Tentunya limbah karet ban
merupakan yang paling banyak dihasilkan setiap tahunnya. Di Indonesia
belum pernah dilaporkan secara mendetail data statistik mengenai jumlah
ban bekas setiap tahun. Namun di Amerika Serikat mencapai 280 juta unit
ban dan ban-ban bekas tersebut dapat dikelola kembali berupa ban bekas
utuh,

dibelah,

dipotong-potong,

dan

diserut

(Satyarno,

2006).

Pemanfaatan karet ban bekas dalam bentuk serutan yang sudah


dipisahkan dari komposisi standart karet ban dinilai cukup baik dalam
pencampuran aspal. Dan serutan ban bekas ini dapat bercampur dengan
aspal karena mengandung unsur karbon dan hidrogen.
Pada campuran antara aspal dengan agregat yang ditambahkan
bahan aditif polimer berupa serutan karet ban bekas dan bakelit hanya
akan terjadi ikatan fisis sehingga membuat bahan aditif yang ditambahkan
hanya berfungsi sebagai agregat. Perlunya penggunaan bahan peroksida
seperti dikumil peroksida sebagai inisiator dan juga penambahan divenil
benzena sebagai pengikat sambung silang (crosslinker) dalam campuran
aspal tersebut, akan menghasilkan ikatan kimia yang kuat dalam
campuran aspal tersebut dan menyebabkan agregat terperangkap
diantara ikatan sambung silang yang terjadi antara aspal dengan bahan
polimer.
Berdasarkan

uraian

diatas,

maka

peneliti

ingin

mencoba

melakukan penelitian tentang pemanfaatan serutan karet ban bekas yang


dicampurkan dengan bakelit yang kemudian digabungkan dengan aspal
untuk pembuatan aspal polimer. Pemanfaatan bakelit ini diharapkan dapat
meningkatkan ketahanan tekan dan ketahanan terhadap air dari
campuran aspal sedangkan karet ban bekas yang bersifat elastomer ini
diharapkan juga dapat meningkatkan nilai kelenturannya sehingga tingkat
keelastisan dari campuran aspal menjadi lebih baik.

1.2

Perumusan Masalah

1. Apakah aspal dapat dibuat dengan mencampurkan karet ban bekas


dan bakelit yang dicampur dengan agregat pasir dengan adanya

dikumil peroksida (DCP) dan divenil benzena (DVB) menggunakan


proses ekstruksi?
2. Apakah pemanfaatan pencampuran karet ban bekas dan bakelit efektif
dalam meningkatkan sifat mekanik (tahan terhadap tekanan) dan sifat
fisik (tahan air, termal, morfologi) dari campuran aspal dengan agregat
pasir?

1.3

Tujuan

1. Untuk mengetahui apakah aspal dapat dibuat dengan mencampurkan


karet ban bekas dan bakelit yang dicampur dengan agregat pasir
dengan adanya dikumil peroksida dan divenil benzena menggunakan
proses ekstruksi.
2. Untuk melihat efektivitas antara karet ban bekas dan bakelit dengan
aspal dalam hal peningkatan sifat mekanik (tahan terhadap tekanan)
dan sifat fisik (tahan air, termal, morfologi) dari campuran aspal
dengan agregat pasir.

1.4

Manfaat

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat :


1. Sebagai informasi tambahan mengenai pemanfaatan karet ban bekas
dan bakelit sebagai bahan aditif dalam aspal yang dapat meningkatkan
sifat mekanik dan fisik dari aspal.
2. Sebagai solusi alternatif terhadap permasalahan pembangunan jalan
raya agar kualitas aspal sebagai bahan dasar jalan raya lebih baik dan
lebih tahan lama (lebih tahan terhadap tekanan, dan tahan terhadap
air.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1

Aspal
Aspal ialah bahan hidrokarbon yang bersifat melekat (adhesive),

berwarna hitam kecoklatan, tahan terhadap air, dan visoelastis. Aspal sering
juga disebut bitumen merupakan bahan pengikat pada campuran beraspal
yang dimanfaatkan sebagai lapis permukaan lapis perkerasan lentur. Aspal
berasal dari aspal alam (aspal buton} atau aspal minyak (aspal yang berasal
dari minyak bumi). Berdasarkan konsistensinya, aspal dapat diklasifikasikan
menjadi aspal padat, dan aspal cair.
Aspal terbuat dari minyak mentah, melalui proses penyulingan atau
dapat ditemukan dalam kandungan alam sebagai bagian dari komponen
alam yang ditemukan bersama sama material lain. Aspal dapat pula diartikan
sebagai bahan pengikat pada campuran beraspal yang terbentuk dari
senyawa-senyawa komplek seperti Asphaltenese, Resins dan Oils. Aspal
mempunyai sifat visco-elastis dan tergantung dari waktu pembebanan. ( The
Blue BookBuilding & Construction, 2009).
Aspal merupakan distilat paling bawah dari minyak bumi, yang
memiliki banyak sekali manfaat dan kegunaan. Aspal dapat digunakan di
dalam bermacam produk produk, termasuk:
a) Jalan aspal,
b) Dasar pondasi dan subdasar,
c) Dinding untuk lubang di jalanan, trotoar kakilima, jalan untuk mobil,
d)
e)
f)
g)

lereng-lereng, jembatan-jembatan, dan bidang parkir,


Tambalan lubang di jalanan,
Jalan dan penutup tanah,
Atap bangunan, dan
Minyak bakar
Aspal atau bitumen adalah suatu cairan kental yang merupakan

senyawa hidrokarbon dengan sedikit mengandung sulfur, oksigen, dan klor.


Aspal sebagai bahan pengikat dalam perkerasan lentur mempunyai sifat
viskoelastis. Aspal akan bersifat padat pada suhu ruang dan bersifat cair bila
8

dipanaskan. Aspal merupakan bahan yang sangat kompleks dan secara


kimia belum dikarakterisasi dengan baik. Kandungan utama aspal adalah
senyawa karbon jenuh dan tak jenuh, alifatik dan aromatic yang mempunyai
atom karbon sampai 150 per molekul. Atom-atom selain hidrogen dan
karbon yang juga menyusun aspal adalah nitrogen, oksigen, belerang, dan
beberapa atom lain. Secara kuantitatif, biasanya 80% massa aspal adalah
karbon, 10% hydrogen, 6% belerang, dan sisanya oksigen dan nitrogen,
serta sejumlah renik besi, nikel, dan vanadium. Senyawa-senyawa ini sering
dikelaskan atas aspalten (yang massa molekulnya kecil) dan malten (yang
massa molekulnya besar). Biasanya aspal mengandung 5 sampai 25%
aspalten. Sebagian besar senyawa di aspal adalah senyawa polar.
Fungsi Aspal
Fungsi aspal antara lain adalah sebagai berikut:

Untuk mengikat batuan agar tidak lepas dari permukaan jalan

akibat lalu lintas (water proofing, protect terhadap erosi)


Sebagai bahan pelapis dan perekat agregat.
Lapis resap pengikat (prime coat) adalah lapisan tipis aspal cair

yang diletakan di atas lapis pondasi sebelum lapis berikutnya.


Lapis pengikat (tack coat) adalah lapis aspal cair yang diletakan di
atas jalan yang telah beraspal sebelum lapis berikutnya dihampar,

berfungsi pengikat di antara keduanya.


Sebagai pengisi ruang yang kosong antara agregat kasar, agregat
halus, dan filler.

Jenis Aspal
Aspal yang digunakan sebagai bahan untuk jalan pembuatan
terbagi atas dua jenis yaitu:

1. Aspal Alam
Menurut sifat kekerasannya dapat berupa:
Batuan = asbuton
Plastis = trinidad
Cair = bermuda

Menurut kemurniannya terdiri dari :


Murni = bermuda
Tercampur dengan mineral = asbuton + Trinidad
2. Aspal buatan
Jenis aspal ini dibuat dari proses pengolahan minya bumi, jadi bahan
baku yang dibuat untuk aspal pada umumnya adalah minyak bumi yang
banyak mengandung aspal. Jenis dari aspal buatan antara lain adalah
sebagai berikut:
Aspal Keras
Aspal keras digunakan untuk bahan pembuatan AC. Aspal yang
digunakan dapat berupa aspal keras penetrasi 60 atau penetrasi
80 yang memenuhi persyaratan aspal keras. Jenis-jenisnya :
1. Aspal penetrasi rendah 40 / 55, digunakan untuk kasus: Jalan
dengan volume lalu lintas tinggi, dan daerah dengan cuaca iklim
panas.
2. Aspal penetrasi rendah 60 / 70, digunakan untuk kasus : Jalan
dengan volume lalu lintas sedang atau tinggi, dan daerah
dengan cuaca iklim panas.
3. Aspal penetrasi tinggi 80 / 100, digunakan untuk kasus : Jalan
dengan volume lalu lintas sedang / rendah, dan daerah dengan
cuaca iklim dingin.
4. Aspal penetrasi tinggi 100 / 110, digunakan untuk kasus : Jalan
dengan volume lalu lintas rendah, dan daerah dengan cuaca
iklim dingin.
10

Aspal Cair
Aspal cair digunakan untuk keperluan lapis resap pengikat (prime
coat) digunakan aspal cair jenis MC 30, MC 70, MC 250 atau
aspal emulsi jenis CMS, MS. Untuk keperluan lapis pengikat (tack
coat) digunakan aspal cair jenis RC 70, RC 250 atau aspal
emulsi jenis CRS, RS.
Aspal emulsi
Aspal cair yang dihasilkan dengan cara mendispersikan aspal
keras ke dalam air atau sebaliknya dengan bantuan bahan
pengemulsi sehingga diperoleh partikel aspal yang bermuatan
listrik positif (kationik), negatif (anionik) atau tidak bermuatan listrik
(nonionik).
Konstruksi jalan terdiri dari beberapa lapis, antara lain: Subgrade,
Sub Base Course, Base Course, dan Surface. Aspal beton yang
dipergunakan untuk lapis perkerasan jalan juga terdiri dari beberapa jenis,
yaitu: lapis pondasi, lapis aus satu, dan lapis aus dua. Untuk
mendapatkan mutu aspal beton yang baik, dalam proses perencanaan
campuran harus memperhatikan karakteristik campuran aspal beton, yang
meliputi:

A. Stabilitas
Stabilitas aspal beton dimaksudkan agar perkerasan mampu mendukung
beban lalu lintas tanpa mengalami perubahan bentuk. Stabilitas campuran
diperoleh dari bgaya gesekan antar partikel (internal friction), gaya
penguncian (interlocking), dan gaya adhesi yang baik antara batuan dan
aspal. Gaya-gaya tersebut dipengaruhi oleh kekerasan permukaan
batuan, ukuran gradasi, bentuk butiran, kadar aspal, dan tingkat
kepadatan campuran.
B. Durabilitas

11

Aspal beton dimaksudkan agar perkerasan mempunyai daya tahan


terhadap cuaca dan beban lalu lintas yang bekerja. Faktor-faktor yang
mendukung durabilitas meliputi kadar aspal yang tinggi, gradasi yang
rapat, dan tingkat kepadatan yang sempurna.
C. Fleksibilitas
Fleksibilitas aspal beton dimaksudkan agar

perkerasan

mampu

menanggulangi lendutan akibat beban lalu lintas yang berulang-ulang


tanpa mengalami perubahan bentuk. Fleksibilitas perkerasan dapat
dicapai

dengan

menggunakan

gradasi

yang

relatif

terbuka

dan

penambahan kadar aspal tertentu sehingga dapat menambah ketahanan


terhadap pembebanan.

2.2

Polimer Elastomer dan Polimer Plastomer


Polimer Elastomer yaitu polimer yang memiliki sifat elastic. Berupa

kumpulan benda yg mempunyai sifat karet asli, karet vulkanisasi, karet


olahan ulang, atau karet tiruan yg meregang apabila dl tegangan
(berkekuatan meregang) mengerut secara cepat dan pulih ke dimensi
semula secara penuh. Contoh : karet alam, getah asli, silikon, poliuretan,
nesprene, dan lain-lainnya. SBS (Styrene Butadine Styrene), SBR
(Styrene Butadine Rubber), SIS (Styrene Isoprene Styrene), dan karet
adalah jenis-jenis polymer elastromer yg biasanya digunakan sebagai
bahan pencampur aspal keras.
Kegunaan elastomer:
1.
2.
3.
4.

Untuk permukaan yang bergesekan tinggi atau tidak licin


Melindungi daripada kakisan dan lelasan
Isolator elektrik
Isolator kejutan dan getaran.
Aspal Polymer Plastomer Salah satu teknologi dalam aspal adalah

penambahan bahan polymer plastomer dimaksudkan untuk meningkatkan


sifat rheologi baik pada aspal keras dan sifat sifik campuran beraspal.
Jenis polymer plastomer yang telah banyak digunakan antara lain adalah
EVA

(EthyleneVinyle

Acetate),

Polypropilene,

dan

Polyethilene.

Presentase penambahan polymer ini ke dalam aspal keras juga harus


12

ditentukan berdasarkan pengujian labolatorium, karena penambahan


bahan tambah sampai dengan batas tertentu penambahan ini dapat
memperbaiki sifat-sifat Rheologi aspal dan campuran tetapi penambahan
yang berlebihan justru akan memberikan pengaruh yang negatif.
Kelebihan aspal modifikasi polimer:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Meningkatkan ketahanan terhadap suhu


Meningkatkan ketahanan terhada pretak
Meningkatkan ketahanan terhadap deformasi plastis
Meningkatkan nilai elastis recovery
Meningkatkan nilai ketahanan terhadap air
Meningkatkan nilai adhesi dan kohesi
Meningkatkan ketahanan terhadap oksidasi uv.

Kelemahan :
1. Temperatur pecampuran tinggi
2. Temperatur penggelaran cukup tinggi

2.3

Bakelit

13

Gambar 2.1 Reaksi pembentukan molekul Bakelit


Bakelit adalah suatu jenis polimer yang dibuat dari dua jenis
monomer, yaitu fenol dan formaldehida. Polimer ini sangat keras, titik
leburnya sangat tinggi dan tahan api. Bakelit digunakan untuk instalasi
listrik dan alat-alat yang tahan suhu tinggi, misalnya asbak dan fiting
lampu listrik. Bakelit atau fenol formaldehida pertama kali disentesis oleh
Leo Baekeland. Bakelit sendiri merupakan salah satu contoh dari polimer
yang berdasarkan asalnya, polimer sintesis. Polimer sintesis sendiri
artinya adalah polimer yang di buat di pabrik. Selain itu bakelit mempunyai
sifat polimer yang tidak dapat melunak dan dibentuk ulang. Jika
dipanaskan pada suhu tinggi, maka plastik ini akan terurai dan rusak.
Proses

pembentukan

bakelit

adalah

polimer

kondensasi.

Kondensasi merupakan reaksi penggabungan monomer monomer


dengan melepas molekul kecil, seperti H 2O dan CH3OH. Reaksi
kondensasi berlangsung lebih lambat, tahap demi tahap sehingga sering
disebut sebagai reaksi pertumbuhan tahap demi tahap. Produk utama dari
reaksi ini, terbentuk dari phenol dan formal dehide. Phenol dan formal
dehide

bergabung

dimen

kemudian

mengalami

polimerisasi

kendensasi. Bakelit digunakan untuk instalasi listrik dan alat-alat yang


tahan suhu tinggi, misalnya asbak dan fiting lampu listrik.
Sifat-sifat Bakelit (Fenol Formaldehida) :
a) Bakelit merupakan jenis polimer yang memiliki ikatan silang. Jenis
plastik ini hanya dapat dipanaskan satu kali yaitu hanya pada saat
pembuatannya.
b) Mempunyai sifat yang keras dan tidak bisa lunak ketika dikenai panas.
Jadi apabila setelah pecah tidak dapat disambung kembali.
c) Tidak dapat larut dalam pelarut apapun.
d) Tahan terhadap asam basa.
e) Titik lebur yang sangat tinggi.

14

2.4

Styrene Butadiena Rubber


Jenis kopolimer styrene dan butadiene yang mengandung lebih

dari 50% butadiene dikenal sebagai styrene butadiene rubber (SBR).


Perbandingan monomer umumnya sekitar 70-75% butadiene dan 25-30%
styrene . SBR dihasilkan dari proses polimerisasi, umumnya adalah
polimerisasi emulsi baik secara hot polymerization dengan temperatur
reaksi 50 oC dan konversi 75% maupun cold polymerization dengan
temperatur reaksi sekitar 5 oC dan konversi sebesar 60%. (Shreve, 1985).

Gambar 2.2 Struktur


Butadiene

molekul Styrene
Rubber

SBR merupakan senyawa polimer non polar dan tahan terhadap


beberapa jenis pelarut polar seperti asam encer, namun jenis karet sintetik
tersebut akan menggelembung (swelling) jika berkontak dengan gasoline,
minyak ataupun lemak. Dengan keterbatasan tersebut, maka SBR tidak
dapat diaplikasikan pada jenis industri yang membutuhkan ketahanan
terhadap swelling akibat kontak dengan pelarut hidrokarbon. Penggunaan
SBR yang paling dominan adalah pada industri automotif, khususnya ban
kenderaan yang mencapai 76% dari konsumsi keseluruhan. Namun
disamping itu SBR juga dapat digunakan sebagai bahan baku dalam
pembuatan perabotan rumah tangga, sol dan tumit sepatu, penutup
wadah makanan, conveyor belts, spons, bahan perekat dan dempul,
barang automotif, alas (bantalan) pedal rem dan kopling, sabuk, mainan
dari karet, kabel isolasi, jacket, pengemas dan lain-lain.
Proses polimerisasi yang umum digunakan untuk memproduksi SBR
(Styrene Butadiene Rubber) yaitu :
1. Solution polymerization (polimerisasi larutan)
2. Emulsion polymerization (polimerisasi emulsi)
15

Polimerisasi larutan (Solution polymerization )


Polimerisasi ini melibatkan monomer dan inisiator yang direaksikan
secara bersamaan di dalam medium pelarut yang sesuai. Penambahan
pelarut inert dapat mengurangi kecenderungan autoacceleration pada
adisi radikal bebas seperti yang terjadi pada polimerisasi curah (bulk
polymerization).

Pengencer

inert

meningkatkan

kapasitas

panas

campuran reaksi tanpa memberikan kontribusi pada pembangkitan panas,


dan juga mengurangi viskositas massa reaksi pada konversi tertentu.
Selain itu panas polimerisasi dapat dihilangkan secara mudah dan efisien
dengan merefluks pelarut tersebut menggunakan jaket-jaket pendingin
atau dengan alat pemindah panas eksternal, atau kombinasi dari berbagai
cara tersebut, sehingga bahaya akibat reaksi yang berlebihan dapat
dihindari. Bila produk yang diinginkan merupakan suatu polimer kristalin,
reaksi dapat dilaksanakan pada temperatur yang cukup rendah sehingga
polimer langsung mengendap saat terbentuk menghasilkan slurry, bukan
suatu larutan homogen. Recovery pelarut dan monomer yang tidak
bereaksi dilakukan pada proses stripping menggunakan air panas dan
kukus (steam), menyisakan slurry polimer yang kemudian dikeringkan
sehingga berbentuk remah-remah atau disebut crumb rubber . Bila
bahan berupa karet, remah-remah tersebut dipadatkan lalu digulung,
sedangkan bahan plastiknya biasanya dicetak dalam bentuk pelet.
Adapun keunggulan polimerisasi larutan antara lain :

Pengendalian dan pemindahan panas lebih mudah,

Perancangan sistem reaktor akan lebih mudah, karena reaksi-reaksi


yang terjadi mengikuti hubungan-hubungan kinetika yang lebih dikenal,

larutan polimer yang diinginkan untuk beberapa aplikasi tertentu,


misalnya pernis, yang dapat langsung diperoleh dari reaktor.
Sedangkan kekurangan polimerisasi larutan antara lain :

16

Penggunaan pelarut akan menurunkan laju reaksi dan panjang ratarata rantai, karena laju dan sekaligus panjang rata-ra ta rantai polimer
sebanding dengan [M] (dalam adisi radikal bebas). Penurunan Xn juga
akan terjadi jika pelarut berperan sebagai bahan pemindah rantai
(chain-transfer agent),

Pelarut yang mahal, mudah terbakar, bahkan mungkin beracun,


diperlukan dalam jumlah besar,

Pemisahan polimer dan recovery pelarut memerlukan teknologi ekstra,

Pemisahan sisa pelarut dan monomer mungkin akan sulit dilakukan,

Penggunaan pelarut inert dalam massa reaksi mengurangi yield per


volum reaktor.

Polimerisasi Emulsi ( emulsion polymerization)


Beberapa tahun belakangan ini, polimerisasi emulsi pernah
tergeser oleh jenis proses polimerisasi yang lain. Meskipun demikian,
pengetahuan mengenai sisa monomer yang dalam jumlah sangat kecil
sekalipun dapat menimbulkan efek efek yang secara fisiologis berbahaya,
membuat orang kembali tertarik untuk menggunakan polimerisasi emulsi.
Partikel-partikel lateks yang berukuran sangat kecil memberikan jalur
difusi yang sangat pendek untuk menyingkirkan molekul-molekul kecil dari
polimer

dengan

cara,

misalnya,

stripping

menggunakan

steam, memperkecil residu monomer yang tertinggal. Lateks kemudian


dikoagulasi dengan menambahkan suatu asam, misalnya asam sulfat,
yang akan mengubah sabun menjadi bentuk hidrogen yang tidak larut,
atau dengan menambahkan garam elektrolit yang akan mencegah
stabilizing double layers pada partikel, sehingga memungkinkan partikel
tersebut dapat menggumpal oleh tarikan-tarikan elektrostatik. Remahremah polimer yang terkoagulasi kemudian dicuci, dikeringkan dan
dikemas atau diproses lebih lanjut.
Keunggulan polimerisasi emulsi adalah :
17

Pengendalian mudah, viskositas massa reaksi jauh lebih kecil


dibandingkan dengan larutan dengan konsentrasi yang sebanding, air
dapat menambah kapasitas panas dan massa reaksi dapat direfluks,

Dapat diperoleh laju polimerisasi dan panj ang rantai rata-rata rantai
yang tinggi,

Produk lateks sering dapat langsung digunakan, juga dapat menjadi


bahan pembantu

untuk

mendapatkan

senyawa-senyawa

yang

seragam melalui master-hatching,

Ukuran partikel lateks yang kecil akan menurunkan jumlah residu


monomer.
Kekurangan polimerisasi emulsi antara lain:

Sulit untuk memperoleh polimer yang murni. Permukaan partikelpartikel kecil yang sangat luas memberikan ruang yang sangat besar
bagi zat-zat pengotor yang teradsorbsi, meliputi penarikan air oleh sisa
sabun, yang dalam jumlah sangat

kecilpun dapat menimbulkan

masalah,

Air dalam massa reaksi menurunkan yield per volume reaktor.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN


3.1

Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian dan pengujian ini dilakukan di Laboratorium Quality Control
18

(QC) PT Baria Bulk Terminal (BBT) Cilegon, Banten. Waktu penelitian ini
berlangsung selama 2 (dua) bulan.

3.2

Bahan dan Alat

3.2.1 Bahan
Sampel yaitu Aspal dari PT. Baria Bulk Terminal (BBT) Cilegon,

Banten.
Bahan Agregat yaitu pasir halus dari toko panglong CV. Setia Jaya.
Bahan polimer yaitu;
Bakelit berasal dari
Karet ban bekas dari perusahaan pengumpul ban bekas PT.
Persaudaraan Tanjung Mowara

3.2.2 Alat
Hot Compressor
SEM (Scanning Electron Microscope)
DTA (Differential temperature Analysis)
FTIR (Fourier Transform Infrared Spectroscopy)

3.3

Metodologi Penelitian

1. Tahapan Persiapan Agregat dan Bahan Polimer


Persiapan bahan agregat yaitu pasir halus, dan persiapan bahan polimer
yaitu serutan karet ban bekas dengan bakelit.
2. Tahapan Pembuatan Aspal Polimer
Pada tahapan ini variasi serbuk karet ban bekas dengan variasi bakelit
dicampurkan, dan ditambahkan dengan aspal dan agregat. Campuran
tersebut ditambahkan dengan inisiator Dikumil Peroksida (DCP) dan pengikat
sambung silang Divenil Benzena (DVB), yang kemudian di ekstruksi suhu
170 oC, dan dicetak dengan Hot Compressor.
3. Tahapan Karakterisasi
Untuk karakterisasi dilakukan pengujian sifat mekanik dengan uji kuat tekan.
Sedangkan untuk sifat fisik di uji dengan penyerapan air, di uji sifat termal
dengan DTA, dan analisis morfologi dengan SEM. Serta analisis gugus fungsi
dengan FTIR.
Variabel yang dilakukan dalam penelitian ini adalah :
Variabel Tetap : Aspal 60 g, pasir halus 300 g, DCP 1 phr, dan DVB 1
phr.
19

Variabel Bebas :
Karet ban bekas (35 g, 30 g, 25 g, 20 g, 15 g, 10 g, 5 g)
Bakelit (5 g, 10 g, 15 g, 20 g, 25 g, 30 g, 35 g)
Variabel Terikat : Nilai kuat tekan, nilai penyerapan air, suhu transisi
gelas, dan suhu dekomposisi

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
DAFTAR PUSTAKA

20