Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Seksio sesaria adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan
pada dinding uterus melalui dinding depan perut.atau vagina atau suatu
histerektomia untuk janin dari dalam rahim yang bertujuan untuk menyelamatkan
kehidupan baik pada ibu maupun pada bayi (Mochtar R 1998).Ditemukannya
bedah sesar memang dapat mempermudah proses persalinan sehingga banyak ibu
hamil yang lebih senang memilih jalan ini walaupun sebenarnya mereka bias
melahirkan secara normal.namun faktanya menurut bensons dan pernolls,angka
kematian pada operasi sesar adalah 40-80 tiap 100.000 kelahiran hidup.Angka ini
menunjukan resiko 25x lebih besar dibangdingkan dengan persalinan melalui
pervaginaan.Bahkan untuk satu kasus karena infeksi mempunyai angka 80x lebih
tinggi dibandingkan dengan persalinan pervagina.
Seksio sesaria menempati urutan kedua setelah ekstraksi vakum dengan
frekuensi yang dilaporkan 6% sampai 15% (Gerhard Martius 1997). Sedangkan
menurut statistic tentang 3.509 kasus seksio sesaria yang disusun oleh pell dan
chamberlain,indikasi untuk resiko sesaria adalah diproporsi janin panggul
21%,gawat janin 14%,plasenta previa 11% pernah seksio sesaria 11%,kelainan
letak janin 10%,pre-eklamasi dan hipertensi 7% dengan angka kematian pada ibu
sebelum dikoreksi 17% dan sesudah dikoreksi 0,5% sedangkan kematian janin
14,5% (Winkjosastro,2005).
B. Tujuan
Tujuan umum
Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami lebih dalam lagi yang dimaksud
dengan asuhan keperawatan dengan post sc.
Tujuan khusus

1. Untuk mengetahui dan memahami, pengertian, etiologi, patofisiologi,


manifestasi, komplikasi, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan, asuhan
keperawatan post sc.
2. Meningkatkan kemampuan dalam penulisan asuhan keperawatan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Operasi Caesar atau sering disebut dengan seksio sesarea adalah
melahirkan janin melalui sayatan dinding perut (abdomen) dan dinding rahim
(uterus).Seksio sesaria adalah suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan
melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim
dalam keadaan utuh serta bera janin diatas 500gram. (Wiknjosastro,2005).Seksio
sesaria adalah suatu tidakan untuk melahirkan bayi dengan berat badan diatas
500gram , melalui sayatan pada dinding uterus yang masih utuh. (siaksoft.net).
Jenisjenis seksio sesare :
1. Seksio sesarea klasik (korporal)
Dengan sayatan memanjang pada korpus uteri kira kira sepanjang 10 cm.
2. Seksio sesarea ismika (profunda)
Dengan sayatan melintang konkaf pada segmen bawah rahim kira-kira 10 cm.

B. Etiologi
1. Indikasi yang berasal dari ibu ( etiologi ).
Yaitu pada primigravida dengan kelainan letak, primi para tua disertai kelainan
letak ada, disproporsi sefalo pelvik (disproporsi janin / panggul) ada, sejarah
kehamilan dan persalinan yang buruk, terdapat kesempitan panggul, Plasenta
previa terutama pada primigravida, solutsio plasenta tingkat I II, komplikasi
kehamilan yaitu preeklampsia-eklampsia, atas permintaan, kehamilan yang
disertai penyakit ( jantung, DM ), gangguan perjalanan persalinan ( kista
ovarium, mioma uteri dan sebagainya ).

2. Indikasi yang berasal dari janin.


Fetal distress / gawat janin, mal presentasi dan mal posisi kedudukan janin,
prolapsus tali pusat dengan pembukaan kecil, kegagalan persalinan vakum atau
forseps ekstraksi.

2.3 Patofisiologi
Terjadi kelainan Pada Ibu dan Kelainan Pada Janin menyebabkan Persalinan
Normal Tidak Memungkinkan akhirnya harus dilakukan SC.

2.4 Manifestasi
a. Preeklamsia ringan
Preeklamsia ringan diikuti oleh beberapa gejala klinis antara lain:hipertensi
antara 140/90 atau kenaikan systole dan diastole 30 mmHg/15 mmHg.oedema
kaki tangan atau muka atau kenaikan berat badan I kg/mgg.proteinuria 0.3
gr/24 jamatau plus 1-0,oliguria.
b. Preeklamsia berat
preeklamsia berat ditandai dengan gejala klinis;hipertensi 160/110 mmHg,
proteinuria 5gr/24 jam atau plus 4-5 oliguria 400cc/24 jam.oedema paru dapat
disertai sianosis.serta disertai keluhan subjektif:nyeri kepala frontal,gangguan
penglihatan,nyeri epigastrium.
c. Eklampsia
Eklampsia ditandai dengan gejala-gejala preeclampsia xan disertai koma
ataupun konvulsi.

2.5 Komplikasi
1. Infeksipuerperal
4

Komplikasi ini bisa bersifat ringan, seperti kenaikan suhu selama beberapa hari
dalam masa nifas, bersifat berat seperti peritonitis, sepsis dsb.
2. Perdarahan
Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang-cabang
arteri ikut terbuka, atau karena atonia uteri.
3. Komplikasi-komplikasi lain seperti luka kandung kencing, embolisme paruparu, dan sebagainya sangat jarang terjadi.
4. Suatu komplikasi yang baru kemudian tampak, ialah kurang kuatnya parut pada
dinding uterus, sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi ruptura uteri.
Kemungkinan peristiwa ini lebih banyak ditemukan sesudah seksio sesarea
klasik.
Anjuran Operasi
Dianjurkan jangan hamil lebih kurang satu tahun dengan munggunakan alat
kontrasepsi.
Kehamilan berikutnya hendaknya diawasi dengam antenatal yang baik.
Yang dianut adalah Once a cesarean not always a cesarean kecuali pada
panggul sempit atau disporposi segala pelvik.

2.6 Pemeriksaan penunjang


- USG, untuk menetukan letak impiantasi plasenta.
- Pemeriksaan hemoglobin
- Pemeriksaan Hema tokrit

2.7 Penatalaksanaan
1. Perawatan Pre Operasi Seksio Sesarea

a. Persiapan Kamar Operasi


- Kamar operasi telah dibersihkan dan siap untuk dipakai
- Peralatan dan obat-obatan telah siap semua termasuk kain operasi

b. Persiapan Pasien
- Pasien telah dijelaskan tentang prosedur operasi.
- Informed consent telah ditanda tangani oleh pihak keluarga pasien
- Perawat member support kepada pasien.
- Daerah yang akan di insisi telah dibersihkan (rambut pubis di cukur dan
sekitar abdomen telah dibersihkan dengan antiseptic).
- Pemeriksaan tanda-tanda vital dan pengkajian untuk mengetahui penyakit
yang pernah di derita oleh pasien.
- Pemeriksaan laboratorium (darah, urine).
- Pemeriksaan USG.
- Pasien puasa selama 6 jam sebelum dilakukan operasi.
2. Perawatan Post Operasi Seksio Sesarea.
a. Analgesia
- Wanita dengan ukuran tubuh rata-rata dapat disuntik 75 mg Meperidin
(intra muskuler) setiap 3 jam sekali, bila diperlukan untuk mengatasi rasa
sakit atau dapat disuntikan dengan cara serupa 10 mg morfin.
- Wanita dengan ukuran tubuh kecil, dosis Meperidin yang diberikan adalah
50 mg.
- Wanita dengan ukuran besar, dosis yang lebih tepat adalah 100 mg
Meperidin.

- Obat-obatan antiemetik, misalnya protasin 25 mg biasanya diberikan


bersama-sama dengan pemberian preparat narkotik.
b. Tanda-tanda Vital
Tanda-tanda vital harus diperiksa 4 jam sekali, perhatikan tekanan darah,
nadi jumlah urine serta jumlah darah yang hilang dan keadaan fundus harus
diperiksa.
c. Terapi cairan dan Diet
Untuk pedoman umum, pemberian 3 liter larutan RL, terbukti sudah cukup
selama pembedahan dan dalam 24 jam pertama berikutnya, meskipun
demikian, jika output urine jauh di bawah 30 ml / jam, pasien harus segera
di evaluasi kembali paling lambat pada hari kedua.
d. Vesika Urinarius dan Usus
Kateter dapat dilepaskan setelah 12 jam, post operasi atau pada keesokan
paginya setelah operasi. Biasanya bising usus belum terdengar pada hari
pertama setelah pembedahan, pada hari kedua bising usus masih lemah, dan
usus baru aktif kembali pada hari ketiga.
e. Ambulasi
Pada hari pertama setelah pembedahan, pasien dengan bantuan perawatan
dapat bangun dari tempat tidur sebentar, sekurang-kurang 2 kali pada hari
kedua pasien dapat berjalan dengan pertolongan.

f. Perawatan Luka
Luka insisi di inspeksi setiap hari, sehingga pembalut luka yang alternatif
ringan tanpa banyak plester sangat menguntungkan, secara normal jahitan
kulit dapat diangkat setelah hari ke empat setelah pembedahan. Paling
lambat hari ke tiga post partum, pasien dapat mandi tanpa membahayakan
luka insisi.

g. Laboratorium
Secara rutin hematokrit diukur pada pagi setelah operasi hematokrit tersebut
harus segera di cek kembali bila terdapat kehilangan darah yang tidak biasa
atau keadaan lain yang menunjukkan hipovolemia.
h. Perawatan Payudara.
Pemberian ASI dapat dimulai pada hari post operasi jika ibu memutuskan
tidak menyusui, pemasangan pembalut payudara yang mengencangkan
payudara tanpa banyak menimbulkan kompesi, biasanya mengurangi rasa
nyeri.
i. Memulangkan Pasien Dari Rumah Sakit.
Seorang pasien yang baru melahirkan mungkin lebih aman bila
diperbolehkan pulang dari rumah sakit pada hari ke empat dan ke lima post
operasi, aktivitas ibu seminggunya harus dibatasi hanya untuk perawatan
bayinya dengan bantuan orang lain.

2.8 Asuhan Keperawatan


1. PENGKAJIAN
Sirkulasi

:Hipertensi, pendarahan per vagina

Makanan

: nyeri epigastrium, g3 pengujian edema

Nyeri

: distroria, nyeri tekan uterus, persalinan lama

Seksualitas : Tumor / neo plasma yang dihambat jalan lahir kehamilan multiple
atau gestari, disproposi sopalo pelvis, riwayat sc sebelumnya
a. Identitas Pasien
Meliputi nama, umur, pendidikan, suku bangsa, pekerjaan, agam, alamat, status
perkawinan, ruang rawat, nomor medical record, diagnosa medik, yang
mengirim, cara masuk, alasan masuk, keadaan umum tanda vital.

b. Data Riwayat Kesehatan


- Riwayat kesehatan sekarang.
Meliputi keluhan atau yang berhubungan dengan gangguan atau penyakit
dirasakan saat ini dan keluhan yang dirasakan setelah pasien operasi.
- Riwayat Kesehatan Dahulu
Meliputi penyakit yang lain yang dapat mempengaruhi penyakit sekarang,
Maksudnya apakah pasien pernah mengalami penyakit yang sama (Plasenta
previa).
- Riwayat Kesehatan Keluarga
Meliputi penyakit yang diderita pasien dan apakah keluarga pasien ada juga
mempunyai riwayat persalinan plasenta previa.
c. Data Sosial Ekonomi
Penyakit ini dapat terjadi pada siapa saja, akan tetapi kemungkinan dapat lebih
sering terjadi pada penderita malnutrisi dengan sosial ekonomi rendah.
d. Data Psikologis
- Pasien biasanya dalam keadaan labil.
- Pasien biasanya cemas akan keadaan seksualitasnya.
- Harga diri pasien terganggu

2. DIAGNOSA
Gangguan rasa nyaman : nyeri akut b.d trauma pembedahan (Doengoes,2001).
Risiko tinggi terhadap infeksi b.d trauma jaringan / kulit rusak(Doengoes,2001).
Ansietas b.d krisis situasi, ancaman pada konsep diri, transmisi / kontak
interpersonal, kebutuhan tidak terpenuhi (Doengoes,2001).

3. INTERVENSI
Gangguan rasa nyaman : nyeri akut b.d trauma pembedahan.
- Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam gangguan rasa
nyaman nyeri tersebut dapat berkurang atau hilang.
- Kriteria hasil :
a) Mengungkapkan kekurangan rasa nyeri.
b) Tampak rileks mampu tidur.
-Intervensi :
a) Tentukan lokasi dan karakteristik ketidaknyamanan perhatikan isyarat verbal
dan non verbal seperti meringis.
Rasional : pasien mungkin tidak secara verbal melaporkan nyeri dan
ketidaknyamanan secara langsung. Membedakan karakteristik
khusus dari nyeri membantu membedakan nyeri paska operasi dari
terjadinya komplikasi.
b) Beri informasi dan petunjuk antisipasi mengenai penyebab ketidaknyamanan
dan intervensi yang tepat.
Rasional : meningkatkan pemecahan masalah, membantu mengurangi nyeri
berkenaan dengan ansietas.
c) Evaluasi tekanan darah dan nadi ; perhatikan perubahan prilaku.
Rasional : pada banyak pasien, nyeri dapat menyebabkan gelisah, serta
tekanan darah dan nadi meningkat. Analgesia dapat menurunkan
tekanan darah.
d) Perhatikan nyeri tekan uterus dan adanya atau karakteristik nyeri.
Rasional : selama 12 jam pertama paska partum, kontraksi uterus kuat dan
teratur dan ini berlanjut 2 3 hari berikutnya, meskipun frekuensi

10

dan intensitasnya dikurangi faktor-faktor yang memperberat nyeri


penyerta meliputi multipara, overdistersi uterus.
e) Ubah posisi pasien, kurangi rangsangan berbahaya dan berikan gosokan
punggung dan gunakan teknik pernafasan dan relaksasi dan distraksi.
Rasional : merilekskan otot dan mengalihkan perhatian dari sensasi nyeri.
Meningkatkan kenyamanan dan menurunkan distraksi tidak
menyenangkan, meningkatkan rasa sejahtera.
f) Lakukan nafas dalam dengan menggunakan prosedur- prosedur pembebasan
dengan tepat 30 menit setelah pemberian analgesik.
Rasional : nafas dalam meningkatkan upaya pernapasan. Pembebasan
menurunkan regangan dan tegangan area insisi dan mengurangi
nyeri dan ketidaknyamanan berkenaan dengan gerakan otot
abdomen.
g)

Anjurkan ambulasi dini. Anjurkan menghindari makanan atau cairan


berbentuk gas; misal : kacang-kacangan, kol, minuman karbonat.
Rasional : menurunkan pembentukan gas dan meningkatkan peristaltik untuk
menghilangkan ketidaknyamanan karena akumulasi gas.

h) Anjurkan penggunaan posisi rekumben lateral kiri


Rasional : memungkinkan gas meningkatkan dari kolon desenden ke sigmoid,
memudahkan pengeluaran.
i) Infeksi hemoroid pada perineum. Anjurkan penggunaan es secara 20 menit
setiap 24 jam, penggunaan bantal untuk peninggian pelvis sesuai kebutuhan.
Rasional : membantu regresi hemoroid dan varises vulva dengan
meningkatkan vasokontriksi, menurunkan ketidak nyamanan dan
gatal, dan meningkatkan fungsi usus normal.
j)

Palpasi kandung kemih, perhatikan adanya rasa penuh. Memudahkan


berkemih periodik setelah pengangkatan kateter indwelling.

11

Rasional : kembali fungsi kandung kemih normal memerlukan 4-7 hari dan
overdistensi

kandung

kemih

menciptakan

perasaan

dan

ketidaknyamanan.

Risiko tinggi terhadap infeksi b.d trauma jaringan / kulit rusak


- Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam infeksi pada kulit
tidak terjadi.
- Kriteria hasil :
a) Luka bebas dari drainase purulen dengan tanda awal penyembuhan.
b) Bebas dari infeksi, tidak demam, urin jernih kuning pucat.
- Intervensi :
a) Anjurkan dan gunakan teknik mencuci tangan dengan cermat dan
pembuangan

pengalas

kotoran,

pembalut

perineal

dan

linen

terkontaminasi dengan tepat.


Rasional : membantu mencegah atau membatasi penyebaran infeksi.
b) Tinjau ulang hemogolobin / hematokrit pranantal ; perhatikan adanya
kondisi yang mempredisposisikan pasien pada infeksi pasca operasi.
Rasional : anemia, diabetes dan persalinan yang lama sebelum kelahiran
sesarea meningkatkan resiko infeksi dan memperlambat
penyembahan.
c) Kaji status nutrisi pasien. Perhatikan penampilan rambut, kuku jari, kulit
dan sebagainya Perhatikan berat badan sebelum hamil dan penambahan
berat badan prenatal.
Rasional : pasien yang berat badan 20% dibawah berat badan normal atau
yang anemia atau yang malnutrisi, lebih rentan terhadap
infeksi pascapartum dan dapat memerlukan diet khusus.

12

d) Dorong masukkan cairan oral dan diet tinggi protein, vitamin C dan besi.
Rasional : mencegah dehidrasi ; memaksimalkan volume, sirkulasi dan
aliran urin, protein dan vitamin C diperlukan untuk
pembentukan

kolagen,

besi

diperlukan

untuk

sintesi

hemoglobin.
e) Inspeksi balutan abdominal terhadap eksudat atau rembesan. Lepasnya
balutan sesuai indikasi.
Rasional : balutan steril menutupi luka pada 24 jam pertama kelahiran
sesarea

membantu

melindungi

luka

dari

cedera

atau

kontaminasi. Rembesan dapat menandakan hematoma.


f)

Inspeksi insisi terhadap proses penyembuhan, perhatikan kemerahan


udem, nyeri, eksudat atau gangguan penyatuan.
Rasional : tanda-tanda ini menandakan infeksi luka biasanya disebabkan
oleh steptococus.

g) Bantu sesuai kebutuhan pada pengangkatan jahitan kulit, atau klips.


Rasional : insisi biasanya sudah cukup membaik untuk dilakukan
pengangkatan jahitan pada hari ke 4 / 5.
h) Dorong pasien untuk mandi shower dengan menggunakan air hangat
setiap hari.
Rasional :Mandi shower biasanya diizinkan setelah hari kedua setelah
kelahiran

sesarea,

meningkatkan

hiegenis

dan

dapat

merangsang sirkulasi atau penyembuhan luka.


i) Kaji suhu, nadi dan jumlah sel darah putih.
Rasional : Demam paska operasi hari ketiga, leucositosis dan tachicardia
menunjukkan infeksi. Peningkatan suhu sampai 38,3 C dalam
24 jam pertama sangat mengindentifikasikan infeksi.

13

j) Kaji lokasi dan kontraktilitas uterus ; perhatikan perubahan involusi atau


adanya nyeri tekan uterus yang ekstrem.
Rasional : Setelah kelahiran sesarea fundus tetap pada ketinggian
umbilikus selama sampai 5 hari, bila involusi mulai disertai
dengan peningkatan aliran lokhea, perlambatan involusi
meningkatkan resiko endometritis. Perkembangan nyeri tekan
ekstrem menandakan kemungkinan jaringan plasenta tertahan
atau infeksi.

Ansietas b.d krisis situasi, ancaman pada konsep diri, transmisi / kontak

interpersonal, kebutuhan tidak terpenuhi.


- Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam ansietas atau
kecemasan dapat hilang.
- Kriteria hasil :
a) Mengungkapkan perasaan ansietas
b) Melaporkan bahwa ansietas sudah menurun
c) Kelihatan rileks, dapat tidur / istirahat dengan benar.
- Intervensi :
a) Dorong keberadaan atau partisipasi pasangan
Rasional

memberikan

dukungan

emosional;

dapat

mendorong

mengungkapkan masalah.
b) Tentukan tingkat ansietas pasien dan sumber dari masalah. Mendorong pasien
atau pasangan untuk mengungkapkan keluhan atau harapan yang tidak
terpenuhi dalam proses ikatan/menjadi orangtua.
c) Bantu pasien atau pasangan dalam mengidentifikasi mekanisme koping baru
yang lazim dan perkembangan strategi koping baru jika dibutuhkan.

14

Rasional : membantu memfasilitasi adaptasi yang positif terhadap peran baru,


mengurangi perasaan ansietas.
d) Memberikan informasi yang akurat tentang keadaan pasien dan bayi.
Rasional : khayalan yang disebabkan informasi atau kesalahpahaman dapat
meningkatkan tingkat ansietas.
e) Mulai kontak antara pasien/pasangan dengan baik sesegera mungkin.
Rasional : mengurangi ansietas yang mungkin berhubungan dengan
penanganan bayi, takut terhadap sesuatu yang tidak diketahui, atau
menganggap hal yang buruk berkenaan dengan keadaan bayi.

15

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KASUS
Skenario Kasus 3
Ny.C, usia 30 tahun dirawat diruang kebidanan RS Raden Mataher setelah
melahirkan bayinya secara seksio sesarea dengan anestesi spinal. Ny C,
melahirkan 14 jam yang lau. Pasien diintruksikan untuk bedrest dengan posisi
supinasi juga dianjurkan mobilisasi miring kiri dan kanan pada periode 24 jam
pertama. Pasien mengeluh sakit pada perut bagian bawah, sakit seperti tersayatsyat, sakitnya bertambah jika bergerak. Tampak balutan luka sepanjangsekitar 15
cm pada area tersebut. Balutan tampak bersih dan kering. Berdasarkan catatan
rekam medis pasien, telah dilakukan heating pada perut bagian bawah pasien
sepanjang 10 cm. Ny C, ingin menyusui bayinya, tetapi sakit bertambah. Pasien
tampak meringis kesakitan terutama saat merubah posisi. Karena rasa sakitnya
proses laktasi terganggu, sedangkan bayi dilakukan rooming in. Pasien khawatir
karena bayinya menangis terus dan kawatir bayinya tidak mendapatkan
kolostrum. Nyeri dirasakannya pada nilai 8 (skala0-10). TTV: TD 130/100
mmHg, N: 80x/menit, R: 22x/mnt, S: 37,7 celcius. Hasil lab Hb 8,5 gr/dl, leukosit
11.000mm3, trombosit 370.000mm3 , Hematokrit 33%. Hasil pengkajian flatus +,
bising usus + normal, mammae tampak membesar, aerola hitam, puting menonjol.
Terapi ranitidin 2x1 ampul IV, cefotaxime 2x1 ampul IV, aliamin 1x1 ampul IV.
Saat ini terpasang infus TL 20tts/mnt, terpasang dower cateter.

16

ASKEP
1. Pengkajian
A. Biodata pasien
Nama : Ny. C
Umur : 30 tahun
Jenis kelamin : perempuan
Ruang perawatan : Ruang kebidanan RS Raden Mattaher
B. Riwayat kesehatan
Keluhan utama
Ny. C datang ke rumah sakit untuk melahirkan secara seksio sesarea
dengan anastesi spinal.
Riwayat kesehatan seseorang
Ny.C melahirkan bayinya dengan cara seksio sesarea , perut bagian bawah
Ny.C sakit, proses laktase terganggu, nyeri dirasakan dengan skala 8.
Riwayat kesehatan dahulu
Tidak terkaji di kasus
Riwayat kesehatan keluarga
Tidak terkaji di kasus
C. Pemeriksaan fisik
TD : 130/100 mmhg
N : 80x/menit
R : 22x/menit

17

S : 37,7C
D. Pemeriksaan laboratorium
HB: 8,5 gr/dl
Leukosit : 11.0000 mm3
Trombosit : 37.000 mm3
Hematokrit: 33%
E. Terapi obat
Therapi ranitidhin 2x1 ampul IV
Cefotaxime 2x1 ampul IV
Alinamin 1x1 ampul IV
Infus 20tts/menit

18

F. Analisa data
Data

Etiologi

Ds :

Agen

Ny . C mengatakan sakit
pada perut bagian bawah,

MK
injuri

(Pembedahan,

trauma

fisik Nyeri akut


jalan

lahir, episiotomi )

seperti tersayat-sayat dan


bertambah jika bergerak
Do :
- Skala nyeri 8 (skala 010)
- Terdapat luka insisi
pada Daerah abdomen

2. Diagnosa
Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri, ditandai dengan skala nyeri pasien
8 dari (0-10).

19

3. Intervensi
Diagnosa
Nyeri

Tujuan/kh
akut Setelah

Intervensi
dilakukan

asuhan Mandiri:

berhubungan dengan keperawatan selama 1x24jam


agen injuri ditandai diharapkan nyeri

- Lakukan pengkajian
nyeri

dengan skala nyeri

secara

komprehensif

pasien 8 dari (0-10)


Kriteria hasil :
- klien mampu mengontrol
nyeri.
- Melaporkan bahwa nyeri
berkurang dengan
menggunakan managemen
nyeri
-

termasuk

lokasi,

karakteristik,
durasi,
kualitas

frekuensi,
dan

faktor

presipitasi
-

Berikan

analgetik

untuk mengurangi nyeri


-

Tingkatkn

istirahat

klien

Menyatakan rasa nyaman

setelah nyeri berkurang


Kolaborasi :
Kolaborasi

dengan

dokter jika ada keluhan


dan

tindakan

nyeri

diferhesif

20

4 dan 5. Implementasi dan Evaluasi


Diagnosa

Implementasi

Nyeri

akut Mandiri :

berhubungan
dengan
injuri

agen
ditandai

dengan
nyeri

Evaluasi

skala
pasien

dari (0-10)

S : klien mengatakan rasa

-Melakukan

sakit pada perut bagian

pengkajian

nyeri

secara komprehensif,

bawah berkurang

termasuk

lokasi, O: Skala nyeri 3 dari (0-10)

karakteristik,

durasi,

frekuensi,

kualitas,

dan faktor presoitasi

A: Masalah teratasi sebagian


D: Intervensi ditingkatkan

-memberikan
analgetik

untuk

mengurangi nyeri
-meningkatkan
istirahat klien

Kolaborasi :
-mengkolaborasikan
dengan dokter jika ada
keluhan dan tindakan
nyeri tidak berhasil

BAB IV
21

PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Seksio sesaria adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat
sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut.atau vagina atau suatu
histerektomia untuk janin dari dalam rahim yang bertujuan untuk menyelamatkan
kehidupan baik pada ibu maupun pada bayi. Seksio sesaria adalah suatu tidakan
untuk melahirkan bayi dengan berat badan diatas 500gram , melalui sayatan pada
dinding uterus yang masih utuh.
4.2 Saran
Dalam menangani kasus seperti ini diharapkan mahasiswa/i dapat mengetahui
Asuhan Keperawatan dari penyakit tersebut.

LAMPIRAN
22

Skenario Kasus 3
Ny.C, usia 30 tahun dirawat diruang kebidanan RS Raden Mataher setelah
melahirkan bayinya secara seksio sesarea dengan anestesi spinal. Ny C,
melahirkan 14 jam yang lau. Pasien diintruksikan untuk bedrest dengan posisi
supinasi juga dianjurkan mobilisasi miring kiri dan kanan pada periode 24 jam
pertama. Pasien mengeluh sakit pada perut bagian bawah, sakit seperti tersayatsyat, sakitnya bertambah jika bergerak. Tampak balutan luka sepanjangsekitar 15
cm pada area tersebut. Balutan tampak bersih dan kering. Berdasarkan catatan
rekam medis pasien, telah dilakukan heating pada perut bagian bawah pasien
sepanjang 10 cm. Ny C, ingin menyusui bayinya, tetapi sakit bertambah. Pasien
tampak meringis kesakitan terutama saat merubah posisi. Karena rasa sakitnya
proses laktasi terganggu, sedangkan bayi dilakukan rooming in. Pasien khawatir
karena bayinya menangis terus dan kawatir bayinya tidak mendapatkan
kolostrum. Nyeri dirasakannya pada nilai 8 (skala0-10). TTV: TD 130/100
mmHg, N: 80x/menit, R: 22x/mnt, S: 37,7 celcius. Hasil lab Hb 8,5 gr/dl, leukosit
11.000mm3, trombosit 370.000mm3 , Hematokrit 33%. Hasil pengkajian flatus +,
bising usus + normal, mammae tampak membesar, aerola hitam, puting menonjol.
Terapi ranitidin 2x1 ampul IV, cefotaxime 2x1 ampul IV, aliamin 1x1 ampul IV.
Saat ini terpasang infus TL 20tts/mnt, terpasang dower cateter.

STEP I Klasifikasi Istilah


1. Seksio cesaria
Tindakan operasi yang dilakukan untuk mengeluarkan bayi dari rongga rahim
dengan cara membuat insisi di abdomen.
2. Cefotaxme
Antibiotik bekerja menghambat sintesis mukopeptida pada dinding sel bakteri.
3. Aciname

23

Bentuk lain dari B1/B2 berguna untuk menunjang kekuatan kontruksi ketika
proses persalinan.
4. Heating
Sistem pemanas dengan menggunakan medan magnet.
5. Dower Kateter
Kateter yang dipasang terus menerus pada jangka waktu tertentu. Selang yang
dipasang melalui vesika urinaria untuk mengeluarkan urin
6. Anestesi Spinal
Salah satu metode anastesi dengan menyuntikkan sejumlah kecil obat anestesi
pembiusan.
7. Kolastrum
Susu yang

dihasilkan oleh

kelenjar susu pada tahap

akhir masa

kehamilanseorang ibu memasuki hari ke-7.


8. Aenola
Daerah gelap sekitar puting yang dapat membesar.
9. Bedress
Berbaringnya pasien ditempat tidur untuk waktu yang berkesinambungan
karena kondisi medis tertentu.
10. Rooming
Perawatan ibu dan anak ditempatkan bersama selam 24 jam
11. Piarus
Proses mengeluarkan hasil konsep yang didalam uterus melalui vagina,
keluarnya gas dalam saluran cerna melalui anus.

24

12. Hematokrit
Pemeriksaan sel darah untk mengetahui persentase volume zat padat dalam
darah.
13. Supinasi
Gerakan anatomis yaitu menggerakkan tangan ke atas.
14. Ampul
Wadah berbentuk silindris, takaran tunggal, ukuran normal 1, 2, 5, 10, 25 ml
tidak berwarna, terbuat dari kaca.
15. Terapi Rotidin
Untuk menurunkan asam lambung, obat magh.
STEP II Identifikasi Masalah
1. Apa tujuan dilakukannya bedress dengan posisi supinasi dan melakukan miring
kiri-kanan pada periode 24 jam?
2. Kenapa Ny.C mengalami sakit pada bagian perut bawah dan sakitnya
bertambah jika bergerak?
3. Kenapa proses laktasi bisa terganggau?
4. Dampak proses bayi jika tidak mendapatkan kolostrum dan apa manfaat
kolostrum?
5. Tujuan dilakukan rooming?
6. prosedur pemasangan dower kateter?
7. Cara perawatan rooming?
STEP III Analisis Masalah
2. Karena bekas luka yang didalam belum kering.
25

Jika bergerak maka lukanya akan tertarik / terjadi perenggangan kulit.


3. Karena rasa nteri yang dialami oleh ibu
4. Manfaat : kadar protein tinggi memberi perlindungan dari infeksi
Dampak : BB sulit naik
5. - Bantuan emosional
- Mendapatkan ASI
- Mendapat pendidikan
- Stimulasi pada bayi
6. - Jelaskan tindakan yang akan dilakukan
- Cuci tangan
- Tutup tirai pasien
- Dekatkan alat ke dekat pasien
- Atur posisi
-Bersihkan alat genatalia
- Gunakan pengalas untuk menutupi daerah sekitar genatalia
- Gunakan sarung tangan steril
- Pada wanita
1. Buka labia mayor dan minor untuk membuka saluran kemih
2. Berikan sylocair gely pada ujung kateter
3. Masukkan perlahan +- 2-3cm atau sampai keluar urin
4. Masukkan aquadest steril 20-30cc

26

5. Bersihkan tempat pemasangan kateter


6. Lakukan fiksasi kateter
7. Bersihkan alat
8. Cuci tangan
9. Dokumentasikan
7. Dengan cara kanggorucare yaitu dengan cara memasukkan bayi ke dalam baju
ibu/ayah sehingga bayi menyentuh kulit ibu/ayah. Untuk mendekaatkan bayi
kepada orang tua.
STEP IV Hipotesa
SC dan Kebutuhan dasar manusia

DAFTAR PUSTAKA
Doengoes, M.(2001). Rencana Perawatan Maternitas /Bayi, Jakarta:EGC

27

Winkjosastro, H.Dkk.(2002).Ilmu Kebidanan.Jakarta:Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo
Mochtar,R.(2002).Sinopsis

Obsterti:Obsterti

operatif,Obsterti

social

Jilid

2.jakarta:EGC
Prawirohardjo.(2007).Ilmu Kandungan. Jakarta.Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo
Sarwono Prawiroharjo.(1999)., Ilmu Kebidanan, Edisi 2 Cetakan II Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta.

KATA PENGANTAR

28

Rasa syukur yang dalam kami ucapkan terima kasih kehadiharat Tuhan Yang
Maha Esa. Karena berkat kemurahan-Nya makalah ini dapat kami selesaikan
sesuai yang diharapkan. Dalam makalah ini kami membahas tentang Asuhan
keperawatan dengan post SC,namun secara luas belum dipahami secara mendalam
mengenai tersebut.
Makalah ini kami buat dalam rangka memperdalam pemahaman mengenai semua
tentang asuhan keperawatan dengan post SC,yang dapat memiliki manfaat secara
langsung ataupun tidak langsung dalam ilmu keperawatan ini.Dalam proses
pendalaman materi ini,tentunya kami mendapatkan bimbingan,arahan,koresi,serta
saran.

Jambi, 5 Juni 2016


Kelompok 1

DAFTAR ISI

29

KATA PENGANTAR.............................................................................................ii
DAFTAR ISI...........................................................................................................iii
BAB I : PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang........................................................................................1
1.2 Tujuan.....................................................................................................1
BAB II : PEMBAHASAN
2.1 Definisi...................................................................................................3
2.2 Etiologi...................................................................................................3
2.3 Patofisiologi............................................................................................4
2.4 Manifestasi.............................................................................................4
2.5 Komplikasi.............................................................................................4
2.6. Pemeriksaan penunjang.........................................................................5
2.7. Penatalaksanaan medis..........................................................................5
2.8 Asuhan keperawatan dengan post sc......................................................8
BAB III : ASUHAN KEPERAWATAN...............................................................16
BAB IV : PENUTUP
4.1 Kesimpulan...........................................................................................22
4.2 Saran.....................................................................................................22
Daftar Pustaka.......................................................................................................23

30

31