Anda di halaman 1dari 6

Tutorial HIV AIDS

Ny B (28 th) datang ke poli penyakit infeksi khusus HIV-AIDS karena


mengalami bisul di paha sebesar kelereng, kulit di sekitar bisul itu
memerah, bengkak & sangat nyeri, berisi pus. Dokter memberikan
terapi ciprofloxacin 2 x 500 mg, dokter juga melakukan kultur thd pus
setelah melakukan insisi & pencucian luka dg NS. Hasil CD4 + Ny B
= 400/L, mendapatkan inisiasi terapi ART trizivir (Abacavir 300
mg, lamivudine 150 mg, zidovudine 300mg) dua kali sehari. Hasil
kultur beberapa hari kemudian menunjukkan bahwa pasien mengalami
infeksi oleh methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA).
Riwayat penyakit keluarga : suami didiagnosa infeksi HIV 1 th yll
Riwaya penyakit : demam, flu
Riwayat pengobatan : paracetamol, neozep forte, pil KB
(microgynon)
Pertanyaan:
1. Jelaskan etiologi terjadinya infeksi MRSA terutama pada pasien ini!
- Daya tahan tubuh/ imunitas px yang menurun karena pasien
terkena HIV data lab CD4+ Ny B = 400/L
- HIV menurunkan jumlah sel darah putih sebagai pertahanan
tubuh sistim imun menurun terinfeksi MRSA (S. aureus flora
normal kulit)
2. Jelaskan tujuan diberikannya terapi ART pada pasien ini!
- Untuk menekan adanya kemungkinan replikasi HIV sehingga
mencapai level deteksi yang diharapkan <50/ml. Jika replikasi HIV
ini menurun maka jumlah CD4+ pada pasien ini akan meningkat.
- meningkatkan jumlah CD4+ pasien yang sudah mulai menurun.
Melihat jumlah CD4+ yang berjumlah 400/ml serta gejala infeksi
yang dialami pasien, maka kemungkinan pasien menderita HIV
kategori B2. Meningkatkan hitungan CD4+ karena memiliki korelasi
yang besar terhadap resiko infeksi oportunistik.
- Tujuan kombinasi tx adalah untuk menurunkan resiko resistensi obat
& supresi thd replikasi virus hingga batas yang dpt memperlambat
progresivitas.
- HIV RNA yg tdk terdeteksi hampir selalu diikuti oleh peningkatan
hitungan limfosit CD4+ Jadi sebaiknya dilakukan pemeriksaan juga
terhadap HIV RNA count nya
inisiasi terapi diberikan ketika ada riwayat gejala indikator AIDS atau
CD4+ < 350/L Ketika ART dimulai dini maka keuntungannya adalah
replikasi virus dapat ditekan serta mencegah berlanjutnya kerusakan
imun. Namun di sisi lain, penggunaan ART dalam jangka waktu panjang
dapat meningkatkan resiko toksisitas obat dan resistensi terhadap ART
itu sendiri.

3. Pasien mendapatkan terapi ciprofloxacin sebagai terapi empiris


mengatasi bisul yang kemudian diketahui disebabkan oleh MRSA,
jelaskan analisa anda terhadap terapi ini! Sertakan rekomendasi anda!
Ciprofloxacin sebagai terapi empiric bisul pasien cephalosporin
generasi 1 golongan lactam broad spectrum, tapi lebih aktif
terhadap gram positif termasuk s. aureus dan streptococcus salah
satu mikroba yang resisten adalah MRSA tidak tepat

Rekomendasi Methicillin-resistant S. aureus harus diterapi dengan


vancomycin; atau alternative lain yang dapat digunakan
trimethoprim-sulfamethoxazole,
daptomycin, D/Q, linezolid, or
minocycline

Evidence based A1 evidence baik untuk digunakan dengan RCT


Vancomycin bekerja dengan menghambat sintesis dinding sel
bakteri, berikatan kuat dengan D-alanil-D-alanin dinding sel
kerusakan dinding sel bakteri serta mngubah permeabilitas sel
membran dan sintesis RNA
Dosis: ADULTS: PO 500 mg to 2 g/day in 3 or 4 divided doses for 7 to
10 days
ESO : ototoksisitas, nefrotoksisitas, infus IV cepat hipotensi
kecepatan IV gak boleh > 10 mg/min

Linezolid efektif dan mahal


4. Jelaskan kemungkinan interaksi obat yang terjadi pada pasien ini!
- Zidovudine + paracetamol toksisitas zidovudine meningkat
(hepatotoksisitas)`,tapi mekanisme masih belum diketahui, dlm
suatu studi klirens zidovudine sedikit meningkat, zidovudine
meningkatkan glucuronidasi parasetamol pada pasien AIDS, jd
harus monitoring fungsi hepatic dan haematological (mims.com)
- Kandungan neozep forte (fenilpropanolamin HCl, klorfeniramin
maleat, asetaminofen) asetaminofen dapat berinteraksi dengan
trizivir, interaction moderate (micromedex)
- Microgynon (ethinyl estradiol, levonorgestrel): paracetamol +
ethinyl estradiol efek paracetamol menurun tapi meningkatkan
efek ethinyl estradiol, klirens parasetamol meningkat krn
peningkatan metabolisme parasetamol di liver.
- Ciprofloxacin + Ethinyl estradiol: efektivitas dari kontrasepsi
estrogen akan menurun apabila diberikan bersamaan dengan
antimikroba. Hal itu disebabkan karena cipro menurunkan jumlah
flora normal yang bertugas untuk meregenerasi molekul induk dari
estrogen pada Ethinyl estradiol.
- kadar acetaminophenresiko toksisitas meningkat karena
ciprofloxacin dapat menurunkan metabolisme dari paracetamol
ciprofloxacin + ethinylestradiol
- Kombinasi ciprofloxacin+ Chlorpheniramine maleate dapat
meningkatkan kadar Chlorpheniramine maleate resiko toksisitas
meningkat karena ciprofloxacin dapat menurunkan metabolisme
dari Chlorpheniramine maleate
- Kombinasi ciprofloxacin +ethinylestradiol (microgynon)
ciprofloxacin akan menurunkan tingkat atau efek dari etinilestradiol
dengan mengubah flora usus. Berlaku hanya untuk bentuk oral
hormon. Rendah risiko kegagalan kontrasepsi. Signifikan Memantau erat.
http://reference.medscape.com/drug-interactionchecker

Kombinasi ciprofloxacin ethinyl estradiolmoderate


ciprofloxacin mengganggu resirkulasi enterohepatik estrogen
dengan mengurangi enzim hidrolitik bakteri dalam saluran
pencernaan yang bertanggung jawab untuk regenerasi estrogen
setelah first pass metabolisme. Ada kemungkinan bahwa sejumlah
kecil perempuan mungkin lebih rentan terhadap kegagalan
kontrasepsi
http://www.drugs.com/interactions-check.php
Kombinasi zidovudine acetaminophenminor
Laporan kasus telah menyarankan bahwa seiring penggunaan AZT
dan asetaminofen dapat mempotensiasi risiko penekanan sumsum
tulang dan hepatotoksisitas, namun data telah bertentangan.
Mekanisme tidak diketahui. Sampai informasi lebih tersedia, pasien
yang memakai kedua obat secara bersamaan harus dipantau untuk
pengembangan hepatotoksisitas dan toksisitas sumsum tulang.
Kombinasi zidovudine ethinyl estradiolminor
Etinil estradiol telah terbukti dapat menghambat glucuronidation
AZT in vitro. Namun Sebuah interaksi yang bermakna secara klinis
belum terbukti,
Kombinasi acetaminophen ethinyl estradiolminor
Kontrasepsi oral dapat menurunkan atau menunda efek
acetaminophen dengan meningkatkan glucuronidation. Dengan
dosis terapi biasa, administrasi bersamaan mungkin mengakibatkan
tidak ada risiko tambahan yang signifikan.
Kombinasi ethinyl estradiol ascorbic acidminor
Asam askorbat dapat meningkatkan kadar serum estrogen dalam
kontrasepsi oral. Mekanisme mungkin karena metabolisme
penurunan estrogen dengan inhibisi kompetitif yang melibatkan
asam askorbat. Pertimbangkan pemantauan pasien lebih dekat
untuk estrogen yang berhubungan dengan efek samping jika asam
askorbat yang dipakai bersamaan.
http://www.drugs.com/interactions-check.php

5. Berikanlah rekomendasi anda terkait interaksi obat yang terjadi!


- PCT dan neozep dapat dihentikan, karena bila dapat inisiasi ART, flu
diharapkan dapat sembuh sendiri.
- Antibiotik diganti agar tidak berinteraksi (Tergantung no 3 diganti
apa). Tapi kalau tidak diganti antibiotik nya maka diganti agent KB
lain yg tidak berinteraksi.
6. Apa saja yang perlu anda edukasikan kepada pasien?
- dari segi obat yang diterima oleh pasien
a. Ciprofloxacin
Instruksikan ke patient untuk banyak minum agar outputnya
adekuat
Informasikan ke pasien obatnya per oral tanpa makanan 2 jam
setelah makan.

Beritahu ke pasien agar tidak terpapar matahari secara langsung,


gunakan baju yang tertutup atau sunscreen hingga toleransi teratasi
Instruksikan ke patient untuk melapor bila ada tanda bacterial atau
fungal overgrowth (eg, black, furry appearance of tongue, vaginal
itching or discharge, loose or foul-smelling stools).
Beritahu ke patient obat ini dapat menyebabkan pusing, dan jangan
diminum bila sedang berkendara atau menjalankan mesin lain
Jangan men-dobel dosis bila ada dosis yg terlupa. Segera hubungi
tenaga kesehatan jika ada dosis yg terlupa
Emphasize importance of completing entire dose regimen.
Sarankan ke patient untuk tidak minum OTC tanpa konsultasi ke
dokter
Instruksikan ke patient untuk menghentikan treatment dan
menginformasikan ke dokter jika ada nyeri, inflamasi, atau rupture
tendon, dan istirahat total dari latihan berat hingga tendonitis atau
tendon rupture teratasi.
b. Abacavir 300 mg, lamivudine 150 mg, zidovudine 300mg
Jelaskan nama, dosis, aksi dan ESO yang potensial
Sarankan ke pasien untuk minum obatnya 2 kali tanpa makanan
atau bersamaan dengan makanan bila terjadi GI upset.
Instruksikan ke pasien jika ada dosis yang terlewat langsung dengan
segera minum dosis berikutnya sesuai dengan jadwal
Instruksikan ke pasien untuk berhenti dan membertahukan ke
tenaga kesehatan jika terjadi 2 atau lebih tanda/gejala seperti
berikut: demam; mual, muntah,diare, nyeri abdomen; kelelahan,
kaku otot; sakit tenggorokan; shortness of breath; batuk. profound
weakness or tiredness; feeling cold, dizzy or lightheaded; slow or
irregular heartbeat; pain or tingling in the hands or feet; muscle or
joint pain.
Sarankan ke pasien untuk membawa Warning Card setiap waktu.
Informasikan ke pasien bahwa obat ini tidak mengeliminasi HIV virus
keseluruhan tetapi mengurangi risiko dari transmitting HIV.
Appropriate precautions must still be followed.
Advise patient that drug is not a cure for HIV infection and that
he/she may continue to acquire illnesses associated with HIV
infection, including opportunistic infections and to remain under a
health care provider's /care.
Instruksikan ke pasien tidak memakai OTC atau suplemen lain tanpa
konsultasi ke tenaga kesehatan.
Instruksikan ke pasien ini jika hamil, berencana hamil atau menyusui
lapor ke tenaga kesehatan
Ingatkan ke patient bahwa examinations and laboratory tests harus
dilakukan untuk melihat kemajuan dan monitoring terapi.

- dari segi gaya hidup pasien


a. hindari jajan sembarangan
b. gunakan kondom saat berhubungan badan
c. menjaga selalu kebersihan diri dan lingkungan
7. Monitoring apa saja yang perlu dilakukan untuk menilai efektivitas &
efek samping obat?
a. Evaluasi efektivitas tx ART dilakukan dengan mengukur RNA HIV
plasma & CD4+
b. Pertama kali inisiasi tx monitoring dilakukan 3 bulan sekali (2-8
minggu jika ingin mengetahui respon awal)
c. Indikasi perubahan tx jika ada toksisitas & kegagalan tx
d. Jika salah 1 obat menimbulkan ESO yg tidak dpt ditelerir mk obat
tersebut dpt diganti dg lopinavir-ritonavir tanpa mengubah dual
NRTIs
e. Perlu diperhatikan pemberian bersamaan obat yg memiliki
toksisitas yg sam
Aturan minum Triviar
1. Diberikan dua kali sehari tanpa tergantung makanan
2. Diberikan bersama dengan makanan jika terdapat nyeri perut
Efek samping:
1. Reaksi hipersensitivitas sering terjadi karena penggunaan
Abacavir
2. Karena sediaan ini mempunyai dosis yang tetap, maka jangan
diberikan pada pasien yang membutuhkan adjustment dosis
akrena adanya gangguan pada ginjal
3. Monitar tanda dan gejala alergi karena abacavir. Hentikan
penggunaan jika terlihat adanya gejala skin rash atau gejala lain
yaitu fever; nausea, vomiting, diarrhea, abdominal pain; fatigue,
muscle aches, malaise; sore throat; shortness of breath; cough.
4. Perhatikan neuropati peripheral misalnya numbness, tingling,
burning or pain in hands or feet) atau opportunistic infections.
5. Monitor tanda dan gejala CNS, GI, musculoskeletal, and general
body side effects.
6. Monitor tanda terjadinya asidosis laktat. Jika pasien mengalami
lemas atau kelelahan, ketidaknyamanan pada perut, kedinginan,
atau detak jantung yang tidak beraturan, hentikan terapi terlebih
dahulu.