Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sejak April 2012 novel coronavirus telah menular di Timur Tengah. Middle East Respiratory
Syndrome Corona Virus (MERS-CoV) adalah suatu strain baru dari virus corona yang belum
pernah ditemukan menginfeksi manusia sebelumnya. MERS-CoV merupakan Emerging
Infectious Diseases berpotensi menjadi pandemik dan diduga oleh organisasi kesehatan
hewan dunia (OIE) bersifat zoonosis karena virus ditemukan pada onta.
Jenis coronavirus yang baru telah ditemukan yang menyebabkan penyakit yang berbahaya
pada manusia. Virus ini awal diidentifikasi pada bulan September 2012 dari sampel yang
diperoleh dari pasien di Arab Saudi yang berkembang semakin parah mulai dari infeksi
saluran pernapasan akut dan kemudian terjadi gagal ginjal akut lalu akhirnya meninggal (de
Groot RJ, Baker SC, et al. 2013). Virus ini kemudian dilaporkan sebagai penyebab
pneumonia pada kasus-kasus yang terjadi diberbagai negara terutama di Timur Tengah
seperti: Arab Saudi, Qatar, Jordania, Tunisia, Uni Emirat Arab, Inggris, Jerman, Perancis dan
Italia. Sebagian besar pasien mengalami demam (98%), demam dengan batuk (83%) dan
sesak napas (72%). Gambaran radiologi menunjukkan adanya infiltrate unilateral (43%),
peningkatan bronchovascular pattern (17%), dan diffuse reticulonodular pattern (4%).
Pemahaman kita terhadap epidemiologi dan manifestasi klinis dari kasus ini adalah semakin
meningkat dari waktu ke waktu. Namun hal ini belum diketahui secara pasti apa virus yang
sebenarnya dan apa modalitas pengobatan yang terbaik.
Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan, jumlah orang yang terinfeksi MERS di seluruh
dunia tahun 2013 telah meningkat menjadi 136, setelah Arab Saudi mengkonfirmasi enam
kasus baru. Adanya penderita terbanyak di Saudi telah menimbulkan kekhawatiran tentang
pelaksanaan haji. Ada kekhawatiran para jamaah terinfeksi dan kembali ke tanah air mereka
dengan membawa virus tersebut.
Namun pihak berwenang, sebagaimana diberitakan AFP, mengatakan, optimistis musim haji
akan berlangsung tanpa wabah apapun, mengingat kaum Muslim pada pelaksanaan umrah
sebelumnya tidak tercatat adanya penyebaran virus MERS. Saudi pun telah mendesak orang

lanjut usia dan yang sedang sakit kronis untuk tidak menunaikan haji. Pihak berwenang juga
telah menyarankan jamaah untuk memakai masker.
Dalam jumlah besar, warga Negara Indonesia berada di Jazirah Arab terutama di Saudi
Arabia, Jordania, Uni Emirat Arab dan Qatar sebagai tenaga kerja khususnya di Arab Saudi
tidak hanya yang menetap dalam waktu relatif lama sebagai tenaga kerja tetapi juga dalam
rombongan jamaah umrah (mass gathering) khususnya umrah Ramadhan dan jamaah haji
yang waktunya relatif singkat (10-35 hari). Terdapatnya pengumpulan massa/jamaah di
wilayah yang sedang berlangsung infeksi MERS-CoV beresiko dapat terjadi penularan. Oleh
karena itu, untuk mengantisipasi kemungkinan resiko tertularnya dan masuknya MERS-CoV
tersebut ke Indonesia perlu disusun kesiapsiagaan menghadapinya sebagai bagian yang tidak
terpisahkan untuk memperkuat ketangguhan bangsa terhadap kedaruratan kesehatan
masyarakat.
1.2 Tujuan
Untuk mengetahui dan memahami definisi, epidemiologi, etiologi, patofisiologi, manifestasi
klinis, diagnosis dan penatalaksanaan dari MERS.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Anatomi dan Fisiologi Saluran Pernapasan

Sistem respirasi dibedakan menjadi dua saluran yaitu, saluran napas bagian atas dan
saluran napas bagian bawah. Saluran napas bagian atas terdiri dari: rongga hidung,
faring dan laring. Saluran napas bagias bawah terdiri dari trakea, bronkus, bronkiolus,
dan paru-paru.
1. Saluran Napas Bagian Atas

Gambar 1. Saluran napas bagian atas


A. Hidung
1. Hidung adalah saluran pernapasan yang pertama. Ketika proses pernapasan
berlangsung, udara yang diinspirasi melalui rongga hidung akan menjalani tiga
proses yaitu penyaringan (filtrasi), penghangatan, dan pelembaban. Hidung terdiri
atas bagian- bagian sebagai berikut:
a. Bagian luar dinding terdiri dari kulit.
b. Lapisan tengah terdiri dari otot-otot dan tulang rawan.
c. Lapisan dalam terdiri dari selaput lender yang berlipat-lipat yang
dinamakan karang hidung ( konka nasalis ), yang berjumlah 3 buah yaitu:
konka nasalis inferior, konka nasalis media, dan konka nasalis superior.
2. Diantara konka nasalis terdapat 3 buah lekukan meatus, yaitu: meatus superior,
meatus inferior dan meatus media. Meatus-meatus ini yang dilewati oleh udara

pernapasan , sebelah dalam terdapat lubang yang berhubungan dengan tekak yang
disebut koana.
3. Dasar rongga hidung dibentuk oleh rahang atas ke

atas rongga hidung

berhubungan dengan rongga yang disebut sinus paranasalis yaitu sinus maksilaris
pada rahang atas, sinus frontalis pada tulang dahi, sinus sfenoidalis pada rongga
tulang baji, dan sinus etmoidalis pada rongga tulang tapis.
4. Pada sinus etmoidalis keluar ujung-ujung saraf penciuman yang menuju ke konka
nasalis . Pada konka nasalis terdapat sel-sel penciuman , sel tersebut terutama
terdapat pada di bagian atas. Pada hidung di bagian mukosa terdapat serabut saraf
atau reseptor dari saraf penciuman ( nervus olfaktorius ).
5. Di sebelah konka bagian kiri kanan dan sebelah atas dari langit-langit terdapat
satu lubang pembuluh yang menghubungkan rongga tekak dengan rongga
pendengaran tengah . Saluran ini disebut tuba auditiva eustachi yang
menghubungkan telinga tengah dengan faring dan laring. Hidung juga
berhubungan dengan saluran air mata atau tuba lakrimalis.
6. Rongga hidung dilapisi dengan membran mukosa yang sangat banyak
mengandung vaskular yang disebut mukosa hidung. Lendir di sekresi secara
terus-menerus oleh sel-sel goblet yang melapisi permukaan mukosa hidung dan
bergerak ke belakang ke nasofaring oleh gerakan silia.
B. Faring
Merupakan pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampai persambungannya
dengan esofagus pada ketinggian tulang rawan krikoid. Berdasarkan letaknya faring
dibagi menjadi:
- Nasofaring terletak tepat di belakang cavum nasi , di bawah basis crania dan di
depan vertebrae cervicalis I dan II. Nasofaring membuka bagian depan ke dalam
cavum nasi dan ke bawah ke dalam orofaring. Tuba eusthacius membuka ke
dalam didnding lateralnya pada setiap sisi. Pharyngeal tonsil (tonsil nasofaring)
-

adalah bantalan jaringan limfe pada dinding posteriosuperior nasofaring.


Orofaring
Merupakan pertemuan rongga mulut dengan faring,terdapat pangkal lidah).
Orofaring adalah gabungan sistem respirasi dan pencernaan , makanan masuk

dari mulut dan udara masuk dari nasofaring dan paru.


Laringofaring(terjadi persilangan antara aliran udara dan aliran makanan)

Laringofaring merupakan bagian dari faring yang terletak tepat di belakang


laring, dan dengan ujung atas esofagus.
C. Laring
Saluran udara dan bertindak sebagai pembentuk suara. Pada bagian pangkal ditutup
oleh sebuah katup yang disebut epiglottis, yang terdiri dari tulang-tulanng rawan yang
berfungsi ketika menelan makanan dengan menutup laring.

Terletak pada garis tengah bagian depan leher, sebelah dalam kulit, glandula
tyroidea, dan beberapa otot kecil, dan di depan laringofaring dan bagian atas
esofagus.

Cartilago / tulang rawan pada laring ada 5 buah, terdiri dari sebagai berikut:
-

Cartilago thyroidea 1 buah di depan jakun ( Adams apple) dan sangat jelas
terlihat pada pria. Berbentuk V, dengan V menonjol kedepan leher sebagai
jakun. Ujung batas posterior diatas adalah cornu superior, penonjolan tempat
melekatnya ligamen thyrohyoideum, dan dibawah adalah cornu yang lebih
kecil tempat beratikulasi dengan bagian luar cartilago cricoidea.

Cartilago epiglottis 1 buah. Cartilago yang berbentuk daun dan menonjol


keatas dibelakang dasar lidah. Epiglottis ini melekat pada bagian belakang V
cartilago thyroideum. Plica aryepiglottica, berjalan kebelakang dari bagian
samping epiglottis menuju cartilago arytenoidea, membentuk batas jalan
masuk laring.

Cartilago cricoidea 1 buah yang berbentuk cincin. Cartilago berbentuk cincin


signet dengan bagian yang besar dibelakang. Terletak dibawah cartilago
tyroidea,

dihubungkan

dengan

cartilago

tersebut

oleh

membrane

cricotyroidea. Cornu inferior cartilago thyroidea berartikulasi dengan


cartilago tyroidea pada setiap sisi. Membrana cricottrakeale menghubungkan
batas bawahnya dengan cincin trakea I.
-

Cartilago arytenoidea 2 buah yang berbentuk beker. Dua cartilago kecil


berbentuk piramid yang terletak pada basis cartilago cricoidea. Plica vokalis

pada tiap sisi melekat dibagian posterio sudut piramid yang menonjol
kedepan

Laring dilapisi oleh selaput lendir, kecuali pita suara dan bagian epiglottis yang
dilapisi oleh sel epitel berlapis.

2.

Saluran Napas Bagian Bawah

Gambar 2. Saluran napas bagian bawah

1.

Trakea
Merupakan tabung fleksibel dengan panjang kira-kira 10 cm dengan lebar 2,5 cm. trakea
berjalan dari cartilago cricoidea kebawah pada bagian depan leher dan dibelakang
manubrium sterni, berakhir setinggi angulus sternalis (pertautan antara manubrium
dengan corpus sterni) atau sampai kira-kira ketinggian vertebrata torakalis kelima dan di
tempat ini bercabang menjadi dua bronkus (bronchi).
Trakea tersusun atas 16 - 20 setengah lingkaran yang berupa cincin tulang rawan yang
diikat bersama oleh jaringan fibrosa dan yang melengkapi lingkaran disebelah belakang
trakea, selain itu juga membuat beberapa jaringan otot.

2.

Bronkus

Bronkus yang terbentuk dari belahan dua trakea pada ketinggian kira-kira vertebrata
torakalis kelima, mempunyai struktur serupa dengan trakea dan dilapisi oleh.jenis sel
yang sama.

Bronkus-bronkus itu berjalan ke bawah dan kesamping ke arah tampuk paru.


Bronckus kanan lebih pendek dan lebih lebar, dan lebih vertikal daripada yang kiri,
sedikit lebih tinggi darl arteri pulmonalis dan mengeluarkan sebuah cabang utama
lewat di bawah arteri, disebut bronckus lobus bawah.

Bronkus kiri lebih panjang dan lebih langsing dari yang kanan, dan berjalan di bawah
arteri pulmonalis sebelurn di belah menjadi beberapa cabang yang berjalan kelobus
atas dan bawah.

Cabang utama bronkus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronkus lobaris dan
kernudian menjadi lobus segmentalis. Percabangan ini berjalan terus menjadi bronkus
yang ukurannya semakin kecil, sampai akhirnya menjadi bronkhiolus terminalis,
yaitu saluran udara terkecil yang tidak mengandung alveoli (kantong udara).

Bronkhiolus terminalis memiliki garis tengah kurang lebih 1 mm. Bronkhiolus tidak
diperkuat oleh cincin tulang rawan. Tetapi dikelilingi oleh otot polos sehingga
ukurannya dapat berubah.

Seluruh saluran udara ke bawah sampai tingkat bronkbiolus terminalis disebut saluran
penghantar udara karena fungsi utamanya adalah sebagai penghantar udara ke tempat
pertukaran gas paru-paru, yaitu alveolus.

3.

Paru-Paru

Gambar 3. Paru-paru
Merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri atas gelembung-gelembung
kecil ( alveoli ). Alveolus yaitu tempat pertukaran gas terdiri dari bronkhiolus
respiratorius yang memiliki kantong udara kecil atau alveoli pada dindingnya. Ductus
alveolaris seluruhnya dibatasi oleh alveoilis dan sakus alveolaris terminalis merupakan
akhir paru-paru, asinus atau.kadang disebut lobolus primer memiliki tangan kira-kira
0,5 s/d 1,0 cm. Terdapat sekitar 20 kali percabangan mulai dari trakea sampai Sakus
Alveolaris. Alveolus dipisahkan oleh dinding yang dinamakan pori-pori kohn.
Paru-paru dibagi menjadi dua bagian, yaitu paru-paru kanan yang terdiri dari 3 lobus
( lobus pulmo dekstra superior, lobus pulmo dekstra media, lobus pulmo dekstra
inferior) dan paru-paru kiri yang terdiri dari 2 lobus ( lobus sinistra superior dan lobus
sinistra inferior).

Tiap-tiap lobus terdiri dari belahan yang lebih kecil yang bernama segmen. Paru-paru
kiri memiliki 10 segmen yaitu 5 buah segmen pada lobus superior dan lima lobus
inferior. Paru-paru kiri juga memiliki 10 segmen, yaitu 5 buah segmen pada lobus
superior, 2 buah segmen pada lobus medialis, dan 3 segmen pada lobus inferior. Tiaptiap segmen masih terbagi lagi menjadi belahan-belahan yang bernama lobulus.
Letak paru-paru di rongga dada datarnya menghadap ke tengah rongga dada / kavum
mediastinum.. Pada bagian tengah terdapat tampuk paru-paru atau hilus. Pada
mediastinum depan terletak jantung.
Paru-paru dibungkus oleh selapus tipis yang pernama pleura . Pleura dibagi menjadi
dua yaitu pleura visceral (selaput pembungkus) yaitu selaput paru yang langsung
membungkus paru-paru dan pleura parietal yaitu selaput yang melapisi rongga dada
sebelah luar. Antara kedua lapisan ini terdapat rongga kavum yang disebut kavum
pleura. Pada keadaan normal, kavum pleura ini vakum/ hampa udara.

VASKULARSISASI

Gambar 4. Vaskularisasi paru

Setiap arteria pulmonalis, membawa darah deoksigenasi dari ventrikel kanan jantung,
memecah bersama dengan setiap bronkus menjadi cabang-cabang untuk lobus, segmen dan
lobules. Cabang-cabang terminal berakhir dalam sebuah jaringan kapiler pada permukaan
setiap alveolus. Jaringan kapiler ini mengalir ke dalam vena yang secara progresif makin
besar, yang akhirnya membentuk vena pulmonalis, dua pada setiap sisi, yang dilalui oleh
darah yang teroksigenasi ke dalam atrium kiri jantung. Artheria bronchiale yang lebih kecil
dari aorta menyuplai jaringan paru dengan darah yang teroksigenasi.

2.2 Definisi
MERS adalah singkatan dari Middle East Respiratory Syndrome yang merupakan
penyakit saluran pernapasan disebabkan oleh coronavirus yang juga disebut MERSCoV, Virus ini menyebabkan penyakit saluran pernafasan yang berat dan akut dengan
gejala-gejala seperti demam, batuk dan sesak. Pertama kali dilaporkan terjadi di Arab
Saudi pada tahun 2012 (CDC, 2014).
2.3 Epidemiologi
Middle East Respiratory Syndrome coronavirus (MERS-COV) pertama kali dilaporkan
menyebabkan infeksi pada manusia pada bulan September 2012 . Juli 2013 Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) komite darurat Peraturan Kesehatan Internasional
menetapkan bahwa MERS-COV tidak memenuhi kriteria untuk keadaan darurat
kesehatan publik yang menjadi keprihatinan internasional, tetapi tetap serius dan
mendapat perhatian yang besar. laporan ini merangkum informasi epidemiologi dan
menyediakan informasi baru untuk pedoman CDC tentang evaluasi pasien, definisi
kasus, wisata, dan pengendalian infeksi pada 20 September 2013.
Pada 20 September 2013, total 130 kasus dari delapan negara telah dilaporkan ke
WHO; 58 (45%) dari kasus-kasus ini berakibat fatal. semua kasus telah secara langsung
atau tidak langsung berhubungan dengan adanya perjalanan ke atau tinggal di empat
negara: Arab Saudi, Qatar, Yordania, dan United Arab Emirates (UAE). Usia rata-rata

orang dengan infeksi MERS-COV adalah 50 tahun (kisaran: 2-94 tahun). Rasio priawanita 1,6-1,0. Dua-puluh-tiga (18%) kasus terjadi pada orang-orang yang
diidentifikasi sebagai pekerja kesehatan. Meskipun sebagian besar kasus yang
dilaporkan mengalami penyakit pernafasan parah memerlukan rawat inap, setidaknya
27 (21%) yang mengalami gejala ringan atau tidak ada gejala. meskipun ada bukti
penularan orang-ke-orang, jumlah kontak yang terinfeksi oleh orang-orang dengan
infeksi yang dikonfirmasi tampaknya terbatas.

Potensi penularan dari hewan dan

mekanisme penularan MERS-COV ke manusia tetap tidak jelas (CDC, 2013).


Virus mers menyebar ke Indonesia melalui Jemaah haji atau umroh yang pulang
dari arab Saudi, namun pemerintah telah melakukan pemeriksaan kepada para Jemaah
haji atau umroh yang pulang dengan gejala demam dan batuk, dan sampai saat ini
didapatkan hasil negatif, sepanjang Januari hingga April, pasien dengan suspek MERS
dinyatakan negatif setelah dilakukan pemeriksaan polymerase charin reaction (PCR).
2.4 Etiologi
MERS terjadi disebabkan infeksi virus MERS-COV yang merupakan beta coronavirus
disebut juga novel coronavirus atau nCOV, virus ini berbeda dengan jenis cornavirus
lainnya yang sebelumnya telah ditemukan pada manusia. Virus ini memilki spike
glycoprotein yang bekerja pada reseptor sel target Dipeptidyl Peptidase 4 (DPP4).
2.5 Transmisi
Virus ini menyerang saluran pernafasan dan penyebarannya terutama melalui kontak
erat dengan orang yang terinfeksi atau termasuk kasus probable (petugas kesehatan atau
keluarga penderita MERS atau orang-orang yang tinggal di tempat yang sama dengan
penderita), penyebarannya terutama terjadi di tempat tempat pelayanan kesehatan
seperti rumah sakit. Selain itu penularan virus ini juga terjadi dari unta ke manusia
(infeksi zoonotic). Saat ini kelelawar dan unta merupakan hewan yang dicurigai sebagai
sumber penularan virus ini. transmisi dari manusia ke manusia juga dapat terjadi namun
kejadiannya tidak begitu.

2.6 Klasifikasi Kasus


Merujuk dari definisi kasuk WHO, klasifikasi kasus MERS-CoV adalah sebagai
berikut:

K
aa
s
u
s
MM
E
R
S

uu

ss

s
l

m
P
y

dd

e
n

ii

n
l

kk

aa

Kasus Penyelidikan ( Suspek )


Pasien dengan ISPA, yaitu demam atau riwayat demam, batuk dan pneumonia
atau dengan ARDS atau pada pasien Immunocompromised mempunyai gejala dan
tanda yang tidak jelas, disertai SALAH SATU tanda berikut :

Riwayat perjalanan ke Timur Tengah atau egati terjangkit dalam waktu 14 hari
sebelum mulainya gejala.

DAN pneumonia yang bukan disebabkan oleh

infeksi lainnya.

Penyakit muncul dalam satu cluster yang terjadi dalam waktu 14 hari,
tanpa memperhatikan tempat tinggal atau riwayat bepergian, kecuali
ditemukan etiologi lain.

Penyakit terjadi pada petugas kesehatan yang bekerja di RS/layanan


kesehatan yang merawat pasien dengan ISPA berat (SARI), terutama
pasien yang memerlukan perawatan intensif, tanpa memperhatikan tempat
tinggal atau riwayat bepergian, kecuali ditemukan etiologi lain.

Seseorang yang memiliki riwayat perjalanan ke Timur Tengah atau egati


terjangkit dalam waktu 14 hari sebelum mulai sakit selain ISPA ( pada pasien
dengan gangguan kekebalan tubuh kemungkinan tanda dan gejala tidak jelas )

Seseorang dengan penyakit pernapasan akut dengan berbagai tingkat


keparahan ( ringan-berat ) yang dalam waktu 14 hari sebelum mulai sakit,
memiliki riwayat kontak erat dengan kasus konfirmasi atau kasus probable
infeksi MERS-CoV yang sedang sakit.

Kasus Probable
Yaitu pasien investigasi, dengan bukti klinis, radiologis, atau histopatologis
parenkim paru (Pneumonia atau ARDS) tetapi tidak ada kemungkinan untuk
mendapatkan konfirmasi secara laboratorik disebabkan pasien atau sampel yang
tidak ada atau tes yang tidak tersedia untuk memeriksa infeksi saluran pernafasan
lainnya. Disertai riwayat berikut :
a

Kontak erat dengan pasien terkonfirmasi secara laboratorik

2.Belum dapat ditentukan jenis infeksi atau etiologi lainnya, termasuk setelah
dilakukannya semua tes dengan indikasi klinis untuk CAP (Community
Acquired Pneumonia)

Tidak terdapat pemeriksaan untuk MERS-CoV atau pada satu kali pemeriksaa
specimen yang tidak adekuat hasilnya negative atau hasil pemeriksaan
MERS- CoV tidak meyakinkan.

Kasus Konfirmasi
Jika seseorang menderita infeksi MERS-CoV dengan konfirmasi laboratorium.

2.7 Patofisiologi
Dari penelitian yang dilakukan secara in vitro menunjukan bahwa MERS-CoV
bereplikasi secara efisien pada sel-sel tidak bersilia terutama pada saluran pernafasan
manusia dan dari kultur paru manusia secara ex vivo menunjukan bahwa MERS-CoV
bereplikasi pada sel-sel epitel bronkus, bronkiolus dan alveoli dan menyebabkan
penyakit saluran pernafasan pada manusia. MERS-CoV berikatan dengan dengan
reseptor sel target yaitu Dipeptidyl Peptidase 4 (DPP4) dan akan berperan penting
untuk terjadinya replikasi MERSS-CoV. Periode inkubasi virus ini berlangsung antara
2-14 hari, dalam masa inkubasi tidak terjadi penularan, namun durasi infektifitasnya
sendiri masih belum diketahui secara pasti.

Gambar 7. Morfologi Coronavirus


2.8 Manifestasi klinis
Kebanyakan orang yang terinfeksi dengan MERS-COV mengalami penyakit
pernapasan akut parah dengan gejala demam, batuk, dan sesak napas. Beberapa orang
juga memiliki gejala gastrointestinal seperti diare dan mual / muntah. Bagi banyak
orang dengan MERS, komplikasi yang lebih parah diikuti, seperti pneumonia dan gagal
ginjal. Sekitar 30% dari orang dengan MERS meninggal. Sebagian besar orang yang
meninggal memiliki gejala-gejala MERS. (CDC, 2014).
Symptoms of Middle East respiratory syndrome in Saudi cases (Assiri, 2013).
at presentation
Symptoms

(%)

Fever

46

(98.0)

Fever with chills/rigors

41

(87.0)

Cough

39

(83.0)

Dry

22

(56.0)

Productive (sputum)

17

(44.0)

Hemoptysis

(17.0)

Shortness of breath

34

(72.0)

Chest pain

(15.0)

Sore throat

10

(21.0)

Respiratory symptoms

Runny nose

(4.0)

Abdominal pain

(17.0)

Nausea

10

(21.0)

Vomiting

10

(21.0)

Diarrhea

12

(26.0)

Myalgia

15

(32.0)

Headache

(13.0)

Gastro-intestinal symptoms

Other symptoms

Tabel 2.1 Perjalanan Penyakit MERS (Kementrian Kesehatan RI, 2013)

2.9 Diagnosis
Orang yang mengalami penyakit pernapasanyang akut dan berat kurang dari 10 hari
setelah perjalanan dari Arab atau negara-negara tetangganya harus terus dievaluasi
sesuai dengan pedoman saat ini . Secara khusus , orang-orang yang memenuhi kriteria
berikut untuk "pasien dalam penyelidikan" (Patient Under Investigation/ PUI) harus
dilaporkan kepada negara dan departemen kesehatan setempat dan dievaluasi untuk
infeksi coronavirus baru :
1. Seseorang dengan infeksi saluran pernapasan akut, termasuk demam ( 38 C,
100.4 F) dan batuk ;

2. Kecurigaan penyakit parenkim paru ( misalnya , pneumonia atau sindrom


gangguan pernapasan akut berdasarkan bukti klinis atau radiologis konsolidasi);
3. Sebelumnya melakukan perjalanan ke Arab atau negara-negara tetangganya
dalam waktu 10 hari (CDC Health Alert Network, 2013).
Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan laboratorium untuk
sputum dari penderita. Virus corona dapat di kultur dari sediaan sputum (dahak)
menggunakan sel-sel ginjal kera, sel Vero dan dan sel LLC-MK2. Virus yang terinduksi
akan terjadi perubahan cythopathic yang tampak pada sel-sel tersebut pada 1-2 minggu
infeksi. Namun, perubahan-perubahan ini tidak spesifik untuk NcoV (Virus Corona) dan
untuk mendiagnosa pasti menggunakan RT-PCR (Reverse Transcription PCR). RT-PCR
yang dapat digunakan secara langsung pada sediaan klinis, contohnya respiratory swabs.
Optimalisasi real-time RT-PCR untuk mendeteksi secara spesifik sedang dikembangkan.
Dapat juga digunakan diagnosis tambahan RT-PCR dan tes serologi yang menggunakan
serum pasien yang telah sembuh (Mackay, 2014).
Virus MERS juga dapat ditemukan dari cairan tubuh lain darah, urin,dan feses
namun kegunaan sampel tersebut dalam mendiagnosa MERS masih belum diketahui
secara pasti (Kementrian kesehatan RI, 2013).

2.10
Penatalaksanaan
A. Deteksi dan tatakasana dini.
Virus corona diketahui dapat menimbulkan kesakitan pada manusia mulai dari ringan
sampai berat untuk itu kenali manifestasi Infeksi Saluran Napas Akut Berat. Sebelum
menentukan pasien suspek MERS-CoV harus dilakukan penilaian melalui:
a. Anamnesis : Demam suhu 38C, batuk dan sesak, ditanyakan pula riwayat
bepergian dari negara Timur Tengah 14 hari sebelum onset.
b. Pemeriksaan fisik: Sesuai dengan gambaran pneumonia.
c. Radiologi : Foto toraks dapat ditemukan infiltrate, konsolidasi sampai gambaran
ARDS.
d. Laboratorium : Ditemukan dari pemeriksaan PCR dari swab tenggorokan san
sputum.
B. Usaha yang telah dilakukan pemerintah untuk kesiapsiagaan MERS-CoV.
1. Peningkatan kegiatan pemantauan di pintu masuk Negara (point of entry).
2. Penguatan Surveilans epidemiologi termasuk surveilans pneumonia.

3. Pemberitahuan ke seluruh Dinkes Provinsi mengenai kesiapsiagaan menghadapi


MERS-CoV, sudah dilakukan sebanyak 3 kali.
4. Pemberitahuan ke 100 RS Rujukan Flu Burung, RSUD dan RS Vertikal tentang
kesiapsiagaan dan tatalaksana MERS-CoV.
5. Menyiapkan dan membagikan 5 dokumen terkait persiapan penanggulangan
MERS-CoV, yang terdiri dari:
A. Pedoman umum MERS-CoV.
B. Tatalaksana klinis.
C. Pencegahan infeksi.
D. Surveilans di masyarakat umum dan pintu masuk negara.
E. Diagnostik dan laboratorium.
6. Semua petugas TKHI sudah dilatih dan diberi pembekalan

dalam

penanggulangan MERS-Cov.
7. Menyiapkan pelayanan kesehatan haji di 15 Embarkasi / Debarkasi (KKP).
8. Meningkatkan kesiapan laboratorium termasuk penyediaan reagen dan alat
diagnostik.
9. Diseminasi informasi kepada masyarakat terutama calon jamaah haji dan umrah
serta petugas haji Indonesia.
10. Meningkatkan koordinasi lintas program dan lintas sektor seperti BNP2TKI,
Kemenlub, Kemenag, dan lain-lain tentang kesiapsiagaan menghadapi MERSCoV.
11. Melakukan koordinasi dengan pihak kesehatan Arab Saudi.
12. Meningkatkan hubungan Internasional melalui WHO dan lain-lain.

Tabel 2.2 Alur Penemuan Kasus dan Respon di Pintu Masuk (Kementrian Kesehatan RI, 2013)

Tabel 2.3 Alur Penemuan Kasus dan Respon di Wilayah (Kementrian Kesehatan RI, 2013).

C. Terapi.

Pengobatan yang bersifat spesifik masih belum ada, Pengobatan hanya bersifat
suportif tergantung kondisi keadaan pasien.
a

Terapi oksigen pada pasien ISPA berat / SARI.


Pada pasien dengan tanda depresi nafas berat, hipoksemia (SpO2 < 90%) atau
syok, pemberian oksigen dimulai dengan 5L / menit lalu dititrasi sampai spO2
90% pada orang dewasa yang tidak hamil dan SpO2 92-95% pada pasien hamil.

Antibiotik empirik untuk mengobati gejala pneumonia.


Pada pasien pneumonia komuniti (CAP) dan diduga terinfeksi MERS CoV, dapat
diberikan antibiotik secara empirik secepat mungkin sampai diagnosa ditegakkan,

kemudian disesuaikan dengan hasil uji kepekaan.


Management cairan konservatif pada pasien ISPA berat / SARI tanpa syok.
Pada pasien ISPA berat / SARI harus hati-hati dalam pemberian cairan intravena,
karena resusitasi cairan secara agresif dapat memperburuk oksigenasi

Pemberian kortikosteroid sistemik dosis tinggi atau terapi tambahan lainnya untuk
pneumonitits virus diluar konteks uji klinis tidak direkomendasikan. Pemberian
kortikosteroid sistemik dosis tinggi dapat menyebabkan efek samping yang serius
pada pasien dengan ISPA berat / SARI, termasuk infeksi oportunistik, nekrosis
avaskular, infeksi baru bakteri dan kemungkinan terjadi replikasi virus yang

berkepanjangan.
Belum ada vaksin yang tersedia untuk MERS CoV. (Kementrian Kesehatan RI, 2013).
D. Pencegahan
a. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama 20 detik.. Jika sabun dan air tidak
ada, bilas menggunakan hand sanitizer.
b. Tutup mulut dan hidung ketika batuk atau bersin kemudian tissue dibuang pada
tempat sampah.
c. Hindari menyentuh mata,hidung dan mulut sebelum mencuci tangan.
d. Hindari kontak dekat, seperti berciuman, berbagi cangkir, berbagi peralatan makan
dengan penderita atau kasus probable.
e. Gunakan masker untuk melindungi saluran pernafasan terutama saat bepergian ke
negara-negara yang terserang MERS-COV dan saat kontak dengan orang yang
mengalami atau dicurigai mengalami MERS.
f. Bersihkan dan beri disinfeksi pada permukaan yang sering disentuh seperti mainan
dan pegangan pintu. (cdc)

g. Hidari kontak dengan hewan-hewan yang dicurigai sebagai sumber penularan MERS
seperti unta (Indonesian Public Health, 2014)
h. Bagi orang dengan penyakit kronis seperti diabetes, penyakit janutn atau ginjal, serta
penyakit saluran pernafasan harus lebih berhati-hati saat melakukan perjalanan ke
negara-negara yang terserang MERS-COV
i. Rutin melakukan pemeriksaan kesehatan (Public Health Agency of Canada, 2014).

Tabel 2.4 Langkah-langkah pengendalian infeksi MERS (Kementrian Kesehatan RI, 2013)

E. Surveilans
Surveilans di pintu masuk dilakukan untuk mendeteksi dini dan respon serta
memastikan wilayah bandara, pelabuhan, dan lintas batas negara dalam keadaan tidak ada
transmisi virus MERS-CoV.
1) Kewaspadaan.
Kewaspadaan dilakukan terhadap dua hal yaitu waspada terhadap kasus MERS-Cov
yang masuk ke Indonesia untuk dilakukan deteksi dini dan respon, serta waspada
terhadap keamanan (transmisi virus MERS-CoV) wilayah bandara, pelabuhan dan

lintas batas negara (antar pengunjung, dari petugas bandara serta keluarganya
petugas, terutama petugas kesehatan yang kontak dengan kasus).
Upaya kewaspadaan:
a. Pemutakhiran informasi untuk perkembangan penyakit melalui website WHO,
laporan harian tentang jamaah haji di Saudi Arabia dan sumber lain yang
terpercaya misalnya web pemerintah / Kementerian Kesehatan Saudi Arabia.
b. Mengidentifikasi factor resiko yang member peluang terjadinya transmisi virus
MERS-CoV di bandara dan tindakan perbaikan (respon), misalnya petugas tidak
menggunakan masker, pemeriksaan pasien dalam investigasi, sirkulasi udara
ruangan pemeriksaan rentan, dan lain-lain.
c. Mendeteksi adanya kasus di poloklinik (laporan harian KKP).
d. Mendeteksi adanya kasus dengan gejala deman, batuk dan atau pneumonia
diantara petugas KKP atau otoritas bandara / pelabuhan / PLBL dan operator /
agen alat angkut yang kontak dengan penumpang dari jazirah Arab atau Negara
terjangkit.
2) Deteksi dini.
Deteksi dini dilakukan melalui pengawasan kedatangan terhadap orang, barang dan
alat angkut yang dating dari Negara terjangkit.
a. Pengawasan terhadap orang.
Pemberian Kartu Kewaspadaan Kesehatan Jamaah Haji (K3JH) terhadap
jamaah haji yang kembali atau Health Alert Card (HAC) bagi pelaku

perjalanan lainnya dari negara terjangkit.


Petugas menanyakan aktif pada operator dari tenaga kesehatan kloter / awak /
agen alat angkut yang baru saja meninggalkan negara terjangkit mengenai

ada tidaknya penumpang yang sakit, terutama yang menderita ISPA.


Mendeteksi penumpang dari negara terjangkit yang mengalami demam

melalui penggunaan Thermal Scanner di terminal kedatangan.


b. Pengawasan terhadap barang.
Pemeriksaan terhadap barang-barang yang dibawa dari negara terjangkit.
c. Pengawasan terhadap alat angkut.
Pemeriksaan terhadap dokumen-dokumen kesehatan alat angkut.
Pemeriksaan langsung kesehatan alat angkut oleh tim petugas KKP.
3) Kesiapsiagaan.
Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) melakukan tinjauan atas kesiapan perangkat
surveilans yang ada dalam menghadapi kemungkinan masuknya infeksi MERS-CoV
ke wilayah Indonesia. Dalam praktisnya ada 4 hal yang harus disiapkan sebagai

kesiapsiagaan yaitu : Peraturan, Pedoman, SOP di masing-masing KKP, Tim Gerak


Cepat, petugas terlatih, serta sarana, logistik dan biaya.
4) Respon.
a. Jika ada laporan dari crew yang menyatakan bahwa ada jamaah haji yang sakit
dengan gejala panas, batuk dan sesak napas di atas pesawat sebelum lamding
maka Petugas KKP melakukan persiapan untuk mengevakuasi penumpang yang
sakit. Persiapan yang dilakukan adalah petugas yang akan boarding ke pesawat
menggunakan APD standar (masker dan sarung tangan), menyiapkan ambulans
evakuasi penyakit menular dan menyiapkan ruang isolasi sementara.
b. Pesawat mendarat di remote area.
c. Petugas KKP yang sudah menggunakan APD standar menggunakan ambulans
mendekati pesawat yang membawa penumpang sakit.
d. Setelah pintu pesawat dibuka petugas KKP meminta Gendec kepada crew dan
petugas wajib menyampaikan SOP evakuasi penumpang sakit kepada crew
pesawat.
e. Pramugari memberikan pengumuman kepada seluruh jamaah haji bahwa akan
dilakukan penanganan oleh Petugas Kesehatan Bandara.
f. Prtugas KKP bersama pramugari menuju penumpang yang sakit dan
memakaikan masker N95 kepada penumpang yang sakit.
g. Orang yang kontak dengan penumpang yang sakit yaitu penumpang yang duduk
2 baris di depan, 2 baris belakang dan 2 baris kiri dan kanan dipasangkan masker
N95, diberikan penjelasan kepada penumpang tersebut dan diturunkan dari
pesawat setelah penumpang lain turun.
h. Penumpang yang sakit pneumonia berat dievakuasi ke Ruang Isolasi untuk
dilakukan penanganan medis sebelum dirujuk ke Rumah Sakit.
i. Seluruh penumpang harus melewati alat deteksi panas (Thermal Scanner).
j. Jamaah haji dengan demam, batuk tanpa pneumonia diperbolehkan pulang
dengan diberikan masker dan edukasi untuk kontrol ke puskesmas atau rumah
sakit apabila gejala berlanjut.
k. Jamaah haji dengan pneumonia tanpa memerlukan perawatan rumah sakit
diperbolehkan pulang dengan diberikan masker, pengobatan yang diperlukan
serta edukasi untuk isolasi diri (membatasi lingkungan di rumah) dan berobat ke
rumah sakit apabila gejala sakit bertambah berat.
l. Bila ditemukan kasus dalam penyelidikan (demam, batuk dan pneumonia berat),
lakukan tatalaksana kasus, ambil spesimen dan rujuk ke RS Debarkasi sesuai

SOP dengan memperhatikan prinsip-prinsip pencegahan dan pengendalian


infeksi.
m. Petugas KKP juga memberikan penyuluhan kepada kru tentang kewaspadaan
terhadap MERS-CoV seteah seluruh penumpang turun.
n. Petugas KKP melakukan tindakan disinfeksi pada tempat duduk penumpang
sakit dan 2 baris di depan, belakang, kanan dan kiri dengan bahan desinfektan
alcohol yang tidak merusak interior pesawat.
o. KKP mencatat data jamaah haji dengan pneumonia dan melaporkan data tersebut
ke Posko KLB dan ditembuskan ke Dinas Kesehatan Provinsi.
p. Mencatat data semua petugas semua unit otoritas bandara / pelabuhan / PLBD
yang sakit dan mengirimkan data tersebut setiap minggu ke Posko KLB,
termasuk bila tidak ada petugas yang sakit (zero reporting).
q. Melaporkan kasus dalam penyelidikan ke Posko KLB dengan tembusan Dinas
Kesehatan Provinsi dalam waktu 24 jam. (Kementrian Kesehatan RI, 2013).

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
MERS adalah singkatan dari Middle East Respiratory Syndrome yang
merupakan penyakit saluran pernapasan disebabkan oleh coronavirus yang juga
disebut MERS-CoV, Virus ini menyebabkan penyakit saluran pernafasan yang
berat dan akut dengan gejala-gejala seperti demam, batuk dan sesak. Pertama
kali dilaporkan terjadi di Arab Saudi pada tahun 2012 (CDC, 2014).
Virus mers menyebar ke Indonesia melalui Jemaah haji atau umroh yang
pulang dari arab Saudi, namun pemerintah telah melakukan pemeriksaan kepada
para Jemaah haji atau umroh yang pulang dengan gejala demam dan batuk, dan
sampai saat ini didapatkan hasil negatif, sepanjang Januari hingga April, pasien

dengan suspek MERS dinyatakan negatif setelah dilakukan pemeriksaan


polymerase charin reaction (PCR).

DAFTAR PUSTAKA
Ganong WF. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Ed. 22. Jakarta: EGC.
CDC Health Alert Network. 2013. Notice to Health Care Providers: Updated Guidelines for
Evaluation of Severe Respiratory Illness Associated with a Novel Coronavirus, USA,
<http://emergency.cdc.gov/HAN/han00343.asp>.
WHO. Middle east respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV) summary and literature
update-as
of
11
June
2014.
2014.
Available
http://www.who.int/csr/disease/coronavirus_infections/MERS-CoV_summary_update_
20140611.pdf?ua=1. Accessed: June 5, 2016.

at:

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Kewaspadaan terhadap Middle East


Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS- CoV), Jakarta, Indonesia.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Pedoman umum kesiapsiagaan menghadapi
Middle East Respiratory Syndrome- Coronavirus (Mers-CoV), Jakarta, Indonesia.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Pedoman surveilans dan respon
kesiapsiagaan menghadapi Middle East Respiratory Syndrome- Coronavirus (MersCoV), Jakarta, Indonesia.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Pedoman tatalaksana klinis infeksi saluran
pernapasan akut berat suspek Middle East Respiratory Syndrome- Coronavirus (MersCoV), Jakarta, Indonesia.