Anda di halaman 1dari 25

Presentasi Referat

Oleh :
Wicaksono Adi Suryo
11700389 / 15710386
Pance Herdy P
11700 / 15710
Pembimbing :
DR.dr. Emmy E.S SP.s
SUB DEPARTEMEN NEUROLOGI
RS TK. II dr. SOEPRAOEN-MALANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA
SURABAYA
2016

LATAR BELAKANG

Complete Spinal Transection (Transeksi Medula Spinalis)

Kerusakan total medula spinalis akibat lesi transversal yang


menyebabkan hilangnya seluruh fungsi neurologis medula
spinalis di bawah area yang terkena. Manifestasi yang paling
terasa oleh penderita adalah kelumpuhan (disfungsi
motorik). Complete injury merupakan hilangnya fungsi
sensoris dan motoris di segmen sacral terakhir (S4-S5).

CST diakibatkan oleh trauma kecelakaan. Dengan


berkembangnya ilmu pengobatan modern, 94% pasien
dapat bertahan hidup dengan rawat inap awal,
dibandingkan pada tahun 1927, hingga 80% korban dengan
cedera medula spinalis meninggal dalam beberapa minggu
pertama akibat komplikasi.

Prognosis kelumpuhan pada cedera tulang belakang


termasuk buruk, karena regenerasi neuron hampir bisa
dikatakan mustahil terjadi

Definisi

Complete Spinal Transection merupakan kerusakan pada


spinal atau tulang belakang - kerusakan pada setiap bagian
dari sumsum tulang belakang atau saraf pada akhir kanal
tulang belakang - sering menyebabkan perubahan
permanen dalam kekuatan, sensoris dan fungsi tubuh
lainnya di bawah tempat cedera

EPIDEMIOLOGI

Kejadian pertahun cedera tulang belakang diperkirakan


pada 30 - 40 per 1.000.000 orang, sekitar 8.000 hingga
10.000 kasus per tahun. Prevalensi 900-950 per 1.000.000,
sekitar 250.000 pasien sekarang di Amerika Serikat. Angka
kematian sebesar 48%, 80% dari kematian terjadi di tempat
kecelakaan. Setelah masuk rumah sakit, kematian sebesar
4% sampai 17%. Cedera yang paling umum terjadi pada C-5,
C-4 dan C-6. Tingkat yang lebih rendah paling umum adalah
T-12 diikuti oleh L-1 dan T-10.

KLASIFIKASI

TMS Cervical

TMS (Transeksi Medula Spinalis) cervical, di atas Ver. C.III fatal


karena dapat menghilangkan fungsi N. frenikus dan N. interkostales
secara total sehingga dapat menghentikan pernapasan. Gejala lain:
nyeri hebat di occiput dan leher, pernapasan dapat sangat
terganggu. Muscle wasting: deltoid, biceps, brakhioradialis,
infraspinatus, supraspinatus, rhomboideus.

TMS Thoraks

TMS Thoraks bagian atas tidak mengganggu ekstrimitas atas


tapi mengganggu pernapasan dan menimbulkan ileus
paralitik melalui keterlibatan N. splankhnikus. Cidera di atas
T6 menimbulkan autonomic dysreflexia (kehilangan regulasi
kranial) hipertensi, retensi urin/alvi, berkeringat, nyeri
kepala.

TMS Lumbal

TMS Lumbal sering menyebabkan gangguan yang berat karena


diikuti kerusakan arteri utama yang menyuplai medulla spinalis
bagian bawah, arteri radikularis mayor (Adamkiewicz). Hasilnya
adalah infark seluruh medulla spinalis lumbalis dan sakralis.
Efek cedera medula spinalis lumbal menyebabkan disfungsi
kandung kemih, usus, dan seksual.

Sindrom Epikonus

Sindrom epikonus disebabkan lesi medulla spinalis setinggi


L4-S1: kelemahan rotasi eksterna panggul, ekstensi
panggul, fleksi lutut, fleksi dan ekstensi pergelangan kaki
dan jari-jari kaki. Reflek Achilles menghilang, reflek lutut
tetap ada, potensi seksual hilang, kemampuan berkeringat
hilang sementara.

Sindrom Konus

Sindrom konus disebabkan oleh lesi medulla spinalis S3 ke


bawah. Sering disebabkan oleh tumor spinal, iskemia atau
herniasi diskus lumbal yang masif. Menifestasi: arefleksia
detrusor inkontinensia overflow, retensi urin,
inkontinensia alvi, impotensi, saddle anesthesia, hilangnya
reflek ani.

ETIOLOGI

Kompresi Medula Spinalis:


Fraktur

kompresi

Tumor
Herniasi

diskus

Spondylosis
Epidural
Pott

disease (TB spinal)

Oklusi

abcess

arteri

Systemic degeneration
Multiple
Motor

sclerosis

Neuron disease

Subacute

combined degeneration of cord

Infeksi
Transverse

myelitis

Akut:

Staphylococcal, Kronis: Tuberculous, Syphilitic


(Neurosyphilis=Tabes Dorsalis)

Parasit:

Hydatid, Cysticercosis, Schistosomiasis, Falciparum

Malaria
Viral:

Thypus Fever, Spotted Fever

Fungal:

Cryptococcus, Actinomycosis, Coccidiomycosis

Autoimun
Guillain-Barre

Syndrome (paraplegia without sensory loss)

Kelainan

autoimun

Sindrom

post-vaksin (Rabies, Tetanus, Polio)

PATOFISIOLOGI

Cedera hasil dari dampak dan kompresi saraf tulang belakang yang
mengakibatkan kerusakan pada pembuluh darah intramedullary
menyebabkan perdarahan di sentral zona abu-abu dan kemungkinan
adanya vasospasme.

Cedera primer tidak dapat diobati. Akibat suatu trauma mengenai


tulang belakang, seperti jatuh dari ketinggian, kecelakaan lalu lintas,
kecelakan olahraga. Kerusakan dapat berakibat terganggunya
peredaran darah, blok syaraf, pelepasan mediator kimia, kelumpuhan
otot pernafasan, nyeri hebat dan akut anestesi.

TANDA DAN GEJALA KLINIS

Ekstrim nyeri atau tekanan di leher, kepala atau punggung

Kesemutan atau hilangnya sensasi di tangan, jari, kaki, tangan atau kaki

Parsial atau lengkap kehilangan kontrol atas setiap bagian dari tubuh

Kemih atau usus urgensi, inkontinensia, atau retensi

Kesulitan dengan keseimbangan dan berjalan

Abnormal-band seperti sensasi di dada - nyeri, tekanan

Gangguan pernapasan setelah cedera

Benjolan di kepala atau tulang belakang

PEMERIKSAAN FISIK

Inspeksi: deformitas pada tulang belakang (akibat trauma, proses


destruktif neoplasma atau infeksi)

Palpasi: nyeri radikuler, krepitasi, tenderness di tulang belakang


(akibat trauma, proses destruktif neoplasma atau infeksi)

Pemeriksaan khusus sensoris: menggunakan pinprick dan sentuhan


ringan pada tubuh

Pemeriksaan khusus motoris: pasien diminta menggerakan kelompok


otot sesuai dengan miotom masing-masing radiks medulla spinalis.

Titik-titik Lokasi Pemeriksaan Pinprick


dan Sentuhan Ringan Pada Tubuh

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Plain foto: Cervical, thoraks, abdomen/lumbal (AP/Lat) untuk


melihat adanya fraktur vertebrae.

Darah lengkap, urin lengkap

Pungsi Lumbal analisis CSF

MRI Vertebral: Merupakan definitive imaging technique

Neurofisiologi: EMG (untuk memeriksa continuitas myelin dan akson)

Tes perspirasi menilai fungsi saraf otonom

Anamnesa

Cara kejadian: trauma, riwayat infeksi

Usia muda: penyakit bawaan

Usia tua: keganasan

Durasi: akut (GBS, transverse myelitis, kompresi), kronis (MND,


polyneuropathy, muscle dystrophy)

Gangguan sfingter retensi urin/alvi

Nyeri radikuler

Keluhan unilateral/bilateral

Nyeri kepala

Nyeri punggung

DIAGNOSIS BANDING

DDx. Penyakit-penyakit dengan manifestasi Paraplegia dengan tipe LMN


maupun yang berasal dari Cerebri :

Lesi LMN

Poliomyelitis

MND

Myasthenia gravis

Muscular dystrophy

Lesi UMN cerebral:

Tumor

Thrombosis

Hydrocephalus

TERAPI
Pengobatan pasien tulang belakang meliputi lima tahap:

Perawatan darurat dengan memperhatikan sirkulasi, saluran napas


paten, sesuai imobilisasi tulang belakang, dan mengirim ke pusat
khusus;

Pengobatan masalah medis umum (misalnya, hipotensi, hipoksia,


poikilothermy, ileus),

Keselarasan tulang belakang,

Dekompresi bedah dari sumsum tulang belakang, jika diindikasikan

Program rehabilitasi terstruktur dengan baik.

Kombinasi terapi metilprednisolon diikuti oleh gangliosides sedang


diuji. Methylprednisolone diberikan melalui suntikan bolus 30 mg / kg
diikuti dengan 5,4 mg / kg perjam selama 23 jam

REHABILITASI

Tujuan utama untuk pasien dengan cedera spinal adalah


ambulasi dan kemandirian ekonomi. Hal ini dapat dicapai
pasien yang mengalami luka di bawah area serviks dan
paling baik dilakukan di sebuah pusat rehabilitasi dengan
personil terlatih dan peralatan yang memadai. Kerjasama
yang baik antara pasien dengan therapist dibutuhkan.
Ketika lengan yang lumpuh, tujuan terapi lebih terbatas.

PROGNOSIS

Prognosis untuk pemulihan fungsi neurologis dan oleh perubahan


dalam tingkat sumsum tulang belakang. Pemulihan fungsi neurologis
tergantung pada sifat dan keparahan cedera, cedera yang
berhubungan, usia, kesehatan umum, perawatan darurat, operasi
yang tepat, dan komplikasi.

Pengetahuan tentang tempat dan keparahan cedera dan tingkat


hilangnya fungsi neurologis sangat penting dalam memprediksi
pemulihan fungsi. Sekarang penting untuk membedakan antara
pemulihan neurologis dan pemulihan fungsional.

SARAN

Saran bagi pasien, agar bisa lebih hati-hati dalam beraktifitas


khususnya yang banyak menggunakan aktivitas lebih, pasien saat
beraktifitas bila terasa nyeri sebaiknya di kompres dengan air hangat
selain menjalani terapi yang teratur, latihan di rumah juga lebih baik
dalam menentukan keberhasilan pasien dan kesabarannya juga
diperlukan untuk mendapatkan hasil dari pasien yang diinginkan.

Kepada masyarakat, hendaknya tetap menjaga kesehatan dan


kebugaran melalui aktifitas yang seimbangan

TERIMA KASIH