Anda di halaman 1dari 14

SYARAT BERBAHASA INDONESIA UNTUK TENAGA KERJA

ASING
MAKALAH
diajukan untuk memenuhi tugas
MKDU Bahasa Indonesia
Dosen Pengampu : Welsi Damayanti, M.Pd.

oleh
Rendi Fauzi Maulana
15033476

PROGRAM STUDI PENDIDDIKAN MANAJEMEN BISNIS


FAKULTAS PENDIDIKAN EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA
sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa saya juga
mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi
dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan saya semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman saya, Saya yakin masih
banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu saya sangat mengharapkan
saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Jakarta, Desember 2015

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
BAB I.......................................................................................................................1
1.1

Latar Belakang..........................................................................................1

1.2

Rumusan Masalah.....................................................................................2

1.3

Tujuan Penulisan.......................................................................................3

1.4

Manfaat Penulisan.....................................................................................3

BAB II......................................................................................................................4
2.1

Landasan Teori..........................................................................................4

2.2

Pembahasan...............................................................................................7

2.2.1

Alasan Pemerintah.............................................................................7

2.2.2

Bahasa Indonesia Penghambat Perekonomian...................................8

BAB III..................................................................................................................10
3.1

Kesimpulan..............................................................................................10

3.2

Saran........................................................................................................10

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................11

ii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penggunaan bahasa amatlah esensial dalam kehidupan bernegara. Selain
sebagai suatu sarana berkomunikasi, bahasa adalah simbol dari identitas suatu
negara. Indonesia, sebagai negara pun telah melalui jalan terjal dalam hal
penggunaan bahasa, yakni dalam sumpah pemuda 28 Oktober 1928. Salah satu
poin dari sumpah pemuda tersebut adalah penggunaan bahasa Indonesia sebagai
bahasa resmi negara kita. Lebih lanjut, dalam Pasal 1 ayat (2) UU No 24 Th 2009
menyatakan bahasa negara kesatuan Republik Indonesia yang selanjutnya disebut
Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi nasional yang digunakan di seluruh
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka, sangatlah jelas dalam hal
penggunaan bahasa maka seluruh warga Negara, baik Indonesia maupun asing
wajib menggunakan bahasa Indonesia di dalam wilayah Negara Indonesia, tanpa
terkecuali. Bahkan, dalam pidato resmi Bahasa Indonesia wajib digunakan
Presiden, Wakil Presiden, dan pejabat negara yang lain yang disampaikan di
dalam atau di luar negeri. Poin pada pasal 28 ini (bahkan) menurut penulis sangat
menggambarkan harga diri bangsa Indonesia yang tinggi dan sejajar dengan
Negara-negara di dunia, karena kewajiban menggunakan bahasa Indonesia dalam
forum resmi internasional.
Akan tetapi, belakangan ternyata terdapat pro kontra dalam dunia kerja.
Belum terlalu lama kita memperingati hari kemerdekaan yang ke 70, (ternyata),
bagaimana tidak, Presiden Joko Widodo meminta kepada Menteri Tenaga Kerja M
Hanif Dhakiri untuk meniadakan penggunaan bahasa Indonesia untuk tenaga kerja
asing dengan alasan penggunaan bahasa Indonesia menjadi halangan untuk
kemajuan perekonomian. Alasan yang benar-benar tidak dapat diterima oleh akal
sehat, belum lagi segudang alasan lainnya. "Memang disampaikan secara spesifik
oleh presiden membatalkan persyaratan berbahasa Indonesia untuk pekerja asing
di Indonesia," kata Pramono saat dihubungi wartawan, Jumat (21/8/2015). Kata
1

2
Pramono, kebijakan itu diambil untuk mempermudah datangnya para investor ke
tanah air. "Presiden ingin semua regulasi yang menjadi barrier (pembatas) direvisi,
termasuk peraturan di tingkat pusat dan tingkat daerah," ucapnya. Bagaimana cara
pandang seperti ini? Bahasa Indonesia dianggap pembatas/penghalang? Apa yang
terjadi dikalangan Pemimpin kita?
Dus, perintah Presiden ini pun ternyata langsung direspon cepat oleh Menaker
dengan merevisi Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) Nomor 12 Tahun
2013 yang isinya mengatur tentang syarat bagi pekerja asing memiliki
kemampuan berbahasa Indonesia. Peraturan tersebut direvisi dengan Permenaker
Nomor 16 Tahun 2015 pada Juni lalu. Dengan demikian, pekerja asing tidak lagi
diwajibkan

untuk

memiliki

kemampuan

berbahasa

Indonesia.

Menteri

Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri mengakui penghapusan syarat yang


merupakan permintaan Presiden Jokowi itu sudah diakomodasi dengan diterbitkan
Permenaker Nomor 16/2015 tentang Tata Cara Penggunaan Tenaga Kerja Asing.
Dalam Permenaker baru itu tidak ada aturan yang mewajibkan tenaga kerja asing
(TKA) memiliki kemampuan berbahasa Indonesia. "Arahan Presiden itu sudah
ditindaklanjuti dengan Permenaker Nomor 16 yang disahkan oleh Menkumham
29 Juni kemarin. Dalam regulasi itu TKA tidak lagi dikenakan syarat berbahasa
Indonesia," katanya melalui pesan singkat, Minggu (23/8/2015).
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas dapat dirumuskan masalah dalam dihapuskannya
syarat berbahasa indonesia bagi tenaga kerja asing adalah sebagai berikut :
1. Mengapa Pemerintah menghapus syarat berbahasa indonesia bagi Tenaga
Kerja Asing (TKA) ?
2. Mengapa Bahasa Indonesia dianggap menjadi penghambat dalam
perkembangan Perekonomian Indonesia ?

3
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui tepatkah kebijakan pemerintah untuk menghapus syarat
Berbahasa Indonesia bagi Tenaga Kerja Asing (TKA).
2. Untuk mengetahui kedudukan serta fungsi Bahasa Indonesia
1.4

Manfaat Penulisan
Penulisan Makalah ini membuktikan mulai menurunnya eksistensi Bahasa

Indonesia di dalam maupun di luar negeri, dengan penulisan makalah ini


diharapkan dapat memberi kesadaran bahwa Bahasa Indonesia sangat penting bagi
Negara Indonesia sebagai identitas bangsa.

BAB II
PEMBAHASAN
a.

Landasan Teori
Jati diriatau yang lazim juga disebut identitasmerupakan ciri khas yang

menandai seseorang, sekelompok orang, atau suatu bangsa. Jika ciri khas itu
menjadi milik bersama suatu bangsa, hal itu tentu menjadi penanda jati diri
bangsa tersebut. Seperti halnya bangsa lain, bangsa Indonesia juga memiliki jati
diri yang membedakannya dari bangsa yang lain di dunia. Jati diri itu sekaligus
juga menunjukkan keberadaan bangsa Indonesia di antara bangsa lain. Salah satu
simbol jati diri bangsa Indonesia itu adalah bahasa, dalam hal ini tentu bahasa
Indonesia. Hal itu sejalan dengan semboyan yang selama ini kita kenal, yaitu
bahasa menunjukkan bangsa.
Setiap bahasa pada dasarnya merupakan simbol jati diri penuturnya, begitu
pula halnya dengan bahasa Indonesia juga merupakan simbol jati diri bangsa.
Oleh karena itu, bahasa Indonesia harus senantiasa kita jaga, kita lestarikan, dan
secara terus-menerus harus kita bina dan kita kembangkan agar tetap dapat
memenuhi fungsinya sebagai sarana komunikasi modern yang mampu
membedakan bangsa kita dari bangsa-bangsa lain di dunia. Lebih-lebih dalam era
global seperti sekarang ini, jati diri suatu bangsa menjadi suatu hal yang amat
penting untuk dipertahankan agar bangsa kita tetap dapat menunjukkan
keberadaannya di antara bangsa lain di dunia. Namun, bagaimana kondisi
kebahasaan kita sebagai jati diri bangsa saat ini?
Kalau kita lihat secara cermat, kondisi kebahasaan di Indonesia saat ini
cukup memprihatinkan, terutama penggunaan bahasa Indonesia di tempat umum,
seperti pada nama bangunan, pusat perbelanjaan, hotel dan restoran, serta
kompleks perumahan, sudah mulai tergeser oleh bahasa asing, terutama bahasa
Inggris. Tempat yang seharusnya menggunakan bahasa Indonesia itu mulai
banyak yang menggunakan bahasa yang tidak lagi menunjukkan jati diri
keindonesiaan. Akibatnya, wajah Indonesia menjadi tampak asing di mata
4

5
masyarakatnya sendiri. Kondisi seperti itu harus kita sikapi dengan bijak agar kita
tidak menjadi asing di negeri sendiri.
Di sisi lain, kita juga melihat sikap sebagian masyarakat yang tampaknya
merasa lebih hebat, lebih bergengsi, jika dapat menyelipkan beberapa kata asing
dalam berbahasa Indonesia, padahal kosakata asing yang digunakannya itu ada
padanannya dalam bahasa Indonesia. Misalnya, sebagian masyarakat lebih suka
menggunakan kata di-follow up-i, di-pending,meeting, dan on the way. Padahal,
kita memiliki kata ditindaklanjuti untuk di-follow up-i, kataditunda untuk dipending, pertemuan atau rapat untuk meeting, dan sedang di jalan untuk on the
way, lalu mengapa kita harus menggunakan kata asing? Sikap yang tidak
menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia itu, harus kita kikis karena kita
harus mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia sebagai simbol jati diri
bangsa.
Tidak seharusnya kita membiarkan bahasa Indonesia larut dalam arus
komunikasi global yang menggunakan media bahasa asing seperti itu. Jika hal
seperti itu kita biarkan, tidak tertutup kemungkinan jati diri keindonesiaan kita
sebagai suatu bangsa pun akan pudar, bahkan tidak tertutup kemungkinan
terancam larut dalam arus budaya global. Jika hal itu terjadi, jangankan berperan
di tengah kehidupan global, menunjukkan jati diri keindonesiaan kita sebagai
suatu bangsa pun kita tidak mampu. Kondisi seperti itu tentu tidak akan kita
biarkan terjadi. Oleh karena itu, diperlukan berbagai upaya agar jati diri bangsa
kita tetap hidup di antara bangsa lain di dunia. Dalam konteks kehidupan global
seperti itu, bahasa Indonesia sesungguhnya selain merupakan jati diri bangsa,
sekaligus juga merupakan simbol kedaulatan bangsa.
Selain bahasa Indonesia, sastra Indonesia juga merupakan bagian dari
simbol jati diri bangsa. Hal itu karena sastra pada dasarnya merupakan
pencerminan, ekspresi, dan media pengungkap tata nilai, pengalaman, dan
penghayatan masyarakat terhadap kehidupan sebagai suatu bangsa. Oleh karena
itu, segala sesuatu yang terungkap dalam karya sastra Indonesia pada dasarnya
juga merupakan pencerminan dari jati diri bangsa Indonesia.

6
Jika sebagai suatu bangsa, salah satu simbol jati diri kita adalah bahasa dan
sastra Indonesia; sebagai anggota suatu komunitas etnis di Indonesia, simbol jati
diri kita adalah bahasa dan sastra daerah. Oleh karena itu, sebagai suatu simbol
jati diri kedaerahan, bahasa dan sastra daerah juga harus kita jaga dan kita pelihara
untuk menunjukkan jati diri dan kebanggaan kita sebagai anggota masyarakat
daerah.
Sebagai warga negara Indonesia, kita tidak boleh kehilangan jati diri kita
sebagai suatu bangsa dan sebagai putra daerah, kita tidak boleh kehilangan jati diri
kedaerahan kita agar kita tidak tercerabut dari akar budayanya. Sebagai putra
daerah, kita tidak boleh kehilangan jati diri kedaerahannya, dan sebagai putra
Indonesia, kita tidak boleh kehilangan jati diri kita sebagai suatu bangsa.
Selain terungkap dalam simbol bahasa dan sastra, jati diri kita tercermin
pula dari kekayaan seni budaya, adat istiadat atau tradisi, tata nilai, dan juga
perilaku budaya masyarakat. Terkait dengan itu, Indonesia amat kaya akan
keragaman seni budaya, adat istiadat atau tradisi, dan juga tata nilai dan perilaku
budaya. Sebagai unsur kekayaan budaya bangsa, seni budaya, adat istiadat atau
tradisi, tata nilai, dan perilaku budaya perlu dilestarikan dan dikembangkan
sebagai simbol yang dapat mencerminkan jati diri bangsa, baik dalam kaitannya
dengan jati diri lokal maupun jati diri nasional.
Satu hal lagi yang dapat menjadi simbol jati diri adalah kearifan lokal.
Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki kearifan lokal yang merupakan
pencerminan sikap, perilaku, dan tata nilai komunitas pendukungnya. Kearifan
lokal itu dapat digali dari berbagai sumber yang hidup di masyarakat, yang
diwariskan secara turun-temurun dari generasi leluhurnya dalam bentuk pepatah,
tembang, permainan, syair, kata bijak, dan berbagai bentuk lain. Kearifan lokal itu
sarat nilai yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan masa kini yang dapat
memperkuat kepribadian dan karakter masyarakat, serta sekaligus sebagai
penyaring pengaruh budaya dari luar.
Sebagai simbol jati diri bangsa, bahasa Indonesia harus terus dikembangkan
agar tetap dapat memenuhi fungsinya sebagai sarana komunikasi yang modern

7
dalam berbagai bidang kehidupan. Di samping itu, mutu penggunaannya pun
harus terus ditingkatkan agar bahasa Indonesia dapat menjadi sarana komunikasi
yang efektif dan efisien untuk berbagai keperluan. Upaya ke arah itu kini telah
memperoleh landasan hukum yang kuat, yakni dengan telah disahkannya UndangUndang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara,
serta Lagu Kebangsaan. Undang-undang tersebut merupakan amanat dari Pasal 36
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan sekaligus
merupakan realisasi dari tekad para pemuda Indonesia sebagaimana diikrarkan
dalam Sumpah Pemuda, tanggal 28 Oktober 1928, yakni menjunjung bahasa
persatuan bahasa Indonesia.
Dalam menjalani kehidupan pada era global saat ini, jati diri lokal ataupun
jati diri nasional tetap merupakan suatu hal yang amat penting untuk
dipertahankan agar kita tetap dapat menunjukkan keberadaan kita sebagai suatu
bangsa. Jati diri itu sama pentingnya dengan harga diri. Jika tanpa jati diri, berarti
kita tidak memiliki harga diri. Atas dasar itu, agar menjadi suatu bangsa yang
bermartabat, jati diri bangsa itu harus diperkuat, baik yang berupa bahasa dan
sastra, seni budaya, adat istiadat, tata nilai, maupun perilaku budaya dan kearifan
lokalnya.
Untuk memperkuat jati diri itu, baik yang lokal maupun nasional,
diperlukan peran serta berbagai pihak dan dukungan aturan serta sumber daya
yang memadai. Peran serta masyarakat juga sangat diperlukan dalam memperkuat
jati diri bangsa itu. Dengan jati diri yang kuat, bangsa kita akan makin
bermartabat sehingga mampu berperanbahkan juga bersaingdalam kancah
kehidupan global.
b.

Pembahasan
i.

Alasan Pemerintah
Cukup mengejutkan memang mendengar bahwa Pemerintah menghapus

syarat berbahasa Indonesia bagi Tenaga Kerja Asing, Pemerintah beralasan bahwa
kebijakan ini dibuat untuk memudahkan mendatangkan investasi asing ke negara

8
ini. Namun, alasan tersebut tampaknya hanya dibuat-buat untuk membenarkan
langkahnya, karena tidak ada hubungan yang pasti antara mengundang investor
asing dan menghapus keharusan berbahasa Indonesia bagi TKA.
Investor bukan hanya satu negara. Kita bisa mencari yang lain jika ada yang
tidak mau dengan syarat tersebut. Kita harus memiliki kemandirian bangsa. Meski
kita saat ini memang sedang membutuhkan sebanyak-banyaknya investor asing
masuk ke dalam negeri, jangan pernah kita sampai didikte oleh investor dari
manapun. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menarik investor asing ke
negara kita.
Misalnya dengan memberikan kepastian hukum, kemudahan perizinan bagi
investor, atau menciptakan situasi yang kondusif. Hal-hal tersebut bahkan lebih
penting dan perlu disiapkan oleh pemerintah Indonesia untuk mengundang para
investor asing ke Indonesia. Melihat alasan-alasan di atas, kebijakan pemerintahan
Presiden Joko Widodo (Jokowi) tersebut terlihat sangat aneh, terburu-buru, dan
terkesan dipaksakan, apalagi ternyata kebijakan tersebut sudah berlaku sejak akhir
Juli lalu.Yang ada akhirnya adalah muncullah berbagai spekulasi di masyarakat
yang justru tidak mendukung kebijakan tersebut.
ii. Bahasa Indonesia Penghambat Perekonomian
Pemerintah menyebutkan bahwa dihapusnya bahasa indonesia sebagai syarat
bagi Tenaga Kerja Asing karena banyaknya komplain dari inverstor tentang
penggunaan bahasa indonesia tersebut dan dengan dihapusnya syarat ini dapat
mengundang investor asing masuk ke Indonesia.Namun, kebijakan tersebut telah
melanggar UU No.24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara
serta Lagu Kebangsaan. Yang menyebutkan bahwa bendera, bahasa, dan lambang
negara, serta lagu kebangsaan Indonesia merupakan sarana pemersatu, identitas,
dan wujud eksistensi bangsa yang menjadi simbol kedaulatan dan kehormatan
negara sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945. UU No.24 Tahun 2009 mewajibkan bahasa Indonesia
digunakan dalam kontrak kerja di perusahaan negara, swasta dan lainnya.

9
Jadi, Bahasa Indonesia justru sebuah kebanggaan yang seharusnya
dibanggakan oleh semua element masyarakat Indonesia. Bukannya membuat
bahasa indonesia tidak lagi dianggap oleh masyarakat asing maupun masyarakat
indonesia sendiri.

BAB III
PENUTUP
a.

Kesimpulan
Dihapusnya syarat berbahasa indonesia, bukan satu-satunya cara untuk

menarik investor asing masuk ke Indonesia.namun, banyak hal yang bisa kita
lakukan. Misalnya dengan memberikan kepastian hukum, kemudahan perizinan
bagi investor, atau menciptakan situasi yang kondusif. Hal-hal tersebut bahkan
lebih penting dan perlu disiapkan oleh pemerintah Indonesia untuk mengundang
para investor asing ke Indonesia.
Bahasa Indonesia justru sebuah kebanggaan yang seharusnya dibanggakan
dan dipertahankan eksistensinya oleh semua element masyarakat Indonesia.
Bukannya membuat bahasa indonesia tidak lagi dianggap oleh masyarakat asing
maupun masyarakat indonesia sendiri.
b.

Saran
Bahasa Indonesia seharusnya diwajibkan bagi Tenaga Kerja Asing, karena

Bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi negara kita. Dimana pun kita berada,
Bahasa Indonesia perlu ditanamkan. Karena Bahasa Indonesia adalah bahasa
kesatuan.

10

DAFTAR PUSTAKA
Septiawan, Alfero 2015, Penggunaan Bahasa Indonesia [online]. Tersedia :
http://www.hukumpedia.com/alfero_/penggunaan-bahasa-indonesia.

[23

November 2015]
Dwi, Ima Ratna 2015, Keputusan Presiden RI tentang Penghapusan Aturan Warga
Negara

Asing

Wajib

Berbahasa

Indonesia

[online].

Tersedia

http://dellyna.blogspot.co.id/2015/11/keputusan-presiden-ri-tentang.html.

:
[1

Desember 2015]
Mustakim, 2014, Bahasa sebagai Jati Diri Bangsa [online]. Tersedia :
http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/artikel/321. [1 Desember 2015]

11