Anda di halaman 1dari 21

Kehutanan adalah suatu praktik untuk membuat, mengelola, menggunakan dan melestarikan

hutan untuk kepentingan manusia.


Undang-Undang Republik Indonesia No 41 tahun 1999 tentang kehutanan, definisi kehutanan
adalah sistem pengurusan yang bersangkut paut dengan hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan
yang diselenggarakan secara terpadu.
Menurut Simon (1998), perkembangan teori pengelolaan hutan dapat dikelompokkan ke dalam
dua kategori, yaitu kategori kehutanan konvensional dan kategori kehutanan modern (kehutanan
sosial).
Kehutanan Konvensional
Teori pengelolaan hutan yang termasuk ke dalam kehutanan konvensional adalah
penambangan kayu atau timber extraction (TE) dan perkebunan kayu atau timber management
(TM).
Kehutanan Modern
Kehutanan sosial adalah pengelolaan hutan sebagai sumberdaya atau forest resource
management (FRM) dan pengelolaan hutan sebagai ekosistem atau forest ecosystem
management (FEM). Keduanya disebut juga dengan istilah lain Sustainable Forestry
Management (SFM). Ketiga teori pengelolaan hutan tersebut, secara evolutif berkembang, sejak
dari mulai penambangan kayu (TE) hingga sampai pada pengelolaan ekosistem hutan (FEM).
Perubahan Konsep Kehutanan
Kehutanan merupakan aspek ekologis yang berada di atas permukaan bumi, kehutanan dari
segi pembentukannya terdiri dari 2 (dua) cara, yaitu terbentuk alamiah dan buatan.
Perkembangan tehnologi telah menciptakan teori yang dapat mengembalikan fungsi hutan alam,
dengan dasar tersebut pengelolaan hutan lebih dititikberatkan kepentingan secara menyeluruh.
Bumi dengan segala macam di dalam dan di permukaan dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya
oleh manusia sebagai penghuninya. Pengelolaan hutan sebaiknya diselaraskan dengan

pengelolaan sumber daya alam yang lainnya, sehingga pemanfaatan sumber daya dapat terjalin
dengan baik dan menguntungkan.

POTENSI KEHUTANANA
1. Luas Kawasan Hutan
Luas kawasan hutan Papua berdasarkan Keputusan Menhutbun Nomor 891/Kpts-II/1999
seluas 42,224 juta Ha. Kawasan hutan tersebut dibagi dalam kelompok fungsi hutan lindung,
hutan suaka alam dan pelestarian alam, hutan produksi terbatas, hutan produksi tetap, hutan
produksi yang dapat dikonversi dan kawasan perairan.
Penyebaran dan keadaan dari masing-masing tipe hutan di Indonesia adalah sebagai
berikut:
a. Hutan hujan tropika, terdapat padawilayah yang mempunyai tipe iklim A dan B dengan
curah hujan diatas 1.600 mmper tahun, pada berbagai jenis tanah antara lain podsol, latosol,
podsolik,aluvial dan regosol dengan drainase yang cukup baik. Letak areal hutan hujan tropika
ini biasanya cukup jauh dari pantai dan tidak dipengaruhi pasang surut air. Vegetasi didalamnya
didominasi oleh jenis-jenis yang tidak menggugurkan daun, hijau sepanjang tahun (evergreen).
Jenis-jenis dominan terdiri dari famili Dipterocrpaceae, Agathis, Pinus Merkusii, Podocarpus,
Pometia, Instiabi juga dan lain-lain.
b.

Hutan gambut, terdapat diwilayah beriklim A dan B pada tanah organosol dengan

lapisan gambut yang mempunyai ketebalan rata-rata 150 cm atau lebih, biasanya bersambung
dengan hutan bakau dan pada umumnya terletak dibelakang hutan rawa. Daerah penyebarannya
terutama di sekitar, muara S.Mamberamo dan muara

S. Digul.Jenis-jenis tumbuhan yang

banyak dijumpai pada tipe hutan ini antara lain Shoreaspp, Palaqium spp, Tetramerista glabra dan
Koompassiana malaccensis
c. Hutan rawa,terdapat pada tanah alluvial yang selalu tergenang air tawar atau daerah yang
sangat sering dilanda banjir, tepi danau. Tipe hutan ini tidak terpengaruh oleh perubahan iklim
dan biasanya terdapat dibelakang hutan pantai. Daerah penyebarannya di daerah kepala burung

dan bagian selatan Pulau Papua. Jenis-jenis Tumbuhan yang banyak ditemui pada tipe hutan ini
diantaranya Palaqium telocarpum, Camnoperma macrophylla,Eugenia spp, Kompassia spp dan
lain-lain.
d. Hutan pantai,terdapat pada daerah-daerah kering dipinggir pantai pada tanah berpasir
dan berbatu-batu diatas garis pasang surut. Jenis-jenis yang mendominasi tipe hutan ini antara
lain Barringtonia speciosa,Terminalia cattapa, Callophylum inophylum, Pandanus spp dan lainlain.
e. Hutan payau,tumbuh pada pantai dengan tanah lumpur atau pasir pada daerah yang
selalu digenangi pasang surut air laut. Penyebaranya meliputi daerah Bintun (Provinsi Papua
Barat), Waropen dan pesisir selatan Papua. Jenis-jenis utama penyusun tipe hutan ini adalah
Avicenia spp, Sonneratia spp, Rhizophora spp dan Bruguieraspp.
Dengan kondisi yang ada saat ini, sumber daya hutan menjadi salah satu modal
pembangunan baik dari segi produksi hasil hutan,maupun dari segi fungsinya sebagai plasma
nutfah serta sistem penyangga kehidupan.
2. Perkembangan Penunjukan Kawasan Hutan
Sumber daya tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal,maka kawasan hutan dibagi
menjadi beberapa kelompok sesuai dengan fungsinya yaitu :
1. Hutan produksi, yaitu kawasan hutan yang diperuntukkan bagi produksi kayu,
rotan,getah, dan hasil hutan lainnya. Hutan produksi ini terdiri dari hutan produksi tetap
dan hutan produksi terbatas dan meliputi 30 % dari luas kawasan hutan diPapua
(kurang lebih 12.673.200 juta hektar).
2. Hutan lindung,yaitu kawasan hutan yang memiliki sifat fisik yang khas yang harus
dijaga keberadaannya sehingga fungsinya terutama sebagai pengatur tata air, dapat
dipelihara dan dipertahankan. Luas hutan lindung adalah 10.619.090 hektar atau 25 %
3.

dari luas seluruh kawasan hutan yang ada.


Hutan suaka alam dan hutan wisata, meliputi kawasan seluas kurang lebih 8.025.820
hektar atau 19% kawasan hutan di Indonesia. Kawasan hutan ini diperuntukan
bagiperlindungan dan pelestarian sumber plasma nutfah dan sistem penyangga
kehidupan, pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan pariwisata.

4. Hutan konversi yaitu kawasan hutan yang karena keadaan serta kemungkinankemungkinannya dapat dikonversi menjadi peruntukan lain seperti pertanian,
perkebunan dan pemukiman. Luas hutan konversi saat ini kurang lebih 9.262.130
hektar atau 22% dari luas kawasan hutan yang ada di Indonesia..
3. potensi Hutan Produksi
Pengelolaan hutan produksi lestari memerlukan perencanaan yang disusun berdasarkan
padakondisi potensi hutan yang ada. Dengan demikian perhitungan potensi hutan bersama-sama
dengan perhitungan kawasan hutan mempunyai peran yang sangat vital dalam perencanaan
pengelolaan hutan produksi.
enis-jenis

hasil

hutan

kayu

yang

dimanfaatkan

dikelompokkan;

Kelompok Meranti terdiri dari; Matoa (Pometia spp.), Merbau (Instiaspp.), Mersawa (Anisoptera
spp.),Kenari (Canarium spp.), Nyatoh (Palaquium spp.), Resak (Vatica spp.), Pulai (Alstonia
spp.), Damar (Agathis spp.), Araucaria (Araucaria spp.), Kapur (Dryobalanops spp.), Batu
(Shorea spp.), Mangga hutan (Mangifera spp.), Celthis (Celthisspp.), dan Kayu Cina (Podocarpus
spp.) Kelompok Kayu Campuran terdiri dari; Ketapang, Binuang, Bintangur, Terentang,Bipa,
Kayu

Bugis,

Cempaka,

Pala

hutan.

Kelompok Kayu Indah terdiri darijenis ; Dahu (Dracontomelon spp.),Linggua (Pterocarpus spp.),
dan Kuku.Potensi kayu ini sudah dimanfaatkan, diusahakan dalam bentuk Hak Pengusahaan
Hutan (HPH) dan industri pengolahan kayu
4. Potensi
a.

hasil

hutan

non

kaya

Potensi Rotan
Luas

kawasan

hutan

yang

2.215.625ha.Penyebaranrotanpada

merupakan

wilayah/lokasi

habitat

alam

berdasarkan

KabupatenNabire (Sima, Yaur, S. Nauma, S. Buami,

rotan

hasil

seluas

orientasi,

cruising:

S. Wabi-Wammi, S. Wanggar),

Kabupaten.Jayapura (Unurum Guay, Lereh, Pantai Timur), Manokwari (Masni, Bintuni,Ransiki,


S.

Kasi,

S.

Sima),

Merauke(Ds.

Poo,

kg/ha

2.062,22

kg/ha.

Jenis-jenisrotan terdiri dari : Daemonorops,Korthalsia, Foser, Calamus sp., Sersus, Ceratolobus,


Plectocomia, dan Myrialepsis. Potensi rotan belum dimanfaatkan secara optimal sehingga
terbuka

untuk

investasi

pemanfaatan

rotan

skala

industri.

b.

Potensi

Hutan

Sagu

Hutan sagu di Provinsi Papua luas sekitar 4.769.548 ha(diperkirakan telah dimanfaatkan hutan
sagu secara tradisional 14.000 ha).Potensi sagu kisaran 0,33 batang/ha sampai dengan 5,67
batang/ha. Penyebaran sagu terutama wilayah/lokasi, Kabupaten Jayapura (Distrik Sentani,
Sarmi), Kabupaten Merauke (Distrik Kimaam, Asmat, Atsy, Bapan, Pantai kasuari), Kabupaten
Waropendan sebagian besar tegakan sagu tumbuh pada daerah gambut pantai. Jenis-jenis tegakan
sagu terdiri dari ; Metroxylonrumphii var silvester, Metroxylonrumphii var longispinum,
Metroxylon rumphiimart, Metroxylon rumphii varmicrocantum dan Metroxylon sago
rottb.Potensi sagu belum dimanfaatkan secara optimal sehingga masih dimungkinkan diusahakan
dalam skala industri. Kegiatan industri untuk pemanfaatan sagu akan diusahakan di Kabupaten
Nabire dan Kabupaten Mamberamo Raya oleh pihak swasta untuk pembuatan bahan bakar
(bioenergy).
c.

Potensi Nipah
Luas hutan yang ditumbuhi nipah diperkirakan seluas 1.150.000 ha. Potensi nipah belum

dapat diketahui secara pasti (belum dilakukan inventariasi potensi). Pemanfaatan nipah belum
dapat berkembang, masih tahap pemanfaatan masyarakat lokal berupa pemanfaatan daun dan
buah untuk pembuatan minuman lokal yang beralkohol yang dikenal dengan nama label Papua
Saguer/ Tuak. Pemanfaatan nipah untuk skala industri/besar masih terbuka untuk dikembangkan.
d.

Potensi Kayu Lawang


Informasi potensi kayu lawang (Cinnamonum spp.) belum akurat (penyebaran alami

sporadis). Hasil monitoring sentra-sentra produksi minyak lawang telah dapat diindentifikasi
bahwa potensi kayu lawang cukup menjanjikan dan dapat dikembang menjadi hutan tanaman
masyarakat setempat/ lokal. Sentra-sentra produksi dan penyebaran kayu lawang pada wilayah /
lokasi terdiri dari : Kaimana, Fakfak, Sorong dan Manokwari (Papua Barat), Jayapura, Nabire,
Merauke.
e.

Potensi

Kayu

Potensi Kayu Masoi

Lawang

masih

dapat

ditingkatkan

pemanfaatannya.

Informasi potensi kayu masoi belum akurat (penyebaran alami sporadis). Hasil monitoring
sentra-sentra produksi kulit masoi telah dapat di indentifikasi bahwa potensi kayu masoi cukup
menjanjikan dan dapat dikembang menjadi hutan tanaman masyarakat setempat. Sentra-sentra
produksi dan penyebaran kayu masoi pada wilayah/lokasi terdiri dari ; Kab. Manokwari(Bintuni,
Ransiki), Kaimana, Fakfak (Provinsi Papua Barat), Jayapura, Nabire.Potensi kayu masoi belum
dimanfaatkan secara optimal sehingga masih terbuka investasi untuk pemanfaatan kayu masoi
untuk
f.

skala

industri.

Potensi Kayu Putih


Penyebaran kayu putih pada Kabupaten Merauke ( Kawasan Taman Nasional Wasur ).

Potensi kayu putih memiliki tempat tumbuh alamiah di Taman Nasional Wasur. Daun kayu putih
merupakan bahan baku pembuatan minyak kayuputih, yang dilakukan dengan cara penyulingan.
Hasil penyulingan daun minyak kayu putih masyarakat dapat mencapai 125 kg atau 2,5 liter
minyak kayu putih/hari. Jenis kayu putih terdiri dari Asteromyrtussimpocarpa, Melaleuca
lecadendron. Potensi Hutan Papua
PROSPEK KEHUTANAN
a.

Pengelolaan Hutan Lestari (PHL)


Pasar global hasil-hasil hutan dimasa mendatang menuntut produk yang berkualitas

baik dengan suplai yang berkelanjutan dan berasal dari sumber yang legal. Sampai dengan tahun
2004, Departemen Kehutanan telah memberi ijin kepada 267 IUPHHK (Ijin Usaha pemanfaatan
Hasil Hutan Kayu. Sejauh ini dari jumlah IUPHHK tersebut baru 1 (satu) yang memiliki
sertifikat pengelolaan hutan lestari (PHL) yang diterbitkan oleh FSC dan diakui oleh pasar
global. Salah satu kesulitan utama dalam mendapatkan sertifikat adalah masih meningkatnya
illegal logging di wilayah usaha IUPHHK.
PHL dan illegal logging trade juga menimbulkan masalah yang berkepanjangan berkaitan
dengan tidak menentunya suplai bahan baku terhadap industri kehutanan di Indonesia.
Dari sisi pengelolaan hutan, sampai dengan tahun 2004, kecuali pengelolaan hutan
konservasi tidak ada satupun kawasan hutan di seluruh Indonesia yang memiliki unit kesatuan
pengelolaan hutan (KPH) produksi dan lindung beroperasi secara efektif. Kenyataan ini

mendorong pemerintah mulai dari tahun 2002 untuk merintis pembentuk KPH produksi dan
lindung di beberapa wilayah Indonesia.
b.

Konservasi sumber daya alam hayati (SDAH)


Permintaan pasar terhadap aneka ragam SDAH di masa mendatang akan terus meningkat.

Sejauh ini pada tataran global dan nasional pemanfaatan SDAH ternyata belum seiring dengan
prinsip kelestarian sehingga jumlah jenis SDAH yang terancam punah meningkat dari tahun ke
tahun. Sampai dengan tahun 2004, IUCN dan CITES mencatat 614 jenis satwa dan 1,104 jenis
tumbuhan yang berada Indonesia kedalam kelompok terancam kepunahan. Kenyataan ini
memaksa pemerintah untuk secara bertahap dan konsisten melaksanakan konservasi SDAH baik
secara Insitu maupun Exsitu.
Industri kehutanan Kompetisi secara global dalam produk industri kehutanan di masa
mendatang akan semakin tinggi. Produk hasil hutan Indonesia yang selama ini berada di pasar
global berupa kayu lapis, kayu gergajian, kayu olahan, bubur kayu dan furniture serta hasil hutan
non kayu berupa rotan dan resin dituntut lebih berkualitas dengan suplai yang berkelanjutan
(continue). Industri kehutanan saat ini menghadapi masalah efisiensi, teknologi yang rendah dan
juga didera dengan masalah kesulitan bahan baku yang diakibatkan oleh meningkatnya pencurian
kayu (illegal logging) dan perdagangan ilegal bahan baku serta lambatnya pembangunan hutan
tanaman industri (HTI). Keadaan ini mendorong pemerintah untuk terus menggiatkan industri
kehutanan yang tangguh dan competitive sambil berupaya keras menyelesaikan illegal logging di
daerah hulu.
c.

Fungsi tata air dan sumber air


Ekosistem hutan selain berfungsi menjadi habitat berbagai jenis SDAH juga berfungsi untuk

mengatur tata air yang berguna untuk beragam keperluan di daerah hilir seperti irasi pertanian dan
energi listrik. Dalam upaya menciptakan masa depan pertanian yang tangguh dan negara yang
mandiri, sumber air yang berada di daerah aliran sungai (DAS) yang berfungsi sebagai catchment
area harus terjaga dan berfungsi secara optimal. Kenyataan saat ini menunjukan bahwa sebagian
besar dari DAS yang menjadi andalan sumber air bersih, sumber energi listrik dan pertanian
modern seperti DAS Cirata, Citarum, dan Asahan. dalam keadaan kritis. Sejauh ini pemerintah
telah menetapkan 282 DAS prioritas yang harus direhabilitasi dan dikelola secara optimal.

d.

Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi


Dalam

secara

dua

global

puluh
akan

tahun
semakin

medatang
tinggi.

kompetisi
Disisi

lain

di

bidang

sumber

kehutanan

daya

hutan

Indonesia dan kemampuan pulihnya semakin berkurang. Selama ini pemerintah belum benarbenar berupaya mengembangkan ilmu dan teknologi yang yang tepat guna dan berorientasi
kepada teknologi modern sehingga pemanfaatan sumberdaya hutan belum efisien dan belum
menghasilkan produk yang bervariasi dan berkualitas tinggi.

e.

Sumber daya manusia (SDM) sektor kehutanan


SDM sektor kehutanan dimasa mendatang harus dapat menjawab tantangan kehutanan yang

semakin berat antara lain kompetisi di pasar global, peningkatan aneka fungsi kehutanan dan jasa
lingkungan, pendidikan dan kesadaran lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat
sekitar hutan. Oleh karena itu pemerintah dituntut terus membina dan mengembangkan SDM
kehutan yang tangguh dan competitive.
f.

Kemiskinan penduduk sekitar hutan


Sektor

kehutanan

bersama

dengan

sektor

terkait

la

innya

berperan

dalam menanggulangi kemiskinan penduduk di sekitar hutan. BPS mencatat sekitar 10,2 juta
penduduk sekitar hutan yang tergolong kedalam kelompok miskin yang mencakup miskin
pendapatan, berusaha yang layak, pendidikan, kesehatan dan sanitasi. Dalam upaya mengentaskan
kemiskinan sekitar hutan, pemerintah telah berupaya melaksanakan berbagai program sosial
kehutanan yang didukung oleh sektor lain (pendidikan dan perdagangan) seperti pembinaan
masyarakat desa hutan (PMDH) di luar Jawa, pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM) di
Jawa bersama Perhutani, serta program hutan kemasyarakatan (Hkm).
g.

Penegakan Hukum Pembangunan


Kehutanan yang selama ini berjalan tidak akan mencapai hasil yang optinal apabila tidak

diimbangi dengan penegakan hukum terhadap para pelanggar pemanfaatan sumber daya hutan
baik yang berupa institusi maupun perorangan. Illegal logging, illegal trade SDAH dan
pembakaran hutan untuk pembukaan lahan kegiatan non kehutanan selama ini merupakan
pelanggaran yang sulit diatasi. Pelanggaran seperti ini akan berpotensi menguras kemampuan

pulih sumberdaya alam hutan, mengurangi daya saing industri kehutanan di masa depan,
meningkatkan konflik sosial masyarakat sekitar hutan, mempersulit pengentasan kemiskinan
sekitar
memberikan

hutan
gambaran

yang

buruk

dan
tentang

citra

Indonesia

di

tataran global. Keadaan seperti ini mendorong pemerintah untuk terus menerapkan berbagai cara
preventive dan represive dalam menegakan hukum terhadap pelanggar pemanfaatan sumber daya
hutan.
h.

Peningakatan kesadaran masyarakat


Berbagai jenis pelanggaran di bidang kehutanan sebagian disebabkan oleh rendahnya

pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan perlunya memelihara dan memanfaatkan sumber
daya hutan serta ekosistemnya secara lestari. Isu yang mendasar di sektor kehutanan selama ini
sangat terkait dengan aktivitas illegal logging dan illegal trade SDAH dan apabila tidak ditangani
secara serius akan terus menggangu upaya pemerintah dalam membangun Indonesia yang damai,
sejahtera dan mandiri.
i.

Ketataprajaan yang baik (Good governace)


Kepemerintahan di sektor kehutanan dimasa mendatang dituntut untuk menerapkan prinsip

terbuka, partisipatif, akuntabilitas dan konsisten dalam menentukan kebijakan. Sejauh ini prinsip
tersebut belum benar-benar dilaksanakan oleh segenap jajaran tugas Departemen Kehutanan
Pengendalian Hama Dan Penyakit Secara Terpadu (PHT)
Organisasi Pengganggu Tanaman (OPT)
Pada budidaya tanaman umumnya, OPT merupakan salah satu kendala yang perlu diperhatikan
dan ditanggulangi. Perkembangan serangan OPT yang tidak dapat dikendalikan, akan berdampak
kepada timbulnya masalah-masalah lain yang bersifat sosial, ekonomi, dan ekologi.
Organisme pengganggu tanaman adalah semua organisme yang dapat menyebabkan penurunan
potensi hasil yang secara langsung karena menimbulkan kerusakan fisik, gangguan fisiologi dan
biokimia, atau kompetisi hara terhadap tanaman budidaya. Organisme Pengganggu tanaman
dikelompokan menjadi 3 kelompok utama yaitu Hama, Penyakit, dan Gulma.
A. Hama Tanaman

Hama adalah semua organisme atau agens biotik yang merusak tanaman dengan cara yang
bertentangan dengan kepentingan manusia (Smith, 1983). Sedangkan Menurut Nas (1978),
serangga dikatakan hama apabila serangga tersebut mengurangi kualitas dan kuantitas bahan
makanan, pakan ternak, tanaman serat, hasil pertanian atau panen, pengolahan dan dalam
penggunaannya serta dapat bertindak sebagai vektor penyakit pada tanaman, binatang dan
manusia, dapat merusak tanaman hias, bunga serta merusak bahan bangunan dan milik pribadi
lainnya. Dilihat dari jenis atau status hama di lapangan, hama terbagi atas :
Hama Utama (Main Pest). Hama utama merupakan spesies hama yang selalu menyerang pada
suatu tempat, dengan intensitas serangan yang berat dalam daerah yang luas sehingga
memerlukan usaha pengendalian. Kelompok hama ini mendatangkan kerugian bagi petani.
Biasanya pada suatu agroekosistem hanya terdapat satu atau dua hama utama.
Hama Minor/hama kadangkala/hama kedua (secondary pest) adalah hama yang pada keadaan
normal akan menyebabkan kerusakan yang kurang berarti tetapi kemungkinan adanya perubahan
ekosistem akan meningkatkan populasi sehingga intensitas serangan sangat merugikan. Dengan
demikian status hama tersebut berubah menjadi hama utama.
Hama Potensil (Potensial pest) merupakan sebagian besar jenis serangga herbivora yang saling
berkompetisi dalam memperoleh makanan. Kelompok hama ini, tidak mendatangkan kerugian
yang berarti dan tidak membahayakan dalam kondisi pengelolaan agroekosistem yang normal.
Namun karena kedudukannya dalam rantai makanan, kelompok populasi hama ini berpotensi
meningkat dan dapat menjadi hama yang membahayakan.
Hama Migran (Migratory pest), merupakan hama yang tidak berasal dari agroekosistem
setempat. Kelompok hama ini datang dari luar, dan sifatnya berpindah-pindah (migran).
Kelompok hama migran jika datang pada suatu tempat dapat menimbulkan kerusakan yang
berarti. Namun hanya dalam jangka waktu yang pendek, karena akan berpindah ke daerah lain.
B. Penyakit Tumbuhan
Penyakit Tumbuhan adalah gangguan secara fisiologis pada tumbuhan yang bersifat terusmenerus yang diekspresikan dengan gejala penyakit seperti pertumbuhan yang abnormal.
Penyakit tumbuhan menganut konsep segitiga penyakit (disease triangle) (Blanchard dan Tattar,

1981). Segitiga penyakit tersebut terdiri atas tiga komponen yaitu tanaman inang, patogen, dan
lingkungan. Namun konsep segitiga penyakit berkembang menjadi konsep segiempat penyakit
(disease squaire). Dalam konsep segiempat penyakit ditambahkan satu komponen lagi yang
berperan dalam menimbulkan penyakit tanaman yaitu manusia.
Tanaman Inang
Pengaruh tanaman inang terhadapnya timbulnya suatu penyakit tergantung dari jenis tanaman
inang, kerentanan tanaman, bentuk dan tingkat pertumbuhan tanaman, struktur dan kerapatan
populasi,serta kesehatan tanaman dan ketahanan inang.
Patogen
Patogen adalah organisme hidup yang mayoritas bersifat mikro dan mampu untuk dapat
menimbulkan penyakit pada tanaman atau tumbuhan. Mikroorganisme tersebut antara lain fungi,
bakteri, virus, nematoda, mikoplasma, spiroplasma, dan riketsia serta tumbuhan tingkat tinggi.
Suatu organisme disebut patogen apabila dapat memenuhi postulat Koch yaitu :
1.

Patogen ditemukan pada pohon yang terserang patogen

2.

Patogen dapat diisolasi dan diidentifikasi

3. Patogen dapat diinokulasikan pada spesies inang yang sama dan menunjukkan gejala yang
sama
4.

Dapat diisolasi kembali

Pengaruh komponen patogen dalam timbulnya penyakit sangat tergantung pada kehadiran
patogen, jumlah populasi patogen, kemampuan patogen untuk menimbulkan penyakit yaitu
berupa kemampuan menginfeksi (virulensi) dan kemampuan menyerang tanaman inang
(agresivitas), kemampuan adaptasi patogen, penyebaran, ketahanan hidup dan kemampuan
berkembangbiak patogen.
Lingkungan

Faktor lingkungan yang dapat memberikan pengaruh terhadap timbulnya suatu penyakit. Faktor
lingkungan tersebut berupa suhu udara, intensitas dan lama curah hujan, intensitas dan lama
embun, suhu tanah, kandungan air tanah, kesuburan tanah, kandungan bahan organik, angin, api,
dan pencemaran air. Faktor lingkungan memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman
inang dan menciptakan kondisi yang sesuai bagi kehidupan jenis patogen tertentu.
Manusia
Manusia mempengaruhi ketiga faktor yang lain (tanaman inang, patogen, dan lingkungan) baik
secara langsung maupun tidak langsung. Contoh agar suatu penyakit tidak menyerang, maka
manusia memilih tanaman yang resisten, memanipulasi ketahanan jenis tanaman yang akan
dibudidayakan, mengusahakan lingkungan pertanaman agar mengurangi serangan patogen, serta
melakukan kegiatan dalam pengelolaan tanaman (pengaturan jarak tanam, pencampuran jenis,
penjarangan.
C. Gulma
Gulma adalah tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan pada lahan pertanian karena
menurunkan hasil yang bisa dicapai oleh tanaman produksi. Keberadaan gulma mengganggu
tanaman budidaya karena adanya kompetisi penyerapan unsur hara, air, dan ruang.

Peran PHT dalam Pertanian Berkelanjutan


Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman secara Terpadu (PHT) memiliki arti
penting dalam mendukung adanya pertanian berkelanjutan. Hal ini dikarenakan konsep dalam
PHT selaras dengan konsep dalam Pertanian Berkelanjutan. Disamping itu, PHT dan Pertanian
Berkelanjutan merupakan suatu kebijakan pemerintah yang disahkan dalam Undang-Undang.
Adapun Landasan hukum dan dasar pelaksanaan kegiatan perlindungan tanaman adalah UndangUndang No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, Peraturan Pemerintah No. 6
Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman, dan Keputusan Menteri Pertanian No. 887/Kpts/
OT/9/1997 tentang Pedoman Pengendalian OPT.

Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu (PHT) atau Integrated Pest Management (IPM)
merupakan komponen integral dari Sistem Pertanian Berkelanjutan. PHT bertujuan tidak hanya
mengendalikan populasi hama tetapi juga meningkatkan produksi dan kualitas produksi serta
meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan petani. Cara dan metode yang digunakan adalah
dengan memadukan teknik-teknik pengendalian hama secara kompatibel serta tidak
membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan hidup.
Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu merupakan suatu pendekatan ekologi yang
bersifat multidisiplin untuk pengelolaan populasi hama dengan memanfaatkan beranekaragam
teknik pengendalian secara kompatibel dalam suatu kesatuan koordinasi pengelolaan (Smith,
1978). Sedangkan menurut Bottrell 1979, PHT adalah pemilihan secara cerdik dari penggunaan
tindakan pengendalian hama, yang dapat menjamain hasil yang menguntungkan dilihat dari segi
ekonomi, ekologi, dan sosiologi.
PHT memiliki tujuan mengendalikan populasi hama agar tetap berada dibawah ambang
yang tidak merugikan secara ekonomi. Strategi PHT bukanlah eradikasi melainkan pembatasan.
Pengendalian hama dengan PHT disebut pengendalian secara multilateral, yaitu menggunakan
semua metode atau teknik yang dikenal dan penerapannya tidak menimbulkan kerusakan
lingkungan yang merugikan bagi hewan, manusia, dan makhluk hidup laninya baik sekarang
maupun pada masa yang akan datang.
Konsep PHT tidak tergantung pada teknik pengendalian hama dan pengelolaan eksosistem
tertentu tetapi PHT tergantung pada keberdayaan atau kemandirian petani dalam mengambil
keputusan. Dalam mengembangkan sistem PHT didasarkan pada keadaan agroekosistem
setempat. Sehingga pengembangan PHT pada suatu daerah boleh jadi berbeda dengan
pengembangan di daerah lain. Sistem PHT harus disesuaikan dengan keadaan ekosistem dan
sosial ekonomi masyarakat petani setempat.
Sasaran dan Strategi Pengembangan PHT
Menurut Smith dan Apple (1978), langkah-langkah pokok yang perlu dikerjakan dalam
pengembangan PHT adalah:

Mengenal status hama yang dikelola, Pengenalannya meliputi perilaku hama, dinamika
perkembangan populasi, tingkat kesukaan makanan, dan tingkat kerusakan yang diakibatkannya.
Dalam suatu agroekosistem, kelompok hama dikategorikan atas hama utama, hama minor, hama
potensil, hama migran, dan bukan hama.
Mempelajari komponen saling ketergantungan dalam ekosistem. Salah satu komponen
ekosistem yang perlu ditelaah dan dipelajari adalah yang mempengaruhi dinamika perkembangan
populasi hama-hama utama. Contohnya adalah menginventarisir musuh-musuh alami, sekaligus
mengetahui potensi musuh alami sebagai pengendali alami. Interaksi berbagai komponen biotik
dan abiotik, dinamika populasi hama dan musuh alami, studi fenologi tanaman dan hama, studi
sebaran hama merupakan komponen yang sangat diperlukan dalam menetapkan strategi
pengendalian hama yang tepat.
Penetapan dan pengembangan Ambang Ekonomi. Ambang ekonomi atau ambang
pengendalian merupakan ketetapan tentang pengambilan keputusan, kapan harus dilaksanakan
penggunaan pestisida sebagi alternatif terakhir pengendalian. Untuk menetapkan ambang
ekonomi dibutuhkan banyak informasi data biologi, ekologi serta ekonomi. Penetapan
kerusakan / kerugian produksi dan hubungannya dengan populasi hama, analisis biaya dan
manfaat penggendalian merupakan bagian yang penting dalam penetapkan ambang ekonomi.
Pengembangan sistem pengamatan dan monitoring hama. Pengamatan atau monitoring
hama secara rutin dan terorganisasi dengan baik diperlukan untuk mengetahui kepadatan
populasi hama pada suatu waktu dan tempat. Metode pengambilan sampel di lapang dilakukan
secara benar agar data yang diperoleh dapat dipercaya secara statistik. Disamping itu jaringan
dan organisasi monitoring juga perlu dikembangkan agar dapat menjamin ketepatan dan
kecepatan arus informasi dari lapangan ke pihak pengambil keputusan pengendalian hama.
Pengembangan model diskriptif dan peramalan hama. Pengetahuan akan gejolak populasi
hama

dan

hubungannya

dengan

komponen-komponen

ekosistem

mendorong

perlu

dikembangkannya model kuantitatif yang dinamis. Dimana model tersebut menggambarkan


gejolak populasi dan kerusakan yang ditimbulkan pada waktu yang akan datang. Sehingga,
dinamika populasi hama dapat diperkirakan sekaligus dapat memberikan pertimbangan

bagaimana penanganan pengendalian agar tidak sampai terjadi ledakan populasi yang merugikan
secara ekonomi.
Pengembangan strategi pengelolaan hama. Strategi dasar PHT adalah menggunakan taktik
pengendalian ganda dalam suatu kesatuan sistem yang terkoordinasi. Strategi PHT
mengusahakan agar populasi atau kerusakan yang ditimbulkan hama tetap berada dibawah
ambang ekonomi. Adapun beberapa taktik dasar PHT antara lain :
a)

Memanfaatkan pengendalian hayati yang asli ditempat tersebut (indigenous),

b)

Mengoptimalkan pengelolaan lingkungan melalui penerapan kultur teknik yang baik,

c)

Penggunaan pestisida yang selektif sebagai alternatif pengendalian terakhir.


Penyuluhan kepada petani agar menerima dan menerapkan PHT. Petani sebagai

pelaksana utama pengendalaian hama, perlu menyadari dan mengerti tentang cara PHT dan
penerapannya di lapangan.
Pengembangan organisasi PHT. Sistem PHT mengharuskan adanya suatu organisasi yang
efisien dan efektif, yang dapat bekerja secara cepat dan tepat dalam menanggapi setiap perubahan
yang terjadi pada agroekosistem. Organisasi PHT tersusun oleh komponen monitoring,
pengambil keputusan, program tindakan, dan penyuluhan pada petani. Organisasi tersebut
merupakan suatu organisasi yang mampu menyelesaikan permasalahan hama secara mandiri.
Sasaran Pengembangan PHT, diantaranya :
1.
2.
3.
4.

Populasi OPT dan kerusakan tanaman tetap berada pada ambang ekonomi,
Produktivitas pertanian yang mantap secara kualitas maupun kuantitas.
Penghasilan dan kesejahteraan petani meningkat, dan
Resiko kesehatan dan pencemaran lingkungan rendah (dapat ditekan).
Strategi yang diterapkan dalam mengembangkan PHT adalah memadukan semua teknik
pengendalian OPT dan melaksanakannya dengan taktik yang memenuhi azas ekologi serta
ekonomi. Adapun Metode PHT adalah sebagai berikut :
a. Pengendalian secara Biologi

Pengendalian secara Biologi yaitu dengan melakukan pelestarian dan pemanfaatan Agens
Pengendali Hayati (Agen Biokontrol). Agen Biokontrol diantaranya adalah musuh alami seperti
Predator (laba-laba), Parasitoid (Trichogramma sp), Cendawan Entomopatogen (Beauveria
bassiana, Metarhizium anisopliae), Bakteti entomopatogen (Bacillus thuringiensis), Nematoda
entomopatogen (Famili Steinernematidae dan Heterorhabditidae) (Adam & Nguyen, 2002), virus
entomopatogen (Nuclear Polyhedrosis Viruses /NPV, Granuloviruses /GV), dan Microsporodia.
Sedangkan agen biokontrol (agen antagonis) untuk penyakit tanaman diantaranya adalah bakteri
antagonis (Pseudomona fluorescens), cendawan antagonis (Gliocladium sp, Trichoderma sp).
Pengendalian gulmapun banyak dikaji dengan menggunakan agen-agen hayati terutama
kelompok fungi karena memiliki spesifisitas yang tinggi. Sebagai contohnya, pengendalian
gulma Sesbania exaltata dengan fungi Colletotrichum truncatum (Jackson, 1996) dan Striga
hermonthica dengan fungi parasit fakultatif Fusarium nygamai (Sauerborn, 1996).
b. Pemanfaatkan tumbuhan yang berpotensi sebagai biopestisida (Pestisida Nabati).
Famili tumbuhan yang dianggap merupakan sumber potensial pestisida nabati adalah
Meliaceae, Annonaceae, Asteraceae, Piperaceae dan Rutaceae (Arnason et al., 1993; Isman,
1995). Adapun contoh tumbuhan yang berpotensi sebagai pestisida nabati adalah P.
Retrofractum, Chrysanthemum cenerariaefolium (piretrin), Nicotiana tabacum (nikotin), dan
Derris spp. (rotenon), Azadirachta indica, Tithonia diversifolia (daun paitan), Piper betle Linn.
(daun sirih), Philodendron martianum (akar philodendron), Philodendron bipinnatifidum (akar
philodendron jari), Monstera deliciosa (akar monstera), dan Derris elliptica (akar tuba).
c.

Penggunaan feromon, yaitu senyawa pemikat untuk mengundang serangga datang ke suatu

tempat yang selanjutnya dijebak dan dibunuh juga termasuk kedalam aspek pengendalian ramah
lingkungan (Furlong & Pell, 1995). Bahkan dengan metode rekayasa, berbagai senyawa protein
anti hama dapat diproduksi oleh tanaman sehingga pengembangan tanaman resisten semakin
terbuka kemungkinannya (Kramer et al, 2000 dan Grisham, 2000).
d.

Pengendalian secara Fisik dan Kultur Teknis.


Pengendalian secara fisik dapat dilakukan dengan membunuh/mengendalian Organisme

Pengganggu Tumbuhan secara manual, sedangkan secara kultur teknis dapat dilakukan dengan

pengelolaan ekosistem melalui usaha bercocok tanam. Beberapa teknik bercocok tanam antara
lain :
Budidaya tanaman sehat (varietas toleran)
Yaitu penanaman varietas tahan yaitu dengan melakukan penanaman benih sehat, melakukan
pergiliran tanaman dan varietas,
Sanitasi Lingkungan, salah satunya dengan pengendalian gulma. Hal ini dikarenakan gulma
dapat menjadi inang alternatif bagi hama dan penyakit tumbuhan.

Penetapan masa tanam


Tanam serentak dan pengaturan jarak tanam
Penanaman tanaman perangkap/penolak
Penanaman tumpang sari (diversifikasi tanaman) dan rotasi tanaman
Pengelolaan tanah dan air

Pemupukan berimbang sesuai rekomendasi, Penggunaan kompos bioaktif yang berkualitas


tinggi, juga berperan sebagai agensia hayati untuk mengendalikan penyakit tanaman, terutama
penyakit yang menyerang dari dalam tanah
Pengendalian fisik dan mekanis ini bertujuan untuk menekan/mengurangi populasi
OPT/kerusakan, mengganggu aktivitas fisiologis OPT yang normal, dan mengubah lingkungan
fisik menjadi lingkungan yang kurang sesuai bagi kehidupan dan perkembangan OPT.

Penggunaan pestisida sebagai alternatif pengendalian terakhir secara selektif. Selektivitas


pestisida berdasarkan pada sifat fisiologis, ekologis dan cara aplikasi. Keputusan tentang
penggunaan pestisida dilakukan setelah dilakukan analisis ekosistem terhadap hasil pengamatan
dan ketetapan ambang ekonomi/pengendalian. Pestisida yang digunakan harus yang efektif,
terdaftar dan diizinkan. Disamping itu penggunaan pestisida berdasarkan ketepatan, yaitu tepat
jenis, tepat dosis, tepat sasaran, tepat aplikasi, dan tepat waktu.
Pengendalian Penyakit Tanaman secara Terpadu
Kegiatan pengendalian penyakit tanaman berdasarkan prinsip Pengelolaan Hama Terpadu.

(PHT) dimulai dari masa pra-tanam sampai panen, bahkan rekomendasi pengendalian pada
beberapa jenis tanaman juga menyangkut pascapanen. Dalam pelaksanaan pengendalian terjadi
pada setiap fase tumbuh tanaman dengan melakukan pengamatan dan monitoring terhadap
penyakit yang menyerang. Adapun prinsip pengelolaan terhadap penyakit tumbuhan adalah
dengan strategi sebagai berikut :

Strategi untuk mengurangi inokulum awal


Strategi untuk mengurangi laju infeksi, dan
Strategi untuk mengurangi lamanya epidemi.
Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (PHT), memiliki peranan yang sangat

penting dalam mendukung adanya pertanian Berkelanjutan. Hal ini dikarenakan dalam PHT
memperhatikan cara-cara pengendalian yang memperhatikan kesehatan lingkungan selaras
dengan konsep dalam pertanian berkelanjutan. Namun Sistem PHT mengharuskan adanya suatu
organisasi yang efisien dan efektif, yang dapat bekerja secara cepat dan tepat dalam menanggapi
setiap perubahan yang terjadi pada agroekosistem, dimana Organisasi PHT tersusun oleh
komponen monitoring, pengambil keputusan, program tindakan, dan penyuluhan pada petani.
Pengelolaan Organisme Pengganggu Tanaman dengan Bioteknologi
Pendekatan PHT dengan Bioteknologi salah satunya adalah dengan cara memanipulasi gen
untuk mendapatkan individu baru yang unggul. Salah satu produk dari pengelolaan organisme
pengganggu tanaman adalah tanaman transgenik. Tanaman transgenik sangat erat kaitannya
dengan perlindungan tanaman.

Sebagian besar tanaman transgenik sudah diproduksi dan

dipasarkan mempunyai sifat-sifat unggul yang tahan terhadap hama atau tahan terhadap penyakit
tumbuhan, atau toleran terhadap herbisida tertentu.

Varietas unggul transgenik dihasilkan

melalui rekayasa genetika, antara lain rekombinasi DNA dan pemindahan gen.
Tanaman transgenik yang telah disisipi oleh gen toksik yang berasal dari Bacillus
thuringiensis (Bt). Contoh tanaman yang telah disisipi gen tersebut adalah Kapas, jagung,
gandum, kentang, tomat, tembakau, kedelai. Selain Bacillus thuringiensis, rekayasa genetika juga
memanfaatkan Agrobacterium tumefaciens. Disamping itu, Rekayasa Genetik Ketahanan Virus
juga dilakukan pada tanaman tembakau, jeruk, tomat, kentang yang disisipi gen tahan virus.

Teknologi PHT dalam pengelolaan OPT secara terpadu juga memanfaatkan sifat allelopati.
Allelopati berfungsi melindungi tumbuhan tersebut dari pengaruh tumbuhan lain disekitarnya.
Apabila sifat tersebut dapat dipindahkan ke tanaman lain maka akan diperoleh tanaman yang
mampu mengendalikan gulma yang hidup disekitarnya.
Dampak Penerapan Teknologi PHT
Aplikasi Penerapan Teknologi PHT juga memiliki dampak baik yang merugikan maupun
yang menguntungkan. Dampak negatif diantaranya :
1. Resiko teknologi bagi kesehatan manusia dan lingkungan hidup.
Setiap jenis teknologi baik yang baru maupun yang lama apabila digunakan dan dilepaskan
ke lingkungan tentu mengandung risiko yang membahayakan bagi manusia baik secara individu
maupun kelompok masyarakat, serta berbahaya bagi lingkungan hidup lokal, nasional maupun
global. Keamanan produk-produk bioteknologi (rekayasa genetika) masih diragukan karena
kekhawatiran mengenai resiko mengkonsumsi produk tersebut bagi kesehatan antara lain terjadi
keracunan, alergi dan resistensi konsumen terhadap obat antibiotika dan lain-lainnya. Disamping
itu, resiko pelepasan tanaman transgenik ke lingkungan masih pro dan kontra. Hal ini
dikarenakan adanya beberapa resiko beberapa ekologis tanaman transgenik yang dikhawatirkan
antara lain :
a.
b.
c.
d.
e.

Potensi perpindahan gen ke tanaman kerabat,


Potensi perpindahan gen ke organisme lain bukan kerabat,
Pengaruh tanaman transgenik terhadap organisme bukan sasaran,
Pengurangan keanekaragaman hayati ekosistem,
Perkembangan resistensi serangga terhadap tanaman transgenik.

Myhr and Traavik (1999)


2. Tanaman hasil Rekayasa genetik (toleran terhadap hama, penyakit, dan gulma), merupakan
tanaman yang hanya tahan terhadap hama, penyakit atau gulma tertentu.
Adapun dampak positif terhadap teknologi PHT adalah dihasilkannya tanaman yang tahan
terhadap hama, penyakit dan gulma tertentu.
Prospek dan tantangan PHT dalam Pertanian Keberlanjutan

Pertanian Berkelanjutan yang memegang konsep ekologis dan berkelanjutan baik dari
segi produksi, pemanfaatan Sumber Daya Alam, Stabilitas dan Pemerataan menyebabkan
perlunya adanya sistem budidaya dan pengendalian organisme Pengganggu Tanaman yang
bersifat

ekologis

(memperhatikan

lingkungan).

Hal

ini

menyebabkan

perlunya

pengendalian/Pengelolaan Organisme Pengganggu Tanaman memiliki prospek pengembangan


yang cukup besar. Hal ini dikarenakan konsep PHT yang memperhatikan keseimbangan
ekosistem dan lingkungan. Hal ini didukung dengan adanya kebijakan pemerintah dalam
Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman, dan Keputusan Menteri
Pertanian No. 887/Kpts/ OT/9/1997 tentang Pedoman Pengendalian OPT. Disamping itu
meningkatnya kesadaran Masyarakat akan pentingnya kesehatan mendorong PHT sangat perlu
diterapkan. Hal ini dikarenakan dalam PHT Penggunaan Pestisida ditekan sedemikian rupa atau
penggunaan pestida digunakan sebagai alternatif terakhir dalam pengendalian jika populasi
Organisme Pengganggu Tanaman sudah diatas batas toleransi atau di atas ambang ekonomi yang
merugikan.
Kendala implementasi PHT di lapangan
Meskipun PHT telah diterapkan oleh petani, masih banyak teknologi PHT yang belum
tersedia. Begitu pula aspek dasar perpaduan berbagai teknik

pengendalian belum banyak

diketahui. Hal tersebut disebabkan oleh :

Rendahnya pola pikir petani tentang arti penting PHT.


Keterbatasan sumber dana sehingga penelitian dilakukan sepotong-potong dan tidak

berkesinambungan,
Penelitian masih terbatas pada komponen pengendalian, belum mencakup penelitian dasar
karena dianggap belum merupakan prioritas jangka pendek,Penelitian yang dilakukan masih
terbatas pada satu disiplin ilmu, belum bersifat multidisiplin, bukan saja perlindungan

tanaman, tetapi juga ekonomi, sosiologi, komunikasi, manajemen, dan lainnya,


Belum ada koordinasi dan kerangka dasar yang menyatukan kegiatan- kegiatan penelitian

guna penerapan dan pengembangan PHT, baik antarlembaga penelitian maupun antarpeneliti,
Adanya ketidakseimbangan sebaran tenaga peneliti, fasilitas, dan dana penelitian antara
lembaga-lembaga penelitian yang menangani kelompok atau jenis tanaman tertentu.