Anda di halaman 1dari 5

BANKING

Mirza Adityaswara

Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan

Kini, LPS Tak Lagi


Harus Menungggu
Perintah
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dalam
bahasa inggris disebut sebagai deposit
insurance. Konsep deposit insurance bukan
hanya ada di Indonesia. Amerika Serikat,
misalnya, mempunyai federal deposit
insurance. Di Filipina disebut sebagai Philippine
Deposit Insurance Corporation dan di
Malaysia disebut Malaysia Deposit Insurence
Corporation.

38

INTEGRITAS - Juli 2013

embaga Penjamin Simpanan


(LPS) dalam bahasa inggris
disebut
sebagai
deposit
insurance. Konsep deposit
insurance bukan hanya ada di
Indonesia. Amerika Serikat, misalnya,
mempunyai federal deposit insurance.
Di Filipina disebut Philippine Deposit
Insurance Corporation dan di Malaysia
disebut Malaysia Deposit Insurence
Corporation.
INTEGRITAS mewawancarai Kepala
Eksekutif LPS Mirza Adityaswara di
ruang kerjanya di Equity Tower lantai 21,
kawasan SCBD, Jakarta Selatan, 26 Juni
lalu. Menurut Mirza, deposit insurance
timbul pada saat krisis ekonomi.
Deposan-deposan bank biasanya jadi
panik karena begitu gejolak ekonomi,
mereka tidak tahu bank mana saja
yang aman. Kemudian para deposan
itu antre untuk menarik uangnya dari
bank. Di Indonesia terjadi pada tahun
1998. Di Amerika deposit insurance
berdiri tahun 1933, jelas Mirza.
Kalau
kita buka sejarah deposit
insurance di Amerika, pada saat
itu Amerika mengalami the great
depression. Di Indonesia, sebelum
1998, kalau ada bank yang ditutup
uang nasabah hilang. Kecuali bank
bermasalah yang diambil oleh bank
lain.
Jadi, dulu kalau ada bank bermasalah,
Bank Indonesia menginstruksikan bank
yang lain untuk mengambil alih bank
yang bermasalah tersebut, kemudian
Bank Indonesia memberikan kredit
murah kepada bank yang mengambil
alih, tambahnya.
Itulah yang terjadi pada 1997. Karena
di Thailand dan Korea kurs sudah mulai
melemah, Indonesia mulai terkena
imbasnya, rupiah pada saat itu dari
level 2000-an melemah pelan-pelan.

Kni jumlah simpanan


yang dijamin oleh LPS
mencapai Rp1.845
triliun dari jumlah
seluruh simpanan
nasabah perbankan
sebesar Rp3.294 trilun.
LPS menerima premi
sebesar Rp6,5 trilun per
tahun hasil dari iuran
premi anggota sebesar
0,2 persen dari total
rata-rata simpanan
nasabah perbankan.
Dana tersebut digunakan
untuk menutup bankbank yang ditutup dan
membayar seluruh
deposan yang menjadi
nasabah tersebut
dengan kondisi tertentu
yang telah disyaratkan.
Tidak Sanggup Bayar
Indonesia mengundang International
Monetering Fund (IMF) pada September
1997. IMF datang membawa text book
yang mengajarkan supaya bank-bank
yang bermasalah ditutup agar tidak
terjadi moral hazard.
Makanya, ada sekitar 16 bank kecil
yang ditutup pada saat pasar keuangan
bergejolak. Yang terjadi kemudian
adalah kepanikan karena tiba-tiba uang
nasabah hilang. Akhirnya, nasabah
bank besar ikut panik.

Mereka berpikir, jangan-jangan setelah


bank kecil itu ditutup, karena pasar
keuangan masih bergejolak, bank-bank
besar juga ditutup, ujarnya.
Akhirnya, terjadi rush pada bank-bank
besar, karena nasabah tidak tahu bank
mana yang benar-benar aman untuk
menyimpan uangnya. Bahkan, pada
Februari 1998, kurs rupiah masih
menyentuh angka Rp 17.000 per
dolar amerika.
Pemerintah kemudian mengeluarkan
kebijakan menjamin penuh (blanked
guarantee) simpanan para nasabah,
termasuk
deposit,
kewajiban
nondeposit,
seperti
pinjaman
antarbank, pinjaman luar negeri bank,
dan transaksi deviratif bank. Untuk
menanggulangi kewajiban bank itu,
pemerintah menggunakan uang dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara (APBN) sebesar 650 triliun
rupiah.
Setelah 16 bank tersebut ditutup dan
adanya penjaminan dari pemerintah
kondisi rupiah masih melemah terus,
untuk melawan kepanikan nasabah
supaya orang mau memegang uangnya
maka suku bunga dinaikkan menjadi
60-70 persen. Dampaknya, banyak
bank tidak sanggup untuk membayar
ke nasabah dengan suku bunga yang
tinggi, atau bagaimana menyalurkan
kredit dengan suku bunga tinggi
akhirnya akhirnya banyak bank yang
ditutup.
Saat itu opsi yang dipilih pemerintah
mempertahankan
dan
menutup
bank. Untuk itu, dilakukan pengkajian
baik bank pemerintah dan swasta
dikaji mana yang diselamatkan dan
mana yang ditutup lewat badan
yang dibentuk, yaitu BPPN (Badan
Penyehatan Perbankan Nasional).
Tugas BPPN mencakup tiga hal, yaitu
menutup bank, menyelamatkan bank,
dan menjamin dana masyarakat di
perbankan. karena pada waktu itu

INTEGRITAS - Juli 2013

39

BANKING
hampir semua pondasi keuangan bank
hancur, baik bank swasta maupun bank
pemerintah. Akhirnya,
mengambil
kebijakan menutup bank-bank yang
tidak mungkin diselamatkan dan dana
nasabah ditanggung pemerintah, begitu
juga bank-bank yang diselamatkan juga
ditanggung pemerintah sehingga dana
yang dikeluarkan mencapai 650 triliun
rupiah diambil dari APBN.
Setelah tugas BPPN selesai dan belajar
dari pengalaman terdahulu, pemerintah
membentuk LPS berdasarkan UndangUndang Nomor 24 Tahun 2004 tentang
LPS
dengan modal awal sebesar
empat trilun rupiah. Tugas pokoknya,
antara
lain,
merumuskan
dan
menetapkan kebijakan pelaksanaan
penjaminan simpanan, melaksanakan
penjaminan simpanan, merumuskan
dan menetapkan kebijakan dalam
rangka turut aktif memelihara stabilitas
sistem
perbankan,
merumuskan,
menetapkan,
dan
melaksanakan
kebijakan penyelesaian bank gagal
yang tidak berdampak sistemik, dan
melaksanakan penanganan bank gagal
yang berdampak sistemik.
Kini jumlah simpanan yang dijamin
oleh LPS mencapai Rp 1.845 triliun
dari jumlah seluruh simpanan nasabah
perbankan sebesar Rp 3.294 trilun. LPS
menerima premi sebesar Rp 6,5 trilun
per tahun hasil dari iuran premi anggota
sebesar 0,2 persen dari total rata-rata
simpanan nasabah perbankan.
Dana tersebut digunakan untuk
menutup bank-bank yang ditutup
dan membayar seluruh deposan yang
menjadi nasabah tersebut dengan
kondisi tertentu yang telah disyaratkan.
Tentunya ini yang utama sehingga
penggunaan dana dari APBN tidak
dipergunakan seperti dulu. Kalau
sekarang, dari anggota untuk anggota
LPS itu sendiri.
Pada 2008 terjadi krisis di Amerika
yang kemudian menjalar ke beberapa

40

INTEGRITAS - Juli 2013

negara kawasan Eropa, Asia, termasuk


Indonesia. Terbukti beberapa indikator
seperti kurs dolar terhadap rupiah
yang mencapai Rp 13.000 karena
perlambatan ekonomi dunia. Kondisi
krisis tersebut memang tidak seburuk
1997-1998, akan tetapi pemerintah
tidak mau mengambil risiko menunggu
seperti 1997-1998.
Pada beberapa bank sudah berdampak,
terlebih pada bank-bank asing.
Perbankan nasional mulai kesulitan
likuiditas keuangan, seperti yang
dialami Bank Mutiara, yang saat itu
bernama Bank Century. Keputusan
harus diambil, diselamatkan atau
ditutup. Mekanisme pengambilan
keputusan dilakukan melalui KSSK
(Komite Stabilitas Sistem Keuangan)
yang
diketuai Menteri Keuangan,
dengan Gubernur Bank Indonesia
sebagai anggota. Berdasarkan analisis
data yang dikumpulkan bahwa Bank
Century adalah bank gagal berdampak
sistemik maka diputuskanlah untuk
melakukan
penyelamatan
bank
tersebut melalui komite koordinasi
menyerahkan kepada LPS. Dana yang
dipergunakan sepenuhnya dari dana
LPS yang diambil dari iuran premi
anggota.
Kalau, misalnya, bank gagal dan masuk
dalam penanganan LPS dana yang
dibutuhkan di atas 30 trilIun maka
dana tersebut bisa diambil APBN. Akan

tetapi, LPS berusaha mencegah adanya


krisis keuangan sejak dini. Apalagi di
masa datang, kewenangan LPS mungkin
bertambah, yakni kewenangan pada
asuransi dalam pengawasan LPS.
Kewenangan utama LPS
adalah
menetapkan dan memungut premi
penjaminan,
menetapkan
dan
memungut kontribusi pada saat
bank pertama kali menjadi peserta;
melakukan pengelolaan kekayaan dan
kewajiban LPS; mendapatkan data
simpanan nasabah; data kesehatan
bank; laporan keuangan bank; dan
laporan hasil pemeriksaan bank
sepanjang tidak melanggar kerahasiaan
bank; melakukan rekonsiliasi; verifikasi,
dan/atau konfirmasi atas data tersebut;
menetapkan syarat, tata cara, dan
ketentuan
pembayaran
klaim;
menunjuk, menguasakan, dan/atau
menugaskan pihak lain untuk bertindak
bagi kepentingan dan/atau atas nama
LPS guna melaksanakan sebagian
tugas tertentu; melakukan penyuluhan
kepada
bank
dan
masyarakat
tentang penjaminan simpanan; dan
yang terakhir menjatuhkan sanksi
administrasi.
Bilamana dana yang ada di LPS yang
selalu bertambah setiap tahunnya
tidak digunakan untuk menalangi
klaim dari anggota maka dana yang
ada di LPS digunakan untuk beli Surat
Utang Negara (SUN) dan Sertifikat

dan menjalankannya sesuai dengan


kewenangan LPS.
Jadi ketika menentukan sistemik tidak
harus bank nya besar, tetapi lebih
berpengaruh terhadap pasar keuangan
dunia, yang menyebabkan kepanikan
dan bank-bank lain sudah mengalami
kesulitan likuiditas.
BI Libatkan LPS

Bank Indonesia
operasional.

disamping

biaya

Berbicara situasi sistemik dan situasi


non sistemik ada beberapa parameter
yang harus dipenuhi dan itu menjadi
kewenangan
KSSK yang sekarang
bernama Forum Koordinasi Stabilitas
Sistem Keuangan disingkat (FKSSK).
Berdasarkan kewenangan dan tugas
utama yang dimiliki LPS bersama
komite bersama sudah menutup 49
BPR dan 1 bank umum (Bank IFI).
Alasan BPR ditutup karena ukurannya
kecil sekali, sehingga situasinya tidak
bisa digambarkan situasi sistemik.
Bank umum seperti IFI bank tersebut
tidak berdampak sistemik, sehingga
situasinya juga tidak sistemik.
Jadi, pada saat Bank Century dinyatakan
sistemik, maka diserahkan kepada LPS
melalui Komite Koordinasi pada saat
itu Bank Century dikatakan bank gagal
berdampak sistemik. Kemudian, yang
menjadi masalah politik setelah satu
tahun kemudian, karena pada saat
penyelematan Bank Century tidak ada
satu pun yang mempersoalkan. Bank
Century baru dipermasalahkan setelah
pemilu.
Kemudian Perpu tentang KSSK ditolak,
tetapi perpu tentang kenaikan nilai
penjaminan dari 100 Juta mejadi 2
miliar tidak dipermasalahkan. Ada

apa? ujar Mirza


Alasan menaikkan nilai penjaminan
tersebut pada saat itu dikarenakan
negara-negara tetangga Indonesia
menaikkan nilai penjaminan sampai full
guarantee seperti halnya tahun 1998.
Kondisi tersebut dipengaruhi krisis
ekonomi di Amerika yang berimbas
pada pasar keuangan dunia goncang,
terjadi rush di Inggris dan di berbagai
negara lainnya. Singapura, Malaysia,
Hongkong dan Australia menaikkan
nilai penjaminannya -.
Kalau Indonesia tidak menaikkan
nilai penjaminannya, maka nasabah
perbankan di Indonesia akan membawa
uangnya ke bank di negara lain.
Oleh karena itu nilai penjaminannya
dinaikkan menjadi dua miliar, tandas
Mirza.
Dengan adanya FKSSK yang dibentuk
berdasarkan UU tentang OJK, yang
mengatur FKSSK anggotanya adalah
MenKeu, Gubernur BI, Ketua dewan
komisioner OJK dan Dewan Komisioner
LPS. FKSSK inilah nantinya yang akan
menentukan sistemik atau tidaknya
suatu bank yang mau ditutup atau yang
bermasalah. LPS juga ikut menentukan
setuju atau tidak penentuan bank
dan situasi sistemiknya. Sebelum
UU tentang OJK dibuat, LPS hanya
menerima putusan situasi dan bank
sistemik melalui Komite Koordinasi

Sekarang BI mau melibatkan LPS


untuk masuk ke bank yang sedang
dalam pengawasan khusus. Dulu
paradigmanya, bank yang sehat itu
ditangani BI, sedangkan bank yang
sudah bermasalah ditangani LPS.
Belajar terus dari pengalaman krisis
keuangan tahun 1998 dan tahun 2008,
Mirza mengatakan, pertama, LPS harus
dilibatkan dalam pengawasan bankbank yang sedang dalam pengawasan
khusus BI saat ini OJK, supaya LPS bisa
menganalisa berapa dana yang harus
dikeluarkan ketika bank ditutup dan
berapa dana yang harus disetor ketika
bank yang diselamatkan, karena pada
dasarnya dananya berasal dari LPS.
Dan yang kedua, LPS juga harus
meningkatkan kemampuan analisisnya,
sehingga sekarang LPS memonitor
kondisi bank dan memonitor kondisi
makro ekonomi, karena kalau bank
ditutup atau bermasalah akhirnya LPS
juga yang tangani. Seperti keadaan
tahun 1998, krisis keuangan yang terjadi
akibat pengaruh ekonomi makro.
Tahun 2008, krisis keuangan makro
ada di Amerika, yang kena imbasnya
Indonesia.
LPS tidak cukup hanya menerima
laporan
keuangan
bank
yang
bermasalah, karena LPS akan kesulitan
untuk memverifikasi laporan keuangan
itu benar adanya. Maka melalui UU
tentang OJK diberlakukan, kewenangan
LPS ditambah dengan wewenang
pemeriksaan
bank
berkoordinasi

INTEGRITAS - Juli 2013

41

BANKING
dengan OJK.
Jadi, pada 2014 setelah OJK menjadi
pengawas bank, LPS bisa memulai
memeriksa bank berkordinasi dengan
OJK.
Bahkan jika RUU tentang asuransi
disetujui oleh DPR, memberikan
tambahan wewenang LPS lagi yaitu
menjamin polis asuransi, tandas Mirza.
LPS didirikan dengan UU, jadi pasti ada
maksud dari pemerintah dan DPR pada
saat itu. Dan salah satu tujuan agar
tidak menggunakan dana dari APBN
dalam menanggulangi uang nasabah
akibat bank ditutup atau bank yang
diselamatkan seperti pada tahun 1998.
Pada waktu LPS harus menyelematkan
Bank Century dan meng-injeksi modal,
itu bukan merupakan keputusan dalam
rangka investasi atau keuntungan.
Akan tetapi LPS sedang menjalankan
tugas untuk menjaga stabilitas sistem
keuangan dengan menyelamatkan
bank tersebut.
UU memberikan tugas kepada LPS
selama 6 tahun, dengan rincian 3
Tahun dengan perpanjangan 1 tahun
sebanyak 3 kali dalam mengelola bank
yang diselamatkan LPS. Sampai tahun
kelima LPS harus bisa mengembalikan
dana yang di-injeksikan kepada bank
yang diselematkan. Kalau tidak bisa,
maka diberi waktu 1 tahun tambahan
untuk menjual dengan harga terbaik.
LPS bukan membeli bank, melainkan LPS
menyelamatkan bank dengan menginjeksi modal dan mengembalikan
modal.
Sebelum penyelamatan Bank Century,
LPS memang low profile dan LPS
memposisikan dirinya menunggu
perintah penyelamatan atau penutupan
bank. Belajar dari Century, jika mau
menyelematkan bank, harus ikut dari
awal.

42

INTEGRITAS - Juli 2013

Hingga sekarang ini masyarakat masih


belum mengetahui apa itu LPS. Oleh
karena itu, LPS akan melakukan
sosialisasi secara agresif melalui iklan,
seminar, dan CSR sehingga masyarakat
mengetahui keberadaan, fungsi dan
tugas LPS.
Mirza mengatakan bahwa masyarakat
perlu memahami apa itu LPS karena dari
kaca mata ekonom, krisis keuangan bisa
terjadi kapan saja. Karena perenomian
mempunyai siklus tahunan, ada siklus
dimana krisis keuangan, dan ada siklus
dimana keuangan membaik. Pada saat
ekonomi jatuh, bank bermasalah, disitu
LPS berfungsi. Siapa pun partai yang
berkuasa. Pada saat menjadi oposan
dari yang berkuasa, pada saat berkuasa
nantinya akan memerlukan LPS itu

sendiri.
LPS pada waktu menutup bank,
pertama, uang deposan tidak akan
dibayarkan oleh LPS, apabila tingkat
suku bunga bank deposan melebihi
ketentuan yang ditetapkan oleh LPS.
Kedua, uang nasabah tidak akan dibayar
oleh LPS apabila nasabah mempunyai
kredit macet. Ketiga, LPS tidak
membayar apabila transaksi keuangan
nasabah tidak dicatat oleh bank.
Oleh karena itu, nasabah diharapkan
aware terhadap bank dimana nasabah
menyimpan uangnya.

Hendrik