Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM

ENERGI DAN ELEKTRIFIKASI PERTANIAN

ENERGI ANGIN

Oleh:
suhartanto
NIM A1H013002

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2015

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Energi angin di Indonesia memiliki prospek yang menguntungkan untuk
dikembangkan. Angin merupakan udara yang bergerak. Udara tersebut bergerak
dari wilayah yang mempunyai tekanan atmosfir tinggi menuju daerah yang
mempunyai atmosfir yang lebih rendah. Makin besar perbedaan tekanan makin
cepat udara bergerak. Seandainya tekanan udara seluruh permukaan bumi sama,
kemungkinan tak akan ada angin.
Namun hal tersebut tidak akan terjadi, karena jika dilihat kondisi matahari
yang menyinari dan menghangatkan sebagian wilayah bumi dan sebagian wilayah
lainnya yang tetap gelap. Ditempat yang hangat udaranya akan mengambang dan
mempunyai tekanan udara yang lebih rendah dibanding udara ditempat yang gelap
atau dingin. Sehingga pemanasannya tak merata dari permukaan bumi
menimbulkan perbedaan tekanan, sehingga menyebabkan angin.
Angin dikendalikan oleh energi matahari, merupakan udara yang bergera,
sehinga ia mempunyai energi gerak kinetik. Untuk memanfaatkan angin perlu
diketahui kecepatan dan arah angin melalui suatu pengukuran.
B. Tujuan
1. Mengetahui penggunaan anemometer
2. Mengetahui manfaat energi angin dalam kehidupan sehari - hari
3. Mengetahui tingkat potensi energi angin pada suatu daerah

II. TINJAUAN PUSTAKA

Energi angin adalah salah satu jenis sumber energi terbarukan yang
potensial untuk menghasilkan energi listrik maupun mekanik melalui proses
konversi konversi ke mekanik dan selanjutnya ke listrik. Energi kinetik yang
terdapat pada angin dapat diubah menjadi energi mekanik untuk memutar
peralatan (pompa piston, penggilingan, dan lain-lain). Sementara itu, pengolahan
selanjutnya dari energi mekanik yaitu untuk memutar generator yang dapat
menghasilkan listrik. Kedua proses pengubahan ini disebut konversi energi angin;
sedangkan sistem atau alat yang melakukannya disebut SKEA (Sistem Konversi
Energi Angin). Selanjutnya, untuk menghasilkan listrik disebut SKEA listrik atau
lebih dikenal sebagai turbin angin; dan untuk mekanik disebut SKEA mekanik
atau kincir angin. Sekarang ini, pemanfaatan energi angin yang lebih umum yakni
dalam bentuk energi listrik, sementara bentuk energi mekanik atau yang lebih
dikenal sebagai pemanfaatan langsung mulai berkurang.
Dalam pemanfaatannya, diperlukan data/informasi mengenai potensi energi
angin aktual yang tersedia di lokasi pemasangan (suplai) dan kebutuhan di lokasi
tersebut (kebutuhan). Kajian dan evaluasi yang lebih akurat mengenai kedua
aspek ini bersama aspek ekonomis akan menghasilkan pemanfaatan SKEA yang
optimal di suatu lokasi.
Pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan, keputusan, peraturan,
strategi dan tindakan nyata secara terencana untuk mendorong pengembangan dan

pengimplementasian penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT) agar mampu


menyediakan pasokan energi yang didasarkan pada potensi yang tersedia dan
kondisi pemanfaatan setempat. Kontribusi EBT diharapkan semakin meningkat
dan secara nasional dapat mencapai 11% dari kebutuhan energi nasional pada
tahun 2025 (Pusdatin KESDM, 2010). Khusus untuk energi angin, implementasi
yang direncanakan mencapai 250 MW pada tahun 2025, sementara sampai saat ini
pemanfaatan energi angin di Indonesia baru mencapai kurang lebih 1 MW daya
terpasang.
Angin merupakan suatu vektor yang mempunyai besaran dan arah. Besaran
yang dimaksud adalah kecepatannya sedang arahnya adalah darimana datangnya
angin. Kecepatan angin dapat dihitung dari jelajah angin (cup counter
anemometer) dibagi waktu (lamanya periode pengukuran). Mengukur arah angin
haruslah ada angin atau cup-counter anemometer dalam keadaan bergerak.
(Anonim, 2010).
Faktor pendorong utama angin adalah gaya gradient tekanan. Gradien
tekanan adalah perbedaan tekanan per satuan jarak dengan arah horizontal dan
tegak lurus isobar. Makin besar gradient tekanan maka kecepatan angin makin
besar. Untuk gradient yang sama, kecepatan angin ditentukan juga oleh letak
geografis, ketinggiaan tempat dan waktu. Angin selalu bergerak karena perbedaan
tekanan udara dan selalu dari tekanan udara tinggi ke tekanan udara rendah.
Perbedaan tekanan ini disebabkan karena perbedaan suhu, perbedaan suhu ini
antara lain adalah disebabkan karena perbedaan penerimaan radiasi. Disamping

itu ada gaya sekunder yang mempengaruhi angin yaitu Gaya Cariolis, gaya
sentrifugal dan gaya gesekan (Nyoman, 2005).
III. METODOLOGI

A. Alat dan Bahan

1. Alat Tulis
2. Anemometer
3. Kalkulator

B. Prosedur Kerja

1. Mempersiapkan alat dan bahan.


2. Tentukan arah angin, kemudian menghadap ke arah yang berlawanan dengan
arah angin.
3. Menyalakan anemometer dengan cara menekan tombol power.
Layar tampilan menghadap ke arah pemegang anemometer dan angin akan
datang dari arah belakang layar tampilan.
4. perhatikan angka yang menunjukan kecepatan angin pada layar tampil.
5. Apabila angka kecepatan angin telah konstan, tekan tombol hold, kemudian
catat hasilnya.

6. Setelah mendapatkan kecepatan angin, menghitung daya dan energinya


menggunakan rumus.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
A. Perhitungan
1. Kelompok 1. V = 3 m/s
M =Ax V x Q
= (0,25) (3) (1,2)
= 0,9 kg/s
P = KAV3
= 1,37 x 10-5 x 0,25 x 33
= 9,25 x 10-5 watt
E = 0,5 Mv2
= 0,5 x 0,9 x 32
= 4,05 joule
2. Kelompok 2. V = 2,9 m/s
M =Ax V x Q
= (0,25) (2,9) (1,2)
= 0,87 kg/s
P = KAV3
= 1,37 x 10-5 x 0,25 x 2,93
= 8,35 x 10-5 watt
E = 0,5 Mv2
= 0,5 x 0,87 x 2,92
= 3,66 joule

3. Kelompok 3. V = 1,36 m/s

M =Ax V x Q
= (0,25) (1,36) (1,2)
= 0,408 kg/s
P = KAV3
= 1,37 x 10-5 x 0,25 x 1,363
= 4,56 x 10-6 watt
E = 0,5 Mv2
= 0,5 x 0,408 x 1,362
= 0,38 joule
4. Kelompok 4. V = 1,2 m/s
M =Ax V x Q
= (0,25) (1,2) (1,2)
= 0,36 kg/s
P = KAV3
= 1,37 x 10-5 x 0,25 x 1,23
= 5,92 x 10-6 watt
E = 0,5 Mv2
= 0,5 x 0,36 x 1,22
= 0,26 joule
5. Kelompok 5. V = 1,1 m/s
M =Ax V x Q
= (0,25) (1,1) (1,2)
= 0,33 kg/s
P = KAV3
= 1,37 x 10-5 x 0,25 x 1,13
= 4,56 x 10-6 watt
E = 0,5 Mv2
= 0,5 x 0,33 x 1,12
= 0,2 joule
6. Kelompok 6. 0,07 m/s
M =Ax V x Q
= (0,25) (0,07) (1,2)
= 0,021 kg/s
P = KAV3
= 1,37 x 10-5 x 0,25 x 0,073
= 1,17 x 10-9 watt
E = 0,5 Mv2
= 0,5 x 0,021 x 0,072
= 5,145 x 10-5 joule
7. Kelompok 7. V = 0,9 m/s

M =Ax V x Q
= (0,25) (0,9) (1,2)
= 0,27 kg/s
P = KAV3
= 1,37 x 10-5 x 0,25 x 0,93
= 2,5 x 10-6 watt
E = 0,5 Mv2
= 0,5 x 0,27 x 0,92
= 0,11 joule
8. Kelompok 8. V = 1 m/s
M =Ax V x Q
= (0,25) (1) (1,2)
= 0,3 kg/s
P = KAV3
= 1,37 x 10-5 x 0,25 x 13
= 3,425 x 10-6 watt
E = 0,5 Mv2
= 0,5 x 0,3x 12
= 0,15 joule
9. Kelompok 9. V = 1,4 m/s
M =Ax V x Q
= (0,25) (1,4) (1,2)
= 0,42 kg/s
P = KAV3
= 1,37 x 10-5 x 0,25 x 1,43
= 9,4 x 10-6 watt
E = 0,5 Mv2
= 0,5 x 0,42 x 1,42
= 0,42 joule
10. Kelompok 10. V = 4,3 m/s
M =Ax V x Q
= (0,25) (4,3) (1,2)
= 1,29 kg/s
P = KAV3
= 1,37 x 10-5 x 0,25 x 4,33
= 2,72 x 10-4 watt
E = 0,5 Mv2
= 0,5 x 1,29 x 4,32
= 11,93 joule

Anemometer adalah sebuah perangkat yang digunakan untuk mengukur


kecepatan angin, dan merupakan salah satu instrumen yang digunakan dalam
sebuah stasiun cuaca. Istilah ini berasal dari kata Yunani anemos, yang berarti
angin. Anemometer pertama adalah alat pengukur jurusan angin yang ditemukan
oleh oleh Leon Battista Alberti. Anemometer dapat dibagi menjadi dua kelas:
yang mengukur angin dari kecepatan, dan orang-orang yang mengukur dari
tekanan angin, tetapi karena ada hubungan erat antara tekanan dan kecepatan,
yang dirancang untuk satu alat pengukur jurusan angin akan memberikan
informasi tentang keduanya.

Gambar 1. Anemometer. (joytalita.wordpress.com).

B. Pembahasan
Angin adalah udara yang bergerak. Menurut Buys Ballot, ahli ilmu cuaca
dari Perancis, angin adalah massa udara yang bergerak dari daerah bertekanan
maksimum ke daerah bertekanan minimum. Gerakan massa udara yang arahnya
horizontal dikenal dengan istilah angin. Anemometer mangkok adalah alat yang

digunakan untuk mengukur kecepatan angin. Satuan yang biasa digunakan dalam
menentukan kecepatan angin adalah km/jam atau knot (1 knot = 0,5148 m/det =
1,854 km/jam). Sisteman penamaan angin biasanya dihubungkan dengan arah
datangnya massa udara tersebut.
Angin menurut definisi para ahli mengatakan bahwa pengertiayan adalah
Aliran udara yang berlangsung dari tempat yang bertekanan udara tinggi
(maksimum) ke tempat yang bertekanan udara rendah (minimum). Aliran udara
ini disebut angin. Angin pasti tidak datang begitu saja, pasti ada proses terjadinya
atau munculnya angin. dimana angin sangat bermanfaat bagi kehidupan dibumi
terlihat dari sifat-sifat angin
Definisi/pengertian angin adalah udara yang bergerak yang diakibatkan oleh
pergerakan atau rotasi bumi dan juga karena adanya perbedaan tekanan udara di
lingkungan sekitar. Angin bertiup dari daerah yang memiliki tekanan udara tinggi
ke tempat yang memiliki tekanan udara rendah.
1. Angin laut.
Angin laut (bahasa Inggris: sea breeze) adalah angin yang bertiup dari
arah laut ke arah darat yang umumnya terjadi pada siang hari dari pukul 09.00
sampai dengan pukul 16.00 di daerah pesisir pantai. Angin ini biasa dimanfaatkan
para nelayan untuk pulang dari menangkap ikan di laut. Angin laut ini terjadi pada
siang hari. Karena air mempunyai kapasitas panas yang lebih besar daripada
daratan, sinar matahari memanasi laut lebih lambat daripada daratan. Ketika suhu
permukaan daratan meningkat pada siang hari, udara di atas permukaan darat

meningkat pula akibat konduksi. Tekanan udara di atas daratan menjadi lebih
rendah karena panas, sedangkan tekanan udara di lautan cenderung masih lebih
tinggi karena lebih dingin. Akibatnya terjadi gradien tekanan dari lautan yang
lebih tinggi ke daratan yang lebih rendah, sehingga menyebabkan terjadinya angin
laut, dimana kekuatannya sebanding dengan perbedaan suhu antara daratan dan
lautan. Namun, jika ada angin lepas pantai yang lebih kencang dari 8 km/jam,
maka angin laut tidak terjadi.

Gambar 2. Angin Laut.(Wikipedia.com).

2. Angin darat
Angin darat (bahasa Inggris: land breeze) adalah angin yang bertiup dari
arah darat ke arah laut yang umumnya terjadi pada saat malam hari dari jam 20.00
sampai dengan jam 06.00 di daerah pesisir pantai. Angin jenis ini bermanfaat bagi
para nelayan untuk berangkat mencari ikan dengan perahu bertenaga angin
sederhana. Pada malam hari daratan menjadi dingin lebih cepat daripada lautan,
karena kapasitas panas tanah lebih rendah daripada air. Akibatnya perbedaan suhu
yang menyebabkan terjadinya angin laut lambat laun hilang dan sebaliknya
muncul perbedaan tekanan yang berlawanan karena tekanan udara di atas lautan

yang lebih panas itu menjadi lebih rendah daripada daratan, sehingga terjadilah
angin darat, khususnya bila angin pantai tidak cukup kuat untuk melawannya.

Gambar 3. Angin Darat. (Wikipedia.com)

3. Angin Lembah
Angin lembah adalah angin yang bertiup dari arah lembah ke arah
puncak gunung yang biasa terjadi pada siang hari.

Gambar 4. Angin Lembah. (seputarpengetahuan.com).

4. Angin gunung
Angin gunung adalah angin yang bertiup dari puncak gunung ke lembah
gunung yang terjadi pada malam hari.

Gambar 5. Angin Gunung. (seputarpengetahuan.com).

5. Angin Fohn
Angin Fohn/angin jatuh adalah angin yang terjadi seusai hujan Orografis.
angin yang bertiup pada suatu wilayah dengan temperatur dan kelengasan yang
berbeda. Angin Fohn terjadi karena ada gerakan massa udara yang naik
pegunungan yang tingginya lebih dari 200 meter di satu sisi lalu turun di sisi lain.
Angin Fohn yang jatuh dari puncak gunung bersifat panas dan kering, karena uap
air sudah dibuang pada saat hujan Orografis.
Biasanya angin ini bersifat panas merusak dan dapat menimbulkan korban.
Tanaman yang terkena angin ini bisa mati dan manusia yang terkena angin ini bisa
turun daya tahan tubuhnya terhadap serangan penyakit.

Gambar 6. Angin Fohn. (seputarpengetahuan.com).

6. Angin Munsoon
Angin Munsoon, Moonsun, muson adalah angin yang berhembus secara
periodik (minimal 3 bulan) dan antara periode yang satu dengan yang lain polanya
akan berlawanan yang berganti arah secara berlawanan setiap setengah tahun.
Biasanya pada setengah tahun pertama bertiup angin darat yang kering dan
setengah tahun berikutnya bertiup angin laut yang basah.
Pada bulan Oktober April, matahari berada pada belahan langit Selatan,
sehingga benua Australia lebih banyak memperoleh pemanasan matahari dari
benua Asia. Akibatnya di Australia terdapat pusat tekanan udara rendah (depresi)
sedangkan di Asia terdapat pusat-pusat tekanan udara tinggi (kompresi). Keadaan
ini menyebabkan arus angin dari benua Asia ke benua Australia.
Di Indonesia angin ini merupakan angin musim Timur Laut di belahan bumi
Utara dan angin musim Barat di belahan bumi Selatan. Oleh karena angin ini
melewati Samudra Pasifik dan Samudra Hindia maka banyak membawa uap air,
sehingga di Indonesia terjadi musim penghujan. Musim penghujan meliputi
seluruh wilayah indonesia, hanya saja persebarannya tidak merata. makin ke timur
curah hujan makin berkurang karena kandungan uap airnya makin sedikit.
Pada bulan April-Oktober, matahari berada di belahan langit utara, sehingga
benua Asia lebih panas daripada benua Australia. Akibatnya, di asia terdapat

pusat-pusat tekanan udara rendah, sedangkan di australia terdapat pusat-pusat


tekanan udara tinggi yang menyebabkan terjadinya angin dari australia menuju
asia.
Di indonesia terjadi angin musim timur di belahan bumi selatan dan angin
musim barat daya di belahan bumi utara. Oleh karena tidak melewati lautan yang
luas maka angin tidak banyak mengandung uap air oleh karena itu di indonesia
terjadi musim kemarau, kecuali pantai barat sumatera, sulawesi tenggara, dan
pantai selatan irian jaya.
Antara kedua musim tersebut ada musim yang disebut musim pancaroba
(peralihan), yaitu musim kemareng yang merupakan peralihan dari musim
penghujan ke musim kemarau, dan musim labuh yang merupakan peralihan
musim kemarau ke musim penghujan. Adapun ciri-ciri musim pancaroba yaitu :
Udara terasa panas, arah angin tidak teratur dan terjadi hujan secara tiba-tiba
dalam waktu singkat dan lebat.
Angin Munson dibagi menjadi 2, yaitu Munson Barat atau dikenal dengan
Angin Musim Barat dan Munson Timur atau dikenal dengan Angin Musim Timur
a. Angin Musim Barat
Angin Musim Barat/Angin Muson Barat adalah angin yang berhembus dari
Benua Asia (musim dingin) ke Benua Australia (musim panas) dan mengandung
curah hujan yang banyak di Indonesia bagian Barat, hal ini disebabkan karena
angin melewati tempat yang luas, seperti perairan dan samudra. Contoh perairan

dan samudra yang dilewati adalah Laut China Selatan dan Samudra Hindia. Angin
Musim Barat menyebabkan Indonesia mengalami musim hujan.
Angin ini terjadi antara bulan Oktober sampai bulan April di Indonesia terjadi
musim hujan.
b. Angin Musim Timur
Angin Musim Timur/Angin Muson Timur adalah angin yang mengalir dari
Benua Australia (musim dingin) ke Benua Asia (musim panas) sedikit curah hujan
(kemarau) di Indonesia bagian Timur karena angin melewati celah- celah sempit
dan berbagai gurun (Gibson, Australia Besar, dan Victoria). Ini yang
menyebabkan Indonesia mengalami musim kemarau. Terjadi pada bulan Juni, Juli
dan Agustus, dan maksimal pada bulan Juli.

Gambar 7. Angin Muson. (seputarpengetahuan.com).


Alat alat yang digunakan untuk mengukur angin ialah

1. Anemometer
Anemometer adalah sebuah perangkat yang digunakan untuk mengukur
kecepatan angin, dan merupakan salah satu instrumen yang digunakan dalam
sebuah stasiun cuaca. Istilah ini berasal dari kata Yunani anemos, yang berarti
angin. Anemometer pertama adalah alat pengukur jurusan angin yang ditemukan
oleh oleh Leon Battista Alberti. Anemometer dapat dibagi menjadi dua kelas:
yang mengukur angin dari kecepatan, dan orang-orang yang mengukur dari
tekanan angin, tetapi karena ada hubungan erat antara tekanan dan kecepatan,
yang dirancang untuk satu alat pengukur jurusan angin akan memberikan
informasi tentang keduanya.

Gambar 8. Anemometer. (joytalita.wordpress.com).

2. Wind Vane
Wind Vane adalah alat untuk menunjukkan arah angin. Mereka biasanya
digunakan sebagai hiasan arsitektur ke titik tertinggi bangunan.

Gambar 9. Wine Vane. (en.wikipedia.org).

Sebuah windsock adalah tabung tekstil kerucut (yang menyerupai kaus kaki
raksasa, maka namanya) dirancang untuk menunjukkan arah angin dan kecepatan
angin. Windsocks biasanya digunakan di bandara dan di pabrik bahan kimia di
mana ada resiko kebocoran gas. Mereka kadang-kadang terletak di samping jalan
raya di lokasi berangin.

Gambar 10. Windsock. (en.wikipedia.org).

Pada aplikasi pemanfaatan energi angin ke energi listrik dalam skala besar,
biasanya dilakukan dengan cara membangun wind farm yang setiap turbin
anginnya dikoneksikan pada satu bus yang sama. Beberapa turbin angin dipasang

di setiap sisi ladang (farm) sehingga mampu menghasilkan listrik dari potensi
angin lokal secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan pusat beban. Ada
beberapa permasalah teknis yang perlu dibahas lebih detail dalam mendesain
turbin angin, yaitu sebagai berikut :
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam mendesain :
1. Menentukan tinggi dari turbin angin Semakin tinggi kita memasang
turbin angin maka kecepatan anginnya semakin besar. Namun semakin
tinggi turbin semakin besar pula biaya yang dibutuhkan untuk membangun
tower turbin. Rata-rata tinggi suatu turbin angin adalah 30 50 meter.
2. Menentukan jarak antara setiap turbin angin pada wind farm Terlalu jauh
atau terlalu dekat pemasangan turbin angin pada wind farm akan
menyebabkan produksi energi listrik yang dihasilkan wind farm tidak
sebanding dengan biaya pembangunannya dan energi yang dikonversikan
pada wind farm tersebut. Apabila turbin angin dibangun pada jarak yang
terlalu jauh maka pemanfaatan potensi angin pada tempat tersebut akan
tidak optimal. Sementara jika jarak antar turbin angin dibangun terlalu
dekat, dapat terjadi turbulensi pada turbin. Seperti yang ditunjukkan oleh
gambar 1, jarak vertikal ideal antara satu turbin angin dan yang lainnya
adalah sebesar 5 kali diameter baling-baling. Sedangkan jarang
horisontalnya adalah 7 kali diameter baling-baling turbin.

Gambar 11. Mendesain jarak antar turbin angin yang ideal.


(indone5ia.wordpress.com).

3. Penempatan lokasi PLTB Tidak semua lokasi pada suatu daerah cocok
untuk dibangun PLTB. Agar mampu menghasilkan energi angin yang
besar perlu diadakan survey pada setiap daerah untuk mengetahui potensi
angin lokalnya. Biasanya kecepatan angin pada suatu daerah juga akan
semakin besar pada setiap ketinggian tertentu.
4. Kerapatan

udara/angin Kerapatan

udara

merupakan

fungsi

dari

temperatur dan tekanan udara yang angkanya tidak dapat diperkirakan


secara eksak. Kerapatan udara rata-rata adalah 800 kali lebih rendah
dibanding dengan kerapatan air. Sebagai contoh didaerah puncak gunung
memiliki kecepatan angin yang tinggi namun semakin tinggi gunung
semakin mengurangi kerapatan udara di daerah tersebut. Angka kerapatan
udara yang biasa digunakan dalam mendesain turbin angin adalah sebesar
0,1 0,5.

Dalam praktikum kali ini kita melalukan pengukuran energi angin yang
berada pada sekitar daerah purwokerto. Kita melalukan praktikum di mulai dari
jam 06 : 30 hingga 13 : 15 WIB. Dan dari hasi yang di dapat ialah
B. Perhitungan
1.

Kelompok 1.Jam 12 :30 WIB


E = 0,5 Mv2
= 0,5 x 0,9 x 32
= 4,05 joule

2. Kelompok 2. Jam 12 :45 WIB


E = 0,5 Mv2
= 0,5 x 0,87 x 2,92
= 3,66 joule

3. Kelompok 3. Jam 13 : 00 WIB


E = 0,5 Mv2
= 0,5 x 0,408 x 1,362
= 0,38 joule

4. Kelompok 4. Jam 06 : 30 WIB


E = 0,5 Mv2
= 0,5 x 0,36 x 1,22
= 0,26 joule

5. Kelompok 5. Jam 06 :45 WIB


E = 0,5 Mv2
= 0,5 x 0,33 x 1,12
= 0,2 joule

6. Kelompok 6. Jam 07 : 00 WIB


E = 0,5 Mv2
= 0,5 x 0,021 x 0,072
= 5,145 x 10-5 joule

7. Kelompok 7. Jam 09 : 15 WIB


E = 0,5 Mv2
= 0,5 x 0,27 x 0,92
= 0,11 joule

8. Kelompok 8. Jam 09: 30 WIB


E = 0,5 Mv2
= 0,5 x 0,3x 12
= 0,15 joule

9. Kelompok 9. Jam 09 :45 WIB


E = 0,5 Mv2
= 0,5 x 0,42 x 1,42
= 0,42 joule

10. Kelompok 10. Jam 10:00


E = 0,5 Mv2
= 0,5 x 1,29 x 4,32
= 11,93 joule

Gerafik hubungan waktu dan energi


15
10
Energi (Joule)

Gerafik hubungan waktu


dan energi

5
0
5 6 7 8 9 1011121314
Waktu

Gambar 12. Grafik hubungan waktu dan energi.


Kita dapat melihat bahwa semakin siang maka energi angin semakin
kencang karena angin berpindah dari tekanan timggi ke tekenan rendan.

Potensi energi angin di Indonesia umumnya berkecepatan lebih dari 5 meter


per detik (m/detik). Hasil pemetaan Lembaga Penerbangan dan Antariksa
Nasional (Lapan) pada 120 lokasi menunjukkan, beberapa wilayah memiliki
kecepatan angin di atas 5 m/detik, masing-masing Nusa Tenggara Timur, Nusa
Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Pantai Selatan Jawa.
Energi angin tidak akan melanjutkan pencemaran terhadap planet kita
seperti bahan bakar fosil selama ini. Misalnya, turbin angin tunggal 1-MW dapat
menghemat sekitar 2.000 ton karbon dioksida dalam satu tahun.
Energi angin juga merupakan sumber energi terbarukan yang berarti tidak
dapat habis seperti bahan bakar fosil. Energi angin yang tersedia di atmosfer lima
kali lebih besar daripada konsumsi energi dunia saat ini. Potensi energi angin di
darat dan dekat pantai sekitar 72 TW (tera watt) yang melebihi lima kali lebih
banyak dari penggunaan energi dunia saat ini dalam segala bentuk.
Keuntungan lain dari tenaga angin adalah fakta bahwa setiap orang bisa
membangun atau membeli turbin angin untuk memanfaatkan energi angin dan
memenuhi kebutuhan energi di rumah sendiri. Turbin angin tidak perlu banyak
perawatan dan seseorang tidak perlu menjadi jenius untuk meng-handlenya. Tentu
saja memiliki turbin angin sendiri juga berarti menghindari terjadinya pemadaman
listrik bila terjadi kerusakan jaring PLN. Juga, listrik tenaga angin akan menjadi
lebih hemat biaya seiring dengan adanya banyak penelitian yang dilakukan untuk
memotong biaya instalasi, meningkatkan efisiensi dan untuk memastikan agar
energi angin menjadi lebih dapat diandalkan.

Mengenai kekurangan energi angin, hal pertama yang harus disebutkan


adalah ketersediaan angin. Di beberapa tempat angin kencang sering ditemui yang
membuat pemanfaatan energi angin menjadi sangat mudah, sementara di beberapa
tempat angin tidak cukup kuat untuk menciptakan listrik yang memadai.
Biaya instalasi tenaga angin yang masih relatif tinggi merupakan kelemahan
lain dari energi angin. Secara kasar, dibutuhkan sekitar 10 tahun untuk
mengembalikan biaya instalasi energi angin. Memang, ini bukan waktu yang
sangat panjang, namun biaya instalasinya yang besar masih menjadi penghalang
bagi banyak orang untuk memanfaatkan energi angin.
Kelemahan lainnya dari tenaga angin adalah bangunan pembangkit listrik
tenaga angin dapat mempengaruhi estetika lanskap. Fasilitas listrik tenaga angin
juga perlu direncanakan dengan hati-hati, lokasi dan pengoperasiannya harus
meminimalkan dampak negatif pada populasi burung dan satwa liar.
Kendala yang kami hadapi saat praktikum kami rasa cukup kecil, dan secara
keseluruhan sangat baik hanya saja pada saat menerangkan tentang penjelasan
energi angin banyak anak anak yang telat dan kurang memperhatikan,
menjadikan informasi dari asisten kurang tersampaikan dengan baik.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Anemometer adalah sebuah perangkat yang digunakan untuk mengukur
kecepatan angin dan untuk mengukur arah, anemometer merupakan salah
satu instrumen yang sering digunakan oleh balai cuaca seperti Badan
Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).
2. Pemanfaatan energi angin dalam kehidupan sehari-hari dapat digunakan
sebagai tenaga gerak dari perahu layar dan juga untuk menggerakan turbin
atau baling-baling pada pembangkit listrik tenaga angin (PLTAngin).
3. Untuk mengetahui kecepatan angin pada suatu daerah kita bisa melakukan
pengukuran kecepatan angin pada daerah tertentu dengan menggunakan
alat pengukur kecepatan angin, yaitu anemometer maupun alat ukur
kecepatan angin lainnya.
B. Saran
Alat praktikum yang digunakan kurang memadai sehingga para praktikan
menunggu untuk bergantian. Tempat yang kurang maksimal juga mempengaruhi
hasil pengukuran kecepatan angin.

DAFTAR PUSTAKA

Soemeinaboedhy, Nyoman I. 2006. Agroklimatologi. UPT Universitas Mataram:


Mataram.
Tim Penyusun. 2015. Pedoman Praktikum Energi dan Elektrifikasi Pertanian.
UNSOED. Purwokerto
http://virgawati. files. wordpress. com/2008/05/ alat2 dibmg. ppt. Diakses pada
tanggal 24 November 2013, pukul 13:00 WIB.
http://www.alpensteel.com/article/47-103-energi-angin--wind-turbine--windmill/3201--potensi-angin-melimpah-di-kawasan-pesisir-indonesia.html
(diakses pada tanggal 25 November 2013)
http://www.indoenergi.com/2012/04/keunggulan-dan-kelemahan-energiangin.html (diakses pada tanggal 25 November 2013)