Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Batubara merupakan hasil dari akumulasi tumbuh-tumbuhan pada kondisi
lingkungan pengendapan tertentu. Akumulasi tersebut telah dikenai pengaruhpengaruh synsedimentary dan post-sedimentary. Akibat pengaruh-pengaruh
tersebut dihasilkanlah batubara dengan tingkat (rank) dan kerumitan struktur yang
bervariasi. Lingkungan pengendapan batubara dapat mengontrol penyebaran
lateral, ketebalan, komposisi, dan kualitas batubara Read more:
Di Indonesia, endapan batubara yang bernilai ekonomis terdapat di cekungan
Tersier, yang terletak di bagian barat Paparan Sunda (termasuk Pulau Sumatera
dan Kalimantan), pada umumnya endapan batubara tersebut tergolong usia muda,
yang dapat dikelompokkan sebagai batubara berumur Tersier Bawah dan Tersier
Atas.
Potensi batubara di Indonesia sangat melimpah, terutama di Pulau Kalimantan
dan Pulau Sumatera, sedangkan di daerah lainnya dapat dijumpai batubara
walaupun dalam jumlah kecil, seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah, Papua, dan
Sulawesi.
Indonesia merupakan produsen batubara terbesar ketiga di dunia dengan
jumlah cadangan 281,7 milyar ton, dimana amerika terletak pada urutan kedua
dan cina di urutan pertama dengan jumlah cadangan 1844.6 milyar ton. Sejumlah

16

kantung cadangan batubara yang lebih kecil terdapat di pulau Sumatra, Jawa,
Kalimantan, Sulawesi dan Papua, namun demikian tiga daerah dengan cadangan
batubara terbesar di Indonesia adalah Sumatra selatan, Kalimantan selatan,dan
Kalimantan timur. Indonesia memiliki cadangan batubara kualitas menengah dan
rendah yang melimpah. Jenis batubara ini dijual dengan harga kompetitif di pasar
internasional (ikut disebabkan karena upah tenaga kerja Indonesia yang rendah).
1.2 Rumusan Masalah
a. Bagaimana endapan dan cadangan batubara yang ada di Indonesia dan
sultra
b. Dimana saja sebaran endapan dan cadangan batubara di Indonesia dan
sultra
c. Faktor apa saja yang mempengaruhi penurunan endapan dan cadangan
batubara Indonesia
d. Endapan dan cadangan batubara Sulawesi tenggara
1.3 Tujuan
Adapun Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah
1. Untuk mengetahui sebaran endapan batubara yang ada di seluruh
Indonesia
2. Untuk mengetahui sebaran endapan dan cadangan batubara yang ada di
Sulawesi tenggara
3. Untuk mengetahui factor-factor apa saja yang mempengaruhi penurunan
cadangan batubara Indonesia
4. Mendeskripsikan endapan dan cadangan batubara yang ada di Indonesia

BAB II
TINJAUN PUSTAKA

16

2.1 Pengertian Batubara secara Umum


Batubara merupakan hasil dari akumulasi tumbuh-tumbuhan pada kondisi
lingkungan pengendapan tertentu. Akumulasi tersebut telah dikenai pengaruhpengaruh synsedimentary dan post-sedimentary. Akibat pengaruh-pengaruh
tersebut dihasilkanlah batubara dengan tingkat (rank) dan kerumitan struktur yang
bervariasi. Lingkungan pengendapan batubara dapat mengontrol penyebaran
lateral, ketebalan, komposisi,
Batubara adalah endapan senyawa organik karbonan yang
terbentuk secara alamiah dari sisa tumbuh-tumbuhan. (UU No 4 Tahun
2009 )
2.2 Sejarah Pertambangan batubara di Indonesia

Sejarah pertambangan batubara di Indonesia dimulai pada tahun 1849 di


daerah Pangaran, Kalimantan Timur. Pada tahun 1888. sebuah perusahaan
bernama N.V. Oost Borneo milik belanda memulai kegiatan penambangannya di
pelarang, yang terletak 10 km sebelah tenggara Samarinda, Kalimantan Timur.
Hingga Perang Dunia II, terdapat perusahaan-perusahaan kecil yang bergerak
dalam penambangan batubara dan pada saat ini (tahun 2005) di Kalimantan
terdapat puluhan perusahaan penambangan batubara baik sekala besar maupun
sekala kecil.
Demikian bagus pemasaran batubara saat ini (tahun 2005), membuat orang
berkeinginan untuk mendapatkan Ijin Usaha Penambangan batubara. Di sumatra
kegiatan penambangan batubara secara besar-besaran dimulai tahun 1880, di

16

daerah Sungai Durian Sumatra Barat. Usaha ini kurang berhasil, karena
mengalami kesulitan dalam pengangkutan hasil penambangan. Pada tahun 1868,
ditemukan keberadaan batubara di daerah Ombilin, selanjutnya pada tahun 18681873 dilakukan penelitian seksama, dan akhirnya pada tahun 1892 dibuka
penambangan batubara di Ombilin, dikenal sebagai Tambang Batubara Ombilin.
Penelitian tentang keberadaan batubara dilakukan pula pada bukit asam pada tahu
1915-1918 dan pada tahun 1919 dibuka tambang batubara bukit asam. Tambang
batubara bukit asam dan tambang batubara ombilin merupakan tambang batubara
yang berperan penting pada saat itu. Demikian pentingnya pengusaha tambang
batubara di indonesia, pemerintah pada saat itu memandang penting segera
didirikan PN. Batubara, yang dikukuhkan dengan peraturan pemerintah No. 23.
Tahun 1968, dengan embrio Tambang Bukit Asam (disebut unit 1), Tambang
Batubara Ombilin (disebut unit 2), kedua tambang tersebut berada pada pulau
Sumatera, dan Tambang Batubara Mahakam (disebut unit 3), yang berada dipulau
Kalimantan.
Di Indonesia, sampai bulan Agustus 2005 terdapat 138 perusahaan yang
bergerak dalam bidang pertambangan batubara, antara lain Perusahaan Terbatas
(PT) Allied Indo Coal, PT.Aneka Tambang, PT.Antang Gunung Meratus,
PT.Arutmin, PT.Bahari Cakrawala Sebuku, PT.Bentala Coal Mining, PT. Berau
Coal, PT.Bukit Baiduri Enterprise, PT.Tambang Batubara Bukit Asam, PT.Adaro
Indonesia, PT.Fajar Bumi Sakti, PT.Gunung Bayan Pratama Coal, PT.Kaltim
Prima Coal, PT.Kideco Jaya Agung, dan PT.Tanito Harum. Dari jumlah yang
semula hanya 3 perusahaan pada tahun 1968 menjadi 138 perusahaan pada tahun

16

2005, hal ini memberikan petunjuk bahwa usaha dalam pertambangan batubara
memberikan prospek usaha yang cukup bagus. Demikian mudahnya melakukan
kegiatan penambangan batubara, ditunjang dengan prospek yang menguntungkan,
maka tidak mengherankan apabila di Indonesia banyak terdapat kegiatan
Penambangan Tanpa Ijin (PETI) berkembang cukup pesat.
Kegiatan tersebut ini merupakan salah satu penyebab kerusakan
lingkungan disamping mutu batubara tidak terjamin. Apabila hasil kegiatan
tambang batubara tanpa ijin, dipasarkan tanpa mengalami pengolahan lebih lanjut,
dapat dipastikan bahwa mutu batubaranya tidak memenuhi persyaratan
penggunaan batubara untuk pemanfaatan tertentu. Sebagai akibatnya, apabila hal
ini dipaksakan peralatan sebagai pemegang peran utama dalam kegiatan industri
mengalami gangguan, yang pada akhirnya lama waktu pakai peralatan menjadi
lebih singkat, adan akhirnya akan menimbulkan kerugian yang tak ternilai.
Kejadian ini yang memberikan inspirasi perlunya pengetahuan tentang teknologi
batubara bersih. Indonesia termasuk salah satu negara kaya akan sumber daya
energi dalam bentuk batubara, Sebagai sumber daya energi, batubara memiliki
nilai strategis dan potensial untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan energi
dalam negeri.
Sumber daya batubara di indonesia diperkirakan sebesar 36 milyar ton,
tersebar di Sumatera ( di Aceh 4,7 %; di Sumatera Tengah 11,4 %; di Sematera
Selatan 51,73 %), di Kalimantan (di Kalimantan Selatan 9,99 %; di Kalimantan
Timur 14,62 %; di Kalimantan Barat 5,83 %; di Kalimantan Tengah 1,20 %),
sisanya terdapat dipulau Jawa, Sulawesi, dan Irian Jaya.

16

2.3 Lingkungan Pengendapan Batubara


Menurut Diessel (1984, op cit Susilawati ,1992) lebih dari 90% batubara
di dunia terbentuk di lingkungan paralik yaitu rawa-rawa yang berdekatan dengan
pantai. Daerah seperti ini dapat dijumpai di dataran pantai, lagunal, deltaik, atau
juga fluviatil.
Diessel (1992) mengemukakan terdapat 6 lingkungan pengendapan utama
pembentuk batubara (Tabel 2) yaitu gravelly braid plain, sandy braid plain,
alluvial valley and upper delta plain, lower delta plain, backbarrier strand plain,
dan

estuary.

Tiap

lingkungan

pengendapan

mempunyai

asosiasi

dan

menghasilkan karakter batubara yang berbeda.


Environment
Gravelly braid plain

Sandy braid plain

Subenvironment
Bars, channel, overbank

Coal caracteristic
mainly dull coals, medium

plains,

raised

to low TPI, low GI, low

bogs
Bars, channel, overbank

sulphur
mainly dull coals, medium

plains,

to

swamps,

swamp,

raised

high

TPI,

low

to

bars,

medium GI,low sulphur


mainly bright coals, high

basins,

TPI, medium to high GI,

Alluvial valley and upper

bogs,
channels,

point

delta plain

floodplains

and

Lower delta plain

swamp, fens, raised bogs


low sulphur
Delta front, mouth bar, mainly bright coals, low to

Backbarrier strand plain

splays, channel, swamps,

medium TPI, high to very

fans and marshes


Off-, near-, and backshore,

high GI, high sulphur

tidal inlets, lagoons, fens,

bright coals, medium

16

transgressive : mainly

swamp, and marshes

TPI, high GI, high


sulphur
regressive : mainly dull
coals, low TPI and GI,
low sulphur

Estuary

channels, tidal flats, fens

mainly bright coal with

and marshes

high GI and medium TPI

Proses pengendapan batubara pada umunya berasosiasi dengan lingkungan


fluvial flood plain dan delta plain. Akumulasi dari endapan sungai (fluvial) di
daerah pantai akan membentuk delta dengan mekanisme pengendapan progradasi
(Allen & Chambers, 1998).
Lingkungan delta plain merupakan bagian dari kompleks pengendapan
delta yang terletak di atas permukaan laut (subaerial). Fasies-fasies yang
berkembang di lingkungan delta plain ialah endapan channel, levee, crevase,
splay, flood plain, dan swamp. Masing-masing endapan tersebut dapat diketahui
dari litologi dan struktur sedimen.
Endapan channel dicirikan oleh batupasir dengan struktur sedimen cross
bedding, graded bedding, paralel lamination, dan cross lamination yang berupa
laminasi karbonan. Kontak di bagian bawah berupa kontak erosional dan terdapat
bagian deposit yang berupa fragmen-fragmen batubara dan plagioklas. Secara
lateral endapan channel akan berubah secara berangsur menjadi endapan flood

16

plain. Di antara channel dengan flood plain terdapat tanggul alam (natural levee)
yang terbentuk ketika muatan sedimen melimpah dari channel. Endapan levee
yang dicirikan oleh laminasi batupasir halus dan batulanau dengan struktur
sedimen ripple lamination dan paralel lamination.
Pada saat terjadi banjir, channel utama akan memotong natural levee dan
membentuk crevase play. Endapan crevase play dicirikan oleh batupasir halus
sedang dengan struktur sedimen cross bedding, ripple lamination, dan bioturbasi.
Laminasi batupasir, batulanau, dan batulempung juga umum ditemukan. Ukuran
butir

berkurang semakin jauh dari

channel utamanya

dan umumnya

memperlihatkan pola mengasar ke atas.


Endapan crevase play berubah secara berangsur ke arah lateral menjadi
endapan flood plain. Endapan flood plain merupakan sedimen klastik halus yang
diendapkan secara suspensi dari air limpahan banjir. Endapan flood plain dicirikan
oleh batulanau, batulempung, dan batubara berlapis.
Endapan swamp merupakan jenis endapan yang paling banyak membawa
batubara karena lingkungan pengendapannya yang terendam oleh air dimana
lingkungan seperti ini sangat cocok untuk akumulasi gambut.
Tumbuhan pada sub-lingkungan upper delta plain akan didominasi oleh
pohon-pohon keras dan akan menghasilkan batubara yang blocky. Sedangkan
tumbuhan pada lower delta plai didominasi oleh tumbuhan nipah-nipah pohon
yang menghasilkan batubara berlapis (Allen, 1985).

16

2.4 Jenis -Jenis Batubara di Indonesia


Dari tinjauan beberapa senyawa dan unsur yang terbentuk pada saat proses
coalification (proses pembatubaraan), maka dapat dikenal beberapa jenis batubara
khususnya di Indonesia yaitu :
a. Batubara Antrasit
Antrasit adalah kelas batubara tertinggi, dengan warna hitam berkilauan (luster)
metalik, mengandung antara 86% 98% unsur karbon (C) dengan kadar air
kurang dari 8%.antrasit

b.

Batubara Bituminus

Bituminus mengandung 68 86% unsur karbon (C) dan berkadar air 8-10% dari
beratnya. bituminus
c. Batubara Sub-Bituminus
Sub-bituminus mengandung sedikit karbon dan banyak air, dan oleh karenanya
menjadi sumber panas yang kurang efisien dibandingkan dengan bituminus. subbituminus
d. Batubara Lignit

16

Lignit atau batu bara coklat adalah batu bara yang sangat lunak yang mengandung
air 35-75% dari beratnya. lignit
e. Batubara Gambut
Batubara Gambut, berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta nilai kalori
yang rendah batubara gambut terbagi atas neidermohr
dan hochmorh
Niedermoor terbentuk pada lingkungan yang kaya akan bahan makanan
(eutrop) atau pada suatu bagian perairan (danau) yang menjadi darat (Verlandung
Nahrstofffreicher Gewasser ), dimana kaya akan makanan bagi tumbuhan sebagai
penyebab berlimpahnya/ tumbuh subur vegetasi.
Hochmoor bisa mencapai beberapa meter dari permukaan tanah dengan
bentuk yang cembung. Moor ini tidak tergantung pada air tanah atau air kolam
karena moor ini mempunyai sistem air tersendiri yang tergantung hanya pada air
hujan. Moor ini terjadi akibat neraca air yang positif (penguapan lebih kecil dari
uap hujan) sehingga air huan tersimpan dalam gambut. Akibatnya pH menjadi
lebih kecil dan miskin akkan oksigen. Dengan demikian penghancuran sisa
yumbuhan menjadi terhambat (penumpukkan gambut menjadi cepat). Karena
miskin akkan bahan makanan maka disebut Ombrotoph (http://bantiindonesia.com/blog/353/)
2.5 Sebaran Batubara di Indonesia

16

Dari peta diatas bisa dilihat potensi batubara di Indonesia sangatlah


melimpah, ada sekitar 18 provinsi yang menyimpan potensi batubara, yaitu :
Nanggroe Aceh Darusalam, Sumatera, Riau, Jambi, Sumatera Barat, Sumatera
Selatan, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, semua provinsi
di Kalimantan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Papua.
Sebenarnya jika dimanfaatkan secara seksama maka batubara pun bisa dijadikan
sumber energi yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan seperti keperluan
idustri, kegiatan rumahan dsb.
Perlu kita ketahui bahwa batubara merupakan bahan tambang yang sangat lama
untuk terbarukan, perlu jutaan tahun untuk mendapatkan batubara, jadi dalam
menggunakan bahan tambang yang tidak terbarukan secara cepat haruslah secara
sedikit demi sedikit, jangan digunakan secara berlebihan
2.6 Ganesa Endapan Batubara Indonesia

16

Endapan batubara seperti yang dibahas secara global pada bagian I


terbentuk dari dua tahap pembentukan, yaitu pembentukan gambut, dan
pembentukan batubara.
Batubara dapat digunakan sebagai alat ukur diagenesa sedimen dengan melihat
perubahan temperatur. Reaksi yang terjadi dapat meliputi perubahan struktur
kimia, maupun fisika. Proses pembatubaraan terutama dikontrol oleh temperatur,
tekanan, dan waktu. Dengan tekanan semakin tinggi, maka proses pembatubaraan
akan semakin cepat, terutama di daerah patahan, lipatan, dsb.
Evolusi geodinamik di Indonesia ( termasuk bagian SE Asian Archipelagoes )
mengontrol cekungan sedimen tersier, yang dimana disana terdapat endapan
batubara di Indonesia. Setting tektonik lempeng dari cekungan ini ( termasuk
gradien geotermal,dan tekanan akibat aktivitas tektonik ) lebih berperan dalam
penentuan kualitas, dan rank batubara berumur tersier di Indonesia. Evolusi
kerak bumi selama Kenozoikum di Indonesia menghasilkan pola rumit dari zona
subduksi, busur kepulauan, pecahan mikrokontinen, dan punggungan samudera.
Struktur batubara di Indonesia belum mencapai kompleksitas, dan kematangan
seperti pada sabuk orogenesa Eurasia, intervensi kecil dari cekungan samudera
masih memisahkan beberapa elemen struktur.Proses tektonik mengontrol juga
distribusi cadangan batubara di Indonesia.
Tipe cekungan pembawa batubara utama di Indonesia adalah intermontana basin
paleogen, foreland basin, delta basin neogen. Pada cekungan muka daratan (
foreland basin ) terjadi pengendapan yang cepat pada zaman tersier dalam

16

lingkungan laut yang setengah tertutup, dan diikuti oleh perlipatan lemah sampai
sedang pada akhir tersier. Umur cekungan batubara Indonesia umumnya
merupakan cekungan batubara tersier, yang dibedakan oleh kondisi transgresi,
dan regresi muka air laut. Umur batubara tertua di Indonesia berusia Paleogen
( 68 23 juta tahun yang lalu ). Di Indonesia, cekungan pembawa batubara terdiri
dari beberapa cekungan yang tersebar di seluruh Indonesia

Gambar : Pengaruh Turun Naik Muka Laut terhadap Endapan Batubara

Secara umum, pembentukan batubara di Indonesia dibagi menjadi daerah


Indonesia Barat, dan Indonesia Timur. Pada pembentukan batubara di Indonesia
Barat, pengendapan sedimen terjadi secara sempurna sebelum terjadinya
transgresi pada akhir paleogen. Pada Indonesia Timur, pengisian sedimen tidak
terjadi secara sempurna hingga transgresi terjadi pada akhir paleogen. Sebagai
akibatnya, sedimentasi yang terjadi pada Indonesia Timur, berupa platform

16

karbonatan . Siklus regresi mulai terjadi pada miosen tengah, dengan sedimentasi
berubah dari laut dalam, laut dangkal, paludal, delta, hingga kontinental.
Pengendapan pada neogen terjadi secara luas pada bagian backdeep . Regresi
diperkirakan terjadi karena adanya orogenesa, dan adanya sedimentasi yang
lebih cepat dibandingkan penurunan cekungan, sehingga garis pantai bergerak
maju. Berdasarkan perkiraan kedua ini, terbentuk adanya delta. Proses
sedimentasi terhenti memasuki zaman kuarter, pada kala pleistosen, ditandai
dengan adanya endapan tuff.
Hal inilah yang menjadi dasar pembagian batubara ekonomis yang terdapat di
Indonesia. Endapan batubara di Indonesia seringkali dikatakan sebagai endapan
batubara eosen, dan endapan batubara miosen. Endapan batubara eosen
merupakan bagian dari endapan paleogen, dan terbentuk sepanjang paparan
sunda di sebelah barat Sulawesi, Kalimantan bagian Timur, Laut Jawa, hingga
Sumatera. Batubara eosen dicirikan sebagai :
-

Ketebalan bervariasi, dan memiliki banyak lapisan;

Berkadar sulfur, dan abu tinggi;

Penyebaran terbatas;

Pengendapan bersamaan dengan aktivitas tektonik;

Berkaitan dengan busur volkanik;

Hampir seluruhnya autochtonous.

16

Cekungan paleogen di Indonesia terdiri atas intermontana basin, dan


continental margin. Endapan paleogen penting secara ekonomi di Indonesia
antara lain, adalah :-

Ombilin, Sumatera Barat;

Bayah, Jawa Barat;

Pasir, Kalimantan bagian Tenggara;

Pulau Sebuku, Kalimantan Tengah;

Melawi, Kalimantan Barat.


Cekungan

utama

batubara

eosen,

antara lain adalah :

Cekungan Kutai bagian bawah, Kalimantan Timur;

Cekungan Barito, Kalimantan Selatan;


Cekungan Sumatera bagian Selatan

Karakteristik batubara eosen umumnya sangat masif, berwarna hitam, kilap


gelas, jenis batubara bituminous, hingga sub-bituminous, dengan kadar kalori
sangat tinggi. Batubara Eosen sering tersingkap baik, berupa lapisan dan
membentuk seam.
Endapan Miosen merupakan endapan batubara yang terjadi pasca fase regresi.
Kondisi regresi dicirikan oleh mudurnya laut yang lambat, dan pendangkalan
pengendapan dari laut dalam ke laut dangkal, rawa rawa, delta, hingga daratan.

16

Penutupan fase pengendapan batubara miosen, adalah ditemukannya endapan


tuff pada lapisan berumur pleistosen. Endapan batubara miosen memiliki ciri :
-

Endapan batubara yang relatif tebal secara lokal;

Kadar abu, dan sulfur rendah.

Umumnya terdeposisikan dalam lingkungan fluvial, delta, dan


dataran pantai.
Endapan batubara miosen banyak terjadi pada cekungan foreland/backdeep, dan
delta. Endapan batubara miosen merupakan endapan batubara khas formasi
regresif. Contoh endapan batubara miosen di Indonesia adalah Cekungan
Sumatera Selatan, dan Sumatera Tengah, dimana kedua cekungan ini terjadi
setelah fase regresif dengan pengendapan dari laut dalam, laut dangkal, hingga
lingkungan delta yang ditutupi endapan rawa. Batuba Miosen sebagian besar
brupa lignit, sangat lunak, kadar air tinggi, kadar debu rendah, dan kadar kalori
rendah. Batubara miosen umumnya menunjukkan bentuk lapisan yang kurang
baik dalam singkapan, dikarenakan kadar air dalam batubara tinggi, tekanan
kompaksi rendah, serta lapisan lempung seringkali terdapat dalam lapisan
batubara tersebut.

16

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Endapan Batubara di Indonesia
Di Indonesia, endapan batubara yang bernilai ekonomis terdapat di
cekungan Tersier, yang terletak di bagian barat Paparan Sunda (termasuk Pulau
Sumatera dan Kalimantan), pada umumnya endapan batu bara ekonomis tersebut
dapat dikelompokkan sebagai batu bara berumur Eosen atau sekitar Tersier
Bawah, kira-kira 45 juta tahun yang lalu dan Miosen atau sekitar Tersier Atas,
kira-kira 20 juta tahun yang lalu menurut Skala waktu geologi.
Endapan batu bara Eosen
Endapan ini terbentuk pada tatanan tektonik ekstensional yang dimulai sekitar
Tersier Bawah atau Paleogen pada cekungan-cekungan sedimen di Sumatera dan
Kalimantan. Cadangan batu bara dunia Pada tahun 1996 diestimasikan terdapat
sekitar satu exagram (1 1015 kg atau 1 trilyun ton) total batu bara yang dapat

16

ditambang menggunakan teknologi tambang saat ini, diperkirakan setengahnya


merupakan batu bara keras. Nilai energi dari semua batu bara dunia adalah 290
zettajoules.[6] Dengan konsumsi global saat ini adalah 15 terawatt,[7] terdapat
cukup batu bara untuk menyediakan energi bagi seluruh dunia untuk 600 tahun.

Dibawah adalah table kulitas rata-rata dari beberapa endapan batubra eosen di
indonesia

Endapan batu bara Miosen


Pada Miosen Awal, pemekaran regional Tersier Bawah - Tengah pada Paparan
Sunda telah berakhir. Pada Kala Oligosen hingga Awal Miosen ini terjadi
transgresi marin pada kawasan yang luas dimana terendapkan sedimen marin
klastik yang tebal dan perselingan sekuen batugamping. Pengangkatan dan
kompresi adalah kenampakan yang umum pada tektonik Neogen di Kalimantan
maupun Sumatera. Endapan batu bara Miosen yang ekonomis terutama terdapat
di Cekungan Kutai bagian bawah (Kalimantan Timur), Cekungan Barito

16

(Kalimantan Selatan) dan Cekungan Sumatera bagian selatan. Batu bara Miosen
juga secara ekonomis ditambang di Cekungan Bengkulu.

Potensi sumberdaya batu bara di Indonesia sangat melimpah, terutama di Pulau


Kalimantan dan Pulau Sumatera, sedangkan di daerah lainnya dapat dijumpai batu bara
walaupun dalam jumlah kecil dan belum dapat ditentukan keekonomisannya, seperti di
Jawa Barat, Jawa Tengah, Papua, dan Sulawesi.
Badan Geologi Nasional memperkirakan Indonesia masih memiliki 160 miliar ton
cadangan batu bara yang belum dieksplorasi. Cadangan tersebut sebagian besar berada di
Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan. Namun upaya eksplorasi batu bara kerap
terkendala status lahan tambang. Daerah-daerah tempat cadangan batu bara sebagian
besar berada di kawasan hutan konservasi. [1] Rata-rata produksi pertambangan batu bara
di Indonesia mencapai 300 juta ton per tahun. Dari jumlah itu, sekitar 10 persen
digunakan untuk kebutuhan energi dalam negeri, dan sebagian besar sisanya (90 persen
lebih) diekspor ke luar.
Di Indonesia, batu bara merupakan bahan bakar utama selain solar (diesel fuel) yang
telah umum digunakan pada banyak industri, dari segi ekonomis batu bara jauh lebih
hemat dibandingkan solar, dengan perbandingan sebagai berikut: Solar Rp 0,74/kilokalori

16

sedangkan batu bara hanya Rp 0,09/kilokalori, (berdasarkan harga solar industri Rp.
6.200/liter).
Dari segi kuantitas batu bara termasuk cadangan energi fosil terpenting bagi
Indonesia. Jumlahnya sangat berlimpah, mencapai puluhan miliar ton. Jumlah ini
sebenarnya cukup untuk memasok kebutuhan energi listrik hingga ratusan tahun ke
depan. Sayangnya, Indonesia tidak mungkin membakar habis batu bara dan mengubahnya
menjadi energis listrik melalui PLTU. Selain mengotori lingkungan melalui polutan CO 2,
SO2, NOx dan CxHy cara ini dinilai kurang efisien dan kurang memberi nilai tambah
tinggi.
Batu bara sebaiknya tidak langsung dibakar, akan lebih bermakna dan efisien jika
dikonversi menjadi migas sintetis, atau bahan petrokimia lain yang bernilai ekonomi
tinggi. Dua cara yang dipertimbangkan dalam hal ini adalah likuifikasi (pencairan) dan
gasifikasi (penyubliman) batu bara.
Membakar batu bara secara langsung (direct burning) telah dikembangkan
teknologinya secara continue, yang bertujuan untuk mencapai efisiensi pembakaran yang
maksimum, cara-cara pembakaran langsung seperti: fixed grate, chain grate, fluidized
bed, pulverized, dan lain-lain, masing-masing mempunyai kelebihan dan kelemahannya.

3.2 Cadangan Batubara di Indonesia

Berdasarkan aplikasi sistem database yang dikembangkan oleh Badan


Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dengan NEDO,
terjadi perubahan besarnya sumber daya batubara di Indonesia. Jika sebelumnya
jumlah sumber daya batubara sebesar 26 miliar ton kini menjadi 65,4 miliar ton.
Sedang cadangan dari 2,6 miliar ton menjadi 12 miliar ton. Saya menyambut
gembira kerjasama ini dengan fokus pengelolaan data dan informasi batubara

16

dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman kita tentang potensi sumber


daya batubara dan kualitasnya, ujar Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro saat
memberikan sambutan pada acara Presentasi Hasil Kerjasama Studi Sumber daya
dan Cadangan Batubara di Indonesia, Kamis (19/4), di Jakarta.
Diungkapkan oleh Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, peran batubara akan
semakin meningkat di waktu akan datang. Oleh sebab itu keberadaan data dan
informasi yang lebih akurat serta dapat diakses dengan mudah oleh para pelaku
usaha batubara sangat penting. Selanjutnya diharapkan akan menjadi daya tarik
usaha dan investasi pertambangan usaha batubara.
Produksi batubara Indonesia tahun 2006 sebesar 162 juta ton dan 120 juta
ton diantaranya digunakan keperluan ekspor. Dari jumlah batubara yang diekspor
tersebut, 29 juta (26%) dikirim ke Jepang, ujar Menteri ESDM Purnomo
Yusgiantoro. Peningkatan konsumsi juga terjadi di dalam negeri. Jika saat ini PT
PLN membutuhkan 31 juta ton, diperkirakan tahun 2010 akan menjadi 113 juta
ton.
Pada kesempatan tersebut Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro
menyampaikan masalah yang dihadapi saat ini dan ke depan dalam aspek
pemanfaatan batubara adalah masalah lingkungan dan konflik penggunaan lahan.
Masalah yang berkenaan dengan penggunaan lahan pertambangan batubara perlu
mendapatkan perhatian, tegas Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro.
Pertambahan penduduk dan tekanan untuk melindungi hutan dan sumber
daya air membuat perluasan atau ekstensifikasi akan semakin sulit. Dengan

16

demikian perhatian untuk mengambangkan underground harus sudah dimulai dari


sekarang, papar Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro. Diharapkan database ini
bisa memberikan rangsangan bagi usaha pertambangan bawah tanah.

Untuk lebih data jumlah cadangan batubara Indonesia di tiap-tiap provinsi


dapat dilihat pada table 2.1 di bawah

16

3.3 Faktor Yang mempengaruhi penurunan endapan dan cadangan batubara


Indonesia

16

3.3.1 produksi, konsumsi, dan ekspor


a. perkembangan produksi
Perkembangan produksi batubara selama 13 tahun terakhir telah
menunjukkan peningkatan yang cukup pesat, dengan kenaikan produksi
rata-rata 15,68% pertahun. Tampak pada tahun 1992, produksi batubara
sudah mencapai 22,951 juta ton dan selanjutnya pada tahun 2005 produksi
batubara nasional telah mencapai 151,594 juta ton
Perusahaan pemegang PKP2B merupakan produsen batubara terbesar,
yaitu sekitar 87,79 % dari jumlah produksi batubara Indonesia, diikuti oleh
pemegang KP sebesar 6,52 % dan BUMN sebesar5,68 %.
Perkembangan produksi batubara nasional tersebut tentunya tidak
terlepas dari permintaan dalam negeri (domestik)

dan luar negeri (ekspor)

yang terus meningkat setiap tahunnya. Sebagian besar produksi tersebut


untuk memenuhi permintaan luar negeri, yaitu rata-rata 72,11%, dan sisanya
27,89% untuk memenuhi permintaan dalam negeri (Gambar 4.1).

16

b. perkembangan konsumsi batubara dalam negri


Pemanfaatan

batubara

di

dalam

negeri

selalu

mengalami

perkembangan yang membuat konsumsi batubara makin meningkat serta


membuat jumlah cadangan batubara Indonesia menipis. Perkembankanya
meliputi penggunaan di PLTU, industri semen, industri kertas, industri
tekstil, industri metalurgi, dan industri lainnya (Tabel 4.1)
b.1 PLTU
PLTU merupakan industri yang paling banyak menggunakan
batubara. Tercatat dari seluruh konsumsi batubara dalam negeri pada
tahun 2005 sebesar 35,342 juta ton, 71,11% di antaranya digunakan oleh
PLTU. Hingga saat ini, PLTU berbahan bakar batubara, baik milk PLN
maupun yang dikelola swasta, ada 9 PLTU, dengan total kapasitas saat
ini sebesar 7.550 MW dan mengkonsumsi batubara sekitar 25,1 juta ton
per tahun.

16

Berdasarkan data dalam kurun waktu 1998-2005, Penggunaan


batubara di PLTU untuk setiap tahunnya meningkat rata-rata 13,00%.
Hal tersebut sejalan dengan penambahan PLTU baru sebagai dampak
permintaan listrik yang terus meningkat rata-rata 7,67% per tahun.
Namun demikian, sejak tahun 2003 krisis energi listrik nasional
sudah mulai terasa sebagai dampak dari ketidakseimbangan antara
penyediaan dan permintaan. Dalam upaya mengantisipasi kekurangan
listrik dan untuk meningkatkan efisiensi pemakaian BBM secara
nasional, pemerintah merencanakan percepatan pembangunan PLTU
berbahan bakar listrik 10.000 MW hingga akhir 2009.
b.2 Industri semen
Selama delapan tahun terakhir ini, perkembangan pemakaian
batubara pada industri semen berfluktuasi. Antara tahun 1998-2001,
pemakaian batubara rata-rata naik sangat signifikan, yaitu
64,03%, namun pada tahun 2002 dan 2003 sempat mengalami
penurunan hingga 7,59%.
Memasuki tahun 2004, kebutuhan batubara pada industri semen
mengalami perubahan yang positif, yaitu 19,78% seiring perkembangan
ekonomi yang mulai membaik di dalam negeri. Tahun 2005, tercatat
sekitar 17,04% kebutuhan batubara dalam negeri digunakan oleh industri
semen atau 5,77 juta ton.
b.3 Industri Tekstil
16

Industri tekstil memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi


terhadap bahan bakar minyak (BBM), oleh karena itu dengan
melambungnya harga BBM, banyak yang beralih ke bahan bakar ke
batubara,

walaupun harus melakukan modifikasi terhadap boiler atau

mengganti boiler yang baru berbahan bakar batubara.


Pada tahun 2003 jumlah perusahaan tekstil yang menggunakan
bahan bakar batubara hanya 18 perusahaan saja, namun pada tahun 2006
sudah bertambah menjadi 224 perusahaan tersebar di Pulau Jawa
terutama di Propinsi Jawa Barat. Kebutuhan batubaranya pun meningkat
sangat signifikan, yaitu dari 274.150 ton pada tahun 2003 naik menjadi
3,07 juta ton pada tahun 2006
b.4 Indsutri Kertas
Seperti halnya pada perusahaan tekstil, batubara dalam industri
kertas digunakan sebagai bahan bakar dimana energi panas yang
dihasilkan digunakan untuk memasak air pada boiler sehingga
menghasilkan uap yang diperlukan untuk memasak pulp (bubur kertas).
Perkembangan pemakaian batubara pada industri kertas selama
kurun waktu 1998-2005 naik sangat signifikan, rata-rata 42,36%. Namun
untuk waktu mendatang diperkirakan perkembangannya akan stabil pada
kisaran 3,0 6,0 % per tahun. Pada tahun 2005, jumlah kebutuhan
batubara untuk industri ini mencapai sekitar 2,207 juta ton.
b.5 Industri Metalurgi dan Lainya

16

Perkembangan kebutuhan

batubara

oleh

industri

metalurgi

berfluktuasi, namun ada trend perkembangan yang meningkat sejalan


dengan kondisi produksi perusahaan yang mengalami turun naik. Tahun
1998 tercatat 144,907 ribu ton, meningkat hingga mencapai 236,802 ribu
ton pada tahun 2002, namun kemudian menurun hingga 112,827 ribu ton
tahun 2005.
Di samping industri metalurgi, masih banyak industri lainnya
yang menggunakan batubara sebagai bahan bakar dalam mendukung
proses produksinya, antara lain industri makanan, kimia, pengecoran
logam, karet ban, dan lainnya. Di Propinsi Banten dan Jawa Barat
ada

21 perusahaan yang telah menggunakan batubara dengan total

kebutuhan diperkirakan mencapaim416.708 ton untuk tahun 2005.


3.4 Endapan Batubara Sulawesi Tenggara
Untuk endapan batubara yang terdapat di Sulawesi tenggara belum di
adakanya penelitian lebih rinci mengenai endapan dan cadanganya. Namun
batubara juga terdapat di salah satu daerah Sulawesi tenggara yaitu Desa
Tawanga, Kecamatan Mowewe ,kabupaten kolaka timur.

3.4.1 Topografi Kolaka Timur


Kabupaten Kolaka Timur memanjang dari Utara Barat Laut ke Tenggara
dengan topografi yang sangat kontras antara bagian barat dengan bagian Timur.
Berdasarkan bentuk bentang alamnya (morfologinya) Kabupaten Kolaka Timur
16

dibagi menjadi 3 (tiga) wilayah yaitu pedataran di bagian barat (bagian pesisir),
bergelombang dibagian tengah dan pegunungan di bagian Timur. Ketiga bentuk
bentang alam tersebut juga memanjang dari Utara Barat Laut ke Tenggara.
Kondisi demikian tidak lepas dari proses pembentukan Pulau Sulawesi khususnya
bagian timur yang berupa obduksi (tumbukan). Kondisi topografi yang demikian
ini pula mengakibatkan banyak terdapat sungai kecil yang mengalir dari wilayah
topografi perbukitan di Timur ke wilayah pedataran di Barat. Kemiringan lahan
diklasifikasikan dalam empat kelas lereng yaitu 0 8%,

8 25%, 25%

40% dan lebih dari 40 %. Kemiringan tanah yang paling dominan adalah di
atas 40% meliputi sebagian besar wilayah Kabupaten Kolaka Timur dengan luas
510.976 ha atau 74%. Sedangkan daerah datar dengan

kemiringan 0 % - 8%

menempati areal seluas 90.545 ha atau 13%. Daerah dengan kelerengan 8 25%
dan 25 40% masing-masing menempati 6% dari luas Kabupaten Kolaka Timur.
Kemudian unsur topografi lainnya adalah ketinggian tempat dari
permukaan laut. Ketinggian suatu tempat dari permukaan laut sangat erat
kaitannya dengan suhu (temperatur) udara dan curah hujan. Semakin tinggi suatu
tempat dari permukaan laut akan semakin rendah suhunya. Di dataran rendah ratarata suhu tahunannya berkisar 26C, angka rata-rata ini berkurang 0,6C
dengan kenaikan setiap 100 meter.
Ketinggian tempat dari permukaan laut di Kabupaten Kolaka
Timur di bedakan dalam empat segmen yaitu :

16

a. Ketinggian 0 - 7 meter, umumnya terletak di pesisir pantai Watubangga


hingga Tanjung Pakar dan di Pantai Wolo hingga Tanjung Ladongi. Daerah
ini terdapat hutan bakau, tambak dan areal perkampungan.
b. Ketinggian 7 - 25 meter dari permukaan laut membujur dari
kecamatan Watubangga ke arah barat. Bentangan kontur mengikuti
lekukan sepanjang jalan arteri. Daerah yang di lalui selain hutan bakau
dan perkampungan juga kawasan budidaya seperti tambak, sawah,dan
kebun campuran.
c. Daerah dengan ketinggian 25 - 100 meter mengikuti dataran agak terjal
dengan fungsi budidaya, dan sebagian besar hutan produksi dan
perkebunan.
d. Daerah dengan ketinggian > 100 meter, merupakan daerah
terjal kearah kawasan perlindungan dan pelestarian,
termasuk kawasan khusus dengan perlindungan daerah
aliran.

3.4.2 Geologi Kolaka Timur


Kondisi geologi di Provinsi Sulawesi Tenggara

termasuk didalamnya

Kabupaten Kolaka Timur umumnya berada pada kondisi geologi yang rumit.
Kerumitan ini dicerminkan dari litologi yang beragam dengan kontak litologi
umumnya berupa kontak struktur. Sedangkan jika dilihat dari jenis batuannya
maka wilayah ini juga disusun oleh batuan yang rumit dan mulai dari yang
sangat tua (Jura) hingga yang paling muda (Holosen). Satuan batuan tersebut

16

masih dirinci kedalam satuan batuan yang lebih spesifik, dirinci dengan
simbol dan warna masing-masing satuan.

Berdasarkan peta geologi lembar Lasusua Kolaka Timur Sulawesi dan


peta geologi lembar Kolaka Timur Sulawesi dengan skala 1:250.000 yang
dikeluarkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (P3G), Dirjen
Geologi dan Sumberdaya Mineral, Bandung 1993, serta kompilasi peta oleh
Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Sulawesi Tenggara (2005)
wilayah Kabupaten Kolaka Timur tersusun oleh beberapa jenis batuan
yang dapat dijelasakan sebagai berikut (Penjelasan dari batuan yang tertua
ke batuan yang termuda):

a. Kompleks Mekongga (Pzm); Formasi batuan ini termasuk di


dalamnya marmer Paleozoikum (Pzmm). Kompleks batuan ini
terdiri atas batuan metamorf berupa sekis, geneis dan kuarsit.
Sedangkan Pzmm sendiri merupakan batuan metamorf hasil
ubahan dari batu gamping (mammer).
b. Formasi Tolala (TRJt); Formasi ini tersusun oleh batu gamping
dengan sisipan batu pasir, serpih dan napal.
c. Formasi Meluhu (TRJm; Formasi ini terdiri atas perselingan batu
pasir, serpih, batu gamping dan lanau.
d. Batuan Beku Ultrabasa (Ku); Batuan ini terdiri atas peridotit,
hazburgit, gabro, dunit dan serpentinit.

16

e. Kompleks Pompangeo (MTpm) merupakan kompleks batuan


metamorf yang terdiri dari sekis, rijang dan marmer serta
metagamping.
f.Formasi Langkawa (Tml) merupakan batuan sedimen berupa
konglomerat, batupasir, serpih dan batugamping.
g. Formasi Boepinang (Tmpb) terdiri dari batu pasir yang diselingi
oleh lempung pasiran dan napal pasiran.
h. Aluvial (Qa) adalah endapan termuda dan hingga kini masih
berlanjut. Material penyusunnya berupa kerikil, pasir, kerakal,
lempung dan unsur organik yang terendapkan bersama.
Sebarannya sangat terbatas yaitu berupa endapan sungai dan
pantai

BAB IV
PENUTUP

16

4.1 Kesimpulan
1. Sebaran potensi batubara di Indonesia sangatlah melimpah, ada sekitar 18
provinsi yang menyimpan potensi batubara, yaitu :
Nanggroe Aceh Darusalam, Sumatera, Riau, Jambi, Sumatera Barat,
Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Tengah, Jawa
Timur, semua provinsi di Kalimantan, Sulawesi Tengah, Sulawesi
Selatan, Papua
2. Untuk endapan batubara yang terdapat di Sulawesi tenggara belum di
adakanya penelitian lebih rinci mengenai endapan dan cadanganya.
Namun batubara juga terdapat di salah satu daerah Sulawesi tenggara
yaitu Desa Tawanga, Kecamatan Mowewe ,kabupaten kolaka timur
3. Faktor Yang mempengaruhi penurunan endapan dan cadangan batubara

Indonesia adalah factor konsumsi batubara, factor produksi dan factor


ekspor yang berlebih

16