Anda di halaman 1dari 13

SUSU KENTAL MANIS

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM


TEKNOLOGI PENGOLAHAN SUSU
Disusun oleh:
Nama
: Yuliana Alexandra Nona Sain
NIM
: 13.70.0173
Kelompok
: D3

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG
2016
1. TOPIK DAN TUJUAN

1.1. Topik
Praktikum matakuliah Teknologi Pengolahan Susu khususnya pada bab Susu Kental
Manis, yang dilakukan kami kloter D dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 1 Juni 2016.
Praktikum ini dimulai pada pukul 15.00 dan bertempat di Laboratorium Rekayasa
Pangan. Dalam praktikum ini, kami didampingi oleh asisten yang bertugas yaitu Graytta
Intannia, Beatrix Riski Restiani, dan Tjan, Ivana Chandra. Praktikum Susu Kental
Manis ini menggunakan bahan utama yaitu susu full cream, bahan lainnya yang
digunakan yaitu gula pasir dan air dingin. Produk akhir hasil praktikum kali ini yaitu
susu kental manis. Pengamatan dilakukan satu hari setelah praktikum, yaitu pada hari
yang sama yaitu hari Rabu. Pengamatan dilakukan secara sensori dengan analisa
karakteristik fisik, kekentalan, dan kandungan gula (brix) produk hasil praktikum yang
menunjukkan keberhasilan suatu produk. Pengamatan karakteristik fisik secara sensori
yang dilakukan meliputi, warna, rasa, aroma, dan kekentalan. Dalam pengamatan juga
dilakukan pengukuran kandungan gula menggunakan refraktometer digital. Hasil dari
pengamatan yang dilakukan kemudian ditulis pada lembar laporan sementara dan
laporan sementara bab Susu Kental Manis diacc pada tanggal 1 Juni 2016.
Susu kental manis merupakan susu krim yang pembuatannya tidak mengalami proses
sterilisasi karena di dalamnya terkandung sukrosa yang berperan untuk menghambat
pertumbuhan mikroorganisme yang berbahaya, sekalipun disimpan di dalam kondisi
terbuka (Hadiwiyoto, 1983). Husaini et al. (1986) menambahkan bahwa susu kental
manis merupakan susu sapi yang diawetkan dengan cara tidak menggunakan
pemanasan, pengeringan, atau dengan diturunkan pHnya dibuat seperti susu asam,
namun diawetkan dengan cara ditambahkan dengan gula sebanyak 40-50% dari total
berat. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pada proses pembuatan susu kental
manis antara lain tahap pre-heating dan tahap penambahan gula (Van Den Berg, 2008).
1.2. Tujuan
Tujuan dilakukan praktikum ini adalah untuk mengetahui cara pembuatan susu kental
manis dan karakteristik susu kental manis yang baik.
2. HASIL PENGAMATAN

2.1 Hasil Pengamatan


Hasil Peengamatan karakteristik fisik, kandungan gula dan kekentalan susu kental
manis dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Karakteristik Fisik, Kandungan Gula dan Kekentalan Susu Kental Manis
Kandungan Gula
Kel
Warna
Rasa
Aroma
Kekentalan
D1
D2
D3
D4
D5

+++
++++
++++
++
+++

+++
++++
+++
+++
+++

Keterangan :
Kekentalan
+
= kurang kental
++
= agak kental
+++
= kental
++++ = sangat kental
Aroma
+
++
+++
++++

+
++
++
++
++
Rasa
+
++
+++
++++

++
++++
++++
+
++

= kurang manis
= agak manis
= manis
= sangat manis

(%Brix)
55,3
63,6
65,7
53,4
57,8
Warna
+
++
+++
++++

= agak putih
= putih
= agak kuning
= kuning

= aroma susu kurang kuat


= aroma susu agak kuat
= aroma susu kuat
= aroma susu sangat kuat

Berdasarkan tabel hasil pengamatan diatas, dapat diketahui bahwa susu kental manis
yang dihasilkan dari masing-masing kelompok mempunyai ciri-ciri yang berbeda. Hal
tersebut dikarenakan pada kelompok D1, D2, dan D3 diberi perlakuan penambahan gula
sebelum dipanaskan pada suhu 80C, sedangkan pada kelompok D4 dan D5 diberi
perlakuan penambahan gula setelah dilakukan pemanasan pada suhu 80C. Pengamatan
yang dilakukan pada karakteristik susu kental manis yaitu rasa, warna, aroma,
kekentalan, dan kandungan gula (brix). Kelompok D2 memiliki rasa yang sangat manis
dibandingkan dengan kelompok lainnya. Kemudian dari pengamatan aroma, kelompok
D1 menghasilkan aroma paling rendah atau aroma susu kurang kuat dibandingkan
dengan kelompok lainnya. Untuk tingkat kekentalan, kelompok D2 dan D3
menghasilkan susu kental manis dengan kekentalan paling tinggi dibandingkan dengan
kelompok lain. Namun pada pengamatan kandungan gula, kelompok D3 memiliki

kandungan gula paling tinggi dibandingkan dengan kelompok lain yaitu sebesar 65,7
brix.. Setiap kelompok juga menghasilkan warna susu kental manis yang berbeda-beda.
2.2 Foto Susu Kental Manis

3. PEMBAHASAN
Dalam penelitian yang dilakukan Krupa et al. (2011) menjelaskan bahwa susu
merupakan produk pangan yang kaya akan nutrisi atau komponen makronutrien seperti
(lemak, protein, laktosa), vitamin dan mineral. Hal tersebut yang membuat banyak
orang gemar mengkonsumsi susu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dalam tubuh agar
tetap sehat. Ada beberapa orang pula yang memiliki pemikiran skeptic terhadap susu,
karena mereka sadar akan kesehatan, seperti menghindari konsumsi lemak jenuh,
mencegah kolesterol, dan laktosa (bagi mereka yang memiliki sifat lactose intolerance).
Susu merupakan bahan pangan yang banyak mengandung zat nutrisi lengkap yang
diperlukan bagi tubuh ataupun untuk pertumbuhan bakteri. Hal tersebut membuat susu
sangat mudah mengalami kerusakan akibat kontaminasi bakteri. Kontaminasi tersebut
akan mampu menurunkan mutu produk susu dan dapat mengurangi umur simpan susu.
Banyak penelitian yang dilakukan mengenai proses pengolahan pada susu sehingga
umur simpan susu dapat diperpanjang. Susu yang dihasilkan mempunyai nilai tambah
untuk kegunaannya. Salah satu contoh proses pengolahan pada susu yaitu susu kental
manis (Arpah, 1993).

Salah satu metode pengolahan pada susu yaitu, dengan menerapkan metode penguapan
dan dikonsentratkan. Metode tersebut lebih dikenal dengan concentrated milk,
merupakan susu segar yang dipanaskan di sebuah tempat yang khusus untuk merubah
susu menjadi kental. Pada proses concentrated milk dapat dibedakan menjadi 2 yaitu
evaporated milk (unsweetemed condensed milk) dan sweet condensed milk. Evaporated
milk adalah susu yang sebagian airnya telah diuapkan hingga kurang lebih 50% dari
susu segar yang diletakan di dalam tempat yang hampa pada temperature 125-130oF.
Susu segar diberi perlakuan pasteurisasi dan selanjutnya dimasukkan ke dalam tempat
susu yang tertutup dan disterilkan pada suhu 240oF selama 15 menit. Sweet condensed
milk adalah susu yang langsung ditambahkan dengan gula terlebih dahulu kemudian
diuapkan seperti evaporated milk. Susu kental manis memiliki kadar gula sebanyak 4044%, dimana kadar gula yang cukup tinggi tersebut memiliki fungsi sebagai pengawet.
Kadar lemak di dalam susu kental manis minimal 8,5% dan padatan bukan lemak
sekitar 28 % (Aksi Agraris Kanisius, 1989). Castilho & Filho (2010) menambahkan
bahwa prinsip dari pembuatan susu kental manis yaitu dengan memanaskan pada suhu
tinggi untuk menguapkan sebagian dari kandungan air dan menambahkan gula dengan
konsentrasi yang tinggi. Proses yang dilakukan pada skala industri, susu kental manis
diberi perlakuan evaporasi untuk menguapkan 60% kandungan air dari susu yang
dipanaskan pada suhu 200C.
Dalam praktikum yang dilakukan oleh kloter D ini proses pembuatan susu kental manis
dimulai dengan, menyiapkan susu full cream sebanyak 215 ml dan 45 gram gula pasir.
Menurut teori Husaini et al (1986), pengawetan yang dilakukan pada susu kental manis
yaitu dengan cara menambahkan gula sebanyak 40 sampai 50% dari total berat.
Penambahan gula yang cukup tinggi tersebut akan menyebabkan susu kental manis
memiliki umur simpan yang lebih panjang, walaupun disimpan pada suhu kamar.
Berdasarkan pendapat dari Farida (2012), kandungan gula yang tinggi di dalam produk
susu kental manis akan mampu memperpanjang umur simpan sampai 12 bulan jika
disimpan di dalam kemasan tertutup pada suhu ruang. Hal ini juga didukung oleh Spreer
(1998), bahwa penambahan gula tersebut dapat dipakai sebagai pengawet karena
dengan kadar gula sekitar 43-47%. Selain itu dapat berfungsi juga untuk meningkatkan
tekanan osmosis dinding sel mikroba sehingga dapat menyebabkan lisis dan akhirnya

mati. Pada kelompok D1, D2, dan D3 gula pasir ditambahkan sebelum proses
pemanasan sambil diaduk selama 5 menit, sedangkan kelompok D4 dan D5 gula pasir
ditambahkan setelah proses pemanasan.
Kemudian susu dipanaskan pada suhu 80C dan dicek dengan termometer hingga susu
full cream tinggal setengah dari volume semula atau 50% air sudah teruapkan.
Pengecekan dapat dilakukan dengan menuangkan susu ke dalam gelas ukur. Apabila
volume belum mencapai 50% dari total volume semula, susu kembali dipanaskan dan
besar api tetap konstan dan tidak melebihi dari 80C. Proses pasteurisasi ini bertujuan
untuk membunuh mikroorganisme dan pada saat penambahan sukrosa ini membantu
melarutkan sukrosa yang ditambahkan (Buckle et al., 1987). Hal tersebut juga didukung
dengan teori dari Fani (2006) yang mengatakan bahwa tujuan dari pemanasan yaitu
untuk membunuh bakteri patogen sehingga susu yang dihasilkan dapat steril dan kental.
Jika sudah mencapai 100 ml maka matikan api dan susu kental manis kelompok D4 dan
D5 ditambahkan gula pasir sambil diaduk selama 5 menit kemudian didinginkan dengan
cara meletakkan wadah susu kental manis diatas air dingin bersuhu 25C. Susu diaduk
hingga kental dan sampai suhu susu menurun, hal ini dilakukan untuk menghindari
pembentukan kristal laktosa. Saat susu sudah mengalami pendinginan maka larutan
akan menjadi jenuh dan terkristalkan (Buckle, 1987). Namun menurut teori Bylund
(1995), pada tahap pendinginan pembentukan kristal laktosa harus dihindari. Hal
tersebut harus dilakukan karena, air yang ada di dalam susu kental manis ini hanya
dapat mengikat sebagian laktosa, sehingga dapat menyebabkan sebagian laktosa akan
mengendap di bawah dalam bentuk kristal laktosa. Dampaknya akan membuat tekstur
dari susu kental manis menjadi berpasir, sehingga susu kental manis ini tidak dapat
diaplikasikan untuk apapun. Pada kondisi penyimpanan suhu sekitar 15-25C dan sambil
dikocok akan menyebabkan kristal laktosa tetap terdispersi di dalam susu. Kemudian
dapat ditambahkan seed lactose untuk menyeragamkan ukuran kristal laktosa. Jika
kristal laktosa yang terbentuk terlalu besar maka akan menghasilkan tekstur yang kasar.
Sedangkan apabila ukurannya kecil maka akan menyebabkan susu kental manis tidak
berpasir dan lembut. Kalinina et al. (2014) juga memaparkan hasil penelitiannya
mengenai produk susu kental manis yang diberi perlakuan hidrolisis yang memiliki

tujuan untuk mengurangi jumlah laktosa. Dimana hidrolisis laktosa secara enzimatik
merupakan perkembangan teknologi untuk menghasilkan produk susu dengan jumlah
laktosa yang rendah. Produk tersebut cocok dikonsumsi oleh orang yang memiliki sifat
lactose intolerance. Proses hidrolisi tersebut juga mampu meningkatkan karakteristik
organoleptik dan mengkristalisasi laktosa pada susu kental manis selama penyimpanan.
Tahapan pengadukan yang dilakukan dalam praktikum ini sudah sesuai dengan
penilitian yang dilakukan Olaoye (2015) mengenai pembuatan susu kental manis dari
susu kedelai. Dimana proses pembuatannya susu kedelai ditambahkan dengan 75 g gula
pada 100 ml air mendidih. Kemudian didinginkan hingga suhu 80C dengan dilakukan
pengadukan secara konstan hingga gula menjadi terlarut. Susu kental manis
mengandung total padatan yang tinggi, seperti protein, lemak, karbohidrat, dan abu.
Setelah suhu menurun, kemudian susu diamati kandungan gulanya dengan
refraktometer dan kandungan fisiknya yaitu pada warna, rasa, aroma dan kekentalan.
Dalam proses pembuatan susu kental manis dilakukan dalam berbagai tahap yaitu
persiapan bahan baku, pencampuran, penyaringan, homogenisasi, pasteurisasi, deaerasi,
pendinginan, penyimpanan dan pengalengan (Arni et al, 1992). Sedangkan dalam
praktikum ini pembuatan susu kental manis dilakukan dalam skala kecil sehingga
tahapan prosesnya meliputi persiapan bahan baku, pencampuran, homogenisasi,
pasteurisasi, pendinginan dan penyimpanan.
Salah satu faktor yang akan mempengaruhi kualitas susu kental manis yaitu proses pre
heating. Proses pre heating yang dilakukan yaitu pasteurisasi. Tahap pre heating tidak
hanya ditujukan untuk membunuh mikroorganisme namun juga akan mempengaruhi
kualitas dari susu kental manis yang dihasilkan. Kualitas tersebut yaitu kualitas fisik
yang merupakan viskositas dan stabilitas. Ada faktor lain yang dapat mempengaruhi
yaitu penambahan gula.
Penambahan gula yang dilakukan setiap kelompok berbeda-beda. Jika gula ditambahkan
saat tahap pre heating maka akan menyebabkan age thickening pada produk akhir susu.
Penambahan gula dapat pula ditambahkan pada saat akhir proses pemadatan (condense).
Gula berperan sebagai larutan yang memiliki konsentrasi kental (60-80%). Lalu faktor

selanjutnya yang dapat mempengaruhi kualitas susu kental manis yaitu suhu. Pada tahap
pre heating jika menggunakan suhu yang terlalu tinggi. Kenaikan suhu terus menerus
dapat mengurangi kualitas pada susu (Van Den Berg, 2008).
Berdasarkan data dalam SNI 2971: 2011 mengatakan bahwa standar mutu dari susu
kental manis meliputi :
Jenis Uji
Air
Bahan kering
Abu
Lemak
Protein
Laktosa
Sukrosa
Bau
Rasa
Warna
Konsistensi

Persyaratan
20-30%
70-80%
1,4-2,2%
8-10%
7-10%
10-14%
42-48%
Normal
Normal (manis)
Putih sampai kekuningan
Kental dan homogen

Menurut data dalam SNI 2971: 2011 dijelaskan bahwa susu kental yang sesuai standar
harus mempunyai warna putih hingga kekuningan. Berdasarkan hasil pengamatan
ditunjukkan bahwa kelompok D1, D4 dan D5 memiliki warna susu kental manis yang
sesuai dengan standar yaitu putih sampai kekuningan, sedangkan pada kelompok D2,
dan D3 memiliki warna yang kurang sesuai dengan standar yaitu memiliki warna
kuning. Warna kuning ini dapat dikarenakan hampir terjadi kerusakan pada produk,
dimana kerusakan tersebut dapat diatasi melalui cara penambahan gula ke dalam susu
dengan perlahan-lahan, setelah volumenya kurang lebih sepertiganya. Cara lainnya
yaitu pengontrolan suhu agar tidak terlalu panas pada saat proses pemanasan.
Penambahan gula ke dalam susu dilakukan sambil diaduk rata. Apabila hal tersebut
tidak dilakukan dengan benar, maka ada beberapa gula yang masih tidak larut sehingga
menyebabkan gula dapat bereaksi dengan asam amino dan panas mengalami proses
karamelisasi. Kondisi yang steril dapat mempertahankan stabilitas warna. Suhu
penyimpanan yang kurang sesuai akan mempengaruhi warna. Pada saat terjadi fluktuasi
suhu penyimpanan yang terlalu tinggi, maka akan menyebabkan warna pada susu

berubah menjadi gelap. Hal tersebut yang membuat warna susu kental manis pada
kelompok D2 dan D3 tampak kuning. (Syarief, R & H. Halid, 1991).
Pada parameter rasa, susu kental manis yang dihasilkan masing-masing kelompok
berbeda-beda. Rasa yang dihasilkan mulai dari manis hingga sangat manis. Namun
berdasarkan data yang diperoleh ada ketidaksesuaian. Pada kelompok D2 menghasilkan
rasa sangat manis, namun kandungan gula yang dinyatakan dalam brix lebih rendah dari
kelompok D3 yang memiliki rasa hanya manis. Ketidaksesuaian ini dikarenakan susu
pada kelompok D2 mengalami kerusakan. Sehingga rasa manis yang muncul ditutupi
oleh sebagian tallowy flavor yang muncul akibat adanya unsur Cu di dalam susu.
Karena dalam proses pembuatan menggunakan peralatan yang mengandung logam.
Selain itu ketidaksesuaian ini dapat terjadi pada saat sensori panelis kurang tepat atau
persepsi mengenai manis berbeda dengan orang lain. Rasa manis yang dihasilkan ini
berbanding lurus kandungan gula yang ada atau disebut nilai brix. Semakin tinggi nilai
brix maka rasa susu kental manis yang dihasilkan semakin manis.
Pada pengamatan aroma, kelompok D2, D3, D4, dan D5 memiliki aroma susu kental
manis yang agak kuat. Sedangkan pada kelompok D1menghasilkan aroma susu yang
kurang kuat. Menurut teori dari Herchdoerfer (1986) semakin lama penggunaan waktu
dan tingginya suhu, maka akan menghasilkan aroma pada susu kental manis semakin
kuat. Ketidaksesuaian tersebut dapat terjadi dikarenakan metode pemanasan yang
dipakai tidak menggunakan alat yang dapat disetting suhu dan lama waktunya yaitu
dengan menggunakan kompor. Hal ini akan menimbulkan hilangnya senyawa volatile
pada beberapa kelompok sehingga aroma yang dihasilkan berkurang.
Pada parameter kekentalan, masing-masing kelompok memiliki kekentalan yang
berbeda-beda. Perbedaan tersebut dapat terjadi disebabkan karena adanya perbedaan
mengenai kandungan air yang masih ada di dalam susu. Semakin tinggi kandungan air,
maka tingkat viskositas pada susu kental manis semakin rendah. Sedangkan jika
kandungan air semakin rendah maka viskositasnya semakin tinggi. Kandungan air
tersebut juga dapat ditentukan dari seberapa banyak kandungan gula yang ditambahkan
di dalam susu kental manis. Jika semakin tinggi kandungan gula, maka kadar air pun
akan semakin rendah, sehingga dapat dikatakan bahwa semakin tinggi kandungan gula
pada susu kental manis, maka kandungan total padatan di dalam susu kental manis juga

10

akan semakin tinggi. Namun dengan kandungan gula yang terlalu tinggi akan
menyebabkan kerusakan pada susu kental manis yaitu menimbulkan tekstur berpasir
akibat kristal laktosa maupun sukrosa tidak terlarut sempurna (Syarief, R & H. Halid,
1991). Sandiness dapat terjadi karena ukuran kristal laktosa lebih dari 15 m. untuk
susu kental manis biasanya ukuran kristal laktosa dibawah 10 m (Herchdoerfer, 1986).
Kelompok D2 dan D3 menghasilkan susu kental manis dengan tingkat kekentalan yang
paling tinggi dibandingkan dengan kelompok lainnya. Sedangkan pada kelompok D1
menghasilkan susu kental manis dengan tingkat kekentalan yang paling rendah. Hal
tersebut dapat terjadi karena susu kental manis pada kelompok D1 masih mengandung
banyak air yang menyebabkan tingkat kekentalan berkurang.
Untuk parameter yang terakhir yaitu analisa kandungan gula. Skala pengukuran umum
untuk refraktometer yaitu brix. Nilai brix menunjukkan tingkat total padatan terlaut
seperti vitamin, mineral, dan senyawa larut lainnya tetapi kebanyakan untuk mengukur
kandungan gula yang terdapat di dalam cairan. Kandungan gula tertinggi pada susu
kental manis yaitu pada kelompok D3 sebesar 65,7 brix. Sedangkan yang paling rendah
adalah kelompok D4 yaitu 53,4 brix. Semakin tinggi kandungan gula pada susu kental
manis, maka kandungan air pada susu kental manis juga semakin rendah. Hal tersebut
dapat terjadi dikarenakan semakin tinggi gula maka semakin tinggi pula total padatan.
Namun jika kandungan gula terlalu tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada susu
kental manis.

Herchdoerfer (1986) berpendapat bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat


mempengaruhi kualitas dari susu kental manis antara lain :

Stabilitas kimia susu


Striking point dalam proses evaporasi yang dapat ditentukan dengan

refraktometer
Dekstrusi mikroorganisme yang tidak diinginkan
Suhu pemanasan awal
Perbandingan antara padatan susu dan gula

4. KESIMPULAN

11

Susu kental manis merupakan susu sapi yang mengalami proses pengawetan
dengan cara menambahkan gula sebanyak 40 sampai 50% dari total berat.

Penambahan gula dapat berperan sebagai penambah rasa manis dan menghambat

pertumbuhan dari mikroorganisme.


Jika semakin lama penggunaan waktu pemanasan dalam pembuatan susu kental

manis, maka akan menghasilkan warna susu yang semakin gelap.


Jika semakin lama proses evaporasi yang digunakan, maka akan semakin

meningkatkan pula viskositas dan kandungan gula pada susu kental manis.
Berdasarkan data dalam SNI, susu kental manis yang baik yaitu memiliki warna
putih kekuningan, tidak mengalami diskolorasi, memiliki tekstur yang halus, dan

flavor tidak cacat.


Pada parameter kekentalan hasil yang didapat tidak sesuai dengan SNI 2971:
2011. Karena susu kental manis yang dihasilkan tidak memiliki kekentalan yang

sesuai dengan produk susu kental manis.


Pada parameter warna susu kental manis yang dihasilkan kelompok D1, D4 dan
D5 sudah sesuai dengan standar SNI 2971:2011 karena menurut standar SNI

warna pada susu kental manis yaitu putih sampai kekuningan.


Ketidaksesuaian pada hasil pengamatan rasa dengan kandungan gula pada
kelompok D2 disebabkan karena susu kental manis mengalami kerusakan yang
menyebabkan rasa tersebut tertutupi oleh kandungan lainnya, serta pengamatan
tersebut dilakukan oleh panelis yang memiliki persepsi tentang rasa yang berbeda
dengan orang lain.

Semarang, 9 Juni 2016


Praktikan,

Asisten Dosen
- Tjan, Ivana Chandra

Yuliana Alexandra Nona Sain


13.70.0173
5. DAFTAR PUSTAKA
6.
7. Aksi Agraris Kanisius. (1989). Beternak Sapi Perah. Kanisius. Yogyakarta.
8.
9. Arni, Y et al. (1992). Penyehatan Lingkungan Industri Susu Kental Manis.
Paper. Fakultas Teknologi Pertanian IPB. Bogor.
10.
11. Arpah, M. (1993). Pengawasan Mutu Pangan. Tarsito. Bandung.
12.

12

13. Buckle, K. A.; R. A. Edwards; G. H. Fleet & M. Wooton. (1987). Food Science.
UI Press. Jakarta.
14.
15. Bylund, G. (1995). Dairy Processing Handbook. Tetra Pak Processing Systems
AB. Sweden.
16.
17. Castilho, Silvia Diez and Filho Antonio de Azevedo Barros. (2010). The History
of Infant Nutrition. Journal de Pediatra 86(3): 179-188.
18.
19. Fani.
(2006).UpayaCegahKeracunanSusu.http://www.suaramerdeka.com/harian/0608/
14/ragam03.htm. Diakses tanggal 8 Juni 2016.
20.
21. Herchdoerfer, S. M. (1986). Quality Control in Food Industry Volume 2.
Academic Press. London.
22.
23. Husaini, Yayah K., Anwar, Husaini Mahdin. (1986). Makanan Bayi Bergizi.
Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
24.
25. Farida, Saragih. (2012). Susu Kental Manis Dan Krimer Kental Manis : VOL.
VII/NO. 6/JUNI 2012. http://www.foodreview.biz/preview.php?
view2&id=56469. Diakses pada tanggal 8 Juni 2016.
26.
27. Kalinina, Olena., Kovalenko, Oleksandr, and Kornilova Olga. (2014).
Investigation of Viscosity of Whole Hydrolyzed Sweetened Condensed Milk.
Ukrainian Food Journal. Vol 3. Issue 2.
28.
29. Krupa, Hirpara., H, Jana Atanu., H.G. Patel. (2011). Synergy of Dairy with NonDairy Ingredients or Product: A Review. African Journal of Food Science. Vol 5
(16), page. 817-832.
30.
31. Olaoye, O.A. (2015). A Study on Quality Parameters and Shelf Stability of
Sweetened Condensed Vegetables Milks Produced from Four Varieties of
Soybeans (Glycine max). International Food Reasearch Journal 22(6) : 22122218.
32.
33. Spreer, E. (1998). Milk and Dairy Products Technology. Marcel Dekker, Inc.
New York.
34.
35. Syarief, R dan H. Halid. (1991). Teknologi Penyimpanan Pangan. PAU Pangan
dan Gizi. IPB. Bogor.
36.
37. Van Den Berg. J. C. T. (2008). Evaporated and Condensed Milk.
http://whqlibdoc.who.int/monograph/WHO_MONO_48_(p321).pdf. Diakses
tanggal 8 Juni 2016.
38.
39.
40.

13

41. LAMPIRAN
42.
6.1. Abstrak Jurnal
6.2. Laporan Sementara