Anda di halaman 1dari 39

ASMA BRONKIAL

Sarah Amani Dini Mudira Agung Rezky Pratama

Pembimbing:
dr. Cut Yulia, Sp. P

Identitas
Nama : Ny. EU
Tanggal lahir : 15-05-1948
Usia : 67 Tahun
Status : Menikah
Pedidikan : SLTA
Pekerjaan
: Pensiunan
Alamat : Jl. Raya pondok gede RT 1/3 no. 1, Jakarta Timur.
Tanggal masuk RS : 02-04-2016
No. Rekam Medik : 00920956
Dokter yang merawat : dr. Cut Yulia, Sp.P

Anamnesis
Keluhan Utama
Sesak napas berat sejak 2 jam SMRS
Keluhan Tambahan
Batuk (+), sakit kepala (+), lemas (+)

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang dengan keluhan sesak napas sampai tidak bisa
bicara sejak 2 jam SMRS. Sesak sudah dirasakan pasien sejak 2
minggu yang lalu. Namun sekarang dirasakan semakin berat.
Sesak lebih sering pada malam hari dan jika sedang posisi
berbaring, membaik bila posisi duduk dan tidur menggunakan
bantal tinggi. Pasien pertama kali sesak saat usia 50 tahun.
Sesak hilang timbul dan sebelum sesak biasanya diawali batuk.

Dalam 1 bulan sesak terjadi sebanyak 3 kali. Jarak kekambuhan


kurang lebih 10-12 bulan. Lega setelah 1 kali diuapkan. Pasien juga
mengeluhkan batuk berdahak berwarna putih, darah disangkal.
Pasien mendengar suara mengi saat bernapas. Pasien juga
merasakan sakit kepala, lemas, mual. Keluhan demam, nyeri dada,
muntah, pilek disangkal.

Riwayat Penyakit Dahulu :


Asma (+) sejak usia 50 tahun, Diabetes mellitus (+).
Riwayat penyakit keluarga :
Ibu dan anak pertama pasien memiliki riwayat asma (+), riwayat TB
(-), riwayat serangan jantung (-), riwayat Hipertensi (-), riwayat
Diabetes Mellitus (-)
Riwayat Alergi :
Alergi obat, makanan, bulu, debu disangkal

Riwayat Pengobatan
:
Saat dirumah pasien di uap dan diberi oksigen 1 kali namun tidak
membaik.
Riwayat Psikososial
:
Pasien memiliki kebiasaan makan yang manis-manis, pola makan
tidak teratur, jarang olahraga. Pasien tidak memiliki riwayat
kebiasaan merokok dan minum alkohol.

Pemeriksaan fisik
KU : Tampak Sakit Sedang
Kesadaran : Compos mentis
Tekanan darah : 130/70 mmHg
Nadi : 92 x/menit kuat angkat, reguler
Pernapasan : 28 x/menit
Suhu : 36,50C
BB : 48 kg
TB : 158 cm

Status generalis
Kepala: Normocephal, rambut hitam, distribusi merata
Mata
: Konjungtiva anemi -/-, Sclera ikterik -/-,
Reflex pupil +/+ , pupil bulat, isokor
Hidung : konka dbn/dbn, Deviasi septum -/-, Secret -/-,
Epistaksis -/ Mulut : Sianosis (-), Bibir kering(+), Faring
hiperemis (-),tonsil T1/T1
Telinga : normotia, aurikula dbn/dbn, CAE dbn/dbn
Leher : Pembesaran KGB (-) Pembesaran kelenjar
tiroid (-), JVP5-2

Thorax

: Normochest

Inspeksi : Simetris, skar (-), otot pernapasan (+/+), spider nevi (-)
Palpasi

: Vokal fremitus simetris, nyeri tekan (-/-)

Perkusi

: Sonor pada semua lapang paru, batas paru-

hepar setinggi ICS 6, midclavicularis dextra


Auskultasi

: Vesikuler (+/+), wheezing(+/+), ronkhi (-/-).

Jantung
Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat
Palpasi

: ictus cordis tidak teraba

Perkusi

: Batas kanan jantung linea sternalis dextra

Batas kiri jantung linea midclavikularis sinistra


Auskultasi

: BJ 1 dan 2 reguler, Murmur (-), Gallop (-)

Abdomen
Inspeksi : cekung (-), skar (-), spider nevi (-)
Auskultasi
: bising usus (+) normal
Palpasi : Nyeri tekan epigastrium (+), Nyeri tekan
abdomen (-), Hepatomegali (-), Splenomegali (-),
Rebound tes (-), Ballotement (-)
Perkusi : Timpani pada 4 kuadran, shifting dullness (-)
Ekstremitas
Ekstr. Atas : Pucat, akral hangat, edema (-/-), palmar eritem (-/-)
Ekstr. Bawah: Pucat, akral hangat, edema (-/-), eritem (-/-), luka (-/-)

Pemeriksaan penunjang
Laboratorium
Hematologi Rutin (02-04-2016)
Hb : 9,8 g/dl (11,7 15,5)
Leukosit : 13,87.103/ uL (3,60-11,60)
Hematokrit : 28 % (35-47)
Trombosit : 355.103/ uL (150-440)
Eritrosit : 3,29 106/uL (3,8-5,2)
MCV : 85 fL (80-100)
MCH : 30 pg (26-34)
MCHC : 35 g/dL (32-36)
LED : 35 mm (0-20)

Kimia klinik (02-04-2016)


Ureum darah
: 39 mg/dL (10-50)
Kreatinin darah : 1,7 mg/dL (<1,4)
GDS jam 08.00 : 249 mg/dL (70-200)
Gliko Hb (HbA1c) : 6,7 % (4,8-5,9)
Glukosa jam 16.00 : 548 mg/dL
Glukosa jam 23.00 : 230 mg/dL

Kimia klinik (03-04-2016)


Kolesterol total : 158 mg/dL (<200)
Trigliserida
: 125 mg/dL (<150)
Kolesterol HDL : 34 mg/dL (49-74)
Kolesterol LDL : 99 mg/dL (<100)
Glukosa jam 05.00 : 196 mg/dL
Glukosa jam 11.00 : 280 mg/dL
Glukosa jam 17.00 : 126 mg/dL
Glukosa jam 23.00 : 219 mg/dL

Kimia klinik (04-04-2016)


Glukosa jam 05.00 : 195 mg/dL
Glukosa jam 11.00
: 221 mg/dL
Glukosa jam 17.00 : 145 mg/dL
Glukosa jam jam 23.00
: 148 mg/dL

Resume
Ny. E, 67 tahun, masuk Rumah Sakit dengan keluhan dispneu sejak 2 jam.
Keluhan dirasakan hilang timbul sejak 2 minggu yang lalu. Lebih sering
pada malam hari dan jika sedang posisi berbaring, membaik bila posisi
duduk dan tidur menggunakan bantal tinggi. Batuk (+), sakit kepala (+),
nausea (+), lemas (+). Pemeriksaan fisik ditemukan tekanan darah 130/90
mmHg, nadi 84 x/menit kuat angkat, regular, pernapasan 26 x/menit,
suhu 36,50C. Mukosa bibir kering, pada auskultasi terdengar bunyi
wheezing (+/+), pada palpasi abdomen terdapat nyeri tekan eipigastrium
(+). Pemeriksaan laboratorium Hb , leukosit , hematocrit ,
eritrosit , LED , kreatinin darah , HbA1c , HDL , glukosa .

Daftar masalah
Dispneu
Assestment
S : Ny. E, mengeluh sesak sejak 2 jam, hilang timbul, muncul ketika
berbaring, membaik jika posisi duduk dan tidur dengan bantal tinggi.
O : Respirasi 28 kali per menit. Auskultasi thorax terdengar wheezing
(+/+)
A : dispneu e.c asma bronkhiale
P : Rencana diagnostik: Spirometri, uji provokasi bronkus, pemeriksaan
sputum, Rencana terapi : beta 2 agonis, hindari faktor pencetus

DEFINISI
Asma merupakan sebuah penyakit inflamasi kronik saluran napas.
Ditandai adanya riwayat mengi (wheezing), napas pendek
(shortness of breath), dada rasa tertekan (chest tightness),
batuk-batuk bersamaan dengan terbatasnya ekspirasi. (GINA, 2015).

PREVALENSI
Terjadi 1-18% pada populasi di berbagai negara
Pada masa kanak-kanak ditemukan prevalensi anak laki-laki
berbanding anak perempuan 1,5:1, tetapi menjelang dewasa
perbandingan tersebut lebih kurang sama dan pada masa
menopause perempuan lebih banyak dari laki-laki.
Dari hasil penelitian Riskesdas, prevalensi penderita asma di
Indonesia adalah sekitar 4%. Menurut Sastrawan, dkk (2008),
angka ini konsisten dan prevalensi asma bronkial sebesar 515%.

Faktor Faktor yang Berhubungan dengan


Kejadian Asma
Faktor Host
Genetik
Obesitas
Jenis kelamin

Faktor Lingkungan
Alergen
Infeksi
Sensitizer tempat kerja
Asap rokok

PATOGENESIS
Asma sebagai penyakit inflamasi
Hipereaktivitas saluran napas

Inflamasi saluran napas


Kerusakan epitel
Mekanisme neurologis
Gangguan Instrinsik
Obstruksi Saluran Napas

GEJALA KLINIS
1. Asma bersifat episodik, sering bersifat reversibel dengan atau tanpa
pengobatan
2. Asma biasanya muncul setelah adanya paparan terhadap alergen,
gejala musiman, riwayat alergi/atopi, dan riwayat keluarga pengidap asma
3. Gejala asma berupa batuk, mengi, sesak napas yang episodik, rasa
berat di dada dan berdahak yang berulang
4. Gejala timbul/memburuk terutama pada malam/dini hari
5. Mengi atau batuk setelah kegiatan fisik
6. Respon positif terhadap pemberian bronkodilator

Asma Intermiten

Gejala intemiten (kurang dari sekali seminggu)


Serangan singkat (beberapa jam sampai hari)
Gejala asma malam kurang dari 2 kali sebulan
Di antara serangan pasien bebas gejala dan fungsi paru normal
Nilai APE dan VEP1 > 80% dari nilai prediksi, variabilitas < 20 %.

Asma Persisten Ringan

Gejala lebih dari 1x seminggu, tetapi kurang dari 1x per hari


Serangan mengganggu aktivitas dan tidur
Serangan asma malam lebih dari 2x/sebulan
Nilai APE atau VEP1 antara >80% dari nilai prediksi, variabilitas
20-30 %.

Asma Persisten Sedang


Gejala setiap hari
Serangan mengganggu aktivitas dan tidur
Serangan asma malam lebih dari 1x seminggu
Setiap hari menggunakan beta 2 agonis hirup
Nilai APE atau VEP1 antara 60- 80% dari nilai prediksi, variabilitas
>30 %.

Asma Persisten Berat


Gejala terus-menerus, sering mendapat serangan
Gejala asma malam sering
Aktivitas fisis terbatas karena gejala asma
Nilai APE atau VEP1 < 60% dari nilai prediksi, variabilitas >30 %.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Darah: eosinofil, IgE meningkat, hiponatremi, leukositosis
Analisa gas darah umumnya normal tapo dapat juga terjadi
hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis
Sputum : melihat kristal charcot leyden, spiral curschman (cast
cell dari cabang bronkus), creole fragmen dari epitel bronkus,
netrofil dan eosinofil
Foto toraks PA
Test kulit,test provokasi bronkus
Pem.Spirometri

PENATALAKSANAAN
1. Mencegah Ikatan Alergen IgE
2. Mencegah Penglepasan Mediator
3. Melebarkan Saluran Napas dengan Bronkodilator
4. Mengurangi Respons dengan Jalan Meredam Inflamasi Saluran
Napas

PENGOBATAN ASMA INTERMITEN


OBAT PENGONTROL
Tidak perlu
OBAT PELEGA
Bronkodilator aksi kerja cepat
Inhalasi agonis beta-2 bila perlu
OBAT ALTERNATIF
Kombinasi teofilin dan agonis beta-2 kerja cepat dosis rendah oral

TERAPI ASMA PERSISTEN SEDANG


OBAT PENGONTROL
Inhalasi kortikosteroid 500 1000 g + inhalasi agonis beta-2 kerja lama
OBAT PENGONTROL LAIN
Teofilin lepas lambat atau agonis beta-2 kerja lama oral atau antileukotrien
OBAT PELEGA
Bronkodilator aksi kerja cepat
Inhalasi agonis beta-2 bila perlu
OBAT ALTERNATIF
Kombinasi teofilin dan agonis beta-2 kerja cepat
dosis rendah oral

TERAPI ASMA PERSISTEN BERAT


OBAT PENGONTROL
Inhalasi kortikosteroid > 1000 g + inhalasi agonis beta-2 kerja lama + satu atau lebih obat
berikut bila perlu :
*Teofilin lepas lambat
*Antileukotrien
*Agonis beta-2 kerja lama oral *Kortikosteroid oral
OBAT PELEGA
Bronkodilator aksi kerja cepat
Inhalasi agonis beta-2 bila perlu
OBAT ALTERNATIF
Kombinasi teofilin dan agonis beta-2 kerja cepat
dosis rendah oral

PENGOBATAN ST. ASMATIKUS


1.
2.
3.
4.

Posisi setengah duduk


O2 : 3 - 4 L/menit dg kanula hidung
Cairan : 2 - 4 L / hari
Nebulaizer

5. Kortikosteroid : metilprednisolon 30-60mgIV tiap 6


jam dpt dipertahankan 5-10 hari bila gejala sudah
teratasi, dpt diberi metilprednisolon oral dosis 3 X 4
mg
6. Aminofilin infus : 5-6 mg/kg BB bolus perlahan IV
dilanjutkan dg dosis pemeliharaan = 0,2 - 0,8
mg/BB/jam
Obat lain : Antikolinergik

KOMPLIKASI
1. Pneumotoraks
2. Pneumomediastinum dan emfisema subkutis
3. Atelektasis
4. Aspergillosis bronkopulmoner alergik
5. Gagal napas
6. Bronkitis
7. Fraktur iga

KAPAN PASIEN DIRUJUK?


1. Pasien dengan risiko tinggi kematian karena asma
2. Serangan asma berat APE < 60 % nilai prediksi
3. Respons bronkodilator tidak segera, dan bila ada respons
hanya bertahan < 3 jam
4. Tidak ada perbaikan dalam waktu 2-6 jam setelah
pengobatan kortikosteroid
5. Gejala asma makin memburuk.

TERIMA
TERIMA
KASIH
KASIH