Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang mempengaruhi angka kematian
bayi, anak dan ibu melahirkan serta dapat menurunkan peoduktivitas tenaga kerja. Angka
kesakitan penyakit ini masih cukup tinggi terutama di kawasan timur Indonesia. Kejadian
Luar Biasa (KLB) malaria masih sering terjadi terutama di daerah yang terjadi perubahan
lingkungan misalnya tambak udang atau ikan yang tak terpelihara, penebangan pohon
bakau sebagai bahan bakar dan arang, muara sungai yang tersumbat yang akan menjadi
tempat perindukan Nyamuk Malaria.
Dalam menangani penderita malaria, sebagian penderita masih sering terlambat
pada saat dibawa ke Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) seperti Puskesmas dan Rumah
Sakit, sehingga menyebabkan penderita tidak tertolong lagi. Upaya pemberantasan yang
dilakukan saat ini adalah menemukan penderita sedini mungkin dan langsung
memberikan pengobatan. Upaya untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat telah
dilakukan melalui pembentukan pos pelayanan kepada masyarakat berupa Pos Obat Desa
atau dusun yang mengikutsertakan masyarakat dalam menemukan sampai mengobati
kasus malaria, baik nyamuk dewasa melalui penyemprotan dinding rumah maupun
pemberantasan jentik yang berada di sarang nyamuk. Penataan lingkungan sehingga
jentik tidak tumbuh, atau dengan melakukan penyemprotan bahan pembunuh jentik
nyamuk sangatlah penting. Selain itu, juga dilakukan upaya untuk menghindarkan diri
dari gigitan nyamuk melalui promosi penggunaan kelambu di masyarakat, penggunaan
obat gosok penolak gigitan nyamuk dll.
B. Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Apakah Penyebab terjadinya Penyakit Malaria ?


Bagaimana Distribusi Penyakit Malaria ?
Bagaimana Cara Penginfeksian Penyakit Malaria ?
Bagaimana Siklus Hidup Plasmodium ?
Bagaimana Patologi dan Gejala Klinis Penyakit Malaria ?
Bagaimana Gejala Spesifik Penyakit Malaria ?
Bagaimana Gejala dan Pola Penyakit Malaria ?
Bagaimana Diagnosis Penyakit Malaria ?
1

9. Bagaimana Pengobatan Penyakit Malaria ?


10. Bagaimana Pencegahan Penyakit Malaria ?
B. Tujuan
1. Untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Bahasa Indonesia.
2. Untuk memperoleh tambahan Ilmu Pengetahuan di luar bangku perkuliahan.
3. Untuk mengembangkan Ilmu Pengetahuan yang penulis dapat dari
kampus dan ikut serta mengabdi kepada masyarakat.
C. Manfaat
1. Mengetahui apa itu Penyakit Malaria.
2. Mengetahui Gejala dan Penyebab Penyakit Malaria.
3. Mengetahui Cara Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Malaria.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Malaria
Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh parasit (protozoa) dan genus
plasmodium, yang dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles. (Prabowo,2004:2)
Penyakit malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi protozoa dan genus
plasmodium masa tunas atau inkubasi penyakit dapat beberapa hari atau beberapa bulan.
(Dinas kesehatan DKI Jakarta)
2

Berdasarkan pengertian diatas penyakit malaria adalah penyakit yang disebabkan


oleh infeksi protozoa dan genus plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk
anopheles yang masa inkubasi penyakit dapat beberapa hari sampai beberapa bulan.
WHO mencatat setiap tahunnya tidak kurang dari 1 hingga 2 juta penduduk
meninggal karena penyakit yang disebarluaskan nyamuk Anopheles. Penyakit malaria
juga dapat diakibatkan karena perubahan lingkungan sekitar seperti adanya Pemanasan
global yang terjadi saat ini mengakibatkan penyebaran penyakit parasitik yang ditularkan
melalui nyamuk dan serangga lainnya semakin mengganas. Perubahan temperatur,
kelembaban nisbi, dan curah hujan yang ekstrim mengakibatkan nyamuk lebih sering
bertelur sehingga vector sebagai penular penyakit pun bertambah dan sebagai dampak
muncul berbagai penyakit, diantaranya demam berdarah dan malaria.

B. Etiologi

Penyakit malaria disebabkan oleh bibit penyakit yang hidup di dalam darah manusia.
Bibit penyakit tersebut termasuk binatang bersel satu, tergolong amuba yang disebut
Plasmodium. Kerja plasmodium adalah merusak sel-sel darah merah. Dengan perantara
nyamuk anopheles, plasodium masuk ke dalam darah manusian dan berkembang biak
dengan membelah diri.
a. Ada empat macam plasmodium yang menyebabkan malaria:
1.

Falciparum, penyebab penyakit malaria tropika. Jenis malaria ini bisa


menimbulkan kematian.

2.

Vivax, penyebab malaria tersiana. Penyakit ini sukar disembuhkan dan sulit
kambuh

3.

Malaria, penyebab malaria quartana. Di Indonesia penyakit ini tidak banyak


ditemukan.

4.

Ovale, penyebab penyakit malaria Ovale. Tidak terdapat di Indonesia.

b. Penyebab lain terjadinya penyakit malaria yaitu :


Parasit.
Untuk kelangsungan hidupnya, parasit malaria memerlukan dua macam siklus
kehidupan yaitu:
Siklus dalam tubuh manusia.
Sikus dalam tubuh manusia juga disebut siklus aseksual, dan siklus ini terdiri dari :

Fase di luar sel darah merah


Siklus di luar sel darah merah berlangsung dalam hati. Pada Plasmodium vivax
dan Plasmodium ovale ada yang ditemukan dalam bentuk laten di dalam sel hati
yang disebut hipnosoit. Hipnosoit merupakan suatu fase dari siklus hidup parasit
yang nantinya dapat menyebabkan kumat/kambuh atau rekurensi (long term
relapse).
Plasmodium vivax dapat kambuh berkali-kali bahkan sampai jangka waktu 3 4
tahun. Sedangkan untuk Plasmodium ovale dapat kambuh sampai bertahun-tahun

apabila pengobatannya tidak dilakukan dengan baik. Setelah sel hati pecah akan
keluar merozoit yang masuk ke eritrosit (fase eritrositer)

Fase dalam sel darah merah


Fase hidup dalam sel darah merah / eritrositer terbagi dalam :
Fase sisogoni yang menimbulkan demam
Fase gametogoni yang menyebabkan seseorang menjadi sumber penularan
penyakit bagi nyamuk vektor malaria. Kambuh pada Plasmodium falciparum
disebut rekrudensi (short term relapse), karena siklus didalam sel darah merah
masih berlangsung sebagai akibat pengobatan yang tidak teratur. Merozoit
sebagian besar masuk ke eritrosit dan sebagian kecil siap untuk diisap oleh
nyamuk vektor malaria. Setelah masuk tubuh nyamuk vektor malaria,
mengalami siklus sporogoni karena menghasilkan sporozoit yaitu bentuk
parasit yang sudah siap untuk ditularkan kepada manusia.

C. Klasifikasi malaria
Menurut Harijanto (2000) klasifikasi malaria berdasarkan jenis
plasmodiumnya antara lain sebagai berikut :
1. Malaria Tropika (Plasmodium Falcifarum).
Malaria tropika/ falciparum merupakan bentuk yang paling berat, ditandai dengan panas
yang ireguler, anemia, splenomegali, parasitemia yang banyak dan sering terjadi
komplikasi. Masa inkubasi 9-14 hari. Malaria tropika menyerang semua bentuk eritrosit.
Disebabkan oleh Plasmodium falciparum. Plasmodium ini berupa Ring/ cincin kecil yang
berdiameter 1/3 diameter eritrosit normal dan merupakan satu-satunya spesies yang
memiliki 2 kromatin inti (Double Chromatin). Malaria falciparum dikelompokkan atas
dua kelompok yaitu Malaria falciparum tanpa komplikasi yang digolongkan sebagai
malaria ringan adalah penyakit malaria yang disebabkan Plasmodium falciparum dengan
tanda klinis ringan terutama sakit kepala, demam, menggigil, dan mual tanpa disertai
kelainan fungsi organ. Sedangkan malaria falciparum dengan komplikasi umumnya
digolongkan sebagai malaria berat yang menurut WHO di definisikan sebagai infeksi
Plasmodium falciparum stadium aseksual dengan satu atau lebih komplikasi. penyebaran
Malaria Tropika: Plasmodium Falcifarum menyerang sel darah merah seumur hidup.
Infeksi Plasmodium Falcifarum sering kali menyebabkan sel darah merah yang
mengandung parasit menghasilkan banyak tonjolan untuk melekat pada lapisan endotel
5

dinding kapiler dengan akibat obstruksi trombosis dan iskemik lokal. Infeksi ini sering
kali lebih berat dari infeksi lainnya dengan angka komplikasi tinggi (Malaria Serebral,
gangguan gastrointestinal, Algid Malaria, dan Black Water Fever).
2. Malaria Kwartana (Plasmodium Malariae)
Plasmodium Malariae mempunyai tropozoit yang serupa dengan Plasmoduim vivax,
lebih kecil dan sitoplasmanya lebih kompak/ lebih biru. Tropozoit matur mempunyai
granula coklat tua sampai hitam dan kadang-kadang mengumpul sampai membentuk pita.
Skizon Plasmodium malariae mempunyai 8-10 merozoit yang tersusun seperti kelopak
bunga/ rossete. Bentuk gametosit sangat mirip dengan Plasmodium vivax tetapi lebih
kecil. Ciri-ciri demam tiga hari sekali setelah puncak 48 jam. Gejala lain nyeri pada
kepala dan punggung, mual, pembesaran limpa, dan malaise umum. Komplikasi yang
jarang terjadi namun dapat terjadi seperti sindrom nefrotik dan komplikasi terhadap ginjal
lainnya. Pada pemeriksaan akan di temukan edema, asites, proteinuria, hipoproteinemia,
tanpa uremia dan hipertensi.
3. Malaria Ovale (Plasmodium Ovale)
Malaria Tersiana (Plasmodium Ovale) bentuknya mirip Plasmodium malariae, skizonnya
hanya mempunyai 8 merozoit dengan masa pigmen hitam di tengah. Karakteristik yang
dapat di pakai untuk identifikasi adalah bentuk eritrosit yang terinfeksi Plasmodium
Ovale biasanya oval atau ireguler dan fibriated. Malaria ovale merupakan bentuk yang
paling ringan dari semua malaria disebabkan oleh Plasmodium ovale. Masa inkubasi 1116 hari, walaupun periode laten sampai 4 tahun. Serangan paroksismal 3-4 hari dan
jarang terjadi lebih dari 10 kali walaupun tanpa terapi dan terjadi pada malam hari.
4. Malaria Tersiana (Plasmodium Vivax)
Malaria Tersiana (Plasmodium Vivax) biasanya menginfeksi eritrosit muda yang
diameternya lebih besar dari eritrosit normal. Bentuknya mirip dengan plasmodium
Falcifarum, namun seiring dengan maturasi, tropozoit vivax berubah menjadi amoeboid.
Terdiri dari 12-24 merozoit ovale dan pigmen kuning tengguli. Gametosit berbentuk oval
hampir memenuhi seluruh eritrosit, kromatinin eksentris, pigmen kuning. Gejala malaria
jenis ini secara periodik 48 jam dengan gejala klasik trias malaria dan mengakibatkan
demam berkala 4 hari sekali dengan puncak demam setiap 72 jam.

D. Patofisiologi
Terjadinya infeksi oleh parasit Plasmodium ke dalam tubuh manusia dapat terjadi melalui
dua cara yaitu: secara alami melalui gigitan nyamuk anopheles betina yang mengandung
parasit malaria. Induksi yaitu jika stadium aseksual dalam eritrosit masuk ke dalam darah
6

manusia, misalnya melalui transfusi darah, suntikan, atau pada bayi yang baru lahir
melalui plasenta ibu yang terinfeksi ( congenital ).
Patofisilogi malaria sangat kompleks dan mungkin berhubungan denga hal- hal
sebagai berikut :
1. Penghancuran eritrosit yang terjadi karena : pecahnya eritrosit yang mengandung
parasit, fagositosis eritrosit yang mendung dan tidak mengandung parasit, akibatnya
terjadi anemia dan anoksia jaringan dan hemolisis intravaskuler
2. Pelepasan mediator Endotoksin - magkrofag melepaskan berbagai mediator
endotoksin.
3. Pelepasan TNF
Merupakan suatu monokin yang dilepas oleh adanya parasit malaria. TNF ini
bertanggung jawab terhadap demam, hipoglikemia, ARDS
4. Sekuentrasi eritrosit
Eritrosiy yang terinfeksi dapat membentuk knob di permukaannya. Knob ini
mengandung antigen malaria yang kemudian akan bereaksi dengan antibody yang
terinfeksi akan menempel pada endotel kapiler alat dalam dan membentuk gumpalan
sehingga terjadi bendungan.
Ada 4 proses patologi yang terjadi pada malaria, yaitu demam, anemia,
imunopatologi dan anoksia jaringan, yang disebabkan oleh perlekatan eritrosit yang
terinfeksi pada endotel kapiler. Demam paroksimal berbeda untuk keempat spesies
tergantung dari lama maturasi skizonnya. Serangan demam disebabkan pecahnya
eritrosit sewaktu proses skizogoni-eritrositik dan masuknya merozoit ke dalam
sirkulasi darah. Demam mengakibatkan terjadinya vasodilatasi perifer yang mungkin
juga disebabkan oleh bahan vasoaktif yang diproduksi oleh parasit. Setelah merozoit
masuk dan menginfeksi eritrosit yang baru, demam turun dengan cepat sehingga
penderita merasa kepansan dan berkeringat banyak. Anemia disebabkan oleh
destruksi eritrosit yang berlebihan, hemolisi autoimun, dan gangguan eritropoesis.
Diduga terdapat toksin malaria malaria yang menyebabkan gangguan fungsi eritrosit
dan sebagian eritrosit pecah saat melalui limpa dan keluarlah parasit. Splenomegali
disebabkan oleh adanya peningkatan jumlah eritrosit yang terinfeksi parasit sehingga
terjadi aktivasi RES untuk memfagositosis eritrosit baik yang terinfeksi maupun yang
tidak. Kelainan patologik pembuluh darah kapiler disebabkan karena eritrosit yang
terinfeksi menjadi kaku dan lengket, perjalanannya dalam kapiler terganggu sehingga
7

melekat pada ensotel kapiler, menghambat aliran kapiler, timbul hipoksia/anoksia


jaringan. Juga terjadi gangguan integritas kapiler sehingga terjadi pembesaran
plasma. Monosit/makrofag merupakan partisipan seluler terpenting dalam fagositosis
eritrosit yang terinfeksi.
Rangkaian kelainan patologik ini dapat menimbulkan manifestasi klinis sebagai
malaria serebral, edema paru, gagal ginjal dan malabsorbsi usus.
E. WOC

F. Tanda dan gejala


Pada anamnesa adanya riwayat berpergian ke daerah yang endemis malaria tanda dan
gejala yang dapat di temukan adalah :
1. Demam
Demam periodik yang berkaitan dengan saat pecahnya skizon matang ( sporulasi )
pada malaria tertiana ( P. Vivax dan P. Ovale ) pematangan skizon tiap 48 jam maka
periodisitas demamnya setiap hari ke 3, sedangkan malaria kuartania ( V. Malariae ),
pematangannya tiap 72 jam periodisitas demamnya tiap 4 hari. Tiap serangan di
tandai dengan beberapa serangan demam menggigil ( 15 menit - 1 jam ), puncak
demam ( 2 -6 jam ), dan tingkat berkeringat ( 2- 4 jam ). Demam akan mereda secara
bertahan karena tubuh dapat beradaptasi terhadap parasit dalam tubuh dan ada respon
imun.
2. Splenomegali
Merupakan gejala kas malaria kronok. Limpa mengalami kongeori menghitam dan
menjadi keras karena timbunan pigmen eritrosit parasi dan jaringan ikat yang
bertambah.
3. Anemnia
Derajat anemia tergantung pada spesies penyebab, yang paling kerap adalah anemia
karena P. Falciparum. Anemia di sebabkan oleh :
a. Penghancuran eritrosit yang berlebihan
b. Eritrosit normal tidak dapat hidup lama
c. Gangguan pembentukan eritrosit karena depresi eritrosit dalam sum-sum tulang
belakang.
d. Ikterus
Disebabkan karena hemolisis dan gangguan hepar.
8

G. Manifestasi klinis
Manifestasi klinis penyakit malaria sangat khas dengan adanya serangan demam yang
yang intermiten, anemia sekunder dan spenomegali. Penyakit ini cenderung untuk beralih
dari keadaan akut ke keadaan menahun. Selama stadium akut terdapat masa demam yang
intermiten. Selama stadium menahun berikutnya, terdapat masa laten yang diselingi oleh
relaps beberapa kali. Relaps ini sangat mirip dengan serangan pertama.
Masa tunas dapat berbeda beda, antara 9 sampai 40 hari, dan ini menggambarkan waktu
antara gigitan nyamuk yang mengandung sporozoit dan permulaan gejala klinis. Selain
itu, masa tunas infeksi P. vivax dapat lebih panjang dari 6 sampai 12 bulan atau lebih.
Infeksi P. malariae dan P. ovale sampai bertahun tahun. Karena itu di daerah beriklim
dingin infeksi P. vivax yang didapati pada musim panas atau musim gugur, mungkin tidak
menimbulkan penyakit akut sampai musim semi berikutnya. Malaria klinis dapat terjadi
berbulan bulan setelah obat obatan supresif dihentikan. Serangan pertama pada
malaria akut terdiri atas beberapa serangan dalam waktu 2 minggu atau lebih yang diikuti
oleh masa laten yang panjang, dan diselingi oleh relaps pada malaria menahun. Serangan
demam ini berhubungan dengan penghancuran sel darah merah yang progresif, badan
menjadi lemah , dan limpa membesar. Tipe jinak biasanya disebabkan oleh P. vivax, P.
malariae atau P. ovale. Tipe ganas terutama disebabkan oleh P. falcifarum.
Dalam periode prodromal yang berlangsung satu minggu atau lebih, yaitu bila jumlah
parasit di dalam darah sedang bertambah selama permulaan siklus aseksual, tidak tampak
manifestasi klinis yang dapat menentukan diagnosis. Gejala dapat berupa perasaan lemas,
tidak nafsu makan, sakit pada tulang dan sendi. Demam tiap hari atau tidak teratur,
mungkin sudah ada. Di daerah non-endemi diagnosis pertama seringkali ialah influenza.
Serangan permulaan atau pertama sangat khas oleh karena adanya serangan demam
intermiten yang berulang ulang pada waktu berlainan : 48 jam untuk P. vivax, P. ovale,
P falcifarum dan 72 jam untuk P. malariae. Waktu yang sebenarnya pada berbagai strain
P. vivax berbeda beda dari 43,6 jam sampai 45,1 jam. Serangan mulai dengan stadium
dingin atau rigor yang berlangsung selama kurang lebih satu jam. Pada waktu itu
penderita menggigil, walaupun suhu badannya lebih tinggi dari normal. Kemudian
menyusul stadium panas yang berlangsung lebih lama dan kulit penderita manjadi kering
serta panas, muka menjadi merah, suhu mencapai 39o 41oC, nadi cepat dan penuh,
9

kepala pusing, mual, kadang kadang muntah, dan pada anak kecil timbul kejang
kejang. Kemudian penderita berkeringat banyak, suhu badan turun, sakit kepala hilang,
dan dalam waktu beberapa jam penderita menjadi lelah. Serangan demam biasanya
berlangsung 8 sampai 12 jam, dan pada infeksi P. falcifarum berlangsung lebih lama.
Serangan ini sering dianggap disebabkan oleh hemolisis sel darah merah atau disebabkan
oleh syok karena adanya hemoglobin bebas atau adanya hasil metabolisme. Virulensi
sering berhubungan dengan intensitas parasitemia.
Periodisitas serangan berhubungan dengan berakhirnya skizogoni, bilamana skizon
matang kemudian pecah, merozoit bersama dengan pigmen dan benda residu keluar dari
sel darah merah memasuki aliran darah. Ini sebenarnya merupakan suatu infeksi protein
asing. Pada infeksi akut terdapat leukositosis sedang dangan granulositosis, tetapi dengan
turunnya suhu badan maka timbul leukopenia dengan monositosis relatif dan limfositosis.
Jumlah sel darah putih sebesar 3000 sampai 45.000 pernah dilaporkan. Pada permulaan
infeksi dapat terjadi trombositopenia jelas, tetapi hal ini bersifat sementara.
Hanya pada beberapa penderita malaria tampak ada ikterus; hemoglobinuria hanya
tampak bila kadar hemoglobin dalam plasma melampaui ambang ginjal. Pembesaran
limpa akut terdapat pada kurang lebih seperempat jumlah penderita dengan malaria akut.
Nyeri di kuadran kiri atas dan epigastrium mungkin disebabkan oleh meregangnya simpai
limpa, atau infark kecil yang pecah, atau perdarahan dibawah simpai. Fungsi ginjal
biasanya tidak terganggu pada penderita malaria biasa. Sebaliknya nefritis dengan
oliguria, albuminuria hebat, torak noktah, sembab pada seluruh tubuh, protein darah
berkurang, hipertensi sedang, hematuria yang dapat dilihat dengan mata biasa atau
dengan mikroskop dapat terjadi dan dapat menyulitkan diagnosis malaria. Albumin
terdapat pada dalam urin pada kurang lebih 2 persen penderita malaria akut. Kelainan
pada mata yang hebat jarang ditemukan pada infeksi malaria, tetapi pada serangan akut
komplikasi yang sering terjadi ialah sakit kepala dan sakit di sekitar mata, keratitis
dendritika atau herpetika dengan gangguan berupa fotofobia dan lakrimasi. Pada infeksi
P. falcifarum terdapat perdarahan, uveitis alergik dan sering terjadi herpes labialis.

H. Pemerisaan Diagnosis
10

Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejalanya,dimana terjadi serangan demam dan


menggigil secara periodik tanpa penyebab yang jelas.Dugaan malaria semakin kuat jika
dalam waktu 1 tahun sebelumnya,penderita telah mengunjungi daerah malaria dan dalam
pemeriksaan fisik ditemukan pembesaran limpa.
Untuk memperkuat diagnosa dilakukan pemeriksaan darah guna menemukan parasit
penyebabnya.Mungkin perlu dilakukan beberapa kali pemeriksaan karna kadar parasit di
dalam darah bervariasi dari waktu ke waktu.
I. Pengobatan Penyakit Malaria.
Pengobatan malaria tergantung kepada jenis parasit dan resistensi parasit terhadap
klorokuin.Untuk suatu serangan malaria akibat Plasmodium falciparum akut dengan
parasit yang resisten terhadap klorokuin,bisa diberikan kuinin atau kuinidin secara
intravena.Pada malaria lainnya jarang terjadi resistensi terhadap klorokuin,karena itu
biasanya diberikan klorokuin dan primakuin.
Alternatif pengobatan :
a. Alkoloid sinkona:kinia,kinidina,sinkonidina.
b. Turunan 4-amino kinolin:kloroquin,sontokin,amodiakin.
c. Turunan 8-amino kinolin:primaquin,pentakin,pamakin,isopentakin.
d. Turunan 9-amino kinolin:meflokuin,dll.
Pencegahan Penyakit Malaria :
Menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal merupakan salah satu langkah yang penting
untuk mencegah gigitan nyamuk yang aktif di malam hari ini.Keberhasilan langkah ini
sangat ditentukan oleh kesadaran masyarakat setempat. Pencegahan tanpa obat, yaitu dengan
menghindari gigitan nyamuk dapat dilakukan dengan cara :
1. Menggunakan kelambu (bed net) pada waktu tidur, lebih baik lagi dengan kelambu
berinsektisida.
2. Mengolesi badan dengan obat anti gigitan nyamuk (repellent).
3. Menggunakan pembasmi nyamuk, baik bakar, semprot maupun lainnya.
4. Memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi.
5. Letak tempat tinggal diusahakan jauh dari kandang ternak.
6. Mencegah penderita malaria dan gigitan nyamuk agar infeksi tidak menyebar.
7. Membersihkan tempat hinggap/istirahat nyamuk dan memberantas sarang nyamuk.
8. Hindari keadaan rumah yang lembab, gelap, kotor dan pakaian yang bergantungan serta
genangan air.
11

BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

12

BAB 1V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Malaria adalah penyakit yang disebarkan melalui perantara nyamuk anopheles. Malaria
disebabkan oleh plasmodium, parasit yang bersel tunggal yang terdiri atas 4 jenis
plasmodium yaitu :
a. Plasmadium vivax : menyebabkan malaria tertiana benigna.
b. Plasmadium ovale : menyebabkan malaria tertiana benigna.
c. Plasmadium malariae : menyebabkan malaria quartana.
d. Plasmadium falcifarum : menyebabkan malaria tertiana maligna yang berat, progresif
dan biasanya fatal.
Agar kita terhindar dari penyakit ini, hendaknya kita melakukan tindakan pencegahan
dari gigitan nyamuk Anopheles.Pencegahannya ada yang dengan menggunakan obat
dan ada juga yang tanpa obat.Menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal
merupakan salah satu langkah yang penting untuk mencegah gigitan nyamuk yang
13

aktif di malam hari ini.Keberhasilan langkah ini sangat ditentukan oleh kesadaran
masyarakat setempat.

B. Saran
Dalam penulisan makalah yang berjudul Asuhan keperawatan pada malaria S nantinya
makalah ini dapat berguna bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.
Namun penulis menyadari dalam penulisan makalah ini masih bnyak terdapat kekurangan
baik dalam penulisan maupun penyusunannya. Oleh karena itu kritik dan saran yng
bersifat membangun sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan makalah di masa yang
akan datang.

14

DAFTAR PUSTAKA
vhirafkm.blogspot.com/2010/07/makalah-penyakit-malaria.html
hamsahpk4.blogspot.com/2014/04/makalah-malaria.html
Doengoes. E.Mariylynn.2000.Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC

15