Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkembangan pengobatan dibidang kesehatan saat ini lebih
luas, dimana masyarakat yang merasa kurang puas dengan
pengobatan
tradisional

dari

medis

seperti

berpaling

penggunaan

lebih

memilih

pengobatan

tumbuh-tumbuhan,

dimana

pengobatan dengan tumbuh-tumbuhan memiliki kelebihan sendiri,


dengan harga yang murah dan bahan-bahannya bisa kita jumpai
disekitar kita.
Salah satu tumbuhan yang sering digunakan masyarakat
sebagai bahan pengobatan adalah kecubung (Datura sp). Kecubung
merupakan tummbuhan penghasil bahan obat-obatan yang telah
dikenal

sejak

ribuan

tahun,

diantaranya

Datura Stramonium, Datura tatura, dan Brugmansia suaviolens,


namun daya khasiat masing-masing jenis kecubung, berbeda-beda.
Penyalahgunaan kecubung memang sering terjadi, sehingga bukan
obat yang didapat malah racun (menyebabkan pusing) yang sangat
berbahaya. Hampir seluruh bagian tanaman kecubung dapat
dimanfaatkan sebagai obat. Hal ini disebabkan seluruh bagiannya
mengandung

alkaloida

atau

disebut

hiosamin

(atropin)

dan

scopolamine, seperti pada tanaman Atropoda belladonna. Alkaloid


ini bersifat racun sehingga pemakaiannya terbatas pada bagian
luar.
Biji kecubung mengandung hoisin dan lemak, sedangkan
daunnya mengandung kalsium oksalat. Berkhasiat mengobati
rematik, sembelit, asam, sakit pinggang, bengkak, encok, eksim
dan radang anak telinga. Namun, kecubung bisa jadi obat bisa jadi

racun. Racun ialah zat yang bekerja pada tubuh secara kimiawi dan
fisiologik yang dalam dosis toksik akan menyebabkan gangguan
kesehatan atau mengakibatkan kematian. Berdasarkan sumber
racun dapat dibagi menjadi racun yang berasal dari tumbuhtumbuhan : opium (dari papaver somniferum), kokain,kurare,
aflatoksin (dari aspergilus niger) dan ada juga racun yang berasal
dari hewan, mineral dan sintetik.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1

Apa pengertian tanaman Kecubung?

1.2.2

Bagaimana bentuk morfologi dan anatomi tanaman

Kecubung?
1.2.3

Apa saja manfaat tanaman Kecubung bagi kesehatan

tubuh?

1.3 Tujuan
1.3.1

Mengetahui pengertian tanaman Kecubung.

1.3.2

Mengetahui bentuk morfologi dan anatomi tanaman

Kecubung.
1.3.3

Mengetahui manfaat tanaman Kecubung.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Deskripsi Tanaman Kecubung
Kecubung merupakan tumbuhan penghasil

bahan

obat-

obatan yang telah dikenal sejak ribuan tahun. Sebagai anggota


suku Solanaceae, tumbuhan ini masih sekerabat dengan datura,
tumbuhan hias dengan bunga berbentuk terompet yang besar.
Kecubung

biasanya

berbunga

putih

dan

atau

ungu,

namun hibridanya berbunga aneka warna. Diperkirakan tanaman


ini pertama kali dipakai sebagai obat-obat pada abad kesepuluh.
Kecubung ada yang berasal dari Asia Tenggara, namun ada juga
yang berasal dari Benua Amerika.
Kecubung tumbuh di tempat yang beriklim panas dan
dibudidayakan di seluruh belahan dunia karena khasiat yang
dikandungnya
diperkenalkan

dan

juga

untuk tanaman

oleh Linnaeus pada

secara botani masih

belum

tepat

hias.

tahun
mengenai

Pertama

kali

1753,

tapi

gambaran

dan

penjelasan tentang kecubung. Wilayah asal yang menjadi sumber


tanaman ini tidak dapat diketahui secara pasti. Bagian-bagian

kecubung,

tetapi

terutama

bijinya,

mengandung alkaloid yang

berefek halusinogen.
Selain Kecubung Kasihan (Datura metel) ada juga jenis lain,
yaitu Kecubung Kecil (Datura stramonium) dan kecubung Hutan
(Brugmansia suaveolens, Humb, Bonpl, ex Wild, Bercht dan Presl).
Kecubung cocok hidup di daerah dataran rendah sampai ketinggian
tanah 800 meter di atas permukaan laut. Selain tumbuh liar di
ladang-ladang, kecubung juga sering ditanam di kebun atau
pelataran halaman rumah di pedesaan. Perbanyakan tanaman ini
melalui biji dan stek (Thomas,2005).
Nama Lokal :
Kecubung (Jawa, Sunda), Kacobhung (Madura), Bembe (Madura),
Bulutube

(Gorontalo),

Taruapalo

(Seram),

Tampong-tampong

(Bugis), Kucubu (Halmahera, Ternate),Padura (Tidore), Karontungan,


Tahuntungan (Minahasa).

Kecubung tidak hanya berguna sebagai tanaman pembius


saja. Khasiat lain yang bisa didapat dari kecubung ternyata cukup
banyak. Beberapa diantaranya adalah sebagai obat sakit gigi dan
asma. Kecubung ( Datura. sp) selama ini dikenal sebagai tanaman
yang berefek negatif. Tanaman yang bunganya berbentuk terompet
ini kerap disalahgunakan untuk penghilang kesadaran atau sebagai
zat pembius. Sebab, daun kecubung berkhasiat anestesi. Terutama
karena tanaman ini mengandung metil kristalin yang mempunyai
efek relaksasi pada otot lurik. Bentuknya yang seperti terompet
ditambah

konotasi

negatif,

masyarakat

Amerika

dan

Eropa

kemudian menyebutnya sebagai Devil trumpet. Penyalahgunaan


tersebut

sebenarnya

berasal

dari

kebiasaan

sebuah

kelompok masyarakat di India yang menggunakan kecubung untuk


membius korban persembahan bagi dewa (Wijayakusuma,2006).
4

2.2 Morfologi dan Anatomi


1. Batang
Batang Kecubung mempunyai jaringan-jaringan sebagai berikut:
a. Jaringan Epidermis
Terdiri dari selapis sel yang menyelubungi batang, berbentuk
persegi, dan dinding selnya dilapisi kutikula. Terdapat stomata di
antara sel-sel epidermisnya. Derivat epidermis pada batang terdiri
dari stomata, trikomata, sel silika, dan sel gabus.
b. Jaringan Korteks
Terdiri

dari

jaringan

parenkim,

kolenkim,

dan

sklerenkim.

Jaringan kolenkim terdapat pada bagian tepi korteks (perifer) dan


berbentuk seperti silinder utuh. Jaringan parenkim terdapat pada
bagian tepi dekat permukaan batang dan mengandung kloroplas.
Parenkim berisi tepung, kristal, dan zat lain. Pada batang muda
kecubung, lapisan sel korteksnya banyak mengandung tepung dan
disebut fluoterma.

c. Jaringan Pengangkut
Jaringan pengangkut terdiri atas xilem dan floem. Xilem
berfungsi mengangkut zat hara dan air dari dalam tanah menuju ke
daun. Sedang floem mengangkut hasil asimilasi dari daun ke
seluruh tubuh. Tipe jaringan pengangkut pada Kecubung adalah
tipe

berkas

pengangkut

bikolateral.

Berkas

pengangkutnya

mempunyai floem kuar dan floem dalam dengan xilem terletak di


antaranya.
d. Stele

Stele

dengan

jaringan

pengangkut

bikolateral

mempunyai

jendela daun dan jaringan interfasikuler tidak dapat dibedakan satu


sama lain.
2. Daun
Daun Kecubung mempunyai jaringan-jaringan sebagai berikut:
a. Jaringan Epidermis
Terdiri dari selapis sel dan tidak mengandung plastida yang
berkembang baik kecuali sel penutupnya. Sel penutup dikelilingi
oleh satu atau lebih sel tetangga (salah satunya lebih kecil) dengan
ukuran yang berbeda dari sel epidermis sekelilingnya. Dinding sel
epidermis

mengandung

kutin

dan

lignin.

Pada

permukaan

epidermis daun banyak terdapat trikoma.


b. Jaringan Mesofil
Mesofil mengalami diferensiasi menjadi:
Jaringan palisade: Berbentuk silindris memanjang pada sumbu
transversal daun dan mengandung banyak kloroplas. Tersusun
dalam ikatan yang padat menjadi 1 lapis atau lebih.
Jaringan bunga karang: Tersusun oleh sel yang tidak teratur,
bercabang-cabang, berisi kloroplas. Sel-selnya dipisahkan ruang
antar sel yang besar. Sel mesofil yang menyelubungi berkas
pengangkut mengandung lebih sedikit kloroplas dan dindingnya
lebih tebal.
c. Jaringan Pengangkut
Mengandung xilem dan floem yang fungsinya sama dengan
yang di batang. Berkas floemnya di bagian adaksial dan berkas
xilem di bagian abaksial. Selain itu juga terdapat tulang daun yang
menguatkan daun serta sebagai jalan transport air dan zat hara

yang terlarut di dalamnya pada arus transpirasi dan pada proses


translokasi hasil fotosintesis ke bagian tubuh lain.
3. Bunga
a. Sepala dan Petala
Terdiri

dari

jaringan

parenkim,

berkas

pengangkut,

dan

epidermis. Sepala berwarna hijau karena mengandung kloroplas.


Mesofil

sepala

tersusun

atas

sel-sel

yang

isodiametris

dan

renggang. Epidermis sepala dilapisi kutin tipis dan meiliki trikomata


dan stomata.
Petala tidak berwarna hijau karena ada kromoplas dalam
vakuola. Mesofil petala terdiri dari perenkim yang terusun rapat dan
renggang. Epidermis petala permukaannya agak bergelombang
membentuk tonjolan pendek.
b. Stamen (Benang sari)
Tipe berkas pengangkut stamen Kecubung adalah ampikribral.
Jaringan dasar penyusun tangkai sari adalah parenkim tnpa ruang
antar sel dan jaringan dasar penyusun kepala sari adalah parenkim
yang telah berspesialisasi menjadi sel kelamin.
c. Ovarium (Bakal buah)
Dinding bakal buah terdiri dari parenkim dan berkas pengangkut
dengan lapisan epidermis di sebelah luar.
4. Akar
Akar terdiri dari jaringan-jaringan berikut:
a. Jaringan Epidermis
Bulu akar merupakan tonjolan dari epidermis tunggal untuk
menyerap

dan

menunjang

tumbuhan

dan

disebut

trikoblas.

Trikoblas berasal dari pembelahan sel induk epidermis (protoderm)


yang tidak sama besar.
b. Jaringan Korteks
Tersusun atas jaringan parenkim berisi tepung dan sel idioblas.
c. Eksodermis
Terdiri dari selapis sel, sel panjang, dan memilik pita Caspary
yaitu bagian dinding primer yang menebal.
d. Endodermis
Terdiri dari selapis sel yang struktur anatomi dan fungsi
fisiologinya berbeda dengan jaringan di sebelah luar dan dalamnya.
Sel endodermis mengalami penebalan selulosa dan lignin. Sel yang
tidak mngalami penebalan disebut sel peresap yang terletak di
depan protoxilem.
e. Jaringan Pengangkut
Terdiri dari xilem dan floem dan unsur bukan pengangkut.
Empulurnya terletak di pusat silinder akar dan bersifat seperti
parenkim. Xilem akar merupakan bangunan teras di tengah dengan
tonjolan serupa jari-jari ke arah luar dan di antaranya terdapat
floem.
5. Buah
Terdiri

dari

lapisan

yaitu

epikarpium,

mesokarpium,

dan

endokarpium.
Kulit buah kecubung

buah berdaging berparenkim yang

dinding buahnya berasal dari karpela dan jaringan lain. Bentuknya


seperti bangunan yang disusun oleh parenkim berdinding tipis.
6. Biji
Terdiri atas beberapa bagian yaitu:

a. Embrio
Bekas

pelekatan

biji

pada

plasenta

berupa

hilum.

Embrio

mempunyai 3 jaringan meristem yaitu protoderm, prokambium,


dan meristem dasar.
b. Endosperm terdiri dari endosperm non selular, selular, dan
helobial.
Endosperm mempunyai sel berdinding tipis dengan vakuola besar.
Berisi cadangan makanan dengan sel-sel yang rapat tanpa ruang
antar sel.Testa

berasal

dari

integumen

dan

terdiri

dari

sel

berdinding tipis. Epidermis kulit biji berdinding tebaldan berisi zat


warna.
Kecubung cocok hidup di dataran rendah sampai ketinggian
tanah 800 m di atas permukaan laut. Selain itu tumbuh liar di
ladang-ladang, kecubung juga sering ditanam di kebun atau
pelataran halaman rumah di pedesaan. Perbanyakan tanaman ini
melalui biji dan stek.
2.3 Manfaat Kecubung
Kecubung mempunyai khasiat obat sekaligus bisa menjadi
racun. Kecubung bisa tumbuh liar di hutan namun bisa juga
menjadi tanaman hias di pekarangan. Sedikitnya ada sembilan
jenis tanaman yang biasa disebut kecubung diantaranya adalah
Kecubung

Kasihan

(Datura

metel),

Kecubung

Kecil

(Datura

stramonium), dan Kecubung Hutan (Brugmansia suaveolens).


Namun yang paling umum dikenal sebagai Kecubung di Indonesia
adalah Datura metel.

Bunga Kecubung

Buah Kecubung
Kecubung (Datura metel) mengandung beberapa senyawa
kimia,

diantaranya

hiosin,

co-oksalat,

zat

lemak,

atropin

(hyosiamin) dan skopolamin. Kecubung yang berbunga putih sering


dianggap paling beracun dibanding jenis kecubung lainnya yang
juga mengandung zat alkaloida. Untuk itu pemakaiannya sangat
hati-hati dan terbatas sebagai obat luar. Kandungan ini membuat
kecubung dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk
berbagai penyakit.
Bagian yang paling sering dipakai sebagai obat herbal adalah
daun kecubung. Bunga digunakan untuk asma, napas pendek,
bronkitis, kronik, batuk, rasa nyeri hebat pada kanker stadium
lanjut, nyeri lambung, rematik, kejang atau epilepsi (ayan) yang
disebabkan rasa takut, syok (turunanya tekanan darah sehingga
pnderita lemas) akibat infeksi atau racun (toksin),sakit jiwa
(psikosis), dan sebahgai obat bius pada operasi (anestesi). Akar
digunakan untuk pengobatan kolera dan sesak napas. Daun
10

digunakan

untuk

mengatasi

sesak

napas,

batuk

rejan,

bronkitis,sakit pinggang, rematik, memar, ketombe, lendir di


tenggorok dan cacingan. Namun, kecubung juga mengandung
racun berupa zat alkaloid yang mempunyai efek halusinogen
terutama pada bagian bijinya. Dalam beberapa kasus ditemukan
penggunaan racun biji kecubung untuk melakukan bunuh diri
(Daliartha,2005).
2.4 Pengembangan Produk dan Cara pembuatannya
Selain digunakan sebagai tanaman obat, tanaman kecubung
dapat dikembangkan sebagai produk salah satunya yaitu untuk
substitusi pestisida kimiawi yang ramah lingkungan. Dengan
penggunaan

tanaman kecubung (Datura

metel)

sebagai

biopestisida alami dapat mengembalikan kesuburan tanah yang


mengalami

degradasi

akibat

penggunaan

Kecubung juga dapat dimanfaatkan

untuk

pestisida

kimiawi.

mengatasi berbagai

keluhan penyakit, antara lain; asma, reumatik, sakit pinggang,


pegel

linu,

bisul,

eksim,dan

lain-lain

serta

berikut

cara

pembuatannya.
1. Rematik
Caranya, ambil daun dan bunga kecubung secukupnya,
bawang merah secukupnya, dan jahe secukupnya. Tumbuk bahanbahan tersebut sampai halus, tempelkan pada bagian yang sakit.
2. Sembelit
Caranya, ambil dua lembar daun kecubung lalu olesi dengan
minyak kelapa dan kemudian dipanggang di atas api hingga
daunnya layu. Daun yang telah dipanggang tempelkan di bagian
bawah perut. Lakukan 2-3 kali sehari.
3. Asma

11

Caranya, ambil beberapa lembar daun kecubung lalu iris-iris


halus. Hasil irisan dijemur hingga kering. Daun dibuat lintingan
seperti rokok, lalu diisap seperti mengisap rokok.
4. Sakit pinggang
Caranya, ambil 5-10 lembar daun kecubung yang berbatang
ungu dan kapur sirih secukupnya lalu tumbuk hingga halus.
Tempelkan hasil tumbukan tersebut pada pinggang yang sakit.
Lakukan 2-3 kali sehari.
5. Bengkak
Caranya, ambil satu lembar daun kecubung dan basahi
dengan minyak kelapa kemudian dipanggang dan diremas-remas.
Tempelkan pada bagian yang bengkak 2-3 kali sehari.
6. Encok
Caranya, ambil delapan lembar daun kecubung hitam, cuci
bersih dan giling hingga halus kemudian diremas-remas bersama
air kapur. Gosokkan ramuan tersebut pada bagian yang sakit dua
kali sehari.
7. Eksim
Caranya, ambil kira-kira 25 gram daun kecubung, lalu tumbuk
hingga halus, dan beri minyak kelapa secukupnya, lalu panaskan di
atas api. Tempelkan ramuan tersebut pada eksim dan biarkan
sampai beberapa saat.
8. Bisul
Caranya, ambil 5 lembar daun kecubung, lalu tumbuk hingga
halus. Tempelkan ramuan tersebut pada bisul agar segera matang.
9. Radang anak telinga

12

Caranya, ambil 10 lembar daun kecubung, lalu cuci dan


tumbuk hingga halus. Campur ramuan/gilingan daun tersebut
dengan dua sendok makan minyak kelapa yang telah dihangatkan
terlebih dahulu. Lalu, peras dan saring. Minyak perasan diteteskan
pada anak telinga yang sakit, lakukan dua kali sehari sebanyak lima
tetes.
10. Ketombe
Siapkan 7 lembar daun kecubung kering dan 5 sdm minyak
kelapa. Masukan daun kecubung dan minyak kelapa kedalam botol,
lalu tutup. Jemurlah dibawah terik matahari selama seminggu.
Selanjutnya, oleskan minyak tersebut pada kulit kepala 2 kali
sehari, pagi dan sore. Ulangi selama beberapa hari sampai
ketombe hilang.

13

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kecubung merupakan tanaman Solanaceae dengan bunga
berbentuk terompet. Tanaman ini banyak dijumpai di pekaranganpekarangan rumah. Bunga kecubung memiliki berbagai macam
warna, ada yang berwarna putih atau lembayung, merah, dan
ungu. Tanaman ini banyak dimanfaatkan oleh para leluhur sebagai
obat tradisional yang ampuh mengatasi berbagai macam penyakit,
namun kini justru banyak disalahgunakan karena adanya efek
halusinasi. Kecubung mengandung zat kimia seperti skopolamin,
hyoscyamine,

hycoscin

dan

atropin.

Kandungan

alkaloidnya

memberi efek halusinogen sehingga menimbulkan halusinasi bagi


pemakainya. Biji mengandung alkaloid dan saponin yang dapat
membunuh larva. Tanaman kecubung ini selain mepunyai manfaat
sepeti untuk mengobati asma, sakit pinggang, bengkak, bisul,
ketombe dan lain-lain, tetapi juga sebagai racun selain itu tanaman
kecubung

dapat

dikembangkan

sebagai

produk

yaitu

untuk

substitusi pestisida kimiawi yang ramah lingkungan. Racun ialah zat


yang bekerja pada tubuh secara kimiawi dan fisiologik yang dalam
dosis

toksik

akan

menyebabkan

mengakibatkan kematian.

Pasien

gangguan
yang

kesehatan

mengalami

atau

keracunan

karena mengkonsumsi kecubung ( Datura metel) memperlihatkan


gejala anticholinergic toxidrome.

14

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2013.Khasiat dari Pohon Kecubung[terhubung berkala]


http://www.cakrawawasan.com (diakses pada 23 Maret 2013)
Daliartha,S.2005.Tanaman
Obat
di
Lingkungan
Sekitar.Jakarta:Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara
Thomas,A.N.S.1992.Tanaman
2.Yogyakarta:Kanisius

Obat

Wijayakusuma,M.Hembing.2006.Atasi
Rematik.Depok: Wisma Hijau

15

Asam

Tradisional
Urat

dan

16